Selesai
dibaca, surat itu oleh abah Suminta kemudian diselipkan diantara tumpukan
baju-bajunya dalam lemari palstik yang sekujur permukaannya sudah penuh oleh retakan.
Surat
itu dari si Agus. Cucunya yang sudah sukses jadi pengusaha di kota. Agus
mengabari soal rencana kepulangannya. Meski baru suratnya yang datang, sudah
membuat abah Suminta senang. Apalagi kedatangannya akan disertai oleh pak
Lurah. Itu merupakan sebuah kehormatan.
Mungkin
kedatangan pak Lurah ada sangkut pautnya dengan rencana Agus yang katanya
hendak membangun sebuah pabrik di sini. Entah pabrik apa.
Kalau
benar demikian, abah Suminta akan sangat berterima kasih kepada cucunya. Sebab
dengan begitu rasa bersalahnya terhadap desanya akan sedikit terobati. Meski orang
kampung sudah memaapkan, bahkan pada upacara tujuh belas Agustusan kemarin pak
Lurah memberinya hadiah berupa uang, kain sarung, dan radio, abah Suminta tetap
merasa tidak pantas menerima itu semua.
"Selamat, abah. Berkat
perjuangan abah, hutan Burangrang ini sekarang sudah tidak gundul lagi. Atas
nama pemerintah, kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Dengan ini,
hukuman pengasingan terhadap abah pun kami cabut. Abah kalau mau boleh
berkumpul lagi dengan kami di kampung”.
Tapi abah Suminta sudah terlanjur
betah diam di gunung.
Kata
orang-orang, Burangrang memiliki sejarah tragedi yang tetap mereka ingat sampai
sekarang. Yaitu saat hutannya gundul akibat illegal logging. Tidak ada pohon
besar yang tumbuh. Hanya tunggul-tunggul kayu sisa penebangan saja memenuhi
lereng.
Para orang tua masih suka menceritakan
kejadian tersebut kepada anak cucu mereka. Supaya jadi pelajaran. Dan kalau
anak-anak itu bertanya siapa yang menebangi hutan, dengan suara berbisik mereka
akan menyebut satu nama,
Abah
Suminta…. !
Dialah
dalang pembalakan liar hutan Burangrang.
Kata
mereka abah Suminta punya beking orang kuat di kota. Polisi saja bisa
diatur-atur. Itu sebabnya dia berani menebangi pohon.
Si
beking itulah yang merayu abah Suminta supaya mau menebang kayu di hutan.
Upahnya dua ratus ribu per satu pohon.
Sejak
kesepakatan itu dibuat, pandangan abah Suminta terhadap hutannya jadi berubah.
Tidak lagi melulu terlihat sebagai kumpulan kayu dan daun. Namun juga lembaran
rupiah. Maka dimulailah petualangannya. Dengan berbekal satu buah gergaji mesin
dan beberapa orang anak buah, satu demi satu pohon di hutan Burangrang ditebasnya.
Sedikit
pun abah Suminta tidak berpikir soal gunung yang gundul. Menurutnya toh, lama-lama
juga akan jadi pemandangan biasa. Paling orang kampung hanya mengeluhkan
tentang udara yang hawanya jadi jauh lebih panas. Nanti, kalau hujan sudah
turun juga pasti akan adem lagi.
Dan
hujan pertama di musimnya turun dengan deras ditengah gelapnya malam. Karena
tidak ada dedaunan dan akar pohon yang berpungsi sebagai penahan, hantaman air
hujan menyebabkan lereng yang gundul menjadi longsor. Tunggul-tunggul kayu dan
bebatuan gunung ikut terbongkar. Lalu maut itu berlomba menyerbu desa.
Kedatangannya merenggut apa saja. Orang kampung yang kebanyakan masih tertidur
terlambat untuk menyelamatkan diri.
Baru
setelah fajar menyingsing hasil kerja alam itu nampak jelas. Rumah-rumah hancur,
anak-anak terpisah dari orang tuanya, baik yang hilang maupun meninggal. Gelondongan
kayu dan bebatuan gunung bergelimpangan di antara puing-puing.
Puluhan
orang mati. Abah Suminta tidak luput. Galodo merenggut paksa isteri serta dua
orang anak menantunya. Yang selamat hanya seorang yaitu si Agus yang baru kelas
satu SD.
Tetapi
musibah itu rupanya masih belum cukup bagi abah Suminta. Orang kampungnya mulai
bisik-bisik. Bahwa gara-gara hutan ditebangi penunggu Burangrang murka kemudian
mengirimkan peringatannya. .
Menurut
mereka, Suminta harus bertanggung jawab.
Kemudian
dibentuklah pengadilan desa. Suminta disidang. Diputuskan, sebagai hukumannya
Suminta harus keluar dari kampung Burangrang. Diusir ke atas gunung.
Pengasingan
itulah yang kemudian membuat abah Suminta bertekad untuk menanami kembali hutan
yang pernah digundulinya. Hitung-hitung sebagai penebus dosa. Sampai gunung
kembali hijau seperti semula dan cucunya berhasil menjadi orang sukses, barulah
abah Suminta bisa bernapas lega. ***
Benar saja, Agus muncul di pondok
abah Suminta bersama pak Lurah.
Gemuk
badannya. Kulitnya agak sedikit hitam. Begitu berhadapan, dipeluknya sang kakek
penuh rasa kangen. Pertanyaannya berhamburan. Apakah encoknya tidak sering kumat,
apa masih betah tinggal di tengah – tengah hutan yang sunyi. Padahal andai sang
kakek mau, ia siap membuatkan rumah paling bagus di kampungnya di bawah sana.
Abah Suminta terkekeh. Lebih enak
tinggal di hutan, katanya. Segalanya masih
murni. Udara, mata air, kemudian setiap saat dia bisa mendengarkan desau
angin menggesekan daun-daun pohon Pinus menciptakan irama yang menyejukan hati.
Diajaknya cucu serta pak Lurah untuk menikmati
itu semua. Ditunjukannya pepohonan yang pernah ia tanam yang sekarang sudah
puluhan meter tingginya. Diperlihatkannya mata air yang dari sejak dulu tidak
pernah berkurang setetes pun.
“Abah baru menyadari sekarang kalau
hutan sebenarnya merupakan sumber kehidupan. Tanpa hutan semua orang akan mati.
Mata air kering, bumi gersang, menanam apa pun tidak akan tumbuh karena tanah
kehilangan kesuburannya.”
“Itu
semua berkat abah yang sudah menjaga kelestarian
hutan ini,” Pak Lurah memuji.
Tetapi
abah Suminta menolak secara halus pujian itu. Menurutnya manusia tidak akan
pernah bisa menjaga alam. Ditunjukannya satu batang pohon Pinus yang puluhan
meter tingginya.
“Umur
pohon ini sudah puluhan tahun. Tetapi bisakah dalam waktu selama itu manusia
menjamin agar pohon ini tidak akan mati atau tumbang? Alamlah yang menjaga dan
menumbuhkanya dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh manusia. Jadi sebenarnya
alam yang menjaga kita. Bukan sebaliknya.”
“Tetapi
bagi saya abah adalah wakil dari alam itu sendiri. Abahlah yang mengasuh
Burangrang ini supaya tidak mengamuk lagi”
“Pak
Lurah jangan membuat saya tambah tidak enak hati. Pak Lurah tahu sendiri kan
dulu abah yang merusak hutan ini. Abah tidak ingin mengulanginya lagi. Bencana itu
cukup kami saja yang mengalami. Jangan sampai terulang pada anak cucu kita.
Kita jangan tertipu dengan dalih memanpaatkan, hutan-hutan ditebangi atau
djadikan perkebunan sehingga bisa menyerap tenaga kerja. Menurut abah, justeru
dengan adanya hutan akan lebih banyak lagi orang-orang yang bisa hidup. Jadi
tidak perlu harus merusaknya. Oya, pak Lurah cape tidak abah ajak keliing?
Kalau cape kita balik lagi saja ke pondok.”
“Nggak,
Bah. Saya justeru senang abah mengajak kami berkeliling. Saya jadi bisa belajar
dari abah tentang konsep merawat alam. Sebagai penjaga hutan apakah abah punya
cita-cita atau keinginan?”
Abah
Suminta berpikir sejenak. Rasanya ia memang punya suatu mimpi. Abah Suminta
pernah membaca tentang bagaimana masyarakat Baduy menjaga kelestarian hutannya.
Mereka membagi hutan itu menjadi tiga bagian. Yaitu untuk permukiman, untuk
perladangan, dan yang ketiga sebagai hutan lindung dimana dalam situasi apa pun
pohon yang ada di dalamnya tidak boleh ditebang.
“Bisa
tidak ya hutan Burangrang ini dijadikan seperti itu?” Gumamnya seperti bertanya
kepada diri sendiri.
Pak
Lurah diam. Aguslah yang memberikan jawabannya. Menurut anggapannya karena di
sini tidak ada hukum adat yang harus ditaati secara bersama-sama, maka semua
orang bebas saja memanpaatkan hutan ini selama tidak dengan cara merusak.
“Memang
tidak ada hukum adat, Gus. Tapi kita punya pemerintah yang bisa membuat hukum
yang kekuatannya lebih tinggi dari sekedar hukum adat. Masa cara berpikir
pemerintah kalah oleh orang Baduy. Mereka itu punya prinsip, gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak.
Atau Panjang ulah diteukteuk, pondok ulah disambung.
Tirulah
kearifan seperti yang dipunyai Mbah Maridjan juru kunci gunung Merapi. Waktu
merapi meleduk mbah Maridjan bersikukuh tinggal dirumahnya. Padahal yang lain
pada rusuh mengungsi. Mbah Maridjan tidak pernah menyebut gunung Merapi
meletus. Tapi dia bilang Eyang Merapi ewuh atau eyang Merapi punya gawe. Kita
harus memperlakukan alam bijak seperti itu. Maka alam pun akan memperlakukan
kita secara bijak pula.”
Pak
Lurah manggut-manggut. Alam memang punya bahasanya sendiri yang hanya bisa
dipahami oleh mereka yang memilki kearifan. Itu sebabnya, orang yang selalu
memperturutkan hawa napsunya akan mengatakan banjir, longsor, atau gunung yang
meletus sebagai bencana alam. Sedikit yang menyadari bahwa itu adalah
pangeling-eling dari Hyang tunggal agar manusia tidak memperlakukan alam seenak
perutnya sendiri. Dan menurutnya abah Suminta telah sampai kepada pemahaman
seperti itu. Dimana ego dan hawa napsunya sudah lebur dengan alam yang
didiaminya.
Masalahnya,
bisakah abah Suminta tetap mempertahankan prinsipnya andai ia tahu bahwa pabrik
yang akan dibangun oleh cucunya ini adalah pabrik pengolahan kayu? Dimana bahan
baku kayunya akan diambil dari hutan Burangrang ini? Dengan kata lain, hutan
Burangrang ini akan dijadikan hutan tanaman industri oleh pemerintah daerah.
Dan Agus telah mendapatkan ijin untuk melakukan penebangan di sini?
Alam
sering terkesan kejam memberikan pelajaran. Tetapi manusia jauh lebih kejam
lagi. ***
Tamat.
Cicinde
Utara, Januari, 2016
Arti
kata bahasa sunda :
Gunung
ulah di lebur : Gunung jangan dihancurkan
Lebak
ulah dirusak : Lembah jangan di rusak
Panjang
ulah diteukteuk : Panjang jangan dipotong
Pondok
ulah ulah disambung : Pendek jangan disambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar