Rabu, 10 Agustus 2016

SANG PENGASUH




Insya Allah kalau tidak ada halangan hari ini saya akan pulang ……

Selesai dibaca, surat itu oleh abah Suminta kemudian diselipkan diantara tumpukan baju-bajunya dalam lemari palstik yang sekujur permukaannya sudah penuh oleh retakan.
Surat itu dari si Agus. Cucunya yang sudah sukses jadi pengusaha di kota. Agus mengabari soal rencana kepulangannya. Meski baru suratnya yang datang, sudah membuat abah Suminta senang. Apalagi kedatangannya akan disertai oleh pak Lurah. Itu merupakan sebuah kehormatan.
Mungkin kedatangan pak Lurah ada sangkut pautnya dengan rencana Agus yang katanya hendak membangun sebuah pabrik di sini. Entah pabrik apa.
Kalau benar demikian, abah Suminta akan sangat berterima kasih kepada cucunya. Sebab dengan begitu rasa bersalahnya terhadap desanya akan sedikit terobati. Meski orang kampung sudah memaapkan, bahkan pada upacara tujuh belas Agustusan kemarin pak Lurah memberinya hadiah berupa uang, kain sarung, dan radio, abah Suminta tetap merasa tidak pantas menerima itu semua.
            "Selamat, abah. Berkat perjuangan abah, hutan Burangrang ini sekarang sudah tidak gundul lagi. Atas nama pemerintah, kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Dengan ini, hukuman pengasingan terhadap abah pun kami cabut. Abah kalau mau boleh berkumpul lagi dengan kami di kampung”.
            Tapi abah Suminta sudah terlanjur betah diam di gunung.

Kata orang-orang, Burangrang memiliki sejarah tragedi yang tetap mereka ingat sampai sekarang. Yaitu saat hutannya gundul akibat illegal logging. Tidak ada pohon besar yang tumbuh. Hanya tunggul-tunggul kayu sisa penebangan saja memenuhi lereng.
 Para orang tua masih suka menceritakan kejadian tersebut kepada anak cucu mereka. Supaya jadi pelajaran. Dan kalau anak-anak itu bertanya siapa yang menebangi hutan, dengan suara berbisik mereka akan menyebut satu nama,
Abah Suminta…. !
Dialah dalang pembalakan liar hutan Burangrang.
Kata mereka abah Suminta punya beking orang kuat di kota. Polisi saja bisa diatur-atur. Itu sebabnya dia berani menebangi pohon.
Si beking itulah yang merayu abah Suminta supaya mau menebang kayu di hutan. Upahnya dua ratus ribu per satu pohon.
Sejak kesepakatan itu dibuat, pandangan abah Suminta terhadap hutannya jadi berubah. Tidak lagi melulu terlihat sebagai kumpulan kayu dan daun. Namun juga lembaran rupiah. Maka dimulailah petualangannya. Dengan berbekal satu buah gergaji mesin dan beberapa orang anak buah, satu demi satu pohon di hutan Burangrang ditebasnya.
Sedikit pun abah Suminta tidak berpikir soal gunung yang gundul. Menurutnya toh, lama-lama juga akan jadi pemandangan biasa. Paling orang kampung hanya mengeluhkan tentang udara yang hawanya jadi jauh lebih panas. Nanti, kalau hujan sudah turun juga pasti akan adem lagi.
Dan hujan pertama di musimnya turun dengan deras ditengah gelapnya malam. Karena tidak ada dedaunan dan akar pohon yang berpungsi sebagai penahan, hantaman air hujan menyebabkan lereng yang gundul menjadi longsor. Tunggul-tunggul kayu dan bebatuan gunung ikut terbongkar. Lalu maut itu berlomba menyerbu desa. Kedatangannya merenggut apa saja. Orang kampung yang kebanyakan masih tertidur terlambat untuk menyelamatkan diri.
Baru setelah fajar menyingsing hasil kerja alam itu nampak jelas. Rumah-rumah hancur, anak-anak terpisah dari orang tuanya, baik yang hilang maupun meninggal. Gelondongan kayu dan bebatuan gunung bergelimpangan di antara puing-puing.
Puluhan orang mati. Abah Suminta tidak luput. Galodo merenggut paksa isteri serta dua orang anak menantunya. Yang selamat hanya seorang yaitu si Agus yang baru kelas satu SD.
Tetapi musibah itu rupanya masih belum cukup bagi abah Suminta. Orang kampungnya mulai bisik-bisik. Bahwa gara-gara hutan ditebangi penunggu Burangrang murka kemudian mengirimkan peringatannya. .
Menurut mereka, Suminta harus bertanggung jawab.
Kemudian dibentuklah pengadilan desa. Suminta disidang. Diputuskan, sebagai hukumannya Suminta harus keluar dari kampung Burangrang. Diusir ke atas gunung.
Pengasingan itulah yang kemudian membuat abah Suminta bertekad untuk menanami kembali hutan yang pernah digundulinya. Hitung-hitung sebagai penebus dosa. Sampai gunung kembali hijau seperti semula dan cucunya berhasil menjadi orang sukses, barulah abah Suminta bisa bernapas lega. ***

            Benar saja, Agus muncul di pondok abah Suminta bersama pak Lurah.
Gemuk badannya. Kulitnya agak sedikit hitam. Begitu berhadapan, dipeluknya sang kakek penuh rasa kangen. Pertanyaannya berhamburan. Apakah encoknya tidak sering kumat, apa masih betah tinggal di tengah – tengah hutan yang sunyi. Padahal andai sang kakek mau, ia siap membuatkan rumah paling bagus di kampungnya di bawah sana.
            Abah Suminta terkekeh. Lebih enak tinggal di hutan, katanya. Segalanya masih  murni. Udara, mata air, kemudian setiap saat dia bisa mendengarkan desau angin menggesekan daun-daun pohon Pinus menciptakan irama yang menyejukan hati.
 Diajaknya cucu serta pak Lurah untuk menikmati itu semua. Ditunjukannya pepohonan yang pernah ia tanam yang sekarang sudah puluhan meter tingginya. Diperlihatkannya mata air yang dari sejak dulu tidak pernah berkurang setetes pun.
            “Abah baru menyadari sekarang kalau hutan sebenarnya merupakan sumber kehidupan. Tanpa hutan semua orang akan mati. Mata air kering, bumi gersang, menanam apa pun tidak akan tumbuh karena tanah kehilangan kesuburannya.”  
“Itu semua berkat abah yang sudah  menjaga kelestarian hutan ini,” Pak Lurah memuji.
Tetapi abah Suminta menolak secara halus pujian itu. Menurutnya manusia tidak akan pernah bisa menjaga alam. Ditunjukannya satu batang pohon Pinus yang puluhan meter tingginya.
“Umur pohon ini sudah puluhan tahun. Tetapi bisakah dalam waktu selama itu manusia menjamin agar pohon ini tidak akan mati atau tumbang? Alamlah yang menjaga dan menumbuhkanya dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh manusia. Jadi sebenarnya alam yang menjaga kita. Bukan sebaliknya.”
“Tetapi bagi saya abah adalah wakil dari alam itu sendiri. Abahlah yang mengasuh Burangrang ini supaya tidak mengamuk lagi”
“Pak Lurah jangan membuat saya tambah tidak enak hati. Pak Lurah tahu sendiri kan dulu abah yang merusak hutan ini. Abah tidak ingin mengulanginya lagi. Bencana itu cukup kami saja yang mengalami. Jangan sampai terulang pada anak cucu kita. Kita jangan tertipu dengan dalih memanpaatkan, hutan-hutan ditebangi atau djadikan perkebunan sehingga bisa menyerap tenaga kerja. Menurut abah, justeru dengan adanya hutan akan lebih banyak lagi orang-orang yang bisa hidup. Jadi tidak perlu harus merusaknya. Oya, pak Lurah cape tidak abah ajak keliing? Kalau cape kita balik lagi saja ke pondok.”
“Nggak, Bah. Saya justeru senang abah mengajak kami berkeliling. Saya jadi bisa belajar dari abah tentang konsep merawat alam. Sebagai penjaga hutan apakah abah punya cita-cita atau keinginan?”
Abah Suminta berpikir sejenak. Rasanya ia memang punya suatu mimpi. Abah Suminta pernah membaca tentang bagaimana masyarakat Baduy menjaga kelestarian hutannya. Mereka membagi hutan itu menjadi tiga bagian. Yaitu untuk permukiman, untuk perladangan, dan yang ketiga sebagai hutan lindung dimana dalam situasi apa pun pohon yang ada di dalamnya tidak boleh ditebang.
“Bisa tidak ya hutan Burangrang ini dijadikan seperti itu?” Gumamnya seperti bertanya kepada diri sendiri.
Pak Lurah diam. Aguslah yang memberikan jawabannya. Menurut anggapannya karena di sini tidak ada hukum adat yang harus ditaati secara bersama-sama, maka semua orang bebas saja memanpaatkan hutan ini selama tidak dengan cara merusak.
“Memang tidak ada hukum adat, Gus. Tapi kita punya pemerintah yang bisa membuat hukum yang kekuatannya lebih tinggi dari sekedar hukum adat. Masa cara berpikir pemerintah kalah oleh orang Baduy. Mereka itu punya prinsip, gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak. Atau Panjang ulah diteukteuk, pondok ulah disambung.
Tirulah kearifan seperti yang dipunyai Mbah Maridjan juru kunci gunung Merapi. Waktu merapi meleduk mbah Maridjan bersikukuh tinggal dirumahnya. Padahal yang lain pada rusuh mengungsi. Mbah Maridjan tidak pernah menyebut gunung Merapi meletus. Tapi dia bilang Eyang Merapi ewuh atau eyang Merapi punya gawe. Kita harus memperlakukan alam bijak seperti itu. Maka alam pun akan memperlakukan kita secara bijak pula.”
Pak Lurah manggut-manggut. Alam memang punya bahasanya sendiri yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memilki kearifan. Itu sebabnya, orang yang selalu memperturutkan hawa napsunya akan mengatakan banjir, longsor, atau gunung yang meletus sebagai bencana alam. Sedikit yang menyadari bahwa itu adalah pangeling-eling dari Hyang tunggal agar manusia tidak memperlakukan alam seenak perutnya sendiri. Dan menurutnya abah Suminta telah sampai kepada pemahaman seperti itu. Dimana ego dan hawa napsunya sudah lebur dengan alam yang didiaminya.
Masalahnya, bisakah abah Suminta tetap mempertahankan prinsipnya andai ia tahu bahwa pabrik yang akan dibangun oleh cucunya ini adalah pabrik pengolahan kayu? Dimana bahan baku kayunya akan diambil dari hutan Burangrang ini? Dengan kata lain, hutan Burangrang ini akan dijadikan hutan tanaman industri oleh pemerintah daerah. Dan Agus telah mendapatkan ijin untuk melakukan penebangan di sini?
Alam sering terkesan kejam memberikan pelajaran. Tetapi manusia jauh lebih kejam lagi. ***
 Tamat.
Cicinde Utara, Januari, 2016
Arti kata bahasa sunda :
Gunung ulah di lebur : Gunung jangan dihancurkan
Lebak ulah dirusak : Lembah jangan di rusak
Panjang ulah diteukteuk : Panjang jangan dipotong
Pondok ulah ulah disambung : Pendek jangan disambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar