Senin, 05 Desember 2016

Salindri



Satpam yang masih muda itu mempersilahkannya untuk duduk di bangku kayu yang licin di bawah sebatang pohon palem hias yang tinggi menjulang. Tengah hari saat itu. Sinar matahari pedas membakar kulit.

“Non Lindri sedang menerima tamu. Jadi ibu tunggu saja sebentar lagi.” Katanya.
Mak Surti mengiyakan.
Pak satpam lalu menyuguhkan segelas air dingin untuk tamunya.
“Silahkan diminum, bu. Maap cuma air aja.”
“Iya, pak satpam. Terima kasih. Emak habiskan, ya? Habis emak haus sekali.
“Iya, bu. Silahkan, nggak apa-apa.
Mak Surti benar-benar menghabiskan air minum itu dalam sekali teguk. Tubuh tuanya terasa segar dan bertenaga lagi. Ia lalu buka bekalnya yang berupa beberapa potong singkong rebus. Ditawarinya pak satpam,  yang ditolak secara halus.
            Mata pak satpam sempat jelalatan ke jalan. Siapa tau ada tukang gorengan sehingga ia bisa membelikan beberapa untuk tamunya. Harapannya nihil. Akhirnya pak satpam hanya bisa memperhatikan saja mak Surti yang tampak sangat menikmati makanannya.
            Selesai makan, mak Surti lalu tatap rumah megah di hadapannya dengan kekaguman yang meronta-ronta dari kedua bola matanya.
            Rumah itu bertingkat dua dan berwarna putih bersih. Halaman depannya berupa taman yang dihiasi aneka rupa kekembangan. Beberapa Cemara gunung berjajar di pojokannya.
            Rasanya mak Surti tak Percaya. Salindri yang dulu merantau hanya membawa duit beberapa puluh ribu sekarang sudah sekaya ini. Bapa pasti senang kalau melihatnya.
            “Maap, bu. Bukannya saya tidak percaya. Apa benar ibu ini ibunya non Lindri?” Suara pak satpam tiba-tiba memutus lamunan mak Surti.
            Mak Surti mengiyakan tanpa menunjukan perasaan tersinggung.
            “Sekali lagi maap, bu,” Kata pak satpam. Tetapi menurutnya siapa pun pasti tidak akan percaya kalau perempuan tua berpakaian lusuh ini adalah ibunya Salindri. Salindri yang selebritis terkenal. Masa anaknya sekaya ini tapi ibunya kere.
            Mak Surti tak ambil pusing. Ia memang tahu kalau anaknya itu sekarang sudah jadi penyanyi terkenal. Mak Surti pernah menontonnya sekali di tivi milik tetangganya. Rasanya tak percaya melihatnya kalau yang sedang jejingkrakan di dalam kotak kaca itu adalah anaknya.
            Ternyata sudah berubah jauh. Rambutnya yang hitam sepinggang sudah pendek sebahu. Sementara kerudungnya yang dulu tidak pernah lepas, sekarang entah sudah terbang kemana.
            Kata tetangganya artis memang begitu. Justru kalau tidak begitu tidak akan laku.
Mereka mempantaskan saja kalau Salindri jadi penyanyi. Karena dari sejak SD anak itu memang sudah pintar nyanyi. Tiap waktu samen-pesta kenaikan kelas- Salindri tidak pernah absen naik ke panggung.
Lagu Satu-Satu Aku Sayang Ibu atau Balonku Ada Lima seperti bergema lagi di telinga mak Surti.
            Baginya Salindri demikian istimewa. Si bungsu itu merupakan jawaban atas doa-doanya agar gusti Allah mengkaruniakan ke tengah-tengah keluarga mereka seorang anak perempuan setelah dua orang kakaknya semua laki-laki.
Apa saja keinginan Salindri dituruti. Padahal usaha mak Surti hanya jualan kue serabi keliling kampung.
“Emak ingin tau, pak satpam. Apa tiap yang mau ketemu Salindri harus nunggu seperti ini?” Tanya mak Surti. Dalam hati dia merasa aneh. Masa mau ketemu anak sendiri harus nunggu seperti orang yang mau berobat ke dokter?
“Benar, bu. Salindri itu kan artis terkenal. Banyak yang ingin menemuinya. Kalau nggak diatur seperti ini dia sendiri yang jadi repot.”
“Oh, gitu. Emang dia sibuk terus?”
Pak Satpam membenarkan. Apalagi, katanya, kalau sedang ada panggilan nyanyi di tivi. Sering pulang sampai pagi.
Padahal di kampung jam delapan malam saja anak perawan sudah tidak boleh keluyuran di luar rumah, gumam mak Surti masygul.
            “Tapi dia masih suka ngaji kan?”
            “Maksud ibu ngaji di langgar seperti di kampung-kampung begitu?”
            Mak Surti menganggukan kepalanya.
            Pak satpam tertawa lebar.
            “Artis itu sibuk, bu. Kerjaannya tiap hari nyanyi. Mana ada waktu buat ngaji. Artis itu paling ngajinya sama artis lagi. Itu juga buat keperluan acara tivi. Bukan ngaji betulan membaca al Qur’an atau belajar tajwid.”
            Mak Surti terdiam. Pantas saja dulu ia amat berat melepas kepergian Salindri. Rupanya akan seperti ini jadinya.
            Benar kata orang. Anak gadis jauh dari rumah kebanyakan jadi Bengal. Sulit diatur. Maunya bebas kelayapan.      
            Duh, bagaimana kalau misalnya Salindri jadi korban kejahatan? Seperti yang ada di tivi-tivi itu. Harusnya anak itu pulang saja. Di rumah tentu lebih aman. Soal nyari duit, itu bisa usaha apa saja. Dagang kue kecil-kecilan pun jadi.
            Mak Surti masih ingat. Salindri paling suka kue serabi yang dicampur telor.
            Dulu, hampir tiap hari mak Surti membuatkannya. Sekarang pun buntalan yang dibawanya berisi kue tersebut.
            Salindri pasti senang dibawakan kue kegemarannya.
            Sedang asik melamun, dari dalam rumah Salindri tiba-tiba keluar beberapa orang yang menyandang kamera.
            Kata pak satpam itu tamu-tamu Salindri. Wartawan yang habis mewawancarainya.
            “Sekarang ibu bisa menemui non Lindri. Ayo, bu.” Ajak pak satpam.
            Dada mak Surti terasa lega. Dengan tak sabar ia berdiri. Didekapnya buntalan berisi kue serabi telor oleh-oleh untuk anak bungsunya itu. Sudah tak sabar ia ingin segera melihat. Seperti apakah Salindri sekarang? Pasti cantik sekali karena sudah jadi artis.
            Pak satpam mengantarkan mak Surti hanya sampai pintu depan.
            “Ibu masuk saja. Non Lindri  menunggu di dalam.”
            Mak Surti mengangguk. Terlebih dulu ia copot sepasang sandal jepitnya yang sebelah talinya bahkan hampir putus. Lantai marmer yang dingin ia tapaki dengan perasaan takut. Takut tergelincir, takut juga kakinya yang dekil akan mengotori.
            Bagian dalam rumah Salindri terasa sejuk. Dindingnya berwarna hijau muda. Banyak poto-poto Salindri tergantung di sana. Ingin mak Surti menatapnya berlama-lama sebagai pertanda kekangenannya. Tapi hal itu tidak bisa dilakukannya.
            Karena begitu masuk juga, mata mak Surti langsung melihat sepasang muda-mudi duduk di sofa yang panjang.
            Yang satu seorang jejaka perlente mengenakan kemeja dan jas. Seperti orang kantoran. Sedang yang duduk di sisinya adalah seorang gadis berambut ikal sebahu. Kulitnya putih bersih. Matanya bulat. Sepasang anting-anting berbentuk lingkaran menggelantung di kupingnya yang mungil.
            Cantik sekali. Dan mak Surti langsung mengenalinya.
Itulah dia !
Salindrinya yang dia impikan siang malam !
Ingin rasanya mak Surti menghambur saat itu juga untuk memeluknya. Namun satu kalimat dari Salindri membuat sepasanng kaki mak Surti serasa dipakukan ke lantai.
“Silahkan duduk, bu.”
Ibu.
Anak itu memanggilnya dengan sebutan ibu. Bukan emak seperti kebiasaannya waktu masih di kampung. Dan Salindri pun tetap duduk di kursinya tanpa berdiri menyambut kedatangannya.
Ada sesuatu yang kosong di dalam dada Mak Surti. Semacam rasa kehilangan terhadap sesuatu yang selama ini menjadi kekuatan jiwanya.
Ia duduk dengan perasaan mengambang. Didengarnya lagi Salindri berkata kepada teman jejakanya.
“Kenalkan, mas. Ini ibu Surti dari kampung. Ibu angkat saya.”
Detik itu juga, mak Surti merasakan lantai dibawah kakinya seperti bergoyang. Hatinya terasa retak.
Benar.
Salindri memang hanya anak angkat. Tapi perlukah hal itu dikatakan mengingat ia sendiri tidak pernah membeda-bedakan. Bahkan kasih sayangnya kepada Salindri amatlah berlebihan.
Perlahan ada rasa hangat menjalar di kelopak mata mak Surti.
Sebuah kenangan pun melintas. Yaitu waktu Salindri keukeuh ingin mencari kerja di kota. Mak Surti melarangnya. Dan entah setan mana yang tiba-tiba membuka rahasia itu.
Ada yang memberitahukan kalau Salindri sebenarnya hanya anak angkat saja. Berita itu tidak lantas membuat Salindri berterima kasih karena sudah ada yang mengasuh serta merawatnya. Sebaliknya kemarahan Salindri meledak.
Ia merasa dibohongi. Mak Surti sudah merenggut dirinya dari keluarganya sendiri. Padahal berkali-kali mak Surti menjelaskan kalau kedua orang tua Salindri sudah meninggal waktu Salindri sendiri masih berupa bayi merah.
Salindri minggat. Menurutnya mak Surti tidak punya hak melarang-larang dirinya. Padahal mak Surti tidak bermaksud menyembunyikan. Ia hanya akan membuka jati diri Salindri kalau anak itu sudah cukup dewasa.
“Maap, ibu ada keperluan apa ya datang kemari?” Suara Salindri memutus lamunan mak Surti.
Mak Surti bingung. Perlukah ia katakan,
Emak hanya kangen ingin ketemu kamu, Lindri. Ini emak bawakan serabi telor kesukaanmu. Kapan kamu akan pulang?
“Ti.. tidak, Lindri. Emak, eh ibu hanya ingin nengok kamu. Takut kamu kenapa-kenapa.” Kaku sekali lidah mak Surti saat melapalkan kata ibu itu. Pudar segala gambaran yang sudah diangan-angankannya .
Bahwa kalau ketemu Salindri ia akan memeluk sepuasnya.
Akan menciuminya.
Sekarang anaknya itu duduk begitu dekat di sisinya. Tapi jangankan memeluk, untuk menyentuh pun mak Surti tidak memiliki keberanian.
Terasa ada jarak yang membentang di antara mereka.
“Saya baik-baik saja, bu. Maap, saya nggak bisa nemuin lama-lama. Habis sibuk, sih.”
“Iya, kalo kamu sibuk, Ibu lebih baik permisi saja.”
Mak Surti berdiri dengan perasaan ngenes. Ditujunya pintu dengan hati yang berkeping. Berusaha untuk tidak menangis. Betapa singkatnya pertemuan yang dia angan-angankan akan berlangsung penuh kehangatan itu.
Pak satpam sudah menunggunya di luar.
Beriringan mereka menuju ke pintu pagar.
Mak Surti tiba-tiba bergumam seperti bicara kepada dirinya sendiri.
“Anak itu sekarang sudah berubah. Untuk emaknya ini pun dia sekarang sudah tidak punya waktu. Mungkin dia malu, ya pak satpam, punya emak miskin seperti ini.”
Pak satpam melirik. Melihat mata mak Surti yangn berkaca-kaca, tahulah ia apa yang terjadi.
“Saya mengerti apa yang ibu rasakan. Tapi seperti apa pun sikap non Lindri, ibu jangan menangis. Karena satu tetes saja air mata ibu jatuh itu akan menghancurkan seluruh kebahagiaan non Lindri. Ibu tidak ingin itu terjadi kan? Ibu harus sabar. Doakan saja agar suatu saat non Lindri bisa menerima ibu apa adanya.”
Mak Surti seolah tersadar. Omongan pak satpam seperti air dingin yang mengguyur kepalanya.  
Cepat mak Surti susut kedua matanya. Lalu ia angsurkan kue serabi telor yang tadinya akan ia berikan untuk anaknya itu.
“Pak satpam benar. Bagi seorang ibu melihat anaknya bahagaia saja itu sudah cukup. Kue ini untuk pak satpam saja. Tadinya buat Salindri. Tapi barangkali anak itu sekarang sudah tidak suka kue kampung seperti ini.”
Pak satpam menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa ia menyelipkan selembar uang dua puluh ribuan ke tangan mak Surti.
“Untuk nambahin ongkos mobil, bu. Mudah-mudahan cukup.” *** Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar