KUNANG_KUNANG
DI CICINDE
Di Cicinde, ada anggapan bahwa manusia
paling kuat di dunia ini adalah petani, karena dia menyambung tali kehidupan
jutaan manusia. Bayangkan kalau di muka bumi ini tidak ada orang yang menjadi
petani, maka kehidupan pelan-pelan akan punah. Tidak ada beras, tidak ada
gandum, sayur-sayuran, buah-buahan dan yang lain-lainnya.
Mak Diyah tidak perduli dengan
anggapan itu. Satu hal saja yang perlu ia katakan kepada suaminya, abah Sarta,
sore ini.
“Beras kita tinggal seliter, Bah.
Paling hanya cukup sampe besok aja.”
Lalu
dari tangan kecilnya tersuguh secangkir besar teh pahit yang diletakan di atas
tikar rombeng di hadapan suaminya.
“Ngutang aja dulu ke warung si Cicih.
Abah uangnya udah dikasihin sama si Maman buat beli pupuk,” yang diajak bicara
tetap asik mengepulkan gumpalan demi gumpalan asap dari udud kawungnya. Sebelah
kaki menekuk menopang tangan kiri yang menjepit sebatang rokok. Sedang melamun
rupanya. Dan bahan lamunannya ditunjukkan oleh tatapan matanya yang hinggap
pada sebuah bingkai poto yang sudah kusam yang tergantung di dinding bilik yang
juga sudah berwarna kehitam-hitaman.
Si bungsu yang bernama Asep, anak
kesayangannya yang tercetak di dalam foto itu, seperti sedang membalas
tatapannya. Dua orang kakaknya semua perempuan. Sudah menikah dan sudah pula
diboyong suami masing-masing.
Kata mak Diyah, anak perempuan juga
rejeki yang wajib disyukuri. Abah Sarta mengerti. Ia berkilah, syukurnya akan
lebih mantap kalau seorang saja di antara bayi yang keluar dari rahim istrinya
adalah anak laki-laki. Dengan begitu akan ada yang meneruskan jejak langkahnya
membalik lumpur di sawah menyemai benih-benih kehidupan.
Dan pada kelahiran yang ketiga, Gusti
Allah rupanya mengabulkan permintaan abah Sarta. Si jabang bayi yang menengok
dunia sambil melengkingkan tangis suka citanya ternyata berkelamin laki-laki.
Betapa senang abah Sarta. Sebagai bentuk syukurnya ia lalu menyembelihkan satu
ekor Kambing.
Sementara untuk namanya abah Sarta
sudah punya pilihan, yaitu Asep. Yang artinya kasep, atau ganteng. Seperti
itulah kira-kira harapannya kalau si anak sudah besar nanti. Ganteng sampai ke
akhlak-akhlaknya.
Kalau kakak-kakaknya sekolah tamat SD
saja cukup, si Asep tidak. Sekolahnya tinggi, sampai menjelajah ke SMU yang ada
di kota. Untuk segala macam biayanya, abah Sarta rela menjual satu dari tiga
kotak sawah yang dimilikinya.
“Abah nggak menyesal. Ini semua demi
si Asep. Kalau pendidikannya tinggi, siapa tau rejekinya juga ikut tinggi,”
kata abah Sarta kepada istrinya waktu sang istri menanyakan apakah di kemudian
hari nanti dirinya tidak menyesal sudah menjual sebagian ladangnya.
Tetapi waktu senantiasa berubah dan
tabiat manusiapun ikut pula berubah. Sekarang abah Sarta harus menjilat
ludahnya sendiri. Pasalnya, sang putra yang amat dibanggakan itu, tega sekali
mematahkan harapan yang sudah terlanjur jauh dibentangkannya ini.
“Bagaimana sekarang keadaannya si
Asep, Yah?” Abah Sarta berkata seperti ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Abah jangan
mikirin dia terus. Si Asep belum juga sebulan pergi ke kota. Mudah-mudahan aja
dia cepet dapet kerja kayak si Ujang,”
Jawab mak Diyah.
“Maksud abah
bukan begitu. Abah akan bahagia kalo dia di desa aja jadi petani kayak abah.
Rasanya kalo anak kerja jauh begitu, abah suka kepikiran terus. Takut kenapa-kenapa.
Anak itu kan baru sekali ini merantau ke kota.”
Mak Diah tertawa.
“Abah ini gimana.
Si Asep itu nyari kerja di kota buat masa depannya. Kita doain aja
mudah-mudahan dia cepet sukses dan jadi orang kaya. Habis kalo di kampung terus
dia mau ngapain? Mending kalo orang tuanya kaya-raya, punya sawah luas, duitnya
banyak, kehidupan dia akan terjamin. Ini, kita buat makan sendiri aja cuma
pas-pasan.”
Abah Sarta tidak
menjawab. Dalam hati
dia tidak memungkiri apa yang istrinya katakan. Sawah mereka makin kesini makin
tidak menghasilkan apa-apa. Padi memang ‘berbuah’. Tapi kadang Wereng, Tikus, dan Ulat mendului mereka,
berpesta menyedot satu demi satu biji-biji padi itu. Sisanya hanya
batang-batang padi yang
sudah mengering seperti mayat yang menunggu dikubur.
Selain masalah hama, kadang
pupuk juga suka
menghilang tiba-tiba dari
pasaran. Kalau juga ada harganya pasti sudah naik bertingkat-tingkat. Untuk bisa
membelinya abah Sarta terpaksa harus utang dulu kepada Haji Rosid, tengkulak
yag merajai kampungnya, dengan syarat pada waktunya panen abah Sarta harus
menjual gabahnya kepada dia.
Dan sudah bisa
ditebak, ketika panen tiba harga
gabah ditekuknya hingga merendah-rendah. Abah Sarta tak berdaya. Keluhnya
menjadi kian tak berujung.
Nasi timbel yang akan dibawa sebagai
bekal ke sawah sekarang telah selesai dibungkus dengan menggunakan daun pisang.
Isinya berupa sambel, ikan asin, dan seikat daun lalap-lalapan.
Abah Sarta segera pamit sambil
berpesan supaya si Maman, menantunya, cepat-cepat membeli pupuk agar tidak
kehabisan lagi. Kabarnya pupuk ini kiriman langsung dari pemerintah yang
harganya lebih murah karena sudah disubsidi.
Mak Diyah menjawab hanya sebatas
anggukan.
Abah Sarta melangkah dengan pacul di
pundak kiri dan rantang makanan menggelantung di tangan kanan. Baju dan
celananya berwarna serba hitam yang disana-sini belepotan oleh noda-noda lumpur
yang sudah mengering. Melongok keatas, kepala yang sudah seperti bola sepak
tampak ditutupi caping.
Jalan setapak menuju sawah harus
melalui hutan bambu tempat burung-burung Manyar berkumpul. Ujung jalan setapak itu
akan langsung menyambung dengan galengan,
atau pematang sawah. Dari sana sinar matahari akan langsung menaburkan
cahayanya.
Abah Sarta buka capingnya untuk
membiarkan angin pesawahan yang sejuk menerpa sekujur tubuhnya. Ke manapun mata
memandang yang tampak hanyalah kemilau padi-padi yang menguning laksana
hamparan permadani berbatas gunung dan barisan pepohonan di kejauhan.
Puluhan burung Pipit terlihat
beterbangan dari sawah yang satu ke sawah yang lain sambil bercicit nyaring.
Ada pula suara Bancet, Kodok kecil,yang merepet-repet bersahutan.
Segala yang didengar dan dilihatnya
itu menautkan lagi pikiran abah Sarta kepada si Asep. Waktu kecil pun ia sering
mengajaknya ke sawah. Mencarikannya Belut atau sarang Burung. Harapannya besar
sekali si anak kalau sudah dewasa nanti akan mengikuti jejak bapaknya menjadi
petani. Tetapi petani yang pintar supaya bisa membantu orang-orang disini
melepaskan diri dari jeratan tengkulak.
Ya, di sini tengkulak seperti haji
Rosid itu lagaknya seperti penyamun yang bermuka dua. Pada waktu masa tanam
padi tiba, hatinya begitu baik penuh ketulusan membantu seluruh kebutuhan
petani. Dari mulai bibit padi, pupuk, bahkan hingga traktor ia sediakan.
Namun ketika tiba
masanya padi dipetik, tampaklah tabiat aslinya yang serupa Dasamuka. Petani
yang sudah terjerat utang, tidak boleh menjual hasil panennya ke pihak lain.
Harus selalu kepada dirinya. Dan
tentu saja dengan harga yang sudah ia patok sendiri yang jauh lebih murah di
bawah harga pasaran.Tak seorangpun berani menentang.
Kemudian si Asep yang tadinya hendak
dijadikan sarjana pertanian, ternyata makin tinggi badannya, makin tak tertarik
menyelami seluk-beluk sumber kehidupan orang tuanya ini. Apalagi kalau harus
belepotan lumpur. Paling benci. Pabrik-pabrik di perkotaan lebih deras menarik
minat hatinya.
Seperti gambar film yang diputar
ulang, di pelupuk mata abah Sarta tergambar lagi pertengkaran dengan si bungsu
itu pada suatu malam. Bulat rupanya tekad si Asep hendak mengikuti jejak
kawan-kawan sedesanya merantau ke kota menjadi buruh pabrik. Tiap bulan gajian,
tiap bulan gajian tanpa harus pusing-pusing memikirkan hama, harga pupuk yang
terus naik, atau hujan yang enggan menengok bumi.
“Kalo tetep jadi petani, hidup kita
akan miskin terus, Pak. Nggak usah jauh-jauh, bapak lihat aja nasib bapak
sendiri. Puluhan tahun menjadi petani, tivi aja nggak kebeli. Yang kaya malah
para tengkulak itu yang mencekik orang-orang seperti bapak. Tiap tahun harga
beras naik, tapi apa itu bisa menjadikan bapak kaya? Yang ada bapak malah terus
gali lobang tutup lobang. Coba kalo jadi karyawan, si Ujang malah udah bisa
ngeridit motor sendiri. Apa bapak nggak pengen hidup kita bisa maju seperti
itu?” Asep tetap ngotot dengan kehendaknya. Hatinya kaku seperti besi yang
tidak bisa dibelokan.
“Tapi Abah nggak punya uang, Sep,”
keluh abah Sarta mencoba mempertahankan buah hatinya itu.
“Tapi Abah kan masih punya sawah tiga
kotak? Jual aja satu, Bah.”
Hati abah Sarta serasa diiris
mendengarnya. Wajahnya sendu serupa perawan yang di tinggal mati kekasihnya.
Tega sekali anaknya berkata demikian. Tidakkah anak itu menyadari, sawah itu
baginya sama dengan nyawa kedua.
Tetapi abah Sarta yang pada dasarnya
amat menyayangi putranya itu, mengalah. Besoknya, satu kotak sawahnya dia
gadaikan kepada haji Rosid.
Kata si Asep, uang hasil gadai sawah
itu akan dipergunakan untuk menyogok orang yang akan mempekerjakannya di
pabrik. Sudah biasa, di kota segala urusan kalau ingin lancar mengalir, harus
ada pelicinnya.
Abah Sarta sudah tak ingin
mendengarnya. Hatinya terlanjur kecewa. Anak kesayangan yang diharap akan
meneruskan jejak langkahnya kini bersimpangan jalan. Lantas siapa yang akan
menjaga dan mengolah ladangnya di masa depan nanti?
“Abah, tunggu, bah !” Tiba-tiba ada
yang berteriak memanggil abah Sarta.
Abah Sarta berhenti dan menoleh.
Mak Diyah yang baru saja
dittinggalkannya sedang tergopoh-gopoh menuju ke arahnya. Beberapa kali perempuan tua itu hampir terpeleset
di galengan yang licin.
“Kamu kenapa, Mak, lari-larian begitu
kaya dikejar macan?”
“Abah, cilaka! Cilaka, Abah!” Mak Diyah meriwis-riwis.
Belum apa-apa dia sudah hampir menangis.
“ Apanya yang cilaka? Sok atuh buruan jelasin.
Ada apa ini teh?”
“Itu... si Asep
cilaka...!”
“Hah? Celaka kenapa si Asep?”
“ Dia teh
ditipu orang. Duitnya ludes semua dibawa kabur.”
Mengalirlah cerita yang membuat abah
Sarta mesti mengurut dada. Berdasarkan cerita si Ujang, Si Asep menemui orang
yang sudah menjanjikan pekerjaan itu. Katanya dia punya kenalan seorang pegawai
di sebuah pabrik. Tapi untuk bisa kerja di sana, si calon karyawan harus
membayar uang administrasi dua juta besarnya. Si Asep yang sudah kebelet ingin
cepat jadi karyawan, tanpa pikir dua kali, percaya begitu saja. Uang hasil abah
Sarta menggadaikan sawah pun langsung diberikannya. Ternyata begitu uang
diterima, orang itu langsung menghilang tak tentu rimbanya.
“Begitu kata si
Ujang, Bah. Ini teh gimana atuh? Kasian si Asep....”
“Sekarang si
Asepnya mana?” Tanya abah Sarta.
“Dia masih di kota. Kata si Ujang dia
nggak mau pulang. Malu. Aduuuh, anak teh
kumaha atuh
nasibnya sekarang. Kita harus gimana, Abah?” Makin basah air mata mak Diyah.
Terbayang si Asep di kota tanpa memegang uang sepeser pun.
Hampir menangis abah Sarta mendengar
nasib anak kesayangannya itu. Matanya berkaca-kaca.
“Kita harus gimana, Bah?”
“Ya udah, kita gadein saja lagi sawah
kita ke haji Rosid. Yang penting si Asep harus kita bantu dulu,” kata abah
Sarta menegar-negarkan hati. Ia lalu duduk di tepi galengan. Pegal-pegalnya
yang tadi tidak terasa, sekarang begitu jelas mencucuk tulang-belulangnya.
Seharusnya di usianya yang kian menginjak senja ini, sudah waktunya untuk
pensiun. Bukan terus-terusan ‘asik’ menentang badai. Ya, kehidupan seorang
petani adalah hidup yang dikelilingi badai.
Senja makin temaram. Abah Sarta memutuskan malam ini ia tidak akan
pulang, Ia ingin melihat kunang-kunang yang biasanya setiap menjelang musim
kemarau bermunculan. Berkerlap-kerlip seperti intan di kegelapan malam. Entah
apa yang dicarinya hingga harus selalu membawa-bawa pelita. Tapi abah Sarta
merasa bahwa nasibnya tak jauh beda dengan kunang-kunang itu. Demikian kecil,
demikian lemah.
Abah Sarta pandangi hamparan ladang miliknya
yang rata menguning. Bulir-bulirnya montok berisi. Ia bangga dan bahagia
memilikinya. Rasanya tak sia-sia jerih dan payahnya memeras keringat. Tapi
sekarang ia jadi bertanya-tanya, padi-padi ini sebenarnya untuk siapakah? ***
Tamat. – Di muat di Annida.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar