KARDUN
MAKRIFAT
Kardun berdoa kepada Tuhannya.
“Tuhan, berikanlah keselamatan kepada
negeri tercinta indonesia ini. Selamatkanlah dari kedholiman orang-orang yang
dholim. Sesungguhnya engkau adalah yang maha perkasa.”
Dan
Tuhan menjawab doa si Kardun.
“Aku
tidak akan mengabulkan doamu. Bahkan hingga langit ini aku runtuhkan.”
“Kenapa,
Tuhan?” Kardun terkejut.
“Engkau
berdoa kepada-Ku. Meminta Aku mengabulkan permintaan kalian. Tapi yang memimpin
engkau seorang fasik tukang menjual arak. Engkau mengikuti dia dan duduk
bersamanya dalam majlis-Ku yang suci. Engkau sama saja memuji dan sekaligus
meludahi-Ku. “
Kardun
terdiam sesaat.
“Tapi
bukan seperti itu maksudku, Tuhan. Bukankah dalam hadist Qudsi engkau berfirman
bahwa segala sesuatu itu engkau ciptakan berasal dari Nur Muhammad?”
“Benar.”
“Dan
engkau pun berfirman, maka setelah sempurna kejadiannya, aku tiupkan ruh-Ku ke
dalamnya.”
“Benar.”
“Demikianlah
Tuhan. Aku duduk di hadapan Ruh-Mu dan Nur Nabi-Mu, Muhammad rasululllah, bukan
di hadapan mahluk-mahluk-Mu. Ada pun kami ini semuanya adalah ciptaan-Mu yang
penuh segala macam dosa. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang maha mengetahui.”
***.
Ini adalah kisah nyata yang saya
kemas dalam balutan fiksi. Sebuah hajatan nasioal yang bertajuk Nusantara
Mengaji yang digagas oleh sebuah partai Islam. Awalnya karena ada seorang kyai
yang bermimpi bahwa Indonesia ini sedang berada di jurang kehancuran. Maka
untuk menyelamatkannya bangsa Indonesia pada malam tersebut, 7 mei 2016, harus
bersama-sama mengaji al Qur’an. Caranya, setiap kecamatan di bagi per- Juz.
Kebetulan kampung saya kebagian Juz 15.
Tidak
begitu penting sebenarnya. Tetapi menjadi penting ketika hal tersebut terjadi
di dalam sebuah negeri bernama Indonesia, di sebuah kampung yang semuanya serba
logis, realistis, dan materialistis.
Dan
seperti inilah kontradiktif yang terjadi di dalamnya.
Sah-sah
saja seandainya ada seorang pedagang arak yang banyak duit, menjadi pemimpin cabang
sebuah partai Islam, lalu dia berdoa kepada Tuhannya meminta supaya umat Islam
Indonesia ini di selamatkan. Sementara hampir setiap hari saya saksikan,
anak-anak Smp yang masih mengenakan seragam di jam istirahat berbelanja arak di
tokonya.
Saya jadi bingung. Negeri seperti
ini sebenarnya lebih pantas diberkahi atau dihancuri?.
Ah, gitu aja koq repot…!