Jumat, 26 Februari 2016

Cerpen mini KORUPSI !



BAHASA KORUPTOR

            “Taff, coba kamu kemari,”
Di sela-sela waktu istirahatnya seorang menteri memanggil salah satu staf khususnya yang bernama Dustaff ke ruang kerjanya. Setelah Dustaff masuk pintu kemudian ditutup supaya tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
            “Ada apa, pak?” Tanya Dustaff begitu di duduk.
            “Kamu masih ingat kan perusahaan ANU yang baru saja memperoleh proyek dari kementrian kita?” Suara pak menteri hampir berbisik.
            “Oh, ingat pak. Perusahaan kontraktor itu. Apa ada masalah?”
            “Bukan. Sama sekali tidak ada masalah. Hanya saja rasanya sejak pengajuan proposalnya kita setujui mereka belum pernah ada lagi menghubungi kita. Padahal saya ingat betul, dulu mereka sampai menyembah-nyembah pada kita agar proyek itu bisa mereka dapatkan.”
            “Mungkin mereka sedang sibuk jadi agak sedikit lupa pada kita. Bosnya kan sering bepergian ke luar negeri. Apa perlu saya panggil, pak?”
            “Jangan. Jangan di panggil kemari Terlalu riskan. Seperti kita tau sekarang ini media sengaja selalu mencari-cari skandal pemerintah supaya koran mereka bisa laku. Tolong, kamu tulis saja memo untuk mereka. Tanyakan bagaimana kabarnya. Apa proyeknya lancar. Tapi ingat jangan sampai ada pihak ketiga yang tau akan hal ini.”
            “Siap, pak.”
            Dustaff, staf khusus yang pandai menterjemahkan keinginan atasannya itu langsung saja bekerja. Ia menyiapkan selembar memo. Ditulisnya beberapa kalimat yang simple dan singkat yang menurutnya akan bisa dipahami oleh bos besar dari perusahaan ANU. Kemudian surat tersebut dikirimkannya.
            Yang menerima adalah sekretaris perusahaan ANU. Ketika dibuka, si Sekretaris yang cantik jelita itu langsung mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti. Sepanjang bekerja di perusahaan ANU baru kali ini dirinya menerima surat yang isinya demikian membingungkan. Inilah isi surat itu :
            Satu tambah satu sama dengan lima
            Lima kali dua hasilnya dua puluh
            Dua puluh dibagi dua, lima puluh-lima puluh
            Delapan dikurangi dua sama dengan dua belas.
            Terima kasih.
            Karena tidak mengerti, si Sekretaris memutuskan untuk mengkonsultasikan surat tersebut kepada bosnya.
            “Ada surat untuk perusahaan kita dari sebuah kementrian. Tapi sepertinya ini hanya kerjaan orang iseng saja, pak, karena isinya sangat kacau. Sepertinya penulisnya tidak punya otak.” Katanya.
            Sang bos membacanya sejenak. Setelah selesai surat itu dilipatnya kembali seraya berkomentar ringan.
            “Dasar sekretaris blo-on. Begini saja nggak ngerti. Ini artinya kita disuruh menggelembungkan dana proyek dan dia minta bagian.”

            Berarti salah satu ciri koruptor adalah dia tidak bisa melakukan penjumlahan, perkalian, dan pengurangan, serta pembagian dengan benar. Maka jangan pekerjakan dia di bank. Baik itu menjadi gubernur di bank Indonesia apalagi bank Century.
            “Kalau jadi wakil Presiden?”Tiba-tiba ada yang nyeletuk.
“Jadi wakil Presiden pun tetap tidak boleh !” Entah siapa yang tiba-tiba berteriak menjawab.
BALADA  BLBI

Di kampung Cicinde semua warga selalu melakukan ronda keliling yang diatur secara bergiliran. Selain tujuannya untuk menjaga keamanan, melalui ronda keliling itu juga warga jadi bisa saling mengenal satu sama lain secara lebih akrab. Sering setelah selesai melakukan kegiatan meronda, urusan bisa disambung dengan acara bisnis kecil-kecilan.
            Malam itu seperti biasa sekitar lima belas orang telah berkumpul di pos ronda. Satu orang berperan sebagai pimpinannya dan sedang membagi area ronda masing-masing grup. Tiap grup biasanya terdiri dari empat atau tiga orang.
            “Kelompok kamu di Rt. 01, kamu 03, kamu 04 dan kamu 02. Kita berkumpul lagi jam setengah empat. Dua orang bertugas menjaga pos. Semua siap?”
            “Siap !” Jawab para peronda bersemangat. 
Dengan berkerudung sarung, mereka lalu berpencar sesuai pembagian wilayah tadi. Kentongan di pukul berkali-kali mengusik keheningan malam. Hal tersebut berpungsi sebagai penanda untuk menegaskan kehadiran mereka sehingga warga merasa aman dan maling pun lari terpontang-panting.
            Waktu mengalir seperti angin. Tahu-tahu sudah hampir jam dua belas. Cicinde kian sepi. Udara terasa dingin dan jangkerik berderik-derik saling bersahutan.
Namun sepi itu tidak berlangsung lama. Karena mendadak dari pinggir kampung tiba-tiba terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu disertai teriakan para peronda membangunkan warga.
Tong!
Tong!
Tong!
“Banguun !”
“Banguuun !”
            Orang-orang yang sudah tidur dan hampir tidur segera berhamburan keluar. Mereka ribut saling bertanya sesamanya dengan wajah kebingungan.
Dari jalan kampung datanglah seorang petugas ronda dengan tergopoh-gopoh. Kepada para warga ia memberitahukan kalau mereka baru saja menangkap seekor Babi mencurigakan dan sekarang Babi itu ada di kelurahan.
            Mendengar kabar tersebut, semua warga kampung segera bergerak menuju ke sana. Gedung kelurahan sebentar saja sudah sesak oleh ratusan penduduk yang bergerombol ingin melihat sang Babi. Tampak Babi itu sedang diikat ke sebuah tiang.
            “Saya curiga ini adalah Babi jadi-jadian alias Babi ngepet. Kampung kita kan jauh dari hutan dan tidak ada seorang pun warga yang memelihara Babi. Apalagi sudah beberapa hari ini banyak orang yang mengaku kehilangan uangnya secara misterius,” Kata pak Lurah yang sudah sepuh.
            “Tapi bagaimana cara membuktikannya kalau ini Babi jadi-jadian atau Babi asli, pak Lurah?” Warga bingung.
            “Panggil semua paranormal kemari,” Perintah pak Lurah.
            Semua Paranormal yang ada di Cicinde pun dikumpulkan. Mereka lantas diperintahkan oleh pak Lurah untuk membongkar kedok sang Babi bagaimana pun caranya.
Satu persatu Paranormal maju dan mengerahkan semua ilmu serta kemampuannya. Ada yang menggunakan jampi-jampi, tenaga dalam, keris pusaka, membakar kemenyan, atau dengan menggunakan bantuan jin peliharaannya.
 Namun hingga paranormal terakhir beraksi, ternyata tak seorang pun ada yang berhasil membuka kedok si Babi. Si Babi tetap menggelosoh di lantai tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh para dukun yang sedang berusaha mempreteli keadaan dirinya.
            Warga dan pak Lurah jadi bingung. Mereka tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa. Untunglah dalam keadaan bingung itu tiba-tiba datang seorang anggota DPR dan seorang pejabat pemerintah.  Mereka kemudian memberikan usulnya.
            “Untuk mengetahui apakah ini Babi asli atau Babi jadi-jadian gampang. Kita kasih saja dia singkong dan uang. Kalau dia memilih singkong berarti ini Babi asli. Tapi kalau dia milih uang, jelas ini Babi ngepet dan harus kita bunuh bersama-sama. Gimana, setuju?” Tanya pejabat pemerintah.
            “Setuju !” Jawab anggota DPR diikuti teriakan semua orang.
             Ke hadapan si Babi kemudian disodorkan sepiring singkong rebus dan selembar uang seratus ribuan. Semua warga melotot hampir tak berkedip dengan janttung berdebar.
Selama beberapa saat si Babi  tampak celingukan antara memilih uang atau singkong.
            Setelah beberapa detik hanya menyegrok-nyegrok saja, si Babi pun akhirnya menentukan pilihan. Pertama dihampirinya singkong rebus itu dan dimakannya hingga ludes. Setelah itu barulah dia menghampiri uangnya, menggigitnya, dan kemudian membawanya kabur !

            BLBI : Babinya Lari Bawa korupsI

BLT RIWAYATMU DULU

            Karena di tahun 2014 ini Presiden Indonesia sudah berganti, maka tidak ada salahnya kalau kita sedikit menengok kenangan masa silam beberapa tahun ke belakang saat muncul mahluk yang bernama BLT dan menjadi rebutan jutaan rakyat Indonesia. Waktu itu, semua rakyat Indonesia mendadak jadi jatuh miskin karena ingin mendapatkan BLT yang pertiga bulannya sebesar tiga ratus ribu rupiah.
            Pertamanya memang gara-gara si BBM.
Akhirnya setelah maju-mundur dan mundur-maju, BBM dinaikan juga. Rakyat miskin kian sengsara. Sebab siapapun juga tahu, kalau harga BBM dinaikan maka segala kebutuhan pokok bahkan yang tidak pokok sekali pun, akan ikut-ikutan naik.
Hal tersebut disadari benar oleh tim penasehat Presiden. Itu sebabnya sebelum BBM dinaikan mereka mengadakan rapat dulu untuk memberikan masukan kepada Presiden.
“Bagaimana pun kenaikan harga BBM ini pasti akan menimbulkan gejolak di kalangan rakyat kecil. Dan situasi tersebut bisa dimanpaatkan oleh partai oposisi untuk menurunkan tingkat kredibelitas Presiden di mata rakyat. Maka kami mengusulkan kepada Presiden, untuk meredam aksi-aksi yang mungkin nanti akan timbul perlu diberi semacam iming-iming yang bernama BLT. Ada pun setelah nanti situasinya terkendali, BLT ini akan kembali kita masukan ke dalam kandangnya.” Kata Dewan penasehat Presiden.
Tanpa berpikir dua kali Presiden langsung menyetujui ide tersebut. Maka BLT pun di sebar kepada seluruh rakyat miskin. Semua orang, yaitu rakyat miskin, rakyat yang tidak miskin, Politikus, tukang suap, anggota dewan, Lsm, koruptor termasuk juga keluarganya, menyambut kedatangan si BLT dengan gegap gempita.
Televisi menyiarkannya. Koran-koran memuat beritanya. Semua tokoh berbicara mengenainya. Si BLT pun menjadi popular.
            Beberapa bulan kemudian Presiden melakukan kunjungan ke sebuah perkampungan miskin untuk meninjau sejauh mana BLT tersebut tepat sasaran. Alangkah terkejutnya Presiden saat mengetahui ternyata BLT-nya sudah dikorupsi oleh bawahannya. Ada yang katanya untuk administrasi, pembangunan jalan desa, untuk dibagi kepada rakyat miskin lain yang tidak kebagian, dan alasan-alasan lainnya yang semuanya serba masuk akal.
            Mengetahui kejadian itu Presiden menangis berurai air mata. Di hadapan para warga miskin itu ia berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut. Mendengar itu maka rakyat miskin pun ikut menangis.
            “Kalian tidak perlu sedih. BLT tahap dua akan segera menyusul,” Hibur Presiden.
            “Kami menangis bukan karena itu, pak,” Kata seorang warga tiba-tiba memberanikan diri.
            “Terus karena apa?”
            Warga menjawab.
            “BLT bapak baru sekali dikorupsi dan bapak menangis. Sementara kami lima tahun jadi rakyat bapak dan setiap hari duit kami dikorupsi. Bagaimana kami tidak menangis?”

            Saya juga menangis. Tapi bukan karena BLT juga bukan karena korupsi. Melainkan kenapa malah bapak lagi yang jadi Presiden saya.


BAHASA KORUPTOR

            “Taff, coba kamu kemari,”
Di sela-sela waktu istirahatnya seorang menteri memanggil salah satu staf khususnya yang bernama Dustaff ke ruang kerjanya. Setelah Dustaff masuk pintu kemudian ditutup supaya tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
            “Ada apa, pak?” Tanya Dustaff begitu di duduk.
            “Kamu masih ingat kan perusahaan ANU yang baru saja memperoleh proyek dari kementrian kita?” Suara pak menteri hampir berbisik.
            “Oh, ingat pak. Perusahaan kontraktor itu. Apa ada masalah?”
            “Bukan. Sama sekali tidak ada masalah. Hanya saja rasanya sejak pengajuan proposalnya kita setujui mereka belum pernah ada lagi menghubungi kita. Padahal saya ingat betul, dulu mereka sampai menyembah-nyembah pada kita agar proyek itu bisa mereka dapatkan.”
            “Mungkin mereka sedang sibuk jadi agak sedikit lupa pada kita. Bosnya kan sering bepergian ke luar negeri. Apa perlu saya panggil, pak?”
            “Jangan. Jangan di panggil kemari Terlalu riskan. Seperti kita tau sekarang ini media sengaja selalu mencari-cari skandal pemerintah supaya koran mereka bisa laku. Tolong, kamu tulis saja memo untuk mereka. Tanyakan bagaimana kabarnya. Apa proyeknya lancar. Tapi ingat jangan sampai ada pihak ketiga yang tau akan hal ini.”
            “Siap, pak.”
            Dustaff, staf khusus yang pandai menterjemahkan keinginan atasannya itu langsung saja bekerja. Ia menyiapkan selembar memo. Ditulisnya beberapa kalimat yang simple dan singkat yang menurutnya akan bisa dipahami oleh bos besar dari perusahaan ANU. Kemudian surat tersebut dikirimkannya.
            Yang menerima adalah sekretaris perusahaan ANU. Ketika dibuka, si Sekretaris yang cantik jelita itu langsung mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti. Sepanjang bekerja di perusahaan ANU baru kali ini dirinya menerima surat yang isinya demikian membingungkan. Inilah isi surat itu :
            Satu tambah satu sama dengan lima
            Lima kali dua hasilnya dua puluh
            Dua puluh dibagi dua, lima puluh-lima puluh
            Delapan dikurangi dua sama dengan dua belas.
            Terima kasih.
            Karena tidak mengerti, si Sekretaris memutuskan untuk mengkonsultasikan surat tersebut kepada bosnya.
            “Ada surat untuk perusahaan kita dari sebuah kementrian. Tapi sepertinya ini hanya kerjaan orang iseng saja, pak, karena isinya sangat kacau. Sepertinya penulisnya tidak punya otak.” Katanya.
            Sang bos membacanya sejenak. Setelah selesai surat itu dilipatnya kembali seraya berkomentar ringan.
            “Dasar sekretaris blo-on. Begini saja nggak ngerti. Ini artinya kita disuruh menggelembungkan dana proyek dan dia minta bagian.”

            Berarti salah satu ciri koruptor adalah dia tidak bisa melakukan penjumlahan, perkalian, dan pengurangan, serta pembagian dengan benar. Maka jangan pekerjakan dia di bank. Baik itu menjadi gubernur di bank Indonesia apalagi bank Century.
            “Kalau jadi wakil Presiden?”Tiba-tiba ada yang nyeletuk.
“Jadi wakil Presiden pun tetap tidak boleh !” Entah siapa yang tiba-tiba berteriak menjawab.
BALADA  BLBI

Di kampung Cicinde semua warga selalu melakukan ronda keliling yang diatur secara bergiliran. Selain tujuannya untuk menjaga keamanan, melalui ronda keliling itu juga warga jadi bisa saling mengenal satu sama lain secara lebih akrab. Sering setelah selesai melakukan kegiatan meronda, urusan bisa disambung dengan acara bisnis kecil-kecilan.
            Malam itu seperti biasa sekitar lima belas orang telah berkumpul di pos ronda. Satu orang berperan sebagai pimpinannya dan sedang membagi area ronda masing-masing grup. Tiap grup biasanya terdiri dari empat atau tiga orang.
            “Kelompok kamu di Rt. 01, kamu 03, kamu 04 dan kamu 02. Kita berkumpul lagi jam setengah empat. Dua orang bertugas menjaga pos. Semua siap?”
            “Siap !” Jawab para peronda bersemangat. 
Dengan berkerudung sarung, mereka lalu berpencar sesuai pembagian wilayah tadi. Kentongan di pukul berkali-kali mengusik keheningan malam. Hal tersebut berpungsi sebagai penanda untuk menegaskan kehadiran mereka sehingga warga merasa aman dan maling pun lari terpontang-panting.
            Waktu mengalir seperti angin. Tahu-tahu sudah hampir jam dua belas. Cicinde kian sepi. Udara terasa dingin dan jangkerik berderik-derik saling bersahutan.
Namun sepi itu tidak berlangsung lama. Karena mendadak dari pinggir kampung tiba-tiba terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu disertai teriakan para peronda membangunkan warga.
Tong!
Tong!
Tong!
“Banguun !”
“Banguuun !”
            Orang-orang yang sudah tidur dan hampir tidur segera berhamburan keluar. Mereka ribut saling bertanya sesamanya dengan wajah kebingungan.
Dari jalan kampung datanglah seorang petugas ronda dengan tergopoh-gopoh. Kepada para warga ia memberitahukan kalau mereka baru saja menangkap seekor Babi mencurigakan dan sekarang Babi itu ada di kelurahan.
            Mendengar kabar tersebut, semua warga kampung segera bergerak menuju ke sana. Gedung kelurahan sebentar saja sudah sesak oleh ratusan penduduk yang bergerombol ingin melihat sang Babi. Tampak Babi itu sedang diikat ke sebuah tiang.
            “Saya curiga ini adalah Babi jadi-jadian alias Babi ngepet. Kampung kita kan jauh dari hutan dan tidak ada seorang pun warga yang memelihara Babi. Apalagi sudah beberapa hari ini banyak orang yang mengaku kehilangan uangnya secara misterius,” Kata pak Lurah yang sudah sepuh.
            “Tapi bagaimana cara membuktikannya kalau ini Babi jadi-jadian atau Babi asli, pak Lurah?” Warga bingung.
            “Panggil semua paranormal kemari,” Perintah pak Lurah.
            Semua Paranormal yang ada di Cicinde pun dikumpulkan. Mereka lantas diperintahkan oleh pak Lurah untuk membongkar kedok sang Babi bagaimana pun caranya.
Satu persatu Paranormal maju dan mengerahkan semua ilmu serta kemampuannya. Ada yang menggunakan jampi-jampi, tenaga dalam, keris pusaka, membakar kemenyan, atau dengan menggunakan bantuan jin peliharaannya.
 Namun hingga paranormal terakhir beraksi, ternyata tak seorang pun ada yang berhasil membuka kedok si Babi. Si Babi tetap menggelosoh di lantai tanpa sedikit pun merasa terganggu oleh para dukun yang sedang berusaha mempreteli keadaan dirinya.
            Warga dan pak Lurah jadi bingung. Mereka tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa. Untunglah dalam keadaan bingung itu tiba-tiba datang seorang anggota DPR dan seorang pejabat pemerintah.  Mereka kemudian memberikan usulnya.
            “Untuk mengetahui apakah ini Babi asli atau Babi jadi-jadian gampang. Kita kasih saja dia singkong dan uang. Kalau dia memilih singkong berarti ini Babi asli. Tapi kalau dia milih uang, jelas ini Babi ngepet dan harus kita bunuh bersama-sama. Gimana, setuju?” Tanya pejabat pemerintah.
            “Setuju !” Jawab anggota DPR diikuti teriakan semua orang.
             Ke hadapan si Babi kemudian disodorkan sepiring singkong rebus dan selembar uang seratus ribuan. Semua warga melotot hampir tak berkedip dengan janttung berdebar.
Selama beberapa saat si Babi  tampak celingukan antara memilih uang atau singkong.
            Setelah beberapa detik hanya menyegrok-nyegrok saja, si Babi pun akhirnya menentukan pilihan. Pertama dihampirinya singkong rebus itu dan dimakannya hingga ludes. Setelah itu barulah dia menghampiri uangnya, menggigitnya, dan kemudian membawanya kabur !

            BLBI : Babinya Lari Bawa korupsI

BLT RIWAYATMU DULU

            Karena di tahun 2014 ini Presiden Indonesia sudah berganti, maka tidak ada salahnya kalau kita sedikit menengok kenangan masa silam beberapa tahun ke belakang saat muncul mahluk yang bernama BLT dan menjadi rebutan jutaan rakyat Indonesia. Waktu itu, semua rakyat Indonesia mendadak jadi jatuh miskin karena ingin mendapatkan BLT yang pertiga bulannya sebesar tiga ratus ribu rupiah.
            Pertamanya memang gara-gara si BBM.
Akhirnya setelah maju-mundur dan mundur-maju, BBM dinaikan juga. Rakyat miskin kian sengsara. Sebab siapapun juga tahu, kalau harga BBM dinaikan maka segala kebutuhan pokok bahkan yang tidak pokok sekali pun, akan ikut-ikutan naik.
Hal tersebut disadari benar oleh tim penasehat Presiden. Itu sebabnya sebelum BBM dinaikan mereka mengadakan rapat dulu untuk memberikan masukan kepada Presiden.
“Bagaimana pun kenaikan harga BBM ini pasti akan menimbulkan gejolak di kalangan rakyat kecil. Dan situasi tersebut bisa dimanpaatkan oleh partai oposisi untuk menurunkan tingkat kredibelitas Presiden di mata rakyat. Maka kami mengusulkan kepada Presiden, untuk meredam aksi-aksi yang mungkin nanti akan timbul perlu diberi semacam iming-iming yang bernama BLT. Ada pun setelah nanti situasinya terkendali, BLT ini akan kembali kita masukan ke dalam kandangnya.” Kata Dewan penasehat Presiden.
Tanpa berpikir dua kali Presiden langsung menyetujui ide tersebut. Maka BLT pun di sebar kepada seluruh rakyat miskin. Semua orang, yaitu rakyat miskin, rakyat yang tidak miskin, Politikus, tukang suap, anggota dewan, Lsm, koruptor termasuk juga keluarganya, menyambut kedatangan si BLT dengan gegap gempita.
Televisi menyiarkannya. Koran-koran memuat beritanya. Semua tokoh berbicara mengenainya. Si BLT pun menjadi popular.
            Beberapa bulan kemudian Presiden melakukan kunjungan ke sebuah perkampungan miskin untuk meninjau sejauh mana BLT tersebut tepat sasaran. Alangkah terkejutnya Presiden saat mengetahui ternyata BLT-nya sudah dikorupsi oleh bawahannya. Ada yang katanya untuk administrasi, pembangunan jalan desa, untuk dibagi kepada rakyat miskin lain yang tidak kebagian, dan alasan-alasan lainnya yang semuanya serba masuk akal.
            Mengetahui kejadian itu Presiden menangis berurai air mata. Di hadapan para warga miskin itu ia berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut. Mendengar itu maka rakyat miskin pun ikut menangis.
            “Kalian tidak perlu sedih. BLT tahap dua akan segera menyusul,” Hibur Presiden.
            “Kami menangis bukan karena itu, pak,” Kata seorang warga tiba-tiba memberanikan diri.
            “Terus karena apa?”
            Warga menjawab.
            “BLT bapak baru sekali dikorupsi dan bapak menangis. Sementara kami lima tahun jadi rakyat bapak dan setiap hari duit kami dikorupsi. Bagaimana kami tidak menangis?”

            Saya juga menangis. Tapi bukan karena BLT juga bukan karena korupsi. Melainkan kenapa malah bapak lagi yang jadi Presiden saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar