Kamis, 11 Agustus 2016

Keluarga koruptor




            Masih ingat kasus Artalita Suryani yang menyuap seorang Jaksa bernama Urip? Maka kisah  yang rumit dan berliku ini saya dedikasikan sebagai peringatan.
Beginilah jalan ceritanya:
Suatu malam yang dingin.
            Seorang Jaksa, berperut tambun, hanya mengenakan kaos oblong, memasuki sebuah bar yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
            “Saya minta lima botol bir !” Pesan si Jaksa kepada bartender yang sedang melongo menonton tivi di pojok ruangan.
            Si Bartender langsung sigap menyiapkan pesanannya.
            “Selamat menikmati pak,” Kata si Bartender ramah.
            “Oh, terima kasih. Tolong, kamu temani dulu saya ngobrol”
            “Oke, pak. Kebetulan malam ini sepi.”
            Mereka pun mengobrol. Mula-mula si Bartender yang mengajukan pertanyaan.
            “Sepertinya bapak punya masalah, ya?”
            Si Jaksa tertawa.
“Kau benar. Saya punya dua orang anak. Anak saya yang pertama malah korupsi di kantornya. Tadi pagi KPK menangkapnya. Saya benar-benar malu”
 Si Bartender menatapnya dengan kasihan.
Selesai bercerita si Jaksa itu pulang dengan langkah sempoyongan. ***

Minggu kedua.
Jaksa itu kembali datang mengunjungi Si Bartender.
Wajahnya makin kusut.
“Saya minta sepuluh botol bir,” Katanya dengan suara berat.
Si Bartender tidak langsung menyuguhkan.
“Untuk orang setua bapak, itu terlalu bahaya, pak. Saya tau bapak sedang bermasalah. Tapi bukan seperti ini pelariannya. Bapak kan masih punya anak satu lagi. Dan dia tidak seperti kakaknya yang jadi koruptor. Bapak harusnya bersyukur.”
Si Jaksa menatap sang Bartender dengan tatapan sayu.
“Ngomong apa kamu? Apa kamu tidak tau kalau anak saya yang kedua pun ternyata koruptor juga? Kemarin petugas KPK menangkapnya. Benar-benar sialan !”
Si Bartender melongo.
“Hayo, cepat bawa bir saya kesini. Kamu mau saya hajar !” Si Jaksa membentaknya.
Si bartender tergopoh-gopoh menyediakan pesanan si Jaksa. ***

Minggu ketiga.
Ternyata si Jaksa masih tetap berkunjung ke bar itu. Kali ini keadaannya makin kacau. Badannya yang dulu gendut, sekarang kerempeng. Matanya cekung dan hitam.
Namun yang paling mengejutkan adalah permintaannya.
“Saya minta lima belas botol bir. Cepat !”
Si Bartender bekerja secepat kilat sambil dalam hatinya sibuk bertanya-tanya. Apalagi masalah si Jaksa kali ini?
“Kau masih betah kerja di sini, anak muda?” Tanya si Jaksa waktu si Bartender menyuguhkan pesanannya.
“Masih, pak. Habis mau kerja dimana lagi?”
“Itu bagus, Yang penting kamu tidak sampai memalukan orang tua. Jangan seperti kehidupan yang saya alami ini dimana anak saya dua-duanya semua menjadi koruptor.”
“Memang masalahnya sekarang siapa lagi yang korupsi, pak?”
“Tidak ada.”
“Lho, bukankah itu kabar baik? Kenapa bapak masih mabok-mabokan juga?” Tanya si Bartender keheranan.
“Masalahnya,” Kata si Jaksa.
“Hari ini kedua anak saya mengaku telah menyuap jaksa yang menangani perkaranya. Dan Jaksa itu adalah saya sendiri. Hancur karir saya…”

Mendengar cerita si Bartender saya pun tertawa terbahak-bahak. Tapi menurut saya si Jaksa sialan itu tidak perlu sampai se-shock itu. Dia kan baru memesan lima belas botol bir. Emang berapa sih harga lima belas botol bir? Sementara kabarnya duit suap yang dia terima jumlahnya milyaran.
 Si Bartender melongo mendengar komentar saya yang menurutnya tidak nyambung. Padahal menurut saya yang tidak nyambung-nyambung itulah yang diharap bisa memutus mata rantai korupsi.
Jaksa tidak nyambung sama koruptornya. Apalagi sampe punya sambungan pribadi.
Wuih !
Bahaya !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar