Tina nama yang tertera di E-Ktp-nya.
Kulit putih bersih, rambut pendek sebahu, dan bulu mata lentik karena terbuat
dari bahan imitasi. Tina seorang artis dangdut ibu kota meski baru sebatas
artis amatiran.
Dua
hari lalu Tina pulang kampung. Dua orang pemuda tukang angon Kerbau sedang
membincangkannya. Mereka adalah Tono dan Pardi. Dua-duanya bekas teman kecil
Tina.
“Tapi aku ‘ga suka sama gayanya yang
sombong itu. Aku akan pelet dia, Ton. Biar tau rasa.” Cetus Pardi penuh dendam.
Tono nyengir. Menurut anggapannya
pantas kalau si Tina itu sombong. Dia kan sudah jadi artis. Semua orang
mengenalnya karena sering tampil di tivi.
Pangkal masalahnya terjadi kemarin
sore. Pardi yang sedang menggiring pulang kerbau-kerbaunya ketemu Tina di jalan
kampung. Sebagai teman semasa kecil Pardi tentu menyapa dengan sebuah
pertanyaan ramah,
“Habis dari mana?”
Harapannya mereka lalu bisa
mengobrol ngalor-ngidul.
“Habis maen !”
Tina memang menjawab pertanyaannya. Tapi
demi Tuhan, hal itu dilakukan sambil membuang muka dan menutupi hidung. Sebuah
pertanda kalau keberadaan Pardi beserta Kerbau-Kerbaunya sudah mengganggu
penciumannya.
“Maap, bau ya, neng?”
“Sudah tau bau, kenapa nggak cepet
minggir?” Tina menjawab dengan bibir manyun.
Diperlakukan seperti itu, kontan
hati Pardi remuk-redam. Dendam pun langsung menjalar seperti serabut akar
Singkong. ***
Sebenarnya
waktu masih seumuran anak Smp Pardi pernah naksir Tina. Tapi rasa itu
dipendamnya saja sampai Tina menjadi bunga mekar lalu hijrah ke kota mengejar
cita-citanya menjadi penyanyi dangdut.
Tinggallah Pardi sendiri dan gigit
jari. Tidur tidak enak makan pun demikian. Pardi mengutuki kebodohannya kenapa dulu dia
tidak berani berterus-terang soal perasaannya. Sekarang kesempatan itu terkuak
lagi di depan matanya. Yakni saat mendengar sang dara pulang ke ‘kandangnya’.
Pardi
benar-benar sumringah. Terasa cinta yang pernah layu mekar kembali.
Namun apa daya ternyata ketika
mereka bertemu bukan senyum manis yang diterimanya. Malah penghinaan yang
meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
Jadi memang Tina pantas untuk
didukunin!
Pardi sibuk bertanya kesana-kemari mencari
dukun manjur. Semua orang dia tanyai. Akhirnya ada yang memberitahukannya kalau
di kampung sebelah ada dukun sakti. Namanya mbah Brewok. Sang dukun katanya
punya pelet legendaris yang bernama Jaran Goyang.
Pardi
langsung bertolak menuju kediaman mbah Brewok. Tidak seperti dukum kampung
kebayakan, rumah mbah Brewok ternyata amat mentereng. Bertingkat dua dan punya
mobil sedan keluaran terbaru.
Mbah
Brewok menyambut kedatangan Pardi penuh keramahan. Permintaan Pardi supaya Tina
jatuh hati kepadanya, tanpa ba-bi-bu lagi langsung disanggupi. Tapi sebelumnya
Pardi harus membayar mahar dulu. Besarnya setengah juta.
Tanpa pikir panjang Pardi setuju. Celengan
emak pun di rumah diboboknya tanpa sepengetahuan sang emak. ***
“Tina
binti Marjuki… Tina binti Marjuki….. Datanglah kepada akang..”
“Tina
binti Marjuki… Tina binti Marjuki….. Datanglah kepada akang..”
Seperti
itulah mantera pellet Jaran Goyang yang diberikan mbah Brewok kepada Pardi.
Selain mantera, Pardi pun dibekalinya sekantung menyan yang harus ditabur
mengelilingi rumah Tina. Waktunya harus tengah malam.
Begitu Tina melangkahi kemenyan itu,
maka pelet si Jaran goyang akan langsung bereaksi. Tina akan langsung
merengek-rengek minta dijadikan pacar oleh Pardi. Di matanya Pardi akan
terlihat sangat ganteng seperti bintang sinetron.
Membayangkan itu Pardi nyengir
sendiri.***
Setelah
menjalankan ritualnya sekejap pun Pardi tidak bisa tidur. Ingin malam segera
berganti pagi. Ingin segera melihat mimpinya jadi kenyataan. Alangkah bahagianya
punya kekasih secantik Tina. Semua pemuda di kampungnya pasti akan gigit jari
penuh iri.
Karena tidak bisa tidur, Pardi jadi kesiangan.
Dengan masih berselimut sarung Pardi menemui emaknya yang sedang memasak di
dapur. Minum seteguk kopi yang sudah disediakan untuknya, lalu bertanya,
“Tadi si Tina ada kesini nggak,
mak?”
Emak melongo.
“Mimpi apa kamu semalam,
bangun-bangun langsung nanyain si Tina?”
Berarti jawabannya tidak. Pardi pun beranjak
menuju ke sumur untuk mandi. Namun emak mencegat langkahnya. Menanyakan
celengannya yang isinya raib. Pardi ceritakan saja semuanya dengan jujur bahwa
celengan itu ia pake untuk membeli pelet Jaran goyang.
Emak marah.
“Itu celengan buat lebaran, Pardi.
Kenapa kamu pake buat ke dukun? Eling nak, eliiing. Maen dukun itu haram. Allah
nggak ridha. Emak juga nggak setuju kamu hubungan sama si Tina. Kita ini siapa
dan dia siapa? Orang tuanya pasti nggak ngijinin punya calon mantu orang miskin.
Artis itu pacarnya artis lagi. Liat aja di tivi.”
Diberi nasehat Pardi malah
bersungut-sungut. Ia malah lebih nekat lagi.
“Nanti siang Pardi mau ngejual
kerbau satu buat modal, mak “
“Bapakmu nggak akan rela, Pardi. Itu
modal hidup kita satu-satunya !” Jerit emak.
“Bapak udah mati, mak !” Pardi menjawab
sambil ngeloyor.
Sore-sore
saat matahari baru miring sedikit ke arah barat, Pardi sudah berdiri di depan
pintu rumah Tina.
“Assalamualaikum !” Dia ucapkan
salam dengan jantung deg-degan/.
“Wa alaikum salam,” Ada jawaban dari
dalam. Seolah kebetulan, Tina sendiri yang membukakan pintu. Dandanannya sudah
rapi. Wajah menor oleh make up aneka warna. Sebuah tas mungil menggelantung di
pundaknya. Sepertinya Tina mau pergi.
“Ada apa ya?” Tanya Tina dengan
kening berkeriut.
“Mau ketemu neng Tina. Sepertinya
mau pergi ya?”
“Iya…” Tina menjawab ragu-ragu. Lalu
menyusul,
“Bang Pardi mau nggak nemenin Tina?”
Tuhan, rasanya ingin berjoget Pardi
detik itu juga saking bahagianya. Ternyata peletnya sukses total.
“Siap, neng Tina. Kita kemana?”
“Temenin Tina ke pasar, bang.”
Dada
Pardi seakan meledak saking bahagianya. Wajahnya cerah ceria. Celotehnya
seperti burung Kutilang mengajak Tina berbincang. Anehnya, Tina yang beberapa
hari lalu sempat ketus kepada Pardi sekarang berubah jadi penuh senyum.
Di pasar segala barang keperluan
memasak diborongnya. Pardi yang membayari dengan modal hasil menjual kerbaunya.
Tangisan emak supaya dia mengurungkan niatnya sama sekali tidak digubrisnya.
Semua demi Tina. Termasuk ketika
Tina hendak pulang oleh Pardi ditahannya dulu.
“Nggak sekalian belanja bajunya,
neng?”
“Ah, tina nggak punya uang, bang
Pardi,” Tina mendelik manja.
Dada Pardi sesak melihat delikan
mata Tina.
“Uang nggak masalah, Neng. Kan ada
abang.”
“Ih, bang Pardi baik deh,” Puji Tina
sambil tiba-tiba dan tiada disangka ia mencium pipi Pardi.
Pardi
hampir semaput. Ia melihat langit di atasnya seperti penuh pelangi dan para
bidadari turun mengerubunginya. Sedangkan dari dalam kantong, uang hasil
penjualan kerbaunya tak terasa mengalir deras membayari baju-baju belanjaan
Tina hingga ludes tak tersisa.
Lalu
terjadilah bencana itu. Diawali oleh sebuah mobil sedan yang berhenti tepat di
samping mereka yang sedang menunggu angkot. Dari balik kemudi turun seorang
pria berdasi yang sudah agak berumur menghampiri Tina dan Pardi.
Pardi heran. Terutama karena melihat
Tina yang jadi kegirangan melihat pria itu.
“Siapa dia?” Tanya Pardi.
Dan Tina menjawab tanpa perasaan
berdosa.
“Oh, ini produser rekaman saya, bang
Pardi. Ceritanya dia mau ngelamar Tina hari ini. Makanya Tina sempet-sempetin
belanja buat masak. Untung ada bang Pardi yang bantuin. Makasih banyak, ya
bang.”
“Hah, ma… mau ngelamar neng Tina?!”
“Iya, bang. Kenapa?”
“Jadi… jadi semua ini juga ciuman
tadi bukan karena neng Tina naksir abang?” Pardi shock berat.
Sekarang gantian Tina yang melongo lalu
disusul tawanya berderai,
“Aduuuh… bang Pardi, mana mungkin
saya naksir bang Pardi. Ngaca dulu dong. Masa artis pacaran sama tukang angon
kebo. Nggak level. Soal ciuman tadi di kalangan artis sih udah biasa. Bukan
karena cinta. Jangan ge-er deh.”
Pardi bisa merasakan hatinya yang
retak lalu pelan-pelan berubah jadi serpihan kecil. Lebih menyakitkan lagi
ketika si cowok berdasi itu tersenyum sinis meremehkannya.
“Jadi ini si tukang angon kerbo yang
katanya naksir kamu itu?”
Disebut ‘si tukang angon kebo’ Pardi
yang sudah panas jadi makin naik pitam. Kebetulan di situ ada kotoran kerbo.
Oleh Pardi langsung diraupnya dan dilemparkan ke mobil sedan si cowok berdasi.
Si Cowok berdasi merah mukanya dan
balik memukul Pardi.
Pardi balas menyerang.
Mereka terlibat baku hantam. Tina
menjerit-jerit histeris.
Orang sepasar berdatangan melerai.
Pardi ditekuk beramai-ramai karena meronta-ronta ingin dilepaskan. Pardi
berteriak-teriak.
“Kalo berani maju sini luh!. Hei,
Tina, dasar artis kapiran. Kembaliin duit gue. Dasar matre, tukang eret…!”
Tina cuek saja digandeng masuk ke
dalam sedan oleh calon tunangannya.***
Pardi
termenung di tegalan memandangi kerbaunya yang tinggal seekor. Alangkah enaknya menjadi kerbau
tanpa harus merasakan yang namanya sakit hati, gumam Pardi. Semua ini ternyata
bukan tentang cinta. Siapakah yang tolol dalam hal ini? Dirinya yang terlalu
lugu atau si artis kampungan itu yang pandai menipu?
Duit
ludes, kerbo juga tinggal satu. Ternyata emak benar. Dirinya terlalu naïf.
Tono datang dan menghiburnya. Supaya
mengikhlaskan Tina. Jodoh memang tidak bisa dipaksa-paksa. Tetapi kata Pardi,
bukan hanya Tina yang ia sesali. Dukun sialan itu juga tidak luput dari
kutukannya. Mantera Jaran Goyang itu ternyata ngibul.
Tono jadi tertarik.
.
“Memang seperti apa sih
manteranya?”
“Tina binti Marjuki, Tina binti
Marjuki datanglah kepada akang. Dibaca tiga kali sambil mengelilingi rumahnya.”
Jawab Pardi.
Tidak disangka, mendengar itu tawa Tono meledak sampai
terpingkal-pingkal.
“Menurutku dalam hal ini kamu juga
yang salah. Apa kamu nggak inget kalo nama asli si Tina itu adalah Tinem. Tinem
binti Marjuki. Tina itu nama alias aja karena sudah jadi artis. Hahaha…”
Pardi
kian terkapar. *** Tamat.
Cicinde,
maret, 2016.