Minggu, 08 Mei 2016

Menggugat wali




           Kardun sungguh keterlaluan. Pasalnya kuliah cuma dapat tiga tahun tapi sudah berani-beraninya menggugat seorang wali alias orang suci kekasih Tuhan yang selama ini diagung-agungkan di kampungnya.
            “Dia bukan wali. Dia cuma orang biasa seperti kita yang masih doyan nasi dan kangkung, Darimana kalian tau kalo dia seorang wali? Wali itu yang tahu adalah wali lagi. Berarti kalian ini juga mengaku sebagai wali? Wah, pada sesat semua kalian ini.” Kata Kardun di hadapan para sesepuh yang jadi pengikut sang Wali.
 Para sesepuh yang kesemuanya berjenggot putih serta jemari tangan yang tidak pernah lepas dari tasbih geram dan ingin merobek mulut si Kardun. Menghina mereka masih bisa dimaapkan. Tapi menghina wali sama dengan menyatakan perang kepada Allah.
Namun para sesepuh sadar, semarah apa pun mereka hanya bisa ngegerundel dalam hati. Soalnya, si Kardun adalah cucu dari sang wali itu sendiri. Mereka takut kualat kalau macam-macam.
Sebenarnya sang wali itu sudah puluhan tahun lalu meninggal. Untuk mengenangnya warga lalu membuat acara bernama manakiban dimana dalam acara tersebut mereka membacakan kisah kehidupan dari wali tersebut yang penuh dengan keajaiban.
            Seperti sang wali kalau shalat Jum’at selalu di Mekah. Bisa menghidupkan orang mati. Bisa terbang, dan bisa - bisa lainnya yang semuanya serba ajaib.
            Sebelumnya Kardun tidak tahu apa-apa. Sejak balita dia sudah ikut dengan uwanya di pulau sebrang dan kuliah di sana. Tetapi begitu pulang dan melihat kelakuan orang-orang yang sangat memuja kakeknya, Kardun sewot. Menurutnya itu penyimpangan.
            Pendapat Kardun yang nyeleneh itu disampaikan ke pak Kyai. Pak kyai adalah sesepuh dari para sesepuh di kampung Kardun. Beliau pemimpin acara manakiban tersebut. Semua omongannya selalu di dengar. Putih kata dia, maka jadilah putih. Hitam akan jadi hitam.
             Kardun dipanggil dan diberi wejangan.
            “Kalau ngomong itu ya dipikir dulu dong, Dun. Pake ilmu. Sedikit-sedikit kamu ini pernah ngaji juga. Jangan bikin bingung orang sekampung. Semua orang sekarang ngomongin kamu. Katanya kamu sudah kena aliran sesat yang kayak di tivi-tivi itu.”
            “Bikin bingung gimana, pak Kyai? Saya ini justeru meluruskan paham orang kampung. Koq malah dibilang membingungkan. Justeru yang membingungkan itu kelakuan kalian-kalian ini. Malah mengarang-ngarang cerita soal abah saya yang nggak-nggak. Itu fitnah namanya. Bukan membuat tenang orang yang sudah dikubur. Malah sebaliknya bikin gerah.”
            Pak Kyai geleng kepala sambil beristighfar. Benar-benar si Kardun sudah keblinger. Bukannya senang kakeknya dijadikan panutan, malah mencak-mencak seperti orang tak punya otak.
            Dengan sabar pak Kyai menjelaskan, bahwa yang terjadi kepada kakeknya si Kardun itu adalah karomah, sebuah keistimewaan yang diberikan Allah kepada hambanya yang punya ketaqwaan tinggi. Dan yang namanya karomah semua terjadi diluar akal manusia. Orang meyakininya harus dengan iman bukan batok kepala.
            Bukan hanya manggut-manggut, Kardun bahkan membenarkan omongan pak kyai. Tetapi menurutnya, ketika seseorang berbicara tentang iman, maka dia harus juga mengetahui sejauh mana kebenaran imannya sendiri. Jangan baru punya iman sejengkal tapi sudah membuat paham yang aneh-aneh. Itu namanya sesat dan menyesatkan.
            Pak Kyai tambah gregetan karena si Kardun seperti sengaja meyindirnya. Kalau bukan cucunya wali, si Kardun pasti sudah ditempeleng. Jadi kelakuan si Kardun itu dianggapnya sebagai cobaan. Sama seperti ketika wali songo menghadapi syekh Siti Jenar. Si Kardun cukup diberi wejangan saja.
            Tetapi si Kardun serasa diberi angin. Entah karena merasa benar atau karena tau semua orang segan kepadanya, di luar dia malah semakin giat menceramahi kawan-kawannya yang mayoritas anak-anak muda dan masih bau kencur urusan agamanya.
            Apa yang dibaca dalam acara itu katanya sama sekali tidak membawa manpaat. Malah makin menjauhkan orang dari iman yang sebenarnya. Bayangkan saja, bagaimana orang bisa meneladani kalau yang dikisahkan adalah soal terbangnya sang wali, bisa menghidupkan orang mati, atau yang shalatnya selalu di Mekah, padahal mushola di kampungnya tiap waktu shalat kosong melompong.
            “Saya sih lebih kagum sama kangjeng nabi Muhammad. Misalnya, waktu perang Uhud gigi beliau pernah tanggal kena senjata musuh, kalau kelaparan sama kayak kita, lemes sehingga harus mengikat batu di perutnya waktu lagi shalat. Nggak lantas menyulap batu itu jadi roti. Padahal kalau mau beliau bisa melakukannya.
            “Karena apa, kawan-kawan? Karena Islam itu agama yang rasional bukan agama mistik-mistikan. Kangjeng nabi itu mau mengajarkan kepada umatnya, kalo lapar harus belajar sabar menahannya. Kalo lagi perang, semua orang pasti mengalami luka atau mati. Jangan lantas minta kebal sama Tuhan. Sebab dengan begitu orang jadi nggak menghargai artinya perjuangan. Mentalnya jadi lembek soalnya dia nggak ngalamin gimana pahit getirnya yang namanya proses untuk mencapai kemenangan tersebut.”
            Anak-anak muda yang jadi pendengarnya sambil cengengesan memuji kecerdasan otak si Kardun. Mereka serasa mempunyai idola baru. Hal ini berbeda dengan para orang tuanya yang jadi resah. Soalnya para pemuda yang nota bene merupakan darah dagingnya sendiri itu sudah berani meledek kebiasaan mereka.
            “Bayangkan, pak Kyai, anak saya sekarang malah sudah berani-beraninya membid’ahkan saya. Dari pada membaca manakib katanya kenapa tidak membaca kitab hadist saja. Padahal anak saya itu baca Qur’an aja nggak pernah.” Lapor salah seorang warga.
            Pak Kyai mengucap istighfar. Ia lalu menyitir sebuah hadist yang menjelaskan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat adalah anak-anak muda yang berbicara agama tanpa ilmu. Perkataan mereka seperti anak panah yang keluar dari busurnya padahal keimanannya tidak sampai melewati tenggorokan.
            “Si Kardun itulah contohnya. Kalian jangan dengar omongannya. Dia harus kita adili karena sudah menyesatkan umat.”
            “Tapi gimana cara ngadilinnya, pak Kyai?”
            “Ya seperti di pengadilan begitu. Siapa yang salah harus dihukum dan berjanji tidak akan melakukan lagi kesalahannya. Kalau perlu dia harus usir dari kampung ini. Sebab kalau tidak, maka pemikirannya itu akan membuat kita semua jadi sesat dan ujung-ujungnya kalian semua masuk neraka. Mau?”
            “Tapi apa nggak kualat kalau kita melakukan itu? Si Kardun itu kan cucunya wali.”
            “Meski pun dia cucunya wali, tapi kalau akidah dan pemikirannya sudah bersebrangan maka tidak ada lagi ikatan keluarga. Seorang sahabat Nabi bahkan sampe membunuh bapaknya yang kafir dalam sebuah peperangan. Jadi yang kita lakukan ini sama sekali tidak salah.”
            Mendengar ucapan pak kyai para sesepuh setuju untuk mengadili si Kardun.
Pak Kyai senang. Dari kemarin ia mencari akal bagaimana caranya menyingkirkan si Kardun. Sejak bocah kemarin sore itu bicara macam-macam pak Kyai merasa kalau posisinya sebagai orang yang dituakan, dan dihormati, mulai bergulir menuju jurang yang paling pinggir.
Di kalangan kaum tua pendapat si Kardun memang hanya dianggap sampah. Tapi kaum tua makin kesini, makin banyak yang mati. Sementara anak-anak muda yang mendukung si Kardun kian berkecambah seperti pohon toge yang jumlahnya terus bertambah.
Pak Kyai berusaha membujuk anak-anak muda itu supaya mau masuk ke dalam lingkarannya. Namun rupanya anak muda jaman sekarang tidak mempan kalau hanya dicekoki oleh cerita-cerita mistik yang aneh-aneh. Mereka senangnya dengan segala sesuatu yang berbau perlawanan terhadap nilai-nilai yang sudah mapan. Seperti al Qaeda atau ISIS. Maka tidak aneh kalau keberadaan si Kardun jadi seperti Pahlawan di mata mereka.
            Harus secepatnya dibendung !
            Dengan cara yang sopan, melalui surat tertulis, kemudian si Kardun yang tiap hari mangkal di prapatan diundang ke mushola. Kardun datang memenuhi undangan itu dengan hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans belel. Sementara para sesepuh semuanya mengenakan baju putih dan sorban panjang, Ketika Kardun menyalaminya, uluran tangannya agak kurang hangat diterima. Kardun tidak sakit hati. Ia duduk di pojokan.
“Jadi begini, Kardun,” Pak Kyai sudah tak sabar.
“Tampaknya kamu ini sedang punya ketidak puasan terhadap kami. Kami mohon maap bila selama ini tidak pernah mengajakmu dalam acara manakiban itu. Bukan kami tidak menghargai kamu sebagai cucu dari sang wali. Tapi segala sesuatu itu kan harus nunggu waktu yang tepat. Kangjeng nabi saja diangkat jadi Rasul setelah usia empat puluhan.”
“Kami ini sengaja nunggu kamu matang dulu. Agar jasmani dan rohanimu siap. Tapi sepertinya kamu nggak sabaran. Kakek kamu yang wali itu sudah sangat diagungkan oleh orang sekampung. Kenapa kamu malah menjelek-jelekannya? Itu bukan hanya tidak hormat sama orang tua, tapi juga kamu tidak menghargai tradisi yang sudah berjalan disini.”
            “Jadi maksud kami sekarang adalah untuk mengingatkanmu sebelum kebablasan lebih jauh. Bertobatlah. Jangan seperti orang pandir yang menolak kebenaran setelah kebenaran itu ada di depan mata. Insya Allah, setelah ini kami akan menjadikanmu sebagai wakil saya.”
            Nah, sekarang kening Kardun yang berkeriut. Jadi para sesepuh ini menganggap dirinya ngamuk karena tidak diberi jabatan dalam kegiatan mereka.
            “Saya kira pak Kyai salah paham. Saya tidak menginginkan jabatan apapun. Saya hanya ingin meluruskan kekeliruan yang selama ini terjadi di kampung kita. Karena memang itulah tugas sebagai sesama muslim.”
            “Dengan menggugat wali karena karomahnya tidak sesuai akal kamu. Begitu?”
            Kardun geleng kepala.
            “Saya sudah berkali-kali bilang sama pak Kyai bahwa saya sama sekali tidak menggugat karomah seorang wali. Saya bahkan sangat percaya bahwa seorang wali pasti diberi keistimewaan oleh Tuhan. Tapi kita harus kritis. Keajaiban-keajaiban abah saya yang sering kalian bacakan dalam acara manakib itu semuanya bohong.”
             Pak Kyai mengelus dada supaya emosinya tidak meledak.
            “Dibagian mananya yang bohong? Coba katakan biar kami bisa mengkaji dan meluruskannya.”
            “Pak Kyai ini kan sudah sering menceritakan bahwa bapak saya itu kalo jum’atan di Mekah?.”
            “Memang demikianlah kenyataannya, Dun. Jangan berpikir bagaimana caranya beliau pergi ke Mekah. Buat Allah mudah saja melipat ruang dan waktu. Tidak ada yang mustahil.”
            “Saya percaya. Tapi dalam hal ini saya rasa pak Kyai sudah melakukan manipulasi.”
“Manipulasi bagaimana?”
“Apa pak Kyai tidak pernah berpikir soal perbedaan waktu kita dengan di Mekah.  Kalo kita mulai jum’atan jam dua belas terus pada saat itu di Mekah jam berapa? Nggak mungkin toh waktu Dhuhur kita sama dengan waktu Dhuhur di Mekah.”
“Buat kita. Tapi buat Allah mudah.”
“Wah, pak Kyai ini mengada-ada saja. Tuhan itu kan selain menciptakan iman juga menciptakan akal. Tujuannya yaitu itu tadi untuk memahami bahwa ayat-ayat-Nya yang terjadi di buminya ini sudah sesuai aturan yang ditetapkannya. Termasuk perbedaan waktu itu tadi. Kalau di belahan bumi timur siang, di bagian barat pasti malam. Itu sudah sunatullah, pak Kyai. Nggak mungkin Tuhan mengacak-acaknya kembali meskipun Dia sanggup melakukannya.”
            “Terus katanya abah saya bisa menghidupkan orang mati. Seorang wali mungkin saja diberi kemampuan seperti itu. Tapi apa iya dia melakukannya? Wali itu pasti paham kalo yang namanya mati nggak bisa dimajukan atau dimundurkan. Kalo udah mati, ya mati aja. Ina lillahi wa ina ilaihi roji’un. Jangan lantas minta dihidupkan lagi. Bisa-bisa manusia masuk Syurga semua karena sudah tau seperti apa wujudnya akherat.”
             “Tidak ada saksi dan bukti kalo abah saya pernah menghidupkan orang mati. Siapa orangnya, dimana tinggalnya, kapan terjadinya. Itu semua cuma karangan buku. Disitulah bedanya buku manakib karangan pak Kyai dengan hadist nabi yang dari rawi hingga peristiwa yang terjadi didalamnya jelas dan bisa  dipertanggung jawabkan.”
            Muka pak Kyai merah.
“Kamu sudah keterlaluan, Kardun ! Kalau memang kamu tidak percaya, ya sudah tidak percaya saja. Jangan mempengaruhi orang lain. Jangan bawa warga kampung ikut-ikutan sesat seperti kamu !”
            “Bener, Kardun. Setan kamu ! Keluar kamu dari sini, Jangan kotori kesucian mushola kami !” Yang lain berdiri hendak menggerupyuk Kardun.
            Kardun kaget. Ia segera bangkit dan terbirit-birit lari keluar.
            Para orang tua  mengejar dan melempari Kardun dengan batu.
            Setelah Kardun kabur pak kyai kemudian berbicara melalui speker bahwa terhitung hari itu si Kardun dilarang shalat di mushola. Padahal semua juga tahu kalau selama ini si Kardun memang sudah jarang shalat. *** Tamat


           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar