Sabtu, 01 Oktober 2016

Bulan di atas bantal





            “Menurut umi gimana kalo misalnya abi nikah lagi?”
Teras depan rumah umi Dina tepat menghadap ke arah kolam air mancur taman tempat beberapa ikan mas Koi berenangan di antara dedaunan Teratai. Sebatang pohon Anggur yang masih kecil-kecil buahnya menaungi kolam itu sekaligus menjadi penghalang dari sinar matahari sore sehingga udara yang melingkupi teras terasa teduh.
Umi Dina tertegun mendengar pertanyaan itu.          
            Kali kedua abi bicara demikian. Pertama ia masih menganggapnya sebagai gurauan mungkin abi hanya menggoda untuk memancing kecemburuannya. Karena dari sejak sebelum nikah abi memang begitu. Senang sekali membuat ia cemberut untuk menunjukan kemesraannya.
Tapi sekarang abi menegaskan keseriusannya. Katanya dia ingin meniru jejak idola mereka selama ini yaitu kangjeng nabi Muhammad.
Umi Dina tidak sempat menangkap omongan abi seterusnya. Ia yang sedang berdiri merasa lantai yang dipijaknya goyang. Jadi yang dilakukan oleh umi Dina adalah reaksi khas perempuan. Ia tinggalkan abinya. Tangisnya pecah di atas pembaringan.
Abi menyusulnya dan ikut duduk di tepi ranjang. Usapan lembut yang jatuh di punggungnya membuat umi Dina yang sedang menelungkup jadi berbalik. Tampak wajahnya yang kuyup oleh guyuran air mata.
Omongannya terbata-bata.
“Umi nggak ngerti, abi….. Kenapa sih laki-laki selalu seperti ini ? Dulu… sebelum jabatan dan gaji abi naik, nggak pernah abi bicara soal poligami. Sekarang setelah Allah memberikan kepada kita kekayaan…. maunya isteri pun nambah…… Dalam hati abi rupanya diam-diam sudah ada wanita lain, ya?”
“Umi nggak siap, abi kalau harus berbagi cinta dengan perempuan lain meski itu atas nama sunnah nabi. Abi tau kan kalau selama ini umi hanya berasal dari keluarga yang awam soal agama, keimanan umi belum kuat untuk nerima kenyataan abi nikah lagi.”
            “Jujur saja, abi. Abi melakukan ini apa karena kecewa sama umi yang belum bisa memberikan keturunan? Kita kan sudah berdoa, abi. Allah mungkin belum berkehendak kita punya anak. Abi harus sabar.”
            Abi menatap umi Dina dalam-dalam. Lalu tiba-tiba senyumnya mengembang.
 “Ya sudah, kalau umi belum ngijinin abi juga nggak akan maksa.”
            Dalam hati umi Dina tercekat. Tuhan, dia bilang belum ngijinin? Apa abi sedang berpikir bahwa suatu saat dirinya akan mengijinkan abi menikah lagi? Itu artinya niat itu akan tetap bercokol dalam pikiran abi.
            Umi Dina bertambah kecewa. Lenyap sudah segala kebaikan abi di matanya. Tidak lagi diingatnya bagaimana selama ini abi sudah mendidiknya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang agar dirinya menjadi isteri yang soleha.
Umi Dina bahkan mulai berpikir bahwa ini awal dari keretakan rumah tangganya. Padahal dalam setiap shalatnya ia selalu memohon agar rumah tangganya terlindungi dari segala godaan dan permasalahan. Atau andaikan hal itu terjadi juga, mereka bisa melaluinya tanpa salah satu pihak ada yang merasa tersakiti.
            Sekarang kenapa hal seperti ini terjadi juga ?
 Apa dosa dirinya ?
Kata orang tua dulu, perceraian itu bisa jadi karena faktor turunan. Dimana dulunya salah satu anggota keluarga ada yang pernah mengalami. Jadi bisa mungkin generasi berikutnya pun akan ikut tertular.
Tetapi dalam keluarga umi Dina tidak seorang pun ada yang pernah mengalami kawin cerai. Mereka semua adalah orang yang sangat menghargai pasangannya. Tidak pernah ada yang beristeri lebih dari satu.
            Umi Dina meremas kepalanya yang terasa hendak meledak. Dalam benaknya yang terlihat hanya satu gambaran gelap. Yaitu dalam hitungan detik kebahagiaan rumah tangganya sudah akan rubuh.
Kalau ada ibu, umi Dina pasti akan berlabuh di dadanya. Dengan cara demikian hatinya akan beroleh kedamaian. Tapi pulang ke orang tuanya terlalu jauh di luar kota. Sementara diam terus di rumah pun rasanya sumpek. Melihat pekerjaan rumah yang menumpuk rasanya ingin mengacak-acaknya sambil menjerit-jerit.
            Umi Dina bangun dari pembaringannya. Mondar-mandir di dalam kamarnya sambil memeras pikiran. Apa yang bisa dilakukannya?
Ah, umi Dina tiba-tiba ingat seseorang. Ya, benar. Malam ini ia akan minggat kesana biar abinya mikir dan membatalkan keinginannya untuk beristeri dua itu. ***
Setiap pagi selalu ada mak Inah yang menjajakan sayuran di komplek perumahan dan sudah menjadi langganan umi Dina. Datang selalu pagi-pagi ketika ibu-ibu komplek masih berjibaku menyiapkan sarapan untuk anak dan suami masing-masing.
Gerobak sayurnya khas karena dilengkap bel klenengan yang mirip klenengan di leher sapi. Mendengar suara klenengannya semua ibu penghuni komplek hapal bahwa itu pertanda kedatangan mak Inah. Mereka akan langsung berhamburan keluar supaya tidak kehabisan dagangannya.
Umurnya mungkin sama dengan ibunya ummi Dina. Hanya mak Inah agak kurusan. Pertama melihatnya ummi Dina agak merasa ‘aneh’. Karena yang biasanya jualan memakai gerobak adalah laki-laki. Ternyata suami mak Inah sudah lama meninggal.
 Karena seringnya bertemu,lama-lama mereka jadi akrab seperti ibu dan anak. Sering kalau sedang kecapean mak Inah beristirahat di rumah umi Dina. Atau sebaliknya. Ketika mendapat rejeki lebih abi suka mengajak umi Dina kesana untuk berbagi.
Rumah mak Inah hanya berupa gubuk bilik di pinggir kali yang tiap hujan kalau tidak kebocoran ya kebanjiran. Rumah yang hanya seorang diri saja ditinggalinya karena semua anaknya sudah berumah tangga dan tinggal berjauhan.
Kesanalah umi Dina minggat sore itu sebelum abinya pulang dari kantor. Mak Inah terkejut melihat kedatangannya apalagi keadaan umi Dina tampak kacau. Bekas-bekas sembab di matanya masih terlihat.
            Datang-datang umi Dina langsung duduk di bangku kayu pendek dengan mata menerawang seperti orang yang hilang kesadaran.
            “Kenapa? Ribut sama suami, ya?”
Ummi Dina diam.
 Mak Inah menyambung lagi.
“Ah, yang namanya rumah tangga neng sekali-kali perlu bertengkar biar tambah mesra. Asal bertengkarnya jangan kelamaan. Cukup satu menit aja,”
            Umi Dina masih diam. Lalu sekonyong-konyong ucapannya meluncur cepat tanpa basa-basi.
            “Abi mau nikah lagi, mak,”
            Mak Inah terperangah.
            “Benarkah itu, neng?... Dan sama siapa nikahnya?”
            “Saya belum tau siapa perempuannya. Paling-paling teman sekantornya, mak. Saya harus gimana, mak? Saya nggak mau dimadu. Saya nggak mau abi jadi milik perempuan lain…..” Dan, sekarang tangis umi Dina pecah menjadi isak.
            Perempuan tua yang beberapa bagian rambutnya sudah memutih itu hanya bisa tertunduk menyaksikan tamunya menangis. Ia jadi agak sungkan. Urusan poligami memang sensitif. Tidak semua isteri sanggup menjalaninya meski dia punya predikat Hajjah atau ustadzah sekali pun.
            Tetapi nasehat apa yang bisa diberikannya untuk umi Dina? Ia justeru takut terjebak ikut campur urusan rumah tangga orang. Paling-paling yang bisa diucapkannya hanya sebatas kata sabar. Rumah tangga memang banyak cobaan dan godaan. Tidak ada rumah tangga yang selamanya adem ayem.
            Dan saat ini ummi Dina memang tidak butuh nasihat itu. Keinginannya hanya satu. Lari dari abi.
“Saya mau nginep di sini barang semalem, mak. Boleh, ya?”
Mak Inah jadi kaget.
Ia memohon supaya ummi Dina mengurungkan niatnya. Takut nanti dirinya dituduh menyembunyikan isteri orang.
            Tetapi umi Dina bersikukuh dengan pendiriannya. Ia ingin memberi pelajaran kepada abi supaya jangan egois. Rumah tangga adalah masalah dua perasaan berbeda yang satu sama lain harus saling menghargai, katanya penuh emosi.
            Mak Inah akhirnya hanya bisa pasrah. Ia tidak menyalahkan ummi Dina karena waktu muda juga dulu reaksinya tidak berbeda jauh seperti itu manakala menghadapi permasalahan rumah tangga yang pelik. Maunya minggat. Padahal minggat itu sendiri malah membuat masalah tambah runyam .
            Dibiarkannya oleh ummi dina istirahat. Mak Inah duduk di dapur sambil berpikir.  
Apa yang harus dilakukannya?
Kenapa dirinya harus terlibat masalah serumit ini?
Haruskah ia memberitahukan abi kalau isterinya ada disini?
Tetapi bagaimana kalau misalnya umi Dina marah? Tentu dirinya jadi tidak enak.
Bingung dan merasa serba salah, akhirnya mak Inah memutuskan untuk menulis surat saja. Mumpung masih ada waktu.
            Umi Dina gelisah.
Sadar tindakannya ini keliru. Sebenarnya Ia bukan tipe isteri yang suka kabur-kaburan kalau ada masalah. Biasanya semua bisa diselesaikan dengan dialog dari hati ke hati. Baru kali ini saja yang dirasanya berat.
Saat ini abi pasti kebingungan mengetahui dirinya tidak ada di rumah. Sebagai seorang isteri dirinya tentu sudah durhaka karena meninggalkan rumah tanpa ijin suami, semata hanya karena niat dari abi yang sebenarnya tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Padahal apa pun yang Allah berikan untuk hambanya pastilah untuk kebaikan si hamba sendiri. Barangkali melalui niat abi untuk berpoligami ini Allah hendak memberikan kebaikan untuk dirinya.
Bukankah Allah sudah berfirman, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu.
Kalbu umi Dina tiba-tiba terasa luluh. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
 Ya Allah, ampuni hambamu ini yang egois ini,
Dia memang harus pulang. Dalam situasi apapun, tempat terbaik bagi seorang isteri adalah di dalam rumahnya sendiri. Kalau benar niat abinya tulus hendak mengikuti jejak kangjeng nabinya, maka ia pun akan ikhlas mengijinkan abi menikah lagi. Juga karena Allah bukan karena keterpaksaan.
            Perlahan umi bangkit dari tempat tidur mak Inah yang hanya berupa sehelai tikar pandan yang sudah rombeng. Dicarinya perempuan yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu di belakang untuk pamit pulang.
            Kosong.
Bolak-balik mencari, umi Dina tidak menemukan mak Inah ada dalam rumah itu. Umi Dina sempat berpikiran jangan-jangan mak Inah menemui abinya memberitahukan perihal keberadaan dirinya di sini. Namun mata umi Dina tertumbuk pada sehelai amplop yang tergeletak di atas meja. Tulisan di amplop itu jelas; Untuk neng Dina.
            Penuh tanda tanya umi Dina membukanya.
            Suami Neng itu kalau buat emak seperti malaikat.
Demikian awal surat itu.
            Di jaman sekarang kalau ada laki-laki yang ingin menduakan isterinya karena hendak mengikuti sunnah kangjeng nabi bukan sebab napsu maka suami Neng Dina itulah orangnya. Neng harus bersyukur punya suami seperti itu.
            Kenapa emak ngomong begini?
            Dua minggu yang lalu suami Neng datang kesini. Tadinya emak pikir dia hanya mampir saja sepulang kerja. Tapi  tahukah apa yang dia katakan sama emak, Neng?
            Dia mengatakan niatnya yang  ingin menikahi emak. Katanya dia ingin meniru jejak kangjeng nabi yang menjadi panutannya yang menikahi janda-janda miskin untuk membantu agamanya dan juga kehidupannya.
            Emak ketawa tapi juga nangis, Neng. Emak yang sudah tua, peot, dan jelek ini masih ada yang mau nikahi dengan niat yang begitu mulia. Tapi emak nggak mau ngeganggu rumah tangga Neng Dina yang sudah begitu banyak membantu kehidupan emak.
            Jadi sekarang emak memutuskan, daripada keberadan emak di sini mengganggu keharmonisan keluarga Neng, emak lebih baik  pulang kampung saja…..Mudah-mudahan dengan perginya emak rumah  tangga Neng akan harmonis lagi. Trima kasih untuk semua kebaikan yang sudah neng berikan sama emak.
Mak Inah.
            Bergetar seluruh tubuh umi Dina membaca surat mak Inah.
Jadi mak Inahlah yang hendak abi nikahi itu? Bukan perempuan yang selama ini ada dalam pikiran ummi Dina. Yang cantik, yang muda, pokoknya yang menjadi kesenangan kaum laki-laki.
Tuhan….
Umi Dina tersungkur. Air matanya deras mengalir.
            Kenapa abi tidak mengatakan ini dari sejak awal? Dirinya tentu tidak akan menolak. Sekarang semuanya sudah terlambat.
            Umi Dina tiba-tiba begitu merindukan abinya.
Ingin bersimpuh di kakinya. ***  Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar