Ketika
kasus bank Century mencuat ke publik, lalu setelah itu menyusul menteri
keuangan saat itu yang bernama bu Sri diberi tugas menjadi direktur bank dunia
di Washington, para politikus yang berhati idealisme beranggapan :
“Ah, semua itu kan cuma permainan
kekuasaan dan politik. Biasalah, menjauhkan aktor intelektualnya dari sasaran
tembak langsung. Sehingga yang dijaring oleh KPK hanya tikus-tikus got yang
tidak tahu apa-apa.”
Memang dalam pusaran kekuasaan dan
politik, sekecil apapun kekeliruan pasti akan dijadikan amunisi oleh para
politikus yang berhati kerdil untuk menghancurkan lawan politiknya. Bukannya
memperbaiki kekeliruan itu untuk membangun bangsa.
Demikian pula dalam kasus bank
Century.
Jadi
ketika akhirnya bu Sri yang sudah bertugas di luar negeri itu dipanggil juga
oleh KPK untuk diperiksa, beberapa politikus diam-diam bertepuk tangan sambil
harap-harap cemas. Akankah dalam episode kali ini KPK menangkap Kakap, dan bukan
ikan Teri?
Tetapi selain itu di luar sana ada
pula tokoh yang berpendapat bahwa itu semua hanya basa-basi KPK. Yang
sebenarnya kasus bank Century akan tetap jalan di tempat. Perkiraan itu
barangkali ada benarnya juga. Sebab ketika menjalani pemeriksaan yang memakan
waktu selama berjam-jam, bu Sri keukeuh
dengan keputusannya.
“Alasan saya mem-bail out bank
Century adalah karena kalau bank tersebut dibiarkan bangkrut maka akan
menimbulkan dampak sistemik. Titik !”
Dan pemangku kebijakan di negeri ini
mengamini. Mereka pura-pura menutup mata terhadap keganjilan yang jelas-jelas
terjadi di depan mata, yaitu kenapa dana yang sebelumnya diperlukan hanya
sekitar enam ratus milyar tiba-tiba membengkak jadi enam koma tujuh trilyun.
Ah, itu biarkan saja. Sekarang mari
kita ikuti bu Sri yang sedang dalam perjalanan menuju ke pesawatnya untuk
kembali ke Washington.
Terjadilah dialog imaginer ini
antara bu Sri dengan salah seorang koleganya. “Kenapa
anda harus berbohong? Century kan bank kecil. Kalau bangkrut sama sekali tidak akan menimbulkan
dampak sistemik?”
“Saya tidak berbohong,” Bu Sri
meyakinkan.
“Justeru kalau saya katakan yang
sebenarnya maka wakil Presiden akan kena, Presiden kebawa-bawa, partainya kena
getahnya, kemudian orang-orang di sekelilingnya ikut terlibat. Apa itu namanya
bukan dampak sistemik?”
Kalau
kata orang tua dulu dampak sistemik itu sama dengan buah simalakama. Dimakan wakil
Presiden mati. Tidak dimakan Presiden yang
mati.
Maka
pilihannya adalah diemut aja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar