Gerimis rinai turun menyiram bumi. Merangkum debu-debu di jalanan dari cabikan angin yang liar. Tengah hari saat itu. Bel pulang SMU Jatisari sudah sejak tadi lenyap dari pendengaran. Mengalirkan lengang ke setiap sudut kelas.
Wulan
murung terkungkung sunyi. Tetes gerimis terasa seperti mengejek. Untuk apa
menunggui kelas yang sepi? Lalu angin ikut latah menampar di pipi yang
kecoklatan.
Dingin.
Dengan gerakan pelan Wulan
memundurkan kursi rodanya.
“Belum pulang, Lan?” Martha, kawan
sebangkunya, muncul di belakangnya.
Wulan hanya menggeleng.
“Aku akan nemenin kamu. Kita pulang
bareng.”
“Terserah.”
Hening. Keduanya larut dalam diam.
Memandangi gerimis yang memecah di sela-sela rerumputan.
Bola mata Martha diam-diam menyapu
lembut di wajah Wulan. Berharap ada sesuatu yang berbeda. Namun masih tetap
sama. Tak ada tanda-tanda akan ada benih semangat dan keceriaan yang bisa tumbuh
di sana. Wajah berbentuk bulat telur itu seperti bumi gersang.
Biang
keroknya adalah kecelakaan mobil setahun lalu. Kaki Wulan terlindas dan
urat-urat syarafnya terputus. Rumah sakit yang menanganinya angkat tangan.
Wulan seperti menerima vonis mati. Dunianya
tiba-tiba gelap. Yang terlihat hanya dirinya sendiri. Layu dan kehilangan
gairah hidup. Sekolahnya terbengkalai selama hampir sebulan. Ia tidak mau
keluar selalu mengurung diri di kamar. Takdir dirasanya tidak adil.
Semua kawan sekelas silih berganti
menengok dan menyemangatinya. Namun tidak seorang pun berhasil membangkitkannya
dari keterpurukan. Hingga semuanya menjadi bosan.
Martha seorang yang tidak pernah
absen menengoknya tiap pulang sekolah. Ada saja oleh-oleh cerita yang
dibawakannya. Perhatian dan sipat penyabar yang ditunjukannya menyadarkan
Wulan. Kalau orang lain begitu ngotot ingin membantunya tegar kembali, masa
yang bersangkutan secuil pun tidak menghargainya? Wulan memutuskan kembali
sekolah.
Wulan merasa Martha adalah kakinya
yang kedua tempatnya berpijak dan melangkah.
Gerimis perlahan reda. Reda pula pikiran
tentang Wulan yang bermain di benak Martha. Jemari Martha menempel di sandaran
kursi roda Wulan. Lalu mendorongnya menuruni koridor.
Wulan ingin menolak diperlakukan
seperti itu. Namun Martha memaksa dengan alasan takut gerimis turun lagi.
Mereka sendiri yang akan repot.
Wulan terpaksa menurut. Mungkin
sudah begini suratan takdirnya. Menjadi gadis invalid = menjadi beban buat
orang lain. ***
Buat
Wulan Tersayang ….
Tulisan
itu tergantung di sela-sela tangkai Mawar merah. Ini bunga ketiga yang
ditemukan di bangkunya.
Bunga
pertama oleh Wulan hanya dianggapnya sebagai lelucon. Bukankah orang cacat
sering jadi bahan ejekan? Satu dua memang ada yang berbaik hati memberinya rasa
hormat dan perhatian. Tapi itu lebih didorong karena rasa iba.
Menyusul
bunga kedua. Wulan masih bersikukuh dengan pemikirannya. Apa menariknya seorang
gadis cacat? Tak secuil pun ada sisi yang patut untuk dibanggakan. Orang akan
jijik melihat sepasang kaki yang menggelantung seperti sayuran layu.
Tapi
ketika bunga yang ketiga masih juga menyambanginya, cara pandang Wulan mulai
berubah. Timbul rasa penasaran untuk mengetahui siapa si pengirim misterius itu
dan apa tujuannya.
Ini bukan tentang rasa ge-er. Tak
sedikit pun Wulan berpikiran akan ada cowok yang menaksirnya. Merepotkan punya
pacar lumpuh. Kemana-mana harus didorong-dorong. Lagi pula rasa cinta itu pasti
tidak akan murni sebagai cinta. Melainkan sudah dicampuri perasaan kasian. Si
cewek akan dipandangnya sebagai mahluk tak berdaya yang sangat patut untuk
diberi sedikit kebahagiaan.
Ini
tentang sepotong masa lalu yang tidak ingin dialami lagi. Awalnya adalah ketika
dokter memvonis bahwa kedua kakinya mengalami kelumpuhan permanen. Mental Wulan
benar-benar rubuh. Yang pertama hancur adalah rasa percaya dirinya. Kemudian
menular ke pemikirannya menjadi serba pesimis dan inferior. Semua orang
dilihatnya memandang ke dirinya dengan sebelah mata.
Langkah
pertama saat itu yang diambil adalah memutuskan Pacarnya, Dion. Dion pasti malu
punya pacar lumpuh. Barangkali dalam hati cowoknya itu sudah sangat ingin
meninggalkannya. Cuma karena melihat keadaan dirinya yang masih shock, niat itu
dipendamnya saja.
Lagi pula kalau ia yang terlebih
dulu mengucapkan kata putus, itu tidak akan terlalu menyakitkan. Dion memang
sempat ngambek dan tetap ngotot ingin jadi pacar Wulan. Tapi menurut Wulan itu
hanya basa-basi dan sandiwara.
“Mawar merah?”
Wulan
hampir memekik oleh kemunculan Martha yang tiba-tiba.
“Makanya
jangan keasyikan ngelamun. Mentang-mentang dapat kiriman dari pengagum rahasia”
Goda Martha.
Wulan cemberut dengan mata mendelik.
“Aku justeru lagi bingung. Ini bunga
ketiga. Tapi aku masih nggak tau siapa yang ngiriminnya.”
“Sabar aja… pada waktunya nanti
bukan hanya bunganya, melainkan sang pangerannya pun akan bersimpuh di
hadapanmu dengan membawa sejuta kata cinta.” Martha mengedipkan mata.
Wulan mencubit pinggangnya gemas.
Martha senang bercampur sedih. Wulan
tak lagi murung. Sudah mau bercanda dan tersenyum. Rasa mindernya mulai
berkurang.
Cinta
memang kekuatan untuk merubah. Dunia bisa penuh warna karena cinta. Sebuah
dunia juga bisa kiamat oleh sebab cinta. Cinta juga melahirkan kekejaman.
Contohnya adalah perceraian orang tuanya karena kasus kekerasan dalam rumah
tangga. Cinta kepada mamahnyalah yang menyebabkan Martha jadi begitu membenci
papahnya. Ketika laki-laki itu akhirnya masuk penjara setelah menganiaya
mamahnya, Martha satu-satunya orang yang paling gembira.
Sejak
itu ia jadi rajin belajar beladiri. Alasannya supaya bisa melindungi mamahnya.
Tak peduli teman-temannya jadi menilainya tomboy karena aktifitasnya tersebut.
“Apa
mungkin Dion ya...” Wulan tiba-tiba menggumam memutus lamunan Martha.
“Menurut
filingmu?”
“Aku
nggak berani me-reka-reka. Malu sama diri sendiri. Soalnya aku yang ninggalin
dia. Padahal dulu dia berusaha ngeyakinin aku kalo cintanya tulus bukan karena
kasian.”
“Itulah
kamu. Terlalu melibatkan emosi. Kamu pikir si Dion itu naksir kamu karena kaki?
Nggak kan? Atau mungkin wajah yang cantik? Ah, di sekolah kita ini masih banyak
yang jauh lebih cantik. Jadi menurutku, dia mencintai kamu karena sesuatu yang
ada dalam jiwa kamu. Orang nyebutnya inner beauty atau kecantikan yang terpancar
dari dalam. Dan itulah yang sekarang ini hilang dari diri kamu. Ngerti, non?”
“Iya deh ngerti. Jadi sekarang aku
harus gimana?”
“Biasa aja. Kita nggak tau orang itu
serius atau main-main.” Jawaban Martha praktis.
Namun dalam prakteknya teori bersikap
biasa itu tidaklah gampang. Makin Wulan berusaha cuek, teka-teki tentang si
pengirim bunga misterius itu malah makin lengket dalam pikirannya.
Seiring
hujan yang siang itu kembali turun, Wulan terus mengoceh hanya tentang hal itu
saja. Martha jadi pendengar setianya. Sudah lama ia tidak mendengar celoteh
Wulan. Wulan yang sekarang ada di sisinya, laksana orang sakit yang sedang
belajar untuk bangun lagi. Membiarkannya mengungkap segala yang dirasanya
adalah hal yang paling tepat.
Keduanya
berhenti di ujung koridor menunggu hujan reda. Berbeda dengan sebelumnya kali
ini Wulan tampak sangat menikmati tiap tetes hujan yang jatuh menimpa
rerumputan. Bahkan didengarnya sahabatnya itu menyenandungkan sebuah lagu cinta.
Martha tersenyum kecil.
“Tumben…” Ia berujar.
“Apa?”
“Nggak… aneh aja denger kamu mau
nyanyi lagi. Mirip orang yang baru jatuh cinta.”
Wulan tersipu.
“Aku
nggak tau siapa yang mencintaiku dan kepada siapa aku jatuh cinta. Itu semua
nggak jelas. Tetapi bukankah menyenangkan saat kita tahu di luar sana ada yang
memperhatikan kita. Meski itu rahasia. Kamu sendiri pernah jatuh cinta. Pasti
tau seperti apa rasanya”
Martha
memegang pundak Wulan lembut dan berkata dengan nada pelan.
“Aku nggak seberuntung kamu, Lan.
Sampai detik ini aku nggak tau seperti apa rasanya dicintai oleh orang yang
kita cintai. Bagiku cinta itu sakit dan menakutkan.”
Tubuh Wulan seperti melarut ke dalam
kursi yang didudukinya. Selama beberapa detik kalimat yang diucapkan Martha
masih mengiang di telinganya.
“Kenapa ngomong begitu, Mar? Apa
kamu pernah disakitin cowok?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Maksudku begini. Tidak masalah
kalau kita nggak bisa jalan, nggak bisa ngeliat, atau kita bisu dan tuli.
Selama kita masih bisa mencintai dan dicintai maka berbahagialah. Nggak perlu
ngerasa sebagai orang yang paling menderita”.
“Hubungannya sama kamu?”
“Nggak ada. Udah ah, jangan dibahas
lagi. Lebih baik kita cepet pulang. Sepertinya mau gerimis lagi tuh.”
“Ada sesuatu yang kamu sembunyiin.
Aku yakin itu. Kalo kamu nggak mau cerita, biar aku pulang sendiri aja. Kamu
duluan,” Wulan menghentikan laju kursi rodanya
Martha tak peduli. Kursi roda wulan
didorongnya.
Wulan menahannya. Hampir ia terjatuh
kalau tangannya tidak keburu meraih tas Martha. Karena digelantungi isi tas Martha
berhamburan ke lantai.
Wulan berusaha memungutinya.
Buku-buku, alat tulis, hape, hingga benda terakhir yang menggeletak di lantai
seketika membuat sekujur tubuhnya terasa merinding.
Sekuntum Mawar merah !
Dan ada tulisan di sela-sela
tangkainya.
Buat
Wulan tersayang
Tangan Wulan gemetar memegang bunga
itu. Kepalanya mendongak.
Martha sedang melihat ke arahnya
dengan mulut setengah terbuka.
“Ini… ini … apa artinya, Mar?” Suara
Wulan terbata.
Martha tak bisa menjawab.
Sebuah kesadaran terangkai dalam
pikiran Wulan.
“Aku ngerti…. Jadi ini semua
perbuatanmu. Kamu sengaja melakukan ini supaya aku bisa ceria lagi. Bisa
gembira lagi. Bisa semangat lagi seperti dulu bukan? Tapi semangat seperti apa
yang kamu inginkan?” Sekarang suara Wulan mulai meninggi.
“Apa kamu mau membuatku gede rasa.
Liat, orang cacat pun ada yang naksir. Begitu? Aku malu. Selama ini aku
ternyata hanya bermain dengan bayang-bayangku sendiri. Tega sekali kamu
melakukan ini, Mar. Padahal tanpa ini semua pun aku sedang berusaha untuk
bangkit. Aku malu jadi beban orang lain terus-terusan. Harusnya kamu mendukungku.
Bukan malah merendahkan seperti ini…!” Wulan terisak. Pundaknya berguncang
menahan tangis.
“Ma…mapkan
aku, Lan…” Suara Martha terbata. Perasaan bersalah dan sedih yang campur aduk, menghadapkannya
kepada satu kenyataan yang selama ini rapi ia sembunyikan. Haruskah ia jujur?
Kalau
diam saja, maka selamanya Wulan akan terjebak pada sikap salah paham. Tapi
kalau diceriakan yang sebenarnya, Martha sadar dirinya akan jatuh dalam
kehinaan lalu dikucilkan semua orang.
Namun
bukankah cinta sejati menuntut setiap orang untuk jujur dan terbuka kepada yang
dicintanya walau itu menyakitkan?
Martha
memutuskan untuk jujur. Dan kejujuran itu ia ceritakan dengan sebagian sukma
seolah sudah keluar dari raganya.
“Aku
yang salah, Lan. Seharusnya nggak perlu mengirimimu Mawar. Seharusnya aku nggak
perlu mencurahkan isi hati tentang cinta. Tapi siapa yang sanggup membendung
cinta manakala ia telah menguasai akal dan hati? Kamu setuju itu kan?.”
“Aku
nggak tahu kenapa Tuhan menjadikanku seperti ini, Lan. Cinta yang buat orang
lain terasa indah, namun bagiku amat menakutkan. Aku nggak pernah tau gimana
rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai. Karena aku… aku… hanya seorang
lesbian…”
Suara
Martha pelan namun di telinga Wulan terdengar seperti ledakan petir. Wulan
tersurut mundur dengan mulut ternganga dan mata membelalak.
Martha
tertunduk. Runtuh sudah pertahanannya agar dirinya tidak menangis.
“Kamu
pasti jijik berdekatan denganku sekarang, Lan. Maapkan aku, Lan… sudah
mencintaimu…”
Wulan
benar-benar shock. Tidak. Ini semua pasti mimpi buruk. Dan yang harus
dilakukannya adalah segera meninggalkan tempat ini. Untuk pertama kalinya Wulan
merasa begitu takut kepada sosok tomboy yang ada di hadapannya.
Wulan
memacu kursi rodanya tak perduli hujan masih deras. Disebaranginya jalan raya
di depan gerbang sekolahannya. Tak menyadari sebuah mobil berkecepatan tinggi
melaju kearahnya.
Bunyi
decit rem melengking tinggi. Setinggi jeritan Wulan. Ia terpental bersama kursi
rodanya ke tepi jalan. Lalu pandangannya gelap. ***
Gerimis
rinai turun menyiram bumi. Merangkum debu-debu di jalanan dari cabikan angin
yang liar. Tengah hari saat itu. Bel pulang SMU Jatisari sudah sejak tadi
lenyap dari pendengaran. Mengalirkan lengang ke setiap sudut kelas.
Wulan
murung terkungkung sunyi. Tetes gerimis terasa seperti mengejek. Untuk apa
menunggui kelas yang sepi? Lalu angin ikut latah menampar di pipi yang
kecoklatan. Dingin.
Dengan
gerakan pelan Wulan memundurkan kursi rodanya. Tak ada yang berdiri di sisinya
seperti setahun lalu. Juga ketika cuaca seperti ini. Sahabatnya itu telah pergi
untuk selamanya. Martha memilih membiarkan dirinya yang tertabrak asalkan bisa
menyelamatkan Wulan. *** Tamat. Cicinde, Februari, 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar