Sabtu, 11 Juni 2016

CINTA BUBAT

Bis malam jurusan Jogja - Bandung masih belum meninggalkan terminal. Bangku-bangku di dalamnya belum ada setengahnya yang terisi penumpang.
Retno sengaja duduk di bangku pojok paling belakang. Cahaya lampu di situ agak remang. Sebagian wajahnya ia tutupi dengan kain selendang warna ungu bermotif kembang-kembang di sudutnya.
Tiap kali ada yang naik ke dalam bis, mata Retno akan mengintip. Jantungnya berdebar-debar. Takut kalau-kalau orang itu adalah suruhan ayahnya yang akan membawanya kembali ke rumah. Kalau yang masuk ternyata penumpang biasa seperti dirinya, Retno akan menghembuskan napas lega.
            "Mas, aku takut," Suara yang keluar dari bibirnya mirip bisikan.
            "Tenang aja. Semua pasti beres," Dimas yang duduk di sisinya menenangkan. Padahal jantungnya sendiri dari tadi menabuh irama kegelisahan yang sama. Omongan bapaknya Retnolah yang menjadi sumber keriuhan dalam pikirannnya.
            "Bukan kami tidak menghargai niat baikmu, anak muda. Tetapi kedatangan sampeyan ini wis telat. Putri kami, si Retno saat ini sudah punya calon suami. Sebentar lagi mau dilamar. Tak mungkin toh kami menerima pinanganmu ini? Jadi lebih baik kamu cari saja perempuan lain."
Tetapi kata Retno itu hanyalah muslihat ayahnya untuk menolak lamaran Dimas. Yang sebenarnya keluarganya amat tidak setuju mereka punya menantu orang Sunda. Mereka inginnya yang satu persukuan.
Alasan keduanya amat irrasional karena didasarkan kepada mitos turun-temurun. Katanya tabu orang Jawa menikah dengan orang Sunda. Itu seperti melanggar sebuah pantrangan yang efeknya akan tidak baik bagi kehidupan berumah tangga. Seperti Adik yang menikahi kakaknya, dengan pihak Jawa yang berperan sebagai kakak.
Tetapi Dimas yang dibesarkan oleh didikan perguruan tinggi yang penuh idealisme mengerti benar kalau tabu dan segala macam alasan lainnya,  hanyalah argumentasi yang dicari-cari untuk menghindarkan diri dari napsu anak-anak muda jaman sekarang yang segalanya selalu menuntut persesuaian dengan akal.
            Para orang tua itu lupa bahwa rahim cinta bukan hanya berisi benih-benih kasih sayang, tapi bisa juga prahara.
 Dan dalam pikiran Dimas yang namanya prahara cinta akibat penolakan orang tuanya Retno itu wujudnya mula-mula hanya satu titik kecil. Tetapi bersamaan dengan munculnya perasaan takut akan kehilangan orang yang dicintai, noktah serupa titik itu kian lama kian membesar.
Seperti Benalu yang menyerap saripati dari pohon yang ditumpanginya, akal sehat yang ada dalam pikiran Dimas pun di telannya. Lalu lahirlah tindakan yang tanpa didasari oleh akal budi.
            Maka pada suatu malam, si gadis Jogja itu 'diculiknya' tanpa ada perlawanan sedikit pun dari korbannya. Harapan mereka hanya satu. Mungkin kalau melihat 'keukeuhnya' niatan mereka untuk menjalin suatu hubungan pernikahan, keluarga besar Retno akan luluh. Lalu restu pun mereka dapatkan.
            Tinggal sekarang yang jadi pertanyaan adalah soal keluarganya. Akankah mereka mendukung tindakannya ini? ***

"Kakek setuju, Dimas."
            Cicalengka di pinggiran kota Bandung setiap hari selalu hawanya sejuk. Tetapi sore itu hanya ketegangan yang Dimas rasakan.  
Duduk membentuk lingkaran di ruang tamu yang luas pertama adalah Dimas sendiri. Retno untuk sementara tidak diperbolehkan keluar dari dalam kamarnya setelah tadi kedatangannya membuat gaduh seisi rumah. Lalu ayah dan ibu di sofa yang panjang. Dan yang terakhir adalah  kakeknya. Raden Wijaya Supena. Sosok yang paling berpengaruh dalam dinasti keluarga mereka.
            Konon Kakeknya itu masih merupakan keturunan dari Hyang Bunisora Suradipati. Patih dari kerajaan Sunda pada jaman ratusan tahun lalu. Dan seakan menjadi sebuah keharusan, setiap anggota keluarga harus mengerti betul sejarah leluhur pada jaman tersebut. Terutama satu sisi kelam yang sering disebut oleh kakeknya dengan nama Tragedi Bubat.
            "Maksud kakek dengan setuju itu bagaimana? Apa kakek setuju hubungan Dimas sama Retno?" Dimas menatap mata jernih kakeknya yang terkurung bulatan kacamata. Secercah harapan membersit.
            "Kamu jangan salah paham, Dimas. Maksud kakek setuju itu adalah setuju dengan keputusan bapaknya si Retno. Sebaiknya orang Sunda memang jangan menikah dengan orang Jawa."
            Dimas terkesiap. Sekejap cercah harapan itu berubah gulita.
            "Tapi.... mengapa, kek...?" Ia lalu merasa tolol dengan pertanyaannya sendiri karena jawabannya muncul dengan sendirinya. Ia tinggal mendengarkan saja.
            "Dalam segala hal kamu akan kalah oleh isterimu, Dimas. Dalam pikiranmu hanya ada isterimu. Kami, keluarga besarmu ini pelan-pelan akan tersisihkan. Selain itu, ini adalah wasiat leluhur kita. Setelah tragedi Bubat maka tidak boleh ada lagi anggota keluarga kita yang menikah dengan orang Jawa. Kamu harus mengerti  itu." Kakek menatap Dimas tajam.
            Dimas perlahan menyenderkan pungggungnya di sandaran sofa. Tadinya ia pikir tidak akan mendengar lagi kalimat semacam itu. Mengingat kakeknya orang yang berpikiran cukup agamis. Tapi ternyata peristiwa yang bahkan kakek sendiri tidak pernah mengalaminya, tetap bercokol dalam benaknya demikian kuat.
            Namun Dimas tak ingin menyerah. Ia tegakan kembali duduknya.
            "Maap, Kek. Bukan maksud Dimas mau melawan kakek. Tapi menurut Dimas bukan saatnya lagi sekarang keyakinan yang tidak mendasar seperti itu terus dipertahankan. Manpaatnya apa, kek? Bukankah pada akhirnya kita malah akan terjebak kepada sikap curiga dan saling merendahkan? Kebahagiaan pernikahan bukan ditentukan oleh persukuan. Tapi nilai-nilai agama yang kita jadikan sebagai dasarnya. Kakek sendiri kan yang bilang begitu? Sekarang kenapa sikap kakek jadi berubah?"
            "Kamu mau mengajari kakekmu ini soal nilai-nilai kebahagiaan?" Kakek melotot.
            "Bukan mengajari, kek. Tapi hanya mengingatkan ...."
            Brakkk!
            Gebrakan di atas meja itulah yang menjadi jawaban atas protes Dimas. Dimas sampai tersentak ke belakang karena kagetnya.
            "Kakek sungguh kecewa. Kamu cucu yang paling besar. Selama ini kakek sudah membayangkan bahwa kamulah yang pertama akan membahagiakan kakek dengan membawa calon isteri yang tepat. Ternyata harapan kakek keliru. Kamu sungguh keterlaluan. Kembalikan pacarmu itu sebelum jadi masalah yang lebih besar. Kelakuanmu ini merupakan aib keluarga."
            Sikap kakek jelas, tak ingin ada seorang pun dalam ruangan itu yang menolak keputusannya.         Aturan agama bahwa laki-laki baik untuk perempuan baik-baik nyatanya sama sekali tidak berlaku.
            Dimas yang menjadi korbannya tidak berdaya. Ayah dan ibu memilih netral. Atau andai disuruh menentukan pilihan  pun mereka pasti akan lebih condong ke kakek.
            Tragedi Bubat itu sendiri yang terjadi tahun 1279 Saka atau 1357 M berawal dari ketika raja Majapahit, Hayam Wuruk, naksir putri dari kerajaan Sunda Dyah Ayu Pitaloka Citraresmi. Tadinya niat sang raja tulus murni tanpa embel-embel napsu kekuasaan. Namun ketika pernikahan hendak dilaksanakan, mulailah niat Hayam Wuruk itu ditunggangi kepentingan politik oleh mahapatih Gajah Mada.
            Bahwa dengan diperisterinya Dyah Ayu Pitaloka hal tersebut menandakan takluknya pihak kerajaan Sunda kepada Majapahit. Sehingga dengan cara seperti itu maha patih Gajah Mada berhasil memenuhi sumpah Palapanya untuk menyatukan nusantara. Karena pada jaman itu hanya kerajaan Sundalah, dibawah kepemimpinan maharaja Linggabuana, yang tidak pernah berhasil ditaklukan oleh Majapahit.
            Jadi dengan sengaja pernikahan itu akan dilaksanakan di Majapahit.
            Sebenarnya permintaan pihak Majapahit itu amat tidak lajim. Bagaimana mungkin dalam suatu pernikahan pihak perempuan yang harus datang menemui pihak laki-laki. Namun dengan pertimbangan bahwa pendiri kerajaan Majapahit, yaitu raden Wijaya, masih ada hubungan kekerabatan dengan kerajaan Sunda, maka Dewan kerajaan Sunda bersedia mengalah dan permintaan yang sangat merendahkan itupun diturutnya juga.
            Rombongan kerajaan Sunda yang hanya berjumlah ratusan orang pun berangkat dan berkumpul di sebuah desa yang bernama Bubat. Namun saat pihak Majapahit menuntut bahwa pernikahan tersebut akan dipergunakan sebagai pertanda kalau mereka mengakui superioritas Majapahit dengan Dyah Pitaloka sebagai seserahannya, perlahan kebahagiaan yang hendak disongsong oleh kedua mempelai itu mulai retak.
            Seperti mengalami sendiri peristiwa Bubat itu, dalam pikiran Dimas tergambar ketika pihak kerajaan Sunda menolak keinginan Majapahit maka hal itu diartikan sebagai tantangan perang. Ribuan pasukan Bhayangkara Majapahit di bawah komando Gajah Mada langsung mengepung rombongan kerajaan Sunda di pesanggrahan Bubat. Membantainya.
            Semuanya tewas termasuk maharaja Linggabuana. Putri Dyah Ayu Pithaloka sebagai satu-satunya yang selamat pun memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri sebagai tanda belapati.
            Lalu apa setelahnya? Tak ada yang menang atau pun kalah, menurut Dimas. Yang ada adalah sipat keegoan manusia yang jadi pelakunya. Maka setelah berlalunya kejadian Bubat itu di kalangan kerabat negeri Sunda kemudian diberlakukan aturan yang disebut larangan estri tiluaran. Yang isinya antara lain larangan untuk menikah dengan orang di luar kerajaan Sunda atau larangan memperisteri orang Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas lagi sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.
            Dan itu berlaku hingga detik ini !
            Kilasan sejarah itu membuat pikiran Dimas berkecamuk.
            Di satu sisi, dirinya sama sekali tak ada niatan hendak membangkang. Kakek adalah orang yang sangat dihormatinya. Namun di sisi lain, kali ini sang kakek yang masih memiliki keturunan darah biru dari raja-raja Sunda itu harus disadarkan. Adalah sebuah kekeliruan ketika masa depan pernikahannya harus dipertaruhkan kepada sepotong tragedi pahit yang dialami oleh leluhurnya akibat napsu kekuasaan yang kebablasan.
            Peperangan dalam pikiran Dimas itu sepertinya dimenangkan oleh logikanya. Hingga akhirnya sampailah dirinya pada satu kesimpulan. Bahwa prinsip yang ingin terus dipertahankan oleh kakeknya itu, bahkan keluarga besarnya Retno, bukanlah aturan dasar pernikahan. Tidak perlu harus diikuti. Selain itu hati dan harga dirinya pun akan terluka andai Retno di kembalikan lagi ke orang tuanya.
            Dimas sudah hampir mengatakan bahwa tanpa restu dari sang kakek pun ia tetap akan menikahi gadis pilihannya. Hanya saja belum juga satu patah kata terlontar, suara ketukan di pintu membuat kepala semua orang berpaling. Untuk sesaat ketegangan dalam ruang tamu itu terpecah.                                                                                                            
Dimas yang beranjak membukakannya. Begitu daun pintu terbuka, seketika ia mematung. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki paruh baya berbadan kurus dan tinggi.
            Bapaknya Retno !
            Dan perempuan bertubuh subur di sampingnya yang berkonde dan kebaya adalah isterinya.
            Tapi yang Dimas tidak mengerti kenapa mereka harus membawa-bawa banyak polisi?
            Bapaknya Retno langsung bereaksi ketika melihat kemunculannya.
            "Ini dia orangnya, pak Polisi. Dia yang telah menculik putri saya. Tangkap dia, pak !"
            Rupanya orang tua Retno telah melaporkan Dimas kepada pihak kepolisian dengan tuduhan penculikan. Dan mereka sekarang hendak menangkapnya.
            "Maap, saudara harus ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan." Kata pimpinan mereka kepada Dimas.
            Muka Dimas memutih pasi.
Suasana rumah langsung menjadi kacau dan kalang kabut.
            Ibu Dimas histeris meriwis-riwis.
            Bapak dalam kepanikannya berusaha menghalangi langkah para abdi negara itu.
            Kakek sejenak melupakan kekesalannya. Sekuat daya berusaha melindungi cucunya. Tapi pembelaan mereka hanya dijawab dengan kalimat formal agar semuanya dijelaskan di kantor polisi. Dimas siap digelandang menuju mobil. Andai saja saat itu tidak ada yang menghalangi.                                                                                                                                 Mendengar ribut-ribut diluar rupanya Retno, yang sedari tadi menguping, langsung melongok. Jantungnya keras berdegup melihat kedatangan ibu dan bapaknya. Juga Dimas yang sudah berada dalam keadaan dua tangan terborgol ke belakang.
            Retno langsung menghambur dan merentangkan kedua tangannya di hadapan para aparat bersenjata pistol itu.
            "Pak Polisi, Saya ikut atas kemauan sendiri. Bukan karena diculik. Kalau kekasih saya dipenjara, maka saya juga akan ikut ke penjara."
            Ayah Retno melompat ke depan dengan mata melotot.
            "Retno, apa-apaan kamu? Kamu jangan bikin malu keluarga. Hayo pulang !!"
            Bukan. Bukan sikap menyerah yang diperlihatkan Retno atas hardikan sang ayah. Melainkan yang ditunjukannya adalah ketegaran seorang gadis Jawa. Dia berdiri tegak seperti tokoh Srikandi dalam lakon wayang orang manakala tengah merentang busur. Tetapi bukan untuk menyerang lawannya. Melainkan yang dilakukannya adalah karena cinta dan kesetiaan. Dua hal yang berusaha ingin dipertahankannya.
            "Ayah, siapa membuat malu siapa? Sadarkah ayah kalau tindakan ayah ini sudah menghancurkan kebahagiaan Retno.  Retno Yakin pernikahan kami akan bahagia karena kami tidak menjadikan persukuan dan watak pribadi yang menjadi dasarnya. Melainkan tata aturan agama."
            "Saya tidak mengerti apa itu perang Bubat sama dengan tidak mengertinya kenapa malah justeru hubungan kami yang menjadi korbannya? Apakah orang Jawa tidak boleh mencintai orang Sunda dan begitu pula sebaliknya? Siapakah yang membuat hukum seperti itu, ayah? Apakah kalian-kalian ini Tuhan sehingga begitu merasa berhak mengatur siapa berjodoh dengan siapa? Apakah kebahagiaan cinta hanya hak mereka yang satu persukuan?"
            Plakk!
Tamparan keras di pipi Retno itulah yang menjadi balasan atas sikap menggugat Retno. Retno terhuyung. Saat berbalik terlihat ada darah yang mengalir di sela-sela bibir gadis berkulit hitam manis itu. Lalu dan terjadi secara perlahan, dari sepasang mata yang bulat itu melintas dua jalur air mata menapak di pipi yang ranum.
            Ibu yang melihatnya menjerit histeris. Bergantian ia antara membujuk putrinya dan berusaha menenangkan amarah sang suami.
            "Retno, jangan begitu sama ayahmu, Nak. Ini buat kebaikanmu sendiri. Tak ada gunanya kamu memaksakan diri untuk tetap menikah dengan laki-laki itu. Sekarang Kita pulang, ya?"
            Retno menggeleng.
            "Ibu, pernikahan memang membutuhkan restu dari orang tua. Dimas laki-laki yang baik, mengerti agama, dan bertanggung jawab. Retno merasa bahwa pilihan Retno ini tidaklah salah. Sebaliknya alasan kalian melarang hubungan kamilah yang menurut Retno salah. Jadi maapkan anakmu ini, ibu. Tanpa restu dari kalian pun Retno akan tetap menikah dengan Dimas."
            Sedetik perempuan berkebaya warna hijau itu tertegun. Tidak menyangka sama sekali kalau putrinya yang selama ini penurut, lungguh timpuh andalemi, tiba-tiba menjadi seorang pemberontak. Sekuat itukah cinta yang menguasai kalbunya sehingga sanggup menyalin rupa tata krama si Putri Jogja yang penuh etika dan sopan santun ini, terlebih-lebih terhadap ibunya, menjadi sebuah pembangkangan?
 Tidak ! ini bukan sosok sejati dari putrinya. Laki-laki itu pasti telah mengguna-gunainya. Putri kesayanngannya telah didukuni. Dan sekarang yang tampil menguasai raganya adalah sosok Rahwana berwajah Shinta.
            Penyangkalan dramatis itu naik ke kepala ibunya Retno. Terasa menusuk menghempas kesadarannya pada sebuah ruang hampa. Seketika pandangannya menjadi gelap. Efeknya tubuh itu menjadi limbung. Ibunya Retno pingsan akibat reaksi dari ucapan
putri yang sangat disayanginya.                                 
Melihat isterinya pingsan, kemurkaan ayahnya Retno kian menjadi-jadi. Mata melotot, sekujur tubuh bergetar, dan telunjuk teracung lurus tertuju ke wajah putrinya.
            "Kamu benar-benar keterlaluan, dasar anak yang tidak tau membalas budi orang tua. Dengarkan, mulai sekarang kamu bukan lagi anak kami. Dan pernikahanmu itu sampai kapanpun sama sekali tidak akan bahagia !!!"
            Setelah itu dengan membawa ledakan kemarahannya, laki-laki itu membawa langkahnya keluar.
            Ibu Retno digotong.
            Para Polisi membawa Dimas.
            Kakek dan orang tua Dimas menjadi penonton dari semua adegan tersebut.
            Lalu sepi  pun mengalir.
            Tidak ada yang tau apa yang terjadi terhadap Retno setelah itu. Kecuali orang tua Dimas.
            Gadis hitam manis itu memang masih berdiri di tempatnya. Tetapi ada yang membedakannya. Setelah sang ayah menjatuhkan sumpahnya tadi perbedaan itu mulai merambati permukaan ragawi Retno.
Mula-mula bibir Retno ternganga, reaksi khas orang kaget atas ucapan sang ayah yang tidak disangka-sangkanya. Lalu kedua tangannya terangkat ke depan, kearah Dimas yang digelandang menuju ke mobil Polisi, sesuatu yang tak bisa diraihnya. Sehingga akhirnya tangan itu berhenti di kehampaan. Terakhir, matanya yang tadi memancarkan kehangatan dan semangat cinta yang berapi-api perlahan meredup seperti lampu teplok yang kehabisan minyak. Kosong bola mata itu. Sekopong harapannya saat menyadari hubungan cinta yang mati-matian dipertahankannya harus kandas.
            Lantas dari bibir yang masih ternganga itu mengalirlah sebuah tembang  Jawa.
Li lali tan bisa lali                                                                                            
Sun lelipur 
tan sengsaya                                                                                                           
 Katon bae sapolahe                                                                                                                    Kancil desa 'njang talingan                                                                         
 Aku melu karo ndika                                                                                               Lebu seta sari pohung                                                                                              Becik mati yen kapiran
Itu adalah tembang asmara dahana. Tentang seseorang yang ingin dilupa namun tidak bisa lupa. Engkau adalah pelipur dikala sengsara. Yang selalu terbayang segala tingkah dan polahnya.
Namun aneh sekali. Selesai menembang Retno tiba-tiba tertawa terkikik-kikik sambil menari-nari.
Ibunya Dimas yang menyaksikan jadi merinding dan merapat ke suaminya.
            "Pak... dia... gadis itu..."
            "Benar..., bu. Dia menjadi gila. Mungkin karena cintanya yang tidak kesampaian atau jiwanya yang terguncang akibat sumpah bapaknya sendiri."
            Bapak lalu menoleh ke arah kakek.
            "Kita harus membawa gadis itu ke rumah sakit jiwa, pak."
            "Tidak. Jangan lakukan itu. Apa kalian tidak melihat bagaimana si Dimas tadi ditangkap polisi? Biarkan gadis itu lari ke jalanan dan menjadi totonan orang-orang sebagai balasan atas apa yang telah dilakukan orang tuanya terhadap cucuku. Aku baru puas. Huss, hayo pergi !"
            Kakek menggebah Retno seperti mengusir binatang liar.
            Dan sambil terus menari dan tertawa, Retno berlari ke jalanan. ***                                      Tamat.

Jumat, 10 Juni 2016

Bantuan likuiditas bank Indonesia alias BLBI, yeaah..!


Di kampung Cicinde semua warga selalu melakukan ronda keliling yang diatur secara bergiliran. Selain tujuannya untuk menjaga keamanan, melalui ronda keliling itu juga warga jadi bisa saling mengenal satu sama lain secara lebih akrab. Sering setelah selesai melakukan kegiatan meronda, urusan bisa disambung dengan acara bisnis kecil-kecilan.

            Malam itu seperti biasa sekitar lima belas orang telah berkumpul di pos ronda. Satu orang berperan sebagai pimpinannya dan sedang membagi area ronda masing-masing grup. Tiap grup terdiri dari empat atau tiga orang.

            “Kelompok kamu di Rt. 01, kamu 03, kamu 04 dan kamu 02. Kita berkumpul lagi jam setengah empat. Dua orang bertugas menjaga pos. Semua siap?”

            “Siap !” Jawab para peronda bersemangat. 

Dengan berkerudung sarung, mereka lalu berpencar sesuai pembagian wilayah tadi.

            Waktu mengalir seperti angin.

Tahu-tahu sudah hampir jam dua belas.

Cicinde kian sepi.

Namun sepi itu tidak berlangsung lama. Karena mendadak dari pinggir kampung tiba-tiba terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu disertai teriakan para peronda membangunkan warga.

Tong!

Tong!

Tong!

“Banguun !”

“Banguuun !”

            Orang-orang yang sudah tidur dan hampir tidur segera berhamburan keluar. Mereka ribut saling bertanya sesamanya.

Dari jalan kampung datanglah seorang petugas ronda. Kepada para warga ia memberitahukan kalau mereka baru saja menangkap seekor Babi mencurigakan dan sekarang Babi itu ada di kelurahan.

            Mendengar kabar tersebut, semua warga kampung langsung menuju ke kelurahan. Di sana mereka melihat si Babi sudah berada dalam keadaan diikat ke tiang. Besarnya seukuran anak Kambing.

            “Saya curiga ini adalah Babi jadi-jadian alias Babi ngepet. Kampung kita kan jauh dari hutan dan tidak ada seorang pun warga yang memelihara Babi. Apalagi sudah beberapa hari ini banyak orang yang mengaku kehilangan uangnya secara misterius,” Kata pak Lurah yang kebetulan seorang perempuan.

            “Tapi bagaimana cara membuktikannya kalau ini Babi jadi-jadian atau Babi asli, pak Lurah?” Warga bingung.

            “Panggil semua paranormal kemari,” Pak Lurah memberikan perintah.

            Semua Paranormal yang ada di Cicinde pun dikumpulkan. Mereka lantas diperintahkan oleh pak Lurah untuk membongkar kedok sang Babi bagaimana pun caranya.

Satu persatu Paranormal maju dan mengerahkan semua ilmunya. Ada yang menggunakan jampi-jampi, tenaga dalam, keris pusaka, membakar kemenyan, atau dengan menggunakan bantuan jin.

 Namun hingga paranormal terakhir beraksi, ternyata tak seorang pun ada yang berhasil membuka kedok si Babi. Si Babi tetap tenang menggelosoh di lantai.

            Pak Lurah jadi bingung. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Untunglah dalam keadaan bingung itu tiba-tiba datang seorang anggota DPR dan petugas partai. Mereka memberikan usulnya. 

            “Untuk mengetahui apakah ini Babi asli atau Babi jadi-jadian gampang. Kita kasih saja dia singkong dan uang. Kalau dia memilih singkong berarti ini Babi asli. Tapi kalau dia milih uang, jelas ini Babi ngepet dan harus kita bunuh bersama-sama. Gimana, setuju?” Tanya petugas partai.

            “Setuju !” Jawab pak Lurah dan anggota DPR.

             Ke hadapan si Babi kemudian disodorkan sepiring singkong rebus dan selembar uang seratus ribuan. Semua warga memelototkan matanya. Penasaran. Mana yang akan di pilih si Babi.

Selama beberapa saat si Babi  tampak celingukan antara memilih uang atau singkong.

            Setelah beberapa detik si Babi pun akhirnya menentukan pilihan. Pertama dihampirinya singkong rebus itu dan dimakannya hingga ludes. Setelah itu barulah dia menghampiri uangnya, menggigitnya, dan kemudian membawanya kabur !



            BLBI : Babinya Lari Bawa korupsI

Markonah alpa


Cicinde mulanya kampung yang bersahaja. Orang-orangnya ramah dan selalu nerima apa adanya. Di kampung itu, Markonah, Janda tua berumur enam puluhan sudah puluhan tahun berdagang kopi dan gorengan. Warungnya berdinding bilik berukuran tiga kali tiga setengah meter.
Lalu datanglah seorang pengusaha dari kota hendak membuka mini market di Cicinde. Kabar itu membuat jiwa para pemilik warung kecil tiba-tiba menjadi ketar-ketir karena takut dagangan mereka tidak laku. Hanya Markonah seorang yang tetap tenang. Hatinya tidak blingsatan karena percaya rejeki manusia Allah yang mengatur.
Sore-sore pak Lurah menemui Markonah di warungnya untuk menyampaikan kabar tersebut. Sebab syarat pertama pendirian mini market itu adalah harus ada persetujuan dari pedagang sekitar.
Pak Lurah duduk di bale-bale tempat orang-orang biasa ngopi. Mula-mula dengan penuh keramahan dan perhatian ia menanyakan dulu bagaimana kabar Markonah dan keadaan warungnya. Apa saja kesulitan yang dihadapinya. Setelah itu barulah ia menyatakan tujuan kedatangannya.
“Di Cicinde akan dibangun mini market, mak”
Markonah yang sedang mengirisi kol untuk dibuat bakwan, menghentikan dulu gerakan pisaunya. Dan bertanya; Apa itu mini market?
Sambil tersenyum kecil, pak Lurah menjelaskan bahwa mini market adalah toko besar yang menjual apa saja. Dari mulai Garam hingga mesin cuci.
Kening Markonah yang keriput makin berkeriut.
“Kalau hanya garam emak juga jualan. Mesin cuci buat apa? Orang-orang sini nyuci nggak pake mesin. Cukup sabun colek sama penggilasan. Emak nggak butuh mini market, pak Lurah.”
“Tapi orang lain butuh, mak. Kalau di Cicinde ada mini market kampung kita jadi rame sebab orang dari mana-mana belanjanya kesini. Warung emak pun akan ikutan rame. Tidak seperti sekarang, yang belanja di warung emak orangnya yang itu-itu juga.”
Omongan Lurah membuat Markonah terkekeh. Giginya yang tinggal beberapa biji menyembul. Ia berkata ringan, yang cukup menyentak jantung orang nomer satu di kampungnya itu.
“Hehehe.. pak Lurah ini seperi Tuhan saja yang bisa mengatur rejeki orang… gimana kalo sebaliknya pak Lurah, malah justeru dagangan orang-orang sini yang tidak laku. Kata pak Lurah di mini market segalanya serba ada. Orang pasti mikir, buat apa belanja di warung kecil yang serba nggak ada”
“Memang bener, mak. Tapi harga barang-barang di mini market itu jauh lebih mahal dari warung-warung biasa. Itu aturan dari pemerintah untuk melindungi para pedagang kecil. Semua orang kalau belanja pasti nyarinya yang lebih murah. Jadi emak tidak perlu takut tersisih”
Lagi-lagi bibir Markonah yang kemerahan sisa nyirih, tersenyum. Pisau yang sedang dipegangnya digeletakan dulu di samping irisan kol. Ia katakan bahwa ini semua bukan tentang dirinya. Usaha yang dilakoninya ini hanyalah prasyarat untuk memperoleh karunia gusti Allah. Bahwa salah satu kemuliaan manusia itu adalah ketika dia bisa memenuhi keperluan hidupnya tanpa harus bergantung kepada orang lain dan dengan cara-cara yang jujur.
Namun orang lain yang sama-sama berdagang seperti dirinya tentu memiliki pemikiran berbeda. Mereka masih muda-muda. Ada ambisi dan hawa napsu di sana. Lalu ketika dihalangi mereka tentu tidak akan terima dan akan sekuat daya menghancurkan penghalang itu.
 “Emak khawatir, nanti pak Lurah jadi sasaran kebencian rakyat sendiri. Mereka tentu tidak ingin usahanya ada yang menyaingi. Sekarang saja mencari rejeki di kampung kita ini sudah susah, jangan lagi ditambahi pihak asing yang hendak ikut-ikutan mencari rejeki di sini. Mereka sudah banyak duit. Buat apa dagang di kampung”.
Pak Lurah mengakui kebenaran omongan Markonah. Tetapi kebenaran tanpa materi hanya akan menjadi pajangan saja. Jaman kini uanglah yang berkuasa. Omongan orang yang banyak duit akan selalu di dengar. Uang bahkan bisa membuat seseorang terkesan cerdas dan bijak meski pun otaknya kopong.
“Emak tidak perlu pusing memikirkan orang lain. Itu urusan saya. Saya hanya mau ngasih tahu emak saja. Kalau setuju emak nanti akan dikasih bonus uang seratus ribu. Lumayan buat nambah-nambah modal, mak.”
Markonah mengucapkan terima kasih. Tetapi katanya ia tidak perlu uang itu. Ia justeru mengingatkan pak Lurah bahwa yang menyogok dan disogok sama-sama masuk neraka.
Pak Lurah mencibir.
Dasar nenek-nenek peot !
Siapa yang dimaksudnya dengan yang menyogok itu? Ini bukan sogokan atau suap. Melainkan tanda terima kasih.
Tidak seperti kedatangannya, kepulangan Pak Lurah dari warung Markonah membawa muka masam. Namun pak Lurah tetap meneruskan sosialisasinya. Hingga akhirnya orang sekampung tahu bahwa di Cicinde akan dibangun mini market. Orang kampung me-reka-reka. Buat apa di Cicinde ada mini market? Minimarket seharusnya cukup ada di kota saja yang banyak orang kayanya. Bisa dibayangkan, bagaimana seandainya setelah jadi, lalu anak-anak mereka ternyata doyan jajan disana. Tentu akan membuat mereka bangkrut.
Menurut mereka seharusnya pak Lurah melindungi usaha warganya. Bukan malah disuruh bersaing dengan asing. Itu sama saja dengan menyuruh mereka bergulat melawan raksasa. Tetapi pak Lurah tak henti menyemangati warganya supaya tidak patah arang gara-gara mini market. Ini adalah akibat globalisasi dan perdagangan bebas. Semua orang diijinkan mau jualan di mana saja.
 “Yang terpenting kita jangan sampai luntur keyakinan kepada Allah yang ngatur rejeki. Masa gara-gara ada minimarket terus Allah menghentikan rejekinya. Justeru sebaliknya, mau Allah tambahkan. Nanti kalau mini market itu jadi, karyawannya akan saya usulkan supaya anak-anak muda disini. Sebagian nanti bisa jadi tukang parkirnya. Satu motor bisa diparkir dua ribu. Kalikan dengan seratus. Lumayan kan? Belum lagi kalian juga bisa ikut jualan kecil-kecilan di depannya…..”
Janji manis pak Lurah mirip suara rentet petasan di orang hajatan. Karena terus-terusan diberondong, orang kampung yang pikirannya lugu itu akhirnya terkapar menyerah.  
Mereka mulai termakan ilusi bahwa minimarket itu akan membuat kampung mereka jadi lebih hidup, terang benderang dan dikunjungi orang dari mana-mana. Sebagian dari pengunjung itu tentu akan mampir dulu di warung mereka untuk ngopi atau sarapan. Belum lagi kalau melihat pelayannya atau kasirnya adalah anak-anak mereka sendiri. Betapa bangganya.
Jadi mereka semua kemudian bersepakat akan menerima dengan lapang dada keberadaan mini market di tengah-tengah perkampungan mereka. Atas kesediaan itu pak Lurah kemudian menghadiahkan kepada warganya bonus berupa uang kaget. Satu warung seratus ribu.***
Hari-hari selanjutnya kehidupan Pak Lurah selalu berhiaskan senyuman. Ia jadi demikian ramah kepada siapa saja yang ditemuinya. Para anak buahnya ditraktirnya rokok dan baso. Sementara kepada investor mini market, sudah diberinya laporan tentang sikap setuju rakyatnya di Cicinde dibangun mini market. Ada pun kepada si rakyat, tentu saja pak Lurah tidak menjelaskan kalau tanahnyalah yang disewa untuk mini market tersebut. Bisa-bisa rencananya tidak berjalan mulus.
Dan memang tidak sedikit yang mencibir ketika warga mengetahui hal tersebut. Sudah jadi Lurah, tapi masih saja mencari keuntungan sendiri, gerutu mereka. Hanya Markonah seorang yang tetap istiqomah menjalani hidupnya. Di atas tanah siapa pun dibangun, itu tidak akan ada bedanya.
Cepat sekali kampung Cicinde berubah. Pendirian mini market itu belum apa-apa sudah menyebar kemana-mana. Orang-orang ramai ingin melihat. Selama ini mereka taunya mini market itu di tivi. Mereka benar-benar sudah tidak sabar ingin segera tempat belanja serba ada itu jadi. Ingin segera mencobai berbelanja di tempat seperti itu. Bagaimanakah rasanya…?
Hanya sekitar satu bulan setengah pembangunan mini market itu pun selesai. Mobil-mobil boks yang mengangkut bermacam barang jualannya mulai hilir mudik berdatangan. Mereka menata barang-barang tersebut di atas rak yang tertata rapi dan cantik berdasarkan jenisnya. Di langit-langit mini market yang tidak terlalu tinggi, puluhan lampu neon ratusan watt menerangi seantero ruangan.
Setiap orang yang lewat di depan mini market tidak ada yang tidak tergoda untuk melirik.  Meski pun bagian depannya kaca semua namun barang-barang yang ada di dalamnya bisa terlihat jelas. Tampak asri dan nyaman. Apalagi tempat parkirnya lumayan luas dan dilapisi aspal.
Menjelang pembukaan perdana promosi disebar sehingga semua orang Cicinde tahu pada hari tersebut akan ada keramaian. Para pedagang kecil tidak mau ketinggalan ikut-ikutan memenuhi warung mereka dengan barang jualannya meski modalnya dapat ngutang. Sebab seperti kata pak Lurah, yang datang belanja ke mini market itu pasti akan menyempatkan diri untuk mampir di warung mereka. Mungkin sekedar untuk minum kopi sambil makan goreng ketan satu atau dua biji. Itu pun sudah bersyukur.
Dor !
Dor !
Dor !
Benar saja, pembukaan itu meriah sekali. Diawali oleh bunyi petasan dan kembang api. Semua orang yang sedang mengantri di depan pintu mini market tengadah ke angkasa melihat langit Cicinde yang di pagi beku itu berubah menghangat.
Mereka yang datang dengan membawa anak kecil diberi hadiah balon gratis. Begitu ada di dalam anak-anak langsung berlarian dari satu rak ke rak lainnya sambil ribut minta dibelikan ini dan itu. Sedangkan ibu-ibunya memborong segala makanan dan minuman. Harganya memang lebih mahal dari warung biasa. Tapi karena tempatnya nyaman dan barangnya lengkap, harga mahal itu jadi tidak terasa mahal. Udara ac yang sejuk membuat mereka santai untuk menghabiskan duitnya.
Makin siang kian membludak orang yang datang berbelanja. Benar apa yang dikatakan oleh pak Lurah bahwa orang-orang itu datang dari mana-mana. Mereka berbelanja menghabiskan uang ratusan ribu.
Hanya satu yang tidak benar. Yaitu tak seorang pun dari para pengunjung itu yang berminat untuk berbelanja di warung-warung kecil yang ada di sekitar mini market. Menoleh pun bahkan tidak. Mini market menyediakan segalanya. Mereka tidak butuh nasi uduk atau gorengan buatan nenek tua Markonah. Gengsi belanja di warung kecil.
Pemilik warung kecil pada gigit jari. Lalu mereka coba-coba melongok ke mini market itu. Yang terlihat hanya gerombolan orang yang sedang sibuk berbelanja. Sedang warung mereka hanya lalat yang mengerubungi.
Mereka merasa ngenes dan tersisih. Kemudian diperhatikannya siapa yang menjadi kasir atau pelayannya. Bukan anak-anak mereka. Semuanya asing. Hati orang-orang itu makin terbelah. Di halaman parkir pun mereka tidak melihat ada petugas parkirnya. Melainkan seorang satpam yang berdiri di samping sebuah papan pengumuman :
PARKIR GRATIS TIDAK DIPUNGUT BIAYA.
DILARANG JUALAN DI AREAL PARKIR.
Kebetulan saat itu pak Lurah dan isterinya baru saja keluar sambil plastik besar berisi barang belanjaannya.
Melihat itu kontan mereka seperti memergoki maling.
“Tangkap orang itu. Dia telah membohongi kita semua !”
Pak Lurah kaget. Sadar ada bahaya yang menuju ke arahya, ia lari terbirit-birit. Isterinya ia tinggal.
Tetapi Markonah hanya berdiri saja di ambang pintu warungnya menonton adegan itu. Orang kampungnya yang selama ini selalu bersikap nerima, tiba-tiba menjadi beringas.
 Markonah hanya bisa berdoa.  “Ya Allah, mudah-mudahan pak Lurah bisa tertangkap biar dia kapok…” *** Tamat.