Rabu, 10 Agustus 2016

Mantan maling jadi merbot




           
Mulanya masjid kampung Salam yang mengasing di pinggir sawah itu tidak punya merbot. Kemudian pak Sukri, Dkm masjid, tiba-tiba menjadikan si Otoy sebagai merbotnya. Jamaah seolah kebakaran jenggot. Sebab semua juga tahu kalau si Otoy itu mantan maling dan pernah dipenjara.
            “Masjid itu rumah Allah yang suci, pak Sukri. Jadi yang mengurusnya juga haruslah orang yang suci atau rajin ibadahnya. Atas pertimbangan apa bekas maling di jadikan merbot. Apa di kampung kita ini sudah tidak ada lagi orang yang bener? Tindakan pak Sukri ini sama saja dengan mencoreng nama mesjid kita.” Haji Kejo menjadi orang pertama yang memprotes kebijakan pak Sukri.
Haji Kejo salah seorang tokoh di kampung Salam. Badannya bulat. Kalau jalan tubuhnya doyong ke kiri dan ke kanan. Sejak kalah dalam pemilihan Dkm bulan kemarin, sikapnya jadi kritis. Apa saja yang menyangkut urusan masjid tidak pernah lolos dari kritikanya.
            Ada pun pak Sukri ia memiliki pertimbangan sendiri. Pak Sukri berpandangan bahwa untuk menjadi merbot tidak perlu orang suci. Selain rajin ibadah yang penting dia mengerti fikih membersihkan mesjid. Apalagi setelah ia perhatikan si Otoy sekarang sudah tobat, rajin shalat dan ngaji. Siapa tau dengan memberinya kepercayaan, dia akan semakin lebih baik lagi. Jadi pak Sukri  tetap dengan keputusannya.
            Haji Kejo sebal sebab usulnya di tolak dan si Otoy tetap dijadikan sebagai merbot.
            Sejak itulah masjid kampung Salam memiliki merbot sendiri. Dan ternyata kerja si Otoy tidak mengecewakan. Lantai masjid dan kaca jendela selalu kinclong karena sehari tiga kali selalu dilap. Sementara tiap waktu shalat suara adzan tidak pernah telat dikumandangkan.
Semua jamaah mau tidak mau memuji kerja si Otoy.  Kecuali  haji Kejo. **

Sudah jadi kebiasaan, tiap kali ada urusan mesjid yang perlu dimusyawarahkan pak Sukri mengumumkannya pada waktu acara shalat jum’at. Sebab kesibukan mereka sebagai petani dan pedagang membuatnya sulit menemukan waktu yang tepat supaya bisa berkumpul bareng.
 Jum’at kali ini Pak Sukri mengumumkan akan membeli karpet untuk lantai mesjid yang selama ini hanya berupa keramik saja tanpa diberi alas. Tetapi karena harga karpet itu lumayan mahal, maka ia melontarkan ide membeli karpet itu secara patungan. Besarannya berapa, diserahkan kepada kemampuan masing-masing.
Haji Kejo menganalisa untung-rugi rencana itu untuk dirinya.
Haji Kejo merasa sejak pak Sukri mengangkat si Otoy menjadi merbot, orang banyak memuji tindakannya itu. Selain Mesjid bersih terawat, si Otoy pun terbukti sekarang jadi orang baik-baik.
Pujian itu seharusnya untuk dirinya. Memangnya apa kelebihan pak Sukri? Jadi haji saja belum. Kemudian tiap kali ada perayaan atau perbaikan mesjid, selalu nama haji kejo yang menempati urutan teratas sebagai penyumbang terbesar. Tapi orang-orang seperti tidak ngeh. Tetap saja nama pak Sukri yang disebut. Bukan namanya.
Sekarang, dengan adanya rencana pembelian karpet mesjid, haji Kejo melihat adanya kesempatan untuk menonjolkan diri. Sebelum yang lain bicara, ia yang lebih dulu angkat tangan.
“Berapa pun harga karpet itu saya sendiri yang akan membayarnya. Bukan saya mau syok-syok-an. Tapi seperti kita tahu sekarang ini lagi musim paceklik. Kita tidak boleh membebani para jamaah. Pak Sukri tinggal bilang saja kapan kita membelinya. Saya selalu siap.”
Sikap haji Kejo yang selalu ingin menonjolkan diri itu sebenarnya agak kurang disukai jamaah. Tapi tak urung saat haji Kejo menyatakan kesiapannya menanggung sendiri biaya pembelian karpet itu jamaah semua mengucap ‘Alhamdulillah…’.
Sudah lama mereka memimpikan lantai mesjid ini dilapisi karpet seperti mesjid-mesjid lain. Rasanya pasti empuk dan nyaman.
***
Besoknya, haji Kejo langsung menghubungi seorang pedagang karpet kenalannya. Minta dibawakan beberapa contoh yang paling bagus.
 Karpet mesjid di mana-mana semuanya hampir selalu sama. Bentuknya memanjang dan sudah dikotak-kotak. Jarak antar kotak sekitar setengah jengkal. Jamaah mesjid kampung Salam memilih yang ada gambar Ka’bahnya. Alasannya dengan adanya gambar Ka’bah itu mereka akan merasakan seolah-olah sedang shalat di depan Ka’bah. Shalat akan lebih khusyu dan nikmat.
Karpet itu sendiri belum akan dihamparkan. Jamaah bersepakat akan syukuran dulu membuat nasi tumpeng untuk kemudian dimakan sama-sama.
Namun ternyata niat syukuran itu benar-benar hanya tinggal niat. Jamaah mesjid kampung Salam harus gigit jari. Sebabnya, sehari sebelum syukuran, karpet itu tiba-tiba raib alias ada yang maling ! ***

Si Otoy waktu kerja di kota memang pernah masuk penjara. Waktu itu semua orang kampung Salam mengetahui kejadian tersebut dan merasa malu karenanya.
Setelah bebas si Otoy insyaf dan rajin ngaji bahkan tekun mempelajari kitab Ihya Ulumiddinnya di pesantren yang ada di kampung Salam. Tetapi ketika masjid mereka kemalingan, semua syak wasangka warga diam-diam tertuju kepada si Otoy.
Haji Kejo yang paling emosi. Selama ini dirinya sudah membayangkan bahwa dengan adanya karpet itu maka semua jamaah masjid akan selalu teringat kepada jasanya. Dengan begitu siapa tau ambisinya menjadi Dkm masjid suatu saat akan kesampaian.
 “Ini benar-benar keterlaluan. Koq tega-teganya barang mesjid dipaling. Kita harus segera laor ke polisi. Maling itu harus secepatnya ditangkap.”  Berkata begitu haji Kejo melirik sinis ke arah si Otoy.
Si Otoy hanya bisa tertunduk. Ia juga tidak tahu apa-apa. Soalnya waktu karpet itu hilang, dia lagi pulas-pulasnya tertidur. Semua pertanyaan haji Kejo hanya bisa dijawabnya dengan kata ‘tidak tahu’.
Haji Kejo jadi gregetan. Dia berkeyakinan bahwa maling karpet itu pastilah orang dalam. Sebabnya tidak mungkin membawa gulungan karpet sedemikian besar tanpa diketahui oleh orang lain.
Andai benar demikian, akan ada alasan untuknya menggugat kepengurusan pak Sukri dengan alasan tidak becus memilih anak buah. Pak Sukri pun pasti akan malu.
Haji Kejo mengusulkan untuk menggeledah rumah si Otoy.
Jamaah menyetujui usulnya.
Berbondong-bondong mereka menuju ke rumah si Otoy. Segala sudut diperiksa. Dari mulai ujung depan hingga ke ujung belakang. Ternyata mereka tidak perlu harus cape-cape mencari, jamaah menemukan karpet itu teronggok di pojokan dapur.
Haji Kejolah yang paling girang.
Si Otoy langsung di sidang.***

“Saya melakukan ini untuk kebaikan shalat kita semua. Tidak ada manpaat apa-apa di balik karpet itu. Nanti yang ada dalam hati kita bukan lagi kekhusyuan beribadah, melainkan gambar karpet itu. Karena apa yang tergambar dalam hati adalah apa yang dilihat oleh mata.
Justeru kalau kita sujud langsung menyentuh bumi, maka kita akan meresakan kehinaan di hadapan Allah. Selain itu, lantai mesjid inilah yang sebenarnya membuat hawa di dalamnya terasa sejuk. Kalau di lapisi karpet malah akan jadi panas.” Demikian pembelaan Si Otoy di hadapan jamaah yang menyidangnya. Ia tahu ucapannya akan dianggap ngawur dan dirinya tetap saja akan dipecat. Tapi yang terpenting ia sudah menyadarkan orang-orang.
Kepada pak Sukri tidak lupa si Otoy meminta maap karena sudah mengecewakannya. Tetapi rupanya pak Sukri masih berbaik hati.
“Saya kecewa sama kamu, Otoy. Harusnya kamu tau diri dan menyadari posisi kamu disini siapa dan sebagai apa. Tugas kamu kan hanya membersihkan masjid bukan ikut campur tata cara kami beribadah. Kalau benar sih tidak jadi soal. Tapi semua ucapan kamu itu tidak bisa dipertanggung jawabkan. Apa dalilnya bahwa shalat nggak boleh pake karpet. Ada pun soal pengalaman bersujud yang kamu katakan itu adalah masalah keimanan. Bagi orang yang imannya mantap, maka sujud di mana pun akan tetap merasakan kehinaan dan kedekatan dengan Allah. Mulai sekarang kamu terpaksa kami pecat, Otoy. Kamu tidak akan dibawa ke polisi. Tetapi sebagai hukuman atas segala tindakan dan pemikiran kamu itu, kami akan mengarakmu dulu keliling kampung agar semua orang tau dan bisa mengambil pelajaran”.
Si Otoy pasrah.
Hari itu si Otoy diarak keliling kampung sambil dipukuli dengan pelepah pohon kelapa. Karpet itu sendiri kemudian dikembalikan lagi untuk di pasang di masjid kampung Salam.
Jamaah gembira lagi. Setelah mengadakan syukuran, mereka kemudian untuk pertama kalinya bisa ‘mencicipi’ bagaimana rasanya shalat di atas sajadah yang empuk itu.
Pak Sukri yang mengimami. Setelah takbiratul ihram, pandangan pak Sukri langsung jatuh di ujung karpet tempat biasa dirinya menjatuhkan kening. Dengan cara itulah dia dan jamaahnya bisa merasakan kekhusyuan.
Eh?!
Namun kali ini rasanya beda. Ketika melihat gambar Ka’bah dengan yang tercetak di lembar karpet di hadapannya, secara otomatis sepasang bola mata pak Sukri langsung merekam gambar tersebut kemudian meneruskannya ke dalam hatinya. Terbetiklah dalam hati itu sebuah andai.
Andai ia bisa datang langsung ke Ka’bah itu alias naik haji…
Andai saat ini yang ada di hadapannya adalah Ka’bah sungguhan bukan hanya gambar…
Andai……
Tiba-tiba kata andai itu terputus. Pikiran pak Sukri kembali pada shalat yang sedang dilaksanakannya. Pak Sukri lupa, sudahkah tadi membaca Fatihah? Ia bimbang. Fokusnya jadi kacau akibat gambar warna-warni yang terlukis di atas karpet.
 Pak Sukri akhirnya memutuskan untuk membatalkan shalatnya dan menengok ke belakang. Ia tertegun melihat keadaan jamaahnya. Shaf mereka tidak lagi rapat seperti sebelum ada sajadah dimana pundak dengan pundak saling bersentuhan. Karena sajadah itu sudah dikotak-kotak dengan jarak yang agak renggang, secara otomatis para jamaah pun menyesuaikannya sehingga shafnya jadi ikut-ikutan renggang.
Para Jamaah bengong menyaksikan imam mereka seperti orang ling-lung kemudian mereka juga ikut-ikutan membatalkan shalatnya dan bertanya,
“Ada apa, pak Sukri?” *** Tamat. Cicinde, Januari 2016.

SANG PENGASUH




Insya Allah kalau tidak ada halangan hari ini saya akan pulang ……

Selesai dibaca, surat itu oleh abah Suminta kemudian diselipkan diantara tumpukan baju-bajunya dalam lemari palstik yang sekujur permukaannya sudah penuh oleh retakan.
Surat itu dari si Agus. Cucunya yang sudah sukses jadi pengusaha di kota. Agus mengabari soal rencana kepulangannya. Meski baru suratnya yang datang, sudah membuat abah Suminta senang. Apalagi kedatangannya akan disertai oleh pak Lurah. Itu merupakan sebuah kehormatan.
Mungkin kedatangan pak Lurah ada sangkut pautnya dengan rencana Agus yang katanya hendak membangun sebuah pabrik di sini. Entah pabrik apa.
Kalau benar demikian, abah Suminta akan sangat berterima kasih kepada cucunya. Sebab dengan begitu rasa bersalahnya terhadap desanya akan sedikit terobati. Meski orang kampung sudah memaapkan, bahkan pada upacara tujuh belas Agustusan kemarin pak Lurah memberinya hadiah berupa uang, kain sarung, dan radio, abah Suminta tetap merasa tidak pantas menerima itu semua.
            "Selamat, abah. Berkat perjuangan abah, hutan Burangrang ini sekarang sudah tidak gundul lagi. Atas nama pemerintah, kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Dengan ini, hukuman pengasingan terhadap abah pun kami cabut. Abah kalau mau boleh berkumpul lagi dengan kami di kampung”.
            Tapi abah Suminta sudah terlanjur betah diam di gunung.

Kata orang-orang, Burangrang memiliki sejarah tragedi yang tetap mereka ingat sampai sekarang. Yaitu saat hutannya gundul akibat illegal logging. Tidak ada pohon besar yang tumbuh. Hanya tunggul-tunggul kayu sisa penebangan saja memenuhi lereng.
 Para orang tua masih suka menceritakan kejadian tersebut kepada anak cucu mereka. Supaya jadi pelajaran. Dan kalau anak-anak itu bertanya siapa yang menebangi hutan, dengan suara berbisik mereka akan menyebut satu nama,
Abah Suminta…. !
Dialah dalang pembalakan liar hutan Burangrang.
Kata mereka abah Suminta punya beking orang kuat di kota. Polisi saja bisa diatur-atur. Itu sebabnya dia berani menebangi pohon.
Si beking itulah yang merayu abah Suminta supaya mau menebang kayu di hutan. Upahnya dua ratus ribu per satu pohon.
Sejak kesepakatan itu dibuat, pandangan abah Suminta terhadap hutannya jadi berubah. Tidak lagi melulu terlihat sebagai kumpulan kayu dan daun. Namun juga lembaran rupiah. Maka dimulailah petualangannya. Dengan berbekal satu buah gergaji mesin dan beberapa orang anak buah, satu demi satu pohon di hutan Burangrang ditebasnya.
Sedikit pun abah Suminta tidak berpikir soal gunung yang gundul. Menurutnya toh, lama-lama juga akan jadi pemandangan biasa. Paling orang kampung hanya mengeluhkan tentang udara yang hawanya jadi jauh lebih panas. Nanti, kalau hujan sudah turun juga pasti akan adem lagi.
Dan hujan pertama di musimnya turun dengan deras ditengah gelapnya malam. Karena tidak ada dedaunan dan akar pohon yang berpungsi sebagai penahan, hantaman air hujan menyebabkan lereng yang gundul menjadi longsor. Tunggul-tunggul kayu dan bebatuan gunung ikut terbongkar. Lalu maut itu berlomba menyerbu desa. Kedatangannya merenggut apa saja. Orang kampung yang kebanyakan masih tertidur terlambat untuk menyelamatkan diri.
Baru setelah fajar menyingsing hasil kerja alam itu nampak jelas. Rumah-rumah hancur, anak-anak terpisah dari orang tuanya, baik yang hilang maupun meninggal. Gelondongan kayu dan bebatuan gunung bergelimpangan di antara puing-puing.
Puluhan orang mati. Abah Suminta tidak luput. Galodo merenggut paksa isteri serta dua orang anak menantunya. Yang selamat hanya seorang yaitu si Agus yang baru kelas satu SD.
Tetapi musibah itu rupanya masih belum cukup bagi abah Suminta. Orang kampungnya mulai bisik-bisik. Bahwa gara-gara hutan ditebangi penunggu Burangrang murka kemudian mengirimkan peringatannya. .
Menurut mereka, Suminta harus bertanggung jawab.
Kemudian dibentuklah pengadilan desa. Suminta disidang. Diputuskan, sebagai hukumannya Suminta harus keluar dari kampung Burangrang. Diusir ke atas gunung.
Pengasingan itulah yang kemudian membuat abah Suminta bertekad untuk menanami kembali hutan yang pernah digundulinya. Hitung-hitung sebagai penebus dosa. Sampai gunung kembali hijau seperti semula dan cucunya berhasil menjadi orang sukses, barulah abah Suminta bisa bernapas lega. ***

            Benar saja, Agus muncul di pondok abah Suminta bersama pak Lurah.
Gemuk badannya. Kulitnya agak sedikit hitam. Begitu berhadapan, dipeluknya sang kakek penuh rasa kangen. Pertanyaannya berhamburan. Apakah encoknya tidak sering kumat, apa masih betah tinggal di tengah – tengah hutan yang sunyi. Padahal andai sang kakek mau, ia siap membuatkan rumah paling bagus di kampungnya di bawah sana.
            Abah Suminta terkekeh. Lebih enak tinggal di hutan, katanya. Segalanya masih  murni. Udara, mata air, kemudian setiap saat dia bisa mendengarkan desau angin menggesekan daun-daun pohon Pinus menciptakan irama yang menyejukan hati.
 Diajaknya cucu serta pak Lurah untuk menikmati itu semua. Ditunjukannya pepohonan yang pernah ia tanam yang sekarang sudah puluhan meter tingginya. Diperlihatkannya mata air yang dari sejak dulu tidak pernah berkurang setetes pun.
            “Abah baru menyadari sekarang kalau hutan sebenarnya merupakan sumber kehidupan. Tanpa hutan semua orang akan mati. Mata air kering, bumi gersang, menanam apa pun tidak akan tumbuh karena tanah kehilangan kesuburannya.”  
“Itu semua berkat abah yang sudah  menjaga kelestarian hutan ini,” Pak Lurah memuji.
Tetapi abah Suminta menolak secara halus pujian itu. Menurutnya manusia tidak akan pernah bisa menjaga alam. Ditunjukannya satu batang pohon Pinus yang puluhan meter tingginya.
“Umur pohon ini sudah puluhan tahun. Tetapi bisakah dalam waktu selama itu manusia menjamin agar pohon ini tidak akan mati atau tumbang? Alamlah yang menjaga dan menumbuhkanya dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh manusia. Jadi sebenarnya alam yang menjaga kita. Bukan sebaliknya.”
“Tetapi bagi saya abah adalah wakil dari alam itu sendiri. Abahlah yang mengasuh Burangrang ini supaya tidak mengamuk lagi”
“Pak Lurah jangan membuat saya tambah tidak enak hati. Pak Lurah tahu sendiri kan dulu abah yang merusak hutan ini. Abah tidak ingin mengulanginya lagi. Bencana itu cukup kami saja yang mengalami. Jangan sampai terulang pada anak cucu kita. Kita jangan tertipu dengan dalih memanpaatkan, hutan-hutan ditebangi atau djadikan perkebunan sehingga bisa menyerap tenaga kerja. Menurut abah, justeru dengan adanya hutan akan lebih banyak lagi orang-orang yang bisa hidup. Jadi tidak perlu harus merusaknya. Oya, pak Lurah cape tidak abah ajak keliing? Kalau cape kita balik lagi saja ke pondok.”
“Nggak, Bah. Saya justeru senang abah mengajak kami berkeliling. Saya jadi bisa belajar dari abah tentang konsep merawat alam. Sebagai penjaga hutan apakah abah punya cita-cita atau keinginan?”
Abah Suminta berpikir sejenak. Rasanya ia memang punya suatu mimpi. Abah Suminta pernah membaca tentang bagaimana masyarakat Baduy menjaga kelestarian hutannya. Mereka membagi hutan itu menjadi tiga bagian. Yaitu untuk permukiman, untuk perladangan, dan yang ketiga sebagai hutan lindung dimana dalam situasi apa pun pohon yang ada di dalamnya tidak boleh ditebang.
“Bisa tidak ya hutan Burangrang ini dijadikan seperti itu?” Gumamnya seperti bertanya kepada diri sendiri.
Pak Lurah diam. Aguslah yang memberikan jawabannya. Menurut anggapannya karena di sini tidak ada hukum adat yang harus ditaati secara bersama-sama, maka semua orang bebas saja memanpaatkan hutan ini selama tidak dengan cara merusak.
“Memang tidak ada hukum adat, Gus. Tapi kita punya pemerintah yang bisa membuat hukum yang kekuatannya lebih tinggi dari sekedar hukum adat. Masa cara berpikir pemerintah kalah oleh orang Baduy. Mereka itu punya prinsip, gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak. Atau Panjang ulah diteukteuk, pondok ulah disambung.
Tirulah kearifan seperti yang dipunyai Mbah Maridjan juru kunci gunung Merapi. Waktu merapi meleduk mbah Maridjan bersikukuh tinggal dirumahnya. Padahal yang lain pada rusuh mengungsi. Mbah Maridjan tidak pernah menyebut gunung Merapi meletus. Tapi dia bilang Eyang Merapi ewuh atau eyang Merapi punya gawe. Kita harus memperlakukan alam bijak seperti itu. Maka alam pun akan memperlakukan kita secara bijak pula.”
Pak Lurah manggut-manggut. Alam memang punya bahasanya sendiri yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memilki kearifan. Itu sebabnya, orang yang selalu memperturutkan hawa napsunya akan mengatakan banjir, longsor, atau gunung yang meletus sebagai bencana alam. Sedikit yang menyadari bahwa itu adalah pangeling-eling dari Hyang tunggal agar manusia tidak memperlakukan alam seenak perutnya sendiri. Dan menurutnya abah Suminta telah sampai kepada pemahaman seperti itu. Dimana ego dan hawa napsunya sudah lebur dengan alam yang didiaminya.
Masalahnya, bisakah abah Suminta tetap mempertahankan prinsipnya andai ia tahu bahwa pabrik yang akan dibangun oleh cucunya ini adalah pabrik pengolahan kayu? Dimana bahan baku kayunya akan diambil dari hutan Burangrang ini? Dengan kata lain, hutan Burangrang ini akan dijadikan hutan tanaman industri oleh pemerintah daerah. Dan Agus telah mendapatkan ijin untuk melakukan penebangan di sini?
Alam sering terkesan kejam memberikan pelajaran. Tetapi manusia jauh lebih kejam lagi. ***
 Tamat.
Cicinde Utara, Januari, 2016
Arti kata bahasa sunda :
Gunung ulah di lebur : Gunung jangan dihancurkan
Lebak ulah dirusak : Lembah jangan di rusak
Panjang ulah diteukteuk : Panjang jangan dipotong
Pondok ulah ulah disambung : Pendek jangan disambung

Jumat, 01 Juli 2016

DOA KORUPTOR


            Pagi yang cerah. Langit Jakarta bersih tak berawan.
Seorang koruptor masuk ke sebuah toko buku yang cukup besar dan lengkap. Beberapa buku doa dibacanya sekilas. Lalu dikembalikan lagi ke raknya. Begitu berulang-ulang. Wajahnya terlihat kian gelisah.
            Tiba-tiba seorang pramuniaga berwajah cantik menghampirinya.
            “Ada yang bisa saya bantu, pak?” Katanya ramah sambil manis tersenyum.
            Si koruptor sejenak memandanginya seakan ingin memastikan apakah pramuniaga ini tulus bermaksud membantunya ataukah hanya sekedar politik pencitraan saja agar jualannya laku.
            “Saya mencari buku doa,” Katanya.
            “Hidup saya sedang gelisah. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, jantung selalu berdebar-debar. Saya berharap dengan doa-doa tersebut keadaan jiwa saya akan lebih baik. Tapi semua buku-buku doa yang tersedia di sini sama sekali tidak ada yang cocok untuk saya .”
            “Boleh saya tahu bapak kerja di mana?” Tanya Pramuniaga.
            “Saya ini pejabat pemerintah yang sebentar lagi akan mencalonkan diri menjadi anggota dewan.”
            Mendengar jawaban itu sang Pramuniaga langsung bersinar wajahnya .
            “Semua buku doa di sini memang standar, pak. Tapi kalau bapak ingin yang khusus saya bersedia membuatkannya untuk bapak. Gratis.”
            “Benarkah?”
            “Iya, pak.”
            “Kalau begitu cepat buatkan doa yang cocok untuk saya. Saya akan berikan bonus untuk kamu.”
            Sang pramuniaga menghilang sejenak di balik meja kasir. Lima belas menit kemudian dia balik lagi dengan selembar kertas di tangannya.
            “Mungkin yang seperti ini cocok untuk bapak,” Ucapnya seraya mengangsurkan lembaran kertas itu kepada si koruptor.
            Si koruptor membacanya. Berikut ini adalah isi doa tersebut :
            Ya Allah jadikanlah Indonesia negara yang kaya raya. Cadangan devisanya cukup, perekonomiannya di atas seratus persen, agar bisa hamba korupsi.
            Ya Allah, kalau Indonesia tetap miskin, datangkanlah IMF kemari supaya sudi memberikan pinjaman. Kemudian pinjaman itu akan hamba korupsi.
            Ya Allah panjangkanlah umur Presiden, panjangkan juga umur DPR. Sebab kalau mereka tidak ada hamba juga tidak akan bisa korupsi.”
          Ya Allah, jadikanlah KPK sebagai Komisi Pembela Koruptor jangan Komisi Pemberantas Korupsi.”
                 Ya Allah, kabulkanlah semua doa hamba jangan ada yang engkau korupsi.”

            Amieeen…, kata Pemerintah dan DPR.

Selasa, 28 Juni 2016

KARDUN MAKRIFAT : Terpaksa ibadah dan ibadah terpaksa

            Sudah lama Kardun memendam kecewa. Dan pada suatu hari dia tidak bisa lagi memendam kekecewaannya. Kepada merbot mesjid dia ungkapkan apa yang menjadi unek-uneknya.
            “Sebenarnya apa sih yang menghalangi orang-orang kampung kita shalat berjamaah di mesjid? Kenapa tiap shalat subuh yang datang semuanya selalu orang-orang miskin dan bodoh seperti saya ini? Kemana itu yang bergelar tokoh masarakat, orang-orang kaya,  haji, atau pun ustadz?”
            Si merbot mesjid nyengir. Tidak bisa dipungkiri, apa yang diomongkan si Kardun memang benar adanya. Di mesjidnya, tiap shalat shubuh, semua yang bergelar tokoh, haji atau pun ustadz itu tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba mereka begitu betah shalat di rumahnya masing-masing dari pada berjamaah.  Tetapi karena menurutnya itu bukan urusannya, jadi dia menjawab saja secara diplomatis.
            “Sudah, jangan bersungut-sungut begitu, Dun. Bukankah dalam beribadah tidak ada paksaan.”
            Kardun melotot.
            “Paham dari mana itu? Siapa bilang dalam beribadah tidak ada paksaan. Ibadah itu bahkan wajib dan harus dipaksa. Titik !”
            Sekarang gantian si merbot yang bingung.
            “Masak ibadah harus dipaksa-paksa? Kamu ini ada-ada aja, Dun. Jadi tiap kali ada orang yang ga mau ibadah harus KITA paksa terus diseret-seret? Bisa-bisa KITA dikeroyok orang sekampung, Dun. Eling, Dun. Eling.”
            Kardun kian manyun. Menurutnya si merbot ini keterlaluan. Tiap hari kerja di ‘rumah’ Allah, tapi masih nggak paham juga apa maunya ‘Sang Pribumi’ yang menjadi ‘majikannya’ tersebut.
            “Sebenarnya yang disebut oleh kamu dengan sebutan KITA itu apa sih? Cuma kulit, daging, tulang dan sedikit jeroan. Kita ini Cuma bangkai. Mana bisa bangkai memaksa bangkai untuk beribadah. Jelas dong yang punya hak dan kuasa memaksa beribadah itu hanya Allah. Allah yang maha memaksa.
            “Kamu pikir karena apa Allah sampe meniupkan ruhnya ke dalam seonggok bangkai ini? Hanya untuk beribadah. Dan tidaklah aku ciptakan manusia dan jin, kecuali untuk beribadah kepadaku. Kalau kamu sampe tidak merasakan firman Allah tersebut sebagai suatu paksaan, kamu harus benerin lagi tauhid kamu. Tidak ada yang paling nikmat di dunia ini kecuali ketika kita bisa merasakan Allah sedang memaksa kita untuk beribadah kepada-Nya. Paham?”
            Si merbot kian bingung karena tidak mengerti.
            “Dimana enaknya kalau ibadah harus dengan perasaan terpaksa? Katanya ibadah harus ikhlas.”
            “Hei, manusia, kalau kita sudah bisa merasakan paksaan dari Allah, maka tidak ada lagi keterpaksaan karena kita sudah Esa dengan Allah. Paksaan dari Allah itu tidak sama seperti manusia memaksa manusia. Sebab Allah itu laisa kamitslihi syai’un. Tidak serupa dengan apa pun. Kita ini lebih bisa merasakan paksaan dari hawa napsu Dari pada paksaan dari Tuhan. Ah, sudahlah. Mau Nyuruh shalat subuh aja sampe ribet begini.”
Kardun ngibrit sebelum si merbot bertanya lagi. ***