Rabu, 11 Mei 2016

BLT : riwayatmu dulu




            Karena di tahun ini Presiden Indonesia sudah berganti, maka tidak ada salahnya kalau kita sedikit menengok kenangan masa silam. Yaitu saat untuk pertama kalinya muncul mahluk yang bernama BLT dan menjadi rebutan jutaan rakyat Indonesia. Waktu itu, semua rakyat Indonesia mendadak jadi jatuh miskin karena ingin mendapatkan BLT yang pertiga bulannya sebesar tiga ratus ribu rupiah.
            Pertamanya memang gara-gara si BBM.
Akhirnya setelah maju-mundur dan mundur-maju, BBM dinaikan juga. Rakyat miskin kian sengsara. Sebab siapapun juga tahu, kalau harga BBM dinaikan maka segala kebutuhan pokok bahkan yang tidak pokok sekali pun, akan ikut-ikutan naik.
Hal tersebut disadari benar oleh tim penasehat Presiden. Itu sebabnya sebelum BBM dinaikan mereka mengadakan rapat dulu untuk memberikan masukan kepada Presiden.
“Bagaimana pun kenaikan harga BBM ini pasti akan menimbulkan gejolak di kalangan rakyat kecil. Dan situasi tersebut bisa dimanpaatkan oleh partai oposisi untuk menurunkan tingkat kredibelitas Presiden di mata rakyat. Maka kami mengusulkan kepada Presiden, untuk meredam aksi-aksi yang mungkin nanti akan timbul perlu diberi semacam iming-iming yang bernama BLT. Ada pun setelah nanti situasinya terkendali, BLT ini akan kembali kita masukan ke dalam kandangnya.” Kata Dewan penasehat Presiden.
Tanpa berpikir dua kali Presiden langsung menyetujui ide tersebut. Maka BLT pun di sebar kepada seluruh rakyat miskin. Semua orang, yaitu rakyat miskin, rakyat yang tidak miskin, Politikus, tukang suap, anggota dewan, Lsm, koruptor termasuk juga keluarganya, menyambut kedatangan si BLT dengan gegap gempita.
Televisi menyiarkannya. Koran-koran memuat beritanya. Semua tokoh berbicara mengenainya.
Si BLT pun menjadi popular.
            Beberapa bulan kemudian Presiden melakukan kunjungan ke sebuah perkampungan miskin untuk meninjau sejauh mana BLT tersebut tepat sasaran. Alangkah terkejutnya Presiden saat mengetahui ternyata BLT-nya sudah dikorupsi oleh bawahannya. Ada yang katanya untuk administrasi, pembangunan jalan desa, untuk dibagi kepada rakyat miskin lain yang tidak kebagian, dan alasan-alasan lainnya yang semuanya serba masuk akal.
            Mengetahui kejadian itu Presiden menangis berurai air mata. Di hadapan para warga miskin itu ia berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut. Mendengar itu maka rakyat miskin pun ikut menangis.
            “Kalian tidak perlu sedih. BLT tahap dua akan segera menyusul,” Hibur Presiden.
            “Kami menangis bukan karena itu, pak,” Kata seorang warga tiba-tiba memberanikan diri.
            “Terus karena apa?”
            Warga menjawab.
            “BLT bapak baru sekali dikorupsi dan bapak menangis. Sementara kami lima tahun jadi rakyat bapak dan setiap hari duit kami dikorupsi. Bagaimana kami tidak menangis?”
Saya juga menangis. Tapi bukan karena BLT juga bukan karena korupsi. Melainkan kenapa malah bapak lagi yang jadi Presiden saya.

BLT TAHAP II
           
Setelah kunjungan ke kampung miskin beberapa waktu berselang, Presiden Indonesia benar-benar menepati janjinya untuk melaksanakan pembagian BLT tahap II. Tetapi entah kebetulan entah bukan, pembagian BLT tahap II itu waktunya ternyata bertepatan dengan datangnya musim kampanye pemilihan Presiden tahun 2009.
            Namun rakyat miskin tidak peduli. Buat mereka yang penting adalah urusan perut terpenuhi. Soal tetek - bengek politik masa bodoh!
            Ini berbeda dengan partai oposisi yang warnanya merah Dari pertama begitu getol menolak kenaikan harga BBM. Lebih getol dari rakyat miskinnya sendiri. Partai oposisi justeru curiga bahwa bagi-bagi BLT yang waktunya bertepatan dengan musim pemilu tersebut akan dimanpaatkan sebagai kampanye terselubung atau politik duit.
            Jadi untuk menyikapi peristiwa politik tersebut mereka kemudian mengadakan rapat tertutup.
            “Kita wajib curiga bahwa pembagian BLT tahap II ini  sebenarnya hanya untuk menarik simpati rakyat saja supaya dalam pemilu kali ini rakyat memilih Presiden yang itu-itu juga. Jadi kita akan menugaskan kader-kader kita di kantor-kantor pos yang melaksanakan pembagian BLT untuk melakukan pengawasan supaya tidak terjadi kecurangan. Kegiatan ini pasti akan disorot oleh televisi sehingga secara tidak langsung pamor kita sebagai partai wong cilik akan ikut terangkat. Partai kitalah yang akhirnya akan meraih simpati masyarakat.” Demikian pidato singkat dari sang ketua umum yang kemudian ditutup dengan teriakan merdeka sambil mengacungkan tinjunya.
            Instruksi itu langsung dilaksanakan oleh para petugas partainya. Mereka menyebar dibeberapa kantor pos di Jakarta yang melakukan pembagian BLT.
            Seperti yang sudah diperkirakan, kegiatan itu diliput oleh banyak stasiun televisi dan wartawan koran. Sambil disorot oleh kamera tivi, sang pimpinan partai oposisi melakukan dialog dengan rakyat miskin yang sedang antri berbaris.
            “Bagaimana keadaan sekarang? Tambah susah apa tambah senang?” Tanya pimpinan partai.
            “Tambah susah. Harga beras terus-terusan naik.”
            Sang ketua partai tersenyum senang mendengar jawaban tersebut. Ia bertanya lagi kepada yang lain.
            “Bagaimana keadaan sekarang? Tambah susah apa tambah senang?”
            “Tambah susah. Harga sembako terus-terusan naik.”
            Sang ketua partai tersenyum senang lagi mendengar jawaban tersebut. Aneh juga. Tapi mari kita teruskan.
            “Bagaimana keadaan sekarang? Tambah susah apa tambah senang?”
            “Tambah senang.” Kali ini orang yang ditanya menjawab lain.
            Pimpinan partai kaget mendengar jawaban tersebut.
            “Maksudnya tambah senang bagaimana?”
            “Ya, tambah senang. Karena akhirnya cita-cita saya masuk tivi bisa kesampaian,” Orang itu menjawab sambil mengacungkan jarinya membentuk hurup V ke arah kamera yang terus menyorotnya.

            Kata tetangga saya yang curigaan, BLT sudah puluhan kali dibagiin kenapa baru nongol sekarang?
               Tidur, Bu...?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar