Senin, 15 Agustus 2016

Rahasia kemenangan



Banyak kasus teror yang menimpa pejuang keadilan di negeri ini. Contohnya bisa dimulai dari kasus Marsinah, kasus tambang ilegal Salim kancil, hingga kasus Munir yang tidak jelas penyelesaiannya sampai sekarang.
Dan tampaknya kejadian serupa pun akan kembali terulang. Kali ini sang ketua KPK-lah yang agaknya sedang menjadi incaran.
Pada suatu petang yang temaram di salah satu sudut ibu kota yang hiruk - pikuk. Sekelompok Koruptor kakap sedang menggelar sebuah rapat rahasia. Sebegitu rahasianya sehingga untuk melaksanakannya mereka sampai harus berpura-pura menjadi gelandangan yang dekil dan bau lalu duduk berkumpul di bawah jembatan layang. Penyamaran tersebut mereka lakukan karena mereka sangat jerih dengan operasi tangkap tangannya KPK yang sudah terkenal jitu.
Ketua sedang mengabsen anak buahnya.
“Petruk?”
“Hadir.”
“Gareng?”
“Hadir”
“Dewala?”
“Hadir.”
“Togog?”
“Hadir.”
“Dorna?”
            “Hadir.”
“Baik. Semua rupanya hadir sesuai undangan. Jadi tujuan kita berkumpul adalah untuk memberi pelajaran kepada ketua KPK supaya menghentikan sepak  terjangnya menyelidiki kasus korupsi kita. Adapun caranya adalah kita akan menyewa sekelompok pembunuh bayaran kaliber internasional.”
Petruk tiba-tiba mengacungkan tangannya.
“Jadi ketua KPK akan di bunuh?”
“Oh, tidak. Kita merasa belum perlu bertindak sampai sejauh itu. Ini cukup hanya berupa kecelakaan kecil saja. Semacam shock terapi. Kita akan lihat bagaimana reaksi dia. Jadi langsung saja kita adakan pemungutan suara. Petruk?”
“Setuju.”
“Gareng?”
“Setuju.”
“Dewala?”
“Setuju.”
“Togog?”
“Setuju.”
“Dorna?”
“Setuju.”
“Jadi semua setuju. Kalau begitu pertemuan ini cukup sekian. Pertemuan ini tidak akan didokumentasikan dan tidak ada pembicaraan lanjutan lagi. Silahkan pulang, tuan-tuan. Terima kasih atas kehadirannya.”
Semua gelandangan jadi-jadian itu pun bubar.
Tujuh hari berlalu.
Seperti biasa hari itu pun pak Abraham pulang sekitar jam sembilan malam. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Kali ini sekitar gedung KPK sudah lengang. Satpam yang biasanya ada di posnya kali ini tidak kelihatan. Mungkin sedang ke wc.
“Berhenti !”
Ketua KPK terkejut oleh suara itu. Lima orang berbadan kekar tiba-tiba keluar dari sudut yang gelap.
“Siapa kalian?” Ketua KPK tetap tenang.
“Kau tidak perlu tau. Yang jelas kedatangan kami ini adalah untuk memberimu pelajaran supaya berhenti mengusut kasus korupsi bos kami.”
“Aku tidak takut pada kalian dan aku juga tidak akan berhenti memburu para koruptor. Sudah banyak para pelaku korupsi dimanjakan di negeri ini. Aku tidak akan ikut-ikutan.”
“Kalau begitu kami akan menghajarmu.”
Bak–buk !
Bak-buk !”
Karena mbalelo, ketua KPK pun dihajar beramai-ramai. Para preman itu membawa bermacam senjata. Ada Klewang, samurai, belati, double stick, juga pentungan. Semua tidak ada yang mengenal belas kasihan terhadap ketua KPK.
Orang-orang yang lalu-lalang di jalan tidak berani menolong karena takut kepada para preman itu. Mereka menonton saja.
Namun aneh. Lama kelamaan ternyata ketua KPK lah yang unggul. Satu persatu dia menghajar para pengeroyoknya hingga mereka semua babak belur dan tidak ada yang berkutik sama sekali.
Polisi kemudian datang dan meringkus semuanya.
Wartawan kemudian datang dan mulai mewawancara pak Abraham.
“Apakah bapak bisa silat sehingga bisa mengalahkan para preman itu?”
“Tidak.”
“Kungfu?”
“Tidak.”
“Karate?”
“Juga tidak.”
“Kalau begitu tenaga dalam?”
“Itu juga tidak.”
“Terus apa dong rahasianya sehingga bapak bisa mengalahkan mereka semua?” Tanya wartawan kian penasaran.
“Rahasianya,” Kata pak Abraham.
“Yaitu waktu menghajar mereka saya membayangkan para koruptor yang menggarong uang negara sehingga akhirnya saya bisa menang.”

Kalau begitu para preman itu sama dong dengan koruptor?” Tanya saya yang juga ikut mewawancarai ketua KPK.
“Persamaannya hanya pada sama-sama suka malakin duit rakyat. Tapi ada juga perbedaannya.”
            “Apa perbedaannya, pak?”
“Perbedaannya biasanya kalau dalam keadaan terdesak preman itu bersedia minta maap dan mengembalikan barang rampasannya.”
Koruptor? Di pengadilan pun dia masih bisa cengar-cengir seperti orang yang tidak punya salah.
Minta maap lalu mengembalikan duit Negara yang digarongnya ?
Jangan mimpi lah, yauuu…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar