Senin, 05 Desember 2016

Salindri



Satpam yang masih muda itu mempersilahkannya untuk duduk di bangku kayu yang licin di bawah sebatang pohon palem hias yang tinggi menjulang. Tengah hari saat itu. Sinar matahari pedas membakar kulit.

“Non Lindri sedang menerima tamu. Jadi ibu tunggu saja sebentar lagi.” Katanya.
Mak Surti mengiyakan.
Pak satpam lalu menyuguhkan segelas air dingin untuk tamunya.
“Silahkan diminum, bu. Maap cuma air aja.”
“Iya, pak satpam. Terima kasih. Emak habiskan, ya? Habis emak haus sekali.
“Iya, bu. Silahkan, nggak apa-apa.
Mak Surti benar-benar menghabiskan air minum itu dalam sekali teguk. Tubuh tuanya terasa segar dan bertenaga lagi. Ia lalu buka bekalnya yang berupa beberapa potong singkong rebus. Ditawarinya pak satpam,  yang ditolak secara halus.
            Mata pak satpam sempat jelalatan ke jalan. Siapa tau ada tukang gorengan sehingga ia bisa membelikan beberapa untuk tamunya. Harapannya nihil. Akhirnya pak satpam hanya bisa memperhatikan saja mak Surti yang tampak sangat menikmati makanannya.
            Selesai makan, mak Surti lalu tatap rumah megah di hadapannya dengan kekaguman yang meronta-ronta dari kedua bola matanya.
            Rumah itu bertingkat dua dan berwarna putih bersih. Halaman depannya berupa taman yang dihiasi aneka rupa kekembangan. Beberapa Cemara gunung berjajar di pojokannya.
            Rasanya mak Surti tak Percaya. Salindri yang dulu merantau hanya membawa duit beberapa puluh ribu sekarang sudah sekaya ini. Bapa pasti senang kalau melihatnya.
            “Maap, bu. Bukannya saya tidak percaya. Apa benar ibu ini ibunya non Lindri?” Suara pak satpam tiba-tiba memutus lamunan mak Surti.
            Mak Surti mengiyakan tanpa menunjukan perasaan tersinggung.
            “Sekali lagi maap, bu,” Kata pak satpam. Tetapi menurutnya siapa pun pasti tidak akan percaya kalau perempuan tua berpakaian lusuh ini adalah ibunya Salindri. Salindri yang selebritis terkenal. Masa anaknya sekaya ini tapi ibunya kere.
            Mak Surti tak ambil pusing. Ia memang tahu kalau anaknya itu sekarang sudah jadi penyanyi terkenal. Mak Surti pernah menontonnya sekali di tivi milik tetangganya. Rasanya tak percaya melihatnya kalau yang sedang jejingkrakan di dalam kotak kaca itu adalah anaknya.
            Ternyata sudah berubah jauh. Rambutnya yang hitam sepinggang sudah pendek sebahu. Sementara kerudungnya yang dulu tidak pernah lepas, sekarang entah sudah terbang kemana.
            Kata tetangganya artis memang begitu. Justru kalau tidak begitu tidak akan laku.
Mereka mempantaskan saja kalau Salindri jadi penyanyi. Karena dari sejak SD anak itu memang sudah pintar nyanyi. Tiap waktu samen-pesta kenaikan kelas- Salindri tidak pernah absen naik ke panggung.
Lagu Satu-Satu Aku Sayang Ibu atau Balonku Ada Lima seperti bergema lagi di telinga mak Surti.
            Baginya Salindri demikian istimewa. Si bungsu itu merupakan jawaban atas doa-doanya agar gusti Allah mengkaruniakan ke tengah-tengah keluarga mereka seorang anak perempuan setelah dua orang kakaknya semua laki-laki.
Apa saja keinginan Salindri dituruti. Padahal usaha mak Surti hanya jualan kue serabi keliling kampung.
“Emak ingin tau, pak satpam. Apa tiap yang mau ketemu Salindri harus nunggu seperti ini?” Tanya mak Surti. Dalam hati dia merasa aneh. Masa mau ketemu anak sendiri harus nunggu seperti orang yang mau berobat ke dokter?
“Benar, bu. Salindri itu kan artis terkenal. Banyak yang ingin menemuinya. Kalau nggak diatur seperti ini dia sendiri yang jadi repot.”
“Oh, gitu. Emang dia sibuk terus?”
Pak Satpam membenarkan. Apalagi, katanya, kalau sedang ada panggilan nyanyi di tivi. Sering pulang sampai pagi.
Padahal di kampung jam delapan malam saja anak perawan sudah tidak boleh keluyuran di luar rumah, gumam mak Surti masygul.
            “Tapi dia masih suka ngaji kan?”
            “Maksud ibu ngaji di langgar seperti di kampung-kampung begitu?”
            Mak Surti menganggukan kepalanya.
            Pak satpam tertawa lebar.
            “Artis itu sibuk, bu. Kerjaannya tiap hari nyanyi. Mana ada waktu buat ngaji. Artis itu paling ngajinya sama artis lagi. Itu juga buat keperluan acara tivi. Bukan ngaji betulan membaca al Qur’an atau belajar tajwid.”
            Mak Surti terdiam. Pantas saja dulu ia amat berat melepas kepergian Salindri. Rupanya akan seperti ini jadinya.
            Benar kata orang. Anak gadis jauh dari rumah kebanyakan jadi Bengal. Sulit diatur. Maunya bebas kelayapan.      
            Duh, bagaimana kalau misalnya Salindri jadi korban kejahatan? Seperti yang ada di tivi-tivi itu. Harusnya anak itu pulang saja. Di rumah tentu lebih aman. Soal nyari duit, itu bisa usaha apa saja. Dagang kue kecil-kecilan pun jadi.
            Mak Surti masih ingat. Salindri paling suka kue serabi yang dicampur telor.
            Dulu, hampir tiap hari mak Surti membuatkannya. Sekarang pun buntalan yang dibawanya berisi kue tersebut.
            Salindri pasti senang dibawakan kue kegemarannya.
            Sedang asik melamun, dari dalam rumah Salindri tiba-tiba keluar beberapa orang yang menyandang kamera.
            Kata pak satpam itu tamu-tamu Salindri. Wartawan yang habis mewawancarainya.
            “Sekarang ibu bisa menemui non Lindri. Ayo, bu.” Ajak pak satpam.
            Dada mak Surti terasa lega. Dengan tak sabar ia berdiri. Didekapnya buntalan berisi kue serabi telor oleh-oleh untuk anak bungsunya itu. Sudah tak sabar ia ingin segera melihat. Seperti apakah Salindri sekarang? Pasti cantik sekali karena sudah jadi artis.
            Pak satpam mengantarkan mak Surti hanya sampai pintu depan.
            “Ibu masuk saja. Non Lindri  menunggu di dalam.”
            Mak Surti mengangguk. Terlebih dulu ia copot sepasang sandal jepitnya yang sebelah talinya bahkan hampir putus. Lantai marmer yang dingin ia tapaki dengan perasaan takut. Takut tergelincir, takut juga kakinya yang dekil akan mengotori.
            Bagian dalam rumah Salindri terasa sejuk. Dindingnya berwarna hijau muda. Banyak poto-poto Salindri tergantung di sana. Ingin mak Surti menatapnya berlama-lama sebagai pertanda kekangenannya. Tapi hal itu tidak bisa dilakukannya.
            Karena begitu masuk juga, mata mak Surti langsung melihat sepasang muda-mudi duduk di sofa yang panjang.
            Yang satu seorang jejaka perlente mengenakan kemeja dan jas. Seperti orang kantoran. Sedang yang duduk di sisinya adalah seorang gadis berambut ikal sebahu. Kulitnya putih bersih. Matanya bulat. Sepasang anting-anting berbentuk lingkaran menggelantung di kupingnya yang mungil.
            Cantik sekali. Dan mak Surti langsung mengenalinya.
Itulah dia !
Salindrinya yang dia impikan siang malam !
Ingin rasanya mak Surti menghambur saat itu juga untuk memeluknya. Namun satu kalimat dari Salindri membuat sepasanng kaki mak Surti serasa dipakukan ke lantai.
“Silahkan duduk, bu.”
Ibu.
Anak itu memanggilnya dengan sebutan ibu. Bukan emak seperti kebiasaannya waktu masih di kampung. Dan Salindri pun tetap duduk di kursinya tanpa berdiri menyambut kedatangannya.
Ada sesuatu yang kosong di dalam dada Mak Surti. Semacam rasa kehilangan terhadap sesuatu yang selama ini menjadi kekuatan jiwanya.
Ia duduk dengan perasaan mengambang. Didengarnya lagi Salindri berkata kepada teman jejakanya.
“Kenalkan, mas. Ini ibu Surti dari kampung. Ibu angkat saya.”
Detik itu juga, mak Surti merasakan lantai dibawah kakinya seperti bergoyang. Hatinya terasa retak.
Benar.
Salindri memang hanya anak angkat. Tapi perlukah hal itu dikatakan mengingat ia sendiri tidak pernah membeda-bedakan. Bahkan kasih sayangnya kepada Salindri amatlah berlebihan.
Perlahan ada rasa hangat menjalar di kelopak mata mak Surti.
Sebuah kenangan pun melintas. Yaitu waktu Salindri keukeuh ingin mencari kerja di kota. Mak Surti melarangnya. Dan entah setan mana yang tiba-tiba membuka rahasia itu.
Ada yang memberitahukan kalau Salindri sebenarnya hanya anak angkat saja. Berita itu tidak lantas membuat Salindri berterima kasih karena sudah ada yang mengasuh serta merawatnya. Sebaliknya kemarahan Salindri meledak.
Ia merasa dibohongi. Mak Surti sudah merenggut dirinya dari keluarganya sendiri. Padahal berkali-kali mak Surti menjelaskan kalau kedua orang tua Salindri sudah meninggal waktu Salindri sendiri masih berupa bayi merah.
Salindri minggat. Menurutnya mak Surti tidak punya hak melarang-larang dirinya. Padahal mak Surti tidak bermaksud menyembunyikan. Ia hanya akan membuka jati diri Salindri kalau anak itu sudah cukup dewasa.
“Maap, ibu ada keperluan apa ya datang kemari?” Suara Salindri memutus lamunan mak Surti.
Mak Surti bingung. Perlukah ia katakan,
Emak hanya kangen ingin ketemu kamu, Lindri. Ini emak bawakan serabi telor kesukaanmu. Kapan kamu akan pulang?
“Ti.. tidak, Lindri. Emak, eh ibu hanya ingin nengok kamu. Takut kamu kenapa-kenapa.” Kaku sekali lidah mak Surti saat melapalkan kata ibu itu. Pudar segala gambaran yang sudah diangan-angankannya .
Bahwa kalau ketemu Salindri ia akan memeluk sepuasnya.
Akan menciuminya.
Sekarang anaknya itu duduk begitu dekat di sisinya. Tapi jangankan memeluk, untuk menyentuh pun mak Surti tidak memiliki keberanian.
Terasa ada jarak yang membentang di antara mereka.
“Saya baik-baik saja, bu. Maap, saya nggak bisa nemuin lama-lama. Habis sibuk, sih.”
“Iya, kalo kamu sibuk, Ibu lebih baik permisi saja.”
Mak Surti berdiri dengan perasaan ngenes. Ditujunya pintu dengan hati yang berkeping. Berusaha untuk tidak menangis. Betapa singkatnya pertemuan yang dia angan-angankan akan berlangsung penuh kehangatan itu.
Pak satpam sudah menunggunya di luar.
Beriringan mereka menuju ke pintu pagar.
Mak Surti tiba-tiba bergumam seperti bicara kepada dirinya sendiri.
“Anak itu sekarang sudah berubah. Untuk emaknya ini pun dia sekarang sudah tidak punya waktu. Mungkin dia malu, ya pak satpam, punya emak miskin seperti ini.”
Pak satpam melirik. Melihat mata mak Surti yangn berkaca-kaca, tahulah ia apa yang terjadi.
“Saya mengerti apa yang ibu rasakan. Tapi seperti apa pun sikap non Lindri, ibu jangan menangis. Karena satu tetes saja air mata ibu jatuh itu akan menghancurkan seluruh kebahagiaan non Lindri. Ibu tidak ingin itu terjadi kan? Ibu harus sabar. Doakan saja agar suatu saat non Lindri bisa menerima ibu apa adanya.”
Mak Surti seolah tersadar. Omongan pak satpam seperti air dingin yang mengguyur kepalanya.  
Cepat mak Surti susut kedua matanya. Lalu ia angsurkan kue serabi telor yang tadinya akan ia berikan untuk anaknya itu.
“Pak satpam benar. Bagi seorang ibu melihat anaknya bahagaia saja itu sudah cukup. Kue ini untuk pak satpam saja. Tadinya buat Salindri. Tapi barangkali anak itu sekarang sudah tidak suka kue kampung seperti ini.”
Pak satpam menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa ia menyelipkan selembar uang dua puluh ribuan ke tangan mak Surti.
“Untuk nambahin ongkos mobil, bu. Mudah-mudahan cukup.” *** Tamat.

Minggu, 02 Oktober 2016

MUSLIHAT TENDER DI GEDUNG RAKYAT




 Gusdur memang hebat. Dengan kondisi fisiknya yang ‘sederhana dan bersahaja’ itu dia akhirnya oleh kelompok politik Poros Tengah made in Amin Rais berhasil dinobatkan menjadi Presiden RI setelah melalui pertarungan sengit di DPR. Sepak terjang serta omongannya kerap menimbulkan kontroversi. Salah satunya adalah ketika dia mengatakan bahwa DPR itu seperti Play Group alias taman kanak-kanak karena ketidak dewasaannya dalam menyikap aspirasi rakyat.
            Maksudnya, mereka itu kalau sudah punya keinginan maunya di iyain aja. Kalau tidak, maka mereka akan ngambek. Nah, salah satunya adalah keinginan untuk punya gedung DPR yang baru yang memerlukan anggaran sekitar satu trilyun koma sekian.
            Rakyat tentu saja protes. Tapi seperti kata pepatah, Kafilah menggonggong, Anjing tetaplah berlalu. Maka, gedung baru DPR pun siap dibangun. Dibentuklah panitia tendernya.
            Lantas dengan penuh rasa bahagia dan suka cita diadakanlah tender dengan beberapa perusahaan nasional dan internasional.
            Tidak sebagaimana lajimnya tender, tender kali ini dilakukan dalam ruangan tertutup dan setiap perusahaan cukup mengirimkan wakilnya saja  untuk menjalani tes oleh panitia tender.
            “Perusahaan China !” Panitia tender berteriak.
            Seorang pria pendek dan bermata agak sipit, ditemani sekretarisnya, seorang wanita tinggi semampai yang tampak terpelajar tergopoh-gopoh memasuki ruangan.
            “Silahkan duduk. Kami akan segera memulai tes.” Kata panitia tender.
            “Terima kasih, pak.”
            Dari belakang mejanya panitia tender mengeluarkan beberapa lembar kertas. Selembar diantaranya diserahkan kepada pihak dari perusahaan China itu.
            “Tes ini sederhana saja. Anda tinggal memberikan jawaban yang benar untuk pertanyaan di atas kertas ini.”
            Orang China itu memeriksa lembar pertanyaan tes yang diserahkan ke hadapannya. Nah, keningnya langsung berlipat-lipat seperti hendak menggulung dengan sendirinya. Dia pantas untuk heran. Tadinya ia dan sekretarisnya sudah membayangkan akan diberi tes yang rumit yang berhubungan dengan perusahaan atau proyek yang akan menjadi garapannya. Ternyata yang tertera di atas kertas hanya..
            5+5 =……?
            Sesaat orang China dan sekretarisnya saling tengok-tengokan.
            “Apa ini nggak salah, pak?” Orang China itu meminta klarifikasi.
            “Oh, sama sekali tidak. Memang seperti inilah tesnya. Silahkan dijawab.”
            Tentu saja itu amat mudah. Anak balita pun tau jawabannya. Orang China itu langsung menuliskan angka 10 di kertas jawabannya kemudian diserahkan kepada panitia tender.
            “Sudah, pak. Ini silahkan diperiksa.”
            Panitia tender meliriknya sekilas dan bertanya,
            “Ada jawaban yang lain nggak?”
            “Ada, pak. Yaitu Sembilan, pak.”
            “Pikir sekali lagi.”
            “Delapan !”
            Panitia tender pun menuliskan beberapa catatan : Hemat, punya akal di tolak.
            Hari kedua tender kembali dilaksanakan. Kali ini yang dipanggil adalah perusahaan dari Timur Tengah.Yang datang mewakili perusahaannya hanya seorang saja. Pria arab yang tinggi besar dan berhidung mancung dan berkulit agak hitam.
            Seperti yang kemarin, panitia tender pun memberikan soal yang sama kepada orang dari perusahaan Timur Tengah itu.
            Si pria Arab tampak tertegun membaca soal yang tertera di kertas tesnya. Memang hanya soal 5+5 =…………? Tetapi menurutnya ini tidaklah sesederhana itu. Kalau tesnya hanya seperti ini untuk apa dilakukan tender.
            Ini pasti soal jebakan yang memerlukan intelegensi tinggi untuk menjawabnya. Sebelum mengikuti tender ini, ia sudah diperingatkan oleh rekan-rekan sejawatnya kalau pejabat Indonesia  itu rumit. Maunya satu macam, yaitu duit, tetapi caranya macam-macam yang kadang-kadang cara itu sulit untuk dimengerti oleh orang dusun atau orang yang pikirannya ndeso, lugu atau polos.
            Tetapi dia pun punya sistem sendiri dalam menjalankan bisnisnya dimana kunci yang terpentingnya adalah kejujuran.
            Jadi soal 5+5 itu oleh si orang Arab dengan tegas dijawab : Sepuluh.
            Panitia tender kembali memeriksanya.
            “Apakah ada jawaban lain?” Tanyanya.
            “Sepuluh.”
            “Pikir sekali lagi.”
            “Sepuluh.”
            Panitia tender pun menuliskan beberapa catatan : Jujur, punya pendirian, ditolak.
Dua kali melaksanakan proses tender hasilnya benar-benar selalu mengecewakan panitia tender. Tak ada yang sesuai kemauan mereka. Kalau hasilnya selalu seperti ini, dari mana mereka akan punya keuntungan. Dalam bisnis tidak dibutuhkan idealisme. Bisnis itu kalau ingin untung maka harus serakah, tegaan, menggunting dalam lipatan, dan mesti berani melakukan KKN.
Jadi mereka rehat dulu. Hari kelima barulah mereka lihat peserta tender berikutnya. Ternyata dari Indonesia.
“Kawan kita sendiri,” Kata mereka antara bersemangat dan pesimis. Sudah terkenal di kalangan bisnis, kalau pengusaha Indonesia itu selain punya prinsip tahu sama tahu, tapi mereka juga punya dua kepribadian ganda yang digabung menjadi satu, yaitu licik dan cerdik.
“Kita coba saja dulu,” Kata mereka memutuskan. Pengusaha Indonesia pun dipanggil. Karena dengan orang sendiri, jadi tes itu mereka lakukan secara lisan tanpa formalitas.
“Berapa lima tambah lima?”
“Sepuluh.”
“Yang lain?”
“Dua puluh.”
“Pikir sekali lagi.”
“Tiga puluh.”
Panitia tender tertawa senang mendengar jawaban itu dan menuliskan beberapa catatan : Ahli me-mark up, bisa diajak kerja sama, diterima.

“Ah, ini sih biasa,” Kata seorang koruptor saat mengetahui hasil tender tersebut.
“Bagi kami 5+5 itu bisa berapa saja hasilnya. Asal jangan sampai sepuluh.”
Nah, bingung kan?

Sabtu, 01 Oktober 2016

Bulan di atas bantal





            “Menurut umi gimana kalo misalnya abi nikah lagi?”
Teras depan rumah umi Dina tepat menghadap ke arah kolam air mancur taman tempat beberapa ikan mas Koi berenangan di antara dedaunan Teratai. Sebatang pohon Anggur yang masih kecil-kecil buahnya menaungi kolam itu sekaligus menjadi penghalang dari sinar matahari sore sehingga udara yang melingkupi teras terasa teduh.
Umi Dina tertegun mendengar pertanyaan itu.          
            Kali kedua abi bicara demikian. Pertama ia masih menganggapnya sebagai gurauan mungkin abi hanya menggoda untuk memancing kecemburuannya. Karena dari sejak sebelum nikah abi memang begitu. Senang sekali membuat ia cemberut untuk menunjukan kemesraannya.
Tapi sekarang abi menegaskan keseriusannya. Katanya dia ingin meniru jejak idola mereka selama ini yaitu kangjeng nabi Muhammad.
Umi Dina tidak sempat menangkap omongan abi seterusnya. Ia yang sedang berdiri merasa lantai yang dipijaknya goyang. Jadi yang dilakukan oleh umi Dina adalah reaksi khas perempuan. Ia tinggalkan abinya. Tangisnya pecah di atas pembaringan.
Abi menyusulnya dan ikut duduk di tepi ranjang. Usapan lembut yang jatuh di punggungnya membuat umi Dina yang sedang menelungkup jadi berbalik. Tampak wajahnya yang kuyup oleh guyuran air mata.
Omongannya terbata-bata.
“Umi nggak ngerti, abi….. Kenapa sih laki-laki selalu seperti ini ? Dulu… sebelum jabatan dan gaji abi naik, nggak pernah abi bicara soal poligami. Sekarang setelah Allah memberikan kepada kita kekayaan…. maunya isteri pun nambah…… Dalam hati abi rupanya diam-diam sudah ada wanita lain, ya?”
“Umi nggak siap, abi kalau harus berbagi cinta dengan perempuan lain meski itu atas nama sunnah nabi. Abi tau kan kalau selama ini umi hanya berasal dari keluarga yang awam soal agama, keimanan umi belum kuat untuk nerima kenyataan abi nikah lagi.”
            “Jujur saja, abi. Abi melakukan ini apa karena kecewa sama umi yang belum bisa memberikan keturunan? Kita kan sudah berdoa, abi. Allah mungkin belum berkehendak kita punya anak. Abi harus sabar.”
            Abi menatap umi Dina dalam-dalam. Lalu tiba-tiba senyumnya mengembang.
 “Ya sudah, kalau umi belum ngijinin abi juga nggak akan maksa.”
            Dalam hati umi Dina tercekat. Tuhan, dia bilang belum ngijinin? Apa abi sedang berpikir bahwa suatu saat dirinya akan mengijinkan abi menikah lagi? Itu artinya niat itu akan tetap bercokol dalam pikiran abi.
            Umi Dina bertambah kecewa. Lenyap sudah segala kebaikan abi di matanya. Tidak lagi diingatnya bagaimana selama ini abi sudah mendidiknya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang agar dirinya menjadi isteri yang soleha.
Umi Dina bahkan mulai berpikir bahwa ini awal dari keretakan rumah tangganya. Padahal dalam setiap shalatnya ia selalu memohon agar rumah tangganya terlindungi dari segala godaan dan permasalahan. Atau andaikan hal itu terjadi juga, mereka bisa melaluinya tanpa salah satu pihak ada yang merasa tersakiti.
            Sekarang kenapa hal seperti ini terjadi juga ?
 Apa dosa dirinya ?
Kata orang tua dulu, perceraian itu bisa jadi karena faktor turunan. Dimana dulunya salah satu anggota keluarga ada yang pernah mengalami. Jadi bisa mungkin generasi berikutnya pun akan ikut tertular.
Tetapi dalam keluarga umi Dina tidak seorang pun ada yang pernah mengalami kawin cerai. Mereka semua adalah orang yang sangat menghargai pasangannya. Tidak pernah ada yang beristeri lebih dari satu.
            Umi Dina meremas kepalanya yang terasa hendak meledak. Dalam benaknya yang terlihat hanya satu gambaran gelap. Yaitu dalam hitungan detik kebahagiaan rumah tangganya sudah akan rubuh.
Kalau ada ibu, umi Dina pasti akan berlabuh di dadanya. Dengan cara demikian hatinya akan beroleh kedamaian. Tapi pulang ke orang tuanya terlalu jauh di luar kota. Sementara diam terus di rumah pun rasanya sumpek. Melihat pekerjaan rumah yang menumpuk rasanya ingin mengacak-acaknya sambil menjerit-jerit.
            Umi Dina bangun dari pembaringannya. Mondar-mandir di dalam kamarnya sambil memeras pikiran. Apa yang bisa dilakukannya?
Ah, umi Dina tiba-tiba ingat seseorang. Ya, benar. Malam ini ia akan minggat kesana biar abinya mikir dan membatalkan keinginannya untuk beristeri dua itu. ***
Setiap pagi selalu ada mak Inah yang menjajakan sayuran di komplek perumahan dan sudah menjadi langganan umi Dina. Datang selalu pagi-pagi ketika ibu-ibu komplek masih berjibaku menyiapkan sarapan untuk anak dan suami masing-masing.
Gerobak sayurnya khas karena dilengkap bel klenengan yang mirip klenengan di leher sapi. Mendengar suara klenengannya semua ibu penghuni komplek hapal bahwa itu pertanda kedatangan mak Inah. Mereka akan langsung berhamburan keluar supaya tidak kehabisan dagangannya.
Umurnya mungkin sama dengan ibunya ummi Dina. Hanya mak Inah agak kurusan. Pertama melihatnya ummi Dina agak merasa ‘aneh’. Karena yang biasanya jualan memakai gerobak adalah laki-laki. Ternyata suami mak Inah sudah lama meninggal.
 Karena seringnya bertemu,lama-lama mereka jadi akrab seperti ibu dan anak. Sering kalau sedang kecapean mak Inah beristirahat di rumah umi Dina. Atau sebaliknya. Ketika mendapat rejeki lebih abi suka mengajak umi Dina kesana untuk berbagi.
Rumah mak Inah hanya berupa gubuk bilik di pinggir kali yang tiap hujan kalau tidak kebocoran ya kebanjiran. Rumah yang hanya seorang diri saja ditinggalinya karena semua anaknya sudah berumah tangga dan tinggal berjauhan.
Kesanalah umi Dina minggat sore itu sebelum abinya pulang dari kantor. Mak Inah terkejut melihat kedatangannya apalagi keadaan umi Dina tampak kacau. Bekas-bekas sembab di matanya masih terlihat.
            Datang-datang umi Dina langsung duduk di bangku kayu pendek dengan mata menerawang seperti orang yang hilang kesadaran.
            “Kenapa? Ribut sama suami, ya?”
Ummi Dina diam.
 Mak Inah menyambung lagi.
“Ah, yang namanya rumah tangga neng sekali-kali perlu bertengkar biar tambah mesra. Asal bertengkarnya jangan kelamaan. Cukup satu menit aja,”
            Umi Dina masih diam. Lalu sekonyong-konyong ucapannya meluncur cepat tanpa basa-basi.
            “Abi mau nikah lagi, mak,”
            Mak Inah terperangah.
            “Benarkah itu, neng?... Dan sama siapa nikahnya?”
            “Saya belum tau siapa perempuannya. Paling-paling teman sekantornya, mak. Saya harus gimana, mak? Saya nggak mau dimadu. Saya nggak mau abi jadi milik perempuan lain…..” Dan, sekarang tangis umi Dina pecah menjadi isak.
            Perempuan tua yang beberapa bagian rambutnya sudah memutih itu hanya bisa tertunduk menyaksikan tamunya menangis. Ia jadi agak sungkan. Urusan poligami memang sensitif. Tidak semua isteri sanggup menjalaninya meski dia punya predikat Hajjah atau ustadzah sekali pun.
            Tetapi nasehat apa yang bisa diberikannya untuk umi Dina? Ia justeru takut terjebak ikut campur urusan rumah tangga orang. Paling-paling yang bisa diucapkannya hanya sebatas kata sabar. Rumah tangga memang banyak cobaan dan godaan. Tidak ada rumah tangga yang selamanya adem ayem.
            Dan saat ini ummi Dina memang tidak butuh nasihat itu. Keinginannya hanya satu. Lari dari abi.
“Saya mau nginep di sini barang semalem, mak. Boleh, ya?”
Mak Inah jadi kaget.
Ia memohon supaya ummi Dina mengurungkan niatnya. Takut nanti dirinya dituduh menyembunyikan isteri orang.
            Tetapi umi Dina bersikukuh dengan pendiriannya. Ia ingin memberi pelajaran kepada abi supaya jangan egois. Rumah tangga adalah masalah dua perasaan berbeda yang satu sama lain harus saling menghargai, katanya penuh emosi.
            Mak Inah akhirnya hanya bisa pasrah. Ia tidak menyalahkan ummi Dina karena waktu muda juga dulu reaksinya tidak berbeda jauh seperti itu manakala menghadapi permasalahan rumah tangga yang pelik. Maunya minggat. Padahal minggat itu sendiri malah membuat masalah tambah runyam .
            Dibiarkannya oleh ummi dina istirahat. Mak Inah duduk di dapur sambil berpikir.  
Apa yang harus dilakukannya?
Kenapa dirinya harus terlibat masalah serumit ini?
Haruskah ia memberitahukan abi kalau isterinya ada disini?
Tetapi bagaimana kalau misalnya umi Dina marah? Tentu dirinya jadi tidak enak.
Bingung dan merasa serba salah, akhirnya mak Inah memutuskan untuk menulis surat saja. Mumpung masih ada waktu.
            Umi Dina gelisah.
Sadar tindakannya ini keliru. Sebenarnya Ia bukan tipe isteri yang suka kabur-kaburan kalau ada masalah. Biasanya semua bisa diselesaikan dengan dialog dari hati ke hati. Baru kali ini saja yang dirasanya berat.
Saat ini abi pasti kebingungan mengetahui dirinya tidak ada di rumah. Sebagai seorang isteri dirinya tentu sudah durhaka karena meninggalkan rumah tanpa ijin suami, semata hanya karena niat dari abi yang sebenarnya tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Padahal apa pun yang Allah berikan untuk hambanya pastilah untuk kebaikan si hamba sendiri. Barangkali melalui niat abi untuk berpoligami ini Allah hendak memberikan kebaikan untuk dirinya.
Bukankah Allah sudah berfirman, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu.
Kalbu umi Dina tiba-tiba terasa luluh. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
 Ya Allah, ampuni hambamu ini yang egois ini,
Dia memang harus pulang. Dalam situasi apapun, tempat terbaik bagi seorang isteri adalah di dalam rumahnya sendiri. Kalau benar niat abinya tulus hendak mengikuti jejak kangjeng nabinya, maka ia pun akan ikhlas mengijinkan abi menikah lagi. Juga karena Allah bukan karena keterpaksaan.
            Perlahan umi bangkit dari tempat tidur mak Inah yang hanya berupa sehelai tikar pandan yang sudah rombeng. Dicarinya perempuan yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu di belakang untuk pamit pulang.
            Kosong.
Bolak-balik mencari, umi Dina tidak menemukan mak Inah ada dalam rumah itu. Umi Dina sempat berpikiran jangan-jangan mak Inah menemui abinya memberitahukan perihal keberadaan dirinya di sini. Namun mata umi Dina tertumbuk pada sehelai amplop yang tergeletak di atas meja. Tulisan di amplop itu jelas; Untuk neng Dina.
            Penuh tanda tanya umi Dina membukanya.
            Suami Neng itu kalau buat emak seperti malaikat.
Demikian awal surat itu.
            Di jaman sekarang kalau ada laki-laki yang ingin menduakan isterinya karena hendak mengikuti sunnah kangjeng nabi bukan sebab napsu maka suami Neng Dina itulah orangnya. Neng harus bersyukur punya suami seperti itu.
            Kenapa emak ngomong begini?
            Dua minggu yang lalu suami Neng datang kesini. Tadinya emak pikir dia hanya mampir saja sepulang kerja. Tapi  tahukah apa yang dia katakan sama emak, Neng?
            Dia mengatakan niatnya yang  ingin menikahi emak. Katanya dia ingin meniru jejak kangjeng nabi yang menjadi panutannya yang menikahi janda-janda miskin untuk membantu agamanya dan juga kehidupannya.
            Emak ketawa tapi juga nangis, Neng. Emak yang sudah tua, peot, dan jelek ini masih ada yang mau nikahi dengan niat yang begitu mulia. Tapi emak nggak mau ngeganggu rumah tangga Neng Dina yang sudah begitu banyak membantu kehidupan emak.
            Jadi sekarang emak memutuskan, daripada keberadan emak di sini mengganggu keharmonisan keluarga Neng, emak lebih baik  pulang kampung saja…..Mudah-mudahan dengan perginya emak rumah  tangga Neng akan harmonis lagi. Trima kasih untuk semua kebaikan yang sudah neng berikan sama emak.
Mak Inah.
            Bergetar seluruh tubuh umi Dina membaca surat mak Inah.
Jadi mak Inahlah yang hendak abi nikahi itu? Bukan perempuan yang selama ini ada dalam pikiran ummi Dina. Yang cantik, yang muda, pokoknya yang menjadi kesenangan kaum laki-laki.
Tuhan….
Umi Dina tersungkur. Air matanya deras mengalir.
            Kenapa abi tidak mengatakan ini dari sejak awal? Dirinya tentu tidak akan menolak. Sekarang semuanya sudah terlambat.
            Umi Dina tiba-tiba begitu merindukan abinya.
Ingin bersimpuh di kakinya. ***  Tamat.