Kamis, 11 Agustus 2016

Kolecer




            Komplek perumahan tempat Partijo tinggal merupakan kumpulan rumah-rumah mewah bertingkat dua dimana semua penghuninya adalah pekerja kantoran yang bermobil dan berdasi. Di tempat itu, Selain ketua Satpol PP Partijo juga dipercaya jadi ketua Rtnya.
            Sore ini Partijo sedang berdiri di depan pagar rumah salah seorang warganya. Dia masih mengenakan seragam coklatnya karena baru saja pulang.
Bagian depan rumah itu berupa taman yang luas. Ada air mancur di tengah-tengah kolam yang ada di halaman depan membentuk lingkaran. Lalu di sudut kiri dan kanannya beberapa pohon Palem raja tumbuh menjulang. Lalu terhampar di bawahnya adalah rerumputan yang asri.
 Tetapi Partijo tidak sedang menikmati taman itu. Kepalanya tengadah dengan mata agak sedikit menyipit. Objek tatapannya adalah sebuah benda yang terpancang tinggi di atas rumah itu yang terbuat dari dua bilah bambu tipis dan kini sedang berputar karena tiupan angin. Yaitu Kolecer.
           
Setau Partijo Kolecer atau baling-baling bambu itu adalah mainan anak-anak kampung. Namun di kampung sendiri Kolecer itu sudah jarang yang memainkannya. Anak jaman sekarang lebih suka mainan yang modern dan cangggih. Seperti mobil remot atau robot-robotan .
Masalahnya, kenapa benda udik seperti itu bisa menclok disana? Keberadaannya membuat rumah itu jadi terkesan murahan dan tidak enak dipandang.
Sudah sejak dari Kolecer itu dipasang Partijo memendam rasa penasarannya. Pulang dari kantor, kadang Partijo sengaja suka menghentikan motornya dulu hanya untuk sekedar memperhatikan benda itu. Sekarang, karena kepenasarananya tidak bisa lagi dibendung, Partijo memutuskan akan menanyakannya langsung kepada Udin, penjaga sekaligus tukang kebun di rumah itu.
            “Apa mungkin Kolecer itu semacam benda antik yang harganya puluhan juta, Din? Karena menurut saya rumah itu sama sekali jauh dari segi kepantasan dipasangi Kolecer. Untuk apa sih majikanmu memasangnya di sana?” Tanya Partijo dengan kening terlipat tiga. Matanya bergantian menatap Udin dan Kolecer.
            Pandangan Udin perlahan naik ke angkasa. Ia tadi sedang menyirami kekembangan sambil bersiul ringan. Tidak menyangka akan ada orang yang menyentil keberadaan si Kolecer.
            Sambil tetap memegang selang air Udin menjelaskan kalau Kolecer itu sebenarnya yang memasang adalah dirinya. Tentu saja atas seijin majikannya setelah dirinya menjelaskan apa sabab-musababnya. Tapi sebenarnya Kolecer itu bukan menempel ke rumah majikannya. Melainkan dipasang di atas atap bangunan kecil yang merupakan tempat tinggalnya yang letaknya agak jauh di belakang. Jadi menurutnya sama sekali tidak mengganggu segi kepantasan rumah majikannya.
            Kata Udin, semenjak ada Kolecer dia jadi tidak terlalu kesepian. Seperti ada teman karena selama ini majikannya hanya pulang seminggu sekali.
            “Oh, jadi itu punyamu?”
            “Iya, pak.”
            “Saya pikir majikanmu yang memasangnya”.
            “Bukan, pak. Orang kaya buat apa memasang yang begituan. Nanti diketawain”
            “Pantes kalo begitu..” Kata Partijo sambil mengusap-usap kumis baplangnya. Ia jadi merasa bodoh sendiri sudah bertanya-tanya soal Kolecer. Apalagi jawaban yang didapatnya sungguh tidak masuk akal. Masak manusia berteman dengan benda mati. Ada-ada saja. Dasar udik.
Tanpa permisi lagi Partijo langsung angkat kaki dari hadapan Udin.
            Udin memandangi kepergiannya penuh keheranan. Untuk apa pak Partijo bertanya-tanya soal Kolecernya? Apa dia tertarik dan ingin ikut-ikutan memasangnya?
 Untuk pertama kalinya Udin lalu menatap Kolecernya penuh kebanggaan. Kalau dipikir-pikir masuk akal juga sikap Partijo tadi. Di tengah-tengah rumah yang serba mewah begini, si Kolecer jadi terlihat antik. Pantas kalau Partijo juga jadi perhatian.
 Tetapi semenjak obrolan tempo hari itu Partijo tidak pernah ada datang lagi. Udin juga sudah melupakannya. Sebab dia tahu Partijo itu orang yang selalu sibuk. Tiap hari kerjanya keliling kota melakukan penertiban. Orangnya bengis. Pedagang kaki lima yang berani melawannya akan habis digasaknya bersama barang dagangannya.
Sebagai gantinya kini anak-anaklah yang sering berkerumun di depan pagar rumah sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke atas. Ke arah Kolecer.
            “Itu apa, mang?” Mereka bertanya kepada Udin penuh rasa ingin tahu.
            “Oh, itu  namanya Kolecer.” Udin menjawab dengan logat Sunda yang kental.
            “Kolecer? Belinya dimana, mang Udin?”
            “Itu  mah nggak beli. Tapi mamang bikin sendiri.”
            “Kalo gitu saya dibikinin dong, Mang Udin. Saya mau beli. Berapa harganya?”
            “Iya, mang Udin. Bikinin saya juga.”
            Anak-anak ribut berbicara sambil mengacung-acungkan tangannya ingin dibuatkan Kolecer. Mereka setengah merengek. Melihat itu Udin jadi berpikir. Di kedalaman otaknya sana naluri bisnisnya menggeliat seperti Ulat bulu. Benar, kenapa dia tidak membuat saja yang banyak lalu menjualnya kepada anak-anak komplek. Bukankah dengan demikian dirinya jadi punya penghasilan tambahan?
            Udin tersenyum cerah dan menyanggupi permintaan anak-anak.  Satu Kolecer ia banderol seharga lima puluh ribu. ***
           
Udin senang. Setiap hari kerjanya selain mengurus taman adalah membuat Kolecer. Satu buah Kolecer berikut tiangnya hanya menghabiskan satu setengah batang bambu yang harganya tidak lebih dari sepuluh ribu perak. Kalau ditambah dengan yang lain-lainnya seperti cat dan pernak-pernik hiasannya maka akan menghabiskan modal tidak lebih dari tiga puluh ribu perak. Berarti sekitar dua puluh ribu keuntungan yang masuk ke kantongnya.
Benar-benar sedap.
Udin makin semangat. Supaya lebih bagus Kolecer itu diberinya warna-warna mencolok. Kemudian puncaknya dipasangi hiasan berbentuk ayam-ayaman atau burung-burungan dengan rumbai-rumbai di bagian ekornya. Sehingga ketika angin berhembus rumbai-rumbai itu akan ikut berkibar.
Makin elok dipandang Kolecer buatan Udin.
Sehingga, karena dipandang sedikit nyeni, ketika anak-anak komplek memasangnya di atas rumah masing-masing bersanding dengan antena parabola yang harganya jutaan, untuk sementara  tidak  ada yang protes.
Warga bahkan seperti punya hiburan baru yang unik. Karena ketika angin bertiup kencang putaran Kolecer itu menimbulkan suara bising yang aneh.
Werrrr !                                                                                                                                   Werrrr !
Werrr !
Suara itu seolah datang dari negeri antah-berantah yang sayup-sayup sampai dibawa angin. Lalu menembus ke dinding tembok rumah mereka yang dingin. Memerosok setiap jiwa ke lobang masa kecil yang menceriakan.
Setelah anak-anak komplek, Udinlah yang paling bahagia. Selain dirinya jadi punya penghasilan tambahan, juga langit komplek yang meriah oleh puluhan Kolecer, mengingatkannya kepada kenangan masa kecilnya di kampung.
Tentu saja di kampung tidak ada yang memperjual belikan Kolecer. Tinggal minta saja kepada yang biasa membuatkannya, maka beres.
Biasanya, orang kampung membuat Kolecer waktu padi-padi di sawah mulai menguning. Ukuran diameternya besar-besar. Ada yang mencapai satu meter lebih. Kolecer-Kolecer itu dipasang di sudut-sudut pematang. Selain untuk mengusir Pipit-Pipit pemakan padi, juga untuk pengusir sepi.
Sepi. Ya, sepi itulah yang sering merajam batin Udin selama bekerja disini. Setiap pagi ia menyaksikan warga komplek, laki-laki dan perempuan, yang sudah wangi berdasi pergi serba tergesa ke sebuah dunia penuh kesibukan yang bernama kantor. Tak ada senyum sapa ketika mereka saling berpapasan dengan sesama tetangga. Seolah tidak saling kenal.
Lalu sore harinya mereka pulang dalam keadaan sudah lelah lahir batin. Datang-datang langsung mengurung diri di rumah masing-masing bertemankan benda tipis berbentuk persegi panjang yang bernama televisi. Berharap dengan cara seperti itu jiwa mereka punya hiburan yang menenangkan.
Tidak ada waktu buat natangga. Suatu kebiasaan di kampung Udin dimana setiap malam setelah seharian bekerja para tetangga suka berkumpul di bale-bale  sambil ngobrol apa saja.
Sementara anak-anak mereka bermain Ucing sumput atau oray-orayan di bawah siraman cahaya bulan. Bukan seperti anak-anak komplek ini yang begitu hari libur tiba semua berlesatan memenuhi mall-mall untuk memborong segala macam barang.
            Udin rindu masa lalunya. Dan rindu itu terobati dengan adanya Kolecer.
Namun sayang segala kesenangan Udin itu hanya berumur tidak lebih dari tiga hari saja.
            Pada hari ke empat mendadak Partijo dan kawan-kawannya datang menemui Udin. Kedatangan mereka, dalam keadaan berseragam lengkap coklat-coklat berikut pentungan menggelantung di pinggang masing-masing, sudah cukup untuk membuat Udin gemetaran.
            “A.. ada apa ini teh bapak-bapak datang berombongan?”
            “Kami ada perlu sama kamu, Udin!” Kata Partijo dengan suara menggelegar.
            Makin soak Udin dibuatnya.
            “Pe.. perlu apa sama saya, pak?”
            “Ini soal Kolecermu, Udin. Kolecer itu sudah membuat tempat tinggal kami jadi kumuh. Kamu pikir saja, apa pantes rumah-rumah kami yang begini mewah dipasangi Kolecermu yang murahan itu? Lagi pula Kolecer buatanmu itu sama sekali tidak cocok untuk anak-anak kami. Tidak mendidik. Anak-anak kami cocoknya dikasih mainan yang canggih dan modern seperti robot-robotan atau mobil remote. Bukan benda norak seperti itu. Kamu ngerti, Udin?!”
            “Nge.. ngerti, pak. Terus saya harus gimana?”
            “Kamu tidak boleh jualan lagi Kolecer. Kemudian Kolecermu itu juga harus kamu turunkan. Atau kami yang akan menurunkannya. Di komplek ini tidak boleh ada Kolecer.  Bukan kami kejam, Tapi segala sesuatu itu harus diukur dari segi kepatutan. Lagian buat apa sih kamu masang-masang benda kampungan seperti itu? Pasti cuma buat iseng saja kan. Dasar udik.”
Dalam hati Udin sebenarnya tersinggung dan ingin marah atas sikap Partijo yang sewenang-wenang. Memangnya dia jualan narkoba. Tapi mau melawan dia takut. Anak buah Partijo itu banyak. Bisa-bisa dirinya yang malah jadi arang. Tapi karena Partijo bertanya apa alasan dia memasang Kolecer, Udin lalu menjawab pertanyaan itu dengan sebuah cerita.
Dulu sekolah Udin hanya sampai SD saja. Bapak terlalu miskin untuk bisa menyekolahkannya hingga SMP. Sebabnya pekerjaan bapak setiap hari hanyalah berjualan Kolecer keliling kampung yang hasilnya hanya cukup  untuk membeli beras seliter.
Tapi bapak orang yang setia terhadap profesinya. Hingga maut menjemput bapak tetap berjualan Kolecer. Dan Udin akan tetap ingat apa yang membuat bapak mati.
Suatu hari karena ingin punya pendapatan lebih banyak, bapak nekat jualan ke kota. Karena menurutnya jualan di kota pasti akan lebih laris. Jadi bapak sengaja membuat Kolecer yang banyak. Modalnya ia pinjam dari seorang rentenir.
Tapi nasib siapa bisa menduga. Begitu tiba di kota, baru juga bapak menggelar dagangannya tiba-tiba segerombolan satpol PP berloncatan dari atas truk melakukan razia. Para pedagang kaki lima berlarian seperti disapu angin puyuh menyelamatkan diri tanpa sempat membereskan dagangannya. Semua diangkut ke atas truk.
Sedangkan semua Kolecer dagangan bapak habis terinjak-injak tanpa tersisa sepotongpun.
Bapak pulang dengan batin nelangsa. Ia baru tahu, ternyata kalau orang miskin tidak boleh jualan di kota. Sekeluarga menangisi nasibnya. Terutama manakala mereka teringat bagaimana harus melunasi utang kepada si rentenir.
Karena terus-terusan memikirkan utangnya bapak akhirnya jatuh sakit dan meninggal.
“Jadi dengan memasang Kolecer ini saya akan selalu ingat kepada jasa bapak yang sudah membesarkan saya,” Kata Udin sendu mengakhiri ceritanya.
Partijo  dan anak buahnya jadi salah tingkah setelah mendengar cerita Udin. Tapi hanya sebentar. Detik selanjutnya sikap mereka mengeras lagi.
“Kami turut berduka dengan nasibmu, Udin. Tapi peraturan tetap peraturan.  Kolecermu itu harus diturunkan. Kamu paham, Udin?”
Udin hanya bisa mengangguk lesu. ***
 Tamat. Cicinde Utara, Februari, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar