Jumat, 26 Februari 2016

Cerpen mini KORUPSI !



BAHASA KORUPTOR

            “Taff, coba kamu kemari,”
Di sela-sela waktu istirahatnya seorang menteri memanggil salah satu staf khususnya yang bernama Dustaff ke ruang kerjanya. Setelah Dustaff masuk pintu kemudian ditutup supaya tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
            “Ada apa, pak?” Tanya Dustaff begitu di duduk.
            “Kamu masih ingat kan perusahaan ANU yang baru saja memperoleh proyek dari kementrian kita?” Suara pak menteri hampir berbisik.
            “Oh, ingat pak. Perusahaan kontraktor itu. Apa ada masalah?”
            “Bukan. Sama sekali tidak ada masalah. Hanya saja rasanya sejak pengajuan proposalnya kita setujui mereka belum pernah ada lagi menghubungi kita. Padahal saya ingat betul, dulu mereka sampai menyembah-nyembah pada kita agar proyek itu bisa mereka dapatkan.”
            “Mungkin mereka sedang sibuk jadi agak sedikit lupa pada kita. Bosnya kan sering bepergian ke luar negeri. Apa perlu saya panggil, pak?”
            “Jangan. Jangan di panggil kemari Terlalu riskan. Seperti kita tau sekarang ini media sengaja selalu mencari-cari skandal pemerintah supaya koran mereka bisa laku. Tolong, kamu tulis saja memo untuk mereka. Tanyakan bagaimana kabarnya. Apa proyeknya lancar. Tapi ingat jangan sampai ada pihak ketiga yang tau akan hal ini.”
            “Siap, pak.”
            Dustaff, staf khusus yang pandai menterjemahkan keinginan atasannya itu langsung saja bekerja. Ia menyiapkan selembar memo. Ditulisnya beberapa kalimat yang simple dan singkat yang menurutnya akan bisa dipahami oleh bos besar dari perusahaan ANU. Kemudian surat tersebut dikirimkannya.
            Yang menerima adalah sekretaris perusahaan ANU. Ketika dibuka, si Sekretaris yang cantik jelita itu langsung mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti. Sepanjang bekerja di perusahaan ANU baru kali ini dirinya menerima surat yang isinya demikian membingungkan. Inilah isi surat itu :
            Satu tambah satu sama dengan lima
            Lima kali dua hasilnya dua puluh
            Dua puluh dibagi dua, lima puluh-lima puluh
            Delapan dikurangi dua sama dengan dua belas.
            Terima kasih.
            Karena tidak mengerti, si Sekretaris memutuskan untuk mengkonsultasikan surat tersebut kepada bosnya.
            “Ada surat untuk perusahaan kita dari sebuah kementrian. Tapi sepertinya ini hanya kerjaan orang iseng saja, pak, karena isinya sangat kacau. Sepertinya penulisnya tidak punya otak.” Katanya.
            Sang bos membacanya sejenak. Setelah selesai surat itu dilipatnya kembali seraya berkomentar ringan.
            “Dasar sekretaris blo-on. Begini saja nggak ngerti. Ini artinya kita disuruh menggelembungkan dana proyek dan dia minta bagian.”

            Berarti salah satu ciri koruptor adalah dia tidak bisa melakukan penjumlahan, perkalian, dan pengurangan, serta pembagian dengan benar. Maka jangan pekerjakan dia di bank. Baik itu menjadi gubernur di bank Indonesia apalagi bank Century.
            “Kalau jadi wakil Presiden?”Tiba-tiba ada yang nyeletuk.
“Jadi wakil Presiden pun tetap tidak boleh !” Entah siapa yang tiba-tiba berteriak menjawab.
BALADA  BLBI

Di kampung Cicinde semua warga selalu melakukan ronda keliling yang diatur secara bergiliran. Selain tujuannya untuk menjaga keamanan, melalui ronda keliling itu juga warga jadi bisa saling mengenal satu sama lain secara lebih akrab. Sering setelah selesai melakukan kegiatan meronda, urusan bisa disambung dengan acara bisnis kecil-kecilan.
            Malam itu seperti biasa sekitar lima belas orang telah berkumpul di pos ronda. Satu orang berperan sebagai pimpinannya dan sedang membagi area ronda masing-masing grup. Tiap grup biasanya terdiri dari empat atau tiga orang.
            “Kelompok kamu di Rt. 01, kamu 03, kamu 04 dan kamu 02. Kita berkumpul lagi jam setengah empat. Dua orang bertugas menjaga pos. Semua siap?”
            “Siap !” Jawab para peronda bersemangat. 
Dengan berkerudung sarung, mereka lalu berpencar sesuai pembagian wilayah tadi. Kentongan di pukul berkali-kali mengusik keheningan malam. Hal tersebut berpungsi sebagai penanda untuk menegaskan kehadiran mereka sehingga warga merasa aman dan maling pun lari terpontang-panting.
            Waktu mengalir seperti angin. Tahu-tahu sudah hampir jam dua belas. Cicinde kian sepi. Udara terasa dingin dan jangkerik berderik-derik saling bersahutan.
Namun sepi itu tidak berlangsung lama. Karena mendadak dari pinggir kampung tiba-tiba terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu disertai teriakan para peronda membangunkan warga.
Tong!
Tong!
Tong!
“Banguun !”
“Banguuun !”
            Orang-orang yang sudah tidur dan hampir tidur segera berhamburan keluar. Mereka ribut saling bertanya sesamanya dengan wajah kebingungan.
Dari jalan kampung datanglah seorang petugas ronda dengan tergopoh-gopoh. Kepada para warga ia memberitahukan kalau mereka baru saja menangkap seekor Babi mencurigakan dan sekarang Babi itu ada di kelurahan.
            Mendengar kabar tersebut, semua warga kampung segera bergerak menuju ke sana. Gedung kelurahan sebentar saja sudah sesak oleh ratusan penduduk yang bergerombol ingin melihat sang Babi. Tampak Babi itu sedang diikat ke sebuah tiang.
            “Saya curiga ini adalah Babi jadi-jadian alias Babi ngepet. Kampung kita kan jauh dari hutan dan tidak ada seorang pun warga yang memelihara Babi. Apalagi sudah beberapa hari ini banyak orang yang mengaku kehilangan uangnya secara misterius,” Kata pak Lurah yang sudah sepuh.
            “Tapi bagaimana cara membuktikannya kalau ini Babi jadi-jadian atau Babi asli, pak Lurah?” Warga bingung.
            “Panggil semua paranormal kemari,” Perintah pak Lurah.
            Semua Paranormal yang ada di Cicinde pun dikumpulkan. Mereka lantas diperintahkan oleh pak Lurah untuk membongkar kedok sang Babi bagaimana pun caranya.
Satu persatu Paranormal maju dan mengerahkan semua ilmu serta kemampuannya. Ada yang menggunakan jampi-jampi, tenaga dalam, keris pusaka, membakar kemenyan, atau dengan menggunakan bantuan jin peliharaannya.
 Namun hingga paranormal terakhir beraksi, ternyata tak seorang pun ada yang berhasil membuka kedok si Babi. Si Babi tetap menggelosoh di lantai tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh para dukun yang sedang berusaha mempreteli keadaan dirinya.
            Warga dan pak Lurah jadi bingung. Mereka tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa. Untunglah dalam keadaan bingung itu tiba-tiba datang seorang anggota DPR dan seorang pejabat pemerintah.  Mereka kemudian memberikan usulnya.
            “Untuk mengetahui apakah ini Babi asli atau Babi jadi-jadian gampang. Kita kasih saja dia singkong dan uang. Kalau dia memilih singkong berarti ini Babi asli. Tapi kalau dia milih uang, jelas ini Babi ngepet dan harus kita bunuh bersama-sama. Gimana, setuju?” Tanya pejabat pemerintah.
            “Setuju !” Jawab anggota DPR diikuti teriakan semua orang.
             Ke hadapan si Babi kemudian disodorkan sepiring singkong rebus dan selembar uang seratus ribuan. Semua warga melotot hampir tak berkedip dengan janttung berdebar.
Selama beberapa saat si Babi  tampak celingukan antara memilih uang atau singkong.
            Setelah beberapa detik hanya menyegrok-nyegrok saja, si Babi pun akhirnya menentukan pilihan. Pertama dihampirinya singkong rebus itu dan dimakannya hingga ludes. Setelah itu barulah dia menghampiri uangnya, menggigitnya, dan kemudian membawanya kabur !

            BLBI : Babinya Lari Bawa korupsI

BLT RIWAYATMU DULU

            Karena di tahun 2014 ini Presiden Indonesia sudah berganti, maka tidak ada salahnya kalau kita sedikit menengok kenangan masa silam beberapa tahun ke belakang saat muncul mahluk yang bernama BLT dan menjadi rebutan jutaan rakyat Indonesia. Waktu itu, semua rakyat Indonesia mendadak jadi jatuh miskin karena ingin mendapatkan BLT yang pertiga bulannya sebesar tiga ratus ribu rupiah.
            Pertamanya memang gara-gara si BBM.
Akhirnya setelah maju-mundur dan mundur-maju, BBM dinaikan juga. Rakyat miskin kian sengsara. Sebab siapapun juga tahu, kalau harga BBM dinaikan maka segala kebutuhan pokok bahkan yang tidak pokok sekali pun, akan ikut-ikutan naik.
Hal tersebut disadari benar oleh tim penasehat Presiden. Itu sebabnya sebelum BBM dinaikan mereka mengadakan rapat dulu untuk memberikan masukan kepada Presiden.
“Bagaimana pun kenaikan harga BBM ini pasti akan menimbulkan gejolak di kalangan rakyat kecil. Dan situasi tersebut bisa dimanpaatkan oleh partai oposisi untuk menurunkan tingkat kredibelitas Presiden di mata rakyat. Maka kami mengusulkan kepada Presiden, untuk meredam aksi-aksi yang mungkin nanti akan timbul perlu diberi semacam iming-iming yang bernama BLT. Ada pun setelah nanti situasinya terkendali, BLT ini akan kembali kita masukan ke dalam kandangnya.” Kata Dewan penasehat Presiden.
Tanpa berpikir dua kali Presiden langsung menyetujui ide tersebut. Maka BLT pun di sebar kepada seluruh rakyat miskin. Semua orang, yaitu rakyat miskin, rakyat yang tidak miskin, Politikus, tukang suap, anggota dewan, Lsm, koruptor termasuk juga keluarganya, menyambut kedatangan si BLT dengan gegap gempita.
Televisi menyiarkannya. Koran-koran memuat beritanya. Semua tokoh berbicara mengenainya. Si BLT pun menjadi popular.
            Beberapa bulan kemudian Presiden melakukan kunjungan ke sebuah perkampungan miskin untuk meninjau sejauh mana BLT tersebut tepat sasaran. Alangkah terkejutnya Presiden saat mengetahui ternyata BLT-nya sudah dikorupsi oleh bawahannya. Ada yang katanya untuk administrasi, pembangunan jalan desa, untuk dibagi kepada rakyat miskin lain yang tidak kebagian, dan alasan-alasan lainnya yang semuanya serba masuk akal.
            Mengetahui kejadian itu Presiden menangis berurai air mata. Di hadapan para warga miskin itu ia berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut. Mendengar itu maka rakyat miskin pun ikut menangis.
            “Kalian tidak perlu sedih. BLT tahap dua akan segera menyusul,” Hibur Presiden.
            “Kami menangis bukan karena itu, pak,” Kata seorang warga tiba-tiba memberanikan diri.
            “Terus karena apa?”
            Warga menjawab.
            “BLT bapak baru sekali dikorupsi dan bapak menangis. Sementara kami lima tahun jadi rakyat bapak dan setiap hari duit kami dikorupsi. Bagaimana kami tidak menangis?”

            Saya juga menangis. Tapi bukan karena BLT juga bukan karena korupsi. Melainkan kenapa malah bapak lagi yang jadi Presiden saya.


BAHASA KORUPTOR

            “Taff, coba kamu kemari,”
Di sela-sela waktu istirahatnya seorang menteri memanggil salah satu staf khususnya yang bernama Dustaff ke ruang kerjanya. Setelah Dustaff masuk pintu kemudian ditutup supaya tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
            “Ada apa, pak?” Tanya Dustaff begitu di duduk.
            “Kamu masih ingat kan perusahaan ANU yang baru saja memperoleh proyek dari kementrian kita?” Suara pak menteri hampir berbisik.
            “Oh, ingat pak. Perusahaan kontraktor itu. Apa ada masalah?”
            “Bukan. Sama sekali tidak ada masalah. Hanya saja rasanya sejak pengajuan proposalnya kita setujui mereka belum pernah ada lagi menghubungi kita. Padahal saya ingat betul, dulu mereka sampai menyembah-nyembah pada kita agar proyek itu bisa mereka dapatkan.”
            “Mungkin mereka sedang sibuk jadi agak sedikit lupa pada kita. Bosnya kan sering bepergian ke luar negeri. Apa perlu saya panggil, pak?”
            “Jangan. Jangan di panggil kemari Terlalu riskan. Seperti kita tau sekarang ini media sengaja selalu mencari-cari skandal pemerintah supaya koran mereka bisa laku. Tolong, kamu tulis saja memo untuk mereka. Tanyakan bagaimana kabarnya. Apa proyeknya lancar. Tapi ingat jangan sampai ada pihak ketiga yang tau akan hal ini.”
            “Siap, pak.”
            Dustaff, staf khusus yang pandai menterjemahkan keinginan atasannya itu langsung saja bekerja. Ia menyiapkan selembar memo. Ditulisnya beberapa kalimat yang simple dan singkat yang menurutnya akan bisa dipahami oleh bos besar dari perusahaan ANU. Kemudian surat tersebut dikirimkannya.
            Yang menerima adalah sekretaris perusahaan ANU. Ketika dibuka, si Sekretaris yang cantik jelita itu langsung mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti. Sepanjang bekerja di perusahaan ANU baru kali ini dirinya menerima surat yang isinya demikian membingungkan. Inilah isi surat itu :
            Satu tambah satu sama dengan lima
            Lima kali dua hasilnya dua puluh
            Dua puluh dibagi dua, lima puluh-lima puluh
            Delapan dikurangi dua sama dengan dua belas.
            Terima kasih.
            Karena tidak mengerti, si Sekretaris memutuskan untuk mengkonsultasikan surat tersebut kepada bosnya.
            “Ada surat untuk perusahaan kita dari sebuah kementrian. Tapi sepertinya ini hanya kerjaan orang iseng saja, pak, karena isinya sangat kacau. Sepertinya penulisnya tidak punya otak.” Katanya.
            Sang bos membacanya sejenak. Setelah selesai surat itu dilipatnya kembali seraya berkomentar ringan.
            “Dasar sekretaris blo-on. Begini saja nggak ngerti. Ini artinya kita disuruh menggelembungkan dana proyek dan dia minta bagian.”

            Berarti salah satu ciri koruptor adalah dia tidak bisa melakukan penjumlahan, perkalian, dan pengurangan, serta pembagian dengan benar. Maka jangan pekerjakan dia di bank. Baik itu menjadi gubernur di bank Indonesia apalagi bank Century.
            “Kalau jadi wakil Presiden?”Tiba-tiba ada yang nyeletuk.
“Jadi wakil Presiden pun tetap tidak boleh !” Entah siapa yang tiba-tiba berteriak menjawab.
BALADA  BLBI

Di kampung Cicinde semua warga selalu melakukan ronda keliling yang diatur secara bergiliran. Selain tujuannya untuk menjaga keamanan, melalui ronda keliling itu juga warga jadi bisa saling mengenal satu sama lain secara lebih akrab. Sering setelah selesai melakukan kegiatan meronda, urusan bisa disambung dengan acara bisnis kecil-kecilan.
            Malam itu seperti biasa sekitar lima belas orang telah berkumpul di pos ronda. Satu orang berperan sebagai pimpinannya dan sedang membagi area ronda masing-masing grup. Tiap grup biasanya terdiri dari empat atau tiga orang.
            “Kelompok kamu di Rt. 01, kamu 03, kamu 04 dan kamu 02. Kita berkumpul lagi jam setengah empat. Dua orang bertugas menjaga pos. Semua siap?”
            “Siap !” Jawab para peronda bersemangat. 
Dengan berkerudung sarung, mereka lalu berpencar sesuai pembagian wilayah tadi. Kentongan di pukul berkali-kali mengusik keheningan malam. Hal tersebut berpungsi sebagai penanda untuk menegaskan kehadiran mereka sehingga warga merasa aman dan maling pun lari terpontang-panting.
            Waktu mengalir seperti angin. Tahu-tahu sudah hampir jam dua belas. Cicinde kian sepi. Udara terasa dingin dan jangkerik berderik-derik saling bersahutan.
Namun sepi itu tidak berlangsung lama. Karena mendadak dari pinggir kampung tiba-tiba terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu disertai teriakan para peronda membangunkan warga.
Tong!
Tong!
Tong!
“Banguun !”
“Banguuun !”
            Orang-orang yang sudah tidur dan hampir tidur segera berhamburan keluar. Mereka ribut saling bertanya sesamanya dengan wajah kebingungan.
Dari jalan kampung datanglah seorang petugas ronda dengan tergopoh-gopoh. Kepada para warga ia memberitahukan kalau mereka baru saja menangkap seekor Babi mencurigakan dan sekarang Babi itu ada di kelurahan.
            Mendengar kabar tersebut, semua warga kampung segera bergerak menuju ke sana. Gedung kelurahan sebentar saja sudah sesak oleh ratusan penduduk yang bergerombol ingin melihat sang Babi. Tampak Babi itu sedang diikat ke sebuah tiang.
            “Saya curiga ini adalah Babi jadi-jadian alias Babi ngepet. Kampung kita kan jauh dari hutan dan tidak ada seorang pun warga yang memelihara Babi. Apalagi sudah beberapa hari ini banyak orang yang mengaku kehilangan uangnya secara misterius,” Kata pak Lurah yang sudah sepuh.
            “Tapi bagaimana cara membuktikannya kalau ini Babi jadi-jadian atau Babi asli, pak Lurah?” Warga bingung.
            “Panggil semua paranormal kemari,” Perintah pak Lurah.
            Semua Paranormal yang ada di Cicinde pun dikumpulkan. Mereka lantas diperintahkan oleh pak Lurah untuk membongkar kedok sang Babi bagaimana pun caranya.
Satu persatu Paranormal maju dan mengerahkan semua ilmu serta kemampuannya. Ada yang menggunakan jampi-jampi, tenaga dalam, keris pusaka, membakar kemenyan, atau dengan menggunakan bantuan jin peliharaannya.
 Namun hingga paranormal terakhir beraksi, ternyata tak seorang pun ada yang berhasil membuka kedok si Babi. Si Babi tetap menggelosoh di lantai tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh para dukun yang sedang berusaha mempreteli keadaan dirinya.
            Warga dan pak Lurah jadi bingung. Mereka tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa. Untunglah dalam keadaan bingung itu tiba-tiba datang seorang anggota DPR dan seorang pejabat pemerintah.  Mereka kemudian memberikan usulnya.
            “Untuk mengetahui apakah ini Babi asli atau Babi jadi-jadian gampang. Kita kasih saja dia singkong dan uang. Kalau dia memilih singkong berarti ini Babi asli. Tapi kalau dia milih uang, jelas ini Babi ngepet dan harus kita bunuh bersama-sama. Gimana, setuju?” Tanya pejabat pemerintah.
            “Setuju !” Jawab anggota DPR diikuti teriakan semua orang.
             Ke hadapan si Babi kemudian disodorkan sepiring singkong rebus dan selembar uang seratus ribuan. Semua warga melotot hampir tak berkedip dengan janttung berdebar.
Selama beberapa saat si Babi  tampak celingukan antara memilih uang atau singkong.
            Setelah beberapa detik hanya menyegrok-nyegrok saja, si Babi pun akhirnya menentukan pilihan. Pertama dihampirinya singkong rebus itu dan dimakannya hingga ludes. Setelah itu barulah dia menghampiri uangnya, menggigitnya, dan kemudian membawanya kabur !

            BLBI : Babinya Lari Bawa korupsI

BLT RIWAYATMU DULU

            Karena di tahun 2014 ini Presiden Indonesia sudah berganti, maka tidak ada salahnya kalau kita sedikit menengok kenangan masa silam beberapa tahun ke belakang saat muncul mahluk yang bernama BLT dan menjadi rebutan jutaan rakyat Indonesia. Waktu itu, semua rakyat Indonesia mendadak jadi jatuh miskin karena ingin mendapatkan BLT yang pertiga bulannya sebesar tiga ratus ribu rupiah.
            Pertamanya memang gara-gara si BBM.
Akhirnya setelah maju-mundur dan mundur-maju, BBM dinaikan juga. Rakyat miskin kian sengsara. Sebab siapapun juga tahu, kalau harga BBM dinaikan maka segala kebutuhan pokok bahkan yang tidak pokok sekali pun, akan ikut-ikutan naik.
Hal tersebut disadari benar oleh tim penasehat Presiden. Itu sebabnya sebelum BBM dinaikan mereka mengadakan rapat dulu untuk memberikan masukan kepada Presiden.
“Bagaimana pun kenaikan harga BBM ini pasti akan menimbulkan gejolak di kalangan rakyat kecil. Dan situasi tersebut bisa dimanpaatkan oleh partai oposisi untuk menurunkan tingkat kredibelitas Presiden di mata rakyat. Maka kami mengusulkan kepada Presiden, untuk meredam aksi-aksi yang mungkin nanti akan timbul perlu diberi semacam iming-iming yang bernama BLT. Ada pun setelah nanti situasinya terkendali, BLT ini akan kembali kita masukan ke dalam kandangnya.” Kata Dewan penasehat Presiden.
Tanpa berpikir dua kali Presiden langsung menyetujui ide tersebut. Maka BLT pun di sebar kepada seluruh rakyat miskin. Semua orang, yaitu rakyat miskin, rakyat yang tidak miskin, Politikus, tukang suap, anggota dewan, Lsm, koruptor termasuk juga keluarganya, menyambut kedatangan si BLT dengan gegap gempita.
Televisi menyiarkannya. Koran-koran memuat beritanya. Semua tokoh berbicara mengenainya. Si BLT pun menjadi popular.
            Beberapa bulan kemudian Presiden melakukan kunjungan ke sebuah perkampungan miskin untuk meninjau sejauh mana BLT tersebut tepat sasaran. Alangkah terkejutnya Presiden saat mengetahui ternyata BLT-nya sudah dikorupsi oleh bawahannya. Ada yang katanya untuk administrasi, pembangunan jalan desa, untuk dibagi kepada rakyat miskin lain yang tidak kebagian, dan alasan-alasan lainnya yang semuanya serba masuk akal.
            Mengetahui kejadian itu Presiden menangis berurai air mata. Di hadapan para warga miskin itu ia berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut. Mendengar itu maka rakyat miskin pun ikut menangis.
            “Kalian tidak perlu sedih. BLT tahap dua akan segera menyusul,” Hibur Presiden.
            “Kami menangis bukan karena itu, pak,” Kata seorang warga tiba-tiba memberanikan diri.
            “Terus karena apa?”
            Warga menjawab.
            “BLT bapak baru sekali dikorupsi dan bapak menangis. Sementara kami lima tahun jadi rakyat bapak dan setiap hari duit kami dikorupsi. Bagaimana kami tidak menangis?”

            Saya juga menangis. Tapi bukan karena BLT juga bukan karena korupsi. Melainkan kenapa malah bapak lagi yang jadi Presiden saya.

Seluas samudera setinggi bumi langit


            Gerimis rinai turun menyiram bumi. Merangkum debu-debu di jalanan dari cabikan angin yang liar. Tengah hari saat itu. Bel pulang SMU Jatisari sudah sejak tadi lenyap dari pendengaran. Mengalirkan lengang ke setiap sudut kelas.
Wulan murung terkungkung sunyi. Tetes gerimis terasa seperti mengejek. Untuk apa menunggui kelas yang sepi? Lalu angin ikut latah menampar di pipi yang kecoklatan.
Dingin.
            Dengan gerakan pelan Wulan memundurkan kursi rodanya.  
            “Belum pulang, Lan?” Martha, kawan sebangkunya, muncul di belakangnya.
            Wulan hanya menggeleng.
            “Aku akan nemenin kamu. Kita pulang bareng.”
            “Terserah.”
            Hening. Keduanya larut dalam diam. Memandangi gerimis yang memecah di sela-sela rerumputan.
            Bola mata Martha diam-diam menyapu lembut di wajah Wulan. Berharap ada sesuatu yang berbeda. Namun masih tetap sama. Tak ada tanda-tanda akan ada benih semangat dan keceriaan yang bisa tumbuh di sana. Wajah berbentuk bulat telur itu seperti bumi gersang.
Biang keroknya adalah kecelakaan mobil setahun lalu. Kaki Wulan terlindas dan urat-urat syarafnya terputus. Rumah sakit yang menanganinya angkat tangan.
            Wulan seperti menerima vonis mati. Dunianya tiba-tiba gelap. Yang terlihat hanya dirinya sendiri. Layu dan kehilangan gairah hidup. Sekolahnya terbengkalai selama hampir sebulan. Ia tidak mau keluar selalu mengurung diri di kamar. Takdir dirasanya tidak adil.
            Semua kawan sekelas silih berganti menengok dan menyemangatinya. Namun tidak seorang pun berhasil membangkitkannya dari keterpurukan. Hingga semuanya menjadi bosan.
            Martha seorang yang tidak pernah absen menengoknya tiap pulang sekolah. Ada saja oleh-oleh cerita yang dibawakannya. Perhatian dan sipat penyabar yang ditunjukannya menyadarkan Wulan. Kalau orang lain begitu ngotot ingin membantunya tegar kembali, masa yang bersangkutan secuil pun tidak menghargainya? Wulan memutuskan kembali sekolah.
            Wulan merasa Martha adalah kakinya yang kedua tempatnya berpijak dan melangkah.
            Gerimis perlahan reda. Reda pula pikiran tentang Wulan yang bermain di benak Martha. Jemari Martha menempel di sandaran kursi roda Wulan. Lalu mendorongnya menuruni koridor.
            Wulan ingin menolak diperlakukan seperti itu. Namun Martha memaksa dengan alasan takut gerimis turun lagi. Mereka sendiri yang akan repot.
            Wulan terpaksa menurut. Mungkin sudah begini suratan takdirnya. Menjadi gadis invalid = menjadi beban buat orang lain. ***

            Buat Wulan Tersayang ….
            Tulisan itu tergantung di sela-sela tangkai Mawar merah. Ini bunga ketiga yang ditemukan di bangkunya.
Bunga pertama oleh Wulan hanya dianggapnya sebagai lelucon. Bukankah orang cacat sering jadi bahan ejekan? Satu dua memang ada yang berbaik hati memberinya rasa hormat dan perhatian. Tapi itu lebih didorong karena rasa iba.
Menyusul bunga kedua. Wulan masih bersikukuh dengan pemikirannya. Apa menariknya seorang gadis cacat? Tak secuil pun ada sisi yang patut untuk dibanggakan. Orang akan jijik melihat sepasang kaki yang menggelantung seperti sayuran layu.
Tapi ketika bunga yang ketiga masih juga menyambanginya, cara pandang Wulan mulai berubah. Timbul rasa penasaran untuk mengetahui siapa si pengirim misterius itu dan apa tujuannya.
            Ini bukan tentang rasa ge-er. Tak sedikit pun Wulan berpikiran akan ada cowok yang menaksirnya. Merepotkan punya pacar lumpuh. Kemana-mana harus didorong-dorong. Lagi pula rasa cinta itu pasti tidak akan murni sebagai cinta. Melainkan sudah dicampuri perasaan kasian. Si cewek akan dipandangnya sebagai mahluk tak berdaya yang sangat patut untuk diberi sedikit kebahagiaan.
Ini tentang sepotong masa lalu yang tidak ingin dialami lagi. Awalnya adalah ketika dokter memvonis bahwa kedua kakinya mengalami kelumpuhan permanen. Mental Wulan benar-benar rubuh. Yang pertama hancur adalah rasa percaya dirinya. Kemudian menular ke pemikirannya menjadi serba pesimis dan inferior. Semua orang dilihatnya memandang ke dirinya dengan sebelah mata.
Langkah pertama saat itu yang diambil adalah memutuskan Pacarnya, Dion. Dion pasti malu punya pacar lumpuh. Barangkali dalam hati cowoknya itu sudah sangat ingin meninggalkannya. Cuma karena melihat keadaan dirinya yang masih shock, niat itu dipendamnya saja.
            Lagi pula kalau ia yang terlebih dulu mengucapkan kata putus, itu tidak akan terlalu menyakitkan. Dion memang sempat ngambek dan tetap ngotot ingin jadi pacar Wulan. Tapi menurut Wulan itu hanya basa-basi dan sandiwara.
            “Mawar merah?”
Wulan hampir memekik oleh kemunculan Martha yang tiba-tiba.
“Makanya jangan keasyikan ngelamun. Mentang-mentang dapat kiriman dari pengagum rahasia” Goda Martha.
            Wulan cemberut dengan mata mendelik.
            “Aku justeru lagi bingung. Ini bunga ketiga. Tapi aku masih nggak tau siapa yang ngiriminnya.”
            “Sabar aja… pada waktunya nanti bukan hanya bunganya, melainkan sang pangerannya pun akan bersimpuh di hadapanmu dengan membawa sejuta kata cinta.” Martha mengedipkan mata.
            Wulan mencubit pinggangnya gemas.
            Martha senang bercampur sedih. Wulan tak lagi murung. Sudah mau bercanda dan tersenyum. Rasa mindernya mulai berkurang.
Cinta memang kekuatan untuk merubah. Dunia bisa penuh warna karena cinta. Sebuah dunia juga bisa kiamat oleh sebab cinta. Cinta juga melahirkan kekejaman. Contohnya adalah perceraian orang tuanya karena kasus kekerasan dalam rumah tangga. Cinta kepada mamahnyalah yang menyebabkan Martha jadi begitu membenci papahnya. Ketika laki-laki itu akhirnya masuk penjara setelah menganiaya mamahnya, Martha satu-satunya orang yang paling gembira.
Sejak itu ia jadi rajin belajar beladiri. Alasannya supaya bisa melindungi mamahnya. Tak peduli teman-temannya jadi menilainya tomboy karena aktifitasnya tersebut.
“Apa mungkin Dion ya...” Wulan tiba-tiba menggumam memutus lamunan Martha.
“Menurut filingmu?”
“Aku nggak berani me-reka-reka. Malu sama diri sendiri. Soalnya aku yang ninggalin dia. Padahal dulu dia berusaha ngeyakinin aku kalo cintanya tulus bukan karena kasian.”
“Itulah kamu. Terlalu melibatkan emosi. Kamu pikir si Dion itu naksir kamu karena kaki? Nggak kan? Atau mungkin wajah yang cantik? Ah, di sekolah kita ini masih banyak yang jauh lebih cantik. Jadi menurutku, dia mencintai kamu karena sesuatu yang ada dalam jiwa kamu. Orang nyebutnya inner beauty atau kecantikan yang terpancar dari dalam. Dan itulah yang sekarang ini hilang dari diri kamu. Ngerti, non?”
            “Iya deh ngerti. Jadi sekarang aku harus gimana?”
            “Biasa aja. Kita nggak tau orang itu serius atau main-main.” Jawaban Martha praktis.
            Namun dalam prakteknya teori bersikap biasa itu tidaklah gampang. Makin Wulan berusaha cuek, teka-teki tentang si pengirim bunga misterius itu malah makin lengket dalam pikirannya.
Seiring hujan yang siang itu kembali turun, Wulan terus mengoceh hanya tentang hal itu saja. Martha jadi pendengar setianya. Sudah lama ia tidak mendengar celoteh Wulan. Wulan yang sekarang ada di sisinya, laksana orang sakit yang sedang belajar untuk bangun lagi. Membiarkannya mengungkap segala yang dirasanya adalah hal yang paling tepat.
Keduanya berhenti di ujung koridor menunggu hujan reda. Berbeda dengan sebelumnya kali ini Wulan tampak sangat menikmati tiap tetes hujan yang jatuh menimpa rerumputan. Bahkan didengarnya sahabatnya itu menyenandungkan sebuah lagu cinta.
            Martha tersenyum kecil.
            “Tumben…” Ia berujar.
            “Apa?”
            “Nggak… aneh aja denger kamu mau nyanyi lagi. Mirip orang yang baru jatuh cinta.”
            Wulan tersipu.
“Aku nggak tau siapa yang mencintaiku dan kepada siapa aku jatuh cinta. Itu semua nggak jelas. Tetapi bukankah menyenangkan saat kita tahu di luar sana ada yang memperhatikan kita. Meski itu rahasia. Kamu sendiri pernah jatuh cinta. Pasti tau seperti apa rasanya”
Martha memegang pundak Wulan lembut dan berkata dengan nada pelan.
            “Aku nggak seberuntung kamu, Lan. Sampai detik ini aku nggak tau seperti apa rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai. Bagiku cinta itu sakit dan menakutkan.”
            Tubuh Wulan seperti melarut ke dalam kursi yang didudukinya. Selama beberapa detik kalimat yang diucapkan Martha masih mengiang di telinganya.
            “Kenapa ngomong begitu, Mar? Apa kamu pernah disakitin cowok?”
            “Nggak.”
            “Terus?”
            “Maksudku begini. Tidak masalah kalau kita nggak bisa jalan, nggak bisa ngeliat, atau kita bisu dan tuli. Selama kita masih bisa mencintai dan dicintai maka berbahagialah. Nggak perlu ngerasa sebagai orang yang paling menderita”.
            “Hubungannya sama kamu?”
            “Nggak ada. Udah ah, jangan dibahas lagi. Lebih baik kita cepet pulang. Sepertinya mau gerimis lagi tuh.”
            “Ada sesuatu yang kamu sembunyiin. Aku yakin itu. Kalo kamu nggak mau cerita, biar aku pulang sendiri aja. Kamu duluan,” Wulan menghentikan laju kursi rodanya
            Martha tak peduli. Kursi roda wulan didorongnya.
            Wulan menahannya. Hampir ia terjatuh kalau tangannya tidak keburu meraih tas Martha. Karena digelantungi isi tas Martha berhamburan ke lantai.
            Wulan berusaha memungutinya. Buku-buku, alat tulis, hape, hingga benda terakhir yang menggeletak di lantai seketika membuat sekujur tubuhnya terasa merinding.
            Sekuntum Mawar merah !
            Dan ada tulisan di sela-sela tangkainya.
            Buat Wulan tersayang
            Tangan Wulan gemetar memegang bunga itu. Kepalanya mendongak.
            Martha sedang melihat ke arahnya dengan mulut setengah terbuka.
            “Ini… ini … apa artinya, Mar?” Suara Wulan terbata.
            Martha tak bisa menjawab.
            Sebuah kesadaran terangkai dalam pikiran Wulan.
            “Aku ngerti…. Jadi ini semua perbuatanmu. Kamu sengaja melakukan ini supaya aku bisa ceria lagi. Bisa gembira lagi. Bisa semangat lagi seperti dulu bukan? Tapi semangat seperti apa yang kamu inginkan?” Sekarang suara Wulan mulai meninggi.
            “Apa kamu mau membuatku gede rasa. Liat, orang cacat pun ada yang naksir. Begitu? Aku malu. Selama ini aku ternyata hanya bermain dengan bayang-bayangku sendiri. Tega sekali kamu melakukan ini, Mar. Padahal tanpa ini semua pun aku sedang berusaha untuk bangkit. Aku malu jadi beban orang lain terus-terusan. Harusnya kamu mendukungku. Bukan malah merendahkan seperti ini…!” Wulan terisak. Pundaknya berguncang menahan tangis.           
“Ma…mapkan aku, Lan…” Suara Martha terbata. Perasaan bersalah dan sedih yang campur aduk, menghadapkannya kepada satu kenyataan yang selama ini rapi ia sembunyikan. Haruskah ia jujur?
Kalau diam saja, maka selamanya Wulan akan terjebak pada sikap salah paham. Tapi kalau diceriakan yang sebenarnya, Martha sadar dirinya akan jatuh dalam kehinaan lalu dikucilkan semua orang.
Namun bukankah cinta sejati menuntut setiap orang untuk jujur dan terbuka kepada yang dicintanya walau itu menyakitkan?
Martha memutuskan untuk jujur. Dan kejujuran itu ia ceritakan dengan sebagian sukma seolah sudah keluar dari raganya.
“Aku yang salah, Lan. Seharusnya nggak perlu mengirimimu Mawar. Seharusnya aku nggak perlu mencurahkan isi hati tentang cinta. Tapi siapa yang sanggup membendung cinta manakala ia telah menguasai akal dan hati? Kamu setuju itu kan?.”  
“Aku nggak tahu kenapa Tuhan menjadikanku seperti ini, Lan. Cinta yang buat orang lain terasa indah, namun bagiku amat menakutkan. Aku nggak pernah tau gimana rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai. Karena aku… aku… hanya seorang lesbian…”
Suara Martha pelan namun di telinga Wulan terdengar seperti ledakan petir. Wulan tersurut mundur dengan mulut ternganga dan mata membelalak.
Martha tertunduk. Runtuh sudah pertahanannya agar dirinya tidak menangis.
“Kamu pasti jijik berdekatan denganku sekarang, Lan. Maapkan aku, Lan… sudah mencintaimu…”
Wulan benar-benar shock. Tidak. Ini semua pasti mimpi buruk. Dan yang harus dilakukannya adalah segera meninggalkan tempat ini. Untuk pertama kalinya Wulan merasa begitu takut kepada sosok tomboy yang ada di hadapannya.
Wulan memacu kursi rodanya tak perduli hujan masih deras. Disebaranginya jalan raya di depan gerbang sekolahannya. Tak menyadari sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju kearahnya.
Bunyi decit rem melengking tinggi. Setinggi jeritan Wulan. Ia terpental bersama kursi rodanya ke tepi jalan. Lalu pandangannya gelap. ***

Gerimis rinai turun menyiram bumi. Merangkum debu-debu di jalanan dari cabikan angin yang liar. Tengah hari saat itu. Bel pulang SMU Jatisari sudah sejak tadi lenyap dari pendengaran. Mengalirkan lengang ke setiap sudut kelas.
Wulan murung terkungkung sunyi. Tetes gerimis terasa seperti mengejek. Untuk apa menunggui kelas yang sepi? Lalu angin ikut latah menampar di pipi yang kecoklatan.  Dingin.
Dengan gerakan pelan Wulan memundurkan kursi rodanya. Tak ada yang berdiri di sisinya seperti setahun lalu. Juga ketika cuaca seperti ini. Sahabatnya itu telah pergi untuk selamanya. Martha memilih membiarkan dirinya yang tertabrak asalkan bisa menyelamatkan Wulan. *** Tamat. Cicinde, Februari, 2016.