BAHASA
KORUPTOR
“Taff, coba kamu kemari,”
Di
sela-sela waktu istirahatnya seorang menteri memanggil salah satu staf
khususnya yang bernama Dustaff ke ruang kerjanya. Setelah Dustaff masuk pintu
kemudian ditutup supaya tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
“Ada apa, pak?” Tanya Dustaff begitu
di duduk.
“Kamu masih ingat kan perusahaan ANU
yang baru saja memperoleh proyek dari kementrian kita?” Suara pak menteri
hampir berbisik.
“Oh, ingat pak. Perusahaan
kontraktor itu. Apa ada masalah?”
“Bukan. Sama sekali tidak ada
masalah. Hanya saja rasanya sejak pengajuan proposalnya kita setujui mereka
belum pernah ada lagi menghubungi kita. Padahal saya ingat betul, dulu mereka
sampai menyembah-nyembah pada kita agar proyek itu bisa mereka dapatkan.”
“Mungkin mereka sedang sibuk jadi
agak sedikit lupa pada kita. Bosnya kan sering bepergian ke luar negeri. Apa
perlu saya panggil, pak?”
“Jangan. Jangan di panggil kemari
Terlalu riskan. Seperti kita tau sekarang ini media sengaja selalu mencari-cari
skandal pemerintah supaya koran mereka bisa laku. Tolong, kamu tulis saja memo
untuk mereka. Tanyakan bagaimana kabarnya. Apa proyeknya lancar. Tapi ingat
jangan sampai ada pihak ketiga yang tau akan hal ini.”
“Siap, pak.”
Dustaff, staf khusus yang pandai
menterjemahkan keinginan atasannya itu langsung saja bekerja. Ia menyiapkan
selembar memo. Ditulisnya beberapa kalimat yang simple dan singkat yang
menurutnya akan bisa dipahami oleh bos besar dari perusahaan ANU. Kemudian surat
tersebut dikirimkannya.
Yang menerima adalah sekretaris
perusahaan ANU. Ketika dibuka, si Sekretaris yang cantik jelita itu langsung
mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti. Sepanjang bekerja di perusahaan
ANU baru kali ini dirinya menerima surat yang isinya demikian membingungkan.
Inilah isi surat itu :
Satu
tambah satu sama dengan lima
Lima
kali dua hasilnya dua puluh
Dua
puluh dibagi dua, lima puluh-lima puluh
Delapan
dikurangi dua sama dengan dua belas.
Terima
kasih.
Karena tidak mengerti, si Sekretaris
memutuskan untuk mengkonsultasikan surat tersebut kepada bosnya.
“Ada surat untuk perusahaan kita
dari sebuah kementrian. Tapi sepertinya ini hanya kerjaan orang iseng saja,
pak, karena isinya sangat kacau. Sepertinya penulisnya tidak punya otak.”
Katanya.
Sang bos membacanya sejenak. Setelah
selesai surat itu dilipatnya kembali seraya berkomentar ringan.
“Dasar sekretaris blo-on. Begini
saja nggak ngerti. Ini artinya kita disuruh menggelembungkan dana proyek dan
dia minta bagian.”
Berarti
salah satu ciri koruptor adalah dia tidak bisa melakukan penjumlahan,
perkalian, dan pengurangan, serta pembagian dengan benar. Maka jangan
pekerjakan dia di bank. Baik itu menjadi gubernur di bank Indonesia apalagi
bank Century.
“Kalau
jadi wakil Presiden?”Tiba-tiba ada yang nyeletuk.
“Jadi wakil Presiden pun tetap
tidak boleh !” Entah siapa yang tiba-tiba berteriak menjawab.
BALADA BLBI
Di
kampung Cicinde semua warga selalu melakukan ronda keliling yang diatur secara
bergiliran. Selain tujuannya untuk menjaga keamanan, melalui ronda keliling itu
juga warga jadi bisa saling mengenal satu sama lain secara lebih akrab. Sering
setelah selesai melakukan kegiatan meronda, urusan bisa disambung dengan acara
bisnis kecil-kecilan.
Malam itu seperti biasa sekitar lima
belas orang telah berkumpul di pos ronda. Satu orang berperan sebagai pimpinannya
dan sedang membagi area ronda masing-masing grup. Tiap grup biasanya terdiri
dari empat atau tiga orang.
“Kelompok kamu di Rt. 01, kamu 03,
kamu 04 dan kamu 02. Kita berkumpul lagi jam setengah empat. Dua orang bertugas
menjaga pos. Semua siap?”
“Siap !” Jawab para peronda
bersemangat.
Dengan
berkerudung sarung, mereka lalu berpencar sesuai pembagian wilayah tadi.
Kentongan di pukul berkali-kali mengusik keheningan malam. Hal tersebut
berpungsi sebagai penanda untuk menegaskan kehadiran mereka sehingga warga
merasa aman dan maling pun lari terpontang-panting.
Waktu
mengalir seperti angin. Tahu-tahu sudah hampir jam dua belas. Cicinde kian
sepi. Udara terasa dingin dan jangkerik berderik-derik saling bersahutan.
Namun
sepi itu tidak berlangsung lama. Karena mendadak dari pinggir kampung tiba-tiba
terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu disertai teriakan para peronda
membangunkan warga.
Tong!
Tong!
Tong!
“Banguun
!”
“Banguuun
!”
Orang-orang yang sudah tidur dan
hampir tidur segera berhamburan keluar. Mereka ribut saling bertanya sesamanya
dengan wajah kebingungan.
Dari
jalan kampung datanglah seorang petugas ronda dengan tergopoh-gopoh. Kepada
para warga ia memberitahukan kalau mereka baru saja menangkap seekor Babi
mencurigakan dan sekarang Babi itu ada di kelurahan.
Mendengar kabar tersebut, semua
warga kampung segera bergerak menuju ke sana. Gedung kelurahan sebentar saja
sudah sesak oleh ratusan penduduk yang bergerombol ingin melihat sang Babi.
Tampak Babi itu sedang diikat ke sebuah tiang.
“Saya curiga ini adalah Babi
jadi-jadian alias Babi ngepet. Kampung kita kan jauh dari hutan dan tidak ada
seorang pun warga yang memelihara Babi. Apalagi sudah beberapa hari ini banyak
orang yang mengaku kehilangan uangnya secara misterius,” Kata pak Lurah yang
sudah sepuh.
“Tapi bagaimana cara membuktikannya
kalau ini Babi jadi-jadian atau Babi asli, pak Lurah?” Warga bingung.
“Panggil semua paranormal kemari,”
Perintah pak Lurah.
Semua Paranormal yang ada di Cicinde
pun dikumpulkan. Mereka lantas diperintahkan oleh pak Lurah untuk membongkar
kedok sang Babi bagaimana pun caranya.
Satu
persatu Paranormal maju dan mengerahkan semua ilmu serta kemampuannya. Ada yang
menggunakan jampi-jampi, tenaga dalam, keris pusaka, membakar kemenyan, atau
dengan menggunakan bantuan jin peliharaannya.
Namun hingga paranormal terakhir beraksi,
ternyata tak seorang pun ada yang berhasil membuka kedok si Babi. Si Babi tetap
menggelosoh di lantai tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh para dukun yang
sedang berusaha mempreteli keadaan dirinya.
Warga dan pak Lurah jadi bingung.
Mereka tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa. Untunglah dalam keadaan
bingung itu tiba-tiba datang seorang anggota DPR dan seorang pejabat
pemerintah. Mereka kemudian memberikan
usulnya.
“Untuk mengetahui apakah ini Babi
asli atau Babi jadi-jadian gampang. Kita kasih saja dia singkong dan uang.
Kalau dia memilih singkong berarti ini Babi asli. Tapi kalau dia milih uang,
jelas ini Babi ngepet dan harus kita bunuh bersama-sama. Gimana, setuju?” Tanya
pejabat pemerintah.
“Setuju !” Jawab anggota DPR diikuti
teriakan semua orang.
Ke hadapan si Babi kemudian disodorkan sepiring
singkong rebus dan selembar uang seratus ribuan. Semua warga melotot hampir tak
berkedip dengan janttung berdebar.
Selama
beberapa saat si Babi tampak celingukan
antara memilih uang atau singkong.
Setelah beberapa detik hanya
menyegrok-nyegrok saja, si Babi pun akhirnya menentukan pilihan. Pertama
dihampirinya singkong rebus itu dan dimakannya hingga ludes. Setelah itu
barulah dia menghampiri uangnya, menggigitnya, dan kemudian membawanya kabur !
BLBI
: Babinya Lari Bawa korupsI
BLT RIWAYATMU DULU
Karena di tahun 2014 ini Presiden
Indonesia sudah berganti, maka tidak ada salahnya kalau kita sedikit menengok
kenangan masa silam beberapa tahun ke belakang saat muncul mahluk yang bernama
BLT dan menjadi rebutan jutaan rakyat Indonesia. Waktu itu, semua rakyat
Indonesia mendadak jadi jatuh miskin karena ingin mendapatkan BLT yang pertiga
bulannya sebesar tiga ratus ribu rupiah.
Pertamanya memang gara-gara si BBM.
Akhirnya
setelah maju-mundur dan mundur-maju, BBM dinaikan juga. Rakyat miskin kian
sengsara. Sebab siapapun juga tahu, kalau harga BBM dinaikan maka segala kebutuhan
pokok bahkan yang tidak pokok sekali pun, akan ikut-ikutan naik.
Hal
tersebut disadari benar oleh tim penasehat Presiden. Itu sebabnya sebelum BBM
dinaikan mereka mengadakan rapat dulu untuk memberikan masukan kepada Presiden.
“Bagaimana
pun kenaikan harga BBM ini pasti akan menimbulkan gejolak di kalangan rakyat
kecil. Dan situasi tersebut bisa dimanpaatkan oleh partai oposisi untuk
menurunkan tingkat kredibelitas Presiden di mata rakyat. Maka kami mengusulkan
kepada Presiden, untuk meredam aksi-aksi yang mungkin nanti akan timbul perlu
diberi semacam iming-iming yang bernama BLT. Ada pun setelah nanti situasinya
terkendali, BLT ini akan kembali kita masukan ke dalam kandangnya.” Kata Dewan
penasehat Presiden.
Tanpa
berpikir dua kali Presiden langsung menyetujui ide tersebut. Maka BLT pun di
sebar kepada seluruh rakyat miskin. Semua orang, yaitu rakyat miskin, rakyat
yang tidak miskin, Politikus, tukang suap, anggota dewan, Lsm, koruptor
termasuk juga keluarganya, menyambut kedatangan si BLT dengan gegap gempita.
Televisi
menyiarkannya. Koran-koran memuat beritanya. Semua tokoh berbicara mengenainya.
Si BLT pun menjadi popular.
Beberapa bulan kemudian Presiden
melakukan kunjungan ke sebuah perkampungan miskin untuk meninjau sejauh mana
BLT tersebut tepat sasaran. Alangkah terkejutnya Presiden saat mengetahui
ternyata BLT-nya sudah dikorupsi oleh bawahannya. Ada yang katanya untuk
administrasi, pembangunan jalan desa, untuk dibagi kepada rakyat miskin lain
yang tidak kebagian, dan alasan-alasan lainnya yang semuanya serba masuk akal.
Mengetahui kejadian itu Presiden menangis
berurai air mata. Di hadapan para warga miskin itu ia berjanji akan mengusut
tuntas kasus tersebut. Mendengar itu maka rakyat miskin pun ikut menangis.
“Kalian tidak perlu sedih. BLT tahap
dua akan segera menyusul,” Hibur Presiden.
“Kami menangis bukan karena itu,
pak,” Kata seorang warga tiba-tiba memberanikan diri.
“Terus karena apa?”
Warga menjawab.
“BLT bapak baru sekali dikorupsi dan
bapak menangis. Sementara kami lima tahun jadi rakyat bapak dan setiap hari
duit kami dikorupsi. Bagaimana kami tidak menangis?”
Saya
juga menangis. Tapi bukan karena BLT juga bukan karena korupsi. Melainkan
kenapa malah bapak lagi yang jadi Presiden saya.
BAHASA
KORUPTOR
“Taff, coba kamu kemari,”
Di
sela-sela waktu istirahatnya seorang menteri memanggil salah satu staf
khususnya yang bernama Dustaff ke ruang kerjanya. Setelah Dustaff masuk pintu
kemudian ditutup supaya tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
“Ada apa, pak?” Tanya Dustaff begitu
di duduk.
“Kamu masih ingat kan perusahaan ANU
yang baru saja memperoleh proyek dari kementrian kita?” Suara pak menteri
hampir berbisik.
“Oh, ingat pak. Perusahaan
kontraktor itu. Apa ada masalah?”
“Bukan. Sama sekali tidak ada
masalah. Hanya saja rasanya sejak pengajuan proposalnya kita setujui mereka
belum pernah ada lagi menghubungi kita. Padahal saya ingat betul, dulu mereka
sampai menyembah-nyembah pada kita agar proyek itu bisa mereka dapatkan.”
“Mungkin mereka sedang sibuk jadi
agak sedikit lupa pada kita. Bosnya kan sering bepergian ke luar negeri. Apa
perlu saya panggil, pak?”
“Jangan. Jangan di panggil kemari
Terlalu riskan. Seperti kita tau sekarang ini media sengaja selalu mencari-cari
skandal pemerintah supaya koran mereka bisa laku. Tolong, kamu tulis saja memo
untuk mereka. Tanyakan bagaimana kabarnya. Apa proyeknya lancar. Tapi ingat
jangan sampai ada pihak ketiga yang tau akan hal ini.”
“Siap, pak.”
Dustaff, staf khusus yang pandai
menterjemahkan keinginan atasannya itu langsung saja bekerja. Ia menyiapkan
selembar memo. Ditulisnya beberapa kalimat yang simple dan singkat yang
menurutnya akan bisa dipahami oleh bos besar dari perusahaan ANU. Kemudian surat
tersebut dikirimkannya.
Yang menerima adalah sekretaris
perusahaan ANU. Ketika dibuka, si Sekretaris yang cantik jelita itu langsung
mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti. Sepanjang bekerja di perusahaan
ANU baru kali ini dirinya menerima surat yang isinya demikian membingungkan.
Inilah isi surat itu :
Satu
tambah satu sama dengan lima
Lima
kali dua hasilnya dua puluh
Dua
puluh dibagi dua, lima puluh-lima puluh
Delapan
dikurangi dua sama dengan dua belas.
Terima
kasih.
Karena tidak mengerti, si Sekretaris
memutuskan untuk mengkonsultasikan surat tersebut kepada bosnya.
“Ada surat untuk perusahaan kita
dari sebuah kementrian. Tapi sepertinya ini hanya kerjaan orang iseng saja,
pak, karena isinya sangat kacau. Sepertinya penulisnya tidak punya otak.”
Katanya.
Sang bos membacanya sejenak. Setelah
selesai surat itu dilipatnya kembali seraya berkomentar ringan.
“Dasar sekretaris blo-on. Begini
saja nggak ngerti. Ini artinya kita disuruh menggelembungkan dana proyek dan
dia minta bagian.”
Berarti
salah satu ciri koruptor adalah dia tidak bisa melakukan penjumlahan,
perkalian, dan pengurangan, serta pembagian dengan benar. Maka jangan
pekerjakan dia di bank. Baik itu menjadi gubernur di bank Indonesia apalagi
bank Century.
“Kalau
jadi wakil Presiden?”Tiba-tiba ada yang nyeletuk.
“Jadi wakil Presiden pun tetap
tidak boleh !” Entah siapa yang tiba-tiba berteriak menjawab.
BALADA BLBI
Di
kampung Cicinde semua warga selalu melakukan ronda keliling yang diatur secara
bergiliran. Selain tujuannya untuk menjaga keamanan, melalui ronda keliling itu
juga warga jadi bisa saling mengenal satu sama lain secara lebih akrab. Sering
setelah selesai melakukan kegiatan meronda, urusan bisa disambung dengan acara
bisnis kecil-kecilan.
Malam itu seperti biasa sekitar lima
belas orang telah berkumpul di pos ronda. Satu orang berperan sebagai pimpinannya
dan sedang membagi area ronda masing-masing grup. Tiap grup biasanya terdiri
dari empat atau tiga orang.
“Kelompok kamu di Rt. 01, kamu 03,
kamu 04 dan kamu 02. Kita berkumpul lagi jam setengah empat. Dua orang bertugas
menjaga pos. Semua siap?”
“Siap !” Jawab para peronda
bersemangat.
Dengan
berkerudung sarung, mereka lalu berpencar sesuai pembagian wilayah tadi.
Kentongan di pukul berkali-kali mengusik keheningan malam. Hal tersebut
berpungsi sebagai penanda untuk menegaskan kehadiran mereka sehingga warga
merasa aman dan maling pun lari terpontang-panting.
Waktu
mengalir seperti angin. Tahu-tahu sudah hampir jam dua belas. Cicinde kian
sepi. Udara terasa dingin dan jangkerik berderik-derik saling bersahutan.
Namun
sepi itu tidak berlangsung lama. Karena mendadak dari pinggir kampung tiba-tiba
terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu disertai teriakan para peronda
membangunkan warga.
Tong!
Tong!
Tong!
“Banguun
!”
“Banguuun
!”
Orang-orang yang sudah tidur dan
hampir tidur segera berhamburan keluar. Mereka ribut saling bertanya sesamanya
dengan wajah kebingungan.
Dari
jalan kampung datanglah seorang petugas ronda dengan tergopoh-gopoh. Kepada
para warga ia memberitahukan kalau mereka baru saja menangkap seekor Babi
mencurigakan dan sekarang Babi itu ada di kelurahan.
Mendengar kabar tersebut, semua
warga kampung segera bergerak menuju ke sana. Gedung kelurahan sebentar saja
sudah sesak oleh ratusan penduduk yang bergerombol ingin melihat sang Babi.
Tampak Babi itu sedang diikat ke sebuah tiang.
“Saya curiga ini adalah Babi
jadi-jadian alias Babi ngepet. Kampung kita kan jauh dari hutan dan tidak ada
seorang pun warga yang memelihara Babi. Apalagi sudah beberapa hari ini banyak
orang yang mengaku kehilangan uangnya secara misterius,” Kata pak Lurah yang
sudah sepuh.
“Tapi bagaimana cara membuktikannya
kalau ini Babi jadi-jadian atau Babi asli, pak Lurah?” Warga bingung.
“Panggil semua paranormal kemari,”
Perintah pak Lurah.
Semua Paranormal yang ada di Cicinde
pun dikumpulkan. Mereka lantas diperintahkan oleh pak Lurah untuk membongkar
kedok sang Babi bagaimana pun caranya.
Satu
persatu Paranormal maju dan mengerahkan semua ilmu serta kemampuannya. Ada yang
menggunakan jampi-jampi, tenaga dalam, keris pusaka, membakar kemenyan, atau
dengan menggunakan bantuan jin peliharaannya.
Namun hingga paranormal terakhir beraksi,
ternyata tak seorang pun ada yang berhasil membuka kedok si Babi. Si Babi tetap
menggelosoh di lantai tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh para dukun yang
sedang berusaha mempreteli keadaan dirinya.
Warga dan pak Lurah jadi bingung.
Mereka tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa. Untunglah dalam keadaan
bingung itu tiba-tiba datang seorang anggota DPR dan seorang pejabat
pemerintah. Mereka kemudian memberikan
usulnya.
“Untuk mengetahui apakah ini Babi
asli atau Babi jadi-jadian gampang. Kita kasih saja dia singkong dan uang.
Kalau dia memilih singkong berarti ini Babi asli. Tapi kalau dia milih uang,
jelas ini Babi ngepet dan harus kita bunuh bersama-sama. Gimana, setuju?” Tanya
pejabat pemerintah.
“Setuju !” Jawab anggota DPR diikuti
teriakan semua orang.
Ke hadapan si Babi kemudian disodorkan sepiring
singkong rebus dan selembar uang seratus ribuan. Semua warga melotot hampir tak
berkedip dengan janttung berdebar.
Selama
beberapa saat si Babi tampak celingukan
antara memilih uang atau singkong.
Setelah beberapa detik hanya
menyegrok-nyegrok saja, si Babi pun akhirnya menentukan pilihan. Pertama
dihampirinya singkong rebus itu dan dimakannya hingga ludes. Setelah itu
barulah dia menghampiri uangnya, menggigitnya, dan kemudian membawanya kabur !
BLBI
: Babinya Lari Bawa korupsI
BLT RIWAYATMU DULU
Karena di tahun 2014 ini Presiden
Indonesia sudah berganti, maka tidak ada salahnya kalau kita sedikit menengok
kenangan masa silam beberapa tahun ke belakang saat muncul mahluk yang bernama
BLT dan menjadi rebutan jutaan rakyat Indonesia. Waktu itu, semua rakyat
Indonesia mendadak jadi jatuh miskin karena ingin mendapatkan BLT yang pertiga
bulannya sebesar tiga ratus ribu rupiah.
Pertamanya memang gara-gara si BBM.
Akhirnya
setelah maju-mundur dan mundur-maju, BBM dinaikan juga. Rakyat miskin kian
sengsara. Sebab siapapun juga tahu, kalau harga BBM dinaikan maka segala kebutuhan
pokok bahkan yang tidak pokok sekali pun, akan ikut-ikutan naik.
Hal
tersebut disadari benar oleh tim penasehat Presiden. Itu sebabnya sebelum BBM
dinaikan mereka mengadakan rapat dulu untuk memberikan masukan kepada Presiden.
“Bagaimana
pun kenaikan harga BBM ini pasti akan menimbulkan gejolak di kalangan rakyat
kecil. Dan situasi tersebut bisa dimanpaatkan oleh partai oposisi untuk
menurunkan tingkat kredibelitas Presiden di mata rakyat. Maka kami mengusulkan
kepada Presiden, untuk meredam aksi-aksi yang mungkin nanti akan timbul perlu
diberi semacam iming-iming yang bernama BLT. Ada pun setelah nanti situasinya
terkendali, BLT ini akan kembali kita masukan ke dalam kandangnya.” Kata Dewan
penasehat Presiden.
Tanpa
berpikir dua kali Presiden langsung menyetujui ide tersebut. Maka BLT pun di
sebar kepada seluruh rakyat miskin. Semua orang, yaitu rakyat miskin, rakyat
yang tidak miskin, Politikus, tukang suap, anggota dewan, Lsm, koruptor
termasuk juga keluarganya, menyambut kedatangan si BLT dengan gegap gempita.
Televisi
menyiarkannya. Koran-koran memuat beritanya. Semua tokoh berbicara mengenainya.
Si BLT pun menjadi popular.
Beberapa bulan kemudian Presiden
melakukan kunjungan ke sebuah perkampungan miskin untuk meninjau sejauh mana
BLT tersebut tepat sasaran. Alangkah terkejutnya Presiden saat mengetahui
ternyata BLT-nya sudah dikorupsi oleh bawahannya. Ada yang katanya untuk
administrasi, pembangunan jalan desa, untuk dibagi kepada rakyat miskin lain
yang tidak kebagian, dan alasan-alasan lainnya yang semuanya serba masuk akal.
Mengetahui kejadian itu Presiden menangis
berurai air mata. Di hadapan para warga miskin itu ia berjanji akan mengusut
tuntas kasus tersebut. Mendengar itu maka rakyat miskin pun ikut menangis.
“Kalian tidak perlu sedih. BLT tahap
dua akan segera menyusul,” Hibur Presiden.
“Kami menangis bukan karena itu,
pak,” Kata seorang warga tiba-tiba memberanikan diri.
“Terus karena apa?”
Warga menjawab.
“BLT bapak baru sekali dikorupsi dan
bapak menangis. Sementara kami lima tahun jadi rakyat bapak dan setiap hari
duit kami dikorupsi. Bagaimana kami tidak menangis?”
Saya
juga menangis. Tapi bukan karena BLT juga bukan karena korupsi. Melainkan
kenapa malah bapak lagi yang jadi Presiden saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar