Kampung Peundeuy namanya. Pelosok yang menggumbluk di salah satu sudut jalur Pantura. Di sana hiduplah dengan damai seorang paranormal terkenal yang bernama mbah Marijan.
Suatu
hari mbah Marijan kedatangan seorang pejabat dari kota. Namanya Ir. Sugema.
“Saya
dengar katanya mbah ini Paranormal sakti. Karena itu tujuan kedatangan saya ini
adalah untuk meminta bantuan mbah. Saya ingin pada pemilu kali ini partai saya
menang dan saya bisa menjadi
Presiden, mbah. Bantulah saya meraih jabatan tersebut. Apapun syaratnya pasti
akan saya penuhi. Dan nanti kalau ternyata saya berhasil jadi orang nomer satu
di Nusantara ini, semua permintaan mbah pasti akan saya wujudkan. Isteri yang
cantik, motor, atau mobil, semuanya untuk mbah.”
Mbah
Marijan manggut-manggut mendengar permintaan tamunya. Wajahnya dia
keriut-keriutkan pura-pura berpikir. Padahal dalam hati dia tersenyum gembira
mendapat klien kakap seperti ini.
“Permintaan
bapak ini penuh resiko dan berbahaya. Karena tampaknya calon dari partai lain
pun sudah lebih dulu mengerahkan seluruh kekuatan gaibnya. Tunggu akan saya
pantau dulu.”
Lepas
kata tunggu itu mbah Marijan bangkit dari duduk bersilanya dan masuk ke
kamarnya yang hanya ditutupi kain berwarna hitam.
Lama yang disebutnya dengan pemantauan itu .
Ada sekitar setengah jam. Membuat tamu kita gelisah dan bertanya-tanya.
Sebelum
datang ke sini, dia sudah datang ke dukun-dukun lainnya. Gelarnya macam-macam. Ada
yang disebut mbah, kyai, atau romo. Tapi mereka semuanya hanya pandai membual.
Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mengeruk duitnya. Sementara buah kerjanya
sama sekali tidak ada.
Memang,
sebagai orang politik, Ir. Sugema mengerti benar kalau orang-orang semacam
paranormal itu apalagi ideologinya kalau bukan uang. Mereka satu aliran dengan
kelompok Kapitalis, Sekuleris, dan Borjuis meski ada beberapa perbedaan mendasar.
Sebab setidaknya kaum kafitalis dan derifatnya itu tidak melakukan penipuan
secara mentah-mentah. Selalu ada sistem yang mereka hasilkan meski sistem itu
jauh dari keharmonisan keadilan kecuali untuk keuntungan kelompoknya semata.
Sedangkan
kelompok Dukunis, sudahlah dia menghancurkan ekonomi kliennya untuk kekayaan
pribadinya sendiri, masih ditambah pula dengan kehancuran tatanan agama
korbannya agar bersekutu dengan setan atau jin suruhannya.
Benar-benar
tragis !
Ehem
!
Tiba-tiba
Ir. Sugema tersentak kaget karena tau-tau mbah Marijan sudah ada lagi di
hadapannya dan sedang menatapnya.
“Gi..
gimana hasilnya, mbah?” Tanya Ir. Sugema sedikit gugup.
Mbah
Marijan kembali manggut-manggut sambil badannya agak doyong ke depan.
“Memang
pernasibanmu agak berat. Tapi di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.
Apalagi kalau mbah Marijan sudah turun tangan. Untuk mewujudkan cita-citamu itu
mbah akan memberimu sebuah keris pusaka. Ada jin di dalamnya. Nah, jin inilah
bersama ribuan anak buahnya nanti yang akan mempengaruhi pikiran para pemilih
supaya memilihmu. Tapi tentu saja ada syarat yang harus kamu penuhi.”
“Apa
syaratnya, mbah?” Tanya Ir. Sugema.
“Setiap
malam Jum’at keris ini harus kamu mandikan dengan kembang setaman. Kemudian
kamu juga harus menyediakan sesajen buat si jin ini berupa menyan Arab dan
menyan Apel jin, minyak jakfaron hitam, kopi pahit kopi manis, kembang kenanga,
dan yang terpenting adalah hati kambing mentah sepuluh tusuk. Ingat, nggak
boleh di campur. Harus hati semuanya. Gimana kamu sanggup?”
Mudah
dan gampang, pikir Ir. Sugema.
“Saya
sanggup, mbah.”
“Kalau
begitu kamu laksanakan mulai malam Jum’at besok.”
“Saya
siap, mbah. Ee.. maap, mbah. Berapa saya harus bayar mbah?”
“Oh,
nggak perlu repot-repot. Seikhlasnya kamu saja. Tapi pembayarannya kamu
transfer saja ke rekening mbah. Mau bank Century apa bank Bali? Ah, lebih baik
semuanya saja mbah kasihkan, ya? Biar gampang.”
Ir.
Sugema mengiyakan. Menurutnya mbah Marijan ini sedikit lebih ‘ikhlas’
dibandingkan dengan paranormal yang lain dimana dalam menentukan tarif tidak
mengenal batas tarif atas dan batas tarif bawah alias super mahal.
Jadi
berdasarkan ‘ikhlasnya’ itulah, Ir. Sugema kemudian menaruh keyakinan yang
tinggi kepada mbah Marijan bahwa cita-citanya menjadi Presiden akan kesampaian.
Jadi
seluruh petunjuknya secepatnya dilaksanakan. Disuruhnya staf khususnya untuk
menyediakan segala keperluan sesajen seperti yang disebutkan mbah Marijan.
Malam
Jum’at pertama dengan berdebar-debar ditaruhnya sesajen beserta keris pusaka
itu dalam ruangan khusus yang gelap dan tertutup. Lalu Ir. Sugema pergi tidur.
Tak
lama reaksinya mulai terasa. Mula-mula angin di luar rumah tiba-tiba berhembus
kencang. Lalu kedengaran langkah-langkah kaki di kamar khusus itu seakan ada
orang yang sedang berjalan-jalan di dalamnya.
Memang
benar di dalam kamar itu ada yang sedang berjalan-jalan. Tapi bukan orang,
melainkan jin penunggu keris pusaka yang datang untuk mengambil sesajen yang
dipersembahkan untuk dirinya.
Diperiksanya
satu persatu. Dan alangkah kecewanya si jin saat mengetahui sesajen yang
tersedia itu ternyata tidak sesuai harapannya. Menyan apel jin ternyata hanya
kemenyan biasa. Begitu pula dengan minyak wanginya yang hanya kelas murahan
yang biasa di jual di pinggir jalan. Kemudian kembangnya juga bukan kembang
setaman atau tujuh rupa melainkan hanya dua macam. Dan yang paling ujung adalah
sepiring sate hati kambing yang masih mentah.
Tapi
si Jin sudah tidak bernapsu melihatnya. Dengan perasaan dongkol dia ngeloyor
sambil ngedumel.
“Sudah
kuduga. Semuanya korupsi gaya pejabat Indonesia. Sate itu pun pasti bukan sate
hati kambing tapi sudah dicampur kikil.”
Nah, terbukti kan dalam dunia
koruptor tidak ada kawan yang abadi. Yang ada adalah korupsi abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar