Kardun sungguh keterlaluan. Pasalnya kuliah cuma dapat tiga tahun tapi sudah berani-beraninya menggugat seorang wali alias orang suci kekasih Tuhan yang selama ini diagung-agungkan di kampungnya.
“Dia bukan wali. Dia cuma orang
biasa seperti kita yang masih doyan nasi dan kangkung, Darimana kalian tau kalo
dia seorang wali? Wali itu yang tahu adalah wali lagi. Berarti kalian ini juga
mengaku sebagai wali? Wah, pada sesat semua kalian ini.” Kata Kardun di hadapan
para sesepuh yang jadi pengikut sang Wali.
Para sesepuh yang kesemuanya berjenggot putih serta
jemari tangan yang tidak pernah lepas dari tasbih geram dan ingin merobek mulut
si Kardun. Menghina mereka masih bisa dimaapkan. Tapi menghina wali sama dengan
menyatakan perang kepada Allah.
Namun
para sesepuh sadar, semarah apa pun mereka hanya bisa ngegerundel dalam hati.
Soalnya, si Kardun adalah cucu dari sang wali itu sendiri. Mereka takut kualat
kalau macam-macam.
Sebenarnya
sang wali itu sudah puluhan tahun lalu meninggal. Untuk mengenangnya warga lalu
membuat acara bernama manakiban dimana dalam acara tersebut mereka membacakan
kisah kehidupan dari wali tersebut yang penuh dengan keajaiban.
Seperti sang wali kalau shalat
Jum’at selalu di Mekah. Bisa menghidupkan orang mati. Bisa terbang, dan bisa - bisa
lainnya yang semuanya serba ajaib.
Sebelumnya Kardun tidak tahu apa-apa.
Sejak balita dia sudah ikut dengan uwanya di pulau sebrang dan kuliah di sana. Tetapi
begitu pulang dan melihat kelakuan orang-orang yang sangat memuja kakeknya,
Kardun sewot. Menurutnya itu penyimpangan.
Pendapat Kardun yang nyeleneh itu disampaikan
ke pak Kyai. Pak kyai adalah sesepuh dari para sesepuh di kampung Kardun.
Beliau pemimpin acara manakiban tersebut. Semua omongannya selalu di dengar.
Putih kata dia, maka jadilah putih. Hitam akan jadi hitam.
Kardun dipanggil dan diberi wejangan.
“Kalau ngomong itu ya dipikir dulu
dong, Dun. Pake ilmu. Sedikit-sedikit kamu ini pernah ngaji juga. Jangan bikin
bingung orang sekampung. Semua orang sekarang ngomongin kamu. Katanya kamu
sudah kena aliran sesat yang kayak di tivi-tivi itu.”
“Bikin bingung gimana, pak Kyai?
Saya ini justeru meluruskan paham orang kampung. Koq malah dibilang membingungkan.
Justeru yang membingungkan itu kelakuan kalian-kalian ini. Malah
mengarang-ngarang cerita soal abah saya yang nggak-nggak. Itu fitnah namanya.
Bukan membuat tenang orang yang sudah dikubur. Malah sebaliknya bikin gerah.”
Pak Kyai geleng kepala sambil
beristighfar. Benar-benar si Kardun sudah keblinger. Bukannya senang kakeknya
dijadikan panutan, malah mencak-mencak seperti orang tak punya otak.
Dengan sabar pak Kyai menjelaskan, bahwa
yang terjadi kepada kakeknya si Kardun itu adalah karomah, sebuah keistimewaan
yang diberikan Allah kepada hambanya yang punya ketaqwaan tinggi. Dan yang namanya
karomah semua terjadi diluar akal manusia. Orang meyakininya harus dengan iman
bukan batok kepala.
Bukan hanya manggut-manggut, Kardun
bahkan membenarkan omongan pak kyai. Tetapi menurutnya, ketika seseorang
berbicara tentang iman, maka dia harus juga mengetahui sejauh mana kebenaran
imannya sendiri. Jangan baru punya iman sejengkal tapi sudah membuat paham yang
aneh-aneh. Itu namanya sesat dan menyesatkan.
Pak Kyai tambah gregetan karena si
Kardun seperti sengaja meyindirnya. Kalau bukan cucunya wali, si Kardun pasti
sudah ditempeleng. Jadi kelakuan si Kardun itu dianggapnya sebagai cobaan. Sama
seperti ketika wali songo menghadapi syekh Siti Jenar. Si Kardun cukup diberi
wejangan saja.
Tetapi si Kardun serasa diberi angin.
Entah karena merasa benar atau karena tau semua orang segan kepadanya, di luar dia
malah semakin giat menceramahi kawan-kawannya yang mayoritas anak-anak muda dan
masih bau kencur urusan agamanya.
Apa yang dibaca dalam acara itu
katanya sama sekali tidak membawa manpaat. Malah makin menjauhkan orang dari
iman yang sebenarnya. Bayangkan saja, bagaimana orang bisa meneladani kalau
yang dikisahkan adalah soal terbangnya sang wali, bisa menghidupkan orang mati,
atau yang shalatnya selalu di Mekah, padahal mushola di kampungnya tiap waktu
shalat kosong melompong.
“Saya sih lebih kagum sama kangjeng
nabi Muhammad. Misalnya, waktu perang Uhud gigi beliau pernah tanggal kena
senjata musuh, kalau kelaparan sama kayak kita, lemes sehingga harus mengikat
batu di perutnya waktu lagi shalat. Nggak lantas menyulap batu itu jadi roti.
Padahal kalau mau beliau bisa melakukannya.
“Karena apa, kawan-kawan? Karena
Islam itu agama yang rasional bukan agama mistik-mistikan. Kangjeng nabi itu
mau mengajarkan kepada umatnya, kalo lapar harus belajar sabar menahannya. Kalo
lagi perang, semua orang pasti mengalami luka atau mati. Jangan lantas minta kebal
sama Tuhan. Sebab dengan begitu orang jadi nggak menghargai artinya perjuangan.
Mentalnya jadi lembek soalnya dia nggak ngalamin gimana pahit getirnya yang
namanya proses untuk mencapai kemenangan tersebut.”
Anak-anak muda yang jadi
pendengarnya sambil cengengesan memuji kecerdasan otak si Kardun. Mereka serasa
mempunyai idola baru. Hal ini berbeda dengan para orang tuanya yang jadi resah.
Soalnya para pemuda yang nota bene merupakan darah dagingnya sendiri itu sudah
berani meledek kebiasaan mereka.
“Bayangkan, pak Kyai, anak saya
sekarang malah sudah berani-beraninya membid’ahkan saya. Dari pada membaca
manakib katanya kenapa tidak membaca kitab hadist saja. Padahal anak saya itu
baca Qur’an aja nggak pernah.” Lapor salah seorang warga.
Pak Kyai mengucap istighfar. Ia lalu
menyitir sebuah hadist yang menjelaskan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat
adalah anak-anak muda yang berbicara agama tanpa ilmu. Perkataan mereka seperti
anak panah yang keluar dari busurnya padahal keimanannya tidak sampai melewati
tenggorokan.
“Si Kardun itulah contohnya. Kalian
jangan dengar omongannya. Dia harus kita adili karena sudah menyesatkan umat.”
“Tapi gimana cara ngadilinnya, pak
Kyai?”
“Ya seperti di pengadilan begitu.
Siapa yang salah harus dihukum dan berjanji tidak akan melakukan lagi
kesalahannya. Kalau perlu dia harus usir dari kampung ini. Sebab kalau tidak, maka
pemikirannya itu akan membuat kita semua jadi sesat dan ujung-ujungnya kalian
semua masuk neraka. Mau?”
“Tapi apa nggak kualat kalau kita
melakukan itu? Si Kardun itu kan cucunya wali.”
“Meski pun dia cucunya wali, tapi
kalau akidah dan pemikirannya sudah bersebrangan maka tidak ada lagi ikatan keluarga.
Seorang sahabat Nabi bahkan sampe membunuh bapaknya yang kafir dalam sebuah
peperangan. Jadi yang kita lakukan ini sama sekali tidak salah.”
Mendengar ucapan pak kyai para
sesepuh setuju untuk mengadili si Kardun.
Pak
Kyai senang. Dari kemarin ia mencari akal bagaimana caranya menyingkirkan si
Kardun. Sejak bocah kemarin sore itu bicara macam-macam pak Kyai merasa kalau posisinya
sebagai orang yang dituakan, dan dihormati, mulai bergulir menuju jurang yang
paling pinggir.
Di
kalangan kaum tua pendapat si Kardun memang hanya dianggap sampah. Tapi kaum
tua makin kesini, makin banyak yang mati. Sementara anak-anak muda yang
mendukung si Kardun kian berkecambah seperti pohon toge yang jumlahnya terus
bertambah.
Pak
Kyai berusaha membujuk anak-anak muda itu supaya mau masuk ke dalam
lingkarannya. Namun rupanya anak muda jaman sekarang tidak mempan kalau hanya
dicekoki oleh cerita-cerita mistik yang aneh-aneh. Mereka senangnya dengan
segala sesuatu yang berbau perlawanan terhadap nilai-nilai yang sudah mapan. Seperti
al Qaeda atau ISIS. Maka tidak aneh kalau keberadaan si Kardun jadi seperti
Pahlawan di mata mereka.
Harus secepatnya dibendung !
Dengan cara yang sopan, melalui
surat tertulis, kemudian si Kardun yang tiap hari mangkal di prapatan diundang ke
mushola. Kardun datang memenuhi undangan itu dengan hanya mengenakan kaos
oblong dan celana jeans belel. Sementara para sesepuh semuanya mengenakan baju
putih dan sorban panjang, Ketika Kardun menyalaminya, uluran tangannya agak
kurang hangat diterima. Kardun tidak sakit hati. Ia duduk di pojokan.
“Jadi
begini, Kardun,” Pak Kyai sudah tak sabar.
“Tampaknya
kamu ini sedang punya ketidak puasan terhadap kami. Kami mohon maap bila selama
ini tidak pernah mengajakmu dalam acara manakiban itu. Bukan kami tidak
menghargai kamu sebagai cucu dari sang wali. Tapi segala sesuatu itu kan harus
nunggu waktu yang tepat. Kangjeng nabi saja diangkat jadi Rasul setelah usia
empat puluhan.”
“Kami
ini sengaja nunggu kamu matang dulu. Agar jasmani dan rohanimu siap. Tapi sepertinya
kamu nggak sabaran. Kakek kamu yang wali itu sudah sangat diagungkan oleh orang
sekampung. Kenapa kamu malah menjelek-jelekannya? Itu bukan hanya tidak hormat sama
orang tua, tapi juga kamu tidak menghargai tradisi yang sudah berjalan disini.”
“Jadi maksud kami sekarang adalah
untuk mengingatkanmu sebelum kebablasan lebih jauh. Bertobatlah. Jangan seperti
orang pandir yang menolak kebenaran setelah kebenaran itu ada di depan mata.
Insya Allah, setelah ini kami akan menjadikanmu sebagai wakil saya.”
Nah, sekarang kening Kardun yang
berkeriut. Jadi para sesepuh ini menganggap dirinya ngamuk karena tidak diberi
jabatan dalam kegiatan mereka.
“Saya
kira pak Kyai salah paham. Saya tidak menginginkan jabatan apapun. Saya hanya
ingin meluruskan kekeliruan yang selama ini terjadi di kampung kita. Karena memang
itulah tugas sebagai sesama muslim.”
“Dengan menggugat wali karena
karomahnya tidak sesuai akal kamu. Begitu?”
Kardun geleng kepala.
“Saya sudah berkali-kali bilang sama
pak Kyai bahwa saya sama sekali tidak menggugat karomah seorang wali. Saya bahkan
sangat percaya bahwa seorang wali pasti diberi keistimewaan oleh Tuhan. Tapi
kita harus kritis. Keajaiban-keajaiban abah saya yang sering kalian bacakan
dalam acara manakib itu semuanya bohong.”
Pak Kyai mengelus dada supaya emosinya tidak
meledak.
“Dibagian mananya yang bohong? Coba katakan
biar kami bisa mengkaji dan meluruskannya.”
“Pak Kyai ini kan sudah sering
menceritakan bahwa bapak saya itu kalo jum’atan di Mekah?.”
“Memang demikianlah kenyataannya,
Dun. Jangan berpikir bagaimana caranya beliau pergi ke Mekah. Buat Allah mudah
saja melipat ruang dan waktu. Tidak ada yang mustahil.”
“Saya percaya. Tapi dalam hal ini
saya rasa pak Kyai sudah melakukan manipulasi.”
“Manipulasi
bagaimana?”
“Apa
pak Kyai tidak pernah berpikir soal perbedaan waktu kita dengan di Mekah. Kalo kita mulai jum’atan jam dua belas terus
pada saat itu di Mekah jam berapa? Nggak mungkin toh waktu Dhuhur kita sama
dengan waktu Dhuhur di Mekah.”
“Buat
kita. Tapi buat Allah mudah.”
“Wah,
pak Kyai ini mengada-ada saja. Tuhan itu kan selain menciptakan iman juga
menciptakan akal. Tujuannya yaitu itu tadi untuk memahami bahwa ayat-ayat-Nya
yang terjadi di buminya ini sudah sesuai aturan yang ditetapkannya. Termasuk
perbedaan waktu itu tadi. Kalau di belahan bumi timur siang, di bagian barat
pasti malam. Itu sudah sunatullah, pak Kyai. Nggak mungkin Tuhan
mengacak-acaknya kembali meskipun Dia sanggup melakukannya.”
“Terus katanya abah saya bisa
menghidupkan orang mati. Seorang wali mungkin saja diberi kemampuan seperti
itu. Tapi apa iya dia melakukannya? Wali itu pasti paham kalo yang namanya mati
nggak bisa dimajukan atau dimundurkan. Kalo udah mati, ya mati aja. Ina lillahi
wa ina ilaihi roji’un. Jangan lantas minta dihidupkan lagi. Bisa-bisa manusia
masuk Syurga semua karena sudah tau seperti apa wujudnya akherat.”
“Tidak ada saksi dan bukti kalo abah saya
pernah menghidupkan orang mati. Siapa orangnya, dimana tinggalnya, kapan
terjadinya. Itu semua cuma karangan buku. Disitulah bedanya buku manakib
karangan pak Kyai dengan hadist nabi yang dari rawi hingga peristiwa yang
terjadi didalamnya jelas dan bisa dipertanggung
jawabkan.”
Muka pak Kyai merah.
“Kamu
sudah keterlaluan, Kardun ! Kalau memang kamu tidak percaya, ya sudah tidak
percaya saja. Jangan mempengaruhi orang lain. Jangan bawa warga kampung
ikut-ikutan sesat seperti kamu !”
“Bener, Kardun. Setan kamu ! Keluar
kamu dari sini, Jangan kotori kesucian mushola kami !” Yang lain berdiri hendak
menggerupyuk Kardun.
Kardun kaget. Ia segera bangkit dan
terbirit-birit lari keluar.
Para orang tua mengejar dan melempari Kardun dengan batu.
Setelah Kardun kabur pak kyai
kemudian berbicara melalui speker bahwa terhitung hari itu si Kardun dilarang
shalat di mushola. Padahal semua juga tahu kalau selama ini si Kardun memang
sudah jarang shalat. *** Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar