Rabu, 10 Agustus 2016

SANG PENGASUH




Insya Allah kalau tidak ada halangan hari ini saya akan pulang ……

Selesai dibaca, surat itu oleh abah Suminta kemudian diselipkan diantara tumpukan baju-bajunya dalam lemari palstik yang sekujur permukaannya sudah penuh oleh retakan.
Surat itu dari si Agus. Cucunya yang sudah sukses jadi pengusaha di kota. Agus mengabari soal rencana kepulangannya. Meski baru suratnya yang datang, sudah membuat abah Suminta senang. Apalagi kedatangannya akan disertai oleh pak Lurah. Itu merupakan sebuah kehormatan.
Mungkin kedatangan pak Lurah ada sangkut pautnya dengan rencana Agus yang katanya hendak membangun sebuah pabrik di sini. Entah pabrik apa.
Kalau benar demikian, abah Suminta akan sangat berterima kasih kepada cucunya. Sebab dengan begitu rasa bersalahnya terhadap desanya akan sedikit terobati. Meski orang kampung sudah memaapkan, bahkan pada upacara tujuh belas Agustusan kemarin pak Lurah memberinya hadiah berupa uang, kain sarung, dan radio, abah Suminta tetap merasa tidak pantas menerima itu semua.
            "Selamat, abah. Berkat perjuangan abah, hutan Burangrang ini sekarang sudah tidak gundul lagi. Atas nama pemerintah, kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Dengan ini, hukuman pengasingan terhadap abah pun kami cabut. Abah kalau mau boleh berkumpul lagi dengan kami di kampung”.
            Tapi abah Suminta sudah terlanjur betah diam di gunung.

Kata orang-orang, Burangrang memiliki sejarah tragedi yang tetap mereka ingat sampai sekarang. Yaitu saat hutannya gundul akibat illegal logging. Tidak ada pohon besar yang tumbuh. Hanya tunggul-tunggul kayu sisa penebangan saja memenuhi lereng.
 Para orang tua masih suka menceritakan kejadian tersebut kepada anak cucu mereka. Supaya jadi pelajaran. Dan kalau anak-anak itu bertanya siapa yang menebangi hutan, dengan suara berbisik mereka akan menyebut satu nama,
Abah Suminta…. !
Dialah dalang pembalakan liar hutan Burangrang.
Kata mereka abah Suminta punya beking orang kuat di kota. Polisi saja bisa diatur-atur. Itu sebabnya dia berani menebangi pohon.
Si beking itulah yang merayu abah Suminta supaya mau menebang kayu di hutan. Upahnya dua ratus ribu per satu pohon.
Sejak kesepakatan itu dibuat, pandangan abah Suminta terhadap hutannya jadi berubah. Tidak lagi melulu terlihat sebagai kumpulan kayu dan daun. Namun juga lembaran rupiah. Maka dimulailah petualangannya. Dengan berbekal satu buah gergaji mesin dan beberapa orang anak buah, satu demi satu pohon di hutan Burangrang ditebasnya.
Sedikit pun abah Suminta tidak berpikir soal gunung yang gundul. Menurutnya toh, lama-lama juga akan jadi pemandangan biasa. Paling orang kampung hanya mengeluhkan tentang udara yang hawanya jadi jauh lebih panas. Nanti, kalau hujan sudah turun juga pasti akan adem lagi.
Dan hujan pertama di musimnya turun dengan deras ditengah gelapnya malam. Karena tidak ada dedaunan dan akar pohon yang berpungsi sebagai penahan, hantaman air hujan menyebabkan lereng yang gundul menjadi longsor. Tunggul-tunggul kayu dan bebatuan gunung ikut terbongkar. Lalu maut itu berlomba menyerbu desa. Kedatangannya merenggut apa saja. Orang kampung yang kebanyakan masih tertidur terlambat untuk menyelamatkan diri.
Baru setelah fajar menyingsing hasil kerja alam itu nampak jelas. Rumah-rumah hancur, anak-anak terpisah dari orang tuanya, baik yang hilang maupun meninggal. Gelondongan kayu dan bebatuan gunung bergelimpangan di antara puing-puing.
Puluhan orang mati. Abah Suminta tidak luput. Galodo merenggut paksa isteri serta dua orang anak menantunya. Yang selamat hanya seorang yaitu si Agus yang baru kelas satu SD.
Tetapi musibah itu rupanya masih belum cukup bagi abah Suminta. Orang kampungnya mulai bisik-bisik. Bahwa gara-gara hutan ditebangi penunggu Burangrang murka kemudian mengirimkan peringatannya. .
Menurut mereka, Suminta harus bertanggung jawab.
Kemudian dibentuklah pengadilan desa. Suminta disidang. Diputuskan, sebagai hukumannya Suminta harus keluar dari kampung Burangrang. Diusir ke atas gunung.
Pengasingan itulah yang kemudian membuat abah Suminta bertekad untuk menanami kembali hutan yang pernah digundulinya. Hitung-hitung sebagai penebus dosa. Sampai gunung kembali hijau seperti semula dan cucunya berhasil menjadi orang sukses, barulah abah Suminta bisa bernapas lega. ***

            Benar saja, Agus muncul di pondok abah Suminta bersama pak Lurah.
Gemuk badannya. Kulitnya agak sedikit hitam. Begitu berhadapan, dipeluknya sang kakek penuh rasa kangen. Pertanyaannya berhamburan. Apakah encoknya tidak sering kumat, apa masih betah tinggal di tengah – tengah hutan yang sunyi. Padahal andai sang kakek mau, ia siap membuatkan rumah paling bagus di kampungnya di bawah sana.
            Abah Suminta terkekeh. Lebih enak tinggal di hutan, katanya. Segalanya masih  murni. Udara, mata air, kemudian setiap saat dia bisa mendengarkan desau angin menggesekan daun-daun pohon Pinus menciptakan irama yang menyejukan hati.
 Diajaknya cucu serta pak Lurah untuk menikmati itu semua. Ditunjukannya pepohonan yang pernah ia tanam yang sekarang sudah puluhan meter tingginya. Diperlihatkannya mata air yang dari sejak dulu tidak pernah berkurang setetes pun.
            “Abah baru menyadari sekarang kalau hutan sebenarnya merupakan sumber kehidupan. Tanpa hutan semua orang akan mati. Mata air kering, bumi gersang, menanam apa pun tidak akan tumbuh karena tanah kehilangan kesuburannya.”  
“Itu semua berkat abah yang sudah  menjaga kelestarian hutan ini,” Pak Lurah memuji.
Tetapi abah Suminta menolak secara halus pujian itu. Menurutnya manusia tidak akan pernah bisa menjaga alam. Ditunjukannya satu batang pohon Pinus yang puluhan meter tingginya.
“Umur pohon ini sudah puluhan tahun. Tetapi bisakah dalam waktu selama itu manusia menjamin agar pohon ini tidak akan mati atau tumbang? Alamlah yang menjaga dan menumbuhkanya dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh manusia. Jadi sebenarnya alam yang menjaga kita. Bukan sebaliknya.”
“Tetapi bagi saya abah adalah wakil dari alam itu sendiri. Abahlah yang mengasuh Burangrang ini supaya tidak mengamuk lagi”
“Pak Lurah jangan membuat saya tambah tidak enak hati. Pak Lurah tahu sendiri kan dulu abah yang merusak hutan ini. Abah tidak ingin mengulanginya lagi. Bencana itu cukup kami saja yang mengalami. Jangan sampai terulang pada anak cucu kita. Kita jangan tertipu dengan dalih memanpaatkan, hutan-hutan ditebangi atau djadikan perkebunan sehingga bisa menyerap tenaga kerja. Menurut abah, justeru dengan adanya hutan akan lebih banyak lagi orang-orang yang bisa hidup. Jadi tidak perlu harus merusaknya. Oya, pak Lurah cape tidak abah ajak keliing? Kalau cape kita balik lagi saja ke pondok.”
“Nggak, Bah. Saya justeru senang abah mengajak kami berkeliling. Saya jadi bisa belajar dari abah tentang konsep merawat alam. Sebagai penjaga hutan apakah abah punya cita-cita atau keinginan?”
Abah Suminta berpikir sejenak. Rasanya ia memang punya suatu mimpi. Abah Suminta pernah membaca tentang bagaimana masyarakat Baduy menjaga kelestarian hutannya. Mereka membagi hutan itu menjadi tiga bagian. Yaitu untuk permukiman, untuk perladangan, dan yang ketiga sebagai hutan lindung dimana dalam situasi apa pun pohon yang ada di dalamnya tidak boleh ditebang.
“Bisa tidak ya hutan Burangrang ini dijadikan seperti itu?” Gumamnya seperti bertanya kepada diri sendiri.
Pak Lurah diam. Aguslah yang memberikan jawabannya. Menurut anggapannya karena di sini tidak ada hukum adat yang harus ditaati secara bersama-sama, maka semua orang bebas saja memanpaatkan hutan ini selama tidak dengan cara merusak.
“Memang tidak ada hukum adat, Gus. Tapi kita punya pemerintah yang bisa membuat hukum yang kekuatannya lebih tinggi dari sekedar hukum adat. Masa cara berpikir pemerintah kalah oleh orang Baduy. Mereka itu punya prinsip, gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak. Atau Panjang ulah diteukteuk, pondok ulah disambung.
Tirulah kearifan seperti yang dipunyai Mbah Maridjan juru kunci gunung Merapi. Waktu merapi meleduk mbah Maridjan bersikukuh tinggal dirumahnya. Padahal yang lain pada rusuh mengungsi. Mbah Maridjan tidak pernah menyebut gunung Merapi meletus. Tapi dia bilang Eyang Merapi ewuh atau eyang Merapi punya gawe. Kita harus memperlakukan alam bijak seperti itu. Maka alam pun akan memperlakukan kita secara bijak pula.”
Pak Lurah manggut-manggut. Alam memang punya bahasanya sendiri yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memilki kearifan. Itu sebabnya, orang yang selalu memperturutkan hawa napsunya akan mengatakan banjir, longsor, atau gunung yang meletus sebagai bencana alam. Sedikit yang menyadari bahwa itu adalah pangeling-eling dari Hyang tunggal agar manusia tidak memperlakukan alam seenak perutnya sendiri. Dan menurutnya abah Suminta telah sampai kepada pemahaman seperti itu. Dimana ego dan hawa napsunya sudah lebur dengan alam yang didiaminya.
Masalahnya, bisakah abah Suminta tetap mempertahankan prinsipnya andai ia tahu bahwa pabrik yang akan dibangun oleh cucunya ini adalah pabrik pengolahan kayu? Dimana bahan baku kayunya akan diambil dari hutan Burangrang ini? Dengan kata lain, hutan Burangrang ini akan dijadikan hutan tanaman industri oleh pemerintah daerah. Dan Agus telah mendapatkan ijin untuk melakukan penebangan di sini?
Alam sering terkesan kejam memberikan pelajaran. Tetapi manusia jauh lebih kejam lagi. ***
 Tamat.
Cicinde Utara, Januari, 2016
Arti kata bahasa sunda :
Gunung ulah di lebur : Gunung jangan dihancurkan
Lebak ulah dirusak : Lembah jangan di rusak
Panjang ulah diteukteuk : Panjang jangan dipotong
Pondok ulah ulah disambung : Pendek jangan disambung

Jumat, 01 Juli 2016

DOA KORUPTOR


            Pagi yang cerah. Langit Jakarta bersih tak berawan.
Seorang koruptor masuk ke sebuah toko buku yang cukup besar dan lengkap. Beberapa buku doa dibacanya sekilas. Lalu dikembalikan lagi ke raknya. Begitu berulang-ulang. Wajahnya terlihat kian gelisah.
            Tiba-tiba seorang pramuniaga berwajah cantik menghampirinya.
            “Ada yang bisa saya bantu, pak?” Katanya ramah sambil manis tersenyum.
            Si koruptor sejenak memandanginya seakan ingin memastikan apakah pramuniaga ini tulus bermaksud membantunya ataukah hanya sekedar politik pencitraan saja agar jualannya laku.
            “Saya mencari buku doa,” Katanya.
            “Hidup saya sedang gelisah. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, jantung selalu berdebar-debar. Saya berharap dengan doa-doa tersebut keadaan jiwa saya akan lebih baik. Tapi semua buku-buku doa yang tersedia di sini sama sekali tidak ada yang cocok untuk saya .”
            “Boleh saya tahu bapak kerja di mana?” Tanya Pramuniaga.
            “Saya ini pejabat pemerintah yang sebentar lagi akan mencalonkan diri menjadi anggota dewan.”
            Mendengar jawaban itu sang Pramuniaga langsung bersinar wajahnya .
            “Semua buku doa di sini memang standar, pak. Tapi kalau bapak ingin yang khusus saya bersedia membuatkannya untuk bapak. Gratis.”
            “Benarkah?”
            “Iya, pak.”
            “Kalau begitu cepat buatkan doa yang cocok untuk saya. Saya akan berikan bonus untuk kamu.”
            Sang pramuniaga menghilang sejenak di balik meja kasir. Lima belas menit kemudian dia balik lagi dengan selembar kertas di tangannya.
            “Mungkin yang seperti ini cocok untuk bapak,” Ucapnya seraya mengangsurkan lembaran kertas itu kepada si koruptor.
            Si koruptor membacanya. Berikut ini adalah isi doa tersebut :
            Ya Allah jadikanlah Indonesia negara yang kaya raya. Cadangan devisanya cukup, perekonomiannya di atas seratus persen, agar bisa hamba korupsi.
            Ya Allah, kalau Indonesia tetap miskin, datangkanlah IMF kemari supaya sudi memberikan pinjaman. Kemudian pinjaman itu akan hamba korupsi.
            Ya Allah panjangkanlah umur Presiden, panjangkan juga umur DPR. Sebab kalau mereka tidak ada hamba juga tidak akan bisa korupsi.”
          Ya Allah, jadikanlah KPK sebagai Komisi Pembela Koruptor jangan Komisi Pemberantas Korupsi.”
                 Ya Allah, kabulkanlah semua doa hamba jangan ada yang engkau korupsi.”

            Amieeen…, kata Pemerintah dan DPR.

Selasa, 28 Juni 2016

KARDUN MAKRIFAT : Terpaksa ibadah dan ibadah terpaksa

            Sudah lama Kardun memendam kecewa. Dan pada suatu hari dia tidak bisa lagi memendam kekecewaannya. Kepada merbot mesjid dia ungkapkan apa yang menjadi unek-uneknya.
            “Sebenarnya apa sih yang menghalangi orang-orang kampung kita shalat berjamaah di mesjid? Kenapa tiap shalat subuh yang datang semuanya selalu orang-orang miskin dan bodoh seperti saya ini? Kemana itu yang bergelar tokoh masarakat, orang-orang kaya,  haji, atau pun ustadz?”
            Si merbot mesjid nyengir. Tidak bisa dipungkiri, apa yang diomongkan si Kardun memang benar adanya. Di mesjidnya, tiap shalat shubuh, semua yang bergelar tokoh, haji atau pun ustadz itu tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba mereka begitu betah shalat di rumahnya masing-masing dari pada berjamaah.  Tetapi karena menurutnya itu bukan urusannya, jadi dia menjawab saja secara diplomatis.
            “Sudah, jangan bersungut-sungut begitu, Dun. Bukankah dalam beribadah tidak ada paksaan.”
            Kardun melotot.
            “Paham dari mana itu? Siapa bilang dalam beribadah tidak ada paksaan. Ibadah itu bahkan wajib dan harus dipaksa. Titik !”
            Sekarang gantian si merbot yang bingung.
            “Masak ibadah harus dipaksa-paksa? Kamu ini ada-ada aja, Dun. Jadi tiap kali ada orang yang ga mau ibadah harus KITA paksa terus diseret-seret? Bisa-bisa KITA dikeroyok orang sekampung, Dun. Eling, Dun. Eling.”
            Kardun kian manyun. Menurutnya si merbot ini keterlaluan. Tiap hari kerja di ‘rumah’ Allah, tapi masih nggak paham juga apa maunya ‘Sang Pribumi’ yang menjadi ‘majikannya’ tersebut.
            “Sebenarnya yang disebut oleh kamu dengan sebutan KITA itu apa sih? Cuma kulit, daging, tulang dan sedikit jeroan. Kita ini Cuma bangkai. Mana bisa bangkai memaksa bangkai untuk beribadah. Jelas dong yang punya hak dan kuasa memaksa beribadah itu hanya Allah. Allah yang maha memaksa.
            “Kamu pikir karena apa Allah sampe meniupkan ruhnya ke dalam seonggok bangkai ini? Hanya untuk beribadah. Dan tidaklah aku ciptakan manusia dan jin, kecuali untuk beribadah kepadaku. Kalau kamu sampe tidak merasakan firman Allah tersebut sebagai suatu paksaan, kamu harus benerin lagi tauhid kamu. Tidak ada yang paling nikmat di dunia ini kecuali ketika kita bisa merasakan Allah sedang memaksa kita untuk beribadah kepada-Nya. Paham?”
            Si merbot kian bingung karena tidak mengerti.
            “Dimana enaknya kalau ibadah harus dengan perasaan terpaksa? Katanya ibadah harus ikhlas.”
            “Hei, manusia, kalau kita sudah bisa merasakan paksaan dari Allah, maka tidak ada lagi keterpaksaan karena kita sudah Esa dengan Allah. Paksaan dari Allah itu tidak sama seperti manusia memaksa manusia. Sebab Allah itu laisa kamitslihi syai’un. Tidak serupa dengan apa pun. Kita ini lebih bisa merasakan paksaan dari hawa napsu Dari pada paksaan dari Tuhan. Ah, sudahlah. Mau Nyuruh shalat subuh aja sampe ribet begini.”
Kardun ngibrit sebelum si merbot bertanya lagi. ***
          

Kamis, 16 Juni 2016

DAMPAK SISTEMIK : century nan abadi



           
Ketika kasus bank Century mencuat ke publik, lalu setelah itu menyusul menteri keuangan saat itu yang bernama bu Sri diberi tugas menjadi direktur bank dunia di Washington, para politikus yang berhati idealisme beranggapan :
            “Ah, semua itu kan cuma permainan kekuasaan dan politik. Biasalah, menjauhkan aktor intelektualnya dari sasaran tembak langsung. Sehingga yang dijaring oleh KPK hanya tikus-tikus got yang tidak tahu apa-apa.”
            Memang dalam pusaran kekuasaan dan politik, sekecil apapun kekeliruan pasti akan dijadikan amunisi oleh para politikus yang berhati kerdil untuk menghancurkan lawan politiknya. Bukannya memperbaiki kekeliruan itu untuk membangun bangsa.
            Demikian pula dalam kasus bank Century.
Jadi ketika akhirnya bu Sri yang sudah bertugas di luar negeri itu dipanggil juga oleh KPK untuk diperiksa, beberapa politikus diam-diam bertepuk tangan sambil harap-harap cemas. Akankah dalam episode kali ini KPK menangkap Kakap, dan bukan ikan Teri?
            Tetapi selain itu di luar sana ada pula tokoh yang berpendapat bahwa itu semua hanya basa-basi KPK. Yang sebenarnya kasus bank Century akan tetap jalan di tempat. Perkiraan itu barangkali ada benarnya juga. Sebab ketika menjalani pemeriksaan yang memakan waktu selama berjam-jam, bu Sri keukeuh dengan keputusannya.
            “Alasan saya mem-bail out bank Century adalah karena kalau bank tersebut dibiarkan bangkrut maka akan menimbulkan dampak sistemik. Titik !”
            Dan pemangku kebijakan di negeri ini mengamini. Mereka pura-pura menutup mata terhadap keganjilan yang jelas-jelas terjadi di depan mata, yaitu kenapa dana yang sebelumnya diperlukan hanya sekitar enam ratus milyar tiba-tiba membengkak jadi enam koma tujuh trilyun.
            Ah, itu biarkan saja. Sekarang mari kita ikuti bu Sri yang sedang dalam perjalanan menuju ke pesawatnya untuk kembali ke Washington.
            Terjadilah dialog imaginer ini antara bu Sri dengan salah seorang koleganya.           “Kenapa anda harus berbohong? Century kan bank kecil. Kalau  bangkrut sama sekali tidak akan menimbulkan dampak sistemik?”
            “Saya tidak berbohong,” Bu Sri meyakinkan.
          “Justeru kalau saya katakan yang sebenarnya maka wakil Presiden akan kena, Presiden kebawa-bawa, partainya kena getahnya, kemudian orang-orang di sekelilingnya ikut terlibat. Apa itu namanya bukan dampak sistemik?”

            Kalau kata orang tua dulu dampak sistemik itu sama dengan buah simalakama. Dimakan wakil Presiden mati. Tidak dimakan Presiden yang  mati.
 Maka pilihannya adalah diemut aja.

Sabtu, 11 Juni 2016

CINTA BUBAT

Bis malam jurusan Jogja - Bandung masih belum meninggalkan terminal. Bangku-bangku di dalamnya belum ada setengahnya yang terisi penumpang.
Retno sengaja duduk di bangku pojok paling belakang. Cahaya lampu di situ agak remang. Sebagian wajahnya ia tutupi dengan kain selendang warna ungu bermotif kembang-kembang di sudutnya.
Tiap kali ada yang naik ke dalam bis, mata Retno akan mengintip. Jantungnya berdebar-debar. Takut kalau-kalau orang itu adalah suruhan ayahnya yang akan membawanya kembali ke rumah. Kalau yang masuk ternyata penumpang biasa seperti dirinya, Retno akan menghembuskan napas lega.
            "Mas, aku takut," Suara yang keluar dari bibirnya mirip bisikan.
            "Tenang aja. Semua pasti beres," Dimas yang duduk di sisinya menenangkan. Padahal jantungnya sendiri dari tadi menabuh irama kegelisahan yang sama. Omongan bapaknya Retnolah yang menjadi sumber keriuhan dalam pikirannnya.
            "Bukan kami tidak menghargai niat baikmu, anak muda. Tetapi kedatangan sampeyan ini wis telat. Putri kami, si Retno saat ini sudah punya calon suami. Sebentar lagi mau dilamar. Tak mungkin toh kami menerima pinanganmu ini? Jadi lebih baik kamu cari saja perempuan lain."
Tetapi kata Retno itu hanyalah muslihat ayahnya untuk menolak lamaran Dimas. Yang sebenarnya keluarganya amat tidak setuju mereka punya menantu orang Sunda. Mereka inginnya yang satu persukuan.
Alasan keduanya amat irrasional karena didasarkan kepada mitos turun-temurun. Katanya tabu orang Jawa menikah dengan orang Sunda. Itu seperti melanggar sebuah pantrangan yang efeknya akan tidak baik bagi kehidupan berumah tangga. Seperti Adik yang menikahi kakaknya, dengan pihak Jawa yang berperan sebagai kakak.
Tetapi Dimas yang dibesarkan oleh didikan perguruan tinggi yang penuh idealisme mengerti benar kalau tabu dan segala macam alasan lainnya,  hanyalah argumentasi yang dicari-cari untuk menghindarkan diri dari napsu anak-anak muda jaman sekarang yang segalanya selalu menuntut persesuaian dengan akal.
            Para orang tua itu lupa bahwa rahim cinta bukan hanya berisi benih-benih kasih sayang, tapi bisa juga prahara.
 Dan dalam pikiran Dimas yang namanya prahara cinta akibat penolakan orang tuanya Retno itu wujudnya mula-mula hanya satu titik kecil. Tetapi bersamaan dengan munculnya perasaan takut akan kehilangan orang yang dicintai, noktah serupa titik itu kian lama kian membesar.
Seperti Benalu yang menyerap saripati dari pohon yang ditumpanginya, akal sehat yang ada dalam pikiran Dimas pun di telannya. Lalu lahirlah tindakan yang tanpa didasari oleh akal budi.
            Maka pada suatu malam, si gadis Jogja itu 'diculiknya' tanpa ada perlawanan sedikit pun dari korbannya. Harapan mereka hanya satu. Mungkin kalau melihat 'keukeuhnya' niatan mereka untuk menjalin suatu hubungan pernikahan, keluarga besar Retno akan luluh. Lalu restu pun mereka dapatkan.
            Tinggal sekarang yang jadi pertanyaan adalah soal keluarganya. Akankah mereka mendukung tindakannya ini? ***

"Kakek setuju, Dimas."
            Cicalengka di pinggiran kota Bandung setiap hari selalu hawanya sejuk. Tetapi sore itu hanya ketegangan yang Dimas rasakan.  
Duduk membentuk lingkaran di ruang tamu yang luas pertama adalah Dimas sendiri. Retno untuk sementara tidak diperbolehkan keluar dari dalam kamarnya setelah tadi kedatangannya membuat gaduh seisi rumah. Lalu ayah dan ibu di sofa yang panjang. Dan yang terakhir adalah  kakeknya. Raden Wijaya Supena. Sosok yang paling berpengaruh dalam dinasti keluarga mereka.
            Konon Kakeknya itu masih merupakan keturunan dari Hyang Bunisora Suradipati. Patih dari kerajaan Sunda pada jaman ratusan tahun lalu. Dan seakan menjadi sebuah keharusan, setiap anggota keluarga harus mengerti betul sejarah leluhur pada jaman tersebut. Terutama satu sisi kelam yang sering disebut oleh kakeknya dengan nama Tragedi Bubat.
            "Maksud kakek dengan setuju itu bagaimana? Apa kakek setuju hubungan Dimas sama Retno?" Dimas menatap mata jernih kakeknya yang terkurung bulatan kacamata. Secercah harapan membersit.
            "Kamu jangan salah paham, Dimas. Maksud kakek setuju itu adalah setuju dengan keputusan bapaknya si Retno. Sebaiknya orang Sunda memang jangan menikah dengan orang Jawa."
            Dimas terkesiap. Sekejap cercah harapan itu berubah gulita.
            "Tapi.... mengapa, kek...?" Ia lalu merasa tolol dengan pertanyaannya sendiri karena jawabannya muncul dengan sendirinya. Ia tinggal mendengarkan saja.
            "Dalam segala hal kamu akan kalah oleh isterimu, Dimas. Dalam pikiranmu hanya ada isterimu. Kami, keluarga besarmu ini pelan-pelan akan tersisihkan. Selain itu, ini adalah wasiat leluhur kita. Setelah tragedi Bubat maka tidak boleh ada lagi anggota keluarga kita yang menikah dengan orang Jawa. Kamu harus mengerti  itu." Kakek menatap Dimas tajam.
            Dimas perlahan menyenderkan pungggungnya di sandaran sofa. Tadinya ia pikir tidak akan mendengar lagi kalimat semacam itu. Mengingat kakeknya orang yang berpikiran cukup agamis. Tapi ternyata peristiwa yang bahkan kakek sendiri tidak pernah mengalaminya, tetap bercokol dalam benaknya demikian kuat.
            Namun Dimas tak ingin menyerah. Ia tegakan kembali duduknya.
            "Maap, Kek. Bukan maksud Dimas mau melawan kakek. Tapi menurut Dimas bukan saatnya lagi sekarang keyakinan yang tidak mendasar seperti itu terus dipertahankan. Manpaatnya apa, kek? Bukankah pada akhirnya kita malah akan terjebak kepada sikap curiga dan saling merendahkan? Kebahagiaan pernikahan bukan ditentukan oleh persukuan. Tapi nilai-nilai agama yang kita jadikan sebagai dasarnya. Kakek sendiri kan yang bilang begitu? Sekarang kenapa sikap kakek jadi berubah?"
            "Kamu mau mengajari kakekmu ini soal nilai-nilai kebahagiaan?" Kakek melotot.
            "Bukan mengajari, kek. Tapi hanya mengingatkan ...."
            Brakkk!
            Gebrakan di atas meja itulah yang menjadi jawaban atas protes Dimas. Dimas sampai tersentak ke belakang karena kagetnya.
            "Kakek sungguh kecewa. Kamu cucu yang paling besar. Selama ini kakek sudah membayangkan bahwa kamulah yang pertama akan membahagiakan kakek dengan membawa calon isteri yang tepat. Ternyata harapan kakek keliru. Kamu sungguh keterlaluan. Kembalikan pacarmu itu sebelum jadi masalah yang lebih besar. Kelakuanmu ini merupakan aib keluarga."
            Sikap kakek jelas, tak ingin ada seorang pun dalam ruangan itu yang menolak keputusannya.         Aturan agama bahwa laki-laki baik untuk perempuan baik-baik nyatanya sama sekali tidak berlaku.
            Dimas yang menjadi korbannya tidak berdaya. Ayah dan ibu memilih netral. Atau andai disuruh menentukan pilihan  pun mereka pasti akan lebih condong ke kakek.
            Tragedi Bubat itu sendiri yang terjadi tahun 1279 Saka atau 1357 M berawal dari ketika raja Majapahit, Hayam Wuruk, naksir putri dari kerajaan Sunda Dyah Ayu Pitaloka Citraresmi. Tadinya niat sang raja tulus murni tanpa embel-embel napsu kekuasaan. Namun ketika pernikahan hendak dilaksanakan, mulailah niat Hayam Wuruk itu ditunggangi kepentingan politik oleh mahapatih Gajah Mada.
            Bahwa dengan diperisterinya Dyah Ayu Pitaloka hal tersebut menandakan takluknya pihak kerajaan Sunda kepada Majapahit. Sehingga dengan cara seperti itu maha patih Gajah Mada berhasil memenuhi sumpah Palapanya untuk menyatukan nusantara. Karena pada jaman itu hanya kerajaan Sundalah, dibawah kepemimpinan maharaja Linggabuana, yang tidak pernah berhasil ditaklukan oleh Majapahit.
            Jadi dengan sengaja pernikahan itu akan dilaksanakan di Majapahit.
            Sebenarnya permintaan pihak Majapahit itu amat tidak lajim. Bagaimana mungkin dalam suatu pernikahan pihak perempuan yang harus datang menemui pihak laki-laki. Namun dengan pertimbangan bahwa pendiri kerajaan Majapahit, yaitu raden Wijaya, masih ada hubungan kekerabatan dengan kerajaan Sunda, maka Dewan kerajaan Sunda bersedia mengalah dan permintaan yang sangat merendahkan itupun diturutnya juga.
            Rombongan kerajaan Sunda yang hanya berjumlah ratusan orang pun berangkat dan berkumpul di sebuah desa yang bernama Bubat. Namun saat pihak Majapahit menuntut bahwa pernikahan tersebut akan dipergunakan sebagai pertanda kalau mereka mengakui superioritas Majapahit dengan Dyah Pitaloka sebagai seserahannya, perlahan kebahagiaan yang hendak disongsong oleh kedua mempelai itu mulai retak.
            Seperti mengalami sendiri peristiwa Bubat itu, dalam pikiran Dimas tergambar ketika pihak kerajaan Sunda menolak keinginan Majapahit maka hal itu diartikan sebagai tantangan perang. Ribuan pasukan Bhayangkara Majapahit di bawah komando Gajah Mada langsung mengepung rombongan kerajaan Sunda di pesanggrahan Bubat. Membantainya.
            Semuanya tewas termasuk maharaja Linggabuana. Putri Dyah Ayu Pithaloka sebagai satu-satunya yang selamat pun memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri sebagai tanda belapati.
            Lalu apa setelahnya? Tak ada yang menang atau pun kalah, menurut Dimas. Yang ada adalah sipat keegoan manusia yang jadi pelakunya. Maka setelah berlalunya kejadian Bubat itu di kalangan kerabat negeri Sunda kemudian diberlakukan aturan yang disebut larangan estri tiluaran. Yang isinya antara lain larangan untuk menikah dengan orang di luar kerajaan Sunda atau larangan memperisteri orang Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas lagi sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.
            Dan itu berlaku hingga detik ini !
            Kilasan sejarah itu membuat pikiran Dimas berkecamuk.
            Di satu sisi, dirinya sama sekali tak ada niatan hendak membangkang. Kakek adalah orang yang sangat dihormatinya. Namun di sisi lain, kali ini sang kakek yang masih memiliki keturunan darah biru dari raja-raja Sunda itu harus disadarkan. Adalah sebuah kekeliruan ketika masa depan pernikahannya harus dipertaruhkan kepada sepotong tragedi pahit yang dialami oleh leluhurnya akibat napsu kekuasaan yang kebablasan.
            Peperangan dalam pikiran Dimas itu sepertinya dimenangkan oleh logikanya. Hingga akhirnya sampailah dirinya pada satu kesimpulan. Bahwa prinsip yang ingin terus dipertahankan oleh kakeknya itu, bahkan keluarga besarnya Retno, bukanlah aturan dasar pernikahan. Tidak perlu harus diikuti. Selain itu hati dan harga dirinya pun akan terluka andai Retno di kembalikan lagi ke orang tuanya.
            Dimas sudah hampir mengatakan bahwa tanpa restu dari sang kakek pun ia tetap akan menikahi gadis pilihannya. Hanya saja belum juga satu patah kata terlontar, suara ketukan di pintu membuat kepala semua orang berpaling. Untuk sesaat ketegangan dalam ruang tamu itu terpecah.                                                                                                            
Dimas yang beranjak membukakannya. Begitu daun pintu terbuka, seketika ia mematung. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki paruh baya berbadan kurus dan tinggi.
            Bapaknya Retno !
            Dan perempuan bertubuh subur di sampingnya yang berkonde dan kebaya adalah isterinya.
            Tapi yang Dimas tidak mengerti kenapa mereka harus membawa-bawa banyak polisi?
            Bapaknya Retno langsung bereaksi ketika melihat kemunculannya.
            "Ini dia orangnya, pak Polisi. Dia yang telah menculik putri saya. Tangkap dia, pak !"
            Rupanya orang tua Retno telah melaporkan Dimas kepada pihak kepolisian dengan tuduhan penculikan. Dan mereka sekarang hendak menangkapnya.
            "Maap, saudara harus ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan." Kata pimpinan mereka kepada Dimas.
            Muka Dimas memutih pasi.
Suasana rumah langsung menjadi kacau dan kalang kabut.
            Ibu Dimas histeris meriwis-riwis.
            Bapak dalam kepanikannya berusaha menghalangi langkah para abdi negara itu.
            Kakek sejenak melupakan kekesalannya. Sekuat daya berusaha melindungi cucunya. Tapi pembelaan mereka hanya dijawab dengan kalimat formal agar semuanya dijelaskan di kantor polisi. Dimas siap digelandang menuju mobil. Andai saja saat itu tidak ada yang menghalangi.                                                                                                                                 Mendengar ribut-ribut diluar rupanya Retno, yang sedari tadi menguping, langsung melongok. Jantungnya keras berdegup melihat kedatangan ibu dan bapaknya. Juga Dimas yang sudah berada dalam keadaan dua tangan terborgol ke belakang.
            Retno langsung menghambur dan merentangkan kedua tangannya di hadapan para aparat bersenjata pistol itu.
            "Pak Polisi, Saya ikut atas kemauan sendiri. Bukan karena diculik. Kalau kekasih saya dipenjara, maka saya juga akan ikut ke penjara."
            Ayah Retno melompat ke depan dengan mata melotot.
            "Retno, apa-apaan kamu? Kamu jangan bikin malu keluarga. Hayo pulang !!"
            Bukan. Bukan sikap menyerah yang diperlihatkan Retno atas hardikan sang ayah. Melainkan yang ditunjukannya adalah ketegaran seorang gadis Jawa. Dia berdiri tegak seperti tokoh Srikandi dalam lakon wayang orang manakala tengah merentang busur. Tetapi bukan untuk menyerang lawannya. Melainkan yang dilakukannya adalah karena cinta dan kesetiaan. Dua hal yang berusaha ingin dipertahankannya.
            "Ayah, siapa membuat malu siapa? Sadarkah ayah kalau tindakan ayah ini sudah menghancurkan kebahagiaan Retno.  Retno Yakin pernikahan kami akan bahagia karena kami tidak menjadikan persukuan dan watak pribadi yang menjadi dasarnya. Melainkan tata aturan agama."
            "Saya tidak mengerti apa itu perang Bubat sama dengan tidak mengertinya kenapa malah justeru hubungan kami yang menjadi korbannya? Apakah orang Jawa tidak boleh mencintai orang Sunda dan begitu pula sebaliknya? Siapakah yang membuat hukum seperti itu, ayah? Apakah kalian-kalian ini Tuhan sehingga begitu merasa berhak mengatur siapa berjodoh dengan siapa? Apakah kebahagiaan cinta hanya hak mereka yang satu persukuan?"
            Plakk!
Tamparan keras di pipi Retno itulah yang menjadi balasan atas sikap menggugat Retno. Retno terhuyung. Saat berbalik terlihat ada darah yang mengalir di sela-sela bibir gadis berkulit hitam manis itu. Lalu dan terjadi secara perlahan, dari sepasang mata yang bulat itu melintas dua jalur air mata menapak di pipi yang ranum.
            Ibu yang melihatnya menjerit histeris. Bergantian ia antara membujuk putrinya dan berusaha menenangkan amarah sang suami.
            "Retno, jangan begitu sama ayahmu, Nak. Ini buat kebaikanmu sendiri. Tak ada gunanya kamu memaksakan diri untuk tetap menikah dengan laki-laki itu. Sekarang Kita pulang, ya?"
            Retno menggeleng.
            "Ibu, pernikahan memang membutuhkan restu dari orang tua. Dimas laki-laki yang baik, mengerti agama, dan bertanggung jawab. Retno merasa bahwa pilihan Retno ini tidaklah salah. Sebaliknya alasan kalian melarang hubungan kamilah yang menurut Retno salah. Jadi maapkan anakmu ini, ibu. Tanpa restu dari kalian pun Retno akan tetap menikah dengan Dimas."
            Sedetik perempuan berkebaya warna hijau itu tertegun. Tidak menyangka sama sekali kalau putrinya yang selama ini penurut, lungguh timpuh andalemi, tiba-tiba menjadi seorang pemberontak. Sekuat itukah cinta yang menguasai kalbunya sehingga sanggup menyalin rupa tata krama si Putri Jogja yang penuh etika dan sopan santun ini, terlebih-lebih terhadap ibunya, menjadi sebuah pembangkangan?
 Tidak ! ini bukan sosok sejati dari putrinya. Laki-laki itu pasti telah mengguna-gunainya. Putri kesayanngannya telah didukuni. Dan sekarang yang tampil menguasai raganya adalah sosok Rahwana berwajah Shinta.
            Penyangkalan dramatis itu naik ke kepala ibunya Retno. Terasa menusuk menghempas kesadarannya pada sebuah ruang hampa. Seketika pandangannya menjadi gelap. Efeknya tubuh itu menjadi limbung. Ibunya Retno pingsan akibat reaksi dari ucapan
putri yang sangat disayanginya.                                 
Melihat isterinya pingsan, kemurkaan ayahnya Retno kian menjadi-jadi. Mata melotot, sekujur tubuh bergetar, dan telunjuk teracung lurus tertuju ke wajah putrinya.
            "Kamu benar-benar keterlaluan, dasar anak yang tidak tau membalas budi orang tua. Dengarkan, mulai sekarang kamu bukan lagi anak kami. Dan pernikahanmu itu sampai kapanpun sama sekali tidak akan bahagia !!!"
            Setelah itu dengan membawa ledakan kemarahannya, laki-laki itu membawa langkahnya keluar.
            Ibu Retno digotong.
            Para Polisi membawa Dimas.
            Kakek dan orang tua Dimas menjadi penonton dari semua adegan tersebut.
            Lalu sepi  pun mengalir.
            Tidak ada yang tau apa yang terjadi terhadap Retno setelah itu. Kecuali orang tua Dimas.
            Gadis hitam manis itu memang masih berdiri di tempatnya. Tetapi ada yang membedakannya. Setelah sang ayah menjatuhkan sumpahnya tadi perbedaan itu mulai merambati permukaan ragawi Retno.
Mula-mula bibir Retno ternganga, reaksi khas orang kaget atas ucapan sang ayah yang tidak disangka-sangkanya. Lalu kedua tangannya terangkat ke depan, kearah Dimas yang digelandang menuju ke mobil Polisi, sesuatu yang tak bisa diraihnya. Sehingga akhirnya tangan itu berhenti di kehampaan. Terakhir, matanya yang tadi memancarkan kehangatan dan semangat cinta yang berapi-api perlahan meredup seperti lampu teplok yang kehabisan minyak. Kosong bola mata itu. Sekopong harapannya saat menyadari hubungan cinta yang mati-matian dipertahankannya harus kandas.
            Lantas dari bibir yang masih ternganga itu mengalirlah sebuah tembang  Jawa.
Li lali tan bisa lali                                                                                            
Sun lelipur 
tan sengsaya                                                                                                           
 Katon bae sapolahe                                                                                                                    Kancil desa 'njang talingan                                                                         
 Aku melu karo ndika                                                                                               Lebu seta sari pohung                                                                                              Becik mati yen kapiran
Itu adalah tembang asmara dahana. Tentang seseorang yang ingin dilupa namun tidak bisa lupa. Engkau adalah pelipur dikala sengsara. Yang selalu terbayang segala tingkah dan polahnya.
Namun aneh sekali. Selesai menembang Retno tiba-tiba tertawa terkikik-kikik sambil menari-nari.
Ibunya Dimas yang menyaksikan jadi merinding dan merapat ke suaminya.
            "Pak... dia... gadis itu..."
            "Benar..., bu. Dia menjadi gila. Mungkin karena cintanya yang tidak kesampaian atau jiwanya yang terguncang akibat sumpah bapaknya sendiri."
            Bapak lalu menoleh ke arah kakek.
            "Kita harus membawa gadis itu ke rumah sakit jiwa, pak."
            "Tidak. Jangan lakukan itu. Apa kalian tidak melihat bagaimana si Dimas tadi ditangkap polisi? Biarkan gadis itu lari ke jalanan dan menjadi totonan orang-orang sebagai balasan atas apa yang telah dilakukan orang tuanya terhadap cucuku. Aku baru puas. Huss, hayo pergi !"
            Kakek menggebah Retno seperti mengusir binatang liar.
            Dan sambil terus menari dan tertawa, Retno berlari ke jalanan. ***                                      Tamat.