Minggu, 02 Oktober 2016

MUSLIHAT TENDER DI GEDUNG RAKYAT




 Gusdur memang hebat. Dengan kondisi fisiknya yang ‘sederhana dan bersahaja’ itu dia akhirnya oleh kelompok politik Poros Tengah made in Amin Rais berhasil dinobatkan menjadi Presiden RI setelah melalui pertarungan sengit di DPR. Sepak terjang serta omongannya kerap menimbulkan kontroversi. Salah satunya adalah ketika dia mengatakan bahwa DPR itu seperti Play Group alias taman kanak-kanak karena ketidak dewasaannya dalam menyikap aspirasi rakyat.
            Maksudnya, mereka itu kalau sudah punya keinginan maunya di iyain aja. Kalau tidak, maka mereka akan ngambek. Nah, salah satunya adalah keinginan untuk punya gedung DPR yang baru yang memerlukan anggaran sekitar satu trilyun koma sekian.
            Rakyat tentu saja protes. Tapi seperti kata pepatah, Kafilah menggonggong, Anjing tetaplah berlalu. Maka, gedung baru DPR pun siap dibangun. Dibentuklah panitia tendernya.
            Lantas dengan penuh rasa bahagia dan suka cita diadakanlah tender dengan beberapa perusahaan nasional dan internasional.
            Tidak sebagaimana lajimnya tender, tender kali ini dilakukan dalam ruangan tertutup dan setiap perusahaan cukup mengirimkan wakilnya saja  untuk menjalani tes oleh panitia tender.
            “Perusahaan China !” Panitia tender berteriak.
            Seorang pria pendek dan bermata agak sipit, ditemani sekretarisnya, seorang wanita tinggi semampai yang tampak terpelajar tergopoh-gopoh memasuki ruangan.
            “Silahkan duduk. Kami akan segera memulai tes.” Kata panitia tender.
            “Terima kasih, pak.”
            Dari belakang mejanya panitia tender mengeluarkan beberapa lembar kertas. Selembar diantaranya diserahkan kepada pihak dari perusahaan China itu.
            “Tes ini sederhana saja. Anda tinggal memberikan jawaban yang benar untuk pertanyaan di atas kertas ini.”
            Orang China itu memeriksa lembar pertanyaan tes yang diserahkan ke hadapannya. Nah, keningnya langsung berlipat-lipat seperti hendak menggulung dengan sendirinya. Dia pantas untuk heran. Tadinya ia dan sekretarisnya sudah membayangkan akan diberi tes yang rumit yang berhubungan dengan perusahaan atau proyek yang akan menjadi garapannya. Ternyata yang tertera di atas kertas hanya..
            5+5 =……?
            Sesaat orang China dan sekretarisnya saling tengok-tengokan.
            “Apa ini nggak salah, pak?” Orang China itu meminta klarifikasi.
            “Oh, sama sekali tidak. Memang seperti inilah tesnya. Silahkan dijawab.”
            Tentu saja itu amat mudah. Anak balita pun tau jawabannya. Orang China itu langsung menuliskan angka 10 di kertas jawabannya kemudian diserahkan kepada panitia tender.
            “Sudah, pak. Ini silahkan diperiksa.”
            Panitia tender meliriknya sekilas dan bertanya,
            “Ada jawaban yang lain nggak?”
            “Ada, pak. Yaitu Sembilan, pak.”
            “Pikir sekali lagi.”
            “Delapan !”
            Panitia tender pun menuliskan beberapa catatan : Hemat, punya akal di tolak.
            Hari kedua tender kembali dilaksanakan. Kali ini yang dipanggil adalah perusahaan dari Timur Tengah.Yang datang mewakili perusahaannya hanya seorang saja. Pria arab yang tinggi besar dan berhidung mancung dan berkulit agak hitam.
            Seperti yang kemarin, panitia tender pun memberikan soal yang sama kepada orang dari perusahaan Timur Tengah itu.
            Si pria Arab tampak tertegun membaca soal yang tertera di kertas tesnya. Memang hanya soal 5+5 =…………? Tetapi menurutnya ini tidaklah sesederhana itu. Kalau tesnya hanya seperti ini untuk apa dilakukan tender.
            Ini pasti soal jebakan yang memerlukan intelegensi tinggi untuk menjawabnya. Sebelum mengikuti tender ini, ia sudah diperingatkan oleh rekan-rekan sejawatnya kalau pejabat Indonesia  itu rumit. Maunya satu macam, yaitu duit, tetapi caranya macam-macam yang kadang-kadang cara itu sulit untuk dimengerti oleh orang dusun atau orang yang pikirannya ndeso, lugu atau polos.
            Tetapi dia pun punya sistem sendiri dalam menjalankan bisnisnya dimana kunci yang terpentingnya adalah kejujuran.
            Jadi soal 5+5 itu oleh si orang Arab dengan tegas dijawab : Sepuluh.
            Panitia tender kembali memeriksanya.
            “Apakah ada jawaban lain?” Tanyanya.
            “Sepuluh.”
            “Pikir sekali lagi.”
            “Sepuluh.”
            Panitia tender pun menuliskan beberapa catatan : Jujur, punya pendirian, ditolak.
Dua kali melaksanakan proses tender hasilnya benar-benar selalu mengecewakan panitia tender. Tak ada yang sesuai kemauan mereka. Kalau hasilnya selalu seperti ini, dari mana mereka akan punya keuntungan. Dalam bisnis tidak dibutuhkan idealisme. Bisnis itu kalau ingin untung maka harus serakah, tegaan, menggunting dalam lipatan, dan mesti berani melakukan KKN.
Jadi mereka rehat dulu. Hari kelima barulah mereka lihat peserta tender berikutnya. Ternyata dari Indonesia.
“Kawan kita sendiri,” Kata mereka antara bersemangat dan pesimis. Sudah terkenal di kalangan bisnis, kalau pengusaha Indonesia itu selain punya prinsip tahu sama tahu, tapi mereka juga punya dua kepribadian ganda yang digabung menjadi satu, yaitu licik dan cerdik.
“Kita coba saja dulu,” Kata mereka memutuskan. Pengusaha Indonesia pun dipanggil. Karena dengan orang sendiri, jadi tes itu mereka lakukan secara lisan tanpa formalitas.
“Berapa lima tambah lima?”
“Sepuluh.”
“Yang lain?”
“Dua puluh.”
“Pikir sekali lagi.”
“Tiga puluh.”
Panitia tender tertawa senang mendengar jawaban itu dan menuliskan beberapa catatan : Ahli me-mark up, bisa diajak kerja sama, diterima.

“Ah, ini sih biasa,” Kata seorang koruptor saat mengetahui hasil tender tersebut.
“Bagi kami 5+5 itu bisa berapa saja hasilnya. Asal jangan sampai sepuluh.”
Nah, bingung kan?