Abah
Saridin di kampung Bangsasuta profesinya adalah petani. Hal itu berlangsung
dari sejak umurnya dua puluh tahunan. Jadi bisa dikata abah Saridin adalah
turunan petani atau petani turunan.
Pagi
itu abah Saridin tengah asik membaca sebuah majalah bekas, Risalah Mujahidin,
edisi 21 tahun 2008. Menurut berita itu katanya Amerika Serikat melalui jaksa
agungnya yang bernama Michael B Mukasey, pernah memberikan bantuan kepada
pemerintah Indonesia sebesar 750.000 Dollar untuk memberantas korupsi di
Indonesia.
Sedang asyik membaca, isterinya
datang membawakan segelas teh pahit dan bertanya,
“Katanya mau ikut penyuluhan
pertanian. Koq belum berangkat, pak?”
“Sebentar lagi. Bapak lagi baca
berita.”
“Alaah, pak. Orang kaya kita buat
apa baca kayak gituan. Malah bikin pusing kepala.” Kata isterinya sambil duduk
di bale-bale bambu di samping abah Saridin.
“Ini buat persiapan di penyuluhan.
Siapa tau nanti ada yang nanya-nanya
sama bapak, bapak kan jadinya nggak terlalu norak karena tau informasi.”
“Tapi kenapa malah soal korupsi yang
bapak baca? Emang apa hubungannya korupsi sama pertanian? Bapak ini aneh.
Jadinya bapak malah kelihatan lebih norak.”
Abah Saridin cuma tersenyum tidak
menanggapi. Ia kian tenggelam dalam bacaannya. Sesekali kepalanya
terangguk-angguk seperti burung Keladi mematuki batang pohon kayu. Ada sekitar
lima menit abah Saridin membaca. Setelah selesai barulah ia berangkat ke bale
dsa tempat penyuluhan itu diadakan.
Petugas penyuluhnya sudah datang dan
sedang mempersiapkan makalahnya.
Maka
dimulailah penyuluhan yang terkatung-katung itu.
“Tahun ini panen kita gagal
karena…….”
“Koruptor !” Tiba-tiba ada yang
menyela sebelum bicaranya selesai.
Ternyata
yang bicara adalah abah Saridin.
“Bukan. Melainkan karena curah hujan
yang terlalu sedikit,” Dengan sabar penyuluh menjelaskan. Para petani yang lain
tertawa mendengar opini abah Saridin yang menurut mereka sama sekali tidak ada
relevansinya dengan tema bahasan.
Besoknya penyuluhan pertanian itu
dilakukan lagi. Tapi kali ini pindah ke desa tetangga. Cicinde.
“Tahun ini kualitas padi kita
menurun karena……”
“Koruptor !” Lagi-lagi ada yang
menyela. Seperti sebelumnya, yang kembali berbicara ternyata adalah abah
Saridin. Penyuluh mulai merasa terganggu. Tapi dia tetap berusaha menjaga
emosinya.
“Bukan. Tapi karena serangan hama
yang tidak terkendali.”
Beres di desa Cicinde, penyuluhan
dilanjutkan di desa Jayamukti. Kali ini penyuluh sedikit hati-hati. Sebelum
berbicara di telitinya satu persatu petani yang hadir. Siapa tau orang kemarin
juga terdapat diantara mereka. Barulah ia memulai.
“Tahun ini harga gabah anjlok
karena…..”
“Koruptor !” Kali ini pun ternyata
masih tetap ada yang menyela dan orangnya masih tetap orang yang sama. Abah
Saridin.
Si penyuluh tidak bisa lagi
mengendalikan emosinya. Dengan sedikit membentak dia bicara kepada abah
Saridin.
“Sekarang saya minta bapak maju ke
depan !”
Dengan kaki gemetaran abah Saridin
maju ke depan hadirin.
Petugas penyuluh menatapnya dengan
mata melotot.
“Dari kemarin saya perhatikan bapak
ini terus-terusan mengganggu pembicaraan saya. Maunya apa sih? Apa bapak punya
ketidak puasan terhadap saya? Gaji saya ini kecil dan saya punya banyak utang.
Tolong, jangan ganggu pekerjaan saya supaya saya bisa segera pulang dan
istirahat.
“Perlu
saya jelaskan di sini bahwa pertanian tidak ada hubungannya dengan korupsi. Ini
bukan gedung DPR, bukan Kejaksaan, bukan Hambalang, bukan Mahkamah Konstitusi,
bukan urusan Haji. Ini adalah bumi pertanian tempat kita mempersiapkan pangan
terbaik agar Republik ini tetap tangguh berdiri. Tidak kelaparan tidak pula
menjadi bangsa yang miskin. Bapak jangan terlalu percaya sama berita di tivi.
Itu adalah propaganda asing supaya mental kita jatuh dan merasa inverior di
depan bangsa-bangsa lain. Bapak mengerti? !”
“I… iya, pak. Maapkan saya.”
“Nah, sebagai pertanggung jawabannya
sekarang silahkan bapak jelaskan apa maksud bapak terus-terusan memotong
pembicaraan saya soal pertanian.”
“Anu… pak. Saya baca di majalah
katanya pemerintah kita memperoleh bantuan dari Amerika Serikat sebesar tujuh
ratus lima puluh ribu Dollar untuk memberantas korupsi?”
“Benar. Lalu apa hubungannya dengan
pertanian?”
“Eee, itulah ma.. maksud saya. Dari
pada kita membudidayakan padi yang tiap tahun gagal terus, bukankah lebih
bermanpaat kalau kita membudidayakan koruptor?”
Jadi, siapa bilang hanya TKI saja
yang menghasilkan devisa?