Minggu, 06 Maret 2016

inspirasi



 MENJADI KAYA DENGAN MENULIS

            Jika ingin kaya, maka kita harus bekerja keras. Tidak mungkin dengan ongkang-ongkang kaki seseorang bisa hidup berkelimpahan harta. Setidaknya ini adalah teori umum yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan kadung berakar di alam bawah sadar kita.
            Saya percaya meski tidak bulat seratus persen meyakininya. Sebab sekarang adalah jaman kemajuan teknologi yang memungkinkan setiap orang bisa meraih apa yang di cita-citakannya secara instant. Termasuk dalam hal meraih kekayaan itu tadi.
            Dulu, para orang tua kita untuk bisa mengumpulkan kekayaan harus dengan cara menabung sen demi sen. Selama puluhan tahun. Lalu setelah dua puluh atau tiga puluh tahun, barulah mereka bisa menikmati hasil jerih payah tersebut.
            Saya setuju dengan cara demikian. Tapi agak enggan untuk menirunya. Sebab saya ingin kekayaan itu bisa dinikmati di usia muda bukan hanya saat umur sudah lanjut. Alasannya sederhana saja. Soal umur siapa yang bisa menjamin? Bisa saja sebelum kekayaan terkumpul dan belum sempat dinikmati, kita sudah keburu dipanggil oleh yang maha kuasa.
            Jadi…?
            Kembali kepada kemajuan jaman itu tadi. Perkembangan teknologi telah membuka banyak pintu kekayaan yang bisa kita raih tanpa harus menunggu waktu 20 atau 30 tahun. Salah satu caranya adalah dengan bekerja MENULIS !.
            Keberadaan internet terbukti membantu setiap orang mewujudkan mimpinya menjadi orang kaya. Banyak toh, orang yang sukses dari usaha nge-Blog? Atau menulis artikel di situs-situs berbayar. Melalui internet pula untuk mengirimkan sebuah tulisan orang tidak perlu ribet sowan ke kantor pos. Cukup lewat email. Hemat waktu dan uang.
            Lalu apa yang kita perlukan untuk menapaki jalan tersebut?
            Salah satunya adalah sikap.
            Kebanyakan orang beranggapan bahwa yang bisa menulis untuk media massa adalah mereka yang punya bakat khusus, orang-orang istimewa yang lihay merangkai kata-kata. Anggapan demikian tidak sepenuhnya benar tapi juga tidak sepenuhnya salah. Sebab orang biasa pun yang tadinya tidak punya bakat dalam soal menulis ternyata bisa dan punya kesempatan yang sama.
            Masalahnya adalah seberapa sering anda menulis dan seberapa banyak anda mengirimkannya kepada media. Ada orang yang sama sekali belum pernah membuat suatu karya tulis tetapi berhasrat ingin jadi penulis. Banyak pula yang sudah sering mengirimkan tulisan kepada media, tetapi karena belum satu pun ada yang dimuat, lantas mereka berhenti.
            Karena itu mulailah ubah sikap. Teruslah menulis. Jangan berpikir soal dimuat atau tidak. Pantas dan tidak pantas. Makin sering kita menulis, maka makin terasah kemampuan kita. Saya katakan mungkin saja semua tulisan-tulisan tersebut berbuah penolakan. Jangan hirau. Terus saja menulis. Pada akhirnya akan berlaku hukum rata-rata. Di antara10 karangan yang kita kirimkan ke media, salah satunya pasti ada satu yang nyangkut. Yakin saja.
            Dulu, awal-awal saya menjajal kemampuan diri menulis cerpen, ada sekitar satu lusin karangan yang saya kirimkan ke majalah Annida. Saya hanya fokus ke majalah satu ini saja. Saya memang punya tekad, walau bagaimana pun saya harus bisa menembus majalah ini.
            Hasilnya?
            Setelah berkali-kali selalu disuguhi kata tidak, akhirnya ada juga lima buah cerpen saya yang di muat di majalah Annida. Sayang, karena waktu itu menulis hanya sekedar hobi, saya jadi tidak konsisten melakoninya. Kadang dalam satu bulan saya bisa menghasilkan beberapa karya, kadang juga dalam satu tahun saya bahkan  tidak menulis satu judul pun. Baru sekarang terpikir untuk menjadikannya sebagai profesi.
            Apakah sekarang saya sudah kaya dari hasil menulis? Tentu saja dari sikap menulis seperti itu, apa yang diharapkan masih jauh panggang dari api. Padahal honor dari menulis itu cukup lumayan bila istiqomah kita lakoni. Rata-rata antara 200 ribu hingga 1,5 juta. Itu dari satu media. Bayangkan bila dalam satu bulan ada beberapa tulisan kita yang dimuat? Suatu saat mungkin kita akan punya penghasilan tidak kurang dari 10.000.000 perbulan.
            Masalahnya ya itu tadi, sikap. Mau tidak kita menjalaninya?. Jangan sampai hasrat menulis itu hanya tinggal dalam angan-angan saja. Salam.

Bengkel fiksi



CERPEN :
benarkah hanya fiksi angan-angan?

Seperti apa definisi kita terhadap sebuah karya tulis yang bernama cerpen? Cukupkah sebatas cerita pendek yang bisa dibaca dalam sekali duduk? Bisa ya, bisa juga tidak.
            Kata pendek itu sendiri dalam dunia cerpen tidaklah sama. Cerpen Indonesia rata-rata panjangnya antara 6 sampai 10 halaman. Ini pun sudah termasuk lumayan panjang untuk ukuran majalah kita. Padahal menurut Ajip Rosidi cerita pendek Indonesia termasuk cerita yang sangat-sangat pendek bila dibandingkan dengan majalah-majalah barat yang ukuran halamannya tebal dan lebar.
            Cerpen meski pun bersipat cerita rekaan atau khayalan tetapi ia harus berdasarkan kenyataan hidup. Bahwa cerita yang disuguhkan di dalamnya dapat saja terjadi seperti itu. Jadi agak kurang tepat anggapan sebagian orang bahwa membaca fiksi sama dengan membiarkan diri ditipu mentah-mentah oleh penulisnya.
            Kebenaran bukan hanya lahir melalui filsafat dan ilmu yang menggunakan daya pikir semata. Namun juga lewat sastra. Itu sebabnya cerpen-cerpen yang baik biasanya dibuat melalui penghayatan terhadap suatu pengalaman. Baik itu pribadi mau pun orang lain.
            Maka menurut saya, sebuah cerpen tidak bisa dikatakan murni, 100% khayalan. Banyak karya fiksi yang mengandung nilai-nilai kehidupan di dalamnya. Contohnya adalah cerpen Robohnya Surau Kami, karya A.A. Navis. Kita bisa melihat perwatakan setiap tokoh di dalamnya yang ditampilkan secara tajam. Seolah kita sedang mengalami kehidupan yang sebenarnya.
Salam fiksi ***