Kamis, 16 Juni 2016

DAMPAK SISTEMIK : century nan abadi



           
Ketika kasus bank Century mencuat ke publik, lalu setelah itu menyusul menteri keuangan saat itu yang bernama bu Sri diberi tugas menjadi direktur bank dunia di Washington, para politikus yang berhati idealisme beranggapan :
            “Ah, semua itu kan cuma permainan kekuasaan dan politik. Biasalah, menjauhkan aktor intelektualnya dari sasaran tembak langsung. Sehingga yang dijaring oleh KPK hanya tikus-tikus got yang tidak tahu apa-apa.”
            Memang dalam pusaran kekuasaan dan politik, sekecil apapun kekeliruan pasti akan dijadikan amunisi oleh para politikus yang berhati kerdil untuk menghancurkan lawan politiknya. Bukannya memperbaiki kekeliruan itu untuk membangun bangsa.
            Demikian pula dalam kasus bank Century.
Jadi ketika akhirnya bu Sri yang sudah bertugas di luar negeri itu dipanggil juga oleh KPK untuk diperiksa, beberapa politikus diam-diam bertepuk tangan sambil harap-harap cemas. Akankah dalam episode kali ini KPK menangkap Kakap, dan bukan ikan Teri?
            Tetapi selain itu di luar sana ada pula tokoh yang berpendapat bahwa itu semua hanya basa-basi KPK. Yang sebenarnya kasus bank Century akan tetap jalan di tempat. Perkiraan itu barangkali ada benarnya juga. Sebab ketika menjalani pemeriksaan yang memakan waktu selama berjam-jam, bu Sri keukeuh dengan keputusannya.
            “Alasan saya mem-bail out bank Century adalah karena kalau bank tersebut dibiarkan bangkrut maka akan menimbulkan dampak sistemik. Titik !”
            Dan pemangku kebijakan di negeri ini mengamini. Mereka pura-pura menutup mata terhadap keganjilan yang jelas-jelas terjadi di depan mata, yaitu kenapa dana yang sebelumnya diperlukan hanya sekitar enam ratus milyar tiba-tiba membengkak jadi enam koma tujuh trilyun.
            Ah, itu biarkan saja. Sekarang mari kita ikuti bu Sri yang sedang dalam perjalanan menuju ke pesawatnya untuk kembali ke Washington.
            Terjadilah dialog imaginer ini antara bu Sri dengan salah seorang koleganya.           “Kenapa anda harus berbohong? Century kan bank kecil. Kalau  bangkrut sama sekali tidak akan menimbulkan dampak sistemik?”
            “Saya tidak berbohong,” Bu Sri meyakinkan.
          “Justeru kalau saya katakan yang sebenarnya maka wakil Presiden akan kena, Presiden kebawa-bawa, partainya kena getahnya, kemudian orang-orang di sekelilingnya ikut terlibat. Apa itu namanya bukan dampak sistemik?”

            Kalau kata orang tua dulu dampak sistemik itu sama dengan buah simalakama. Dimakan wakil Presiden mati. Tidak dimakan Presiden yang  mati.
 Maka pilihannya adalah diemut aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar