Jalan berbatu menuju Beringin tua di
puncak bukit Tegal Koneng malam itu hanya diterangi sinar bulan yang kuning
pucat.
Ahmad sendirian menuju ke sana.
Selembar kain sarung melilit di lehernya untuk menahan hawa dingin yang
mengalir dari puncak bukit. Satu jeliken minyak tanah menggelantung di
tangannya. ***
“Itu Beringin keramat tempat orang nyari berkah, ustad. Siapa saja yang berdoa disana sambil membawa sajen pasti akan dikabulkan.” Ini cerita si abah yang menjadi tetangga Ahmad
“Abah kata siapa?”
“Mbah Tunggul. Kuncen di sana yang ngomong. “
“Abah
percaya?”
“Tentu
saja, ustad. Udah banyak buktinya. Ada yang kaya mendadak, yang penyakitnya sembuh,
yang dapet jodoh. Pokoknya banyaklah.”
Ahmad
diam. Terjawab sudah keheranannya kenapa setiap malam Jum’at banyak orang
kampung pergi kesana. ***
Mulanya
Beringin itu hanya tempat bocah angon bermain dan menghindarkan diri dari terik
matahari. Lalu seorang warga desa yang sudah lama sakit mendadak sembuh setelah
dibawa ke sana atas petunjuk seorang dukun asalkan datangnya membawa sesajen.
Cerita
itu lantas menyebar dari mulut ke mulut. Menggelitik rasa penasaran bagi yang
mendengarnya. Berbondong-bondong orang datang. Dan ternyata sang Beringin
membuktikan ‘kesaktiannya’. Cita-cita setiap pemujanya ditunaikannya tanpa
harus berbelit dan melewati waktu yang lama. Sebagai tanda terima kasih, dikeramatkanlah
si Beringin yang hanya terdiri dari batang kayu dan kumpulan dedaunan itu. Karena
Beringin inilah banyak hajat kesampaian. Itu yang menjadi anggapan mereka. ***
Sebenarnya Ahmad baru sebulan pulang kampung
setelah lima tahun masantren. Tapi perilaku musyrik orang kampung tidak bisa dibiarkan
lebih lama lagi. Malam ini juga harus diakhirinya.
Bukit
Tegal Koneng menghamparkan sepi waktu Ahmad menginjakan kaki di puncaknya. Tampak
Beringin tua itu seperti gundukan jamur raksasa. Besarnya mungkin ada sepelukan
tiga orang dewasa. Akarnya bertonjolan dari dalam tanah. Sulur-sulurnya
berjuntaian di sepanjang dahannya. Di atasnya, di langit yang gelap ratusan
Kelelawar beterbangan tak tentu arah.
Sebentar
lagi binatang-binatang nokturnal itu akan menyaksikan Beringin ini dipenuhi
nyala api. Mereka akan sama gegernya seperti orang-orang kampung di bawah sana.
Yang komplotan hewan kehilangan rumah tinggal. Sementara yang komplotan manusia
kehilangan setan yang mereka anggap sebagai dewa penolong.
Ahmad
buka tutup jeliken minyak tanahnya. Bau minyak tanah samar-samar menyambar
hidung. Mula-mula akar Beringin yang ia siram. Lalu naik ke batangnya. Terus ia
kelilingkan hingga mencapai pertengahan.
Setelah
dirasanya cukup, korek dikeluarkan.
Disulut.
Lidah
api memercik menjilat udara.
Sekejap
terang.
Namun
benar-benar hanya sekejap.
Jduk
!
Ada
yang memukul tangan Ahmad hingga korek yang dipegangnya terpental dan padam.
Ahmad kaget. Ketika berbalik, di
hadapannya berdiri sosok laki-laki tinggi kurus berkepala botak.
“Siapa kau, dan mau apa disini?” Laki-laki
itu bertanya.
“Abah sendiri siapa? Apa abah yang
namanya mbah Tunggul kuncen disini?”
“Ya. Aku memang mbah Tunggul. Kau
mau apa?”
“Aku mau membakar pohon ini, abah. Karena
pohon ini sudah menjadi sumber kesyirikan orang-orang.”
Cuih !
Mbah Tunggul meludah.
“Datang-datang langsung ngomong syirik. Maksudmu
apa? Apa kamu bicara soal orang-orang yang tiap malem jum’at datang kesini? Ketahuilah
bocah, mereka itu kesini hanya untuk berdoa. Bukan mau syirik-syirikan. Apa doa
harus selalu di dalem mesjid? Pikir dulu kalau ngomong. Dasar bocah kemaren
sore?!”
“Doa
memang boleh dimana saja. Tapi sama siapa dulu doanya, abah? Dan kenapa harus
pake sesajen segala? Itu bertentangan dengan ajaran Islam karena sama dengan
bentuk ketundukan kepada selain Allah. Haram hukumnya.”
“Heh,
bocah, jangan salah paham. Sesajen itu cuma untuk melestarikan adat istiadat
peninggalan leluhur kita supaya tidak sampai punah. Bukan mau menduakan Tuhan. Pikiranmu
sungguh picik. Sudahlah, aku tau kau seorang ustad. Lebih baik pulang sana,
tidur atau urus pengajianmu. Jangan ikut campur urusan orang tua. Urusan agama
adalah napsi-napsi.”
“Abah salah. Budaya adalah buatan
manusia yang penuh dengan hawa napsu. Sedang agama adalah wahyu Ilahi yang
suci, Keduanya tidak boleh dicampuradukan. Dalam Islam tidak ada istilah
napsi-napsi. Shalat harus berjamaah, orang kaya harus jakat atau sedekah kepada
orang miskin, dan kalau melihat kemunkaran harus diberantas. Kalau tidak dengan
tangan, gunakan lisan, tidak bisa lisan dengan hati. Ngerti, abah?”
“Kurang ajar !!! Kamu mau mengguruiku,
hah?!?!!” Amarah mbah Tunggul meledak. Tiba-tiba ia menerjang Ahmad.
Ahmad meladeni. Di pesantren ia
pernah belajar pencak silat. Jadi serangan mbah Tunggul bisa diimbanginya.
Mereka
saling pukul dan saling tangkis.
Puncak
bukit menjadi gaduh.
Bulan
mengintip dari balik awan.
Lama
kelamaan mbah Tunggul tidak bisa lagi meladeni serangan Ahmad. Lawannya itu
masih muda. Tenaga melimpah ruah. Sementara dirinya tinggal tulang berbalut
sedikit daging serta tenaga. Mbah Tunggul akhirnya memilih untuk menyerah.
“Aku
minta ampun, ustadz. Aku mengaku kalah. Kau memang hebat.” Katanya.
“Mohon ampun sama Allah, abah.
Sekarang abah pulang. Pohon ini mau aku bakar.”
Mbah Tunggul seolah mau berdiri.
Yang sebenarnya otaknya sedang berpikir keras mencari siasat. Ia tidak rela
kalau Beringin yang menjadi sumber rejekinya ini tumbang begitu saja.
“Maap, ustadz. Menurut abah, biarkan
saja Beringin ini tumbuh apa adanya. Kalau ustadz membakar pohon ini berarti
ustadz sudah merusak alam? Bukankah Islam melarang umatnya melakukan kerusakan
di muka bumi? Menurut abah yang bodo, sumber kemusyrikan itu bukanlah Beringin
ini. Melainkan hati orang-orang itu yang mudah digoyahkan imannya. Biar abah
akan melarang mereka supaya jangan datang kesini lagi. Sayang kalau pohon sudah
sebesar ini dibakar”.
Sesaat Ahmad berpikir. Omongan itu
ada benarnya juga.
“Kau tidak akan bohong, abah?”
“Percayalah sama abah, ustadz. Abah
kan sudah jadi taklukanmu. Bukan hanya tobat, abah juga akan mensodakohkan uang
sumbangan jamaah yang selama ini abah kumpulkan untuk dibuat pengajian. Kalau
abah ingkar kau boleh membawa orang-orang untuk menebang pohon ini dan mengusir
abah.” Janji mbah Tunggul.
Diam.
Ahmad berpikir antara madharat dan
manpaatnya membiarkan Beringin tua ini tetap ada. Akhirnya ia memutuskan untuk
mempercayai mbah Tunggul. Malam itu sang Beringin tua masih berumur panjang. ***
Kuncen
Tunggul menepati janjinya. Sejak kekalahannya tempo hari, ia telah melarang
semua aktifitas ngalap berkah di bukit Tegal koneng. Bukit menjadi sepi dan
tenang. Selain bocah angon dan piaraannya tidak kelihatan ada lagi yang
berkeliaran di sana.
Lalu
uang jamaah yang katanya akan disodakohkannya pun ditepatinya. Hanya saja
uang-uang itu akan diserahkannya dalam tiga tahap setiap hari Jum’at. Sebab
sebagian ia pinjamkan.
Ahmad menerima saja. Yang penting kampungnya
bebas dari kemusyrikan. Soal banyak yang membencinya karena tindakannya
tersebut, Ahmad tidak ambil peduli. Ia tahu, mereka yang tidak puas itu adalah
yang biasa berdagang di sana tiap musim ziarah tiba. Bahkan sampai ada yang
mengancam akan melarang anak mereka ngaji di ustadz Ahmad.
Ahmad hanya bisa mengusap dada. ***
Benar, pada hari jum’at pertama, mbah Tunggul mengirimkan
uang sodakoh pertamanya kepada Ahmad. Jumlahnya lumayan besar karena dalam
hitungan puluhan juta. Sepertinya uang itu dikumpulkannya selama
bertahun-tahun. Sebagian ada yang hampir lecek.
Demikian
pula pada Jum’at kedua. Namun kali ini jumlahnya tidak sebanyak yang pertama.
Mbah Tunggul beralasan orang yang ia pinjami uang sedang kesulitan. Tidak
mungkin ia memaksanya. Sebagai sesama orang kecil ia tau bagaimana susahnya
mencari uang di jaman sekarang.
Ahmad
hanya tersenyum kecil. Omongan mbah Tunggul seperti sengaja menyindirnya. Tanpa
perlu bersusah-susah uang datang dengan sendirinya. Tetapi itu adalah
konsekwensi dari sebuah janji. Seharusnya laki-laki itu berpikir dua kali
sebelum mengucapnya.
Ahmad
jadi penasaran. Berapa lagi sisa uang mbah Tunggul yang akan diberikan
kepadanya Jum’at terakhir besok. Jadi dengan sengaja Ahmad menunggunya di
rumah. Seharian tidak kemana-mana. Namun hingga matahari terbenam mbah Tunggul ternyata
tidak kunjung menunjukan batang hidungnya.
Mungkin
sakit, Ahmad membatin. Barangali besok.
Tetapi
hari Sabtu pun berlalu tanpa kedatangan mbah Tunggul.
Ahmad
mulai mencium gelagat tidak mengenakan. Kalau seperti ini caranya, terpaksa
nanti malam ia akan naik lagi ke bukit Tegalkoneng. ***
Mbah
tunggul tidak sedang sakit. Tidak juga sedang berhalangan. Bahkan malam itu ia
sedang bersiap-siap. Di dalam gubuknya ia duduk bersila mengenakan baju pangsi serba
hitam. Ustadz bau kencur itu malam ini pasti akan mendatanginya dan menanyakan kenapa
dirinya tidak setor lagi.
Mbah
tunggul akan menjawab dengan sebuah jawaban sinis. ‘Aku tidak mau memberimu
lagi duit, ustad. Apa yang aku berikan sudah lebih dari cukup. Kalau mau duit
usaha seperti orang-orang’.
Ustad
Ahmad pasti marah. Ujung-ujungnya mereka akan bertarung lagi. Tapi mbah Tunggul
tidak takut seperti pada pertarungan pertama mereka. Mungkin hanya dirinya yang
tahu. Karena memiliki penglihatan waskita, mbah Tunggul melihat kalau malam itu
ada kekuatan halus yang membantu Ahmad. Seperti malaikat.
Pantas
kalau dirinya kalah. Menurut mbah Tunggul munculnya kekuatan itu pasti karena
ketulusan niat Ahmad. Dia ingin menghancurkan kemaksiatan ini karena Allah.
Bukan karena duniawi. Jadi Allah memberinya kekuatan.
Untuk
menghadapi yang seperti itu tidak bisa dengan kekuatan otot. Harus otak. Jadi
mbah Tunggul bersikap seperti dermawan yang begitu murah hati menyumbangkan
semua hartanya. Bukan harta yang halal. Melainkan
harta haram hasil dari pemberian para memuja berhala berbentuk Beringin tua
ini.
Kalau
dalam darah ustadz tolol itu sudah mengalir harta yang haram, maka mudah sekali
untuk menghancurkannya. Bahkan didiamkan pun akan binasa sendiri.
“Assalamua’laikum
!”
Datang
juga akhirnya.
Mbah
Tunggul bangkit tanpa menjawab ucapan salam. Sebelum membuka pintu ia kencangkan
dulu ikat pinggangnya. Lalu kakinya melangkah lebar. Pintu ia buka dengan cara
menendangnya supaya mental lawannya jatuh.
Brak
!
Tetapi
mbah Tunggul sendiri justeru yang balik tersurut.
Di
luar bukan hanya Ahmad seorang. Melainkan juga pak Lurah dan beberapa anak
buahnya. Tergopoh-gopoh mbah Tunggul meminta maap. Kakinya kepleset, dia beralasan.
Dipersilahkannya tamunya untuk duduk.
Ahmad
langsung mengutarakan tujuan kedatangannya.
“Saya
kira abah tahu apa tujuan saya datang ke sini. Benar abah, untuk mengambil
setoran terakhir abah. Sebelumnya perlu saya jelaskan dulu tentang uang yang abah
sumbangkan kepada saya. Sepeser pun saya tidak memakai uang itu. Semuanya saya
serahkan kepada pak Lurah untuk membangun jalan desa. Ada pun sebagai timbal
baliknya, pak Lurah menghibahkan lahan di bukit ini kepada saya untuk di bangun
pesantren. Sementara sesuai perjanjian kita, bahwa kalau abah ingkar janji saya
boleh membawa orang untuk mengusir abah. Jadi maap, abah. Karena abah sudah
mengingkari kesepakatan kita soal penyerahan uang itu, abah terpaksa harus
meninggalkan bukit ini.”
Selesai
Ahmad berbicara, pak Lurah lalu menambahi.
“Benar
abah semua yang dikatakan oleh ustadz Ahmad. Janji sebagai orang muslim dengan
cara apa pun harus ditepati. Saya harap dalam hal ini abah maklum.”
Kepala
mbah Tunggul terkulai. Dia kalah telak. *** Tamat. Cicinde, Februari, 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar