Cicinde
mulanya kampung yang bersahaja. Orang-orangnya ramah dan selalu nerima apa
adanya. Di kampung itu, Markonah, Janda tua berumur enam puluhan sudah puluhan
tahun berdagang kopi dan gorengan. Warungnya berdinding bilik berukuran tiga
kali tiga setengah meter.
Lalu
datanglah seorang pengusaha dari kota hendak membuka mini market di Cicinde. Kabar
itu membuat jiwa para pemilik warung kecil tiba-tiba menjadi ketar-ketir karena
takut dagangan mereka tidak laku. Hanya Markonah seorang yang tetap tenang.
Hatinya tidak blingsatan karena percaya rejeki manusia Allah yang mengatur.
Sore-sore
pak Lurah menemui Markonah di warungnya untuk menyampaikan kabar tersebut. Sebab
syarat pertama pendirian mini market itu adalah harus ada persetujuan dari
pedagang sekitar.
Pak
Lurah duduk di bale-bale tempat orang-orang biasa ngopi. Mula-mula dengan penuh
keramahan dan perhatian ia menanyakan dulu bagaimana kabar Markonah dan keadaan
warungnya. Apa saja kesulitan yang dihadapinya. Setelah itu barulah ia
menyatakan tujuan kedatangannya.
“Di
Cicinde akan dibangun mini market, mak”
Markonah
yang sedang mengirisi kol untuk dibuat bakwan, menghentikan dulu gerakan
pisaunya. Dan bertanya; Apa itu mini market?
Sambil
tersenyum kecil, pak Lurah menjelaskan bahwa mini market adalah toko besar yang
menjual apa saja. Dari mulai Garam hingga mesin cuci.
Kening
Markonah yang keriput makin berkeriut.
“Kalau
hanya garam emak juga jualan. Mesin cuci buat apa? Orang-orang sini nyuci nggak
pake mesin. Cukup sabun colek sama penggilasan. Emak nggak butuh mini market,
pak Lurah.”
“Tapi
orang lain butuh, mak. Kalau di Cicinde ada mini market kampung kita jadi rame
sebab orang dari mana-mana belanjanya kesini. Warung emak pun akan ikutan rame.
Tidak seperti sekarang, yang belanja di warung emak orangnya yang itu-itu
juga.”
Omongan
Lurah membuat Markonah terkekeh. Giginya yang tinggal beberapa biji menyembul.
Ia berkata ringan, yang cukup menyentak jantung orang nomer satu di kampungnya
itu.
“Hehehe..
pak Lurah ini seperi Tuhan saja yang bisa mengatur rejeki orang… gimana kalo
sebaliknya pak Lurah, malah justeru dagangan orang-orang sini yang tidak laku. Kata
pak Lurah di mini market segalanya serba ada. Orang pasti mikir, buat apa
belanja di warung kecil yang serba nggak ada”
“Memang
bener, mak. Tapi harga barang-barang di mini market itu jauh lebih mahal dari
warung-warung biasa. Itu aturan dari pemerintah untuk melindungi para pedagang
kecil. Semua orang kalau belanja pasti nyarinya yang lebih murah. Jadi emak
tidak perlu takut tersisih”
Lagi-lagi
bibir Markonah yang kemerahan sisa nyirih, tersenyum. Pisau yang sedang
dipegangnya digeletakan dulu di samping irisan kol. Ia katakan bahwa ini semua
bukan tentang dirinya. Usaha yang dilakoninya ini hanyalah prasyarat untuk
memperoleh karunia gusti Allah. Bahwa salah satu kemuliaan manusia itu adalah
ketika dia bisa memenuhi keperluan hidupnya tanpa harus bergantung kepada orang
lain dan dengan cara-cara yang jujur.
Namun
orang lain yang sama-sama berdagang seperti dirinya tentu memiliki pemikiran
berbeda. Mereka masih muda-muda. Ada ambisi dan hawa napsu di sana. Lalu ketika
dihalangi mereka tentu tidak akan terima dan akan sekuat daya menghancurkan
penghalang itu.
“Emak khawatir, nanti pak Lurah jadi sasaran
kebencian rakyat sendiri. Mereka tentu tidak ingin usahanya ada yang menyaingi.
Sekarang saja mencari rejeki di kampung kita ini sudah susah, jangan lagi
ditambahi pihak asing yang hendak ikut-ikutan mencari rejeki di sini. Mereka
sudah banyak duit. Buat apa dagang di kampung”.
Pak
Lurah mengakui kebenaran omongan Markonah. Tetapi kebenaran tanpa materi hanya
akan menjadi pajangan saja. Jaman kini uanglah yang berkuasa. Omongan orang
yang banyak duit akan selalu di dengar. Uang bahkan bisa membuat seseorang
terkesan cerdas dan bijak meski pun otaknya kopong.
“Emak
tidak perlu pusing memikirkan orang lain. Itu urusan saya. Saya hanya mau
ngasih tahu emak saja. Kalau setuju emak nanti akan dikasih bonus uang seratus
ribu. Lumayan buat nambah-nambah modal, mak.”
Markonah
mengucapkan terima kasih. Tetapi katanya ia tidak perlu uang itu. Ia justeru
mengingatkan pak Lurah bahwa yang menyogok dan disogok sama-sama masuk neraka.
Pak
Lurah mencibir.
Dasar
nenek-nenek peot !
Siapa
yang dimaksudnya dengan yang menyogok itu? Ini bukan sogokan atau suap.
Melainkan tanda terima kasih.
Tidak
seperti kedatangannya, kepulangan Pak Lurah dari warung Markonah membawa muka
masam. Namun pak Lurah tetap meneruskan sosialisasinya. Hingga akhirnya orang
sekampung tahu bahwa di Cicinde akan dibangun mini market. Orang kampung
me-reka-reka. Buat apa di Cicinde ada mini market? Minimarket seharusnya cukup
ada di kota saja yang banyak orang kayanya. Bisa dibayangkan, bagaimana
seandainya setelah jadi, lalu anak-anak mereka ternyata doyan jajan disana.
Tentu akan membuat mereka bangkrut.
Menurut
mereka seharusnya pak Lurah melindungi usaha warganya. Bukan malah disuruh
bersaing dengan asing. Itu sama saja dengan menyuruh mereka bergulat melawan
raksasa. Tetapi pak Lurah tak henti menyemangati warganya supaya tidak patah
arang gara-gara mini market. Ini adalah akibat globalisasi dan perdagangan
bebas. Semua orang diijinkan mau jualan di mana saja.
“Yang terpenting kita jangan sampai luntur keyakinan
kepada Allah yang ngatur rejeki. Masa gara-gara ada minimarket terus Allah
menghentikan rejekinya. Justeru sebaliknya, mau Allah tambahkan. Nanti kalau
mini market itu jadi, karyawannya akan saya usulkan supaya anak-anak muda
disini. Sebagian nanti bisa jadi tukang parkirnya. Satu motor bisa diparkir dua
ribu. Kalikan dengan seratus. Lumayan kan? Belum lagi kalian juga bisa ikut
jualan kecil-kecilan di depannya…..”
Janji
manis pak Lurah mirip suara rentet petasan di orang hajatan. Karena terus-terusan
diberondong, orang kampung yang pikirannya lugu itu akhirnya terkapar menyerah.
Mereka
mulai termakan ilusi bahwa minimarket itu akan membuat kampung mereka jadi lebih
hidup, terang benderang dan dikunjungi orang dari mana-mana. Sebagian dari
pengunjung itu tentu akan mampir dulu di warung mereka untuk ngopi atau
sarapan. Belum lagi kalau melihat pelayannya atau kasirnya adalah anak-anak
mereka sendiri. Betapa bangganya.
Jadi
mereka semua kemudian bersepakat akan menerima dengan lapang dada keberadaan
mini market di tengah-tengah perkampungan mereka. Atas kesediaan itu pak Lurah
kemudian menghadiahkan kepada warganya bonus berupa uang kaget. Satu warung
seratus ribu.***
Hari-hari
selanjutnya kehidupan Pak Lurah selalu berhiaskan senyuman. Ia jadi demikian
ramah kepada siapa saja yang ditemuinya. Para anak buahnya ditraktirnya rokok
dan baso. Sementara kepada investor mini market, sudah diberinya laporan
tentang sikap setuju rakyatnya di Cicinde dibangun mini market. Ada pun kepada
si rakyat, tentu saja pak Lurah tidak menjelaskan kalau tanahnyalah yang disewa
untuk mini market tersebut. Bisa-bisa rencananya tidak berjalan mulus.
Dan
memang tidak sedikit yang mencibir ketika warga mengetahui hal tersebut. Sudah
jadi Lurah, tapi masih saja mencari keuntungan sendiri, gerutu mereka. Hanya
Markonah seorang yang tetap istiqomah menjalani hidupnya. Di atas tanah siapa
pun dibangun, itu tidak akan ada bedanya.
Cepat
sekali kampung Cicinde berubah. Pendirian mini market itu belum apa-apa sudah
menyebar kemana-mana. Orang-orang ramai ingin melihat. Selama ini mereka taunya
mini market itu di tivi. Mereka benar-benar sudah tidak sabar ingin segera
tempat belanja serba ada itu jadi. Ingin segera mencobai berbelanja di tempat
seperti itu. Bagaimanakah rasanya…?
Hanya
sekitar satu bulan setengah pembangunan mini market itu pun selesai. Mobil-mobil
boks yang mengangkut bermacam barang jualannya mulai hilir mudik berdatangan.
Mereka menata barang-barang tersebut di atas rak yang tertata rapi dan cantik berdasarkan
jenisnya. Di langit-langit mini market yang tidak terlalu tinggi, puluhan lampu
neon ratusan watt menerangi seantero ruangan.
Setiap
orang yang lewat di depan mini market tidak ada yang tidak tergoda untuk melirik.
Meski pun bagian depannya kaca semua namun
barang-barang yang ada di dalamnya bisa terlihat jelas. Tampak asri dan nyaman.
Apalagi tempat parkirnya lumayan luas dan dilapisi aspal.
Menjelang
pembukaan perdana promosi disebar sehingga semua orang Cicinde tahu pada hari
tersebut akan ada keramaian. Para pedagang kecil tidak mau ketinggalan
ikut-ikutan memenuhi warung mereka dengan barang jualannya meski modalnya dapat
ngutang. Sebab seperti kata pak Lurah, yang datang belanja ke mini market itu
pasti akan menyempatkan diri untuk mampir di warung mereka. Mungkin sekedar
untuk minum kopi sambil makan goreng ketan satu atau dua biji. Itu pun sudah
bersyukur.
Dor
!
Dor
!
Dor
!
Benar
saja, pembukaan itu meriah sekali. Diawali oleh bunyi petasan dan kembang api.
Semua orang yang sedang mengantri di depan pintu mini market tengadah ke
angkasa melihat langit Cicinde yang di pagi beku itu berubah menghangat.
Mereka
yang datang dengan membawa anak kecil diberi hadiah balon gratis. Begitu ada di
dalam anak-anak langsung berlarian dari satu rak ke rak lainnya sambil ribut
minta dibelikan ini dan itu. Sedangkan ibu-ibunya memborong segala makanan dan
minuman. Harganya memang lebih mahal dari warung biasa. Tapi karena tempatnya
nyaman dan barangnya lengkap, harga mahal itu jadi tidak terasa mahal. Udara ac
yang sejuk membuat mereka santai untuk menghabiskan duitnya.
Makin
siang kian membludak orang yang datang berbelanja. Benar apa yang dikatakan
oleh pak Lurah bahwa orang-orang itu datang dari mana-mana. Mereka berbelanja
menghabiskan uang ratusan ribu.
Hanya
satu yang tidak benar. Yaitu tak seorang pun dari para pengunjung itu yang
berminat untuk berbelanja di warung-warung kecil yang ada di sekitar mini
market. Menoleh pun bahkan tidak. Mini market menyediakan segalanya. Mereka
tidak butuh nasi uduk atau gorengan buatan nenek tua Markonah. Gengsi belanja
di warung kecil.
Pemilik
warung kecil pada gigit jari. Lalu mereka coba-coba melongok ke mini market
itu. Yang terlihat hanya gerombolan orang yang sedang sibuk berbelanja. Sedang
warung mereka hanya lalat yang mengerubungi.
Mereka
merasa ngenes dan tersisih. Kemudian diperhatikannya siapa yang menjadi kasir
atau pelayannya. Bukan anak-anak mereka. Semuanya asing. Hati orang-orang itu
makin terbelah. Di halaman parkir pun mereka tidak melihat ada petugas
parkirnya. Melainkan seorang satpam yang berdiri di samping sebuah papan
pengumuman :
PARKIR
GRATIS TIDAK DIPUNGUT BIAYA.
DILARANG
JUALAN DI AREAL PARKIR.
Kebetulan
saat itu pak Lurah dan isterinya baru saja keluar sambil plastik besar berisi
barang belanjaannya.
Melihat
itu kontan mereka seperti memergoki maling.
“Tangkap
orang itu. Dia telah membohongi kita semua !”
Pak
Lurah kaget. Sadar ada bahaya yang menuju ke arahya, ia lari terbirit-birit.
Isterinya ia tinggal.
Tetapi
Markonah hanya berdiri saja di ambang pintu warungnya menonton adegan itu.
Orang kampungnya yang selama ini selalu bersikap nerima, tiba-tiba menjadi
beringas.
Markonah hanya bisa berdoa. “Ya Allah, mudah-mudahan pak Lurah bisa
tertangkap biar dia kapok…” *** Tamat.