MENJADI KAYA DENGAN MENULIS
Jika ingin kaya, maka kita harus
bekerja keras. Tidak mungkin dengan ongkang-ongkang kaki seseorang bisa hidup
berkelimpahan harta. Setidaknya ini adalah teori umum yang sudah menjadi kesepakatan
bersama dan kadung berakar di alam bawah sadar kita.
Saya percaya meski tidak bulat
seratus persen meyakininya. Sebab sekarang adalah jaman kemajuan teknologi yang
memungkinkan setiap orang bisa meraih apa yang di cita-citakannya secara
instant. Termasuk dalam hal meraih kekayaan itu tadi.
Dulu, para orang tua kita untuk bisa
mengumpulkan kekayaan harus dengan cara menabung sen demi sen. Selama puluhan
tahun. Lalu setelah dua puluh atau tiga puluh tahun, barulah mereka bisa
menikmati hasil jerih payah tersebut.
Saya setuju dengan cara demikian.
Tapi agak enggan untuk menirunya. Sebab saya ingin kekayaan itu bisa dinikmati
di usia muda bukan hanya saat umur sudah lanjut. Alasannya sederhana saja. Soal
umur siapa yang bisa menjamin? Bisa saja sebelum kekayaan terkumpul dan belum
sempat dinikmati, kita sudah keburu dipanggil oleh yang maha kuasa.
Jadi…?
Kembali kepada kemajuan jaman itu
tadi. Perkembangan teknologi telah membuka banyak pintu kekayaan yang bisa kita
raih tanpa harus menunggu waktu 20 atau 30 tahun. Salah satu caranya adalah
dengan bekerja MENULIS !.
Keberadaan internet terbukti
membantu setiap orang mewujudkan mimpinya menjadi orang kaya. Banyak toh, orang
yang sukses dari usaha nge-Blog? Atau menulis artikel di situs-situs berbayar.
Melalui internet pula untuk mengirimkan sebuah tulisan orang tidak perlu ribet
sowan ke kantor pos. Cukup lewat email. Hemat waktu dan uang.
Lalu apa yang kita perlukan untuk
menapaki jalan tersebut?
Salah satunya adalah sikap.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa
yang bisa menulis untuk media massa adalah mereka yang punya bakat khusus,
orang-orang istimewa yang lihay merangkai kata-kata. Anggapan demikian tidak sepenuhnya
benar tapi juga tidak sepenuhnya salah. Sebab orang biasa pun yang tadinya
tidak punya bakat dalam soal menulis ternyata bisa dan punya kesempatan yang
sama.
Masalahnya adalah seberapa sering
anda menulis dan seberapa banyak anda mengirimkannya kepada media. Ada orang
yang sama sekali belum pernah membuat suatu karya tulis tetapi berhasrat ingin
jadi penulis. Banyak pula yang sudah sering mengirimkan tulisan kepada media,
tetapi karena belum satu pun ada yang dimuat, lantas mereka berhenti.
Karena itu mulailah ubah sikap.
Teruslah menulis. Jangan berpikir soal dimuat atau tidak. Pantas dan tidak
pantas. Makin sering kita menulis, maka makin terasah kemampuan kita. Saya
katakan mungkin saja semua tulisan-tulisan tersebut berbuah penolakan. Jangan
hirau. Terus saja menulis. Pada akhirnya akan berlaku hukum rata-rata. Di
antara10 karangan yang kita kirimkan ke media, salah satunya pasti ada satu
yang nyangkut. Yakin saja.
Dulu, awal-awal saya menjajal
kemampuan diri menulis cerpen, ada sekitar satu lusin karangan yang saya
kirimkan ke majalah Annida. Saya hanya fokus ke majalah satu ini saja. Saya
memang punya tekad, walau bagaimana pun saya harus bisa menembus majalah ini.
Hasilnya?
Setelah berkali-kali selalu disuguhi
kata tidak, akhirnya ada juga lima buah cerpen saya yang di muat di majalah
Annida. Sayang, karena waktu itu menulis hanya sekedar hobi, saya jadi tidak
konsisten melakoninya. Kadang dalam satu bulan saya bisa menghasilkan beberapa
karya, kadang juga dalam satu tahun saya bahkan
tidak menulis satu judul pun. Baru sekarang terpikir untuk menjadikannya
sebagai profesi.
Apakah sekarang saya sudah kaya dari
hasil menulis? Tentu saja dari sikap menulis seperti itu, apa yang diharapkan
masih jauh panggang dari api. Padahal honor dari menulis itu cukup lumayan bila
istiqomah kita lakoni. Rata-rata antara 200 ribu hingga 1,5 juta. Itu dari satu
media. Bayangkan bila dalam satu bulan ada beberapa tulisan kita yang dimuat?
Suatu saat mungkin kita akan punya penghasilan tidak kurang dari 10.000.000
perbulan.
Masalahnya ya itu tadi, sikap. Mau
tidak kita menjalaninya?. Jangan sampai hasrat menulis itu hanya tinggal dalam
angan-angan saja. Salam.