Bagi orang-orang yang suka menikmati
film horor pasti tahu film yang berjudul Urban Legend. Sebuah film horor yang
cukup membuat bulu kuduk penonton berdebar-debar dan jantung mpot-mpotan.
Tetapi khusus untuk Urban Legend
atau Legenda Urban kali ini, meski sama-sama sadis dan menyeramkan namun ini
bukan judul sebuah film horor. Ini akal-akalan saya saja yang idenya dicomot
dari suatu peristiwa.
Kronologisnya diawali dari keikutsertaan
saya dengan seorang kawan yang sudah menjadi wartawan senior di sebuah stasiun
tivi swasta.
“Kita akan mewawancarai ketua umum
partai Demokrat, Anas Urbaningrum, sehubungan dengan kasus Hambalang yang oleh
Nazarudin disebut-sebut melibatkan dirinya,” Kata kawan saya itu bersemangat. Saya
disuruhnya membawa peralatan kameranya.
Kawan
saya itu pergi hampir tanpa sarapan kecuali sepotong roti yang dimakan sambil
jalan.
Tiba di kantor dpp partai Demokrat,
rekan sesama wartawan sudah berjubel. Saya masih ingat betul waktu itu hari
selasa jam sembilan kurang sedikit. Dan saya cukup beruntung tidak perlu
menunggu terlalu lama. Karena beberapa menit kemudian seseorang yang saya tidak
tahu siapa, mempersilahkan kami semua untuk masuk ke ruang konfrensi pers.
Para kuli tinta duduk dengan tertib.
Tak lama kemudian pak Anas Urbaningrum masuk ke dalam ruangan diiringi beberapa
pengurus partai yang lain. Mula-mula ia berbicara soal program partai. Kemudian
lama-lama pembicaraan beralih kepada tuduhan mantan bendahara partainya bahwa
dirinya terlibat korupsi Hambalang.
“Saya tidak tahu apa-apa soal kasus
Hambalang. Satu sen saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas.”
Demikian sumpahnya.
Menurut saya itu adalah kalimat yang
berani.
“Saya tidak percaya, pak” Saya
terperangah karena tiba-tiba ada seorang wartawan yang nyeletuk.
“Kalau
begitu apa yang harus saya lakukan supaya kalian percaya bahwa sedikit pun saya
tidak terlibat korupsi Hambalang?” Tanya pak Anas lagi tetap dengan wajah tanpa
berdosanya.
“Bapak pergilah ke bukit Hambalang
dengan kapal terbang.”
“Terus?”
“Nah, di tengah perjalanan bapak
melompatlah keluar pesawat tanpa parasut. Baru saya percaya.”
Saya
ingat betul, bukan hanya pengawalnya, pak Anas juga ikut berang dengan kekurang
ajaran si wartawan. Tetapi buru-buru saya maju ke depan dan menenangkan pak
Anas.
“Tenang,
pak. Tenang. Anda pasti selamat. Sebab sebelum anda jatuh, biasanya pesawatnya
duluan yang jatuh. Biasa… pesawat Indonesia”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar