Selasa, 08 Maret 2016

Kunang-kunang di Cicinde



KUNANG_KUNANG DI CICINDE
Di Cicinde, ada anggapan bahwa manusia paling kuat di dunia ini adalah petani, karena dia menyambung tali kehidupan jutaan manusia. Bayangkan kalau di muka bumi ini tidak ada orang yang menjadi petani, maka kehidupan pelan-pelan akan punah. Tidak ada beras, tidak ada gandum, sayur-sayuran, buah-buahan dan yang lain-lainnya.
Mak Diyah tidak perduli dengan anggapan itu. Satu hal saja yang perlu ia katakan kepada suaminya, abah Sarta, sore ini.
“Beras kita tinggal seliter, Bah. Paling hanya cukup sampe besok aja.”
Lalu dari tangan kecilnya tersuguh secangkir besar teh pahit yang diletakan di atas tikar rombeng di hadapan suaminya.
“Ngutang aja dulu ke warung si Cicih. Abah uangnya udah dikasihin sama si Maman buat beli pupuk,” yang diajak bicara tetap asik mengepulkan gumpalan demi gumpalan asap dari udud kawungnya. Sebelah kaki menekuk menopang tangan kiri yang menjepit sebatang rokok. Sedang melamun rupanya. Dan bahan lamunannya ditunjukkan oleh tatapan matanya yang hinggap pada sebuah bingkai poto yang sudah kusam yang tergantung di dinding bilik yang juga sudah berwarna kehitam-hitaman.
Si bungsu yang bernama Asep, anak kesayangannya yang tercetak di dalam foto itu, seperti sedang membalas tatapannya. Dua orang kakaknya semua perempuan. Sudah menikah dan sudah pula diboyong suami masing-masing.
Kata mak Diyah, anak perempuan juga rejeki yang wajib disyukuri. Abah Sarta mengerti. Ia berkilah, syukurnya akan lebih mantap kalau seorang saja di antara bayi yang keluar dari rahim istrinya adalah anak laki-laki. Dengan begitu akan ada yang meneruskan jejak langkahnya membalik lumpur di sawah menyemai benih-benih kehidupan.
Dan pada kelahiran yang ketiga, Gusti Allah rupanya mengabulkan permintaan abah Sarta. Si jabang bayi yang menengok dunia sambil melengkingkan tangis suka citanya ternyata berkelamin laki-laki. Betapa senang abah Sarta. Sebagai bentuk syukurnya ia lalu menyembelihkan satu ekor Kambing.
Sementara untuk namanya abah Sarta sudah punya pilihan, yaitu Asep. Yang artinya kasep, atau ganteng. Seperti itulah kira-kira harapannya kalau si anak sudah besar nanti. Ganteng sampai ke akhlak-akhlaknya.
Kalau kakak-kakaknya sekolah tamat SD saja cukup, si Asep tidak. Sekolahnya tinggi, sampai menjelajah ke SMU yang ada di kota. Untuk segala macam biayanya, abah Sarta rela menjual satu dari tiga kotak sawah yang dimilikinya.
“Abah nggak menyesal. Ini semua demi si Asep. Kalau pendidikannya tinggi, siapa tau rejekinya juga ikut tinggi,” kata abah Sarta kepada istrinya waktu sang istri menanyakan apakah di kemudian hari nanti dirinya tidak menyesal sudah menjual sebagian ladangnya.
Tetapi waktu senantiasa berubah dan tabiat manusiapun ikut pula berubah. Sekarang abah Sarta harus menjilat ludahnya sendiri. Pasalnya, sang putra yang amat dibanggakan itu, tega sekali mematahkan harapan yang sudah terlanjur jauh dibentangkannya ini.
“Bagaimana sekarang keadaannya si Asep, Yah?” Abah Sarta berkata seperti ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Abah jangan mikirin dia terus. Si Asep belum juga sebulan pergi ke kota. Mudah-mudahan aja dia cepet dapet kerja kayak si Ujang,” Jawab mak Diyah.
“Maksud abah bukan begitu. Abah akan bahagia kalo dia di desa aja jadi petani kayak abah. Rasanya kalo anak kerja jauh begitu, abah suka kepikiran terus. Takut kenapa-kenapa. Anak itu kan baru sekali ini merantau ke kota.”
Mak Diah tertawa.
“Abah ini gimana. Si Asep itu nyari kerja di kota buat masa depannya. Kita doain aja mudah-mudahan dia cepet sukses dan jadi orang kaya. Habis kalo di kampung terus dia mau ngapain? Mending kalo orang tuanya kaya-raya, punya sawah luas, duitnya banyak, kehidupan dia akan terjamin. Ini, kita buat makan sendiri aja cuma pas-pasan.”
Abah Sarta tidak menjawab. Dalam hati dia tidak memungkiri apa yang istrinya katakan. Sawah mereka makin kesini makin tidak menghasilkan apa-apa. Padi memang ‘berbuah’. Tapi kadang Wereng, Tikus, dan Ulat mendului mereka, berpesta menyedot satu demi satu biji-biji padi itu. Sisanya hanya batang-batang padi yang sudah mengering seperti mayat yang menunggu dikubur.
Selain masalah hama, kadang pupuk juga suka menghilang tiba-tiba dari pasaran. Kalau juga ada harganya pasti sudah naik bertingkat-tingkat. Untuk bisa membelinya abah Sarta terpaksa harus utang dulu kepada Haji Rosid, tengkulak yag merajai kampungnya, dengan syarat pada waktunya panen abah Sarta harus menjual gabahnya kepada dia.
Dan sudah bisa ditebak, ketika panen tiba harga gabah ditekuknya hingga merendah-rendah. Abah Sarta tak berdaya. Keluhnya menjadi kian tak berujung.
Nasi timbel yang akan dibawa sebagai bekal ke sawah sekarang telah selesai dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Isinya berupa sambel, ikan asin, dan seikat daun lalap-lalapan.
Abah Sarta segera pamit sambil berpesan supaya si Maman, menantunya, cepat-cepat membeli pupuk agar tidak kehabisan lagi. Kabarnya pupuk ini kiriman langsung dari pemerintah yang harganya lebih murah karena sudah disubsidi.
Mak Diyah menjawab hanya sebatas anggukan.
Abah Sarta melangkah dengan pacul di pundak kiri dan rantang makanan menggelantung di tangan kanan. Baju dan celananya berwarna serba hitam yang disana-sini belepotan oleh noda-noda lumpur yang sudah mengering. Melongok keatas, kepala yang sudah seperti bola sepak tampak ditutupi caping.
Jalan setapak menuju sawah harus melalui hutan bambu tempat burung-burung Manyar berkumpul. Ujung jalan setapak itu akan langsung menyambung dengan galengan, atau pematang sawah. Dari sana sinar matahari akan langsung menaburkan cahayanya.
Abah Sarta buka capingnya untuk membiarkan angin pesawahan yang sejuk menerpa sekujur tubuhnya. Ke manapun mata memandang yang tampak hanyalah kemilau padi-padi yang menguning laksana hamparan permadani berbatas gunung dan barisan pepohonan di kejauhan.
Puluhan burung Pipit terlihat beterbangan dari sawah yang satu ke sawah yang lain sambil bercicit nyaring. Ada pula suara Bancet, Kodok kecil,yang merepet-repet bersahutan.
Segala yang didengar dan dilihatnya itu menautkan lagi pikiran abah Sarta kepada si Asep. Waktu kecil pun ia sering mengajaknya ke sawah. Mencarikannya Belut atau sarang Burung. Harapannya besar sekali si anak kalau sudah dewasa nanti akan mengikuti jejak bapaknya menjadi petani. Tetapi petani yang pintar supaya bisa membantu orang-orang disini melepaskan diri dari jeratan tengkulak.
Ya, di sini tengkulak seperti haji Rosid itu lagaknya seperti penyamun yang bermuka dua. Pada waktu masa tanam padi tiba, hatinya begitu baik penuh ketulusan membantu seluruh kebutuhan petani. Dari mulai bibit padi, pupuk, bahkan hingga traktor ia sediakan.
Namun ketika tiba masanya padi dipetik, tampaklah tabiat aslinya yang serupa Dasamuka. Petani yang sudah terjerat utang, tidak boleh menjual hasil panennya ke pihak lain. Harus selalu kepada dirinya. Dan tentu saja dengan harga yang sudah ia patok sendiri yang jauh lebih murah di bawah harga pasaran.Tak seorangpun berani menentang.
Kemudian si Asep yang tadinya hendak dijadikan sarjana pertanian, ternyata makin tinggi badannya, makin tak tertarik menyelami seluk-beluk sumber kehidupan orang tuanya ini. Apalagi kalau harus belepotan lumpur. Paling benci. Pabrik-pabrik di perkotaan lebih deras menarik minat hatinya.
Seperti gambar film yang diputar ulang, di pelupuk mata abah Sarta tergambar lagi pertengkaran dengan si bungsu itu pada suatu malam. Bulat rupanya tekad si Asep hendak mengikuti jejak kawan-kawan sedesanya merantau ke kota menjadi buruh pabrik. Tiap bulan gajian, tiap bulan gajian tanpa harus pusing-pusing memikirkan hama, harga pupuk yang terus naik, atau hujan yang enggan menengok bumi.
“Kalo tetep jadi petani, hidup kita akan miskin terus, Pak. Nggak usah jauh-jauh, bapak lihat aja nasib bapak sendiri. Puluhan tahun menjadi petani, tivi aja nggak kebeli. Yang kaya malah para tengkulak itu yang mencekik orang-orang seperti bapak. Tiap tahun harga beras naik, tapi apa itu bisa menjadikan bapak kaya? Yang ada bapak malah terus gali lobang tutup lobang. Coba kalo jadi karyawan, si Ujang malah udah bisa ngeridit motor sendiri. Apa bapak nggak pengen hidup kita bisa maju seperti itu?” Asep tetap ngotot dengan kehendaknya. Hatinya kaku seperti besi yang tidak bisa dibelokan.
“Tapi Abah nggak punya uang, Sep,” keluh abah Sarta mencoba mempertahankan buah hatinya itu.
“Tapi Abah kan masih punya sawah tiga kotak? Jual aja satu, Bah.”
Hati abah Sarta serasa diiris mendengarnya. Wajahnya sendu serupa perawan yang di tinggal mati kekasihnya. Tega sekali anaknya berkata demikian. Tidakkah anak itu menyadari, sawah itu baginya sama dengan nyawa kedua.
Tetapi abah Sarta yang pada dasarnya amat menyayangi putranya itu, mengalah. Besoknya, satu kotak sawahnya dia gadaikan kepada haji Rosid.
Kata si Asep, uang hasil gadai sawah itu akan dipergunakan untuk menyogok orang yang akan mempekerjakannya di pabrik. Sudah biasa, di kota segala urusan kalau ingin lancar mengalir, harus ada pelicinnya.
Abah Sarta sudah tak ingin mendengarnya. Hatinya terlanjur kecewa. Anak kesayangan yang diharap akan meneruskan jejak langkahnya kini bersimpangan jalan. Lantas siapa yang akan menjaga dan mengolah ladangnya di masa depan nanti?
“Abah, tunggu, bah !” Tiba-tiba ada yang berteriak memanggil abah Sarta.
Abah Sarta berhenti dan menoleh.
Mak Diyah yang baru saja dittinggalkannya sedang tergopoh-gopoh menuju ke arahnya. Beberapa kali perempuan tua itu hampir terpeleset di galengan yang licin.
“Kamu kenapa, Mak, lari-larian begitu kaya dikejar macan?”
 “Abah, cilaka! Cilaka, Abah!” Mak Diyah meriwis-riwis. Belum apa-apa dia sudah hampir menangis.
“ Apanya yang cilaka? Sok atuh buruan jelasin. Ada apa ini teh?”
“Itu... si Asep cilaka...!”
“Hah? Celaka kenapa si Asep?”
           Dia teh ditipu orang. Duitnya ludes semua dibawa kabur.”
Mengalirlah cerita yang membuat abah Sarta mesti mengurut dada. Berdasarkan cerita si Ujang, Si Asep menemui orang yang sudah menjanjikan pekerjaan itu. Katanya dia punya kenalan seorang pegawai di sebuah pabrik. Tapi untuk bisa kerja di sana, si calon karyawan harus membayar uang administrasi dua juta besarnya. Si Asep yang sudah kebelet ingin cepat jadi karyawan, tanpa pikir dua kali, percaya begitu saja. Uang hasil abah Sarta menggadaikan sawah pun langsung diberikannya. Ternyata begitu uang diterima, orang itu langsung menghilang tak tentu rimbanya.
“Begitu kata si Ujang, Bah. Ini teh gimana atuh? Kasian si Asep....”
“Sekarang si Asepnya mana?” Tanya abah Sarta.
“Dia masih di kota. Kata si Ujang dia nggak mau pulang. Malu. Aduuuh, anak teh kumaha atuh nasibnya sekarang. Kita harus gimana, Abah?” Makin basah air mata mak Diyah. Terbayang si Asep di kota tanpa memegang uang sepeser pun.
Hampir menangis abah Sarta mendengar nasib anak kesayangannya itu. Matanya berkaca-kaca.
“Kita harus gimana, Bah?”
“Ya udah, kita gadein saja lagi sawah kita ke haji Rosid. Yang penting si Asep harus kita bantu dulu,” kata abah Sarta menegar-negarkan hati. Ia lalu duduk di tepi galengan. Pegal-pegalnya yang tadi tidak terasa, sekarang begitu jelas mencucuk tulang-belulangnya. Seharusnya di usianya yang kian menginjak senja ini, sudah waktunya untuk pensiun. Bukan terus-terusan ‘asik’ menentang badai. Ya, kehidupan seorang petani adalah hidup yang dikelilingi badai.
Senja makin temaram.  Abah Sarta memutuskan malam ini ia tidak akan pulang, Ia ingin melihat kunang-kunang yang biasanya setiap menjelang musim kemarau bermunculan. Berkerlap-kerlip seperti intan di kegelapan malam. Entah apa yang dicarinya hingga harus selalu membawa-bawa pelita. Tapi abah Sarta merasa bahwa nasibnya tak jauh beda dengan kunang-kunang itu. Demikian kecil, demikian lemah.
 Abah Sarta pandangi hamparan ladang miliknya yang rata menguning. Bulir-bulirnya montok berisi. Ia bangga dan bahagia memilikinya. Rasanya tak sia-sia jerih dan payahnya memeras keringat. Tapi sekarang ia jadi bertanya-tanya, padi-padi ini sebenarnya untuk siapakah? *** Tamat. – Di muat di Annida.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar