Sekali
dalam hidup, selalu ada masa bernama kenangan yang pantas untuk dikenang
kembali ketika usia sudah beranjak tua. Terlepas apakah itu kenangan pahit atau
manis.
Budiono
pun demikian. Ia yang sekarang sudah menjadi pejabat terpandang di sebuah
negeri yang bernama Indonesia, menjelang akhir masa jabatannya bercerita kepada
seorang wartawan yang tertarik untuk menuliskan biografi dirinya.
“Sekarang
saya memang sudah jadi orang hebat. Tetapi sebenarnya kehebatan yang paling
berkesan dalam sejarah kehidupan saya adalah ketika saya duduk di bangku kelas
empat SD,” Tutur Budiono dengan tatapan menerawang.
“Suatu
ketika guru Sekolah Dasar saya memberikan tugas membuat karangan yang harus
selesai hari itu juga. Selain asli, karangan itu haruslah berupa cerita yang
menegangkan. Seperti cerita Detektif atau cerita perang.
“Saya
bingung karena saya memang kurang pandai dalam membuat cerita. Sementara semua
kawan-kawan saya sibuk menulis, saya malahan bengong sebab tidak tau harus
memulai dari mana.”
“Terus
apa yang bapak lakukan?” Tanya Wartawan.
“Saya
panik karena waktu terus berjalan dan satu kalimat pun belum ada yang bisa saya
tuliskan. Akhirnya karena tidak tau lagi harus bagaimana, di kertas tugas itu
saya hanya menuliskan satu kata saja. Yaitu KPK.”
“Lalu
reaksi guru bapak bagaimana?” Tanya wartawan lagi. Kali ini dia pun jadi
penasaran.
“Tentu
saja guru yang memeriksa tulisan saya heran dan bingung. Saya dipanggil.
Katanya kenapa karangan saya hanya terdiri dari satu kata KPK saja. Tidak ada
tema, tidak ada plot, dan juga tidak ada alur. Di mana letak ketegangan
ceritanya?
“Terus
jawaban pak Budiono waktu itu seperti apa?”
“Saya
jawab saja bahwa saya juga bingung arti KPK itu apa. Tapi ayah saya waktu
mendengar ada orang KPK yang datang ke rumah penyakit jantungnya langsung
kumat, kawan-kawannya berlarian lewat pintu belakang, sementara ibu saya menjerit-jerit
histeris seperti orang kesurupan.”
Jeritannya pasti ;
“A3 ! A3 !. Alias Awas Ada Abraham
(Samad) !”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar