“Jadilah
isteriku, Manik. Kita sama-sama kerja di Jakarta. Dengan begitu hidup kita akan
lebih baik.” Kata Sasmita sambil menatap dalam gadis belia di sisinya.
Yang ditatap meremas jemarinya penuh
kegelisahan. Otaknya yang hanya diisi oleh didikan sebatas SD dipaksa bertarung
menentukan pilihan simalakama.
Di sini dirinya adalah tulang punggung dari
dua orang adiknya yang masih sekolah, kemudian emak dan bapaknya. Beban yang
berat itu sepintas seperti tidak pantas dipikul seorang perempuan umur tujuh
belasan seperti dirinya. Tetapi Manik senang melakoninya.
Dia seorang Sintren. Dan di Layungsari ini
siapa yang tidak mengenal kepopuleran nama Sintren Manik. Pengaruhnya jelas.
Selain dirinya terkenal, profesi itu membuat uang gampang di dapat sehingga
keluarganya terbebas dari kemelaratan. Hantu yang menelikung tanah airnya ini.
Namun di
sisi lain menikah dengan Sasmita, pemuda
yang amat dicintainya, adalah impian hidupnya. Hanya saja ajakannya
pergi ke Jakarta lalu meninggalkan segala ke-terkenal-an dan kemudahan materi
yang sudah jelas-jelas didapatnya disini untuk sebuah ketidak pastian, seperti memaksa
dirinya untuk bunuh diri.
Pelan
kepala si gadis remaja berambut panjang sepinggang itu menggeleng.
“Aku bli
bisa, kang. Kalo aku melu karo sampeyan hidupku durung pasti bisa enak kayak
sekien. Lagian sapa sing mau ngurusi keluargaku? Pangampura, kang. Dudu aku bli
demen karo sampeyan. Tapi sekien duit kanggo aku lebih penting.”
Kalau orang mengatakan bahwa setiap niat baik
maka buahnya adalah kebaikan pula, maka Sasmita tidak akan percaya. Sekarang
inilah buktinya. Buah dari niat baiknya adalah sebentuk rasa nyeri. Pacarnya
lebih memilih harta dan popularitas ketimbang norma kehormatan yang
ditawarkannya. Hanya karena rahim kehormatan itu mandul dari nilai-nilai
duniawi.
Keputusan
yang diambil Manik itu tercetak jelas dalam benak Sasmita.
Minggu
kedua di bulan Mei. Harusnya malam ini ia melaut. Ikan Teri sedang berlimpah
ruah. Tapi sejak seminggu yang lalu Sasmita sudah bertekad bahwa malam inilah
waktu yang tepat untuknya meninggalkan lautnya. Merantau ke Jakarta.
Udara dingin berhembus dari arah laut ketika
Sasmita menarik dirinya dari hadapan Manik. Meninggalkan kampungnya adalah hal
kedua terberat yang menjadi keputusannya.
***
Kepedihan hidup adalah sebuah jembatan didikan. Kalau lulus menitinya, maka rasa pedih itu akan membuat pribadi lebih bijak. Tetapi kalau terjatuh di tengah-tengah perjalanan, maka terjatuhlah ke jurang kehinaan.
Kepedihan hidup adalah sebuah jembatan didikan. Kalau lulus menitinya, maka rasa pedih itu akan membuat pribadi lebih bijak. Tetapi kalau terjatuh di tengah-tengah perjalanan, maka terjatuhlah ke jurang kehinaan.
Sasmita ingat betul, pemikiran seperti itu
timbul akibat kekecewaan oleh satu dan dua hal yang merubuhkan kebahagiaan
hatinya. Pertama, cintanya yang direnggut paksa oleh sebuah budaya
masyarakatnya yang bernama Sintren.
Kedua,
lautnya yang puluhan tahun menjadi sumber mata pencahariannya ternyata tidak
bisa mengangkat derajat kehidupan orang kampungnya. Termasuk juga dirinya di
dalamnya. Akibatnya dua sisi kehidupan yang paling dicintainya itu harus rela
ditinggalkannya.
Semua butir kenangan itu akan tetap bertebaran
di jalan kehidupan Sasmita. Berikut segurat rasa pesimis yang dulu sering
mengiris perasaannya.
Kampungnya di tahun 70-an seperti tidak akan
pernah beranjak dari kemiskinan. Rumah-rumah bilik dengan pekarangan yang serba
sempit dipagari pagar bambu yang hampir roboh berdesak-desakan memenuhi setiap
jengkal tanah. Anak-anak bertelanjang dada dengan perut membusung dan tulang
belikat menonjol asyik bermain berkejaran.
Sekarang
setelah hampir lima belas tahun meninggalkannya, Sasmita seakan tak percaya
kalau keadaan tersebut tetap menghimpit kampungnya.
“Kampungmu dari dulu tetep aja begini. Di sini
nyari kerja susah. Ke laut kadang dapet, kadang nggak,” Cerita bapak.
Sasmita
tidak tertarik mendengar cerita itu.
“Gimana
kabarnya Manik sekarang, pak? Apa udah nikah?”
Bapak
meletakan rokok yang sedang dihisapnya.
“Apa kamu
masih ngarepin dia? Apa itu yang jadi sebab hingga sekarang kamu belum
kawin-kawin juga?”
“Aku
hanya ingin tau aja, pak.”
“Sampe
sekarang bekas demenan sira itu masih tetep nyintren.”
Jawaban itu lebih dari cukup. Berarti Manik
belum menikah. Sebab semua juga tau kalau Sintren hanya bisa dibawakan oleh gadis
yang masih perawan. Tapi apa yang membuat Manik tetap bertahan dengan
profesinya itu mengingat usianya sekarang tentu sudah tidak muda lagi?
Sasmita
menghubungkan dengan keadaan dirinya sekarang yang sudah punya usaha mapan.
Tentu banyak yang bisa dilakukannya.
Seolah
kebetulan, kepulangan Sasmita bertepatan dengan pesta laut yang akan diadakan
kampungnya. Beberapa tetua kampung segera mendatanginya Mereka memohon bantuan
Sasmita agar sudi menyumbang acara pesta laut tersebut. Lebih dari sekedar
menyumbang, Sasmita bahkan bersedia menanggung semua biayanya. Tapi ia
mengajukan syarat.
“Saya minta supaya Sintren di hapus
dari acara pesta laut tersebut.”
***
Manik termangu. Dirinya tidak boleh Nyintren?
Manik termangu. Dirinya tidak boleh Nyintren?
“Begitulah, Nok. Kami nggak berdaya. Kalo
menolak, barangkali pesta laut tahun ini akan batal diadakan. Biayanya dari
mana? Sementara, eh, maap, bekas kekasihmu itu menjanjikan bahwa pesta laut
sekarang akan lebih meriah. Dia akan ngundang artis-artis dari Jakarta. Bahkan
katanya akan masuk tivi segala. Tapi ya itu tadi syaratnya…”
“Aku ngerti, mang,” Manik memotong. “Bli
apa-apa. Orang miskin kayak kita punya kuasa apa. Kalo gitu aku punya satu
permohonan. Temenin aku nyintren malam ini, mang,” Ajak Manik tiba-tiba kepada
tetua yang mengabari berita tadi.
“Malam-malam
begini? Kenapa, Nok?”
“Pesta
laut besok aku kan udah nggak boleh nyintren. Jadi aku ingin melakukannya malam
ini. Ayolah. Paling cuma satu jam.”
Karena
memaksa, permintaan Manik itu dituruti.
Sesungguhnya
ini adalah salah satu adegan dari masa remajanya dulu. Bagi gadis-gadis
pesisir, sesuatu yang lumrah menunggu kekasih mereka pulang melaut sambil
belajar menari sintren di tepi pantai dibawah siraman sinar rembulan.
Dan
melalui tarian itu Manik seakan ingin menghadirkan kembali sosok seorang Sasmita
dalam dunia kecilnya yang sederhana. Dunia yang tidak pernah beranjak dari
kampungnya, Layungsari, berikut lunggak-lenggok tariannya yang bernama Sintren.
Semua
orang seperti mengerti perasaan Manik. Para nayaga yang sebelumnya setuju
dengan permintaan Sasmita, tiba-tiba saja sudah bersiap dengan peralatannya
masing-masing seperti gong, kendang dan waditra. Sebuah kurungan yang ditutupi
kain hitam diletakan di tengah-tengah arena yang hanya berupa hamparan pasir
pantai.
Setelah
dirasa semua siap, Sang juru kawih memulai tembang pembukanya.
Turun-turun
sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang ning ayun ayunan
Kembange siti Mahendra
Widodari temurunan naranjing ka awak sira
Sintrene widadari
Nemu kembang ning ayun ayunan
Kembange siti Mahendra
Widodari temurunan naranjing ka awak sira
Penonton hening. Mereka memperhatikan pawang
Sintren yang mulai membakar kemenyan. Asap dan baunya disebar angin laut ke
segala arah. Membuat suasana jadi terasa
agak menyeramkan.
Selanjutnya
sang pawang menuntun Manik ke tengah-tengah arena. Sebagai tahap awal dari
proses pembentukan Sintren, diikatnya sekujur tubuh Manik dari mulai bagian
bahu hingga ujung kaki. Lalu dibungkus dengan sehelai kain berwarna putih.
Diikatnya di bagian kepala dan kaki. Sehingga benak setiap yang melihat akan
tertarik kepada satu hal menyeramkan. Pocong.
Selanjutnya
tubuh Manik yang sudah berada dalam keadaan terbelenggu itu dimasukan kedalam
kurungan tertutup berikut seperangkat baju khusus Sintrennya.
Maka
dimulailah proses pembentukan Sintren yang berada diluar logika manusia
tersebut. Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana caranya seorang calon
Sintren yang terikat dan dimasukan kedalam kurungan, lalu ketika kurungan
dibuka tiba-tiba saja semua tali yang mengikatnya itu sudah terlepas. Bukan itu
saja, bajunya pun sudah bersalin rupa dengan baju khas Sintren.
Meski
sudah menonton berkali-kali, namun orang-orang tak habis herannya tiap kali
Manik keluar dari kurungan itu dalam keadaan sudah berubah segalanya.
Baju yang
dikenakannya sudah berganti dengan baju Golek yang dihias rumbai-rumbai dengan
beberapa manik gemerlapan di beberapa bagiannya. Berpadu dengan celana Cinde berwarna
hitam sebatas lutut. Disamping pinggulnya kain Sampur berwarna kuning menjuntai
simetris sebatas betis menambah manis sosok sang Sintren itu sendiri.
Bibir
Manik memerah oleh polesan lipstick yang rapih, kepalanya dihiasi oleh mahkota
dengan rangkaian bunga melati di kedua sisinya. Namun dari semua dandanan itu
yang paling menonjol adalah mata Manik yang ditutupi oleh kacamata hitam.
Maka
dimulailah tarian mistis itu.
“Aku
ingin menarikan sintren dewi Lanjar, mang,” Pinta Manik sebelum pertunjukan
dimulai.
Si
Pawang mengangguk paham.
Sejarah
Sintren adalah sejarah tragedy cinta antara Sulandono, putra nyai Rantamsari
dengan Sulasih seorang gadis miskin dari desa Kalisalak. Sayang, Ki Bahurekso
ayah Sulandono tidak merestui hubungan mereka.
Kalau
Sulandono memilih pergi bertapa, maka di sisi lain jalan kehidupan menjadikan
Sulasih sebagai penari Sintren. Namun pertemuan keduanya tetap berlanjut di alam
gaib. Dimana setiap kali menari, Nyai Rantamsari selalu memanggil roh Sulasih
untuk dipertemukan dengan roh putranya. Sementara kedalam badan Sulasih ia
memasukan roh dari bidadari dewi Lanjar. Roh yang akan menambah kecantikan raga
yang dirasukinya sekaligus menjadi pemikat bagi para lelaki terutama laki-laki
yang dicintai oleh sang Sintren.
Yang
paling menarik dari pertunjukan Sintren adalah ketika para penonton melemparkan
saputangan atau kain yang biasanya telah diisi dengan uang. Ketika benda-benda
itu mengenai tubuh si Penari, maka dia akan langsung hilang kesadaran. Tugas
sang pawanglah untuk segera menyadarkannya kembali.
Namun
pertunjukan Sintren yang baru berjalan beberapa menit itu tiba-tiba menjadi
kacau.
“Berhenti
! berhenti!. Hentikan permainan Sintren ini!”
Sasmita tiba-tiba menyeruak dari kerumunan
penonton penuh kemarahan. Musik langsung senyap. Manik jatuh terkulai.
“Bukankah
kita sudah sepakat bahwa pesta laut kali ini tidak boleh ada pertunjukan
Sintren? Kenapa kalian masih melakukannya juga?” Sasmita menyebar tatapannya yang
penuh kekesalan.
Semua
nayaga bungkam. Takut Sasmita tersinggung lalu menarik kembali dananya. Sementara
Manik yang tadi terkulai, pelan menggeliat bangun dan membuka matanya. Ia masih
cukup jelas mendengar perkataan Sasmita tadi.
“Ini bukan pesta laut, kang. Kamu nggak punya
hak buat melarang kami. Apa kamu masih dendam sama aku kang, karena penolakanku
dulu?” Pertanyaannya mencuat diantara sikap pengecut orang-orang kampungnya.
“Tidak
ada hubungannya dengan masa lalu kita, Manik. Aku anggap itu sudah tuntas. Aku
hanya ingin kampung kita maju dan dikenal oleh dunia luas. Pesta laut kali ini
akan diliput oleh televisi. Bayangkan, apa jadinya kalau yang dilihat oleh
masyarakat modern adalah dirimu yang kesurupan lalu berjoget seperti orang
gila? Apa kamu tidak malu?”
Segurat
perih menusuk dada Manik dirinya diserupakan dengan orang gila.
“Kamu
menghina budayamu sendiri, Kang. Kamu sendiri tau, dari dulu Sintren emang
seperti itu. Kamu berubah sekarang, kang Sasmita. Apa karena sudah jadi orang
kaya?”
“Aku
berubah untuk lebih baik, Manik. Tidak sepertimu yang sampe sekarang tetap saja
jadi Sintren. Pikiranmu hanya duit, duit, dan duit. Daripada menjadi
isteriku, kamu lebih memilih jadi sundal yang tak punya harga diri!”
Ucapan itu seperti pedang yang menebas
persendian lutut Manik hingga perawan tua itu luruh bersimpuh di pasir pantai
yang lembut. Pundaknya berguncang menahan tangis. Benarkah laki-laki itu yang
berkata demikian? Ternyata semua ini muaranya adalah cinta mereka sendiri yang
bertahun tidak terlampiaskan lalu berubah menjadi dendam. Namun ada yang tidak
dipahami oleh Sasmita. Dan itulah yang ingin dijelaskan oleh Manik.
“Kita sama-sama tau, kang kalau kampung kita
dari dulu melarat dan bodoh. Tapi aku nggak ingin seperti itu. Aku ingin emak
dan bapakku hidup senang. Aku ingin adikku bisa sekolah yang tinggi.”
“Dan
aku menemukan jalannya melalui Sintren. Aku dipuja-puja. Duit buatku nggak
masalah. Aku senang, kang. Tapi di sisi lain hatiku sebenarnya perih ketika semua
itu harus kutebus dengan cara kehilangan dirimu. Aku sadar bahwa aku telah
salah memilih. Tapi aku nggak punya jalan lain. Demi sekolah adikku, juga
kehidupan orang tuaku aku kesampingkan perasaanku sendiri….”
Cuih
! Sasmita meludah.
“Lalu
sekarang apa? Kalau sudah setua ini kamu masih juga nyintren, itu artinya kamu
tetep nggak bisa lepas dari duniamu. Kamu emang penari matre!”
Hanya
Manik yang tau akan kepedihan hatinya sendiri. Dihinakan seperti sampah justeru
oleh orang yang dikasihinya, kemudian terpinggirkan bersama budaya yang kini
sangat dicintainya.
Manik
dewasa berkat pengalaman hidup yang dijalaninya. Bukan karena pendidikan. Ia
membaca pertanda jaman. Ketika musik pop dan dangdut mulai merambah ke
kampung-kampung, termasuk layungsari ini, perlahan Sintren mulai terlupakan.
Hampir tak ada lagi yang mau menanggap.
Namun
seiring dengan itu jiwa Manik bermetamorfosa. Bak seekor Kupu-kupu cantik yang
berasal dari Ulat yang menjijikan. Kalau dulu ia menari untuk materi, Sekarang
ia justeru ingin menjaga agar Sintren itu tetap lestari. Minimal di tanah
kelahirannya ini. Walau untuk itu ia harus rela menjadi perawan tua. Karena
Sintren sejatinya hanya bisa dibawakan oleh perempuan yang masih perawan.
Itu
di satu sisi. Sementara di sisi lain, ia merasa betapa sulit dirinya bisa
mencintai laki-laki lain setelah Sasmita. Pun ketika orang yang dicintainya itu
kini ingin balas menghancurkannya. Ia rela. Karena dendam itu asalnya dari
cinta juga.
“Semua
itu sekarang kulakukan bukan karena aku matre, kang. Tapi aku nggak rela budaya
kampung kita ini musnah dan dilupakan semua orang. Sintren bukan hanya kenangan
kita berdua. Dia adalah sumber kehidupan itu sendiri yang membuat semua orang
disini merasa bahagia dan memiliki kebanggaan kepada kampungnya sendiri yang
seperti engkau tau dari dulu sampe sekarang tetap saja melarat.
“Aku
mohon, kang, berilah kesempatan kepada budayamu ini untuk tumbuh dan berkembang
mengikuti jamannya. Jangan engkau tindas dia karena kenangan kita dulu…”
Sempurna sudah Manik menjelmakan dirinya di hadapan orang yang karena cinta
kemudian menistakannya. Satu-satu air matanya jatuh di pasir pantai.
Manik
sosok yang bodoh. Sasmita tau itu karena semasa di sekolah dasar dulu mereka
satu kelas. Pelajaran berhitungnya payah. Membaca pun terbata-bata. Mungkin hal
itu disebabkan juga oleh ‘kutukan’ kampungnya yang kurang begitu memperhatikan
soal pendidikan.
Tetapi
malam ini, setelah sekian tahun mereka berpisah, ia melihat sisi lain dari diri
Manik yang terjungkirkan dari kebodohannya itu. Tidak bisa tidak, pengalaman
hidupnya sebagai Sintrenlah yang mampu membuat pribadinya tampil sempurna.
Menjadi penjaga dari sebuah nilai-nilai budaya yang tertatih-tatih mengiringi
laju jamannya.
Sasmita
sadar, Ia telah salah memaknai cinta yang ada dalam dirinya dan juga dalam diri
Manik. Namun rasa keegoan membuatnya gengsi untuk mengakui semua itu. Yang
kemudian terjadi justeru dialog yang terjadi antara mereka tadi telah menumbuhkan
sebuah kesadaran baru.
Para
tetua seolah baru menyadari kenapa Manik selama ini memilih untuk tetap jadi
perawan. Rupanya karena di kampung mereka sudah tidak ada lagi gadis yang mau
menjadi Sintren, maka Manik menjadikan dirinya sebagai benteng terakhir untuk
menjaga budaya leluhur itu dari kepunahan.
“Manik
benar, pak Sasmita. Kami tidak butuh uangmu kalau dengan itu kami harus
mengorbankan budaya sendiri. Sebaliknya, kamu sudah mengecewakan kami semua.
Seperti inikah balas budimu kepada tanah kelahiranmu sendiri?”
Sasmita
tidak perlu melakukan pembelaan diri langsung. Sebelumnya para pemuda disini
sudah berhasil ia kuasai dengan keberlimpahan materinya. Tanpa harus
diperintah, para pemuda itu sekonyong-konyong berdatangan.
“Kamu
yang salah, abah. Pak Sasmita yang benar. Jaman modern sekarang kita tidak
butuh lagi Sintren kalau ingin maju. Sintren harus dihapus dari kampung kita.
Kamu harus pergi dari Layungsari, Manik!”
Bukan
hanya sebatas pengusiran terhadap Manik. Para pemuda itu bahkan mengacak-acak
seluruh peralatan Sintren yang ada. Penonton berhamburan. Para tetua hendak melawan.
Namun dengan kelembutan dan kesabarannya Manik berhasil menahan mereka.
“Sejak
kapan, mang gara-gara Sintren kita jadi cerai berai? Mereka semua itu adalah
anak-anak kita yang belum paham soal tradisi dan adat istiadat para leluhurnya
sendiri. Biarkan saja. Suatu saat mereka akan menyadari kalau apa yang
dilakukannya ini adalah sebuah kekeliruan. Saya bersedia meninggalkan
Layungsari mang, kalau dengan kepergian saya, kehidupan disini akan kembali
utuh”.
Sasmita
yang mendegar ucapan Manik tersenyum puas penuh kemenangan. *** ( Di muat di majalah annida tahun 2014 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar