Laki-laki itu datang menemui kyai Soleh minggu sore di bulan
Mulud. Kepalanya botak, badannya kurus kering dan penuh oleh bekas tato.
“Kenalin, abah.Nama gue Ardan. Gue baru bebas
dari penjara. Sekarang gue mau tobat. Tapi sebelum tobat gue ingin mimpi ketemu
sama nabi dulu. Gue denger katanya abah ini orang sakti. Jadi abah pasti bisa
ngabulin permintaan gue.”
Termangu kyai Soleh.
Dunia rupanya kian aneh.
Seorang bergajul pun masih sempat-sempatnya punya keinginan untuk bertemu
dengan kangjeng nabi. Untuk maksud apakah Tuhan mengirimkan laki-laki ini
kepadanya?
“Kenapa ujang ingin mimpi ketemu sama nabi?
Dan nabi siapa yang ingin ujang mimpikan? Nabi itu banyak, jang.Bukan hanya
satu.” Kata kyai Soleh.
“Jelas yang gue maksud nabi
Muhammad. Masa nabi Adam. Tapi soal kenapa gue ingin mimpi ketemu nabi itu
urusan gue. Tugas abah adalah ngebantu gue.”
Kyai Soleh mengurut dada.
Percuma bicara banyak dengan laki-laki ini.
“Baiklah, jang. Abah akan
membantu sebisa abah. Tapi berhasil tidaknya gusti Allah yang menentukan. Abah
hanya bisa ngasih jalannya.”
“Gimana jalannya, bah?”
“Banyak-banyaklah membaca
shalawat setiap malam.”
“Cuma gitu aja, bah.”
“Iya.”
“Sambil puasa?”
“Kalau mau puasa
senen-kemis.”
“Nggak mutih atau mati
geni?”
“Nggak.”
Ardan melongo. Tadinya ia
mengira karena yang mau dimimpikannya nabi, pasti syaratnya berat. Ternyata
sangat gampang.
Ardan lalu menyanggupi dan
mengatakan malam ini juga akan langsung melaksanakan petunjuk abah Soleh.
Kyai Soleh mengangguk dan
memberinya tempat di langgar tempat dirinya biasa shalat berjamaah dan mengajar
ngaji anak-anak.
Dengan berbekal seuntai tasbih, Ardan
memulai perjuangannya. Ia menargetkan dalam satu malam harus sanggup membaca
shalawat sebanyak seribu kali.
Ardan
sebenarnya jago begadang. Kalau sedang main kartu matanya sanggup melotot
sampai pagi. Namun hal itu ternyata tidak berlaku ketika diajak wiridan. Baru
juga beberapa puluh menit Ardan duduk bersila, kantuk yang luar biasa sudah
menyergap matanya.
Sekuat
daya Ardan berusaha menahannya walau untuk itu dia harus bolak-balik cuci muka
ke sumur. Bacaan shalawat sebanyak seribu kali itu diselesaikannya dalam waktu
hampir dua jam.
Ketika
selesai Ardan benar-benar lega. Dia langsung menggelosoh tidur di pojok
Langgar. Malam itu Ardan tidak mimpi apa-apa.
Ardan
masih bersikap tenang.
Malam
kedua wiridnya diulang lagi. Dicobanya lebih khusyu. Kali ini ada kemajuannya.
Matanya kuat diajak melotot hingga wiridnya selesai.
Begitu
beres, Ardan langsung tidur. Kali ini dia mulai berharap. Mudah-mudahan nabi datang dalam mimpinya. Tapi
malam itu pun sama saja. Ardan tak mimpi apa pun.
Ardan
masih sabar. Mungkin Tuhan sedang mengujinya. Bukankah setiap cita-cita ada
rintangannya?
Jadi
pada malam ketiga semangat Ardan masih belum kendur. Bedanya, kali ini hatinya
mulai dipenuhi harap. Akankah kangjeng nabi datang dalam mimpinya? Bagaimana
kalau nabi masih ogah juga? Sia-sia saja pengorbanannya setiap malam begadang.
Lalu guru mana lagi yang harus dia cari? Ah, tapi siapa tahu kyai Soleh masih
memiliki ilmu pamungkas.
Ardan
wiridan dengan hati dipenuhi keraguan dan pertanyaan. Hatinya tidak lagi fokus
kepada apa yang dibacanya. Tahu-tahu selesai saja.
Seperti
yang sudah-sudah. Ardan memilih langsung memejamkan mata. Dan harapannya
terkabul. Karena hatinya digoyang keraguan, malam itu berlalu tanpa impian
secuil pun.
Hati
Ardan langsung pecah. Kenapa usahanya ini berujung nihil? Mulutnya sampai
berbusa membaca ribuan shalawat. Tapi kemana nabi yang sedang diburunya itu?
Sepertinya kyai Soleh sudah
mengerjainya. Akan dia satroni tua bangka sialan itu.
Kyai Soleh kebetulan sedang
ada di rumah waktu Ardan datang. Ardan langsung menyemprotnya.
“Gue udah cape-cape wirid,
bah. Udah ribuan shalawat yang gue baca. Tapi kenapa nabi nggak dateng-dateng
juga? Abah pasti udah ngebohongin gue. Kalo abah nggak becus bilang aja. Gue
kan bisa nyari ustad laen.”
Dimarahi seperti itu kyai
Soleh tetap tenang.
“Sabar, jang Ardan. Kan baru
juga tiga hari..”
“Alah, gue nggak percaya.
Emangnya perlu berapa hari lagi, bah?!”
“Terus abah harus gimana?”
“Abah harus serius ngebantu
gue. Gue minta ilmu rahasia abah.”
Geli kyai Soleh mendengar
omongan Ardan soal ilmu rahasia.
“Abah
nggak punya ilmu rahasia apa-apa, Jang. Abah bisanya cuma baca Qur’an sama
ngajar ngaji.”
Aah,
abah pasti bohong. Inget, Bah. Dosa kalo punya ilmu nggak diamalin.”
Makin
geli kyai Soleh mendengarnya.
“Baiklah,
Jang, kalau maumu begitu. Abah akan memberikan ilmu rahasia itu. Tapi sebelum
ilmu itu abah turunkan, jang Ardan harus terbuka dulu. Sebab apa jang Ardan
ingin mimpi ketemu sama kanjeng Nabi? Ingat, segala sesuatu itu harus ada
alasannya, kalau alasannya ternyata hanya main-main, maka abah tidak akan mau
membantumu. Bisa-bisa abah juga ikut kebagian dosanya.”
Mulut Ardan mengunci rapat. Pikirannya keras menimbang. Banyak sudah kyai atau
ustad yang ditemuinya. Tapi mereka semua langsung mengusirnya begitu dia
menceritakan sabab musababnya, kenapa dirinya ingin bisa memimpikan Nabi.
Sekarang kyai Soleh menuntut hal yang sama. Akankah nasib jeleknya terulang
lagi?
Ardan
memutuskan akan terbuka saja kepada kyai Soleh. Setelah itu, kalau
ternyata nasib yang dialaminya kembali sama, dia akan menyerah saja.
Mungkin memang bajingan seperti dirinya tidak pantas untuk bertobat.
“Gue
udah ngebunuh ibu gue sendiri, Bah.”***
Selain
hobi main judi, Ardan juga seorang pemabok ulung. Suatu saat, dalam keadaan
mabok berat, dia meminta duit kepada ibunya untuk modal berjudi. Sang ibu yang
hidup dalam kemelaratan, kebetulan sedang tidak memiliki uang sepeserpun. Tapi
penjelasannya tidak diterima Ardan.
Ardan
mengamuk. Menyerang ibunya hingga sang ibu meninggal.
“Dosa
gue terlalu besar, Bah. Gue baru yakin tobat gue diterima gusti Allah kalau
udah bisa mimpi ketemu sama Nabi. Sebab, katanya kalau udah bisa mimpiin Nabi,
minta apapun akan dikabulin.”
Berubah merah wajah kyai Soleh mendengar cerita Ardan. Hatinya bergolak. Setan atau manusiakah yang ada di
hadapannya? Ingin ia mengusirnya detik ini juga. Tapi hatinya segera
beristighfar. Sekotor apapun manusia, manakala dia sudah berniat untuk taubat,
maka wajib untuk dibantunya.
“Jang
Ardan, ini bantuan abah yang terakhir, Kalau ternyata ujang masih belum bisa
juga memimpikan kanjeng Nabi, ya abah nyerah dan ujang harus bisa menerimanya.
Pasti ada hikmah di balik itu semua. Tunggu sebentar.”
Kyai
Soleh masuk dulu ke dapur. Keluar lagi membawa sebuah bungkusan yang langsung
diberikannya kepada Ardan.
“Nanti
malam, selesai wiridan, jang Ardan harus menghabiskan semua makanan ini. Tapi
ingat, apapun yang terjadi jang Ardan tidak boleh minum walau seteguk pun. Atau
jang Ardan akan gagal.”
Ardan gembira karena ternyata kyai Soleh tidak mengusirnya. Jadi
permintaan kyai Soleh itu tanpa banyak cakap langsung disanggupinya.
Tadinya
Ardan mengira bahwa apa yang ada dalam bungkusan itu sesuatu yang istimewa.
Semacam jimat atau benda bertuah. Sama sekali tidak disangka kalau isi
bungkusan itu ternyata hanya setumpuk ikan asin matang.
Ardan
termangu. Buat apa kyai Soleh memberinya ikan asin? Rasanya tidak masuk akal.
Mana mungkin Nabi akan menemuinya gara-gara dirinya memakan ikan asin? Kyai
Soleh sepertinya sudah linglung. Tapi setelah dipikir secara mendalam, Ardan
menyimpulkan tidak mungkin kyai Soleh mempermainkannya. Ikan asin ini pastilah
ikan asin yang sudah dijampi-jampi.
Ardan
jadi semangat lagi. Maka, tanpa pikir panjang onggokan ikan asin itu langsung
disikatnya. Asin memang. Tapi ditahannya. Ardan benar-benar ingin bisa mimpi
ketemu sama Nabi malam ini juga.
Ardan
tidak mengetahui kalau ikan asin membuat orang gampang kehausan. Dan itulah
yang terjadi. Tandas ikan asin itu dilahapnya, tenggorokannya langsung serasa
tercekik. Perutnya panas. Rasa haus yang amat sangat menyerangnya.
Ardan
ingin minum. Namun ia teringat akan petuah kyai Soleh supaya apapun yang
terjadi, dirinya tidak boleh minum. Atau kanjeng Nabi tidak akan menemuinya.
Maka
rasa haus itu sekuat daya ditahannya. Namun makin lama, daripada berkurang,
rasa haus itu malah makin menjadi. Sekujur badannya basah oleh keringat
yang makin membanjir.
Akhirnya
Ardan tidak lagi berpikir soal Nabi. Dia ingin minum. Bagaimanapun caranya dia
harus menemukan air. Ditujunya pintu. Ternyata sudah terkunci. Entah ada di
mana kuncinya? Jangan-jangan kyai Soleh sendiri yang sudah mengunci dirinya.
Ardan mencoba berteriak. Tak ada suara yang keluar. Kecuali erangan serak saja.
Digedornya
pintu mushola. Hanya sepi. Menyadari usahanya sia-sia,
Ardan pasrah. Tubuhnya menggeletak tanpa daya.
Perlahan sepasang matanya menutup. Entah tidur entah pingsan. Yang jelas
kesadaran Ardan lenyap.
Malam
yang merayap menjadi saksi dari seorang laki-laki yang gelisah mencari Nabi-nya. Dalam ketiadaan daya seperti itulah Ardan
tiba-tiba bermimpi. Seorang laki-laki tua bercahaya muncul. Sambil tersenyum
teduh, laki-laki itu menyodorkan segelas air kepada Ardan. Ardan menerima dan
langsung meminumnya.
Habis
air itu diminum, terjaga pula Ardan dari tidurnya. Ajaib, rasa haus yang tadi
menderanya sekarang lenyap. Benar-benar sirna. Tubuhnya terasa segar. Rasa
sejuk air itu bahkan masih terasa seakan yang dialaminya adalah pengalaman
nyata, bukan di alam mimpi.
Ardan
termangu memikirkannya.
Subuh pun menjelang.
Diam-diam,
untuk pertama kali semenjak dirinya menjadi tamu kyai Soleh, Ardan ikut berjamaah
shalat Subuh. Ditunggunya hingga kyai Soleh menyelesaikan
wiridannya.
Kyai
Soleh terkejut mengetahui keberadaannya.
“Ada
apa, nak Ardan?”
“Saya
sudah menjalankan perintah abah. Saya habiskan semua ikan asin itu."
“Lalu?”
“Saya
kira abah tau, ikan asin akan membuat orang gampang kehausan. Saya pun begitu.
Rasanya saya hampir mati, Abah. Tapi saya tahan hingga akhirnya saya tertidur.
Dalam tidur itulah saya bermimpi.”
“Ketemu
sama kanjeng Nabi?”
“Bukan,
bukan kanjeng Nabi yang datang dalam mimpi saya. Melainkan abah. Dalam mimpi
itu, abah memberikan segelas air pada saya. Aneh, begitu air itu saya minum
ternyata haus langsung hilang. Kenapa bisa begitu, Abah? Kenapa malah abah yang
datang ke dalam mimpi saya? Kenapa bukan kanjeng Nabi?”
Kyai
Soleh merenung sesaat.
“Seperti
itulah yang terjadi, nak Ardan. Kalau rasa cintamu kepada kanjeng Nabi sama
seperti rasa cintamu kepada segelas air itu, maka kamu pasti akan bisa
memimpikan beliau.”
“Banyak
orang yang ingin bisa memimpikan kanjeng Nabi yang agung itu. Namun sayangnya
kita tidak punya rasa cinta yang cukup kepada beliau. Kita lebih mencintai
dunia daripada kanjeng Nabi. Maka mana mungkin seorang kekasih akan datang
kepada orang yang tidak mencintainya. Mustahil, bukan? Jadi saran abah, nak
Ardan, kalau kamu ingin bertobat, bertobat sajalah. Allah pasti menerima
taubatmu meskipun kamu tidak bisa memimpikan Nabi.”
Ardan tercenung. Perkataan kyai Soleh seperti tetes
embun sejuk yang meresap ke dalam jiwanya. Menghijaukan kembali ‘padang’ yang
gersang itu. *** Di muat di majalah Annida.