Senin, 02 Mei 2016

cerpen pertarungan




            Jalan berbatu menuju Beringin tua di puncak bukit Tegal Koneng malam itu hanya diterangi sinar bulan yang kuning pucat.

            Ahmad sendirian menuju ke sana. Selembar kain sarung melilit di lehernya untuk menahan hawa dingin yang mengalir dari puncak bukit. Satu jeliken minyak tanah menggelantung di tangannya. ***


“Itu Beringin keramat tempat orang nyari berkah, ustad. Siapa saja yang berdoa disana sambil membawa sajen pasti akan dikabulkan.” Ini cerita si abah yang menjadi tetangga Ahmad

 “Abah kata siapa?”

            “Mbah Tunggul. Kuncen di sana  yang ngomong. “

“Abah percaya?”

“Tentu saja, ustad. Udah banyak buktinya. Ada yang kaya mendadak, yang penyakitnya sembuh, yang dapet jodoh. Pokoknya banyaklah.”

Ahmad diam. Terjawab sudah keheranannya kenapa setiap malam Jum’at banyak orang kampung pergi kesana. ***



Mulanya Beringin itu hanya tempat bocah angon bermain dan menghindarkan diri dari terik matahari. Lalu seorang warga desa yang sudah lama sakit mendadak sembuh setelah dibawa ke sana atas petunjuk seorang dukun asalkan datangnya membawa sesajen.

Cerita itu lantas menyebar dari mulut ke mulut. Menggelitik rasa penasaran bagi yang mendengarnya. Berbondong-bondong orang datang. Dan ternyata sang Beringin membuktikan ‘kesaktiannya’. Cita-cita setiap pemujanya ditunaikannya tanpa harus berbelit dan melewati waktu yang lama. Sebagai tanda terima kasih, dikeramatkanlah si Beringin yang hanya terdiri dari batang kayu dan kumpulan dedaunan itu. Karena Beringin inilah banyak hajat kesampaian. Itu yang menjadi anggapan mereka. ***

             Sebenarnya Ahmad baru sebulan pulang kampung setelah lima tahun masantren. Tapi perilaku musyrik orang kampung tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Malam ini juga harus diakhirinya.

Bukit Tegal Koneng menghamparkan sepi waktu Ahmad menginjakan kaki di puncaknya. Tampak Beringin tua itu seperti gundukan jamur raksasa. Besarnya mungkin ada sepelukan tiga orang dewasa. Akarnya bertonjolan dari dalam tanah. Sulur-sulurnya berjuntaian di sepanjang dahannya. Di atasnya, di langit yang gelap ratusan Kelelawar beterbangan tak tentu arah.

Sebentar lagi binatang-binatang nokturnal itu akan menyaksikan Beringin ini dipenuhi nyala api. Mereka akan sama gegernya seperti orang-orang kampung di bawah sana. Yang komplotan hewan kehilangan rumah tinggal. Sementara yang komplotan manusia kehilangan setan yang mereka anggap sebagai dewa penolong.

Ahmad buka tutup jeliken minyak tanahnya. Bau minyak tanah samar-samar menyambar hidung. Mula-mula akar Beringin yang ia siram. Lalu naik ke batangnya. Terus ia kelilingkan hingga mencapai pertengahan.

Setelah dirasanya cukup, korek dikeluarkan.

 Disulut.

Lidah api memercik menjilat udara.

Sekejap terang.

Namun benar-benar hanya sekejap.

Jduk !

Ada yang memukul tangan Ahmad hingga korek yang dipegangnya terpental dan padam.

            Ahmad kaget. Ketika berbalik, di hadapannya berdiri sosok laki-laki tinggi kurus berkepala botak.

            “Siapa kau, dan mau apa disini?” Laki-laki itu bertanya.

            “Abah sendiri siapa? Apa abah yang namanya mbah Tunggul kuncen disini?”

            “Ya. Aku memang mbah Tunggul. Kau mau apa?”

            “Aku mau membakar pohon ini, abah. Karena pohon ini sudah menjadi sumber kesyirikan orang-orang.”

             Cuih !

 Mbah Tunggul meludah.

 “Datang-datang langsung ngomong syirik. Maksudmu apa? Apa kamu bicara soal orang-orang yang tiap malem jum’at datang kesini? Ketahuilah bocah, mereka itu kesini hanya untuk berdoa. Bukan mau syirik-syirikan. Apa doa harus selalu di dalem mesjid? Pikir dulu kalau ngomong. Dasar bocah kemaren sore?!”

“Doa memang boleh dimana saja. Tapi sama siapa dulu doanya, abah? Dan kenapa harus pake sesajen segala? Itu bertentangan dengan ajaran Islam karena sama dengan bentuk ketundukan kepada selain Allah. Haram hukumnya.”

“Heh, bocah, jangan salah paham. Sesajen itu cuma untuk melestarikan adat istiadat peninggalan leluhur kita supaya tidak sampai punah. Bukan mau menduakan Tuhan. Pikiranmu sungguh picik. Sudahlah, aku tau kau seorang ustad. Lebih baik pulang sana, tidur atau urus pengajianmu. Jangan ikut campur urusan orang tua. Urusan agama adalah napsi-napsi.”

            “Abah salah. Budaya adalah buatan manusia yang penuh dengan hawa napsu. Sedang agama adalah wahyu Ilahi yang suci, Keduanya tidak boleh dicampuradukan. Dalam Islam tidak ada istilah napsi-napsi. Shalat harus berjamaah, orang kaya harus jakat atau sedekah kepada orang miskin, dan kalau melihat kemunkaran harus diberantas. Kalau tidak dengan tangan, gunakan lisan, tidak bisa lisan dengan hati. Ngerti, abah?”

            “Kurang ajar !!! Kamu mau mengguruiku, hah?!?!!” Amarah mbah Tunggul meledak. Tiba-tiba ia  menerjang Ahmad.

            Ahmad meladeni. Di pesantren ia pernah belajar pencak silat. Jadi serangan mbah Tunggul bisa diimbanginya.

Mereka saling pukul dan saling tangkis.

Puncak bukit menjadi gaduh.

Bulan mengintip dari balik awan.

Lama kelamaan mbah Tunggul tidak bisa lagi meladeni serangan Ahmad. Lawannya itu masih muda. Tenaga melimpah ruah. Sementara dirinya tinggal tulang berbalut sedikit daging serta tenaga. Mbah Tunggul akhirnya memilih untuk menyerah.

“Aku minta ampun, ustadz. Aku mengaku kalah. Kau memang hebat.” Katanya.

            “Mohon ampun sama Allah, abah. Sekarang abah pulang. Pohon ini mau aku bakar.”

            Mbah Tunggul seolah mau berdiri. Yang sebenarnya otaknya sedang berpikir keras mencari siasat. Ia tidak rela kalau Beringin yang menjadi sumber rejekinya ini tumbang begitu saja.  

            “Maap, ustadz. Menurut abah, biarkan saja Beringin ini tumbuh apa adanya. Kalau ustadz membakar pohon ini berarti ustadz sudah merusak alam? Bukankah Islam melarang umatnya melakukan kerusakan di muka bumi? Menurut abah yang bodo, sumber kemusyrikan itu bukanlah Beringin ini. Melainkan hati orang-orang itu yang mudah digoyahkan imannya. Biar abah akan melarang mereka supaya jangan datang kesini lagi. Sayang kalau pohon sudah sebesar ini dibakar”.

            Sesaat Ahmad berpikir. Omongan itu ada benarnya juga.

            “Kau tidak akan bohong, abah?”  

            “Percayalah sama abah, ustadz. Abah kan sudah jadi taklukanmu. Bukan hanya tobat, abah juga akan mensodakohkan uang sumbangan jamaah yang selama ini abah kumpulkan untuk dibuat pengajian. Kalau abah ingkar kau boleh membawa orang-orang untuk menebang pohon ini dan mengusir abah.” Janji mbah Tunggul.

            Diam.

            Ahmad berpikir antara madharat dan manpaatnya membiarkan Beringin tua ini tetap ada. Akhirnya ia memutuskan untuk mempercayai mbah Tunggul. Malam itu sang Beringin tua masih berumur panjang. ***

Kuncen Tunggul menepati janjinya. Sejak kekalahannya tempo hari, ia telah melarang semua aktifitas ngalap berkah di bukit Tegal koneng. Bukit menjadi sepi dan tenang. Selain bocah angon dan piaraannya tidak kelihatan ada lagi yang berkeliaran di sana.

Lalu uang jamaah yang katanya akan disodakohkannya pun ditepatinya. Hanya saja uang-uang itu akan diserahkannya dalam tiga tahap setiap hari Jum’at. Sebab sebagian ia pinjamkan.

            Ahmad menerima saja. Yang penting kampungnya bebas dari kemusyrikan. Soal banyak yang membencinya karena tindakannya tersebut, Ahmad tidak ambil peduli. Ia tahu, mereka yang tidak puas itu adalah yang biasa berdagang di sana tiap musim ziarah tiba. Bahkan sampai ada yang mengancam akan melarang anak mereka ngaji di ustadz Ahmad.

             Ahmad hanya bisa mengusap dada. ***

 Benar, pada hari jum’at pertama, mbah Tunggul mengirimkan uang sodakoh pertamanya kepada Ahmad. Jumlahnya lumayan besar karena dalam hitungan puluhan juta. Sepertinya uang itu dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Sebagian ada yang hampir lecek.

Demikian pula pada Jum’at kedua. Namun kali ini jumlahnya tidak sebanyak yang pertama. Mbah Tunggul beralasan orang yang ia pinjami uang sedang kesulitan. Tidak mungkin ia memaksanya. Sebagai sesama orang kecil ia tau bagaimana susahnya mencari uang di jaman sekarang.

Ahmad hanya tersenyum kecil. Omongan mbah Tunggul seperti sengaja menyindirnya. Tanpa perlu bersusah-susah uang datang dengan sendirinya. Tetapi itu adalah konsekwensi dari sebuah janji. Seharusnya laki-laki itu berpikir dua kali sebelum mengucapnya.

Ahmad jadi penasaran. Berapa lagi sisa uang mbah Tunggul yang akan diberikan kepadanya Jum’at terakhir besok. Jadi dengan sengaja Ahmad menunggunya di rumah. Seharian tidak kemana-mana. Namun hingga matahari terbenam mbah Tunggul ternyata tidak kunjung menunjukan batang hidungnya.

Mungkin sakit, Ahmad membatin. Barangali besok.

Tetapi hari Sabtu pun berlalu tanpa kedatangan mbah Tunggul.

Ahmad mulai mencium gelagat tidak mengenakan. Kalau seperti ini caranya, terpaksa nanti malam ia akan naik lagi ke bukit Tegalkoneng. ***

Mbah tunggul tidak sedang sakit. Tidak juga sedang berhalangan. Bahkan malam itu ia sedang bersiap-siap. Di dalam gubuknya ia duduk bersila mengenakan baju pangsi serba hitam. Ustadz bau kencur itu malam ini pasti akan mendatanginya dan menanyakan kenapa dirinya tidak setor lagi.

Mbah tunggul akan menjawab dengan sebuah jawaban sinis. ‘Aku tidak mau memberimu lagi duit, ustad. Apa yang aku berikan sudah lebih dari cukup. Kalau mau duit usaha seperti orang-orang’.

Ustad Ahmad pasti marah. Ujung-ujungnya mereka akan bertarung lagi. Tapi mbah Tunggul tidak takut seperti pada pertarungan pertama mereka. Mungkin hanya dirinya yang tahu. Karena memiliki penglihatan waskita, mbah Tunggul melihat kalau malam itu ada kekuatan halus yang membantu Ahmad. Seperti malaikat.

Pantas kalau dirinya kalah. Menurut mbah Tunggul munculnya kekuatan itu pasti karena ketulusan niat Ahmad. Dia ingin menghancurkan kemaksiatan ini karena Allah. Bukan karena duniawi. Jadi Allah memberinya kekuatan.

Untuk menghadapi yang seperti itu tidak bisa dengan kekuatan otot. Harus otak. Jadi mbah Tunggul bersikap seperti dermawan yang begitu murah hati menyumbangkan semua hartanya.  Bukan harta yang halal. Melainkan harta haram hasil dari pemberian para memuja berhala berbentuk Beringin tua ini.

Kalau dalam darah ustadz tolol itu sudah mengalir harta yang haram, maka mudah sekali untuk menghancurkannya. Bahkan didiamkan pun akan binasa sendiri.

“Assalamua’laikum !”

Datang juga akhirnya.

Mbah Tunggul bangkit tanpa menjawab ucapan salam. Sebelum membuka pintu ia kencangkan dulu ikat pinggangnya. Lalu kakinya melangkah lebar. Pintu ia buka dengan cara menendangnya supaya mental lawannya jatuh.

Brak !

Tetapi mbah Tunggul sendiri justeru yang balik tersurut.

Di luar bukan hanya Ahmad seorang. Melainkan juga pak Lurah dan beberapa anak buahnya. Tergopoh-gopoh mbah Tunggul meminta maap. Kakinya kepleset, dia beralasan. Dipersilahkannya tamunya untuk duduk.

Ahmad langsung mengutarakan tujuan kedatangannya.

“Saya kira abah tahu apa tujuan saya datang ke sini. Benar abah, untuk mengambil setoran terakhir abah. Sebelumnya perlu saya jelaskan dulu tentang uang yang abah sumbangkan kepada saya. Sepeser pun saya tidak memakai uang itu. Semuanya saya serahkan kepada pak Lurah untuk membangun jalan desa. Ada pun sebagai timbal baliknya, pak Lurah menghibahkan lahan di bukit ini kepada saya untuk di bangun pesantren. Sementara sesuai perjanjian kita, bahwa kalau abah ingkar janji saya boleh membawa orang untuk mengusir abah. Jadi maap, abah. Karena abah sudah mengingkari kesepakatan kita soal penyerahan uang itu, abah terpaksa harus meninggalkan bukit ini.”

Selesai Ahmad berbicara, pak Lurah lalu menambahi.

“Benar abah semua yang dikatakan oleh ustadz Ahmad. Janji sebagai orang muslim dengan cara apa pun harus ditepati. Saya harap dalam hal ini abah maklum.”

Kepala mbah Tunggul terkulai. Dia kalah telak. ***  Tamat. Cicinde, Februari, 2016.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar