Senin, 15 Agustus 2016

Sajen


            Kampung Peundeuy namanya. Pelosok yang menggumbluk di salah satu sudut jalur Pantura. Di sana hiduplah dengan damai seorang paranormal terkenal yang bernama mbah Marijan.
Suatu hari mbah Marijan kedatangan seorang pejabat dari kota. Namanya Ir. Sugema.
“Saya dengar katanya mbah ini Paranormal sakti. Karena itu tujuan kedatangan saya ini adalah untuk meminta bantuan mbah. Saya ingin pada pemilu kali ini partai saya menang dan saya bisa menjadi Presiden, mbah. Bantulah saya meraih jabatan tersebut. Apapun syaratnya pasti akan saya penuhi. Dan nanti kalau ternyata saya berhasil jadi orang nomer satu di Nusantara ini, semua permintaan mbah pasti akan saya wujudkan. Isteri yang cantik, motor, atau mobil, semuanya untuk mbah.”
Mbah Marijan manggut-manggut mendengar permintaan tamunya. Wajahnya dia keriut-keriutkan pura-pura berpikir. Padahal dalam hati dia tersenyum gembira mendapat klien kakap seperti ini.
“Permintaan bapak ini penuh resiko dan berbahaya. Karena tampaknya calon dari partai lain pun sudah lebih dulu mengerahkan seluruh kekuatan gaibnya. Tunggu akan saya pantau dulu.”
Lepas kata tunggu itu mbah Marijan bangkit dari duduk bersilanya dan masuk ke kamarnya yang hanya ditutupi kain berwarna hitam.
  Lama yang disebutnya dengan pemantauan itu . Ada sekitar setengah jam. Membuat tamu kita gelisah dan bertanya-tanya.
Sebelum datang ke sini, dia sudah datang ke dukun-dukun lainnya. Gelarnya macam-macam. Ada yang disebut mbah, kyai, atau romo. Tapi mereka semuanya hanya pandai membual. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mengeruk duitnya. Sementara buah kerjanya sama sekali tidak ada.
Memang, sebagai orang politik, Ir. Sugema mengerti benar kalau orang-orang semacam paranormal itu apalagi ideologinya kalau bukan uang. Mereka satu aliran dengan kelompok Kapitalis, Sekuleris, dan Borjuis meski ada beberapa perbedaan mendasar. Sebab setidaknya kaum kafitalis dan derifatnya itu tidak melakukan penipuan secara mentah-mentah. Selalu ada sistem yang mereka hasilkan meski sistem itu jauh dari keharmonisan keadilan kecuali untuk keuntungan kelompoknya semata.
Sedangkan kelompok Dukunis, sudahlah dia menghancurkan ekonomi kliennya untuk kekayaan pribadinya sendiri, masih ditambah pula dengan kehancuran tatanan agama korbannya agar bersekutu dengan setan atau jin suruhannya.
Benar-benar tragis !
Ehem !
Tiba-tiba Ir. Sugema tersentak kaget karena tau-tau mbah Marijan sudah ada lagi di hadapannya dan sedang menatapnya.
“Gi.. gimana hasilnya, mbah?” Tanya Ir. Sugema sedikit gugup.
Mbah Marijan kembali manggut-manggut sambil badannya agak doyong ke depan.
“Memang pernasibanmu agak berat. Tapi di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi kalau mbah Marijan sudah turun tangan. Untuk mewujudkan cita-citamu itu mbah akan memberimu sebuah keris pusaka. Ada jin di dalamnya. Nah, jin inilah bersama ribuan anak buahnya nanti yang akan mempengaruhi pikiran para pemilih supaya memilihmu. Tapi tentu saja ada syarat yang harus kamu penuhi.”
“Apa syaratnya, mbah?” Tanya Ir. Sugema.
“Setiap malam Jum’at keris ini harus kamu mandikan dengan kembang setaman. Kemudian kamu juga harus menyediakan sesajen buat si jin ini berupa menyan Arab dan menyan Apel jin, minyak jakfaron hitam, kopi pahit kopi manis, kembang kenanga, dan yang terpenting adalah hati kambing mentah sepuluh tusuk. Ingat, nggak boleh di campur. Harus hati semuanya. Gimana kamu sanggup?”
Mudah dan gampang, pikir Ir. Sugema.
“Saya sanggup, mbah.”
“Kalau begitu kamu laksanakan mulai malam Jum’at besok.”
“Saya siap, mbah. Ee.. maap, mbah. Berapa saya harus bayar mbah?”
“Oh, nggak perlu repot-repot. Seikhlasnya kamu saja. Tapi pembayarannya kamu transfer saja ke rekening mbah. Mau bank Century apa bank Bali? Ah, lebih baik semuanya saja mbah kasihkan, ya? Biar gampang.”
Ir. Sugema mengiyakan. Menurutnya mbah Marijan ini sedikit lebih ‘ikhlas’ dibandingkan dengan paranormal yang lain dimana dalam menentukan tarif tidak mengenal batas tarif atas dan batas tarif bawah alias super mahal.
Jadi berdasarkan ‘ikhlasnya’ itulah, Ir. Sugema kemudian menaruh keyakinan yang tinggi kepada mbah Marijan bahwa cita-citanya menjadi Presiden akan kesampaian.
Jadi seluruh petunjuknya secepatnya dilaksanakan. Disuruhnya staf khususnya untuk menyediakan segala keperluan sesajen seperti yang disebutkan mbah Marijan.

Malam Jum’at pertama dengan berdebar-debar ditaruhnya sesajen beserta keris pusaka itu dalam ruangan khusus yang gelap dan tertutup. Lalu Ir. Sugema pergi tidur.
Tak lama reaksinya mulai terasa. Mula-mula angin di luar rumah tiba-tiba berhembus kencang. Lalu kedengaran langkah-langkah kaki di kamar khusus itu seakan ada orang yang sedang berjalan-jalan di dalamnya.
Memang benar di dalam kamar itu ada yang sedang berjalan-jalan. Tapi bukan orang, melainkan jin penunggu keris pusaka yang datang untuk mengambil sesajen yang dipersembahkan untuk dirinya.
Diperiksanya satu persatu. Dan alangkah kecewanya si jin saat mengetahui sesajen yang tersedia itu ternyata tidak sesuai harapannya. Menyan apel jin ternyata hanya kemenyan biasa. Begitu pula dengan minyak wanginya yang hanya kelas murahan yang biasa di jual di pinggir jalan. Kemudian kembangnya juga bukan kembang setaman atau tujuh rupa melainkan hanya dua macam. Dan yang paling ujung adalah sepiring sate hati kambing yang masih mentah.
Tapi si Jin sudah tidak bernapsu melihatnya. Dengan perasaan dongkol dia ngeloyor sambil ngedumel.
“Sudah kuduga. Semuanya korupsi gaya pejabat Indonesia. Sate itu pun pasti bukan sate hati kambing tapi sudah dicampur kikil.”

Nah, terbukti kan dalam dunia koruptor tidak ada kawan yang abadi. Yang ada adalah korupsi abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar