BACALAH, BACALAH, DAN
BACA !
Apakah sebuah cerpen yang baik lahir
hanya melalui satu kali proses?
Artinya, begitu kita selesai menulis
sebuah cerpen maka tugas selanjutnya adalah segera mengirimkan cerpen tersebut
ke media.
Dulu saya
selalu begitu. Karena ada keinginan agar tulisan tersebut bisa segera
dimuat. Bukan berarti tulisan tersebut
tidak diteliti lagi. Biasanya saya sempatkan membaca satu atau dua kali sebelum
akhirnya secara bulat memutuskan langsung mengirim tulisan tersebut ke media.
Memang, dari proses seperti itu ada kalanya tulisan tersebut dimuat. Hal ini
jadi menyebabkan saya berpikir bahwa proses menulis yang selama ini saya jalani
tidaklah salah. Jadi teruskan saja.
Namun makin
sering saya berlatih menulis, makin bertambah pula pengalaman dan kesadaran
saya tentang bagaimana seharusnya proses
yang benar untuk bisa melahirkan sebuah cerpen yang sempurna.
Ternyata
tidak se-simple seperti yang saya tulis diatas. Beberapa kali cerpen saya di
muat di majalah. Beberapa diantaranya ada yang pada waktu menulis saya anggap
cerpen tersebut adalah yang terbaik yang pernah saya buat. Baik dari segi tema,
mau pun tata bahasa.
Namun ketika
‘si Terbaik’ ini saya buka dan saya baca lagi di kemudian hari, baru saya
menemukan banyak sekali ‘borok-borok’ di dalamnya. Biasanya yang paling membuat saya merasa
bodoh adalah dari susunan kalimat dan
pemilihan kata yang ternyata kurang pas. Sekarang bahkan malah saya suka heran,
kenapa cerpen dengan kualitas pas-pasan seperti ini bisa lolos sensor?
Maap, bukan berarti saya menganggap
team redaksi yang bersangkutan kurang mumpuni. Barangkali mereka salah memilih
tulisan. Hehe…
Oke,
pengalaman adalah guru yang terbaik. Itu benar dan saya terapkan dalam setiap
proses menulis saya selanjutnya. Ketika
satu tulisan selesai, sekarang saya tidak akan langsung mengirimkannya ke
media. Saya endapkan dulu cerpen tersebut selama satu hingga dua hari. Tidak saya apa-apa kan. Saya biarkan saja.
Tujuan saya adalah mengistirahatkan otak dan membuatnya segar kembali.
Barulah ketika otak sudah dalam
keadaan kembali fresh saya akan mulai menganalisa ulang tulisan saya.
Pengalaman saya, saya baru menemukan
kelemahan-kelemahan dalam sebuah tulisan bukan pada saat tulisan selesai dibuat.
Melainkan pada waktu-waktu berikutnya. Kuncinya, ya tentu saja kita harus mau
membaca dan membaca lagi tulisan tersebut sampai kita merasa benar-benar
mantap.
Bagi yang
tidak punya hobi baca,membaca ulang sebuah tulisan hingga berkali-kali sungguh
menjemukan. Tapi jangan menyerah kalau punya cita-cita ! ***.