Retno
sengaja duduk di bangku pojok paling belakang. Cahaya lampu di situ agak
remang. Sebagian wajahnya ia tutupi dengan kain selendang warna ungu bermotif
kembang-kembang di sudutnya.
Tiap
kali ada yang naik ke dalam bis, mata Retno akan mengintip. Jantungnya
berdebar-debar. Takut kalau-kalau orang itu adalah suruhan ayahnya yang akan
membawanya kembali ke rumah. Kalau yang masuk ternyata penumpang biasa seperti
dirinya, Retno akan menghembuskan napas lega.
"Mas, aku takut," Suara
yang keluar dari bibirnya mirip bisikan.
"Tenang aja. Semua pasti
beres," Dimas yang duduk di sisinya menenangkan. Padahal jantungnya
sendiri dari tadi menabuh irama kegelisahan yang sama. Omongan bapaknya
Retnolah yang menjadi sumber keriuhan dalam pikirannnya.
"Bukan kami tidak menghargai
niat baikmu, anak muda. Tetapi kedatangan sampeyan ini wis telat. Putri kami,
si Retno saat ini sudah punya calon suami. Sebentar lagi mau dilamar. Tak
mungkin toh kami menerima pinanganmu ini? Jadi lebih baik kamu cari saja
perempuan lain."
Tetapi
kata Retno itu hanyalah muslihat ayahnya untuk menolak lamaran Dimas. Yang
sebenarnya keluarganya amat tidak setuju mereka punya menantu orang Sunda.
Mereka inginnya yang satu persukuan.
Alasan
keduanya amat irrasional karena didasarkan kepada mitos turun-temurun. Katanya
tabu orang Jawa menikah dengan orang Sunda. Itu seperti melanggar sebuah
pantrangan yang efeknya akan tidak baik bagi kehidupan berumah tangga. Seperti
Adik yang menikahi kakaknya, dengan pihak Jawa yang berperan sebagai kakak.
Tetapi
Dimas yang dibesarkan oleh didikan perguruan tinggi yang penuh idealisme mengerti
benar kalau tabu dan segala macam alasan lainnya, hanyalah argumentasi yang dicari-cari untuk
menghindarkan diri dari napsu anak-anak muda jaman sekarang yang segalanya
selalu menuntut persesuaian dengan akal.
Para orang tua itu lupa bahwa rahim
cinta bukan hanya berisi benih-benih kasih sayang, tapi bisa juga prahara.
Dan dalam pikiran Dimas yang namanya prahara cinta
akibat penolakan orang tuanya Retno itu wujudnya mula-mula hanya satu titik
kecil. Tetapi bersamaan dengan munculnya perasaan takut akan kehilangan orang
yang dicintai, noktah serupa titik itu kian lama kian membesar.
Seperti
Benalu yang menyerap saripati dari pohon yang ditumpanginya, akal sehat yang
ada dalam pikiran Dimas pun di telannya. Lalu lahirlah tindakan yang tanpa
didasari oleh akal budi.
Maka pada suatu malam, si gadis
Jogja itu 'diculiknya' tanpa ada perlawanan sedikit pun dari korbannya. Harapan
mereka hanya satu. Mungkin kalau melihat 'keukeuhnya' niatan mereka untuk
menjalin suatu hubungan pernikahan, keluarga besar Retno akan luluh. Lalu restu
pun mereka dapatkan.
Tinggal sekarang yang jadi
pertanyaan adalah soal keluarganya. Akankah mereka mendukung tindakannya ini?
***
"Kakek
setuju, Dimas."
Cicalengka di pinggiran kota Bandung
setiap hari selalu hawanya sejuk. Tetapi sore itu hanya ketegangan yang Dimas
rasakan.
Duduk
membentuk lingkaran di ruang tamu yang luas pertama adalah Dimas sendiri. Retno
untuk sementara tidak diperbolehkan keluar dari dalam kamarnya setelah tadi
kedatangannya membuat gaduh seisi rumah. Lalu ayah dan ibu di sofa yang panjang.
Dan yang terakhir adalah kakeknya. Raden
Wijaya Supena. Sosok yang paling berpengaruh dalam dinasti keluarga mereka.
Konon Kakeknya itu masih merupakan
keturunan dari Hyang Bunisora Suradipati. Patih dari kerajaan Sunda pada jaman
ratusan tahun lalu. Dan seakan menjadi sebuah keharusan, setiap anggota
keluarga harus mengerti betul sejarah leluhur pada jaman tersebut. Terutama
satu sisi kelam yang sering disebut oleh kakeknya dengan nama Tragedi Bubat.
"Maksud kakek dengan setuju itu
bagaimana? Apa kakek setuju hubungan Dimas sama Retno?" Dimas menatap mata
jernih kakeknya yang terkurung bulatan kacamata. Secercah harapan membersit.
"Kamu jangan salah paham,
Dimas. Maksud kakek setuju itu adalah setuju dengan keputusan bapaknya si Retno.
Sebaiknya orang Sunda memang jangan menikah dengan orang Jawa."
Dimas terkesiap. Sekejap cercah
harapan itu berubah gulita.
"Tapi.... mengapa,
kek...?" Ia lalu merasa tolol dengan pertanyaannya sendiri karena
jawabannya muncul dengan sendirinya. Ia tinggal mendengarkan saja.
"Dalam segala hal kamu akan
kalah oleh isterimu, Dimas. Dalam pikiranmu hanya ada isterimu. Kami, keluarga
besarmu ini pelan-pelan akan tersisihkan. Selain itu, ini adalah wasiat leluhur
kita. Setelah tragedi Bubat maka tidak boleh ada lagi anggota keluarga kita
yang menikah dengan orang Jawa. Kamu harus mengerti itu." Kakek menatap Dimas tajam.
Dimas perlahan menyenderkan
pungggungnya di sandaran sofa. Tadinya ia pikir tidak akan mendengar lagi
kalimat semacam itu. Mengingat kakeknya orang yang berpikiran cukup agamis.
Tapi ternyata peristiwa yang bahkan kakek sendiri tidak pernah mengalaminya,
tetap bercokol dalam benaknya demikian kuat.
Namun Dimas tak ingin menyerah. Ia
tegakan kembali duduknya.
"Maap, Kek. Bukan maksud Dimas
mau melawan kakek. Tapi menurut Dimas bukan saatnya lagi sekarang keyakinan
yang tidak mendasar seperti itu terus dipertahankan. Manpaatnya apa, kek?
Bukankah pada akhirnya kita malah akan terjebak kepada sikap curiga dan saling
merendahkan? Kebahagiaan pernikahan bukan ditentukan oleh persukuan. Tapi
nilai-nilai agama yang kita jadikan sebagai dasarnya. Kakek sendiri kan yang
bilang begitu? Sekarang kenapa sikap kakek jadi berubah?"
"Kamu mau mengajari kakekmu ini
soal nilai-nilai kebahagiaan?" Kakek melotot.
"Bukan mengajari, kek. Tapi
hanya mengingatkan ...."
Brakkk!
Gebrakan di atas meja itulah yang
menjadi jawaban atas protes Dimas. Dimas sampai tersentak ke belakang karena
kagetnya.
"Kakek sungguh kecewa. Kamu
cucu yang paling besar. Selama ini kakek sudah membayangkan bahwa kamulah yang
pertama akan membahagiakan kakek dengan membawa calon isteri yang tepat.
Ternyata harapan kakek keliru. Kamu sungguh keterlaluan. Kembalikan pacarmu itu
sebelum jadi masalah yang lebih besar. Kelakuanmu ini merupakan aib keluarga."
Sikap kakek jelas, tak ingin ada
seorang pun dalam ruangan itu yang menolak keputusannya. Aturan agama bahwa laki-laki baik untuk perempuan baik-baik nyatanya
sama sekali tidak berlaku.
Dimas yang menjadi korbannya tidak
berdaya. Ayah dan ibu memilih netral. Atau andai disuruh menentukan pilihan pun mereka pasti akan lebih condong ke kakek.
Tragedi Bubat itu sendiri yang
terjadi tahun 1279 Saka atau 1357 M berawal dari ketika raja Majapahit, Hayam
Wuruk, naksir putri dari kerajaan Sunda Dyah Ayu Pitaloka Citraresmi. Tadinya
niat sang raja tulus murni tanpa embel-embel napsu kekuasaan. Namun ketika
pernikahan hendak dilaksanakan, mulailah niat Hayam Wuruk itu ditunggangi
kepentingan politik oleh mahapatih Gajah Mada.
Bahwa dengan diperisterinya Dyah Ayu
Pitaloka hal tersebut menandakan takluknya pihak kerajaan Sunda kepada
Majapahit. Sehingga dengan cara seperti itu maha patih Gajah Mada berhasil
memenuhi sumpah Palapanya untuk menyatukan nusantara. Karena pada jaman itu
hanya kerajaan Sundalah, dibawah kepemimpinan maharaja Linggabuana, yang tidak
pernah berhasil ditaklukan oleh Majapahit.
Jadi dengan sengaja pernikahan itu
akan dilaksanakan di Majapahit.
Sebenarnya permintaan pihak
Majapahit itu amat tidak lajim. Bagaimana mungkin dalam suatu pernikahan pihak
perempuan yang harus datang menemui pihak laki-laki. Namun dengan pertimbangan
bahwa pendiri kerajaan Majapahit, yaitu raden Wijaya, masih ada hubungan
kekerabatan dengan kerajaan Sunda, maka Dewan kerajaan Sunda bersedia mengalah
dan permintaan yang sangat merendahkan itupun diturutnya juga.
Rombongan kerajaan Sunda yang hanya
berjumlah ratusan orang pun berangkat dan berkumpul di sebuah desa yang bernama
Bubat. Namun saat pihak Majapahit menuntut bahwa pernikahan tersebut akan
dipergunakan sebagai pertanda kalau mereka mengakui superioritas Majapahit
dengan Dyah Pitaloka sebagai seserahannya, perlahan kebahagiaan yang hendak
disongsong oleh kedua mempelai itu mulai retak.
Seperti mengalami sendiri peristiwa
Bubat itu, dalam pikiran Dimas tergambar ketika pihak kerajaan Sunda menolak
keinginan Majapahit maka hal itu diartikan sebagai tantangan perang. Ribuan
pasukan Bhayangkara Majapahit di bawah komando Gajah Mada langsung mengepung
rombongan kerajaan Sunda di pesanggrahan Bubat. Membantainya.
Semuanya tewas termasuk maharaja
Linggabuana. Putri Dyah Ayu Pithaloka sebagai satu-satunya yang selamat pun
memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri sebagai tanda belapati.
Lalu apa setelahnya? Tak ada yang
menang atau pun kalah, menurut Dimas. Yang ada adalah sipat keegoan manusia
yang jadi pelakunya. Maka setelah berlalunya kejadian Bubat itu di kalangan
kerabat negeri Sunda kemudian diberlakukan aturan yang disebut larangan estri
tiluaran. Yang isinya antara lain larangan untuk menikah dengan orang di luar
kerajaan Sunda atau larangan memperisteri orang Majapahit. Peraturan ini kemudian
ditafsirkan lebih luas lagi sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi
orang Jawa.
Dan itu berlaku hingga detik ini !
Kilasan sejarah itu membuat pikiran
Dimas berkecamuk.
Di satu sisi, dirinya sama sekali
tak ada niatan hendak membangkang. Kakek adalah orang yang sangat dihormatinya.
Namun di sisi lain, kali ini sang kakek yang masih memiliki keturunan darah
biru dari raja-raja Sunda itu harus disadarkan. Adalah sebuah kekeliruan ketika
masa depan pernikahannya harus dipertaruhkan kepada sepotong tragedi pahit yang
dialami oleh leluhurnya akibat napsu kekuasaan yang kebablasan.
Peperangan dalam pikiran Dimas itu
sepertinya dimenangkan oleh logikanya. Hingga akhirnya sampailah dirinya pada
satu kesimpulan. Bahwa prinsip yang ingin terus dipertahankan oleh kakeknya
itu, bahkan keluarga besarnya Retno, bukanlah aturan dasar pernikahan. Tidak
perlu harus diikuti. Selain itu hati dan harga dirinya pun akan terluka andai
Retno di kembalikan lagi ke orang tuanya.
Dimas sudah hampir mengatakan bahwa
tanpa restu dari sang kakek pun ia tetap akan menikahi gadis pilihannya. Hanya
saja belum juga satu patah kata terlontar, suara ketukan di pintu membuat
kepala semua orang berpaling. Untuk sesaat ketegangan dalam ruang tamu itu
terpecah.
Dimas
yang beranjak membukakannya. Begitu daun pintu terbuka, seketika ia mematung. Di
hadapannya berdiri seorang laki-laki paruh baya berbadan kurus dan tinggi.
Bapaknya Retno !
Dan perempuan bertubuh subur di
sampingnya yang berkonde dan kebaya adalah isterinya.
Tapi yang Dimas tidak mengerti
kenapa mereka harus membawa-bawa banyak polisi?
Bapaknya Retno langsung bereaksi
ketika melihat kemunculannya.
"Ini dia orangnya, pak Polisi.
Dia yang telah menculik putri saya. Tangkap dia, pak !"
Rupanya orang tua Retno telah
melaporkan Dimas kepada pihak kepolisian dengan tuduhan penculikan. Dan mereka
sekarang hendak menangkapnya.
"Maap, saudara harus ikut kami
ke kantor polisi untuk dimintai keterangan." Kata pimpinan mereka kepada
Dimas.
Muka Dimas memutih pasi.
Suasana
rumah langsung menjadi kacau dan kalang kabut.
Ibu Dimas histeris meriwis-riwis.
Bapak dalam kepanikannya berusaha
menghalangi langkah para abdi negara itu.
Kakek sejenak melupakan
kekesalannya. Sekuat daya berusaha melindungi cucunya. Tapi pembelaan mereka
hanya dijawab dengan kalimat formal agar semuanya dijelaskan di kantor polisi.
Dimas siap digelandang menuju mobil. Andai saja saat itu tidak ada yang
menghalangi. Mendengar
ribut-ribut diluar rupanya Retno, yang sedari tadi menguping, langsung
melongok. Jantungnya keras berdegup melihat kedatangan ibu dan bapaknya. Juga
Dimas yang sudah berada dalam keadaan dua tangan terborgol ke belakang.
Retno langsung menghambur dan
merentangkan kedua tangannya di hadapan para aparat bersenjata pistol itu.
"Pak Polisi, Saya ikut atas
kemauan sendiri. Bukan karena diculik. Kalau kekasih saya dipenjara, maka saya
juga akan ikut ke penjara."
Ayah Retno melompat ke depan dengan
mata melotot.
"Retno, apa-apaan kamu? Kamu
jangan bikin malu keluarga. Hayo pulang !!"
Bukan. Bukan sikap menyerah yang
diperlihatkan Retno atas hardikan sang ayah. Melainkan yang ditunjukannya
adalah ketegaran seorang gadis Jawa. Dia berdiri tegak seperti tokoh Srikandi
dalam lakon wayang orang manakala tengah merentang busur. Tetapi bukan untuk
menyerang lawannya. Melainkan yang dilakukannya adalah karena cinta dan
kesetiaan. Dua hal yang berusaha ingin dipertahankannya.
"Ayah, siapa membuat malu
siapa? Sadarkah ayah kalau tindakan ayah ini sudah menghancurkan kebahagiaan
Retno. Retno Yakin pernikahan kami akan
bahagia karena kami tidak menjadikan persukuan dan watak pribadi yang menjadi
dasarnya. Melainkan tata aturan agama."
"Saya tidak mengerti apa itu
perang Bubat sama dengan tidak mengertinya kenapa malah justeru hubungan kami
yang menjadi korbannya? Apakah orang Jawa tidak boleh mencintai orang Sunda dan
begitu pula sebaliknya? Siapakah yang membuat hukum seperti itu, ayah? Apakah
kalian-kalian ini Tuhan sehingga begitu merasa berhak mengatur siapa berjodoh
dengan siapa? Apakah kebahagiaan cinta hanya hak mereka yang satu
persukuan?"
Plakk!
Tamparan
keras di pipi Retno itulah yang menjadi balasan atas sikap menggugat Retno.
Retno terhuyung. Saat berbalik terlihat ada darah yang mengalir di sela-sela
bibir gadis berkulit hitam manis itu. Lalu dan terjadi secara perlahan, dari
sepasang mata yang bulat itu melintas dua jalur air mata menapak di pipi yang
ranum.
Ibu yang melihatnya menjerit
histeris. Bergantian ia antara membujuk putrinya dan berusaha menenangkan
amarah sang suami.
"Retno, jangan begitu sama
ayahmu, Nak. Ini buat kebaikanmu sendiri. Tak ada gunanya kamu memaksakan diri
untuk tetap menikah dengan laki-laki itu. Sekarang Kita pulang, ya?"
Retno menggeleng.
"Ibu, pernikahan memang
membutuhkan restu dari orang tua. Dimas laki-laki yang baik, mengerti agama,
dan bertanggung jawab. Retno merasa bahwa pilihan Retno ini tidaklah salah.
Sebaliknya alasan kalian melarang hubungan kamilah yang menurut Retno salah.
Jadi maapkan anakmu ini, ibu. Tanpa restu dari kalian pun Retno akan tetap
menikah dengan Dimas."
Sedetik perempuan berkebaya warna
hijau itu tertegun. Tidak menyangka sama sekali kalau putrinya yang selama ini
penurut, lungguh timpuh andalemi, tiba-tiba menjadi seorang pemberontak. Sekuat
itukah cinta yang menguasai kalbunya sehingga sanggup menyalin rupa tata krama
si Putri Jogja yang penuh etika dan sopan santun ini, terlebih-lebih terhadap
ibunya, menjadi sebuah pembangkangan?
Tidak ! ini bukan sosok sejati dari putrinya.
Laki-laki itu pasti telah mengguna-gunainya. Putri kesayanngannya telah
didukuni. Dan sekarang yang tampil menguasai raganya adalah sosok Rahwana
berwajah Shinta.
Penyangkalan dramatis itu naik ke
kepala ibunya Retno. Terasa menusuk menghempas kesadarannya pada sebuah ruang
hampa. Seketika pandangannya menjadi gelap. Efeknya tubuh itu menjadi limbung.
Ibunya Retno pingsan akibat reaksi dari ucapan
putri
yang sangat disayanginya.
Melihat
isterinya pingsan, kemurkaan ayahnya Retno kian menjadi-jadi. Mata melotot,
sekujur tubuh bergetar, dan telunjuk teracung lurus tertuju ke wajah putrinya.
"Kamu benar-benar keterlaluan,
dasar anak yang tidak tau membalas budi orang tua. Dengarkan, mulai sekarang
kamu bukan lagi anak kami. Dan pernikahanmu itu sampai kapanpun sama sekali
tidak akan bahagia !!!"
Setelah itu dengan membawa ledakan
kemarahannya, laki-laki itu membawa langkahnya keluar.
Ibu Retno digotong.
Para Polisi membawa Dimas.
Kakek dan orang tua Dimas menjadi
penonton dari semua adegan tersebut.
Lalu sepi pun mengalir.
Tidak ada yang tau apa yang terjadi
terhadap Retno setelah itu. Kecuali orang tua Dimas.
Gadis hitam manis itu memang masih
berdiri di tempatnya. Tetapi ada yang membedakannya. Setelah sang ayah
menjatuhkan sumpahnya tadi perbedaan itu mulai merambati permukaan ragawi
Retno.
Mula-mula
bibir Retno ternganga, reaksi khas orang kaget atas ucapan sang ayah yang tidak
disangka-sangkanya. Lalu kedua tangannya terangkat ke depan, kearah Dimas yang
digelandang menuju ke mobil Polisi, sesuatu yang tak bisa diraihnya. Sehingga
akhirnya tangan itu berhenti di kehampaan. Terakhir, matanya yang tadi
memancarkan kehangatan dan semangat cinta yang berapi-api perlahan meredup
seperti lampu teplok yang kehabisan minyak. Kosong bola mata itu. Sekopong
harapannya saat menyadari hubungan cinta yang mati-matian dipertahankannya
harus kandas.
Lantas dari bibir yang masih ternganga itu mengalirlah
sebuah tembang Jawa.
Li lali tan bisa lali
Sun lelipur
tan sengsaya
Katon bae sapolahe
Kancil desa 'njang talingan
Aku melu karo ndika Lebu seta sari
pohung Becik mati yen kapiran
Itu
adalah tembang asmara dahana. Tentang seseorang yang ingin dilupa namun tidak bisa lupa. Engkau adalah pelipur dikala sengsara. Yang selalu terbayang segala tingkah dan polahnya.
Namun aneh sekali. Selesai menembang Retno
tiba-tiba tertawa terkikik-kikik sambil menari-nari.
Ibunya
Dimas yang menyaksikan jadi merinding dan merapat ke suaminya.
"Pak... dia... gadis
itu..."
"Benar..., bu. Dia menjadi
gila. Mungkin karena cintanya yang tidak kesampaian atau jiwanya yang
terguncang akibat sumpah bapaknya sendiri."
Bapak lalu menoleh ke arah kakek.
"Kita harus membawa gadis itu
ke rumah sakit jiwa, pak."
"Tidak. Jangan lakukan itu. Apa
kalian tidak melihat bagaimana si Dimas tadi ditangkap polisi? Biarkan gadis
itu lari ke jalanan dan menjadi totonan orang-orang sebagai balasan atas apa
yang telah dilakukan orang tuanya terhadap cucuku. Aku baru puas. Huss, hayo
pergi !"
Kakek menggebah Retno seperti
mengusir binatang liar.
Dan sambil terus menari dan tertawa,
Retno berlari ke jalanan. *** Tamat.