Banyak
kasus teror yang menimpa pejuang keadilan di negeri ini. Contohnya bisa dimulai
dari kasus Marsinah, kasus tambang ilegal Salim kancil, hingga kasus Munir yang
tidak jelas penyelesaiannya sampai sekarang.
Dan
tampaknya kejadian serupa pun akan kembali terulang. Kali ini sang ketua KPK-lah
yang agaknya sedang menjadi incaran.
Pada
suatu petang yang temaram di salah satu sudut ibu kota yang hiruk - pikuk.
Sekelompok Koruptor kakap sedang menggelar sebuah rapat rahasia. Sebegitu rahasianya
sehingga untuk melaksanakannya mereka sampai harus berpura-pura menjadi
gelandangan yang dekil dan bau lalu duduk berkumpul di bawah jembatan layang.
Penyamaran tersebut mereka lakukan karena mereka sangat jerih dengan operasi
tangkap tangannya KPK yang sudah terkenal jitu.
Ketua
sedang mengabsen anak buahnya.
“Petruk?”
“Hadir.”
“Gareng?”
“Hadir”
“Dewala?”
“Hadir.”
“Togog?”
“Hadir.”
“Dorna?”
“Hadir.”
“Hadir.”
“Baik.
Semua rupanya hadir sesuai undangan. Jadi tujuan kita berkumpul adalah untuk
memberi pelajaran kepada ketua KPK supaya menghentikan sepak terjangnya menyelidiki kasus korupsi kita.
Adapun caranya adalah kita akan menyewa sekelompok pembunuh bayaran kaliber
internasional.”
Petruk
tiba-tiba mengacungkan tangannya.
“Jadi
ketua KPK akan di bunuh?”
“Oh,
tidak. Kita merasa belum perlu bertindak sampai sejauh itu. Ini cukup hanya
berupa kecelakaan kecil saja. Semacam shock terapi. Kita akan lihat bagaimana
reaksi dia. Jadi langsung saja kita adakan pemungutan suara. Petruk?”
“Setuju.”
“Gareng?”
“Setuju.”
“Dewala?”
“Setuju.”
“Togog?”
“Setuju.”
“Dorna?”
“Setuju.”
“Jadi
semua setuju. Kalau begitu pertemuan ini cukup sekian. Pertemuan ini tidak akan
didokumentasikan dan tidak ada pembicaraan lanjutan lagi. Silahkan pulang,
tuan-tuan. Terima kasih atas kehadirannya.”
Semua
gelandangan jadi-jadian itu pun bubar.
Tujuh
hari berlalu.
Seperti
biasa hari itu pun pak Abraham pulang sekitar jam sembilan malam. Tidak seperti
hari-hari sebelumnya. Kali ini sekitar gedung KPK sudah lengang. Satpam yang
biasanya ada di posnya kali ini tidak kelihatan. Mungkin sedang ke wc.
“Berhenti
!”
Ketua
KPK terkejut oleh suara itu. Lima orang berbadan kekar tiba-tiba keluar dari
sudut yang gelap.
“Siapa
kalian?” Ketua KPK tetap tenang.
“Kau
tidak perlu tau. Yang jelas kedatangan kami ini adalah untuk memberimu
pelajaran supaya berhenti mengusut kasus korupsi bos kami.”
“Aku
tidak takut pada kalian dan aku juga tidak akan berhenti memburu para koruptor.
Sudah banyak para pelaku korupsi dimanjakan di negeri ini. Aku tidak akan ikut-ikutan.”
“Kalau
begitu kami akan menghajarmu.”
Bak–buk
!
Bak-buk
!”
Karena
mbalelo, ketua KPK pun dihajar beramai-ramai. Para preman itu membawa bermacam
senjata. Ada Klewang, samurai, belati, double stick, juga pentungan. Semua
tidak ada yang mengenal belas kasihan terhadap ketua KPK.
Orang-orang
yang lalu-lalang di jalan tidak berani menolong karena takut kepada para preman
itu. Mereka menonton saja.
Namun
aneh. Lama kelamaan ternyata ketua KPK lah yang unggul. Satu persatu dia
menghajar para pengeroyoknya hingga mereka semua babak belur dan tidak ada yang
berkutik sama sekali.
Polisi
kemudian datang dan meringkus semuanya.
Wartawan
kemudian datang dan mulai mewawancara pak Abraham.
“Apakah
bapak bisa silat sehingga bisa mengalahkan para preman itu?”
“Tidak.”
“Kungfu?”
“Tidak.”
“Karate?”
“Juga
tidak.”
“Kalau
begitu tenaga dalam?”
“Itu
juga tidak.”
“Terus
apa dong rahasianya sehingga bapak bisa mengalahkan mereka semua?” Tanya
wartawan kian penasaran.
“Rahasianya,”
Kata pak Abraham.
“Yaitu
waktu menghajar mereka saya membayangkan para koruptor yang menggarong uang
negara sehingga akhirnya saya bisa menang.”
“Kalau begitu para preman itu sama dong
dengan koruptor?” Tanya saya yang juga ikut mewawancarai ketua KPK.
“Persamaannya hanya pada sama-sama
suka malakin duit rakyat. Tapi ada juga perbedaannya.”
“Apa perbedaannya, pak?”
“Apa perbedaannya, pak?”
“Perbedaannya biasanya kalau dalam
keadaan terdesak preman itu bersedia minta maap dan mengembalikan barang
rampasannya.”
Koruptor? Di pengadilan pun dia
masih bisa cengar-cengir seperti orang yang tidak punya salah.
Minta maap lalu mengembalikan duit
Negara yang digarongnya ?
Jangan mimpi lah, yauuu…!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar