Sabtu, 07 Mei 2016

Pojok fiksi



KARDUN MAKRIFAT
             
             Kardun berdoa kepada Tuhannya.
“Tuhan, berikanlah keselamatan kepada negeri tercinta indonesia ini. Selamatkanlah dari kedholiman orang-orang yang dholim. Sesungguhnya engkau adalah yang maha perkasa.”
            Dan Tuhan menjawab doa si Kardun.
            “Aku tidak akan mengabulkan doamu. Bahkan hingga langit ini aku runtuhkan.”
            “Kenapa, Tuhan?” Kardun terkejut.
          “Engkau berdoa kepada-Ku. Meminta Aku mengabulkan permintaan kalian. Tapi yang memimpin engkau seorang fasik tukang menjual arak. Engkau mengikuti dia dan duduk bersamanya dalam majlis-Ku yang suci. Engkau sama saja memuji dan sekaligus meludahi-Ku. “
          Kardun terdiam sesaat.
         “Tapi bukan seperti itu maksudku, Tuhan. Bukankah dalam hadist Qudsi engkau berfirman bahwa segala sesuatu itu engkau ciptakan berasal dari Nur Muhammad?”
          “Benar.”
         “Dan engkau pun berfirman, maka setelah sempurna kejadiannya, aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya.”
          “Benar.”
      “Demikianlah Tuhan. Aku duduk di hadapan Ruh-Mu dan Nur Nabi-Mu, Muhammad rasululllah, bukan di hadapan mahluk-mahluk-Mu. Ada pun kami ini semuanya adalah ciptaan-Mu yang penuh segala macam dosa. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang maha mengetahui.” ***.
         
           Ini adalah kisah nyata yang saya kemas dalam balutan fiksi. Sebuah hajatan nasioal yang bertajuk Nusantara Mengaji yang digagas oleh sebuah partai Islam. Awalnya karena ada seorang kyai yang bermimpi bahwa Indonesia ini sedang berada di jurang kehancuran. Maka untuk menyelamatkannya bangsa Indonesia pada malam tersebut, 7 mei 2016, harus bersama-sama mengaji al Qur’an. Caranya, setiap kecamatan di bagi per- Juz. Kebetulan kampung saya kebagian Juz 15.
Tidak begitu penting sebenarnya. Tetapi menjadi penting ketika hal tersebut terjadi di dalam sebuah negeri bernama Indonesia, di sebuah kampung yang semuanya serba logis, realistis, dan materialistis.
Dan seperti inilah kontradiktif yang terjadi di dalamnya.
Sah-sah saja seandainya ada seorang pedagang arak yang banyak duit, menjadi pemimpin cabang sebuah partai Islam, lalu dia berdoa kepada Tuhannya meminta supaya umat Islam Indonesia ini di selamatkan. Sementara hampir setiap hari saya saksikan, anak-anak Smp yang masih mengenakan seragam di jam istirahat berbelanja arak di tokonya.
           Saya jadi bingung. Negeri seperti ini sebenarnya lebih pantas diberkahi atau dihancuri?.
            Ah, gitu aja koq repot…!