Jumat, 06 Mei 2016

Tinem binti Marjuki



 





            Tina nama yang tertera di E-Ktp-nya. Kulit putih bersih, rambut pendek sebahu, dan bulu mata lentik karena terbuat dari bahan imitasi. Tina seorang artis dangdut ibu kota meski baru sebatas artis amatiran.

Dua hari lalu Tina pulang kampung. Dua orang pemuda tukang angon Kerbau sedang membincangkannya. Mereka adalah Tono dan Pardi. Dua-duanya bekas teman kecil Tina.

            “Tapi aku ‘ga suka sama gayanya yang sombong itu. Aku akan pelet dia, Ton. Biar tau rasa.” Cetus Pardi penuh dendam.

            Tono nyengir. Menurut anggapannya pantas kalau si Tina itu sombong. Dia kan sudah jadi artis. Semua orang mengenalnya karena sering tampil di tivi.

            Pangkal masalahnya terjadi kemarin sore. Pardi yang sedang menggiring pulang kerbau-kerbaunya ketemu Tina di jalan kampung. Sebagai teman semasa kecil Pardi tentu menyapa dengan sebuah pertanyaan ramah,

            “Habis dari mana?”

            Harapannya mereka lalu bisa mengobrol ngalor-ngidul.

            “Habis maen !”

            Tina memang menjawab pertanyaannya. Tapi demi Tuhan, hal itu dilakukan sambil membuang muka dan menutupi hidung. Sebuah pertanda kalau keberadaan Pardi beserta Kerbau-Kerbaunya sudah mengganggu penciumannya.

            “Maap, bau ya, neng?”

            “Sudah tau bau, kenapa nggak cepet minggir?” Tina menjawab dengan bibir manyun.

            Diperlakukan seperti itu, kontan hati Pardi remuk-redam. Dendam pun langsung menjalar seperti serabut akar Singkong.  ***

Sebenarnya waktu masih seumuran anak Smp Pardi pernah naksir Tina. Tapi rasa itu dipendamnya saja sampai Tina menjadi bunga mekar lalu hijrah ke kota mengejar cita-citanya menjadi penyanyi dangdut.

            Tinggallah Pardi sendiri dan gigit jari. Tidur tidak enak makan pun demikian.  Pardi mengutuki kebodohannya kenapa dulu dia tidak berani berterus-terang soal perasaannya. Sekarang kesempatan itu terkuak lagi di depan matanya. Yakni saat mendengar sang dara pulang ke ‘kandangnya’.

Pardi benar-benar sumringah. Terasa cinta yang pernah layu mekar kembali.

            Namun apa daya ternyata ketika mereka bertemu bukan senyum manis yang diterimanya. Malah penghinaan yang meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.

            Jadi memang Tina pantas untuk didukunin!

            Pardi sibuk bertanya kesana-kemari mencari dukun manjur. Semua orang dia tanyai. Akhirnya ada yang memberitahukannya kalau di kampung sebelah ada dukun sakti. Namanya mbah Brewok. Sang dukun katanya punya pelet legendaris yang bernama Jaran Goyang.

Pardi langsung bertolak menuju kediaman mbah Brewok. Tidak seperti dukum kampung kebayakan, rumah mbah Brewok ternyata amat mentereng. Bertingkat dua dan punya mobil sedan keluaran terbaru.

Mbah Brewok menyambut kedatangan Pardi penuh keramahan. Permintaan Pardi supaya Tina jatuh hati kepadanya, tanpa ba-bi-bu lagi langsung disanggupi. Tapi sebelumnya Pardi harus membayar mahar dulu. Besarnya setengah juta.

            Tanpa pikir panjang Pardi setuju. Celengan emak pun di rumah diboboknya tanpa sepengetahuan sang emak. ***

“Tina binti Marjuki… Tina binti Marjuki….. Datanglah kepada akang..”

“Tina binti Marjuki… Tina binti Marjuki….. Datanglah kepada akang..”

Seperti itulah mantera pellet Jaran Goyang yang diberikan mbah Brewok kepada Pardi. Selain mantera, Pardi pun dibekalinya sekantung menyan yang harus ditabur mengelilingi rumah Tina. Waktunya harus tengah malam.

            Begitu Tina melangkahi kemenyan itu, maka pelet si Jaran goyang akan langsung bereaksi. Tina akan langsung merengek-rengek minta dijadikan pacar oleh Pardi. Di matanya Pardi akan terlihat sangat ganteng seperti bintang sinetron.

            Membayangkan itu Pardi nyengir sendiri.***

Setelah menjalankan ritualnya sekejap pun Pardi tidak bisa tidur. Ingin malam segera berganti pagi. Ingin segera melihat mimpinya jadi kenyataan. Alangkah bahagianya punya kekasih secantik Tina. Semua pemuda di kampungnya pasti akan gigit jari penuh iri.

            Karena tidak bisa tidur, Pardi jadi kesiangan. Dengan masih berselimut sarung Pardi menemui emaknya yang sedang memasak di dapur. Minum seteguk kopi yang sudah disediakan untuknya, lalu bertanya,

            “Tadi si Tina ada kesini nggak, mak?”

            Emak melongo.

            “Mimpi apa kamu semalam, bangun-bangun langsung nanyain si Tina?”

            Berarti jawabannya tidak. Pardi pun beranjak menuju ke sumur untuk mandi. Namun emak mencegat langkahnya. Menanyakan celengannya yang isinya raib. Pardi ceritakan saja semuanya dengan jujur bahwa celengan itu ia pake untuk membeli pelet Jaran goyang.

            Emak  marah.

            “Itu celengan buat lebaran, Pardi. Kenapa kamu pake buat ke dukun? Eling nak, eliiing. Maen dukun itu haram. Allah nggak ridha. Emak juga nggak setuju kamu hubungan sama si Tina. Kita ini siapa dan dia siapa? Orang tuanya pasti nggak ngijinin punya calon mantu orang miskin. Artis itu pacarnya artis lagi. Liat aja di tivi.”

            Diberi nasehat Pardi malah bersungut-sungut. Ia malah lebih nekat lagi.

            “Nanti siang Pardi mau ngejual kerbau satu buat modal, mak “

            “Bapakmu nggak akan rela, Pardi. Itu modal hidup kita satu-satunya !” Jerit emak.

            “Bapak udah mati, mak !” Pardi menjawab sambil ngeloyor.

            Sore-sore saat matahari baru miring sedikit ke arah barat, Pardi sudah berdiri di depan pintu rumah Tina.

            “Assalamualaikum !” Dia ucapkan salam dengan jantung deg-degan/.

            “Wa alaikum salam,” Ada jawaban dari dalam. Seolah kebetulan, Tina sendiri yang membukakan pintu. Dandanannya sudah rapi. Wajah menor oleh make up aneka warna. Sebuah tas mungil menggelantung di pundaknya. Sepertinya Tina mau pergi.

            “Ada apa ya?” Tanya Tina dengan kening berkeriut.

            “Mau ketemu neng Tina. Sepertinya mau pergi ya?”

            “Iya…” Tina menjawab ragu-ragu. Lalu menyusul,

            “Bang Pardi mau nggak nemenin Tina?”

            Tuhan, rasanya ingin berjoget Pardi detik itu juga saking bahagianya. Ternyata peletnya sukses total.

            “Siap, neng Tina. Kita kemana?”

            “Temenin Tina ke pasar, bang.”

Dada Pardi seakan meledak saking bahagianya. Wajahnya cerah ceria. Celotehnya seperti burung Kutilang mengajak Tina berbincang. Anehnya, Tina yang beberapa hari lalu sempat ketus kepada Pardi sekarang berubah jadi penuh senyum.

            Di pasar segala barang keperluan memasak diborongnya. Pardi yang membayari dengan modal hasil menjual kerbaunya. Tangisan emak supaya dia mengurungkan niatnya sama sekali tidak digubrisnya.

            Semua demi Tina. Termasuk ketika Tina hendak pulang oleh Pardi ditahannya dulu.

            “Nggak sekalian belanja bajunya, neng?”

            “Ah, tina nggak punya uang, bang Pardi,” Tina mendelik manja.

            Dada Pardi sesak melihat delikan mata Tina.

            “Uang nggak masalah, Neng. Kan ada abang.”

            “Ih, bang Pardi baik deh,” Puji Tina sambil tiba-tiba dan tiada disangka ia mencium pipi Pardi.

Pardi hampir semaput. Ia melihat langit di atasnya seperti penuh pelangi dan para bidadari turun mengerubunginya. Sedangkan dari dalam kantong, uang hasil penjualan kerbaunya tak terasa mengalir deras membayari baju-baju belanjaan Tina hingga ludes tak tersisa.

Lalu terjadilah bencana itu. Diawali oleh sebuah mobil sedan yang berhenti tepat di samping mereka yang sedang menunggu angkot. Dari balik kemudi turun seorang pria berdasi yang sudah agak berumur menghampiri Tina dan Pardi.

            Pardi heran. Terutama karena melihat Tina yang jadi kegirangan melihat pria itu.

            “Siapa dia?” Tanya Pardi.

            Dan Tina menjawab tanpa perasaan berdosa.

            “Oh, ini produser rekaman saya, bang Pardi. Ceritanya dia mau ngelamar Tina hari ini. Makanya Tina sempet-sempetin belanja buat masak. Untung ada bang Pardi yang bantuin. Makasih banyak, ya bang.”

            “Hah, ma… mau ngelamar neng Tina?!”

            “Iya, bang. Kenapa?”

            “Jadi… jadi semua ini juga ciuman tadi bukan karena neng Tina naksir abang?” Pardi shock berat.

             Sekarang gantian Tina yang melongo lalu disusul tawanya berderai,

            “Aduuuh… bang Pardi, mana mungkin saya naksir bang Pardi. Ngaca dulu dong. Masa artis pacaran sama tukang angon kebo. Nggak level. Soal ciuman tadi di kalangan artis sih udah biasa. Bukan karena cinta. Jangan ge-er deh.”

            Pardi bisa merasakan hatinya yang retak lalu pelan-pelan berubah jadi serpihan kecil. Lebih menyakitkan lagi ketika si cowok berdasi itu tersenyum sinis meremehkannya.

            “Jadi ini si tukang angon kerbo yang katanya naksir kamu itu?”

            Disebut ‘si tukang angon kebo’ Pardi yang sudah panas jadi makin naik pitam. Kebetulan di situ ada kotoran kerbo. Oleh Pardi langsung diraupnya dan dilemparkan ke mobil sedan si cowok berdasi.

            Si Cowok berdasi merah mukanya dan balik memukul Pardi.

            Pardi balas menyerang.

            Mereka terlibat baku hantam. Tina menjerit-jerit histeris.

            Orang sepasar berdatangan melerai. Pardi ditekuk beramai-ramai karena meronta-ronta ingin dilepaskan. Pardi berteriak-teriak.

            “Kalo berani maju sini luh!. Hei, Tina, dasar artis kapiran. Kembaliin duit gue. Dasar matre, tukang eret…!”

            Tina cuek saja digandeng masuk ke dalam sedan oleh calon tunangannya.***

Pardi termenung di tegalan memandangi kerbaunya yang tinggal seekor.                 Alangkah enaknya menjadi kerbau tanpa harus merasakan yang namanya sakit hati, gumam Pardi. Semua ini ternyata bukan tentang cinta. Siapakah yang tolol dalam hal ini? Dirinya yang terlalu lugu atau si artis kampungan itu yang pandai menipu?

Duit ludes, kerbo juga tinggal satu. Ternyata emak benar. Dirinya terlalu naïf.

            Tono datang dan menghiburnya. Supaya mengikhlaskan Tina. Jodoh memang tidak bisa dipaksa-paksa. Tetapi kata Pardi, bukan hanya Tina yang ia sesali. Dukun sialan itu juga tidak luput dari kutukannya. Mantera Jaran Goyang itu ternyata ngibul.

            Tono jadi tertarik.

.           “Memang seperti apa sih manteranya?”

            “Tina binti Marjuki, Tina binti Marjuki datanglah kepada akang. Dibaca tiga kali sambil mengelilingi rumahnya.” Jawab Pardi.

            Tidak disangka, mendengar  itu tawa Tono meledak sampai terpingkal-pingkal.

            “Menurutku dalam hal ini kamu juga yang salah. Apa kamu nggak inget kalo nama asli si Tina itu adalah Tinem. Tinem binti Marjuki. Tina itu nama alias aja karena sudah jadi artis. Hahaha…”

Pardi kian terkapar.  *** Tamat.

Cicinde, maret, 2016.  

           

           

           

           














Senin, 02 Mei 2016

cerpen pertarungan




            Jalan berbatu menuju Beringin tua di puncak bukit Tegal Koneng malam itu hanya diterangi sinar bulan yang kuning pucat.

            Ahmad sendirian menuju ke sana. Selembar kain sarung melilit di lehernya untuk menahan hawa dingin yang mengalir dari puncak bukit. Satu jeliken minyak tanah menggelantung di tangannya. ***


“Itu Beringin keramat tempat orang nyari berkah, ustad. Siapa saja yang berdoa disana sambil membawa sajen pasti akan dikabulkan.” Ini cerita si abah yang menjadi tetangga Ahmad

 “Abah kata siapa?”

            “Mbah Tunggul. Kuncen di sana  yang ngomong. “

“Abah percaya?”

“Tentu saja, ustad. Udah banyak buktinya. Ada yang kaya mendadak, yang penyakitnya sembuh, yang dapet jodoh. Pokoknya banyaklah.”

Ahmad diam. Terjawab sudah keheranannya kenapa setiap malam Jum’at banyak orang kampung pergi kesana. ***



Mulanya Beringin itu hanya tempat bocah angon bermain dan menghindarkan diri dari terik matahari. Lalu seorang warga desa yang sudah lama sakit mendadak sembuh setelah dibawa ke sana atas petunjuk seorang dukun asalkan datangnya membawa sesajen.

Cerita itu lantas menyebar dari mulut ke mulut. Menggelitik rasa penasaran bagi yang mendengarnya. Berbondong-bondong orang datang. Dan ternyata sang Beringin membuktikan ‘kesaktiannya’. Cita-cita setiap pemujanya ditunaikannya tanpa harus berbelit dan melewati waktu yang lama. Sebagai tanda terima kasih, dikeramatkanlah si Beringin yang hanya terdiri dari batang kayu dan kumpulan dedaunan itu. Karena Beringin inilah banyak hajat kesampaian. Itu yang menjadi anggapan mereka. ***

             Sebenarnya Ahmad baru sebulan pulang kampung setelah lima tahun masantren. Tapi perilaku musyrik orang kampung tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Malam ini juga harus diakhirinya.

Bukit Tegal Koneng menghamparkan sepi waktu Ahmad menginjakan kaki di puncaknya. Tampak Beringin tua itu seperti gundukan jamur raksasa. Besarnya mungkin ada sepelukan tiga orang dewasa. Akarnya bertonjolan dari dalam tanah. Sulur-sulurnya berjuntaian di sepanjang dahannya. Di atasnya, di langit yang gelap ratusan Kelelawar beterbangan tak tentu arah.

Sebentar lagi binatang-binatang nokturnal itu akan menyaksikan Beringin ini dipenuhi nyala api. Mereka akan sama gegernya seperti orang-orang kampung di bawah sana. Yang komplotan hewan kehilangan rumah tinggal. Sementara yang komplotan manusia kehilangan setan yang mereka anggap sebagai dewa penolong.

Ahmad buka tutup jeliken minyak tanahnya. Bau minyak tanah samar-samar menyambar hidung. Mula-mula akar Beringin yang ia siram. Lalu naik ke batangnya. Terus ia kelilingkan hingga mencapai pertengahan.

Setelah dirasanya cukup, korek dikeluarkan.

 Disulut.

Lidah api memercik menjilat udara.

Sekejap terang.

Namun benar-benar hanya sekejap.

Jduk !

Ada yang memukul tangan Ahmad hingga korek yang dipegangnya terpental dan padam.

            Ahmad kaget. Ketika berbalik, di hadapannya berdiri sosok laki-laki tinggi kurus berkepala botak.

            “Siapa kau, dan mau apa disini?” Laki-laki itu bertanya.

            “Abah sendiri siapa? Apa abah yang namanya mbah Tunggul kuncen disini?”

            “Ya. Aku memang mbah Tunggul. Kau mau apa?”

            “Aku mau membakar pohon ini, abah. Karena pohon ini sudah menjadi sumber kesyirikan orang-orang.”

             Cuih !

 Mbah Tunggul meludah.

 “Datang-datang langsung ngomong syirik. Maksudmu apa? Apa kamu bicara soal orang-orang yang tiap malem jum’at datang kesini? Ketahuilah bocah, mereka itu kesini hanya untuk berdoa. Bukan mau syirik-syirikan. Apa doa harus selalu di dalem mesjid? Pikir dulu kalau ngomong. Dasar bocah kemaren sore?!”

“Doa memang boleh dimana saja. Tapi sama siapa dulu doanya, abah? Dan kenapa harus pake sesajen segala? Itu bertentangan dengan ajaran Islam karena sama dengan bentuk ketundukan kepada selain Allah. Haram hukumnya.”

“Heh, bocah, jangan salah paham. Sesajen itu cuma untuk melestarikan adat istiadat peninggalan leluhur kita supaya tidak sampai punah. Bukan mau menduakan Tuhan. Pikiranmu sungguh picik. Sudahlah, aku tau kau seorang ustad. Lebih baik pulang sana, tidur atau urus pengajianmu. Jangan ikut campur urusan orang tua. Urusan agama adalah napsi-napsi.”

            “Abah salah. Budaya adalah buatan manusia yang penuh dengan hawa napsu. Sedang agama adalah wahyu Ilahi yang suci, Keduanya tidak boleh dicampuradukan. Dalam Islam tidak ada istilah napsi-napsi. Shalat harus berjamaah, orang kaya harus jakat atau sedekah kepada orang miskin, dan kalau melihat kemunkaran harus diberantas. Kalau tidak dengan tangan, gunakan lisan, tidak bisa lisan dengan hati. Ngerti, abah?”

            “Kurang ajar !!! Kamu mau mengguruiku, hah?!?!!” Amarah mbah Tunggul meledak. Tiba-tiba ia  menerjang Ahmad.

            Ahmad meladeni. Di pesantren ia pernah belajar pencak silat. Jadi serangan mbah Tunggul bisa diimbanginya.

Mereka saling pukul dan saling tangkis.

Puncak bukit menjadi gaduh.

Bulan mengintip dari balik awan.

Lama kelamaan mbah Tunggul tidak bisa lagi meladeni serangan Ahmad. Lawannya itu masih muda. Tenaga melimpah ruah. Sementara dirinya tinggal tulang berbalut sedikit daging serta tenaga. Mbah Tunggul akhirnya memilih untuk menyerah.

“Aku minta ampun, ustadz. Aku mengaku kalah. Kau memang hebat.” Katanya.

            “Mohon ampun sama Allah, abah. Sekarang abah pulang. Pohon ini mau aku bakar.”

            Mbah Tunggul seolah mau berdiri. Yang sebenarnya otaknya sedang berpikir keras mencari siasat. Ia tidak rela kalau Beringin yang menjadi sumber rejekinya ini tumbang begitu saja.  

            “Maap, ustadz. Menurut abah, biarkan saja Beringin ini tumbuh apa adanya. Kalau ustadz membakar pohon ini berarti ustadz sudah merusak alam? Bukankah Islam melarang umatnya melakukan kerusakan di muka bumi? Menurut abah yang bodo, sumber kemusyrikan itu bukanlah Beringin ini. Melainkan hati orang-orang itu yang mudah digoyahkan imannya. Biar abah akan melarang mereka supaya jangan datang kesini lagi. Sayang kalau pohon sudah sebesar ini dibakar”.

            Sesaat Ahmad berpikir. Omongan itu ada benarnya juga.

            “Kau tidak akan bohong, abah?”  

            “Percayalah sama abah, ustadz. Abah kan sudah jadi taklukanmu. Bukan hanya tobat, abah juga akan mensodakohkan uang sumbangan jamaah yang selama ini abah kumpulkan untuk dibuat pengajian. Kalau abah ingkar kau boleh membawa orang-orang untuk menebang pohon ini dan mengusir abah.” Janji mbah Tunggul.

            Diam.

            Ahmad berpikir antara madharat dan manpaatnya membiarkan Beringin tua ini tetap ada. Akhirnya ia memutuskan untuk mempercayai mbah Tunggul. Malam itu sang Beringin tua masih berumur panjang. ***

Kuncen Tunggul menepati janjinya. Sejak kekalahannya tempo hari, ia telah melarang semua aktifitas ngalap berkah di bukit Tegal koneng. Bukit menjadi sepi dan tenang. Selain bocah angon dan piaraannya tidak kelihatan ada lagi yang berkeliaran di sana.

Lalu uang jamaah yang katanya akan disodakohkannya pun ditepatinya. Hanya saja uang-uang itu akan diserahkannya dalam tiga tahap setiap hari Jum’at. Sebab sebagian ia pinjamkan.

            Ahmad menerima saja. Yang penting kampungnya bebas dari kemusyrikan. Soal banyak yang membencinya karena tindakannya tersebut, Ahmad tidak ambil peduli. Ia tahu, mereka yang tidak puas itu adalah yang biasa berdagang di sana tiap musim ziarah tiba. Bahkan sampai ada yang mengancam akan melarang anak mereka ngaji di ustadz Ahmad.

             Ahmad hanya bisa mengusap dada. ***

 Benar, pada hari jum’at pertama, mbah Tunggul mengirimkan uang sodakoh pertamanya kepada Ahmad. Jumlahnya lumayan besar karena dalam hitungan puluhan juta. Sepertinya uang itu dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Sebagian ada yang hampir lecek.

Demikian pula pada Jum’at kedua. Namun kali ini jumlahnya tidak sebanyak yang pertama. Mbah Tunggul beralasan orang yang ia pinjami uang sedang kesulitan. Tidak mungkin ia memaksanya. Sebagai sesama orang kecil ia tau bagaimana susahnya mencari uang di jaman sekarang.

Ahmad hanya tersenyum kecil. Omongan mbah Tunggul seperti sengaja menyindirnya. Tanpa perlu bersusah-susah uang datang dengan sendirinya. Tetapi itu adalah konsekwensi dari sebuah janji. Seharusnya laki-laki itu berpikir dua kali sebelum mengucapnya.

Ahmad jadi penasaran. Berapa lagi sisa uang mbah Tunggul yang akan diberikan kepadanya Jum’at terakhir besok. Jadi dengan sengaja Ahmad menunggunya di rumah. Seharian tidak kemana-mana. Namun hingga matahari terbenam mbah Tunggul ternyata tidak kunjung menunjukan batang hidungnya.

Mungkin sakit, Ahmad membatin. Barangali besok.

Tetapi hari Sabtu pun berlalu tanpa kedatangan mbah Tunggul.

Ahmad mulai mencium gelagat tidak mengenakan. Kalau seperti ini caranya, terpaksa nanti malam ia akan naik lagi ke bukit Tegalkoneng. ***

Mbah tunggul tidak sedang sakit. Tidak juga sedang berhalangan. Bahkan malam itu ia sedang bersiap-siap. Di dalam gubuknya ia duduk bersila mengenakan baju pangsi serba hitam. Ustadz bau kencur itu malam ini pasti akan mendatanginya dan menanyakan kenapa dirinya tidak setor lagi.

Mbah tunggul akan menjawab dengan sebuah jawaban sinis. ‘Aku tidak mau memberimu lagi duit, ustad. Apa yang aku berikan sudah lebih dari cukup. Kalau mau duit usaha seperti orang-orang’.

Ustad Ahmad pasti marah. Ujung-ujungnya mereka akan bertarung lagi. Tapi mbah Tunggul tidak takut seperti pada pertarungan pertama mereka. Mungkin hanya dirinya yang tahu. Karena memiliki penglihatan waskita, mbah Tunggul melihat kalau malam itu ada kekuatan halus yang membantu Ahmad. Seperti malaikat.

Pantas kalau dirinya kalah. Menurut mbah Tunggul munculnya kekuatan itu pasti karena ketulusan niat Ahmad. Dia ingin menghancurkan kemaksiatan ini karena Allah. Bukan karena duniawi. Jadi Allah memberinya kekuatan.

Untuk menghadapi yang seperti itu tidak bisa dengan kekuatan otot. Harus otak. Jadi mbah Tunggul bersikap seperti dermawan yang begitu murah hati menyumbangkan semua hartanya.  Bukan harta yang halal. Melainkan harta haram hasil dari pemberian para memuja berhala berbentuk Beringin tua ini.

Kalau dalam darah ustadz tolol itu sudah mengalir harta yang haram, maka mudah sekali untuk menghancurkannya. Bahkan didiamkan pun akan binasa sendiri.

“Assalamua’laikum !”

Datang juga akhirnya.

Mbah Tunggul bangkit tanpa menjawab ucapan salam. Sebelum membuka pintu ia kencangkan dulu ikat pinggangnya. Lalu kakinya melangkah lebar. Pintu ia buka dengan cara menendangnya supaya mental lawannya jatuh.

Brak !

Tetapi mbah Tunggul sendiri justeru yang balik tersurut.

Di luar bukan hanya Ahmad seorang. Melainkan juga pak Lurah dan beberapa anak buahnya. Tergopoh-gopoh mbah Tunggul meminta maap. Kakinya kepleset, dia beralasan. Dipersilahkannya tamunya untuk duduk.

Ahmad langsung mengutarakan tujuan kedatangannya.

“Saya kira abah tahu apa tujuan saya datang ke sini. Benar abah, untuk mengambil setoran terakhir abah. Sebelumnya perlu saya jelaskan dulu tentang uang yang abah sumbangkan kepada saya. Sepeser pun saya tidak memakai uang itu. Semuanya saya serahkan kepada pak Lurah untuk membangun jalan desa. Ada pun sebagai timbal baliknya, pak Lurah menghibahkan lahan di bukit ini kepada saya untuk di bangun pesantren. Sementara sesuai perjanjian kita, bahwa kalau abah ingkar janji saya boleh membawa orang untuk mengusir abah. Jadi maap, abah. Karena abah sudah mengingkari kesepakatan kita soal penyerahan uang itu, abah terpaksa harus meninggalkan bukit ini.”

Selesai Ahmad berbicara, pak Lurah lalu menambahi.

“Benar abah semua yang dikatakan oleh ustadz Ahmad. Janji sebagai orang muslim dengan cara apa pun harus ditepati. Saya harap dalam hal ini abah maklum.”

Kepala mbah Tunggul terkulai. Dia kalah telak. ***  Tamat. Cicinde, Februari, 2016.