Komplek perumahan tempat Partijo
tinggal merupakan kumpulan rumah-rumah mewah bertingkat dua dimana semua
penghuninya adalah pekerja kantoran yang bermobil dan berdasi. Di tempat itu, Selain
ketua Satpol PP Partijo juga dipercaya jadi ketua Rtnya.
Sore ini Partijo sedang berdiri di
depan pagar rumah salah seorang warganya. Dia masih mengenakan seragam
coklatnya karena baru saja pulang.
Bagian
depan rumah itu berupa taman yang luas. Ada air mancur di tengah-tengah kolam
yang ada di halaman depan membentuk lingkaran. Lalu di sudut kiri dan kanannya
beberapa pohon Palem raja tumbuh menjulang. Lalu terhampar di bawahnya adalah
rerumputan yang asri.
Tetapi Partijo tidak sedang menikmati taman
itu. Kepalanya tengadah dengan mata agak sedikit menyipit. Objek tatapannya
adalah sebuah benda yang terpancang tinggi di atas rumah itu yang terbuat dari dua
bilah bambu tipis dan kini sedang berputar karena tiupan angin. Yaitu Kolecer.
Masalahnya,
kenapa benda udik seperti itu bisa menclok disana? Keberadaannya membuat rumah
itu jadi terkesan murahan dan tidak enak dipandang.
Sudah
sejak dari Kolecer itu dipasang Partijo memendam rasa penasarannya. Pulang dari
kantor, kadang Partijo sengaja suka menghentikan motornya dulu hanya untuk
sekedar memperhatikan benda itu. Sekarang, karena kepenasarananya tidak bisa
lagi dibendung, Partijo memutuskan akan menanyakannya langsung kepada Udin, penjaga
sekaligus tukang kebun di rumah itu.
“Apa mungkin Kolecer itu semacam
benda antik yang harganya puluhan juta, Din? Karena menurut saya rumah itu sama
sekali jauh dari segi kepantasan dipasangi Kolecer. Untuk apa sih majikanmu
memasangnya di sana?” Tanya Partijo dengan kening terlipat tiga. Matanya
bergantian menatap Udin dan Kolecer.
Pandangan Udin perlahan naik ke
angkasa. Ia tadi sedang menyirami kekembangan sambil bersiul ringan. Tidak
menyangka akan ada orang yang menyentil keberadaan si Kolecer.
Sambil tetap memegang selang air Udin
menjelaskan kalau Kolecer itu sebenarnya yang memasang adalah dirinya. Tentu
saja atas seijin majikannya setelah dirinya menjelaskan apa sabab-musababnya. Tapi
sebenarnya Kolecer itu bukan menempel ke rumah majikannya. Melainkan dipasang
di atas atap bangunan kecil yang merupakan tempat tinggalnya yang letaknya agak
jauh di belakang. Jadi menurutnya sama sekali tidak mengganggu segi kepantasan
rumah majikannya.
Kata Udin, semenjak ada Kolecer dia
jadi tidak terlalu kesepian. Seperti ada teman karena selama ini majikannya
hanya pulang seminggu sekali.
“Oh, jadi itu punyamu?”
“Iya, pak.”
“Saya pikir majikanmu yang
memasangnya”.
“Bukan, pak. Orang kaya buat apa
memasang yang begituan. Nanti diketawain”
“Pantes kalo begitu..” Kata Partijo sambil
mengusap-usap kumis baplangnya. Ia jadi merasa bodoh sendiri sudah
bertanya-tanya soal Kolecer. Apalagi jawaban yang didapatnya sungguh tidak
masuk akal. Masak manusia berteman dengan benda mati. Ada-ada saja. Dasar udik.
Tanpa
permisi lagi Partijo langsung angkat kaki dari hadapan Udin.
Udin memandangi kepergiannya penuh
keheranan. Untuk apa pak Partijo bertanya-tanya soal Kolecernya? Apa dia
tertarik dan ingin ikut-ikutan memasangnya?
Untuk pertama kalinya Udin lalu menatap
Kolecernya penuh kebanggaan. Kalau dipikir-pikir masuk akal juga sikap Partijo
tadi. Di tengah-tengah rumah yang serba mewah begini, si Kolecer jadi terlihat
antik. Pantas kalau Partijo juga jadi perhatian.
Tetapi semenjak obrolan tempo hari itu Partijo
tidak pernah ada datang lagi. Udin juga sudah melupakannya. Sebab dia tahu
Partijo itu orang yang selalu sibuk. Tiap hari kerjanya keliling kota melakukan
penertiban. Orangnya bengis. Pedagang kaki lima yang berani melawannya akan
habis digasaknya bersama barang dagangannya.
Sebagai
gantinya kini anak-anaklah yang sering berkerumun di depan pagar rumah sambil
tangannya menunjuk-nunjuk ke atas. Ke arah Kolecer.
“Itu apa, mang?” Mereka bertanya
kepada Udin penuh rasa ingin tahu.
“Oh,
itu namanya Kolecer.” Udin menjawab
dengan logat Sunda yang kental.
“Kolecer? Belinya dimana, mang
Udin?”
“Itu mah nggak beli. Tapi mamang bikin sendiri.”
“Kalo gitu saya dibikinin dong, Mang
Udin. Saya mau beli. Berapa harganya?”
“Iya, mang Udin. Bikinin saya juga.”
Anak-anak ribut berbicara sambil
mengacung-acungkan tangannya ingin dibuatkan Kolecer. Mereka setengah merengek.
Melihat itu Udin jadi berpikir. Di kedalaman otaknya sana naluri bisnisnya
menggeliat seperti Ulat bulu. Benar, kenapa dia tidak membuat saja yang banyak
lalu menjualnya kepada anak-anak komplek. Bukankah dengan demikian dirinya jadi
punya penghasilan tambahan?
Udin tersenyum cerah dan menyanggupi
permintaan anak-anak. Satu Kolecer ia
banderol seharga lima puluh ribu. ***
Udin
senang. Setiap hari kerjanya selain mengurus taman adalah membuat Kolecer. Satu
buah Kolecer berikut tiangnya hanya menghabiskan satu setengah batang bambu
yang harganya tidak lebih dari sepuluh ribu perak. Kalau ditambah dengan yang
lain-lainnya seperti cat dan pernak-pernik hiasannya maka akan menghabiskan
modal tidak lebih dari tiga puluh ribu perak. Berarti sekitar dua puluh ribu keuntungan
yang masuk ke kantongnya.
Benar-benar
sedap.
Udin
makin semangat. Supaya lebih bagus Kolecer itu diberinya warna-warna mencolok. Kemudian
puncaknya dipasangi hiasan berbentuk ayam-ayaman atau burung-burungan dengan
rumbai-rumbai di bagian ekornya. Sehingga ketika angin berhembus rumbai-rumbai
itu akan ikut berkibar.
Makin
elok dipandang Kolecer buatan Udin.
Sehingga,
karena dipandang sedikit nyeni, ketika anak-anak komplek memasangnya di atas
rumah masing-masing bersanding dengan antena parabola yang harganya jutaan, untuk
sementara tidak ada yang protes.
Warga
bahkan seperti punya hiburan baru yang unik. Karena ketika angin bertiup
kencang putaran Kolecer itu menimbulkan suara bising yang aneh.
Werrrr
! Werrrr
!
Werrr
!
Suara
itu seolah datang dari negeri antah-berantah yang sayup-sayup sampai dibawa angin.
Lalu menembus ke dinding tembok rumah mereka yang dingin. Memerosok setiap jiwa
ke lobang masa kecil yang menceriakan.
Setelah
anak-anak komplek, Udinlah yang paling bahagia. Selain dirinya jadi punya
penghasilan tambahan, juga langit komplek yang meriah oleh puluhan Kolecer,
mengingatkannya kepada kenangan masa kecilnya di kampung.
Tentu
saja di kampung tidak ada yang memperjual belikan Kolecer. Tinggal minta saja
kepada yang biasa membuatkannya, maka beres.
Biasanya,
orang kampung membuat Kolecer waktu padi-padi di sawah mulai menguning. Ukuran
diameternya besar-besar. Ada yang mencapai satu meter lebih. Kolecer-Kolecer
itu dipasang di sudut-sudut pematang. Selain untuk mengusir Pipit-Pipit pemakan
padi, juga untuk pengusir sepi.
Sepi.
Ya, sepi itulah yang sering merajam batin Udin selama bekerja disini. Setiap
pagi ia menyaksikan warga komplek, laki-laki dan perempuan, yang sudah wangi berdasi
pergi serba tergesa ke sebuah dunia penuh kesibukan yang bernama kantor. Tak
ada senyum sapa ketika mereka saling berpapasan dengan sesama tetangga. Seolah
tidak saling kenal.
Lalu
sore harinya mereka pulang dalam keadaan sudah lelah lahir batin. Datang-datang
langsung mengurung diri di rumah masing-masing bertemankan benda tipis
berbentuk persegi panjang yang bernama televisi. Berharap dengan cara seperti
itu jiwa mereka punya hiburan yang menenangkan.
Tidak
ada waktu buat natangga. Suatu
kebiasaan di kampung Udin dimana setiap malam setelah seharian bekerja para
tetangga suka berkumpul di bale-bale sambil ngobrol apa saja.
Sementara
anak-anak mereka bermain Ucing sumput
atau oray-orayan di bawah siraman
cahaya bulan. Bukan seperti anak-anak komplek ini yang begitu hari libur tiba
semua berlesatan memenuhi mall-mall untuk memborong segala macam barang.
Udin rindu masa lalunya. Dan rindu
itu terobati dengan adanya Kolecer.
Namun
sayang segala kesenangan Udin itu hanya berumur tidak lebih dari tiga hari
saja.
Pada hari ke empat mendadak Partijo
dan kawan-kawannya datang menemui Udin. Kedatangan mereka, dalam keadaan
berseragam lengkap coklat-coklat berikut pentungan menggelantung di pinggang
masing-masing, sudah cukup untuk membuat Udin gemetaran.
“A.. ada apa ini teh bapak-bapak datang berombongan?”
“Kami ada perlu sama kamu, Udin!”
Kata Partijo dengan suara menggelegar.
Makin soak Udin dibuatnya.
“Pe.. perlu apa sama saya, pak?”
“Ini soal Kolecermu, Udin. Kolecer
itu sudah membuat tempat tinggal kami jadi kumuh. Kamu pikir saja, apa pantes
rumah-rumah kami yang begini mewah dipasangi Kolecermu yang murahan itu? Lagi
pula Kolecer buatanmu itu sama sekali tidak cocok untuk anak-anak kami. Tidak
mendidik. Anak-anak kami cocoknya dikasih mainan yang canggih dan modern
seperti robot-robotan atau mobil remote. Bukan benda norak seperti itu. Kamu
ngerti, Udin?!”
“Nge.. ngerti, pak. Terus saya harus
gimana?”
“Kamu tidak boleh jualan lagi
Kolecer. Kemudian Kolecermu itu juga harus kamu turunkan. Atau kami yang akan
menurunkannya. Di komplek ini tidak boleh ada Kolecer. Bukan kami kejam, Tapi segala sesuatu itu
harus diukur dari segi kepatutan. Lagian buat apa sih kamu masang-masang benda
kampungan seperti itu? Pasti cuma buat iseng saja kan. Dasar udik.”
Dalam
hati Udin sebenarnya tersinggung dan ingin marah atas sikap Partijo yang
sewenang-wenang. Memangnya dia jualan narkoba. Tapi mau melawan dia takut. Anak
buah Partijo itu banyak. Bisa-bisa dirinya yang malah jadi arang. Tapi karena
Partijo bertanya apa alasan dia memasang Kolecer, Udin lalu menjawab pertanyaan
itu dengan sebuah cerita.
Dulu
sekolah Udin hanya sampai SD saja. Bapak terlalu miskin untuk bisa
menyekolahkannya hingga SMP. Sebabnya pekerjaan bapak setiap hari hanyalah
berjualan Kolecer keliling kampung yang hasilnya hanya cukup untuk membeli beras seliter.
Tapi
bapak orang yang setia terhadap profesinya. Hingga maut menjemput bapak tetap
berjualan Kolecer. Dan Udin akan tetap ingat apa yang membuat bapak mati.
Suatu
hari karena ingin punya pendapatan lebih banyak, bapak nekat jualan ke kota.
Karena menurutnya jualan di kota pasti akan lebih laris. Jadi bapak sengaja
membuat Kolecer yang banyak. Modalnya ia pinjam dari seorang rentenir.
Tapi
nasib siapa bisa menduga. Begitu tiba di kota, baru juga bapak menggelar
dagangannya tiba-tiba segerombolan satpol PP berloncatan dari atas truk
melakukan razia. Para pedagang kaki lima berlarian seperti disapu angin puyuh
menyelamatkan diri tanpa sempat membereskan dagangannya. Semua diangkut ke atas
truk.
Sedangkan
semua Kolecer dagangan bapak habis terinjak-injak tanpa tersisa sepotongpun.
Bapak
pulang dengan batin nelangsa. Ia baru tahu, ternyata kalau orang miskin tidak
boleh jualan di kota. Sekeluarga menangisi nasibnya. Terutama manakala mereka
teringat bagaimana harus melunasi utang kepada si rentenir.
Karena
terus-terusan memikirkan utangnya bapak akhirnya jatuh sakit dan meninggal.
“Jadi
dengan memasang Kolecer ini saya akan selalu ingat kepada jasa bapak yang sudah
membesarkan saya,” Kata Udin sendu mengakhiri ceritanya.
Partijo dan anak buahnya jadi salah tingkah setelah mendengar
cerita Udin. Tapi hanya sebentar. Detik selanjutnya sikap mereka mengeras lagi.
“Kami
turut berduka dengan nasibmu, Udin. Tapi peraturan tetap peraturan. Kolecermu itu harus diturunkan. Kamu paham,
Udin?”
Udin
hanya bisa mengangguk lesu. ***
Tamat. Cicinde Utara, Februari, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar