Senin, 04 April 2016

Kisah tukang nulis buku :


      Jk. Rowling si Penyihir

            Di artikel ini kita akan mengetahui 
perjuangan si Tukang Sihir, JK. Rowling pencipta Harry Potter,
yang sukses menyihir dunia.

Perjuangan si ibu ini memang tak mudah. 

Harry Potter baru bisa diterbitkan setelah ditolak puluhan kali oleh penerbit.


J.K Rowling Penulis Terkaya yang Sempat Menjadi Orang yang sangat Miskin. Saat ini pasti hampir semua orang tau Harry Potter, baik filmnya ataupun novelnya. Novel Harry Potter menjadi novel paling laris di dunia. J.K Rowling adalah penulis di balik novel tersebut. Ia telah menghasilkan miliaran dolar Amerika dari hasil karya-karyanya tersebut.


JK Rowling mampu menjelma menjadi seorang penulis paling kaya di Inggris, dan bahkan dunia.Tapi siapa sangka, ibu tiga anak ini memulai semuanya dari nol. Bahkan ia sempat mendapat santunan dari pemerintah Inggris karena masuk dalam kategori sebagai orang miskin yang layak mendapat santunan. J.K Rowling lahir dari pasangan Peter dan Anne pada 31 Juli 1965. J.K Rowling memang gemar menulis sejak kecil. Bahkan, di usianya yang baru menginjak enam tahun, ia sudah menelurkan kisah berjudul ―Rabbi. J.K Rowling terus melanjutkan kebiasaannya menulis.


Suatu ketika, saat ia melakukan perjalanan di kereta dari Manchester ke London, ia mendapat ide menulis. Saat itu tiba-tiba ia mendapat ide untuk memulai kisah Harry Potter yang diberinya judul Philosopher‘s Stone. Naskah itu tak langsung jadi. Setelah perceraian dari suami pertamanya, ia yang terpaksa harus hidup pas-pasan. Himpitan kemiskinan itulah yang membuat J.K Rowling melecut semangatnya untuk menyelesaikan karya yang telah dimulainya sebaik mungkin. Dari karyanya, Ia berharap bisa mendapatkan penghasilan yang layak. Akhirnya, pada 1995 ia berhasil menyelesaikan buku pertamanya. Tapi, karena sangat miskin, ia yang berniat mengirimkan naskahnya ke penerbit tak mampu membayar biaya foto kopi untuk memperbanyak naskahnya. Ia terpaksa mengetik ulang naskahnya hingga beberapa kopi dengan mesin tik tua manual yang murah. 

Bisa dibayangkan bagaimana perjuangannya, naskah Harry Potter yang sangat tebal itu diketiknya dengan mesin tik beberapa kali. Ia mengirimkan naskahnya ke penerbit, berharap penerbit menerima naskahnya dan ia mendapatkan penghasilan dari penjualan buku karyanya. Tapi, sama seperti penulis pemula yang lain, naskah itu pun mengalami penolakan berkali-kali dari berbagai penerbit. Bahkan sampai 12 kali. Beruntung, dari seorang agen bernama Christopher, Bloomsbury mau menerbitkan kisah tersebut.

Tak disangka, ajaibnya, buku yang sempat ditolak oleh berbagai penerbit itu justru laku sangat keras. Setelah menerbitkan buku pertamanya, ia pun menerbitkan seri lanjutan dari buku Harry Potter-nya itu. Kondisi hidupnya pun berubah total. Dari orang yang sangat miskin, yang harus menerima santunan dari pemerintah, yang bahkan untuk membayar fotokopi saja tak mampu hingga ia harus mengetik ulang naskahnya beberapa kali dengan mesin tik, kemudian ia bisa hidup berkelimpahan dari karya Harry Potter-nya itu. Tidak ada sukses tanpa perjuangan, begitu pula dengan


            J.K Rowling yang menjadi penulis terkaya di dunia. Ia pun harus mengalami masa-masa sulit sebagai orang miskin yang naskahnya harus mengalami penolakan 12 kali. Tapi ia pantang menyerah, setelah melalui perjuangan panjang ia mampu mengubah hidupnya jauh ke arah yang lebih baik. ***


Sabtu, 02 April 2016

Cerpen : Tetangga di samping rumah





           
Pohon mangga Arumanisnya yang tumbuh di samping rumah sudah berbuah lagi. Salah satu dahannya menjulur ke halaman rumah tetangganya. Puluhan mangga yang besar-besar dan tua bergelantungan di sana.

            Dan sudah beberapa kali bu Maulida memergoki tetangga barunya itu selalu menghitungi  mangga-mangga itu ***



            Rumah berdinding bilik itu tadinya kosong tidak terawat. Kalau malam gelap gulita karena tidak diberi penerangan. Seorang penyewa, perempuan tua berumur enam puluhan datang mengontrak disana bersama cucunya yang baru kelas dua SD.

            Bu Maulida mengenalnya. Namanya Syamsiyah, nenek yang setiap hari berjualan mangga di pasar. Kata yang empunya rumah, nek Syamsiyah boleh membayar berapa saja menyewa rumah tersebut asal dirawat.

            Nek Syamsiyah senang tinggal bertetangga dengan bu Maulida karena bu Maulida guru agama cucunya di madrasah. Kalau ada pelajaran cucunya yang ia tidak mengerti, tinggal tanya saja.

            Bu Maulida juga senang. Terutama karena rumah yang lama dibiarkan kosong oleh pemiliknya itu jadi terawat bersih dan rapih. Tidak gelap menyeramkan dan menjadi sumber gosip orang-orang penakut. Bahwa rumah tua itu sudah menjadi sarang hantu.

            Sebelum rumahnya yang sekarang, nek Syamsiyah ngontrak di belakang pasar. Nek Syamsiyah sebenarnya betah di sana karena dekat dengan pasar tempatnya berjualan. Tetapi karena harga sewanya  terus dinaikan ia terpaksa angkat kaki.

            Bu Maulida maklum. Ia melihat sendiri jualan mangga nek Syamsiyah memang tidak seberapa. Paling hanya beberapa kilo. Mangga-mangga itu dijualnya secara ketengan supaya untungnya lumayan. Kadang seribu, kadang juga seribu lima ratus perbuahnya.

            “Yang penting nenek mah ada buat jajan si Sinta sama buat biaya sekolahnya,” Kata nek Syamsiyah tidak muluk-muluk.

            Kalau bu Maulida kebetulan sedang berbelanja ke pasar mereka suka mengobrol. Terkadang bu Maulida sengaja menemui nek Syamsiyah untuk memberitahukan perkembangan pelajaran cucunya.

            Bu Maulida paham benar, tentu bukan urusan gampang bagi seorang nenek mengurus masalah sekolah cucunya. Dirinya sendiri yang seorang guru sering merasa kewalahan menghadapi kelakuan anak-anaknya sendiri.

            Suatu kali pernah bu Maulida menanyakan tentang ibu bapaknya si Sinta. Dan jawabannya sungguh mengenaskan. Ibunya si Sinta, yang adalah menantunya, lari dengan laki-laki lain. Ekonomi yang menjadi persoalannya. Si Sinta yang masih umur tiga tahun ikut dengan bapaknya.

            Tetapi sang ayah yang rupanya merasa sakit hati oleh perlakuan isterinya itu kemudian menjadi TKI ke Arab dengan harapan bisa mendapatkan uang yang banyak.

            “Lalu bapaknya si Sinta itu sering ngirimin uang buat anaknya?” Tanya bu Maulida.

            Yang ditanya menggeleng dengan mata berlinang. Karena terlibat masalah bapaknya si Sinta itu kena razia polisi Arab dan ditahan disana hingga sekarang.

            Bu Maulida merasa terenyuh. Rasa simpati itu kemudian membuat hubungan mereka jadi akrab. Kalau ketemu di pasar nek Syamsiyah suka memberinya Mangga gratis. Lebih banyak ditolak oleh bu Maulida karena dia tau benar kalau yang diberikannya itu merupakan keuntungan nek Syamsiyah.

            Tempat kedua yang membuat bu Maulida sering bertemu dengan nek Syamsiyah adalah majlis taklim. Setiap hari minggu ada pengajian ibu - ibu disana. Bu Maulidalah yang mengisi ceramahnya. Dan nek Syamsiyah hampir tidak pernah absen selalu ikut terselip diantara para jamaah.

            Nek Syamsiyah adalah jamaah yang paling ‘cerewet’. Tiap kali ada kesempatan bertanya, tangannyalah yang selalu teracung lebih dulu. Yang ditanyakannya selalu tidak jauh-jauh dari seputar cara mendidik anak agar menjadi anak yang soleh atau soleha.

            Bu Maulida mengerti sepertinya semua itu ditujukan untuk cucunya. Jadi ia memberikan salah satu solusi yang praktis. Jangan berikan makanan yang haram untuk anak kita. Karena selain membuat si anak jadi bodoh, juga malas beribadah.

            Nek Syamsiyah selalu duduk paling belakang. Ia malu duduk di depan karena pakaiannya banyak tambalannya. Berbeda dengan jamaah lainnya yang selalu berdandan mentereng.

            Supaya tidak minder dan lebih semangat bu Maulida lalu memberinya beberapa bajunya yang masih bagus. Bisa dibayangkan apa yang terjadi setelah itu.

            Hampir tiap sore nek Syamsiyah datang ke rumah bu Maulida untuk membantu pekerjaan rumahnya.

            Tertawa saja bu Maulida mengingat itu. Mungkin orang kecil lebih tau membalas budi.

            Yang jelas ia memang mengagumi semangat nenek tua itu yang di usia senjanya tetap gigih mencari napkah dan menuntut ilmu.

            Nek Syamsiyah datang menyewa rumah itu bertepatan dengan pohon Mangga Arumanis bu Maulida berbuah lebat. Sering bu Maulida melihat cucu nek Syamsiyah itu bermain-main dibawahnya.

            Anak itu sepertinya kurang asupan giji yang baik.  Badannya kurus. Tapi di sekolahnya selalu rangking satu. Bu Maulida tidak tau metode belajarnya seperti apa.

            Mungkin suatu hari nanti ia perlu mengetahuinya supaya bisa diterapkan untuk murid-muridnya yang lain.

 Satu minggu sudah nek Syamsiyah menjadi tetangga bu Maulida. Selama itu tidak tampak ada cela yang menggangu hubungan bertetangga mereka. Yang terjadi setiap hari hanyalah sebuah rutinitas.

            Pagi-pagi sehabis shalat Shubuh nek Syamsiyah sudah tergopoh-gopoh membawa keranjangnya ke pasar. Jam tujuh ia pulang dulu untuk mengurus sekolah SD cucunya. Setelah itu balik lagi ke pasar hingga waktu dhuhur tiba.

            Setiap hari selalu seperti itu. Sampai kemudian bu Maulida memergoki kelakuan nek Syamsiyah yang menyebabkan hatinya jadi kurang ‘sreg’.

            Peristiwanya bakda Isya. Habis membaca Qur’an, bu Maulida iseng menengok keluar melalui jendela. Mula-mula hanya sepi dan gelap. Namun di antara kegelapan itu ia melihat seseorang berdiri di bawah pohon mangganya. Atau lebih tepatnya di bawah dahan pohon mangga yang menjulur ke halaman rumah nek Syamsiyah.

            Karena cukup terang, jadi bu Maulida segera tahu kalau sosok itu adalah nek Syamsiyah yang baru pulang dari mushola. Dan yang dilakukan nenek tua yang masih mengenakan mukena itu adalah menghitungi buah Mangga yang bergelantungan di atasnya.

            Bu Maulida sempat berpikir untuk apa tetangganya itu melakukan hal tersebut. Tapi karena nek Syamsiyah kerjaannya adalah jualan mangga, ia segera paham. Mungkin nek Syamsiyah naksir akan mangga-mangganya.

            Waktu diceritakan kepada suaminya, suaminya juga tertawa.

            “Mungkin nek Syamsiyah mau ngeborong mangga kita, Ma.”

            “Seharusnya ia terang-terangan saja ngomong sama kita. Jangan sembunyi-sembunyi seperti itu. Nggak pantes.” Bu Maulida jadi agak ketus.

            “Sama tetangga jangan seperti itu. Ya, mungkin dia mau ngomong itu malu karena belum ada duitnya. Bisa aja kan? Justeru seharusnya mamah yang harus duluan ngomong.”

            Bu Maulida diam saja. Tapi batinnya menimbang. Mungkin memang dirinya yang harus pro aktif menawarkan.

Pohon mangga itu sebenarnya jauh-jauh hari sudah ada yang menawar-nawar. Tapi bu Maulida masih menahannya. Sebab terkadang kalau ada kerabatnya yang datang dari luar kota, mangga-mangga ini bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

Lagi pula kesannya memang ‘kejam’ sekali. Tetangganya sendiri jualan mangga, ia justeru malah menjualnya ke orang lain yang tidak dikenalnya.

“Baiklah, mama kapan-kapan akan maen ke sana,” Kata bu Maulida.

Kata kapan-kapan itu hampir terlupakan karena kesibukan bu Maulida sendiri sebagai guru. Kalau pun ia masih teringat salah satu penyebabnya adalah nek Syamsiyah sendiri.

Perempuan itu makin rajin saja mengitungi buah-buah mangganya. Apalagi sekarang Arumanisnya sudah mulai banyak yang matang. Sebelum hal tersebut dilakukan, nek Syamsiyah biasanya akan celingukan dulu supaya tidak ada yang memergokinya.

Bu Maulida jadi sebal. Apalagi menurutnya nenek tua itu sedikit jual mahal. Kalau mereka kebetulan berpapasan atau mengobrol di pasar, nek Syamsiyah sekali pun sama sekali tidak pernah menyinggung-nyinggung soal mangganya.

Apa mungkin nek Syamsiyah sedang berpikir bahwa kelakuannya itu tidak ada yang memergoki, Kata bu Maulida dalam hati. Atau jangan-jangan nenek tua itu sedang punya rencana?

Suaminya mengusulkan agar yang sudah masak itu lebih baik cepat-cepat dipetik saja daripada nanti keduluan jatuh atau dimakan kelelawar.

“Mama kirimin deh nek Syamsiyah. Sambil omong-omong. Siapa tau dia memang ada niatan memborong mangga kita,” Suaminya setengah bercanda.

“Nanti kalau ada waktu mama kesana,” Kata Bu Maulida. ***



Waktu untuk berkunjung ke tetangga itu baru ada satu minggu kemudian. Sekitar jam limaan bu Maulida akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah nek Syamsiyah. Tidak lupa pesan suaminya untuk membagi beberapa mangganya dituruti.

 “Assalamualaikum,” Bu Maulida mengucap salam.

“Wa’alaikum salam,” Ada jawaban dari dalam rumah disusul daun pintu yang terbuat dari bilah papan itu berderit terbuka.

Nek Syamsiyah melongokan kepalanya. Ia agak terkejut waktu melihat yang ada di hadapannya adalah bu Maulida. Buru-buru ia mempersilahkannya masuk.

Sehelai tikar dihamparkan.

“Silahkan duduk, bu. Maap, rumahnya acak-acakan.” Nek Syamsiah tampak sedikit kemalu-maluan. Segelas air putih dihidangkannya. Si Sinta yang tadi terlihat sedang membaca buku menggelendot di pangkuan nek Syamsiyah setelah terlebih dulu disuruh menyalami gurunya.

“Sepertinya hari ini emak nggak dagang, ya?” Bu Maulida membuka obrolan.

“Mangganya lagi sulit, bu guru.”

“Tapi kan sekarang lagi musimnya?”

Pertanyaan itu menyebabkan nek Syamsiyah jadi sedikit bercerita soal seluk-beluk dagangnya. Bahwa tidak otomatis karena sedang musimnya, lantas mangga jadi mudah didapat olehnya.

Memang mangga berlimpah. Tapi semuanya sudah diborong oleh pedagang besar untuk di jual di kota. Biasanya nek Syamsiyah baru akan dilayani kalau ada mangga sisa itu juga yang kualitasnya rendah.

Bu Maulida iba juga mendengarnya. Tidak menyangka hanya jualan mangga sekedar untuk sesuap nasi saja si nenek tua ini harus berhadapan dengan para raksasa. Lantas ia angsurkan bungkusan plastik berisi mangga-mangganya.

“Ini buat emak. Kebetulan Arumanis saya sudah pada matang.”

Ditunggunya apakah nek syamsiyah akan mulai mengajukan tawaran. Tidak. Nek Syamsiyah menerima pemberiannya dengan ucapan terima kasih tiada henti. Sama sekali tidak ada pembicaraan soal pohon mangga bu Maulida.

Jadi bu Maulida sendiri yang mengambil inisiatif.

“Emak kan jualan mangga. Tertarik nggak sama mangga saya? Soal uangnya belakangan juga nggak apa-apa. Daripada saya jual ke orang lain? Kan lebih baik sama emak.”

Mata nek Syamsiyah berbinar. Sehingga bu Maulida menyimpulkan bahwa seperti inilah rupanya yang dikehendaki oleh tetangganya. Harus dia yang menawarinya terlebih dulu. Itu juga dengan cara utang.

Namun rangkaian kalimat yang meluncur dari mulut nek Syamsiyah sungguh di luar dugaan bu Maulida.

“Emak emang seneng ngeliat pohon mangga bu guru. Besar-besar. Apalagi yang masuk ke pekarangan rumah emak itu. Tiap malem emak hitungin terus. Yang nggak tau mah mungkin disangkanya emak mau ngeborong mangga bu guru. Padahal emak punya duit dari mana.

“Emak cuma takut mangga-mangga itu ada yang jatuh terus dimakan sama si Sinta. Berarti cucu emak itu udah makan makanan yang haram karena pohon mangga itu kan bukan punya emak. Padahal kata ibu sendiri di pengajian, daging yang tumbuh dari makanan yang haram itu bisa membuat anak bodoh dan kalau ninggal nggak akan masuk Surga. Saya takut si Sinta jadi seperti itu”.

Nek Syamsiyah terkekeh sendiri. Tak ada pretensi apa-apa dibalik apa yang sudah diungkapkannya tadi. Semacam rasa bangga atau riya.

Padahal yang diajaknya bicara tampak melongo.***

Tamat.

Cerpen memimpikan nabi




Laki-laki itu datang menemui kyai Soleh minggu sore di bulan Mulud. Kepalanya botak, badannya kurus kering dan penuh oleh bekas tato.
 “Kenalin, abah.Nama gue Ardan. Gue baru bebas dari penjara. Sekarang gue mau tobat. Tapi sebelum tobat gue ingin mimpi ketemu sama nabi dulu. Gue denger katanya abah ini orang sakti. Jadi abah pasti bisa ngabulin permintaan gue.”
Termangu kyai Soleh.
Dunia rupanya kian aneh. Seorang bergajul pun masih sempat-sempatnya punya keinginan untuk bertemu dengan kangjeng nabi. Untuk maksud apakah Tuhan mengirimkan laki-laki ini kepadanya?
 “Kenapa ujang ingin mimpi ketemu sama nabi? Dan nabi siapa yang ingin ujang mimpikan? Nabi itu banyak, jang.Bukan hanya satu.” Kata kyai Soleh.
“Jelas yang gue maksud nabi Muhammad. Masa nabi Adam. Tapi soal kenapa gue ingin mimpi ketemu nabi itu urusan gue. Tugas abah adalah ngebantu gue.”
Kyai Soleh mengurut dada. Percuma bicara banyak dengan laki-laki ini.
“Baiklah, jang. Abah akan membantu sebisa abah. Tapi berhasil tidaknya gusti Allah yang menentukan. Abah hanya bisa ngasih jalannya.”
“Gimana jalannya, bah?”
“Banyak-banyaklah membaca shalawat setiap malam.”
“Cuma gitu aja, bah.”
“Iya.”
“Sambil puasa?”
“Kalau mau puasa senen-kemis.”
“Nggak mutih atau mati geni?”
“Nggak.”
Ardan melongo. Tadinya ia mengira karena yang mau dimimpikannya nabi, pasti syaratnya berat. Ternyata sangat gampang.
Ardan lalu menyanggupi dan mengatakan malam ini juga akan langsung melaksanakan petunjuk abah Soleh.
Kyai Soleh mengangguk dan memberinya tempat di langgar tempat dirinya biasa shalat berjamaah dan mengajar ngaji anak-anak.
          Dengan berbekal seuntai tasbih, Ardan memulai perjuangannya. Ia menargetkan dalam satu malam harus sanggup membaca shalawat sebanyak seribu kali.
          Ardan sebenarnya jago begadang. Kalau sedang main kartu matanya sanggup melotot sampai pagi. Namun hal itu ternyata tidak berlaku ketika diajak wiridan. Baru juga beberapa puluh menit Ardan duduk bersila, kantuk yang luar biasa sudah menyergap matanya.
          Sekuat daya Ardan berusaha menahannya walau untuk itu dia harus bolak-balik cuci muka ke sumur. Bacaan shalawat sebanyak seribu kali itu diselesaikannya dalam waktu hampir dua jam.
          Ketika selesai Ardan benar-benar lega. Dia langsung menggelosoh tidur di pojok Langgar. Malam itu Ardan tidak mimpi apa-apa.
          Ardan masih bersikap tenang.
          Malam kedua wiridnya diulang lagi. Dicobanya lebih khusyu. Kali ini ada kemajuannya. Matanya kuat diajak melotot hingga wiridnya selesai.
          Begitu beres, Ardan langsung tidur. Kali ini dia mulai berharap.  Mudah-mudahan nabi datang dalam mimpinya. Tapi malam itu pun sama saja. Ardan tak mimpi apa pun.
          Ardan masih sabar. Mungkin Tuhan sedang mengujinya. Bukankah setiap cita-cita ada rintangannya?
          Jadi pada malam ketiga semangat Ardan masih belum kendur. Bedanya, kali ini hatinya mulai dipenuhi harap. Akankah kangjeng nabi datang dalam mimpinya? Bagaimana kalau nabi masih ogah juga? Sia-sia saja pengorbanannya setiap malam begadang. Lalu guru mana lagi yang harus dia cari? Ah, tapi siapa tahu kyai Soleh masih memiliki ilmu pamungkas.
          Ardan wiridan dengan hati dipenuhi keraguan dan pertanyaan. Hatinya tidak lagi fokus kepada apa yang dibacanya. Tahu-tahu selesai saja.
          Seperti yang sudah-sudah. Ardan memilih langsung memejamkan mata. Dan harapannya terkabul. Karena hatinya digoyang keraguan, malam itu berlalu tanpa impian secuil pun.
          Hati Ardan langsung pecah. Kenapa usahanya ini berujung nihil? Mulutnya sampai berbusa membaca ribuan shalawat. Tapi kemana nabi yang sedang diburunya itu?
Sepertinya kyai Soleh sudah mengerjainya. Akan dia satroni tua bangka sialan itu.
Kyai Soleh kebetulan sedang ada di rumah waktu Ardan datang. Ardan langsung menyemprotnya.
“Gue udah cape-cape wirid, bah. Udah ribuan shalawat yang gue baca. Tapi kenapa nabi nggak dateng-dateng juga? Abah pasti udah ngebohongin gue. Kalo abah nggak becus bilang aja. Gue kan bisa nyari ustad laen.”
Dimarahi seperti itu kyai Soleh tetap tenang.
“Sabar, jang Ardan. Kan baru juga tiga hari..”
“Alah, gue nggak percaya. Emangnya perlu berapa hari lagi, bah?!”
“Terus abah harus gimana?”
“Abah harus serius ngebantu gue. Gue minta ilmu rahasia abah.”
Geli kyai Soleh mendengar omongan Ardan soal ilmu rahasia.
“Abah nggak punya ilmu rahasia apa-apa, Jang. Abah bisanya cuma baca Qur’an sama ngajar ngaji.”
Aah, abah pasti bohong. Inget, Bah. Dosa kalo punya ilmu nggak diamalin.”
Makin geli kyai Soleh mendengarnya. 
“Baiklah, Jang, kalau maumu begitu. Abah akan memberikan ilmu rahasia itu. Tapi sebelum ilmu itu abah turunkan, jang Ardan harus terbuka dulu. Sebab apa jang Ardan ingin mimpi ketemu sama kanjeng Nabi? Ingat, segala sesuatu itu harus ada alasannya, kalau alasannya ternyata hanya main-main, maka abah tidak akan mau membantumu. Bisa-bisa abah juga ikut kebagian dosanya.”
Mulut Ardan mengunci rapat. Pikirannya keras menimbang. Banyak sudah kyai atau ustad yang ditemuinya. Tapi mereka semua langsung mengusirnya begitu dia menceritakan sabab musababnya, kenapa dirinya ingin bisa memimpikan Nabi. Sekarang kyai Soleh menuntut hal yang sama. Akankah nasib jeleknya terulang lagi?
Ardan memutuskan akan terbuka saja kepada kyai Soleh. Setelah itu, kalau  ternyata nasib yang dialaminya kembali sama, dia akan menyerah saja. Mungkin memang bajingan seperti dirinya tidak pantas untuk bertobat.
“Gue udah ngebunuh ibu gue sendiri, Bah.”***

Selain hobi main judi, Ardan juga seorang pemabok ulung. Suatu saat, dalam keadaan mabok berat, dia meminta duit kepada ibunya untuk modal berjudi. Sang ibu yang hidup dalam kemelaratan, kebetulan sedang tidak memiliki uang sepeserpun. Tapi penjelasannya tidak diterima Ardan.
Ardan mengamuk. Menyerang ibunya  hingga sang ibu meninggal.
“Dosa gue terlalu besar, Bah. Gue baru yakin tobat gue diterima gusti Allah kalau udah bisa mimpi ketemu sama Nabi. Sebab, katanya kalau udah bisa mimpiin Nabi, minta apapun akan dikabulin.”
Berubah merah wajah kyai Soleh mendengar cerita Ardan. Hatinya bergolak. Setan atau manusiakah yang ada di hadapannya? Ingin ia mengusirnya detik ini juga. Tapi hatinya segera beristighfar. Sekotor apapun manusia, manakala dia sudah berniat untuk taubat, maka wajib untuk dibantunya.
“Jang Ardan, ini bantuan abah yang terakhir, Kalau ternyata ujang masih belum bisa juga memimpikan kanjeng Nabi, ya abah nyerah dan ujang harus bisa menerimanya. Pasti ada hikmah di balik itu semua. Tunggu sebentar.”
Kyai Soleh masuk dulu ke dapur. Keluar lagi membawa sebuah bungkusan yang langsung diberikannya kepada Ardan.
“Nanti malam, selesai wiridan, jang Ardan harus menghabiskan semua makanan ini. Tapi ingat, apapun yang terjadi jang Ardan tidak boleh minum walau seteguk pun. Atau jang Ardan akan gagal.”
Ardan gembira karena ternyata kyai Soleh tidak mengusirnya. Jadi permintaan kyai Soleh itu tanpa banyak cakap langsung disanggupinya.
Tadinya Ardan mengira bahwa apa yang ada dalam bungkusan itu sesuatu yang istimewa. Semacam jimat atau benda bertuah. Sama sekali tidak disangka kalau isi bungkusan itu ternyata hanya setumpuk ikan asin matang.
Ardan termangu. Buat apa kyai Soleh memberinya ikan asin? Rasanya tidak masuk akal. Mana mungkin Nabi akan menemuinya gara-gara dirinya memakan ikan asin? Kyai Soleh sepertinya sudah linglung. Tapi setelah dipikir secara mendalam, Ardan menyimpulkan tidak mungkin kyai Soleh mempermainkannya. Ikan asin ini pastilah ikan asin yang sudah dijampi-jampi.
Ardan jadi semangat lagi. Maka, tanpa pikir panjang onggokan ikan asin itu langsung disikatnya. Asin memang. Tapi ditahannya. Ardan benar-benar ingin bisa mimpi ketemu sama Nabi malam ini juga.
Ardan tidak mengetahui kalau ikan asin membuat orang gampang kehausan. Dan itulah yang terjadi. Tandas ikan asin itu dilahapnya, tenggorokannya langsung serasa tercekik. Perutnya panas. Rasa haus yang amat sangat menyerangnya.
Ardan ingin minum. Namun ia teringat akan petuah kyai Soleh supaya apapun yang terjadi, dirinya tidak boleh minum. Atau kanjeng Nabi tidak akan menemuinya.
Maka rasa haus itu sekuat daya ditahannya. Namun makin lama, daripada berkurang,  rasa haus itu malah makin menjadi. Sekujur badannya basah oleh keringat yang makin membanjir.
Akhirnya Ardan tidak lagi berpikir soal Nabi. Dia ingin minum. Bagaimanapun caranya dia harus menemukan air. Ditujunya pintu. Ternyata sudah terkunci. Entah ada di mana kuncinya? Jangan-jangan kyai Soleh sendiri yang sudah mengunci dirinya. Ardan mencoba berteriak. Tak ada suara yang keluar. Kecuali erangan serak saja.
Digedornya pintu mushola. Hanya sepi. Menyadari usahanya sia-sia, Ardan pasrah. Tubuhnya menggeletak tanpa daya. Perlahan sepasang matanya menutup. Entah tidur entah pingsan. Yang jelas kesadaran Ardan lenyap. 
Malam yang merayap menjadi saksi dari seorang laki-laki yang gelisah mencari Nabi-nya. Dalam ketiadaan daya seperti itulah Ardan tiba-tiba bermimpi. Seorang laki-laki tua bercahaya muncul. Sambil tersenyum teduh, laki-laki itu menyodorkan segelas air kepada Ardan. Ardan menerima dan langsung meminumnya.
Habis air itu diminum, terjaga pula Ardan dari tidurnya. Ajaib, rasa haus yang tadi menderanya sekarang lenyap. Benar-benar sirna. Tubuhnya terasa segar. Rasa sejuk air itu bahkan masih terasa seakan yang dialaminya adalah pengalaman nyata, bukan di alam mimpi.
Ardan termangu memikirkannya. 
Subuh pun menjelang.
Diam-diam, untuk pertama kali semenjak dirinya menjadi tamu kyai Soleh, Ardan ikut berjamaah shalat Subuh. Ditunggunya hingga kyai Soleh menyelesaikan wiridannya. 
Kyai Soleh terkejut mengetahui keberadaannya.
“Ada apa, nak Ardan?”
“Saya sudah menjalankan perintah abah. Saya habiskan semua ikan asin itu."
“Lalu?”
“Saya kira abah tau, ikan asin akan membuat orang gampang kehausan. Saya pun begitu. Rasanya saya hampir mati, Abah. Tapi saya tahan hingga akhirnya saya tertidur. Dalam tidur itulah saya bermimpi.”
“Ketemu sama kanjeng Nabi?”
“Bukan, bukan kanjeng Nabi yang datang dalam mimpi saya. Melainkan abah. Dalam mimpi itu, abah memberikan segelas air pada saya. Aneh, begitu air itu saya minum ternyata haus langsung hilang. Kenapa bisa begitu, Abah? Kenapa malah abah yang datang ke dalam mimpi saya? Kenapa bukan kanjeng Nabi?” 
Kyai Soleh merenung sesaat.
“Seperti itulah yang terjadi, nak Ardan. Kalau rasa cintamu kepada kanjeng Nabi sama seperti rasa cintamu kepada segelas air itu, maka kamu pasti akan bisa memimpikan beliau.”
“Banyak orang yang ingin bisa memimpikan kanjeng Nabi yang agung itu. Namun sayangnya kita tidak punya rasa cinta yang cukup kepada beliau. Kita lebih mencintai dunia daripada kanjeng Nabi. Maka mana mungkin seorang kekasih akan datang kepada orang yang tidak mencintainya. Mustahil, bukan? Jadi saran abah, nak Ardan, kalau kamu ingin bertobat, bertobat sajalah. Allah pasti menerima taubatmu meskipun kamu tidak bisa memimpikan Nabi.”
Ardan  tercenung. Perkataan kyai Soleh seperti tetes embun sejuk yang meresap ke dalam jiwanya. Menghijaukan kembali ‘padang’ yang gersang itu. *** Di muat di majalah Annida.