Gusdur memang hebat. Dengan kondisi
fisiknya yang ‘sederhana dan bersahaja’ itu dia akhirnya oleh kelompok politik
Poros Tengah made in Amin Rais berhasil dinobatkan menjadi Presiden RI setelah
melalui pertarungan sengit di DPR. Sepak terjang serta omongannya kerap
menimbulkan kontroversi. Salah satunya adalah ketika dia mengatakan bahwa DPR
itu seperti Play Group alias taman kanak-kanak karena ketidak dewasaannya dalam
menyikap aspirasi rakyat.
Maksudnya, mereka itu kalau sudah
punya keinginan maunya di iyain aja. Kalau tidak, maka mereka akan ngambek.
Nah, salah satunya adalah keinginan untuk punya gedung DPR yang baru yang
memerlukan anggaran sekitar satu trilyun koma sekian.
Rakyat tentu saja protes. Tapi
seperti kata pepatah, Kafilah menggonggong, Anjing tetaplah berlalu. Maka,
gedung baru DPR pun siap dibangun. Dibentuklah panitia tendernya.
Lantas dengan penuh rasa bahagia dan
suka cita diadakanlah tender dengan beberapa perusahaan nasional dan
internasional.
Tidak sebagaimana lajimnya tender,
tender kali ini dilakukan dalam ruangan tertutup dan setiap perusahaan cukup
mengirimkan wakilnya saja untuk
menjalani tes oleh panitia tender.
“Perusahaan China !” Panitia tender
berteriak.
Seorang pria pendek dan bermata agak
sipit, ditemani sekretarisnya, seorang wanita tinggi semampai yang tampak
terpelajar tergopoh-gopoh memasuki ruangan.
“Silahkan duduk. Kami akan segera
memulai tes.” Kata panitia tender.
“Terima kasih, pak.”
Dari belakang mejanya panitia tender
mengeluarkan beberapa lembar kertas. Selembar diantaranya diserahkan kepada
pihak dari perusahaan China itu.
“Tes ini sederhana saja. Anda
tinggal memberikan jawaban yang benar untuk pertanyaan di atas kertas ini.”
Orang China itu memeriksa lembar
pertanyaan tes yang diserahkan ke hadapannya. Nah, keningnya langsung
berlipat-lipat seperti hendak menggulung dengan sendirinya. Dia pantas untuk
heran. Tadinya ia dan sekretarisnya sudah membayangkan akan diberi tes yang
rumit yang berhubungan dengan perusahaan atau proyek yang akan menjadi
garapannya. Ternyata yang tertera di atas kertas hanya..
5+5 =……?
Sesaat orang China dan sekretarisnya
saling tengok-tengokan.
“Apa ini nggak salah, pak?” Orang
China itu meminta klarifikasi.
“Oh, sama sekali tidak. Memang
seperti inilah tesnya. Silahkan dijawab.”
Tentu saja itu amat mudah. Anak
balita pun tau jawabannya. Orang China itu langsung menuliskan angka 10 di
kertas jawabannya kemudian diserahkan kepada panitia tender.
“Sudah, pak. Ini silahkan
diperiksa.”
Panitia tender meliriknya sekilas
dan bertanya,
“Ada jawaban yang lain nggak?”
“Ada, pak. Yaitu Sembilan, pak.”
“Pikir sekali lagi.”
“Delapan !”
Panitia tender pun menuliskan
beberapa catatan : Hemat, punya akal di
tolak.
Hari kedua tender kembali
dilaksanakan. Kali ini yang dipanggil adalah perusahaan dari Timur Tengah.Yang
datang mewakili perusahaannya hanya seorang saja. Pria arab yang tinggi besar
dan berhidung mancung dan berkulit agak hitam.
Seperti yang kemarin, panitia tender
pun memberikan soal yang sama kepada orang dari perusahaan Timur Tengah itu.
Si pria Arab tampak tertegun membaca
soal yang tertera di kertas tesnya. Memang hanya soal 5+5 =…………? Tetapi
menurutnya ini tidaklah sesederhana itu. Kalau tesnya hanya seperti ini untuk
apa dilakukan tender.
Ini pasti soal jebakan yang
memerlukan intelegensi tinggi untuk menjawabnya. Sebelum mengikuti tender ini,
ia sudah diperingatkan oleh rekan-rekan sejawatnya kalau pejabat Indonesia itu rumit. Maunya satu macam, yaitu duit,
tetapi caranya macam-macam yang kadang-kadang cara itu sulit untuk dimengerti
oleh orang dusun atau orang yang pikirannya ndeso, lugu atau polos.
Tetapi dia pun punya sistem sendiri
dalam menjalankan bisnisnya dimana kunci yang terpentingnya adalah kejujuran.
Jadi soal 5+5 itu oleh si orang Arab
dengan tegas dijawab : Sepuluh.
Panitia tender kembali memeriksanya.
“Apakah ada jawaban lain?” Tanyanya.
“Sepuluh.”
“Pikir sekali lagi.”
“Sepuluh.”
Panitia tender pun menuliskan
beberapa catatan : Jujur, punya
pendirian, ditolak.
Dua
kali melaksanakan proses tender hasilnya benar-benar selalu mengecewakan
panitia tender. Tak ada yang sesuai kemauan mereka. Kalau hasilnya selalu
seperti ini, dari mana mereka akan punya keuntungan. Dalam bisnis tidak
dibutuhkan idealisme. Bisnis itu kalau ingin untung maka harus serakah, tegaan,
menggunting dalam lipatan, dan mesti berani melakukan KKN.
Jadi
mereka rehat dulu. Hari kelima barulah mereka lihat peserta tender berikutnya.
Ternyata dari Indonesia.
“Kawan
kita sendiri,” Kata mereka antara bersemangat dan pesimis. Sudah terkenal di
kalangan bisnis, kalau pengusaha Indonesia itu selain punya prinsip tahu sama
tahu, tapi mereka juga punya dua kepribadian ganda yang digabung menjadi satu,
yaitu licik dan cerdik.
“Kita
coba saja dulu,” Kata mereka memutuskan. Pengusaha Indonesia pun dipanggil.
Karena dengan orang sendiri, jadi tes itu mereka lakukan secara lisan tanpa
formalitas.
“Berapa
lima tambah lima?”
“Sepuluh.”
“Yang
lain?”
“Dua
puluh.”
“Pikir
sekali lagi.”
“Tiga
puluh.”
Panitia
tender tertawa senang mendengar jawaban itu dan menuliskan beberapa catatan : Ahli me-mark up, bisa diajak kerja sama,
diterima.
“Ah, ini sih biasa,” Kata seorang
koruptor saat mengetahui hasil tender tersebut.
“Bagi kami 5+5 itu bisa berapa saja
hasilnya. Asal jangan sampai sepuluh.”
Nah, bingung kan?