Jumat, 12 Agustus 2016

MISTERI SKRIPSI KORUPSI



Anas, mahasiswa Singaperbangsa Karawang benar-benar sibuk luar biasa. Setiap hari kerjanya mengurung diri di kamarnya bertemankan tumpukan buku-buku dan laptop.
Selain mengurung diri, Anas ini suka sekali nongkrong di warung Polaris, yang kebetulan selain warung minum, tempat itu juga punya perpustakaan pribadi.
Dari obrolan dengan si empunya warung yang namanya Agus itulah akhirnya masalah Anas ini ketahuan.
Ternyata tinggal dalam hitungan satu bulan lagi Anas harus sudah menyelesaikan skripsinya. Padahal sepotong pun dia belum tahu bahan apa yang akan diskripsikannya.
“Salahmu sendiri. Mungkin selama ini kamu kuliah kebanyakan bolos, maen atau pacaran ya?” Kata Agus.
Anas menggeleng.
“Bukan itu masalahnya, bang. Tiap hari kuliah nggak pernah bolos. Maen juga jarang. Cuma semenjak bupati kita ketangkep KPK saya jadi keasyikan demo. Hampir tiap minggu saya demo di Kabupaten. Eh, tau-tau skripsi kelupaan.”
“Emangnya apa yang kamu demoin sih? Apa Indonesia jadi maju karena demo? Yang saya tau demo itu ujung-ujungnya ribut atau tawuran antara mahasiswa dan aparat. Apa yang bisa diperoleh kalau cara menyampaikan pendapat dan aspirasi demikian caranya? Kalian kan bias bersikap lebih elegan. Iya toh?”
“Analisa abang kacau. Kalo ditanya apa Indonesia bisa maju karena demo, jawabannya adalah seratus persen IYA. Bukannya Orde baru tumbang karena demonya mahasiswa. Hasilnya kan Indonesia sekarang sudah jauh lebih maju dan terbuka. Nggak lagi dikekang kayak jaman Suharto. Bikin ini itu serba nggak boleh.
“Soal tawuran, salah pemerintahnya sendiri. Mereka selalu kabur kalau kita ajak bicara baik-baik. Kalo kami ingin bicara sama DPR, apa mereka mau nemuin kita kalo nggak kita paksa-paksa dulu? Nggak. Mereka itu pengecut. Mereka cuma mau nemuin rakyatnya kalo pas pemilu doang.” Anas berapi-api bicara.
“Trus skripsimu gimana?”
“Ya… itulah dia masalahnya. Saya lagi bingung nyari bahan. Mana waktunya udah mepet lagi. Paling nggak skripsi itu perlu waktu tiga bulan untuk menyusunnya supaya apa yang ditulis di dalamnya bisa dipertanggung jawabkan. Mungkin abang punya ide?”
Agus mikir.
Anas juga mikir.
Mereka berdua sama-sama mikir.
Sampai kemudian tiba-tiba Agus memberikan sebuah ide. Menurutnya kenapa koruptor itu sekali-kali tidak dijadikan saja sebagai bahan skripsi, bukan hanya bahan demonstrasi?
Anas bersorak memuji ide itu sebagai ide yang brilliant. Dia langsung pulang.
Agus berteriak.
“Nas, bayar dulu minumannya !”
“Nanti, kalo skripsinya sukses !” ***

Anas berlomba dengan waktu. Dia makin giat mengumpulkan bermacam teori, tesis, dan juga essai dari para tokoh dunia tentang apa itu koruptor. Apakah dia itu termasuk ke dalam golongan manusia, binatang, ataukah mahluk jadi-jadian ?
Bahan-bahan itu didapatnya kalau bukan dari perpustakaan adalah dari mewawancarai orang-orang pemerintah, pejabat-pejabat, anggota dewan, politisi, termasuk juga preman dan tukang suap.
Karena aktivitasnya yang demikian intens di lingkungan pemda, dalam waktu singkat Anas langsung dikenal di lingkungan tersebut. Semua pejabat pemda membicarakannya. Soalnya mereka tau kalau si Anas itu selama ini adalah tukang demo.
“Jangan-jangan dia sedang merencanakan konspirasi untuk menggulingkan pemerintahan yang sah dengan cara melaporkan kepada KPK orang-orang yang dicurigai sebagai koruptor.” Kata mereka.
“Benar. Kita harus waspada.”
“Bagaimana mengantisipasinya?”
“Kita harus kirim intel untuk mengetahui dokumen yang sedang disusunnya kemudian memusnahkan dokumen itu.”
“Saya setuju itu.”
“Saya juga setuju.”
Oknum Intelejen Negara pun di kontak.
Tugasnya : Melakukan kontra intelejen.
Targetnya : Anas, mahasiswa Singaperbangsa.
Satu minggu kemudian Anas kembali lagi ke warung Polaris. Kali ini wajahnya cerah. Setelah membayar bonnya tempo hari kemudian dia cerita bahwa bahan skripsinya sekarang sudah lengkap.
“Saya boleh tau  nggak?” Tanya Agus.
“Wah, ini rahasia. Kalo sampe tersebar bisa menciptakan kekacauan nasional.”
Agus nyengir.
Sementara di pojok warung oknum intel yang terus mengintili Anas melaporkan percakapan itu. 
“Mahasiswa yang bernama Anas itu ternyata tidak main-main. Dia sedang merencanakan untuk membuat kekacauan besar berskala nasional. Laporan selesai..”
Anas meneruskan percakapannya.
“Saya benar-benar tidak menyangka bahwa mereka memiliki dampak yang sedemikian hebat. Amerika dan Israel saja saya kira tidak akan berani macam-macam sama kita, bang.”
“Lapor kepada pusat. Kegiatan si Anas itu ternyata melibatkan Negara asing. Apakah saya harus membunuh dia sekarang?”
“Jangan. Kamu curi dulu dokumennya. Jangan berlama-lama nanti dia menyebarkannya kepada pihak ketiga.”
“Siap, bos !”
Anas tidak merasa kalau dirinya sedang jadi incaran intelejen Negara. Jadi dia tenang-tenangn saja. Dia baru heboh setelah beberapa hari kemudian.
“Celaka, bang… celaka dua belas !” Kata Anas panik.
Agus yang baru saja membuka warung heran melihat sikapnya yang mendadak heboh.
“Kenapa?”
“Skripsi saya hilang !”
“Hah, hilang ?!”
Segeralah Anas cerita. Katanya skripsinya tidak kemana-mana. Selalu ada di mejanya. Tapi sepertinya semalam ada maling masuk. Mengacak-acak kamarnya. Herannya yang hilang hanya bahan skripsinya, bukan barang-barang yang berharga.
“Saya harus gimana nih, bang? Dua minggu lagi skripsi itu harus saya setorkan. Bisa-bisa gagal saya jadi sarjana. Dasar maling sialaaan….!” Anas memukul-mukul meja penuh kekecewaan.
Agus tidak bisa membantu apa-apa kecuali terus menonton Anas yang meraung-raung seperti anak kecil kehilangan permennya.
Setelah itu berhari-hari Anas tidak pernah lagi muncul di warung Polaris. Namun mendadak setengah bulan kemudian Anas muncul kembali di warung tersebut. Kali ini berbeda. Dia benar-benar girang luar biasa.
“Skripsi saya diterima,  bang !” Teriaknya masih dari kejauhan.
Agus yang tengah mengelap meja warung sampai menghentikan dulu gerakan mengelapnya. Heran. Bagaimana bisa?
“Emang skripsinya sudah kamu temukan lagi?” Tanyanya.
Anas duduk dulu mengatur napasnya.
“Itulah, bang. Saya juga heran. Skripsi saya katanya sudah ada di dosen pembimbing. Dan katanya semua juri penguji sangat memuji skripsi tersebut dan mereka meluluskan saya dengan cumclaude. Koq, bisa begitu ya, bang?”
Agus angkat bahu.
Anas tidak tahu kalau yang mencuri skripsinya adalah sang intel yang penuh pengabdian itu yang berhari-hari selalu menguntitnya. Skripsi Anas, yang disangkanya sebagai dokumen sangat berbahaya itu, langsung disetorkan kepada atasannya.
Oleh sang bos intel skripsi itu di periksa. Seperti ini materinya :

Kepada yth     :           KaPeKa, ICewe, De-pe-er, Jaksa dan Polisi (Oh maap, yang tiga ini tidak termasuk)
Hal                  :           Manfaat Koruptor
Lamp : -           :           1 Lembar
Dengan hormat
Saya menyarankan agar bapak-bapak jangan dulu menghabisi para koruptor. Mari kita semua berpikir positif.  Bahwa sebenarnya para koruptor yang saat ini sedang merajalela di Indonesia ternyata bisa dimanfaatkan.
Berikut ini saya lampirkan hasil penelitian saya tentang manfaat dari koruptor.
BISA DIJADIKAN SEBAGAI SENJATA PEMUSNAH MASAL
Boleh percaya boleh juga tidak. Menurut mitos seorang koruptor katanya bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang hanya dengan mengubah angka saja dari belakang mejanya. Angka APBN maksudnya.
Itulah sebabnya sampai sekarang Amerika dan Israel tidak pernah berani menyerang Indonesia.


TEMAN WAKTU NGOPI
Bila anda seorang pecandu kopi, ritual ini pasti tidak akan pernah anda lewatkan :Pagi-pagi minum kopi, paling enak sambil makan pisang goreng. Apalagi sambil diselingi baca Koran.
Beritanya ?
Apa boleh buat.  Lagi-lagi soal koruptor.
Terima sajalah !
MELATIH KECERDASAN OTAK
Bukan hanya mengisi TTS, seorang koruptor pun katanya otaknya selalu berpikir bagaimana caranya supaya bisa lolos dari sergapan KPK dan kabur ke luar negeri.
Pura-pura sakit otak permanen sampai masuk ke liang kubur pun rasanya bukan ide yang buruk.
MEMBUKA LOWONGAN PEKERJAAN
Kalau tidak ada koruptor, maka tidak ada pula yang namanya KPK, ICEWE, pengadilan TIPIKOR, kemudian sebagian Hakim, Jaksa, juga Polisi kehilangan sebagian pendapatannya dari suap. Koran-koran tidak akan laku, politikus kehilangan lawan untuk dijadikan sebagai kambing hitamnya, saya juga tidak akan bisa menuliskan humor ini.


BUAT BAHAN WAKTU KAMPANYE
Ini dia yang paling saya suka dari semua bualan para Capres. Setiap musim pemilu tiba mereka pasti akan berlomba-lomba pidato seperti ini :
“KAMI AKAN BERANTAS KORUPSI  UNTUK MENCIPTAKAN PEMERINTAHAN YANG BERSIH !”
Tidak masalah kalau dikemudian hari pelakunya ternyata anda sendiri.

Nah, setelah membaca isi dokumen, pihak pemerintah yang selama ini mencurigai Anas akhirnya berbalik pikiran. Menurutnya Anas sekarang tidak lagi kontra terhadap koruptor, melainkan diam-diam ternyata ikut mendukungnya.
Sebagai tanda terima kasihnya pemerintah daerah kemudian menyerahkan skripsi tersebut kepada anak buahnya di universitas Singaperbangsa berikut sebuah memo penting :
KALAU KITA SEMUA MAU AMAN, TOLONG SUPAYA SKRIPSI INI DILULUSKAN OLEH JURI PENGUJI DENGAN NILAI CUMCLAUDE. ***

Maap, menurut saya apa yang ditulis oleh saudara Anas itu belum lengkap. Masih ada satu lagi manpaat koruptor yang sepertinya alpa untuk dicantumkan disana. Yaitu koruptor itu bisa membuat orang cepet tidur. Kalo nggak percaya tanya saja sama pak ketua KPK.
“Pak, kapan garong BLBI sama Century ketangkep?”
“Tau, saya pusing mau tidur aja !”
Nah, percaya kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar