Rabu, 10 Agustus 2016

Balada Saridin



Abah Saridin di kampung Bangsasuta profesinya adalah petani. Hal itu berlangsung dari sejak umurnya dua puluh tahunan. Jadi bisa dikata abah Saridin adalah turunan petani atau petani turunan.
Pagi itu abah Saridin tengah asik membaca sebuah majalah bekas, Risalah Mujahidin, edisi 21 tahun 2008. Menurut berita itu katanya Amerika Serikat melalui jaksa agungnya yang bernama Michael B Mukasey, pernah memberikan bantuan kepada pemerintah Indonesia sebesar 750.000 Dollar untuk memberantas korupsi di Indonesia.
            Sedang asyik membaca, isterinya datang membawakan segelas teh pahit dan bertanya,
            “Katanya mau ikut penyuluhan pertanian. Koq belum berangkat, pak?”
            “Sebentar lagi. Bapak lagi baca berita.”
            “Alaah, pak. Orang kaya kita buat apa baca kayak gituan. Malah bikin pusing kepala.” Kata isterinya sambil duduk di bale-bale bambu di samping abah Saridin.
            “Ini buat persiapan di penyuluhan. Siapa tau nanti ada  yang nanya-nanya sama bapak, bapak kan jadinya nggak terlalu norak karena tau informasi.”
            “Tapi kenapa malah soal korupsi yang bapak baca? Emang apa hubungannya korupsi sama pertanian? Bapak ini aneh. Jadinya bapak malah kelihatan lebih norak.”
            Abah Saridin cuma tersenyum tidak menanggapi. Ia kian tenggelam dalam bacaannya. Sesekali kepalanya terangguk-angguk seperti burung Keladi mematuki batang pohon kayu. Ada sekitar lima menit abah Saridin membaca. Setelah selesai barulah ia berangkat ke bale dsa tempat penyuluhan itu diadakan.
            Petugas penyuluhnya sudah datang dan sedang mempersiapkan makalahnya.
Maka dimulailah penyuluhan yang terkatung-katung itu.
            “Tahun ini panen kita gagal karena…….”
            “Koruptor !” Tiba-tiba ada yang menyela sebelum bicaranya selesai.
Ternyata yang bicara adalah abah Saridin.
            “Bukan. Melainkan karena curah hujan yang terlalu sedikit,” Dengan sabar penyuluh menjelaskan. Para petani yang lain tertawa mendengar opini abah Saridin yang menurut mereka sama sekali tidak ada relevansinya dengan tema bahasan.
            Besoknya penyuluhan pertanian itu dilakukan lagi. Tapi kali ini pindah ke desa tetangga. Cicinde.
            “Tahun ini kualitas padi kita menurun karena……”
            “Koruptor !” Lagi-lagi ada yang menyela. Seperti sebelumnya, yang kembali berbicara ternyata adalah abah Saridin. Penyuluh mulai merasa terganggu. Tapi dia tetap berusaha menjaga emosinya.
            “Bukan. Tapi karena serangan hama yang tidak terkendali.”
            Beres di desa Cicinde, penyuluhan dilanjutkan di desa Jayamukti. Kali ini penyuluh sedikit hati-hati. Sebelum berbicara di telitinya satu persatu petani yang hadir. Siapa tau orang kemarin juga terdapat diantara mereka. Barulah ia memulai.
            “Tahun ini harga gabah anjlok karena…..”
            “Koruptor !” Kali ini pun ternyata masih tetap ada yang menyela dan orangnya masih tetap orang yang sama. Abah Saridin.
            Si penyuluh tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Dengan sedikit membentak dia bicara kepada abah Saridin.
            “Sekarang saya minta bapak maju ke depan !”
            Dengan kaki gemetaran abah Saridin maju ke depan hadirin.
            Petugas penyuluh menatapnya dengan mata melotot.
            “Dari kemarin saya perhatikan bapak ini terus-terusan mengganggu pembicaraan saya. Maunya apa sih? Apa bapak punya ketidak puasan terhadap saya? Gaji saya ini kecil dan saya punya banyak utang. Tolong, jangan ganggu pekerjaan saya supaya saya bisa segera pulang dan istirahat.
“Perlu saya jelaskan di sini bahwa pertanian tidak ada hubungannya dengan korupsi. Ini bukan gedung DPR, bukan Kejaksaan, bukan Hambalang, bukan Mahkamah Konstitusi, bukan urusan Haji. Ini adalah bumi pertanian tempat kita mempersiapkan pangan terbaik agar Republik ini tetap tangguh berdiri. Tidak kelaparan tidak pula menjadi bangsa yang miskin. Bapak jangan terlalu percaya sama berita di tivi. Itu adalah propaganda asing supaya mental kita jatuh dan merasa inverior di depan bangsa-bangsa lain. Bapak mengerti? !”
            “I… iya, pak. Maapkan saya.”
            “Nah, sebagai pertanggung jawabannya sekarang silahkan bapak jelaskan apa maksud bapak terus-terusan memotong pembicaraan saya soal pertanian.”
            “Anu… pak. Saya baca di majalah katanya pemerintah kita memperoleh bantuan dari Amerika Serikat sebesar tujuh ratus lima puluh ribu Dollar untuk memberantas korupsi?”
            “Benar. Lalu apa hubungannya dengan pertanian?”
            “Eee, itulah ma.. maksud saya. Dari pada kita membudidayakan padi yang tiap tahun gagal terus, bukankah lebih bermanpaat kalau kita membudidayakan koruptor?”
Jadi, siapa bilang hanya TKI saja yang menghasilkan devisa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar