Rabu, 10 Agustus 2016

Mantan maling jadi merbot




           
Mulanya masjid kampung Salam yang mengasing di pinggir sawah itu tidak punya merbot. Kemudian pak Sukri, Dkm masjid, tiba-tiba menjadikan si Otoy sebagai merbotnya. Jamaah seolah kebakaran jenggot. Sebab semua juga tahu kalau si Otoy itu mantan maling dan pernah dipenjara.
            “Masjid itu rumah Allah yang suci, pak Sukri. Jadi yang mengurusnya juga haruslah orang yang suci atau rajin ibadahnya. Atas pertimbangan apa bekas maling di jadikan merbot. Apa di kampung kita ini sudah tidak ada lagi orang yang bener? Tindakan pak Sukri ini sama saja dengan mencoreng nama mesjid kita.” Haji Kejo menjadi orang pertama yang memprotes kebijakan pak Sukri.
Haji Kejo salah seorang tokoh di kampung Salam. Badannya bulat. Kalau jalan tubuhnya doyong ke kiri dan ke kanan. Sejak kalah dalam pemilihan Dkm bulan kemarin, sikapnya jadi kritis. Apa saja yang menyangkut urusan masjid tidak pernah lolos dari kritikanya.
            Ada pun pak Sukri ia memiliki pertimbangan sendiri. Pak Sukri berpandangan bahwa untuk menjadi merbot tidak perlu orang suci. Selain rajin ibadah yang penting dia mengerti fikih membersihkan mesjid. Apalagi setelah ia perhatikan si Otoy sekarang sudah tobat, rajin shalat dan ngaji. Siapa tau dengan memberinya kepercayaan, dia akan semakin lebih baik lagi. Jadi pak Sukri  tetap dengan keputusannya.
            Haji Kejo sebal sebab usulnya di tolak dan si Otoy tetap dijadikan sebagai merbot.
            Sejak itulah masjid kampung Salam memiliki merbot sendiri. Dan ternyata kerja si Otoy tidak mengecewakan. Lantai masjid dan kaca jendela selalu kinclong karena sehari tiga kali selalu dilap. Sementara tiap waktu shalat suara adzan tidak pernah telat dikumandangkan.
Semua jamaah mau tidak mau memuji kerja si Otoy.  Kecuali  haji Kejo. **

Sudah jadi kebiasaan, tiap kali ada urusan mesjid yang perlu dimusyawarahkan pak Sukri mengumumkannya pada waktu acara shalat jum’at. Sebab kesibukan mereka sebagai petani dan pedagang membuatnya sulit menemukan waktu yang tepat supaya bisa berkumpul bareng.
 Jum’at kali ini Pak Sukri mengumumkan akan membeli karpet untuk lantai mesjid yang selama ini hanya berupa keramik saja tanpa diberi alas. Tetapi karena harga karpet itu lumayan mahal, maka ia melontarkan ide membeli karpet itu secara patungan. Besarannya berapa, diserahkan kepada kemampuan masing-masing.
Haji Kejo menganalisa untung-rugi rencana itu untuk dirinya.
Haji Kejo merasa sejak pak Sukri mengangkat si Otoy menjadi merbot, orang banyak memuji tindakannya itu. Selain Mesjid bersih terawat, si Otoy pun terbukti sekarang jadi orang baik-baik.
Pujian itu seharusnya untuk dirinya. Memangnya apa kelebihan pak Sukri? Jadi haji saja belum. Kemudian tiap kali ada perayaan atau perbaikan mesjid, selalu nama haji kejo yang menempati urutan teratas sebagai penyumbang terbesar. Tapi orang-orang seperti tidak ngeh. Tetap saja nama pak Sukri yang disebut. Bukan namanya.
Sekarang, dengan adanya rencana pembelian karpet mesjid, haji Kejo melihat adanya kesempatan untuk menonjolkan diri. Sebelum yang lain bicara, ia yang lebih dulu angkat tangan.
“Berapa pun harga karpet itu saya sendiri yang akan membayarnya. Bukan saya mau syok-syok-an. Tapi seperti kita tahu sekarang ini lagi musim paceklik. Kita tidak boleh membebani para jamaah. Pak Sukri tinggal bilang saja kapan kita membelinya. Saya selalu siap.”
Sikap haji Kejo yang selalu ingin menonjolkan diri itu sebenarnya agak kurang disukai jamaah. Tapi tak urung saat haji Kejo menyatakan kesiapannya menanggung sendiri biaya pembelian karpet itu jamaah semua mengucap ‘Alhamdulillah…’.
Sudah lama mereka memimpikan lantai mesjid ini dilapisi karpet seperti mesjid-mesjid lain. Rasanya pasti empuk dan nyaman.
***
Besoknya, haji Kejo langsung menghubungi seorang pedagang karpet kenalannya. Minta dibawakan beberapa contoh yang paling bagus.
 Karpet mesjid di mana-mana semuanya hampir selalu sama. Bentuknya memanjang dan sudah dikotak-kotak. Jarak antar kotak sekitar setengah jengkal. Jamaah mesjid kampung Salam memilih yang ada gambar Ka’bahnya. Alasannya dengan adanya gambar Ka’bah itu mereka akan merasakan seolah-olah sedang shalat di depan Ka’bah. Shalat akan lebih khusyu dan nikmat.
Karpet itu sendiri belum akan dihamparkan. Jamaah bersepakat akan syukuran dulu membuat nasi tumpeng untuk kemudian dimakan sama-sama.
Namun ternyata niat syukuran itu benar-benar hanya tinggal niat. Jamaah mesjid kampung Salam harus gigit jari. Sebabnya, sehari sebelum syukuran, karpet itu tiba-tiba raib alias ada yang maling ! ***

Si Otoy waktu kerja di kota memang pernah masuk penjara. Waktu itu semua orang kampung Salam mengetahui kejadian tersebut dan merasa malu karenanya.
Setelah bebas si Otoy insyaf dan rajin ngaji bahkan tekun mempelajari kitab Ihya Ulumiddinnya di pesantren yang ada di kampung Salam. Tetapi ketika masjid mereka kemalingan, semua syak wasangka warga diam-diam tertuju kepada si Otoy.
Haji Kejo yang paling emosi. Selama ini dirinya sudah membayangkan bahwa dengan adanya karpet itu maka semua jamaah masjid akan selalu teringat kepada jasanya. Dengan begitu siapa tau ambisinya menjadi Dkm masjid suatu saat akan kesampaian.
 “Ini benar-benar keterlaluan. Koq tega-teganya barang mesjid dipaling. Kita harus segera laor ke polisi. Maling itu harus secepatnya ditangkap.”  Berkata begitu haji Kejo melirik sinis ke arah si Otoy.
Si Otoy hanya bisa tertunduk. Ia juga tidak tahu apa-apa. Soalnya waktu karpet itu hilang, dia lagi pulas-pulasnya tertidur. Semua pertanyaan haji Kejo hanya bisa dijawabnya dengan kata ‘tidak tahu’.
Haji Kejo jadi gregetan. Dia berkeyakinan bahwa maling karpet itu pastilah orang dalam. Sebabnya tidak mungkin membawa gulungan karpet sedemikian besar tanpa diketahui oleh orang lain.
Andai benar demikian, akan ada alasan untuknya menggugat kepengurusan pak Sukri dengan alasan tidak becus memilih anak buah. Pak Sukri pun pasti akan malu.
Haji Kejo mengusulkan untuk menggeledah rumah si Otoy.
Jamaah menyetujui usulnya.
Berbondong-bondong mereka menuju ke rumah si Otoy. Segala sudut diperiksa. Dari mulai ujung depan hingga ke ujung belakang. Ternyata mereka tidak perlu harus cape-cape mencari, jamaah menemukan karpet itu teronggok di pojokan dapur.
Haji Kejolah yang paling girang.
Si Otoy langsung di sidang.***

“Saya melakukan ini untuk kebaikan shalat kita semua. Tidak ada manpaat apa-apa di balik karpet itu. Nanti yang ada dalam hati kita bukan lagi kekhusyuan beribadah, melainkan gambar karpet itu. Karena apa yang tergambar dalam hati adalah apa yang dilihat oleh mata.
Justeru kalau kita sujud langsung menyentuh bumi, maka kita akan meresakan kehinaan di hadapan Allah. Selain itu, lantai mesjid inilah yang sebenarnya membuat hawa di dalamnya terasa sejuk. Kalau di lapisi karpet malah akan jadi panas.” Demikian pembelaan Si Otoy di hadapan jamaah yang menyidangnya. Ia tahu ucapannya akan dianggap ngawur dan dirinya tetap saja akan dipecat. Tapi yang terpenting ia sudah menyadarkan orang-orang.
Kepada pak Sukri tidak lupa si Otoy meminta maap karena sudah mengecewakannya. Tetapi rupanya pak Sukri masih berbaik hati.
“Saya kecewa sama kamu, Otoy. Harusnya kamu tau diri dan menyadari posisi kamu disini siapa dan sebagai apa. Tugas kamu kan hanya membersihkan masjid bukan ikut campur tata cara kami beribadah. Kalau benar sih tidak jadi soal. Tapi semua ucapan kamu itu tidak bisa dipertanggung jawabkan. Apa dalilnya bahwa shalat nggak boleh pake karpet. Ada pun soal pengalaman bersujud yang kamu katakan itu adalah masalah keimanan. Bagi orang yang imannya mantap, maka sujud di mana pun akan tetap merasakan kehinaan dan kedekatan dengan Allah. Mulai sekarang kamu terpaksa kami pecat, Otoy. Kamu tidak akan dibawa ke polisi. Tetapi sebagai hukuman atas segala tindakan dan pemikiran kamu itu, kami akan mengarakmu dulu keliling kampung agar semua orang tau dan bisa mengambil pelajaran”.
Si Otoy pasrah.
Hari itu si Otoy diarak keliling kampung sambil dipukuli dengan pelepah pohon kelapa. Karpet itu sendiri kemudian dikembalikan lagi untuk di pasang di masjid kampung Salam.
Jamaah gembira lagi. Setelah mengadakan syukuran, mereka kemudian untuk pertama kalinya bisa ‘mencicipi’ bagaimana rasanya shalat di atas sajadah yang empuk itu.
Pak Sukri yang mengimami. Setelah takbiratul ihram, pandangan pak Sukri langsung jatuh di ujung karpet tempat biasa dirinya menjatuhkan kening. Dengan cara itulah dia dan jamaahnya bisa merasakan kekhusyuan.
Eh?!
Namun kali ini rasanya beda. Ketika melihat gambar Ka’bah dengan yang tercetak di lembar karpet di hadapannya, secara otomatis sepasang bola mata pak Sukri langsung merekam gambar tersebut kemudian meneruskannya ke dalam hatinya. Terbetiklah dalam hati itu sebuah andai.
Andai ia bisa datang langsung ke Ka’bah itu alias naik haji…
Andai saat ini yang ada di hadapannya adalah Ka’bah sungguhan bukan hanya gambar…
Andai……
Tiba-tiba kata andai itu terputus. Pikiran pak Sukri kembali pada shalat yang sedang dilaksanakannya. Pak Sukri lupa, sudahkah tadi membaca Fatihah? Ia bimbang. Fokusnya jadi kacau akibat gambar warna-warni yang terlukis di atas karpet.
 Pak Sukri akhirnya memutuskan untuk membatalkan shalatnya dan menengok ke belakang. Ia tertegun melihat keadaan jamaahnya. Shaf mereka tidak lagi rapat seperti sebelum ada sajadah dimana pundak dengan pundak saling bersentuhan. Karena sajadah itu sudah dikotak-kotak dengan jarak yang agak renggang, secara otomatis para jamaah pun menyesuaikannya sehingga shafnya jadi ikut-ikutan renggang.
Para Jamaah bengong menyaksikan imam mereka seperti orang ling-lung kemudian mereka juga ikut-ikutan membatalkan shalatnya dan bertanya,
“Ada apa, pak Sukri?” *** Tamat. Cicinde, Januari 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar