Jumat, 06 Mei 2016

Tinem binti Marjuki



 





            Tina nama yang tertera di E-Ktp-nya. Kulit putih bersih, rambut pendek sebahu, dan bulu mata lentik karena terbuat dari bahan imitasi. Tina seorang artis dangdut ibu kota meski baru sebatas artis amatiran.

Dua hari lalu Tina pulang kampung. Dua orang pemuda tukang angon Kerbau sedang membincangkannya. Mereka adalah Tono dan Pardi. Dua-duanya bekas teman kecil Tina.

            “Tapi aku ‘ga suka sama gayanya yang sombong itu. Aku akan pelet dia, Ton. Biar tau rasa.” Cetus Pardi penuh dendam.

            Tono nyengir. Menurut anggapannya pantas kalau si Tina itu sombong. Dia kan sudah jadi artis. Semua orang mengenalnya karena sering tampil di tivi.

            Pangkal masalahnya terjadi kemarin sore. Pardi yang sedang menggiring pulang kerbau-kerbaunya ketemu Tina di jalan kampung. Sebagai teman semasa kecil Pardi tentu menyapa dengan sebuah pertanyaan ramah,

            “Habis dari mana?”

            Harapannya mereka lalu bisa mengobrol ngalor-ngidul.

            “Habis maen !”

            Tina memang menjawab pertanyaannya. Tapi demi Tuhan, hal itu dilakukan sambil membuang muka dan menutupi hidung. Sebuah pertanda kalau keberadaan Pardi beserta Kerbau-Kerbaunya sudah mengganggu penciumannya.

            “Maap, bau ya, neng?”

            “Sudah tau bau, kenapa nggak cepet minggir?” Tina menjawab dengan bibir manyun.

            Diperlakukan seperti itu, kontan hati Pardi remuk-redam. Dendam pun langsung menjalar seperti serabut akar Singkong.  ***

Sebenarnya waktu masih seumuran anak Smp Pardi pernah naksir Tina. Tapi rasa itu dipendamnya saja sampai Tina menjadi bunga mekar lalu hijrah ke kota mengejar cita-citanya menjadi penyanyi dangdut.

            Tinggallah Pardi sendiri dan gigit jari. Tidur tidak enak makan pun demikian.  Pardi mengutuki kebodohannya kenapa dulu dia tidak berani berterus-terang soal perasaannya. Sekarang kesempatan itu terkuak lagi di depan matanya. Yakni saat mendengar sang dara pulang ke ‘kandangnya’.

Pardi benar-benar sumringah. Terasa cinta yang pernah layu mekar kembali.

            Namun apa daya ternyata ketika mereka bertemu bukan senyum manis yang diterimanya. Malah penghinaan yang meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.

            Jadi memang Tina pantas untuk didukunin!

            Pardi sibuk bertanya kesana-kemari mencari dukun manjur. Semua orang dia tanyai. Akhirnya ada yang memberitahukannya kalau di kampung sebelah ada dukun sakti. Namanya mbah Brewok. Sang dukun katanya punya pelet legendaris yang bernama Jaran Goyang.

Pardi langsung bertolak menuju kediaman mbah Brewok. Tidak seperti dukum kampung kebayakan, rumah mbah Brewok ternyata amat mentereng. Bertingkat dua dan punya mobil sedan keluaran terbaru.

Mbah Brewok menyambut kedatangan Pardi penuh keramahan. Permintaan Pardi supaya Tina jatuh hati kepadanya, tanpa ba-bi-bu lagi langsung disanggupi. Tapi sebelumnya Pardi harus membayar mahar dulu. Besarnya setengah juta.

            Tanpa pikir panjang Pardi setuju. Celengan emak pun di rumah diboboknya tanpa sepengetahuan sang emak. ***

“Tina binti Marjuki… Tina binti Marjuki….. Datanglah kepada akang..”

“Tina binti Marjuki… Tina binti Marjuki….. Datanglah kepada akang..”

Seperti itulah mantera pellet Jaran Goyang yang diberikan mbah Brewok kepada Pardi. Selain mantera, Pardi pun dibekalinya sekantung menyan yang harus ditabur mengelilingi rumah Tina. Waktunya harus tengah malam.

            Begitu Tina melangkahi kemenyan itu, maka pelet si Jaran goyang akan langsung bereaksi. Tina akan langsung merengek-rengek minta dijadikan pacar oleh Pardi. Di matanya Pardi akan terlihat sangat ganteng seperti bintang sinetron.

            Membayangkan itu Pardi nyengir sendiri.***

Setelah menjalankan ritualnya sekejap pun Pardi tidak bisa tidur. Ingin malam segera berganti pagi. Ingin segera melihat mimpinya jadi kenyataan. Alangkah bahagianya punya kekasih secantik Tina. Semua pemuda di kampungnya pasti akan gigit jari penuh iri.

            Karena tidak bisa tidur, Pardi jadi kesiangan. Dengan masih berselimut sarung Pardi menemui emaknya yang sedang memasak di dapur. Minum seteguk kopi yang sudah disediakan untuknya, lalu bertanya,

            “Tadi si Tina ada kesini nggak, mak?”

            Emak melongo.

            “Mimpi apa kamu semalam, bangun-bangun langsung nanyain si Tina?”

            Berarti jawabannya tidak. Pardi pun beranjak menuju ke sumur untuk mandi. Namun emak mencegat langkahnya. Menanyakan celengannya yang isinya raib. Pardi ceritakan saja semuanya dengan jujur bahwa celengan itu ia pake untuk membeli pelet Jaran goyang.

            Emak  marah.

            “Itu celengan buat lebaran, Pardi. Kenapa kamu pake buat ke dukun? Eling nak, eliiing. Maen dukun itu haram. Allah nggak ridha. Emak juga nggak setuju kamu hubungan sama si Tina. Kita ini siapa dan dia siapa? Orang tuanya pasti nggak ngijinin punya calon mantu orang miskin. Artis itu pacarnya artis lagi. Liat aja di tivi.”

            Diberi nasehat Pardi malah bersungut-sungut. Ia malah lebih nekat lagi.

            “Nanti siang Pardi mau ngejual kerbau satu buat modal, mak “

            “Bapakmu nggak akan rela, Pardi. Itu modal hidup kita satu-satunya !” Jerit emak.

            “Bapak udah mati, mak !” Pardi menjawab sambil ngeloyor.

            Sore-sore saat matahari baru miring sedikit ke arah barat, Pardi sudah berdiri di depan pintu rumah Tina.

            “Assalamualaikum !” Dia ucapkan salam dengan jantung deg-degan/.

            “Wa alaikum salam,” Ada jawaban dari dalam. Seolah kebetulan, Tina sendiri yang membukakan pintu. Dandanannya sudah rapi. Wajah menor oleh make up aneka warna. Sebuah tas mungil menggelantung di pundaknya. Sepertinya Tina mau pergi.

            “Ada apa ya?” Tanya Tina dengan kening berkeriut.

            “Mau ketemu neng Tina. Sepertinya mau pergi ya?”

            “Iya…” Tina menjawab ragu-ragu. Lalu menyusul,

            “Bang Pardi mau nggak nemenin Tina?”

            Tuhan, rasanya ingin berjoget Pardi detik itu juga saking bahagianya. Ternyata peletnya sukses total.

            “Siap, neng Tina. Kita kemana?”

            “Temenin Tina ke pasar, bang.”

Dada Pardi seakan meledak saking bahagianya. Wajahnya cerah ceria. Celotehnya seperti burung Kutilang mengajak Tina berbincang. Anehnya, Tina yang beberapa hari lalu sempat ketus kepada Pardi sekarang berubah jadi penuh senyum.

            Di pasar segala barang keperluan memasak diborongnya. Pardi yang membayari dengan modal hasil menjual kerbaunya. Tangisan emak supaya dia mengurungkan niatnya sama sekali tidak digubrisnya.

            Semua demi Tina. Termasuk ketika Tina hendak pulang oleh Pardi ditahannya dulu.

            “Nggak sekalian belanja bajunya, neng?”

            “Ah, tina nggak punya uang, bang Pardi,” Tina mendelik manja.

            Dada Pardi sesak melihat delikan mata Tina.

            “Uang nggak masalah, Neng. Kan ada abang.”

            “Ih, bang Pardi baik deh,” Puji Tina sambil tiba-tiba dan tiada disangka ia mencium pipi Pardi.

Pardi hampir semaput. Ia melihat langit di atasnya seperti penuh pelangi dan para bidadari turun mengerubunginya. Sedangkan dari dalam kantong, uang hasil penjualan kerbaunya tak terasa mengalir deras membayari baju-baju belanjaan Tina hingga ludes tak tersisa.

Lalu terjadilah bencana itu. Diawali oleh sebuah mobil sedan yang berhenti tepat di samping mereka yang sedang menunggu angkot. Dari balik kemudi turun seorang pria berdasi yang sudah agak berumur menghampiri Tina dan Pardi.

            Pardi heran. Terutama karena melihat Tina yang jadi kegirangan melihat pria itu.

            “Siapa dia?” Tanya Pardi.

            Dan Tina menjawab tanpa perasaan berdosa.

            “Oh, ini produser rekaman saya, bang Pardi. Ceritanya dia mau ngelamar Tina hari ini. Makanya Tina sempet-sempetin belanja buat masak. Untung ada bang Pardi yang bantuin. Makasih banyak, ya bang.”

            “Hah, ma… mau ngelamar neng Tina?!”

            “Iya, bang. Kenapa?”

            “Jadi… jadi semua ini juga ciuman tadi bukan karena neng Tina naksir abang?” Pardi shock berat.

             Sekarang gantian Tina yang melongo lalu disusul tawanya berderai,

            “Aduuuh… bang Pardi, mana mungkin saya naksir bang Pardi. Ngaca dulu dong. Masa artis pacaran sama tukang angon kebo. Nggak level. Soal ciuman tadi di kalangan artis sih udah biasa. Bukan karena cinta. Jangan ge-er deh.”

            Pardi bisa merasakan hatinya yang retak lalu pelan-pelan berubah jadi serpihan kecil. Lebih menyakitkan lagi ketika si cowok berdasi itu tersenyum sinis meremehkannya.

            “Jadi ini si tukang angon kerbo yang katanya naksir kamu itu?”

            Disebut ‘si tukang angon kebo’ Pardi yang sudah panas jadi makin naik pitam. Kebetulan di situ ada kotoran kerbo. Oleh Pardi langsung diraupnya dan dilemparkan ke mobil sedan si cowok berdasi.

            Si Cowok berdasi merah mukanya dan balik memukul Pardi.

            Pardi balas menyerang.

            Mereka terlibat baku hantam. Tina menjerit-jerit histeris.

            Orang sepasar berdatangan melerai. Pardi ditekuk beramai-ramai karena meronta-ronta ingin dilepaskan. Pardi berteriak-teriak.

            “Kalo berani maju sini luh!. Hei, Tina, dasar artis kapiran. Kembaliin duit gue. Dasar matre, tukang eret…!”

            Tina cuek saja digandeng masuk ke dalam sedan oleh calon tunangannya.***

Pardi termenung di tegalan memandangi kerbaunya yang tinggal seekor.                 Alangkah enaknya menjadi kerbau tanpa harus merasakan yang namanya sakit hati, gumam Pardi. Semua ini ternyata bukan tentang cinta. Siapakah yang tolol dalam hal ini? Dirinya yang terlalu lugu atau si artis kampungan itu yang pandai menipu?

Duit ludes, kerbo juga tinggal satu. Ternyata emak benar. Dirinya terlalu naïf.

            Tono datang dan menghiburnya. Supaya mengikhlaskan Tina. Jodoh memang tidak bisa dipaksa-paksa. Tetapi kata Pardi, bukan hanya Tina yang ia sesali. Dukun sialan itu juga tidak luput dari kutukannya. Mantera Jaran Goyang itu ternyata ngibul.

            Tono jadi tertarik.

.           “Memang seperti apa sih manteranya?”

            “Tina binti Marjuki, Tina binti Marjuki datanglah kepada akang. Dibaca tiga kali sambil mengelilingi rumahnya.” Jawab Pardi.

            Tidak disangka, mendengar  itu tawa Tono meledak sampai terpingkal-pingkal.

            “Menurutku dalam hal ini kamu juga yang salah. Apa kamu nggak inget kalo nama asli si Tina itu adalah Tinem. Tinem binti Marjuki. Tina itu nama alias aja karena sudah jadi artis. Hahaha…”

Pardi kian terkapar.  *** Tamat.

Cicinde, maret, 2016.