Kamis, 11 Agustus 2016

THE URBAN LEGEND



            Bagi orang-orang yang suka menikmati film horor pasti tahu film yang berjudul Urban Legend. Sebuah film horor yang cukup membuat bulu kuduk penonton berdebar-debar dan jantung mpot-mpotan.
            Tetapi khusus untuk Urban Legend atau Legenda Urban kali ini, meski sama-sama sadis dan menyeramkan namun ini bukan judul sebuah film horor. Ini akal-akalan saya saja yang idenya dicomot dari suatu peristiwa.
            Kronologisnya diawali dari keikutsertaan saya dengan seorang kawan yang sudah menjadi wartawan senior di sebuah stasiun tivi swasta.
            “Kita akan mewawancarai ketua umum partai Demokrat, Anas Urbaningrum, sehubungan dengan kasus Hambalang yang oleh Nazarudin disebut-sebut melibatkan dirinya,” Kata kawan saya itu bersemangat. Saya disuruhnya membawa peralatan kameranya.
Kawan saya itu pergi hampir tanpa sarapan kecuali sepotong roti yang dimakan sambil jalan.
            Tiba di kantor dpp partai Demokrat, rekan sesama wartawan sudah berjubel. Saya masih ingat betul waktu itu hari selasa jam sembilan kurang sedikit. Dan saya cukup beruntung tidak perlu menunggu terlalu lama. Karena beberapa menit kemudian seseorang yang saya tidak tahu siapa, mempersilahkan kami semua untuk masuk ke ruang konfrensi pers.
            Para kuli tinta duduk dengan tertib. Tak lama kemudian pak Anas Urbaningrum masuk ke dalam ruangan diiringi beberapa pengurus partai yang lain. Mula-mula ia berbicara soal program partai. Kemudian lama-lama pembicaraan beralih kepada tuduhan mantan bendahara partainya bahwa dirinya terlibat korupsi Hambalang.
            “Saya tidak tahu apa-apa soal kasus Hambalang. Satu sen saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas.” Demikian sumpahnya.
            Menurut saya itu adalah kalimat yang berani.
            “Saya tidak percaya, pak” Saya terperangah karena tiba-tiba ada seorang wartawan yang nyeletuk.
            “Kalau begitu apa yang harus saya lakukan supaya kalian percaya bahwa sedikit pun saya tidak terlibat korupsi Hambalang?” Tanya pak Anas lagi tetap dengan wajah tanpa berdosanya.
            “Bapak pergilah ke bukit Hambalang dengan kapal terbang.”
            “Terus?”
            “Nah, di tengah perjalanan bapak melompatlah keluar pesawat tanpa parasut. Baru saya percaya.”
            Saya ingat betul, bukan hanya pengawalnya, pak Anas juga ikut berang dengan kekurang ajaran si wartawan. Tetapi buru-buru saya maju ke depan dan menenangkan pak Anas.
            Tenang, pak. Tenang. Anda pasti selamat. Sebab sebelum anda jatuh, biasanya pesawatnya duluan yang jatuh. Biasa… pesawat Indonesia”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar