Anas,
mahasiswa Singaperbangsa Karawang benar-benar sibuk luar biasa. Setiap hari
kerjanya mengurung diri di kamarnya bertemankan tumpukan buku-buku dan laptop.
Selain
mengurung diri, Anas ini suka sekali nongkrong di warung Polaris, yang
kebetulan selain warung minum, tempat itu juga punya perpustakaan pribadi.
Dari
obrolan dengan si empunya warung yang namanya Agus itulah akhirnya masalah Anas
ini ketahuan.
Ternyata
tinggal dalam hitungan satu bulan lagi Anas harus sudah menyelesaikan
skripsinya. Padahal sepotong pun dia belum tahu bahan apa yang akan
diskripsikannya.
“Salahmu
sendiri. Mungkin selama ini kamu kuliah kebanyakan bolos, maen atau pacaran
ya?” Kata Agus.
Anas
menggeleng.
“Bukan
itu masalahnya, bang. Tiap hari kuliah nggak pernah bolos. Maen juga jarang.
Cuma semenjak bupati kita ketangkep KPK saya jadi keasyikan demo. Hampir tiap
minggu saya demo di Kabupaten. Eh, tau-tau skripsi kelupaan.”
“Emangnya
apa yang kamu demoin sih? Apa Indonesia jadi maju karena demo? Yang saya tau
demo itu ujung-ujungnya ribut atau tawuran antara mahasiswa dan aparat. Apa
yang bisa diperoleh kalau cara menyampaikan pendapat dan aspirasi demikian
caranya? Kalian kan bias bersikap lebih elegan. Iya toh?”
“Analisa
abang kacau. Kalo ditanya apa Indonesia bisa maju karena demo, jawabannya
adalah seratus persen IYA. Bukannya Orde baru tumbang karena demonya mahasiswa.
Hasilnya kan Indonesia sekarang sudah jauh lebih maju dan terbuka. Nggak lagi
dikekang kayak jaman Suharto. Bikin ini itu serba nggak boleh.
“Soal
tawuran, salah pemerintahnya sendiri. Mereka selalu kabur kalau kita ajak
bicara baik-baik. Kalo kami ingin bicara sama DPR, apa mereka mau nemuin kita
kalo nggak kita paksa-paksa dulu? Nggak. Mereka itu pengecut. Mereka cuma mau
nemuin rakyatnya kalo pas pemilu doang.” Anas berapi-api bicara.
“Trus
skripsimu gimana?”
“Ya…
itulah dia masalahnya. Saya lagi bingung nyari bahan. Mana waktunya udah mepet
lagi. Paling nggak skripsi itu perlu waktu tiga bulan untuk menyusunnya supaya
apa yang ditulis di dalamnya bisa dipertanggung jawabkan. Mungkin abang punya
ide?”
Agus
mikir.
Anas
juga mikir.
Mereka
berdua sama-sama mikir.
Sampai
kemudian tiba-tiba Agus memberikan sebuah ide. Menurutnya kenapa koruptor itu
sekali-kali tidak dijadikan saja sebagai bahan skripsi, bukan hanya bahan
demonstrasi?
Anas
bersorak memuji ide itu sebagai ide yang brilliant. Dia langsung pulang.
Agus
berteriak.
“Nas,
bayar dulu minumannya !”
“Nanti,
kalo skripsinya sukses !” ***
Anas
berlomba dengan waktu. Dia makin giat mengumpulkan bermacam teori, tesis, dan
juga essai dari para tokoh dunia tentang apa itu koruptor. Apakah dia itu
termasuk ke dalam golongan manusia, binatang, ataukah mahluk jadi-jadian ?
Bahan-bahan
itu didapatnya kalau bukan dari perpustakaan adalah dari mewawancarai
orang-orang pemerintah, pejabat-pejabat, anggota dewan, politisi, termasuk juga
preman dan tukang suap.
Karena
aktivitasnya yang demikian intens di lingkungan pemda, dalam waktu singkat Anas
langsung dikenal di lingkungan tersebut. Semua pejabat pemda membicarakannya.
Soalnya mereka tau kalau si Anas itu selama ini adalah tukang demo.
“Jangan-jangan
dia sedang merencanakan konspirasi untuk menggulingkan pemerintahan yang sah
dengan cara melaporkan kepada KPK orang-orang yang dicurigai sebagai koruptor.”
Kata mereka.
“Benar.
Kita harus waspada.”
“Bagaimana
mengantisipasinya?”
“Kita
harus kirim intel untuk mengetahui dokumen yang sedang disusunnya kemudian
memusnahkan dokumen itu.”
“Saya
setuju itu.”
“Saya
juga setuju.”
Oknum
Intelejen Negara pun di kontak.
Tugasnya
: Melakukan kontra intelejen.
Targetnya
: Anas, mahasiswa Singaperbangsa.
Satu
minggu kemudian Anas kembali lagi ke warung Polaris. Kali ini wajahnya cerah.
Setelah membayar bonnya tempo hari kemudian dia cerita bahwa bahan skripsinya
sekarang sudah lengkap.
“Saya
boleh tau nggak?” Tanya Agus.
“Wah,
ini rahasia. Kalo sampe tersebar bisa menciptakan kekacauan nasional.”
Agus
nyengir.
Sementara
di pojok warung oknum intel yang terus mengintili Anas melaporkan percakapan
itu.
“Mahasiswa yang bernama Anas itu
ternyata tidak main-main. Dia sedang merencanakan untuk membuat kekacauan besar
berskala nasional. Laporan selesai..”
Anas
meneruskan percakapannya.
“Saya
benar-benar tidak menyangka bahwa mereka memiliki dampak yang sedemikian hebat.
Amerika dan Israel saja saya kira tidak akan berani macam-macam sama kita,
bang.”
“Lapor kepada pusat. Kegiatan si
Anas itu ternyata melibatkan Negara asing. Apakah saya harus membunuh dia
sekarang?”
“Jangan. Kamu curi dulu dokumennya.
Jangan berlama-lama nanti dia menyebarkannya kepada pihak ketiga.”
“Siap,
bos !”
Anas
tidak merasa kalau dirinya sedang jadi incaran intelejen Negara. Jadi dia
tenang-tenangn saja. Dia baru heboh setelah beberapa hari kemudian.
“Celaka,
bang… celaka dua belas !” Kata Anas panik.
Agus
yang baru saja membuka warung heran melihat sikapnya yang mendadak heboh.
“Kenapa?”
“Skripsi saya hilang !”
“Skripsi saya hilang !”
“Hah,
hilang ?!”
Segeralah
Anas cerita. Katanya skripsinya tidak kemana-mana. Selalu ada di mejanya. Tapi
sepertinya semalam ada maling masuk. Mengacak-acak kamarnya. Herannya yang
hilang hanya bahan skripsinya, bukan barang-barang yang berharga.
“Saya
harus gimana nih, bang? Dua minggu lagi skripsi itu harus saya setorkan.
Bisa-bisa gagal saya jadi sarjana. Dasar maling sialaaan….!” Anas memukul-mukul
meja penuh kekecewaan.
Agus
tidak bisa membantu apa-apa kecuali terus menonton Anas yang meraung-raung
seperti anak kecil kehilangan permennya.
Setelah
itu berhari-hari Anas tidak pernah lagi muncul di warung Polaris. Namun
mendadak setengah bulan kemudian Anas muncul kembali di warung tersebut. Kali
ini berbeda. Dia benar-benar girang luar biasa.
“Skripsi
saya diterima, bang !” Teriaknya masih
dari kejauhan.
Agus
yang tengah mengelap meja warung sampai menghentikan dulu gerakan mengelapnya.
Heran. Bagaimana bisa?
“Emang
skripsinya sudah kamu temukan lagi?” Tanyanya.
Anas
duduk dulu mengatur napasnya.
“Itulah,
bang. Saya juga heran. Skripsi saya katanya sudah ada di dosen pembimbing. Dan
katanya semua juri penguji sangat memuji skripsi tersebut dan mereka meluluskan
saya dengan cumclaude. Koq, bisa begitu ya, bang?”
Agus
angkat bahu.
Anas
tidak tahu kalau yang mencuri skripsinya adalah sang intel yang penuh
pengabdian itu yang berhari-hari selalu menguntitnya. Skripsi Anas, yang
disangkanya sebagai dokumen sangat berbahaya itu, langsung disetorkan kepada
atasannya.
Oleh
sang bos intel skripsi itu di periksa. Seperti ini materinya :
Kepada
yth : KaPeKa,
ICewe, De-pe-er, Jaksa dan Polisi (Oh maap, yang tiga ini tidak termasuk)
Hal
: Manfaat Koruptor
Lamp
: - : 1 Lembar
Dengan
hormat
Saya
menyarankan agar bapak-bapak jangan dulu menghabisi para koruptor. Mari kita
semua berpikir positif. Bahwa sebenarnya
para koruptor yang saat ini sedang merajalela di Indonesia ternyata bisa
dimanfaatkan.
Berikut
ini saya lampirkan hasil penelitian saya tentang manfaat dari koruptor.
BISA DIJADIKAN SEBAGAI SENJATA
PEMUSNAH MASAL
Boleh
percaya boleh juga tidak. Menurut mitos seorang koruptor katanya bisa membunuh
ribuan bahkan jutaan orang hanya dengan mengubah angka saja dari belakang
mejanya. Angka APBN maksudnya.
Itulah
sebabnya sampai sekarang Amerika dan Israel tidak pernah berani menyerang
Indonesia.
TEMAN WAKTU NGOPI
Bila
anda seorang pecandu kopi, ritual ini pasti tidak akan pernah anda lewatkan :Pagi-pagi
minum kopi, paling enak sambil makan pisang goreng. Apalagi sambil diselingi
baca Koran.
Beritanya
?
Apa
boleh buat. Lagi-lagi soal koruptor.
Terima
sajalah !
MELATIH KECERDASAN OTAK
Bukan
hanya mengisi TTS, seorang koruptor pun katanya otaknya selalu berpikir
bagaimana caranya supaya bisa lolos dari sergapan KPK dan kabur ke luar negeri.
Pura-pura
sakit otak permanen sampai masuk ke liang kubur pun rasanya bukan ide yang
buruk.
MEMBUKA LOWONGAN PEKERJAAN
Kalau
tidak ada koruptor, maka tidak ada pula yang namanya KPK, ICEWE, pengadilan
TIPIKOR, kemudian sebagian Hakim, Jaksa, juga Polisi kehilangan sebagian
pendapatannya dari suap. Koran-koran tidak akan laku, politikus kehilangan
lawan untuk dijadikan sebagai kambing hitamnya, saya juga tidak akan bisa
menuliskan humor ini.
BUAT BAHAN WAKTU KAMPANYE
Ini
dia yang paling saya suka dari semua bualan para Capres. Setiap musim pemilu
tiba mereka pasti akan berlomba-lomba pidato seperti ini :
“KAMI
AKAN BERANTAS KORUPSI UNTUK MENCIPTAKAN
PEMERINTAHAN YANG BERSIH !”
Tidak
masalah kalau dikemudian hari pelakunya ternyata anda sendiri.
Nah,
setelah membaca isi dokumen, pihak pemerintah yang selama ini mencurigai Anas
akhirnya berbalik pikiran. Menurutnya Anas sekarang tidak lagi kontra terhadap
koruptor, melainkan diam-diam ternyata ikut mendukungnya.
Sebagai
tanda terima kasihnya pemerintah daerah kemudian menyerahkan skripsi tersebut
kepada anak buahnya di universitas Singaperbangsa berikut sebuah memo penting :
KALAU
KITA SEMUA MAU AMAN, TOLONG SUPAYA SKRIPSI INI DILULUSKAN OLEH JURI PENGUJI
DENGAN NILAI CUMCLAUDE. ***
Maap, menurut saya apa yang ditulis
oleh saudara Anas itu belum lengkap. Masih ada satu lagi manpaat koruptor yang
sepertinya alpa untuk dicantumkan disana. Yaitu koruptor itu bisa membuat orang
cepet tidur. Kalo nggak percaya tanya saja sama pak ketua KPK.
“Pak, kapan garong BLBI sama
Century ketangkep?”
“Tau, saya pusing mau tidur aja !”
Nah, percaya kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar