Satpam
yang masih muda itu mempersilahkannya untuk duduk di bangku kayu yang licin di
bawah sebatang pohon palem hias yang tinggi menjulang. Tengah hari saat itu.
Sinar matahari pedas membakar kulit.
“Non
Lindri sedang menerima tamu. Jadi ibu tunggu saja sebentar lagi.” Katanya.
Mak
Surti mengiyakan.
Pak
satpam lalu menyuguhkan segelas air dingin untuk tamunya.
“Silahkan
diminum, bu. Maap cuma air aja.”
“Iya,
pak satpam. Terima kasih. Emak habiskan, ya? Habis emak haus sekali.
“Iya,
bu. Silahkan, nggak apa-apa.
Mak
Surti benar-benar menghabiskan air minum itu dalam sekali teguk. Tubuh tuanya
terasa segar dan bertenaga lagi. Ia lalu buka bekalnya yang berupa beberapa
potong singkong rebus. Ditawarinya pak satpam,
yang ditolak secara halus.
Mata pak satpam sempat jelalatan ke
jalan. Siapa tau ada tukang gorengan sehingga ia bisa membelikan beberapa untuk
tamunya. Harapannya nihil. Akhirnya pak satpam hanya bisa memperhatikan saja
mak Surti yang tampak sangat menikmati makanannya.
Selesai makan, mak Surti lalu tatap
rumah megah di hadapannya dengan kekaguman yang meronta-ronta dari kedua bola
matanya.
Rumah itu bertingkat dua dan
berwarna putih bersih. Halaman depannya berupa taman yang dihiasi aneka rupa
kekembangan. Beberapa Cemara gunung berjajar di pojokannya.
Rasanya mak Surti tak Percaya.
Salindri yang dulu merantau hanya membawa duit beberapa puluh ribu sekarang
sudah sekaya ini. Bapa pasti senang kalau melihatnya.
“Maap, bu. Bukannya saya tidak
percaya. Apa benar ibu ini ibunya non Lindri?” Suara pak satpam tiba-tiba
memutus lamunan mak Surti.
Mak Surti mengiyakan tanpa
menunjukan perasaan tersinggung.
“Sekali lagi maap, bu,” Kata pak
satpam. Tetapi menurutnya siapa pun pasti tidak akan percaya kalau perempuan
tua berpakaian lusuh ini adalah ibunya Salindri. Salindri yang selebritis
terkenal. Masa anaknya sekaya ini tapi ibunya kere.
Mak Surti tak ambil pusing. Ia
memang tahu kalau anaknya itu sekarang sudah jadi penyanyi terkenal. Mak Surti
pernah menontonnya sekali di tivi milik tetangganya. Rasanya tak percaya
melihatnya kalau yang sedang jejingkrakan di dalam kotak kaca itu adalah
anaknya.
Ternyata sudah berubah jauh.
Rambutnya yang hitam sepinggang sudah pendek sebahu. Sementara kerudungnya yang
dulu tidak pernah lepas, sekarang entah sudah terbang kemana.
Kata tetangganya artis memang
begitu. Justru kalau tidak begitu tidak akan laku.
Mereka
mempantaskan saja kalau Salindri jadi penyanyi. Karena dari sejak SD anak itu
memang sudah pintar nyanyi. Tiap waktu samen-pesta kenaikan kelas- Salindri tidak
pernah absen naik ke panggung.
Lagu
Satu-Satu Aku Sayang Ibu atau Balonku Ada Lima seperti bergema lagi di telinga
mak Surti.
Baginya Salindri demikian istimewa.
Si bungsu itu merupakan jawaban atas doa-doanya agar gusti Allah mengkaruniakan
ke tengah-tengah keluarga mereka seorang anak perempuan setelah dua orang
kakaknya semua laki-laki.
Apa
saja keinginan Salindri dituruti. Padahal usaha mak Surti hanya jualan kue
serabi keliling kampung.
“Emak
ingin tau, pak satpam. Apa tiap yang mau ketemu Salindri harus nunggu seperti
ini?” Tanya mak Surti. Dalam hati dia merasa aneh. Masa mau ketemu anak sendiri
harus nunggu seperti orang yang mau berobat ke dokter?
“Benar,
bu. Salindri itu kan artis terkenal. Banyak yang ingin menemuinya. Kalau nggak
diatur seperti ini dia sendiri yang jadi repot.”
“Oh,
gitu. Emang dia sibuk terus?”
Pak
Satpam membenarkan. Apalagi, katanya, kalau sedang ada panggilan nyanyi di tivi.
Sering pulang sampai pagi.
Padahal
di kampung jam delapan malam saja anak perawan sudah tidak boleh keluyuran di
luar rumah, gumam mak Surti masygul.
“Tapi dia masih suka ngaji kan?”
“Maksud ibu ngaji di langgar seperti
di kampung-kampung begitu?”
Mak Surti menganggukan kepalanya.
Pak satpam tertawa lebar.
“Artis itu sibuk, bu. Kerjaannya
tiap hari nyanyi. Mana ada waktu buat ngaji. Artis itu paling ngajinya sama
artis lagi. Itu juga buat keperluan acara tivi. Bukan ngaji betulan membaca al
Qur’an atau belajar tajwid.”
Mak Surti terdiam. Pantas saja dulu
ia amat berat melepas kepergian Salindri. Rupanya akan seperti ini jadinya.
Benar kata orang. Anak gadis jauh
dari rumah kebanyakan jadi Bengal. Sulit diatur. Maunya bebas kelayapan.
Duh, bagaimana kalau misalnya
Salindri jadi korban kejahatan? Seperti yang ada di tivi-tivi itu. Harusnya
anak itu pulang saja. Di rumah tentu lebih aman. Soal nyari duit, itu bisa
usaha apa saja. Dagang kue kecil-kecilan pun jadi.
Mak Surti masih ingat. Salindri
paling suka kue serabi yang dicampur telor.
Dulu, hampir tiap hari mak Surti
membuatkannya. Sekarang pun buntalan yang dibawanya berisi kue tersebut.
Salindri pasti senang dibawakan kue
kegemarannya.
Sedang asik melamun, dari dalam
rumah Salindri tiba-tiba keluar beberapa orang yang menyandang kamera.
Kata pak satpam itu tamu-tamu
Salindri. Wartawan yang habis mewawancarainya.
“Sekarang ibu bisa menemui non
Lindri. Ayo, bu.” Ajak pak satpam.
Dada mak Surti terasa lega. Dengan
tak sabar ia berdiri. Didekapnya buntalan berisi kue serabi telor oleh-oleh
untuk anak bungsunya itu. Sudah tak sabar ia ingin segera melihat. Seperti
apakah Salindri sekarang? Pasti cantik sekali karena sudah jadi artis.
Pak satpam mengantarkan mak Surti hanya
sampai pintu depan.
“Ibu masuk saja. Non Lindri menunggu di dalam.”
Mak Surti mengangguk. Terlebih dulu ia
copot sepasang sandal jepitnya yang sebelah talinya bahkan hampir putus. Lantai
marmer yang dingin ia tapaki dengan perasaan takut. Takut tergelincir, takut
juga kakinya yang dekil akan mengotori.
Bagian dalam rumah Salindri terasa
sejuk. Dindingnya berwarna hijau muda. Banyak poto-poto Salindri tergantung di
sana. Ingin mak Surti menatapnya berlama-lama sebagai pertanda kekangenannya.
Tapi hal itu tidak bisa dilakukannya.
Karena begitu masuk juga, mata mak
Surti langsung melihat sepasang muda-mudi duduk di sofa yang panjang.
Yang satu seorang jejaka perlente
mengenakan kemeja dan jas. Seperti orang kantoran. Sedang yang duduk di sisinya
adalah seorang gadis berambut ikal sebahu. Kulitnya putih bersih. Matanya
bulat. Sepasang anting-anting berbentuk lingkaran menggelantung di kupingnya yang
mungil.
Cantik sekali. Dan mak Surti
langsung mengenalinya.
Itulah
dia !
Salindrinya
yang dia impikan siang malam !
Ingin
rasanya mak Surti menghambur saat itu juga untuk memeluknya. Namun satu kalimat
dari Salindri membuat sepasanng kaki mak Surti serasa dipakukan ke lantai.
“Silahkan
duduk, bu.”
Ibu.
Anak
itu memanggilnya dengan sebutan ibu. Bukan emak seperti kebiasaannya waktu
masih di kampung. Dan Salindri pun tetap duduk di kursinya tanpa berdiri
menyambut kedatangannya.
Ada
sesuatu yang kosong di dalam dada Mak Surti. Semacam rasa kehilangan terhadap
sesuatu yang selama ini menjadi kekuatan jiwanya.
Ia
duduk dengan perasaan mengambang. Didengarnya lagi Salindri berkata kepada
teman jejakanya.
“Kenalkan,
mas. Ini ibu Surti dari kampung. Ibu angkat saya.”
Detik
itu juga, mak Surti merasakan lantai dibawah kakinya seperti bergoyang. Hatinya
terasa retak.
Benar.
Salindri
memang hanya anak angkat. Tapi perlukah hal itu dikatakan mengingat ia sendiri
tidak pernah membeda-bedakan. Bahkan kasih sayangnya kepada Salindri amatlah
berlebihan.
Perlahan
ada rasa hangat menjalar di kelopak mata mak Surti.
Sebuah
kenangan pun melintas. Yaitu waktu Salindri keukeuh ingin mencari kerja di kota.
Mak Surti melarangnya. Dan entah setan mana yang tiba-tiba membuka rahasia itu.
Ada
yang memberitahukan kalau Salindri sebenarnya hanya anak angkat saja. Berita
itu tidak lantas membuat Salindri berterima kasih karena sudah ada yang
mengasuh serta merawatnya. Sebaliknya kemarahan Salindri meledak.
Ia
merasa dibohongi. Mak Surti sudah merenggut dirinya dari keluarganya sendiri. Padahal
berkali-kali mak Surti menjelaskan kalau kedua orang tua Salindri sudah
meninggal waktu Salindri sendiri masih berupa bayi merah.
Salindri
minggat. Menurutnya mak Surti tidak punya hak melarang-larang dirinya. Padahal
mak Surti tidak bermaksud menyembunyikan. Ia hanya akan membuka jati diri
Salindri kalau anak itu sudah cukup dewasa.
“Maap,
ibu ada keperluan apa ya datang kemari?” Suara Salindri memutus lamunan mak
Surti.
Mak
Surti bingung. Perlukah ia katakan,
Emak
hanya kangen ingin ketemu kamu, Lindri. Ini emak bawakan serabi telor
kesukaanmu. Kapan kamu akan pulang?
“Ti..
tidak, Lindri. Emak, eh ibu hanya ingin nengok kamu. Takut kamu kenapa-kenapa.”
Kaku sekali lidah mak Surti saat melapalkan kata ibu itu. Pudar segala gambaran
yang sudah diangan-angankannya .
Bahwa
kalau ketemu Salindri ia akan memeluk sepuasnya.
Akan
menciuminya.
Sekarang
anaknya itu duduk begitu dekat di sisinya. Tapi jangankan memeluk, untuk
menyentuh pun mak Surti tidak memiliki keberanian.
Terasa
ada jarak yang membentang di antara mereka.
“Saya
baik-baik saja, bu. Maap, saya nggak bisa nemuin lama-lama. Habis sibuk, sih.”
“Iya,
kalo kamu sibuk, Ibu lebih baik permisi saja.”
Mak
Surti berdiri dengan perasaan ngenes. Ditujunya pintu dengan hati yang
berkeping. Berusaha untuk tidak menangis. Betapa singkatnya pertemuan yang dia
angan-angankan akan berlangsung penuh kehangatan itu.
Pak
satpam sudah menunggunya di luar.
Beriringan
mereka menuju ke pintu pagar.
Mak
Surti tiba-tiba bergumam seperti bicara kepada dirinya sendiri.
“Anak
itu sekarang sudah berubah. Untuk emaknya ini pun dia sekarang sudah tidak
punya waktu. Mungkin dia malu, ya pak satpam, punya emak miskin seperti ini.”
Pak
satpam melirik. Melihat mata mak Surti yangn berkaca-kaca, tahulah ia apa yang
terjadi.
“Saya
mengerti apa yang ibu rasakan. Tapi seperti apa pun sikap non Lindri, ibu
jangan menangis. Karena satu tetes saja air mata ibu jatuh itu akan
menghancurkan seluruh kebahagiaan non Lindri. Ibu tidak ingin itu terjadi kan? Ibu
harus sabar. Doakan saja agar suatu saat non Lindri bisa menerima ibu apa
adanya.”
Mak
Surti seolah tersadar. Omongan pak satpam seperti air dingin yang mengguyur
kepalanya.
Cepat
mak Surti susut kedua matanya. Lalu ia angsurkan kue serabi telor yang tadinya
akan ia berikan untuk anaknya itu.
“Pak
satpam benar. Bagi seorang ibu melihat anaknya bahagaia saja itu sudah cukup. Kue
ini untuk pak satpam saja. Tadinya buat Salindri. Tapi barangkali anak itu
sekarang sudah tidak suka kue kampung seperti ini.”
Pak
satpam menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa ia menyelipkan
selembar uang dua puluh ribuan ke tangan mak Surti.
“Untuk
nambahin ongkos mobil, bu. Mudah-mudahan cukup.” *** Tamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar