Mulanya
masjid kampung Salam yang mengasing di pinggir sawah itu tidak punya merbot. Kemudian
pak Sukri, Dkm masjid, tiba-tiba menjadikan si Otoy sebagai merbotnya. Jamaah seolah
kebakaran jenggot. Sebab semua juga tahu kalau si Otoy itu mantan maling dan
pernah dipenjara.
“Masjid itu rumah Allah yang suci,
pak Sukri. Jadi yang mengurusnya juga haruslah orang yang suci atau rajin
ibadahnya. Atas pertimbangan apa bekas maling di jadikan merbot. Apa di kampung
kita ini sudah tidak ada lagi orang yang bener? Tindakan pak Sukri ini sama
saja dengan mencoreng nama mesjid kita.” Haji Kejo menjadi orang pertama yang
memprotes kebijakan pak Sukri.
Haji
Kejo salah seorang tokoh di kampung Salam. Badannya bulat. Kalau jalan tubuhnya
doyong ke kiri dan ke kanan. Sejak kalah dalam pemilihan Dkm bulan kemarin,
sikapnya jadi kritis. Apa saja yang menyangkut urusan masjid tidak pernah lolos
dari kritikanya.
Ada pun pak Sukri ia memiliki
pertimbangan sendiri. Pak Sukri berpandangan bahwa untuk menjadi merbot tidak
perlu orang suci. Selain rajin ibadah yang penting dia mengerti fikih
membersihkan mesjid. Apalagi setelah ia perhatikan si Otoy sekarang sudah tobat,
rajin shalat dan ngaji. Siapa tau dengan memberinya kepercayaan, dia akan semakin
lebih baik lagi. Jadi pak Sukri tetap
dengan keputusannya.
Haji Kejo sebal sebab usulnya di
tolak dan si Otoy tetap dijadikan sebagai merbot.
Sejak itulah masjid kampung Salam memiliki
merbot sendiri. Dan ternyata kerja si Otoy tidak mengecewakan. Lantai masjid
dan kaca jendela selalu kinclong karena sehari tiga kali selalu dilap. Sementara
tiap waktu shalat suara adzan tidak pernah telat dikumandangkan.
Semua
jamaah mau tidak mau memuji kerja si Otoy. Kecuali
haji Kejo. **
Sudah
jadi kebiasaan, tiap kali ada urusan mesjid yang perlu dimusyawarahkan pak
Sukri mengumumkannya pada waktu acara shalat jum’at. Sebab kesibukan mereka
sebagai petani dan pedagang membuatnya sulit menemukan waktu yang tepat supaya
bisa berkumpul bareng.
Jum’at kali ini Pak Sukri mengumumkan akan
membeli karpet untuk lantai mesjid yang selama ini hanya berupa keramik saja
tanpa diberi alas. Tetapi karena harga karpet itu lumayan mahal, maka ia
melontarkan ide membeli karpet itu secara patungan. Besarannya berapa,
diserahkan kepada kemampuan masing-masing.
Haji
Kejo menganalisa untung-rugi rencana itu untuk dirinya.
Haji
Kejo merasa sejak pak Sukri mengangkat si Otoy menjadi merbot, orang banyak
memuji tindakannya itu. Selain Mesjid bersih terawat, si Otoy pun terbukti sekarang
jadi orang baik-baik.
Pujian
itu seharusnya untuk dirinya. Memangnya apa kelebihan pak Sukri? Jadi haji saja
belum. Kemudian tiap kali ada perayaan atau perbaikan mesjid, selalu nama haji
kejo yang menempati urutan teratas sebagai penyumbang terbesar. Tapi
orang-orang seperti tidak ngeh. Tetap
saja nama pak Sukri yang disebut. Bukan namanya.
Sekarang,
dengan adanya rencana pembelian karpet mesjid, haji Kejo melihat adanya
kesempatan untuk menonjolkan diri. Sebelum yang lain bicara, ia yang lebih dulu
angkat tangan.
“Berapa
pun harga karpet itu saya sendiri yang akan membayarnya. Bukan saya mau
syok-syok-an. Tapi seperti kita tahu sekarang ini lagi musim paceklik. Kita
tidak boleh membebani para jamaah. Pak Sukri tinggal bilang saja kapan kita
membelinya. Saya selalu siap.”
Sikap
haji Kejo yang selalu ingin menonjolkan diri itu sebenarnya agak kurang disukai
jamaah. Tapi tak urung saat haji Kejo menyatakan kesiapannya menanggung sendiri
biaya pembelian karpet itu jamaah semua mengucap ‘Alhamdulillah…’.
Sudah
lama mereka memimpikan lantai mesjid ini dilapisi karpet seperti mesjid-mesjid
lain. Rasanya pasti empuk dan nyaman.
***
Besoknya,
haji Kejo langsung menghubungi seorang pedagang karpet kenalannya. Minta
dibawakan beberapa contoh yang paling bagus.
Karpet mesjid di mana-mana semuanya hampir selalu
sama. Bentuknya memanjang dan sudah dikotak-kotak. Jarak antar kotak sekitar setengah
jengkal. Jamaah mesjid kampung Salam memilih yang ada gambar Ka’bahnya.
Alasannya dengan adanya gambar Ka’bah itu mereka akan merasakan seolah-olah
sedang shalat di depan Ka’bah. Shalat akan lebih khusyu dan nikmat.
Karpet
itu sendiri belum akan dihamparkan. Jamaah bersepakat akan syukuran dulu
membuat nasi tumpeng untuk kemudian dimakan sama-sama.
Namun
ternyata niat syukuran itu benar-benar hanya tinggal niat. Jamaah mesjid
kampung Salam harus gigit jari. Sebabnya, sehari sebelum syukuran, karpet itu
tiba-tiba raib alias ada yang maling ! ***
Si
Otoy waktu kerja di kota memang pernah masuk penjara. Waktu itu semua orang
kampung Salam mengetahui kejadian tersebut dan merasa malu karenanya.
Setelah
bebas si Otoy insyaf dan rajin ngaji bahkan tekun mempelajari kitab Ihya Ulumiddinnya
di pesantren yang ada di kampung Salam. Tetapi ketika masjid mereka kemalingan,
semua syak wasangka warga diam-diam tertuju kepada si Otoy.
Haji
Kejo yang paling emosi. Selama ini dirinya sudah membayangkan bahwa dengan
adanya karpet itu maka semua jamaah masjid akan selalu teringat kepada jasanya.
Dengan begitu siapa tau ambisinya menjadi Dkm masjid suatu saat akan
kesampaian.
“Ini benar-benar keterlaluan. Koq tega-teganya
barang mesjid dipaling. Kita harus segera laor ke polisi. Maling itu harus
secepatnya ditangkap.” Berkata begitu
haji Kejo melirik sinis ke arah si Otoy.
Si
Otoy hanya bisa tertunduk. Ia juga tidak tahu apa-apa. Soalnya waktu karpet itu
hilang, dia lagi pulas-pulasnya tertidur. Semua pertanyaan haji Kejo hanya bisa
dijawabnya dengan kata ‘tidak tahu’.
Haji
Kejo jadi gregetan. Dia berkeyakinan bahwa maling karpet itu pastilah orang
dalam. Sebabnya tidak mungkin membawa gulungan karpet sedemikian besar tanpa
diketahui oleh orang lain.
Andai
benar demikian, akan ada alasan untuknya menggugat kepengurusan pak Sukri
dengan alasan tidak becus memilih anak buah. Pak Sukri pun pasti akan malu.
Haji
Kejo mengusulkan untuk menggeledah rumah si Otoy.
Jamaah
menyetujui usulnya.
Berbondong-bondong
mereka menuju ke rumah si Otoy. Segala sudut diperiksa. Dari mulai ujung depan
hingga ke ujung belakang. Ternyata mereka tidak perlu harus cape-cape mencari,
jamaah menemukan karpet itu teronggok di pojokan dapur.
Haji
Kejolah yang paling girang.
Si
Otoy langsung di sidang.***
“Saya
melakukan ini untuk kebaikan shalat kita semua. Tidak ada manpaat apa-apa di
balik karpet itu. Nanti yang ada dalam hati kita bukan lagi kekhusyuan beribadah,
melainkan gambar karpet itu. Karena apa yang tergambar dalam hati adalah apa
yang dilihat oleh mata.
Justeru
kalau kita sujud langsung menyentuh bumi, maka kita akan meresakan kehinaan di
hadapan Allah. Selain itu, lantai mesjid inilah yang sebenarnya membuat hawa di
dalamnya terasa sejuk. Kalau di lapisi karpet malah akan jadi panas.” Demikian
pembelaan Si Otoy di hadapan jamaah yang menyidangnya. Ia tahu ucapannya akan
dianggap ngawur dan dirinya tetap saja akan dipecat. Tapi yang terpenting ia
sudah menyadarkan orang-orang.
Kepada
pak Sukri tidak lupa si Otoy meminta maap karena sudah mengecewakannya. Tetapi
rupanya pak Sukri masih berbaik hati.
“Saya
kecewa sama kamu, Otoy. Harusnya kamu tau diri dan menyadari posisi kamu disini
siapa dan sebagai apa. Tugas kamu kan hanya membersihkan masjid bukan ikut
campur tata cara kami beribadah. Kalau benar sih tidak jadi soal. Tapi semua
ucapan kamu itu tidak bisa dipertanggung jawabkan. Apa dalilnya bahwa shalat
nggak boleh pake karpet. Ada pun soal pengalaman bersujud yang kamu katakan itu
adalah masalah keimanan. Bagi orang yang imannya mantap, maka sujud di mana pun
akan tetap merasakan kehinaan dan kedekatan dengan Allah. Mulai sekarang kamu
terpaksa kami pecat, Otoy. Kamu tidak akan dibawa ke polisi. Tetapi sebagai
hukuman atas segala tindakan dan pemikiran kamu itu, kami akan mengarakmu dulu
keliling kampung agar semua orang tau dan bisa mengambil pelajaran”.
Si
Otoy pasrah.
Hari
itu si Otoy diarak keliling kampung sambil dipukuli dengan pelepah pohon kelapa.
Karpet itu sendiri kemudian dikembalikan lagi untuk di pasang di masjid kampung
Salam.
Jamaah
gembira lagi. Setelah mengadakan syukuran, mereka kemudian untuk pertama
kalinya bisa ‘mencicipi’ bagaimana rasanya shalat di atas sajadah yang empuk
itu.
Pak
Sukri yang mengimami. Setelah takbiratul ihram, pandangan pak Sukri langsung
jatuh di ujung karpet tempat biasa dirinya menjatuhkan kening. Dengan cara
itulah dia dan jamaahnya bisa merasakan kekhusyuan.
Eh?!
Namun
kali ini rasanya beda. Ketika melihat gambar Ka’bah dengan yang tercetak di lembar
karpet di hadapannya, secara otomatis sepasang bola mata pak Sukri langsung
merekam gambar tersebut kemudian meneruskannya ke dalam hatinya. Terbetiklah
dalam hati itu sebuah andai.
Andai
ia bisa datang langsung ke Ka’bah itu alias naik haji…
Andai
saat ini yang ada di hadapannya adalah Ka’bah sungguhan bukan hanya gambar…
Andai……
Tiba-tiba
kata andai itu terputus. Pikiran pak Sukri kembali pada shalat yang sedang dilaksanakannya.
Pak Sukri lupa, sudahkah tadi membaca Fatihah? Ia bimbang. Fokusnya jadi kacau
akibat gambar warna-warni yang terlukis di atas karpet.
Pak Sukri akhirnya memutuskan untuk
membatalkan shalatnya dan menengok ke belakang. Ia tertegun melihat keadaan
jamaahnya. Shaf mereka tidak lagi rapat seperti sebelum ada sajadah dimana
pundak dengan pundak saling bersentuhan. Karena sajadah itu sudah dikotak-kotak
dengan jarak yang agak renggang, secara otomatis para jamaah pun menyesuaikannya
sehingga shafnya jadi ikut-ikutan renggang.
Para
Jamaah bengong menyaksikan imam mereka seperti orang ling-lung kemudian mereka
juga ikut-ikutan membatalkan shalatnya dan bertanya,
“Ada
apa, pak Sukri?” *** Tamat. Cicinde, Januari 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar