Karena di tahun ini Presiden
Indonesia sudah berganti, maka tidak ada salahnya kalau kita sedikit menengok
kenangan masa silam. Yaitu saat untuk pertama kalinya muncul mahluk yang
bernama BLT dan menjadi rebutan jutaan rakyat Indonesia. Waktu itu, semua rakyat
Indonesia mendadak jadi jatuh miskin karena ingin mendapatkan BLT yang pertiga
bulannya sebesar tiga ratus ribu rupiah.
Pertamanya memang gara-gara si BBM.
Akhirnya
setelah maju-mundur dan mundur-maju, BBM dinaikan juga. Rakyat miskin kian
sengsara. Sebab siapapun juga tahu, kalau harga BBM dinaikan maka segala kebutuhan
pokok bahkan yang tidak pokok sekali pun, akan ikut-ikutan naik.
Hal
tersebut disadari benar oleh tim penasehat Presiden. Itu sebabnya sebelum BBM
dinaikan mereka mengadakan rapat dulu untuk memberikan masukan kepada Presiden.
“Bagaimana
pun kenaikan harga BBM ini pasti akan menimbulkan gejolak di kalangan rakyat
kecil. Dan situasi tersebut bisa dimanpaatkan oleh partai oposisi untuk
menurunkan tingkat kredibelitas Presiden di mata rakyat. Maka kami mengusulkan
kepada Presiden, untuk meredam aksi-aksi yang mungkin nanti akan timbul perlu
diberi semacam iming-iming yang bernama BLT. Ada pun setelah nanti situasinya
terkendali, BLT ini akan kembali kita masukan ke dalam kandangnya.” Kata Dewan
penasehat Presiden.
Tanpa
berpikir dua kali Presiden langsung menyetujui ide tersebut. Maka BLT pun di
sebar kepada seluruh rakyat miskin. Semua orang, yaitu rakyat miskin, rakyat
yang tidak miskin, Politikus, tukang suap, anggota dewan, Lsm, koruptor
termasuk juga keluarganya, menyambut kedatangan si BLT dengan gegap gempita.
Televisi
menyiarkannya. Koran-koran memuat beritanya. Semua tokoh berbicara mengenainya.
Si
BLT pun menjadi popular.
Beberapa bulan kemudian Presiden
melakukan kunjungan ke sebuah perkampungan miskin untuk meninjau sejauh mana
BLT tersebut tepat sasaran. Alangkah terkejutnya Presiden saat mengetahui
ternyata BLT-nya sudah dikorupsi oleh bawahannya. Ada yang katanya untuk
administrasi, pembangunan jalan desa, untuk dibagi kepada rakyat miskin lain
yang tidak kebagian, dan alasan-alasan lainnya yang semuanya serba masuk akal.
Mengetahui kejadian itu Presiden menangis
berurai air mata. Di hadapan para warga miskin itu ia berjanji akan mengusut
tuntas kasus tersebut. Mendengar itu maka rakyat miskin pun ikut menangis.
“Kalian tidak perlu sedih. BLT tahap
dua akan segera menyusul,” Hibur Presiden.
“Kami menangis bukan karena itu,
pak,” Kata seorang warga tiba-tiba memberanikan diri.
“Terus karena apa?”
Warga menjawab.
“BLT bapak baru sekali dikorupsi dan
bapak menangis. Sementara kami lima tahun jadi rakyat bapak dan setiap hari
duit kami dikorupsi. Bagaimana kami tidak menangis?”
Saya juga menangis. Tapi bukan
karena BLT juga bukan karena korupsi. Melainkan kenapa malah bapak lagi yang
jadi Presiden saya.
BLT TAHAP II
Setelah
kunjungan ke kampung miskin beberapa waktu berselang, Presiden Indonesia
benar-benar menepati janjinya untuk melaksanakan pembagian BLT tahap II. Tetapi
entah kebetulan entah bukan, pembagian BLT tahap II itu waktunya ternyata
bertepatan dengan datangnya musim kampanye pemilihan Presiden tahun 2009.
Namun rakyat miskin tidak peduli.
Buat mereka yang penting adalah urusan perut terpenuhi. Soal tetek - bengek
politik masa bodoh!
Ini berbeda dengan partai oposisi
yang warnanya merah Dari pertama begitu getol menolak kenaikan harga BBM. Lebih
getol dari rakyat miskinnya sendiri. Partai oposisi justeru curiga bahwa
bagi-bagi BLT yang waktunya bertepatan dengan musim pemilu tersebut akan
dimanpaatkan sebagai kampanye terselubung atau politik duit.
Jadi untuk menyikapi peristiwa
politik tersebut mereka kemudian mengadakan rapat tertutup.
“Kita wajib curiga bahwa pembagian
BLT tahap II ini sebenarnya hanya untuk
menarik simpati rakyat saja supaya dalam pemilu kali ini rakyat memilih
Presiden yang itu-itu juga. Jadi kita akan menugaskan kader-kader kita di
kantor-kantor pos yang melaksanakan pembagian BLT untuk melakukan pengawasan
supaya tidak terjadi kecurangan. Kegiatan ini pasti akan disorot oleh televisi
sehingga secara tidak langsung pamor kita sebagai partai wong cilik akan ikut
terangkat. Partai kitalah yang akhirnya akan meraih simpati masyarakat.”
Demikian pidato singkat dari sang ketua umum yang kemudian ditutup dengan
teriakan merdeka sambil mengacungkan tinjunya.
Instruksi itu langsung dilaksanakan
oleh para petugas partainya. Mereka menyebar dibeberapa kantor pos di Jakarta
yang melakukan pembagian BLT.
Seperti yang sudah diperkirakan, kegiatan
itu diliput oleh banyak stasiun televisi dan wartawan koran. Sambil disorot
oleh kamera tivi, sang pimpinan partai oposisi melakukan dialog dengan rakyat
miskin yang sedang antri berbaris.
“Bagaimana keadaan sekarang? Tambah
susah apa tambah senang?” Tanya pimpinan partai.
“Tambah susah. Harga beras
terus-terusan naik.”
Sang ketua partai tersenyum senang
mendengar jawaban tersebut. Ia bertanya lagi kepada yang lain.
“Bagaimana keadaan sekarang? Tambah
susah apa tambah senang?”
“Tambah susah. Harga sembako
terus-terusan naik.”
Sang ketua partai tersenyum senang
lagi mendengar jawaban tersebut. Aneh juga. Tapi mari kita teruskan.
“Bagaimana keadaan sekarang? Tambah
susah apa tambah senang?”
“Tambah senang.” Kali ini orang yang
ditanya menjawab lain.
Pimpinan partai kaget mendengar
jawaban tersebut.
“Maksudnya tambah senang bagaimana?”
“Ya, tambah senang. Karena akhirnya
cita-cita saya masuk tivi bisa kesampaian,” Orang itu menjawab sambil
mengacungkan jarinya membentuk hurup V ke arah kamera yang terus menyorotnya.
Kata
tetangga saya yang curigaan, BLT sudah puluhan kali dibagiin kenapa baru nongol
sekarang?
Tidur, Bu...?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar