“Menurut umi gimana kalo misalnya
abi nikah lagi?”
Teras
depan rumah umi Dina tepat menghadap ke arah kolam air mancur taman tempat
beberapa ikan mas Koi berenangan di antara dedaunan Teratai. Sebatang pohon
Anggur yang masih kecil-kecil buahnya menaungi kolam itu sekaligus menjadi
penghalang dari sinar matahari sore sehingga udara yang melingkupi teras terasa
teduh.
Umi
Dina tertegun mendengar pertanyaan itu.
Kali kedua abi bicara demikian. Pertama
ia masih menganggapnya sebagai gurauan mungkin abi hanya menggoda untuk
memancing kecemburuannya. Karena dari sejak sebelum nikah abi memang begitu.
Senang sekali membuat ia cemberut untuk menunjukan kemesraannya.
Tapi
sekarang abi menegaskan keseriusannya. Katanya dia ingin meniru jejak idola
mereka selama ini yaitu kangjeng nabi Muhammad.
Umi
Dina tidak sempat menangkap omongan abi seterusnya. Ia yang sedang berdiri
merasa lantai yang dipijaknya goyang. Jadi yang dilakukan oleh umi Dina adalah
reaksi khas perempuan. Ia tinggalkan abinya. Tangisnya pecah di atas
pembaringan.
Abi
menyusulnya dan ikut duduk di tepi ranjang. Usapan lembut yang jatuh di
punggungnya membuat umi Dina yang sedang menelungkup jadi berbalik. Tampak
wajahnya yang kuyup oleh guyuran air mata.
Omongannya
terbata-bata.
“Umi
nggak ngerti, abi….. Kenapa sih laki-laki selalu seperti ini ? Dulu… sebelum
jabatan dan gaji abi naik, nggak pernah abi bicara soal poligami. Sekarang
setelah Allah memberikan kepada kita kekayaan…. maunya isteri pun nambah…… Dalam
hati abi rupanya diam-diam sudah ada wanita lain, ya?”
“Umi
nggak siap, abi kalau harus berbagi cinta dengan perempuan lain meski itu atas
nama sunnah nabi. Abi tau kan kalau selama ini umi hanya berasal dari keluarga
yang awam soal agama, keimanan umi belum kuat untuk nerima kenyataan abi nikah
lagi.”
“Jujur saja, abi. Abi melakukan ini
apa karena kecewa sama umi yang belum bisa memberikan keturunan? Kita kan sudah
berdoa, abi. Allah mungkin belum berkehendak kita punya anak. Abi harus sabar.”
Abi menatap umi Dina dalam-dalam.
Lalu tiba-tiba senyumnya mengembang.
“Ya sudah, kalau umi belum ngijinin abi juga
nggak akan maksa.”
Dalam hati umi Dina tercekat. Tuhan,
dia bilang belum ngijinin? Apa abi sedang berpikir bahwa suatu saat dirinya
akan mengijinkan abi menikah lagi? Itu artinya niat itu akan tetap bercokol
dalam pikiran abi.
Umi Dina bertambah kecewa. Lenyap
sudah segala kebaikan abi di matanya. Tidak lagi diingatnya bagaimana selama
ini abi sudah mendidiknya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang agar dirinya
menjadi isteri yang soleha.
Umi
Dina bahkan mulai berpikir bahwa ini awal dari keretakan rumah tangganya. Padahal
dalam setiap shalatnya ia selalu memohon agar rumah tangganya terlindungi dari
segala godaan dan permasalahan. Atau andaikan hal itu terjadi juga, mereka bisa
melaluinya tanpa salah satu pihak ada yang merasa tersakiti.
Sekarang kenapa hal seperti ini
terjadi juga ?
Apa dosa dirinya ?
Kata
orang tua dulu, perceraian itu bisa jadi karena faktor turunan. Dimana dulunya
salah satu anggota keluarga ada yang pernah mengalami. Jadi bisa mungkin
generasi berikutnya pun akan ikut tertular.
Tetapi
dalam keluarga umi Dina tidak seorang pun ada yang pernah mengalami kawin
cerai. Mereka semua adalah orang yang sangat menghargai pasangannya. Tidak
pernah ada yang beristeri lebih dari satu.
Umi Dina meremas kepalanya yang terasa
hendak meledak. Dalam benaknya yang terlihat hanya satu gambaran gelap. Yaitu
dalam hitungan detik kebahagiaan rumah tangganya sudah akan rubuh.
Kalau
ada ibu, umi Dina pasti akan berlabuh di dadanya. Dengan cara demikian hatinya
akan beroleh kedamaian. Tapi pulang ke orang tuanya terlalu jauh di luar kota. Sementara
diam terus di rumah pun rasanya sumpek. Melihat pekerjaan rumah yang menumpuk
rasanya ingin mengacak-acaknya sambil menjerit-jerit.
Umi Dina bangun dari pembaringannya.
Mondar-mandir di dalam kamarnya sambil memeras pikiran. Apa yang bisa
dilakukannya?
Ah,
umi Dina tiba-tiba ingat seseorang. Ya, benar. Malam ini ia akan minggat kesana
biar abinya mikir dan membatalkan keinginannya untuk beristeri dua itu. ***
Setiap
pagi selalu ada mak Inah yang menjajakan sayuran di komplek perumahan dan sudah
menjadi langganan umi Dina. Datang selalu pagi-pagi ketika ibu-ibu komplek
masih berjibaku menyiapkan sarapan untuk anak dan suami masing-masing.
Gerobak
sayurnya khas karena dilengkap bel klenengan yang mirip klenengan di leher
sapi. Mendengar suara klenengannya semua ibu penghuni komplek hapal bahwa itu
pertanda kedatangan mak Inah. Mereka akan langsung berhamburan keluar supaya
tidak kehabisan dagangannya.
Umurnya
mungkin sama dengan ibunya ummi Dina. Hanya mak Inah agak kurusan. Pertama
melihatnya ummi Dina agak merasa ‘aneh’. Karena yang biasanya jualan memakai
gerobak adalah laki-laki. Ternyata suami mak Inah sudah lama meninggal.
Karena seringnya bertemu,lama-lama mereka jadi
akrab seperti ibu dan anak. Sering kalau sedang kecapean mak Inah beristirahat
di rumah umi Dina. Atau sebaliknya. Ketika mendapat rejeki lebih abi suka
mengajak umi Dina kesana untuk berbagi.
Rumah
mak Inah hanya berupa gubuk bilik di pinggir kali yang tiap hujan kalau tidak
kebocoran ya kebanjiran. Rumah yang hanya seorang diri saja ditinggalinya
karena semua anaknya sudah berumah tangga dan tinggal berjauhan.
Kesanalah
umi Dina minggat sore itu sebelum abinya pulang dari kantor. Mak Inah terkejut
melihat kedatangannya apalagi keadaan umi Dina tampak kacau. Bekas-bekas sembab
di matanya masih terlihat.
Datang-datang umi Dina langsung
duduk di bangku kayu pendek dengan mata menerawang seperti orang yang hilang
kesadaran.
“Kenapa? Ribut sama suami, ya?”
Ummi
Dina diam.
Mak Inah menyambung lagi.
“Ah,
yang namanya rumah tangga neng sekali-kali perlu bertengkar biar tambah mesra.
Asal bertengkarnya jangan kelamaan. Cukup satu menit aja,”
Umi Dina masih diam. Lalu
sekonyong-konyong ucapannya meluncur cepat tanpa basa-basi.
“Abi mau nikah lagi, mak,”
Mak Inah terperangah.
“Benarkah itu, neng?... Dan sama
siapa nikahnya?”
“Saya belum tau siapa perempuannya.
Paling-paling teman sekantornya, mak. Saya harus gimana, mak? Saya nggak mau
dimadu. Saya nggak mau abi jadi milik perempuan lain…..” Dan, sekarang tangis
umi Dina pecah menjadi isak.
Perempuan tua yang beberapa bagian
rambutnya sudah memutih itu hanya bisa tertunduk menyaksikan tamunya menangis. Ia
jadi agak sungkan. Urusan poligami memang sensitif. Tidak semua isteri sanggup
menjalaninya meski dia punya predikat Hajjah atau ustadzah sekali pun.
Tetapi nasehat apa yang bisa
diberikannya untuk umi Dina? Ia justeru takut terjebak ikut campur urusan rumah
tangga orang. Paling-paling yang bisa diucapkannya hanya sebatas kata sabar.
Rumah tangga memang banyak cobaan dan godaan. Tidak ada rumah tangga yang
selamanya adem ayem.
Dan saat ini ummi Dina memang tidak
butuh nasihat itu. Keinginannya hanya satu. Lari dari abi.
“Saya
mau nginep di sini barang semalem, mak. Boleh, ya?”
Mak
Inah jadi kaget.
Ia
memohon supaya ummi Dina mengurungkan niatnya. Takut nanti dirinya dituduh
menyembunyikan isteri orang.
Tetapi umi Dina bersikukuh dengan
pendiriannya. Ia ingin memberi pelajaran kepada abi supaya jangan egois. Rumah
tangga adalah masalah dua perasaan berbeda yang satu sama lain harus saling
menghargai, katanya penuh emosi.
Mak Inah akhirnya hanya bisa pasrah.
Ia tidak menyalahkan ummi Dina karena waktu muda juga dulu reaksinya tidak
berbeda jauh seperti itu manakala menghadapi permasalahan rumah tangga yang
pelik. Maunya minggat. Padahal minggat itu sendiri malah membuat masalah tambah
runyam .
Dibiarkannya
oleh ummi dina istirahat. Mak Inah duduk di dapur sambil berpikir.
Apa
yang harus dilakukannya?
Kenapa
dirinya harus terlibat masalah serumit ini?
Haruskah
ia memberitahukan abi kalau isterinya ada disini?
Tetapi
bagaimana kalau misalnya umi Dina marah? Tentu dirinya jadi tidak enak.
Bingung
dan merasa serba salah, akhirnya mak Inah memutuskan untuk menulis surat saja.
Mumpung masih ada waktu.
Umi Dina gelisah.
Sadar
tindakannya ini keliru. Sebenarnya Ia bukan tipe isteri yang suka kabur-kaburan
kalau ada masalah. Biasanya semua bisa diselesaikan dengan dialog dari hati ke
hati. Baru kali ini saja yang dirasanya berat.
Saat
ini abi pasti kebingungan mengetahui dirinya tidak ada di rumah. Sebagai
seorang isteri dirinya tentu sudah durhaka karena meninggalkan rumah tanpa ijin
suami, semata hanya karena niat dari abi yang sebenarnya tidaklah bertentangan
dengan nilai-nilai agama.
Padahal
apa pun yang Allah berikan untuk hambanya pastilah untuk kebaikan si hamba
sendiri. Barangkali melalui niat abi untuk berpoligami ini Allah hendak
memberikan kebaikan untuk dirinya.
Bukankah
Allah sudah berfirman, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu.
Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu.
Kalbu
umi Dina tiba-tiba terasa luluh. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Ya Allah, ampuni hambamu ini yang egois ini,
Dia
memang harus pulang. Dalam situasi apapun, tempat terbaik bagi seorang isteri
adalah di dalam rumahnya sendiri. Kalau benar niat abinya tulus hendak
mengikuti jejak kangjeng nabinya, maka ia pun akan ikhlas mengijinkan abi
menikah lagi. Juga karena Allah bukan karena keterpaksaan.
Perlahan umi bangkit dari tempat
tidur mak Inah yang hanya berupa sehelai tikar pandan yang sudah rombeng.
Dicarinya perempuan yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu di belakang
untuk pamit pulang.
Kosong.
Bolak-balik
mencari, umi Dina tidak menemukan mak Inah ada dalam rumah itu. Umi Dina sempat
berpikiran jangan-jangan mak Inah menemui abinya memberitahukan perihal
keberadaan dirinya di sini. Namun mata umi Dina tertumbuk pada sehelai amplop
yang tergeletak di atas meja. Tulisan di amplop itu jelas; Untuk neng Dina.
Penuh tanda tanya umi Dina
membukanya.
Suami
Neng itu kalau buat emak seperti malaikat.
Demikian
awal surat itu.
Di
jaman sekarang kalau ada laki-laki yang ingin menduakan isterinya karena hendak mengikuti sunnah kangjeng nabi
bukan sebab napsu maka suami Neng Dina itulah orangnya. Neng harus bersyukur
punya suami seperti itu.
Kenapa
emak ngomong begini?
Dua
minggu yang lalu suami Neng datang kesini. Tadinya emak pikir dia hanya mampir
saja sepulang kerja. Tapi tahukah apa
yang dia katakan sama emak, Neng?
Dia
mengatakan niatnya yang ingin menikahi
emak. Katanya dia ingin meniru jejak kangjeng nabi yang menjadi panutannya yang
menikahi janda-janda miskin untuk membantu agamanya dan juga kehidupannya.
Emak
ketawa tapi juga nangis, Neng. Emak yang sudah tua, peot, dan jelek ini masih
ada yang mau nikahi dengan niat yang begitu mulia. Tapi emak nggak mau
ngeganggu rumah tangga Neng Dina yang sudah begitu banyak membantu kehidupan
emak.
Jadi
sekarang emak memutuskan, daripada keberadan emak di sini mengganggu
keharmonisan keluarga Neng, emak lebih baik
pulang kampung saja…..Mudah-mudahan dengan perginya emak rumah tangga Neng akan harmonis lagi. Trima kasih
untuk semua kebaikan yang sudah neng berikan sama emak.
Mak Inah.
Bergetar
seluruh tubuh umi Dina membaca surat mak Inah.
Jadi
mak Inahlah yang hendak abi nikahi itu? Bukan perempuan yang selama ini ada
dalam pikiran ummi Dina. Yang cantik, yang muda, pokoknya yang menjadi
kesenangan kaum laki-laki.
Tuhan….
Umi
Dina tersungkur. Air matanya deras mengalir.
Kenapa abi tidak mengatakan ini dari
sejak awal? Dirinya tentu tidak akan menolak. Sekarang semuanya sudah
terlambat.
Umi Dina tiba-tiba begitu merindukan
abinya.
Ingin
bersimpuh di kakinya. *** Tamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar