Masih ingat kasus Artalita Suryani
yang menyuap seorang Jaksa bernama Urip? Maka kisah yang rumit dan berliku ini saya dedikasikan
sebagai peringatan.
Beginilah
jalan ceritanya:
Suatu
malam yang dingin.
Seorang Jaksa, berperut tambun,
hanya mengenakan kaos oblong, memasuki sebuah bar yang tidak jauh dari tempat
tinggalnya.
“Saya minta lima botol bir !” Pesan
si Jaksa kepada bartender yang sedang melongo menonton tivi di pojok ruangan.
Si Bartender langsung sigap
menyiapkan pesanannya.
“Selamat menikmati pak,” Kata si
Bartender ramah.
“Oh, terima kasih. Tolong, kamu
temani dulu saya ngobrol”
“Oke, pak. Kebetulan malam ini
sepi.”
Mereka pun mengobrol. Mula-mula si
Bartender yang mengajukan pertanyaan.
“Sepertinya bapak punya masalah,
ya?”
Si Jaksa tertawa.
“Kau
benar. Saya punya dua orang anak. Anak saya yang pertama malah korupsi di
kantornya. Tadi pagi KPK menangkapnya. Saya benar-benar malu”
Si Bartender menatapnya dengan kasihan.
Selesai
bercerita si Jaksa itu pulang dengan langkah sempoyongan. ***
Minggu
kedua.
Jaksa
itu kembali datang mengunjungi Si Bartender.
Wajahnya
makin kusut.
“Saya
minta sepuluh botol bir,” Katanya dengan suara berat.
Si
Bartender tidak langsung menyuguhkan.
“Untuk
orang setua bapak, itu terlalu bahaya, pak. Saya tau bapak sedang bermasalah.
Tapi bukan seperti ini pelariannya. Bapak kan masih punya anak satu lagi. Dan
dia tidak seperti kakaknya yang jadi koruptor. Bapak harusnya bersyukur.”
Si
Jaksa menatap sang Bartender dengan tatapan sayu.
“Ngomong
apa kamu? Apa kamu tidak tau kalau anak saya yang kedua pun ternyata koruptor
juga? Kemarin petugas KPK menangkapnya. Benar-benar sialan !”
Si
Bartender melongo.
“Hayo,
cepat bawa bir saya kesini. Kamu mau saya hajar !” Si Jaksa membentaknya.
Si
bartender tergopoh-gopoh menyediakan pesanan si Jaksa. ***
Minggu
ketiga.
Ternyata
si Jaksa masih tetap berkunjung ke bar itu. Kali ini keadaannya makin kacau.
Badannya yang dulu gendut, sekarang kerempeng. Matanya cekung dan hitam.
Namun
yang paling mengejutkan adalah permintaannya.
“Saya
minta lima belas botol bir. Cepat !”
Si
Bartender bekerja secepat kilat sambil dalam hatinya sibuk bertanya-tanya.
Apalagi masalah si Jaksa kali ini?
“Kau
masih betah kerja di sini, anak muda?” Tanya si Jaksa waktu si Bartender
menyuguhkan pesanannya.
“Masih,
pak. Habis mau kerja dimana lagi?”
“Itu
bagus, Yang penting kamu tidak sampai memalukan orang tua. Jangan seperti
kehidupan yang saya alami ini dimana anak saya dua-duanya semua menjadi
koruptor.”
“Memang
masalahnya sekarang siapa lagi yang korupsi, pak?”
“Tidak
ada.”
“Lho,
bukankah itu kabar baik? Kenapa bapak masih mabok-mabokan juga?” Tanya si
Bartender keheranan.
“Masalahnya,”
Kata si Jaksa.
“Hari
ini kedua anak saya mengaku telah menyuap jaksa yang menangani perkaranya. Dan
Jaksa itu adalah saya sendiri. Hancur karir saya…”
Mendengar cerita si Bartender saya
pun tertawa terbahak-bahak. Tapi menurut saya si Jaksa sialan itu tidak perlu
sampai se-shock itu. Dia kan baru memesan lima belas botol bir. Emang berapa
sih harga lima belas botol bir? Sementara kabarnya duit suap yang dia terima
jumlahnya milyaran.
Si Bartender melongo mendengar komentar saya
yang menurutnya tidak nyambung. Padahal menurut saya yang tidak nyambung-nyambung
itulah yang diharap bisa memutus mata rantai korupsi.
Jaksa tidak nyambung sama
koruptornya. Apalagi sampe punya sambungan pribadi.
Wuih !
Bahaya !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar