Senin, 02 Mei 2016

cerpen pertarungan




            Jalan berbatu menuju Beringin tua di puncak bukit Tegal Koneng malam itu hanya diterangi sinar bulan yang kuning pucat.

            Ahmad sendirian menuju ke sana. Selembar kain sarung melilit di lehernya untuk menahan hawa dingin yang mengalir dari puncak bukit. Satu jeliken minyak tanah menggelantung di tangannya. ***


“Itu Beringin keramat tempat orang nyari berkah, ustad. Siapa saja yang berdoa disana sambil membawa sajen pasti akan dikabulkan.” Ini cerita si abah yang menjadi tetangga Ahmad

 “Abah kata siapa?”

            “Mbah Tunggul. Kuncen di sana  yang ngomong. “

“Abah percaya?”

“Tentu saja, ustad. Udah banyak buktinya. Ada yang kaya mendadak, yang penyakitnya sembuh, yang dapet jodoh. Pokoknya banyaklah.”

Ahmad diam. Terjawab sudah keheranannya kenapa setiap malam Jum’at banyak orang kampung pergi kesana. ***



Mulanya Beringin itu hanya tempat bocah angon bermain dan menghindarkan diri dari terik matahari. Lalu seorang warga desa yang sudah lama sakit mendadak sembuh setelah dibawa ke sana atas petunjuk seorang dukun asalkan datangnya membawa sesajen.

Cerita itu lantas menyebar dari mulut ke mulut. Menggelitik rasa penasaran bagi yang mendengarnya. Berbondong-bondong orang datang. Dan ternyata sang Beringin membuktikan ‘kesaktiannya’. Cita-cita setiap pemujanya ditunaikannya tanpa harus berbelit dan melewati waktu yang lama. Sebagai tanda terima kasih, dikeramatkanlah si Beringin yang hanya terdiri dari batang kayu dan kumpulan dedaunan itu. Karena Beringin inilah banyak hajat kesampaian. Itu yang menjadi anggapan mereka. ***

             Sebenarnya Ahmad baru sebulan pulang kampung setelah lima tahun masantren. Tapi perilaku musyrik orang kampung tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Malam ini juga harus diakhirinya.

Bukit Tegal Koneng menghamparkan sepi waktu Ahmad menginjakan kaki di puncaknya. Tampak Beringin tua itu seperti gundukan jamur raksasa. Besarnya mungkin ada sepelukan tiga orang dewasa. Akarnya bertonjolan dari dalam tanah. Sulur-sulurnya berjuntaian di sepanjang dahannya. Di atasnya, di langit yang gelap ratusan Kelelawar beterbangan tak tentu arah.

Sebentar lagi binatang-binatang nokturnal itu akan menyaksikan Beringin ini dipenuhi nyala api. Mereka akan sama gegernya seperti orang-orang kampung di bawah sana. Yang komplotan hewan kehilangan rumah tinggal. Sementara yang komplotan manusia kehilangan setan yang mereka anggap sebagai dewa penolong.

Ahmad buka tutup jeliken minyak tanahnya. Bau minyak tanah samar-samar menyambar hidung. Mula-mula akar Beringin yang ia siram. Lalu naik ke batangnya. Terus ia kelilingkan hingga mencapai pertengahan.

Setelah dirasanya cukup, korek dikeluarkan.

 Disulut.

Lidah api memercik menjilat udara.

Sekejap terang.

Namun benar-benar hanya sekejap.

Jduk !

Ada yang memukul tangan Ahmad hingga korek yang dipegangnya terpental dan padam.

            Ahmad kaget. Ketika berbalik, di hadapannya berdiri sosok laki-laki tinggi kurus berkepala botak.

            “Siapa kau, dan mau apa disini?” Laki-laki itu bertanya.

            “Abah sendiri siapa? Apa abah yang namanya mbah Tunggul kuncen disini?”

            “Ya. Aku memang mbah Tunggul. Kau mau apa?”

            “Aku mau membakar pohon ini, abah. Karena pohon ini sudah menjadi sumber kesyirikan orang-orang.”

             Cuih !

 Mbah Tunggul meludah.

 “Datang-datang langsung ngomong syirik. Maksudmu apa? Apa kamu bicara soal orang-orang yang tiap malem jum’at datang kesini? Ketahuilah bocah, mereka itu kesini hanya untuk berdoa. Bukan mau syirik-syirikan. Apa doa harus selalu di dalem mesjid? Pikir dulu kalau ngomong. Dasar bocah kemaren sore?!”

“Doa memang boleh dimana saja. Tapi sama siapa dulu doanya, abah? Dan kenapa harus pake sesajen segala? Itu bertentangan dengan ajaran Islam karena sama dengan bentuk ketundukan kepada selain Allah. Haram hukumnya.”

“Heh, bocah, jangan salah paham. Sesajen itu cuma untuk melestarikan adat istiadat peninggalan leluhur kita supaya tidak sampai punah. Bukan mau menduakan Tuhan. Pikiranmu sungguh picik. Sudahlah, aku tau kau seorang ustad. Lebih baik pulang sana, tidur atau urus pengajianmu. Jangan ikut campur urusan orang tua. Urusan agama adalah napsi-napsi.”

            “Abah salah. Budaya adalah buatan manusia yang penuh dengan hawa napsu. Sedang agama adalah wahyu Ilahi yang suci, Keduanya tidak boleh dicampuradukan. Dalam Islam tidak ada istilah napsi-napsi. Shalat harus berjamaah, orang kaya harus jakat atau sedekah kepada orang miskin, dan kalau melihat kemunkaran harus diberantas. Kalau tidak dengan tangan, gunakan lisan, tidak bisa lisan dengan hati. Ngerti, abah?”

            “Kurang ajar !!! Kamu mau mengguruiku, hah?!?!!” Amarah mbah Tunggul meledak. Tiba-tiba ia  menerjang Ahmad.

            Ahmad meladeni. Di pesantren ia pernah belajar pencak silat. Jadi serangan mbah Tunggul bisa diimbanginya.

Mereka saling pukul dan saling tangkis.

Puncak bukit menjadi gaduh.

Bulan mengintip dari balik awan.

Lama kelamaan mbah Tunggul tidak bisa lagi meladeni serangan Ahmad. Lawannya itu masih muda. Tenaga melimpah ruah. Sementara dirinya tinggal tulang berbalut sedikit daging serta tenaga. Mbah Tunggul akhirnya memilih untuk menyerah.

“Aku minta ampun, ustadz. Aku mengaku kalah. Kau memang hebat.” Katanya.

            “Mohon ampun sama Allah, abah. Sekarang abah pulang. Pohon ini mau aku bakar.”

            Mbah Tunggul seolah mau berdiri. Yang sebenarnya otaknya sedang berpikir keras mencari siasat. Ia tidak rela kalau Beringin yang menjadi sumber rejekinya ini tumbang begitu saja.  

            “Maap, ustadz. Menurut abah, biarkan saja Beringin ini tumbuh apa adanya. Kalau ustadz membakar pohon ini berarti ustadz sudah merusak alam? Bukankah Islam melarang umatnya melakukan kerusakan di muka bumi? Menurut abah yang bodo, sumber kemusyrikan itu bukanlah Beringin ini. Melainkan hati orang-orang itu yang mudah digoyahkan imannya. Biar abah akan melarang mereka supaya jangan datang kesini lagi. Sayang kalau pohon sudah sebesar ini dibakar”.

            Sesaat Ahmad berpikir. Omongan itu ada benarnya juga.

            “Kau tidak akan bohong, abah?”  

            “Percayalah sama abah, ustadz. Abah kan sudah jadi taklukanmu. Bukan hanya tobat, abah juga akan mensodakohkan uang sumbangan jamaah yang selama ini abah kumpulkan untuk dibuat pengajian. Kalau abah ingkar kau boleh membawa orang-orang untuk menebang pohon ini dan mengusir abah.” Janji mbah Tunggul.

            Diam.

            Ahmad berpikir antara madharat dan manpaatnya membiarkan Beringin tua ini tetap ada. Akhirnya ia memutuskan untuk mempercayai mbah Tunggul. Malam itu sang Beringin tua masih berumur panjang. ***

Kuncen Tunggul menepati janjinya. Sejak kekalahannya tempo hari, ia telah melarang semua aktifitas ngalap berkah di bukit Tegal koneng. Bukit menjadi sepi dan tenang. Selain bocah angon dan piaraannya tidak kelihatan ada lagi yang berkeliaran di sana.

Lalu uang jamaah yang katanya akan disodakohkannya pun ditepatinya. Hanya saja uang-uang itu akan diserahkannya dalam tiga tahap setiap hari Jum’at. Sebab sebagian ia pinjamkan.

            Ahmad menerima saja. Yang penting kampungnya bebas dari kemusyrikan. Soal banyak yang membencinya karena tindakannya tersebut, Ahmad tidak ambil peduli. Ia tahu, mereka yang tidak puas itu adalah yang biasa berdagang di sana tiap musim ziarah tiba. Bahkan sampai ada yang mengancam akan melarang anak mereka ngaji di ustadz Ahmad.

             Ahmad hanya bisa mengusap dada. ***

 Benar, pada hari jum’at pertama, mbah Tunggul mengirimkan uang sodakoh pertamanya kepada Ahmad. Jumlahnya lumayan besar karena dalam hitungan puluhan juta. Sepertinya uang itu dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Sebagian ada yang hampir lecek.

Demikian pula pada Jum’at kedua. Namun kali ini jumlahnya tidak sebanyak yang pertama. Mbah Tunggul beralasan orang yang ia pinjami uang sedang kesulitan. Tidak mungkin ia memaksanya. Sebagai sesama orang kecil ia tau bagaimana susahnya mencari uang di jaman sekarang.

Ahmad hanya tersenyum kecil. Omongan mbah Tunggul seperti sengaja menyindirnya. Tanpa perlu bersusah-susah uang datang dengan sendirinya. Tetapi itu adalah konsekwensi dari sebuah janji. Seharusnya laki-laki itu berpikir dua kali sebelum mengucapnya.

Ahmad jadi penasaran. Berapa lagi sisa uang mbah Tunggul yang akan diberikan kepadanya Jum’at terakhir besok. Jadi dengan sengaja Ahmad menunggunya di rumah. Seharian tidak kemana-mana. Namun hingga matahari terbenam mbah Tunggul ternyata tidak kunjung menunjukan batang hidungnya.

Mungkin sakit, Ahmad membatin. Barangali besok.

Tetapi hari Sabtu pun berlalu tanpa kedatangan mbah Tunggul.

Ahmad mulai mencium gelagat tidak mengenakan. Kalau seperti ini caranya, terpaksa nanti malam ia akan naik lagi ke bukit Tegalkoneng. ***

Mbah tunggul tidak sedang sakit. Tidak juga sedang berhalangan. Bahkan malam itu ia sedang bersiap-siap. Di dalam gubuknya ia duduk bersila mengenakan baju pangsi serba hitam. Ustadz bau kencur itu malam ini pasti akan mendatanginya dan menanyakan kenapa dirinya tidak setor lagi.

Mbah tunggul akan menjawab dengan sebuah jawaban sinis. ‘Aku tidak mau memberimu lagi duit, ustad. Apa yang aku berikan sudah lebih dari cukup. Kalau mau duit usaha seperti orang-orang’.

Ustad Ahmad pasti marah. Ujung-ujungnya mereka akan bertarung lagi. Tapi mbah Tunggul tidak takut seperti pada pertarungan pertama mereka. Mungkin hanya dirinya yang tahu. Karena memiliki penglihatan waskita, mbah Tunggul melihat kalau malam itu ada kekuatan halus yang membantu Ahmad. Seperti malaikat.

Pantas kalau dirinya kalah. Menurut mbah Tunggul munculnya kekuatan itu pasti karena ketulusan niat Ahmad. Dia ingin menghancurkan kemaksiatan ini karena Allah. Bukan karena duniawi. Jadi Allah memberinya kekuatan.

Untuk menghadapi yang seperti itu tidak bisa dengan kekuatan otot. Harus otak. Jadi mbah Tunggul bersikap seperti dermawan yang begitu murah hati menyumbangkan semua hartanya.  Bukan harta yang halal. Melainkan harta haram hasil dari pemberian para memuja berhala berbentuk Beringin tua ini.

Kalau dalam darah ustadz tolol itu sudah mengalir harta yang haram, maka mudah sekali untuk menghancurkannya. Bahkan didiamkan pun akan binasa sendiri.

“Assalamua’laikum !”

Datang juga akhirnya.

Mbah Tunggul bangkit tanpa menjawab ucapan salam. Sebelum membuka pintu ia kencangkan dulu ikat pinggangnya. Lalu kakinya melangkah lebar. Pintu ia buka dengan cara menendangnya supaya mental lawannya jatuh.

Brak !

Tetapi mbah Tunggul sendiri justeru yang balik tersurut.

Di luar bukan hanya Ahmad seorang. Melainkan juga pak Lurah dan beberapa anak buahnya. Tergopoh-gopoh mbah Tunggul meminta maap. Kakinya kepleset, dia beralasan. Dipersilahkannya tamunya untuk duduk.

Ahmad langsung mengutarakan tujuan kedatangannya.

“Saya kira abah tahu apa tujuan saya datang ke sini. Benar abah, untuk mengambil setoran terakhir abah. Sebelumnya perlu saya jelaskan dulu tentang uang yang abah sumbangkan kepada saya. Sepeser pun saya tidak memakai uang itu. Semuanya saya serahkan kepada pak Lurah untuk membangun jalan desa. Ada pun sebagai timbal baliknya, pak Lurah menghibahkan lahan di bukit ini kepada saya untuk di bangun pesantren. Sementara sesuai perjanjian kita, bahwa kalau abah ingkar janji saya boleh membawa orang untuk mengusir abah. Jadi maap, abah. Karena abah sudah mengingkari kesepakatan kita soal penyerahan uang itu, abah terpaksa harus meninggalkan bukit ini.”

Selesai Ahmad berbicara, pak Lurah lalu menambahi.

“Benar abah semua yang dikatakan oleh ustadz Ahmad. Janji sebagai orang muslim dengan cara apa pun harus ditepati. Saya harap dalam hal ini abah maklum.”

Kepala mbah Tunggul terkulai. Dia kalah telak. ***  Tamat. Cicinde, Februari, 2016.


Senin, 04 April 2016

Kisah tukang nulis buku :


      Jk. Rowling si Penyihir

            Di artikel ini kita akan mengetahui 
perjuangan si Tukang Sihir, JK. Rowling pencipta Harry Potter,
yang sukses menyihir dunia.

Perjuangan si ibu ini memang tak mudah. 

Harry Potter baru bisa diterbitkan setelah ditolak puluhan kali oleh penerbit.


J.K Rowling Penulis Terkaya yang Sempat Menjadi Orang yang sangat Miskin. Saat ini pasti hampir semua orang tau Harry Potter, baik filmnya ataupun novelnya. Novel Harry Potter menjadi novel paling laris di dunia. J.K Rowling adalah penulis di balik novel tersebut. Ia telah menghasilkan miliaran dolar Amerika dari hasil karya-karyanya tersebut.


JK Rowling mampu menjelma menjadi seorang penulis paling kaya di Inggris, dan bahkan dunia.Tapi siapa sangka, ibu tiga anak ini memulai semuanya dari nol. Bahkan ia sempat mendapat santunan dari pemerintah Inggris karena masuk dalam kategori sebagai orang miskin yang layak mendapat santunan. J.K Rowling lahir dari pasangan Peter dan Anne pada 31 Juli 1965. J.K Rowling memang gemar menulis sejak kecil. Bahkan, di usianya yang baru menginjak enam tahun, ia sudah menelurkan kisah berjudul ―Rabbi. J.K Rowling terus melanjutkan kebiasaannya menulis.


Suatu ketika, saat ia melakukan perjalanan di kereta dari Manchester ke London, ia mendapat ide menulis. Saat itu tiba-tiba ia mendapat ide untuk memulai kisah Harry Potter yang diberinya judul Philosopher‘s Stone. Naskah itu tak langsung jadi. Setelah perceraian dari suami pertamanya, ia yang terpaksa harus hidup pas-pasan. Himpitan kemiskinan itulah yang membuat J.K Rowling melecut semangatnya untuk menyelesaikan karya yang telah dimulainya sebaik mungkin. Dari karyanya, Ia berharap bisa mendapatkan penghasilan yang layak. Akhirnya, pada 1995 ia berhasil menyelesaikan buku pertamanya. Tapi, karena sangat miskin, ia yang berniat mengirimkan naskahnya ke penerbit tak mampu membayar biaya foto kopi untuk memperbanyak naskahnya. Ia terpaksa mengetik ulang naskahnya hingga beberapa kopi dengan mesin tik tua manual yang murah. 

Bisa dibayangkan bagaimana perjuangannya, naskah Harry Potter yang sangat tebal itu diketiknya dengan mesin tik beberapa kali. Ia mengirimkan naskahnya ke penerbit, berharap penerbit menerima naskahnya dan ia mendapatkan penghasilan dari penjualan buku karyanya. Tapi, sama seperti penulis pemula yang lain, naskah itu pun mengalami penolakan berkali-kali dari berbagai penerbit. Bahkan sampai 12 kali. Beruntung, dari seorang agen bernama Christopher, Bloomsbury mau menerbitkan kisah tersebut.

Tak disangka, ajaibnya, buku yang sempat ditolak oleh berbagai penerbit itu justru laku sangat keras. Setelah menerbitkan buku pertamanya, ia pun menerbitkan seri lanjutan dari buku Harry Potter-nya itu. Kondisi hidupnya pun berubah total. Dari orang yang sangat miskin, yang harus menerima santunan dari pemerintah, yang bahkan untuk membayar fotokopi saja tak mampu hingga ia harus mengetik ulang naskahnya beberapa kali dengan mesin tik, kemudian ia bisa hidup berkelimpahan dari karya Harry Potter-nya itu. Tidak ada sukses tanpa perjuangan, begitu pula dengan


            J.K Rowling yang menjadi penulis terkaya di dunia. Ia pun harus mengalami masa-masa sulit sebagai orang miskin yang naskahnya harus mengalami penolakan 12 kali. Tapi ia pantang menyerah, setelah melalui perjuangan panjang ia mampu mengubah hidupnya jauh ke arah yang lebih baik. ***


Sabtu, 02 April 2016

Cerpen : Tetangga di samping rumah





           
Pohon mangga Arumanisnya yang tumbuh di samping rumah sudah berbuah lagi. Salah satu dahannya menjulur ke halaman rumah tetangganya. Puluhan mangga yang besar-besar dan tua bergelantungan di sana.

            Dan sudah beberapa kali bu Maulida memergoki tetangga barunya itu selalu menghitungi  mangga-mangga itu ***



            Rumah berdinding bilik itu tadinya kosong tidak terawat. Kalau malam gelap gulita karena tidak diberi penerangan. Seorang penyewa, perempuan tua berumur enam puluhan datang mengontrak disana bersama cucunya yang baru kelas dua SD.

            Bu Maulida mengenalnya. Namanya Syamsiyah, nenek yang setiap hari berjualan mangga di pasar. Kata yang empunya rumah, nek Syamsiyah boleh membayar berapa saja menyewa rumah tersebut asal dirawat.

            Nek Syamsiyah senang tinggal bertetangga dengan bu Maulida karena bu Maulida guru agama cucunya di madrasah. Kalau ada pelajaran cucunya yang ia tidak mengerti, tinggal tanya saja.

            Bu Maulida juga senang. Terutama karena rumah yang lama dibiarkan kosong oleh pemiliknya itu jadi terawat bersih dan rapih. Tidak gelap menyeramkan dan menjadi sumber gosip orang-orang penakut. Bahwa rumah tua itu sudah menjadi sarang hantu.

            Sebelum rumahnya yang sekarang, nek Syamsiyah ngontrak di belakang pasar. Nek Syamsiyah sebenarnya betah di sana karena dekat dengan pasar tempatnya berjualan. Tetapi karena harga sewanya  terus dinaikan ia terpaksa angkat kaki.

            Bu Maulida maklum. Ia melihat sendiri jualan mangga nek Syamsiyah memang tidak seberapa. Paling hanya beberapa kilo. Mangga-mangga itu dijualnya secara ketengan supaya untungnya lumayan. Kadang seribu, kadang juga seribu lima ratus perbuahnya.

            “Yang penting nenek mah ada buat jajan si Sinta sama buat biaya sekolahnya,” Kata nek Syamsiyah tidak muluk-muluk.

            Kalau bu Maulida kebetulan sedang berbelanja ke pasar mereka suka mengobrol. Terkadang bu Maulida sengaja menemui nek Syamsiyah untuk memberitahukan perkembangan pelajaran cucunya.

            Bu Maulida paham benar, tentu bukan urusan gampang bagi seorang nenek mengurus masalah sekolah cucunya. Dirinya sendiri yang seorang guru sering merasa kewalahan menghadapi kelakuan anak-anaknya sendiri.

            Suatu kali pernah bu Maulida menanyakan tentang ibu bapaknya si Sinta. Dan jawabannya sungguh mengenaskan. Ibunya si Sinta, yang adalah menantunya, lari dengan laki-laki lain. Ekonomi yang menjadi persoalannya. Si Sinta yang masih umur tiga tahun ikut dengan bapaknya.

            Tetapi sang ayah yang rupanya merasa sakit hati oleh perlakuan isterinya itu kemudian menjadi TKI ke Arab dengan harapan bisa mendapatkan uang yang banyak.

            “Lalu bapaknya si Sinta itu sering ngirimin uang buat anaknya?” Tanya bu Maulida.

            Yang ditanya menggeleng dengan mata berlinang. Karena terlibat masalah bapaknya si Sinta itu kena razia polisi Arab dan ditahan disana hingga sekarang.

            Bu Maulida merasa terenyuh. Rasa simpati itu kemudian membuat hubungan mereka jadi akrab. Kalau ketemu di pasar nek Syamsiyah suka memberinya Mangga gratis. Lebih banyak ditolak oleh bu Maulida karena dia tau benar kalau yang diberikannya itu merupakan keuntungan nek Syamsiyah.

            Tempat kedua yang membuat bu Maulida sering bertemu dengan nek Syamsiyah adalah majlis taklim. Setiap hari minggu ada pengajian ibu - ibu disana. Bu Maulidalah yang mengisi ceramahnya. Dan nek Syamsiyah hampir tidak pernah absen selalu ikut terselip diantara para jamaah.

            Nek Syamsiyah adalah jamaah yang paling ‘cerewet’. Tiap kali ada kesempatan bertanya, tangannyalah yang selalu teracung lebih dulu. Yang ditanyakannya selalu tidak jauh-jauh dari seputar cara mendidik anak agar menjadi anak yang soleh atau soleha.

            Bu Maulida mengerti sepertinya semua itu ditujukan untuk cucunya. Jadi ia memberikan salah satu solusi yang praktis. Jangan berikan makanan yang haram untuk anak kita. Karena selain membuat si anak jadi bodoh, juga malas beribadah.

            Nek Syamsiyah selalu duduk paling belakang. Ia malu duduk di depan karena pakaiannya banyak tambalannya. Berbeda dengan jamaah lainnya yang selalu berdandan mentereng.

            Supaya tidak minder dan lebih semangat bu Maulida lalu memberinya beberapa bajunya yang masih bagus. Bisa dibayangkan apa yang terjadi setelah itu.

            Hampir tiap sore nek Syamsiyah datang ke rumah bu Maulida untuk membantu pekerjaan rumahnya.

            Tertawa saja bu Maulida mengingat itu. Mungkin orang kecil lebih tau membalas budi.

            Yang jelas ia memang mengagumi semangat nenek tua itu yang di usia senjanya tetap gigih mencari napkah dan menuntut ilmu.

            Nek Syamsiyah datang menyewa rumah itu bertepatan dengan pohon Mangga Arumanis bu Maulida berbuah lebat. Sering bu Maulida melihat cucu nek Syamsiyah itu bermain-main dibawahnya.

            Anak itu sepertinya kurang asupan giji yang baik.  Badannya kurus. Tapi di sekolahnya selalu rangking satu. Bu Maulida tidak tau metode belajarnya seperti apa.

            Mungkin suatu hari nanti ia perlu mengetahuinya supaya bisa diterapkan untuk murid-muridnya yang lain.

 Satu minggu sudah nek Syamsiyah menjadi tetangga bu Maulida. Selama itu tidak tampak ada cela yang menggangu hubungan bertetangga mereka. Yang terjadi setiap hari hanyalah sebuah rutinitas.

            Pagi-pagi sehabis shalat Shubuh nek Syamsiyah sudah tergopoh-gopoh membawa keranjangnya ke pasar. Jam tujuh ia pulang dulu untuk mengurus sekolah SD cucunya. Setelah itu balik lagi ke pasar hingga waktu dhuhur tiba.

            Setiap hari selalu seperti itu. Sampai kemudian bu Maulida memergoki kelakuan nek Syamsiyah yang menyebabkan hatinya jadi kurang ‘sreg’.

            Peristiwanya bakda Isya. Habis membaca Qur’an, bu Maulida iseng menengok keluar melalui jendela. Mula-mula hanya sepi dan gelap. Namun di antara kegelapan itu ia melihat seseorang berdiri di bawah pohon mangganya. Atau lebih tepatnya di bawah dahan pohon mangga yang menjulur ke halaman rumah nek Syamsiyah.

            Karena cukup terang, jadi bu Maulida segera tahu kalau sosok itu adalah nek Syamsiyah yang baru pulang dari mushola. Dan yang dilakukan nenek tua yang masih mengenakan mukena itu adalah menghitungi buah Mangga yang bergelantungan di atasnya.

            Bu Maulida sempat berpikir untuk apa tetangganya itu melakukan hal tersebut. Tapi karena nek Syamsiyah kerjaannya adalah jualan mangga, ia segera paham. Mungkin nek Syamsiyah naksir akan mangga-mangganya.

            Waktu diceritakan kepada suaminya, suaminya juga tertawa.

            “Mungkin nek Syamsiyah mau ngeborong mangga kita, Ma.”

            “Seharusnya ia terang-terangan saja ngomong sama kita. Jangan sembunyi-sembunyi seperti itu. Nggak pantes.” Bu Maulida jadi agak ketus.

            “Sama tetangga jangan seperti itu. Ya, mungkin dia mau ngomong itu malu karena belum ada duitnya. Bisa aja kan? Justeru seharusnya mamah yang harus duluan ngomong.”

            Bu Maulida diam saja. Tapi batinnya menimbang. Mungkin memang dirinya yang harus pro aktif menawarkan.

Pohon mangga itu sebenarnya jauh-jauh hari sudah ada yang menawar-nawar. Tapi bu Maulida masih menahannya. Sebab terkadang kalau ada kerabatnya yang datang dari luar kota, mangga-mangga ini bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

Lagi pula kesannya memang ‘kejam’ sekali. Tetangganya sendiri jualan mangga, ia justeru malah menjualnya ke orang lain yang tidak dikenalnya.

“Baiklah, mama kapan-kapan akan maen ke sana,” Kata bu Maulida.

Kata kapan-kapan itu hampir terlupakan karena kesibukan bu Maulida sendiri sebagai guru. Kalau pun ia masih teringat salah satu penyebabnya adalah nek Syamsiyah sendiri.

Perempuan itu makin rajin saja mengitungi buah-buah mangganya. Apalagi sekarang Arumanisnya sudah mulai banyak yang matang. Sebelum hal tersebut dilakukan, nek Syamsiyah biasanya akan celingukan dulu supaya tidak ada yang memergokinya.

Bu Maulida jadi sebal. Apalagi menurutnya nenek tua itu sedikit jual mahal. Kalau mereka kebetulan berpapasan atau mengobrol di pasar, nek Syamsiyah sekali pun sama sekali tidak pernah menyinggung-nyinggung soal mangganya.

Apa mungkin nek Syamsiyah sedang berpikir bahwa kelakuannya itu tidak ada yang memergoki, Kata bu Maulida dalam hati. Atau jangan-jangan nenek tua itu sedang punya rencana?

Suaminya mengusulkan agar yang sudah masak itu lebih baik cepat-cepat dipetik saja daripada nanti keduluan jatuh atau dimakan kelelawar.

“Mama kirimin deh nek Syamsiyah. Sambil omong-omong. Siapa tau dia memang ada niatan memborong mangga kita,” Suaminya setengah bercanda.

“Nanti kalau ada waktu mama kesana,” Kata Bu Maulida. ***



Waktu untuk berkunjung ke tetangga itu baru ada satu minggu kemudian. Sekitar jam limaan bu Maulida akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah nek Syamsiyah. Tidak lupa pesan suaminya untuk membagi beberapa mangganya dituruti.

 “Assalamualaikum,” Bu Maulida mengucap salam.

“Wa’alaikum salam,” Ada jawaban dari dalam rumah disusul daun pintu yang terbuat dari bilah papan itu berderit terbuka.

Nek Syamsiyah melongokan kepalanya. Ia agak terkejut waktu melihat yang ada di hadapannya adalah bu Maulida. Buru-buru ia mempersilahkannya masuk.

Sehelai tikar dihamparkan.

“Silahkan duduk, bu. Maap, rumahnya acak-acakan.” Nek Syamsiah tampak sedikit kemalu-maluan. Segelas air putih dihidangkannya. Si Sinta yang tadi terlihat sedang membaca buku menggelendot di pangkuan nek Syamsiyah setelah terlebih dulu disuruh menyalami gurunya.

“Sepertinya hari ini emak nggak dagang, ya?” Bu Maulida membuka obrolan.

“Mangganya lagi sulit, bu guru.”

“Tapi kan sekarang lagi musimnya?”

Pertanyaan itu menyebabkan nek Syamsiyah jadi sedikit bercerita soal seluk-beluk dagangnya. Bahwa tidak otomatis karena sedang musimnya, lantas mangga jadi mudah didapat olehnya.

Memang mangga berlimpah. Tapi semuanya sudah diborong oleh pedagang besar untuk di jual di kota. Biasanya nek Syamsiyah baru akan dilayani kalau ada mangga sisa itu juga yang kualitasnya rendah.

Bu Maulida iba juga mendengarnya. Tidak menyangka hanya jualan mangga sekedar untuk sesuap nasi saja si nenek tua ini harus berhadapan dengan para raksasa. Lantas ia angsurkan bungkusan plastik berisi mangga-mangganya.

“Ini buat emak. Kebetulan Arumanis saya sudah pada matang.”

Ditunggunya apakah nek syamsiyah akan mulai mengajukan tawaran. Tidak. Nek Syamsiyah menerima pemberiannya dengan ucapan terima kasih tiada henti. Sama sekali tidak ada pembicaraan soal pohon mangga bu Maulida.

Jadi bu Maulida sendiri yang mengambil inisiatif.

“Emak kan jualan mangga. Tertarik nggak sama mangga saya? Soal uangnya belakangan juga nggak apa-apa. Daripada saya jual ke orang lain? Kan lebih baik sama emak.”

Mata nek Syamsiyah berbinar. Sehingga bu Maulida menyimpulkan bahwa seperti inilah rupanya yang dikehendaki oleh tetangganya. Harus dia yang menawarinya terlebih dulu. Itu juga dengan cara utang.

Namun rangkaian kalimat yang meluncur dari mulut nek Syamsiyah sungguh di luar dugaan bu Maulida.

“Emak emang seneng ngeliat pohon mangga bu guru. Besar-besar. Apalagi yang masuk ke pekarangan rumah emak itu. Tiap malem emak hitungin terus. Yang nggak tau mah mungkin disangkanya emak mau ngeborong mangga bu guru. Padahal emak punya duit dari mana.

“Emak cuma takut mangga-mangga itu ada yang jatuh terus dimakan sama si Sinta. Berarti cucu emak itu udah makan makanan yang haram karena pohon mangga itu kan bukan punya emak. Padahal kata ibu sendiri di pengajian, daging yang tumbuh dari makanan yang haram itu bisa membuat anak bodoh dan kalau ninggal nggak akan masuk Surga. Saya takut si Sinta jadi seperti itu”.

Nek Syamsiyah terkekeh sendiri. Tak ada pretensi apa-apa dibalik apa yang sudah diungkapkannya tadi. Semacam rasa bangga atau riya.

Padahal yang diajaknya bicara tampak melongo.***

Tamat.