Selasa, 08 Maret 2016

Kunang-kunang di Cicinde



KUNANG_KUNANG DI CICINDE
Di Cicinde, ada anggapan bahwa manusia paling kuat di dunia ini adalah petani, karena dia menyambung tali kehidupan jutaan manusia. Bayangkan kalau di muka bumi ini tidak ada orang yang menjadi petani, maka kehidupan pelan-pelan akan punah. Tidak ada beras, tidak ada gandum, sayur-sayuran, buah-buahan dan yang lain-lainnya.
Mak Diyah tidak perduli dengan anggapan itu. Satu hal saja yang perlu ia katakan kepada suaminya, abah Sarta, sore ini.
“Beras kita tinggal seliter, Bah. Paling hanya cukup sampe besok aja.”
Lalu dari tangan kecilnya tersuguh secangkir besar teh pahit yang diletakan di atas tikar rombeng di hadapan suaminya.
“Ngutang aja dulu ke warung si Cicih. Abah uangnya udah dikasihin sama si Maman buat beli pupuk,” yang diajak bicara tetap asik mengepulkan gumpalan demi gumpalan asap dari udud kawungnya. Sebelah kaki menekuk menopang tangan kiri yang menjepit sebatang rokok. Sedang melamun rupanya. Dan bahan lamunannya ditunjukkan oleh tatapan matanya yang hinggap pada sebuah bingkai poto yang sudah kusam yang tergantung di dinding bilik yang juga sudah berwarna kehitam-hitaman.
Si bungsu yang bernama Asep, anak kesayangannya yang tercetak di dalam foto itu, seperti sedang membalas tatapannya. Dua orang kakaknya semua perempuan. Sudah menikah dan sudah pula diboyong suami masing-masing.
Kata mak Diyah, anak perempuan juga rejeki yang wajib disyukuri. Abah Sarta mengerti. Ia berkilah, syukurnya akan lebih mantap kalau seorang saja di antara bayi yang keluar dari rahim istrinya adalah anak laki-laki. Dengan begitu akan ada yang meneruskan jejak langkahnya membalik lumpur di sawah menyemai benih-benih kehidupan.
Dan pada kelahiran yang ketiga, Gusti Allah rupanya mengabulkan permintaan abah Sarta. Si jabang bayi yang menengok dunia sambil melengkingkan tangis suka citanya ternyata berkelamin laki-laki. Betapa senang abah Sarta. Sebagai bentuk syukurnya ia lalu menyembelihkan satu ekor Kambing.
Sementara untuk namanya abah Sarta sudah punya pilihan, yaitu Asep. Yang artinya kasep, atau ganteng. Seperti itulah kira-kira harapannya kalau si anak sudah besar nanti. Ganteng sampai ke akhlak-akhlaknya.
Kalau kakak-kakaknya sekolah tamat SD saja cukup, si Asep tidak. Sekolahnya tinggi, sampai menjelajah ke SMU yang ada di kota. Untuk segala macam biayanya, abah Sarta rela menjual satu dari tiga kotak sawah yang dimilikinya.
“Abah nggak menyesal. Ini semua demi si Asep. Kalau pendidikannya tinggi, siapa tau rejekinya juga ikut tinggi,” kata abah Sarta kepada istrinya waktu sang istri menanyakan apakah di kemudian hari nanti dirinya tidak menyesal sudah menjual sebagian ladangnya.
Tetapi waktu senantiasa berubah dan tabiat manusiapun ikut pula berubah. Sekarang abah Sarta harus menjilat ludahnya sendiri. Pasalnya, sang putra yang amat dibanggakan itu, tega sekali mematahkan harapan yang sudah terlanjur jauh dibentangkannya ini.
“Bagaimana sekarang keadaannya si Asep, Yah?” Abah Sarta berkata seperti ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Abah jangan mikirin dia terus. Si Asep belum juga sebulan pergi ke kota. Mudah-mudahan aja dia cepet dapet kerja kayak si Ujang,” Jawab mak Diyah.
“Maksud abah bukan begitu. Abah akan bahagia kalo dia di desa aja jadi petani kayak abah. Rasanya kalo anak kerja jauh begitu, abah suka kepikiran terus. Takut kenapa-kenapa. Anak itu kan baru sekali ini merantau ke kota.”
Mak Diah tertawa.
“Abah ini gimana. Si Asep itu nyari kerja di kota buat masa depannya. Kita doain aja mudah-mudahan dia cepet sukses dan jadi orang kaya. Habis kalo di kampung terus dia mau ngapain? Mending kalo orang tuanya kaya-raya, punya sawah luas, duitnya banyak, kehidupan dia akan terjamin. Ini, kita buat makan sendiri aja cuma pas-pasan.”
Abah Sarta tidak menjawab. Dalam hati dia tidak memungkiri apa yang istrinya katakan. Sawah mereka makin kesini makin tidak menghasilkan apa-apa. Padi memang ‘berbuah’. Tapi kadang Wereng, Tikus, dan Ulat mendului mereka, berpesta menyedot satu demi satu biji-biji padi itu. Sisanya hanya batang-batang padi yang sudah mengering seperti mayat yang menunggu dikubur.
Selain masalah hama, kadang pupuk juga suka menghilang tiba-tiba dari pasaran. Kalau juga ada harganya pasti sudah naik bertingkat-tingkat. Untuk bisa membelinya abah Sarta terpaksa harus utang dulu kepada Haji Rosid, tengkulak yag merajai kampungnya, dengan syarat pada waktunya panen abah Sarta harus menjual gabahnya kepada dia.
Dan sudah bisa ditebak, ketika panen tiba harga gabah ditekuknya hingga merendah-rendah. Abah Sarta tak berdaya. Keluhnya menjadi kian tak berujung.
Nasi timbel yang akan dibawa sebagai bekal ke sawah sekarang telah selesai dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Isinya berupa sambel, ikan asin, dan seikat daun lalap-lalapan.
Abah Sarta segera pamit sambil berpesan supaya si Maman, menantunya, cepat-cepat membeli pupuk agar tidak kehabisan lagi. Kabarnya pupuk ini kiriman langsung dari pemerintah yang harganya lebih murah karena sudah disubsidi.
Mak Diyah menjawab hanya sebatas anggukan.
Abah Sarta melangkah dengan pacul di pundak kiri dan rantang makanan menggelantung di tangan kanan. Baju dan celananya berwarna serba hitam yang disana-sini belepotan oleh noda-noda lumpur yang sudah mengering. Melongok keatas, kepala yang sudah seperti bola sepak tampak ditutupi caping.
Jalan setapak menuju sawah harus melalui hutan bambu tempat burung-burung Manyar berkumpul. Ujung jalan setapak itu akan langsung menyambung dengan galengan, atau pematang sawah. Dari sana sinar matahari akan langsung menaburkan cahayanya.
Abah Sarta buka capingnya untuk membiarkan angin pesawahan yang sejuk menerpa sekujur tubuhnya. Ke manapun mata memandang yang tampak hanyalah kemilau padi-padi yang menguning laksana hamparan permadani berbatas gunung dan barisan pepohonan di kejauhan.
Puluhan burung Pipit terlihat beterbangan dari sawah yang satu ke sawah yang lain sambil bercicit nyaring. Ada pula suara Bancet, Kodok kecil,yang merepet-repet bersahutan.
Segala yang didengar dan dilihatnya itu menautkan lagi pikiran abah Sarta kepada si Asep. Waktu kecil pun ia sering mengajaknya ke sawah. Mencarikannya Belut atau sarang Burung. Harapannya besar sekali si anak kalau sudah dewasa nanti akan mengikuti jejak bapaknya menjadi petani. Tetapi petani yang pintar supaya bisa membantu orang-orang disini melepaskan diri dari jeratan tengkulak.
Ya, di sini tengkulak seperti haji Rosid itu lagaknya seperti penyamun yang bermuka dua. Pada waktu masa tanam padi tiba, hatinya begitu baik penuh ketulusan membantu seluruh kebutuhan petani. Dari mulai bibit padi, pupuk, bahkan hingga traktor ia sediakan.
Namun ketika tiba masanya padi dipetik, tampaklah tabiat aslinya yang serupa Dasamuka. Petani yang sudah terjerat utang, tidak boleh menjual hasil panennya ke pihak lain. Harus selalu kepada dirinya. Dan tentu saja dengan harga yang sudah ia patok sendiri yang jauh lebih murah di bawah harga pasaran.Tak seorangpun berani menentang.
Kemudian si Asep yang tadinya hendak dijadikan sarjana pertanian, ternyata makin tinggi badannya, makin tak tertarik menyelami seluk-beluk sumber kehidupan orang tuanya ini. Apalagi kalau harus belepotan lumpur. Paling benci. Pabrik-pabrik di perkotaan lebih deras menarik minat hatinya.
Seperti gambar film yang diputar ulang, di pelupuk mata abah Sarta tergambar lagi pertengkaran dengan si bungsu itu pada suatu malam. Bulat rupanya tekad si Asep hendak mengikuti jejak kawan-kawan sedesanya merantau ke kota menjadi buruh pabrik. Tiap bulan gajian, tiap bulan gajian tanpa harus pusing-pusing memikirkan hama, harga pupuk yang terus naik, atau hujan yang enggan menengok bumi.
“Kalo tetep jadi petani, hidup kita akan miskin terus, Pak. Nggak usah jauh-jauh, bapak lihat aja nasib bapak sendiri. Puluhan tahun menjadi petani, tivi aja nggak kebeli. Yang kaya malah para tengkulak itu yang mencekik orang-orang seperti bapak. Tiap tahun harga beras naik, tapi apa itu bisa menjadikan bapak kaya? Yang ada bapak malah terus gali lobang tutup lobang. Coba kalo jadi karyawan, si Ujang malah udah bisa ngeridit motor sendiri. Apa bapak nggak pengen hidup kita bisa maju seperti itu?” Asep tetap ngotot dengan kehendaknya. Hatinya kaku seperti besi yang tidak bisa dibelokan.
“Tapi Abah nggak punya uang, Sep,” keluh abah Sarta mencoba mempertahankan buah hatinya itu.
“Tapi Abah kan masih punya sawah tiga kotak? Jual aja satu, Bah.”
Hati abah Sarta serasa diiris mendengarnya. Wajahnya sendu serupa perawan yang di tinggal mati kekasihnya. Tega sekali anaknya berkata demikian. Tidakkah anak itu menyadari, sawah itu baginya sama dengan nyawa kedua.
Tetapi abah Sarta yang pada dasarnya amat menyayangi putranya itu, mengalah. Besoknya, satu kotak sawahnya dia gadaikan kepada haji Rosid.
Kata si Asep, uang hasil gadai sawah itu akan dipergunakan untuk menyogok orang yang akan mempekerjakannya di pabrik. Sudah biasa, di kota segala urusan kalau ingin lancar mengalir, harus ada pelicinnya.
Abah Sarta sudah tak ingin mendengarnya. Hatinya terlanjur kecewa. Anak kesayangan yang diharap akan meneruskan jejak langkahnya kini bersimpangan jalan. Lantas siapa yang akan menjaga dan mengolah ladangnya di masa depan nanti?
“Abah, tunggu, bah !” Tiba-tiba ada yang berteriak memanggil abah Sarta.
Abah Sarta berhenti dan menoleh.
Mak Diyah yang baru saja dittinggalkannya sedang tergopoh-gopoh menuju ke arahnya. Beberapa kali perempuan tua itu hampir terpeleset di galengan yang licin.
“Kamu kenapa, Mak, lari-larian begitu kaya dikejar macan?”
 “Abah, cilaka! Cilaka, Abah!” Mak Diyah meriwis-riwis. Belum apa-apa dia sudah hampir menangis.
“ Apanya yang cilaka? Sok atuh buruan jelasin. Ada apa ini teh?”
“Itu... si Asep cilaka...!”
“Hah? Celaka kenapa si Asep?”
           Dia teh ditipu orang. Duitnya ludes semua dibawa kabur.”
Mengalirlah cerita yang membuat abah Sarta mesti mengurut dada. Berdasarkan cerita si Ujang, Si Asep menemui orang yang sudah menjanjikan pekerjaan itu. Katanya dia punya kenalan seorang pegawai di sebuah pabrik. Tapi untuk bisa kerja di sana, si calon karyawan harus membayar uang administrasi dua juta besarnya. Si Asep yang sudah kebelet ingin cepat jadi karyawan, tanpa pikir dua kali, percaya begitu saja. Uang hasil abah Sarta menggadaikan sawah pun langsung diberikannya. Ternyata begitu uang diterima, orang itu langsung menghilang tak tentu rimbanya.
“Begitu kata si Ujang, Bah. Ini teh gimana atuh? Kasian si Asep....”
“Sekarang si Asepnya mana?” Tanya abah Sarta.
“Dia masih di kota. Kata si Ujang dia nggak mau pulang. Malu. Aduuuh, anak teh kumaha atuh nasibnya sekarang. Kita harus gimana, Abah?” Makin basah air mata mak Diyah. Terbayang si Asep di kota tanpa memegang uang sepeser pun.
Hampir menangis abah Sarta mendengar nasib anak kesayangannya itu. Matanya berkaca-kaca.
“Kita harus gimana, Bah?”
“Ya udah, kita gadein saja lagi sawah kita ke haji Rosid. Yang penting si Asep harus kita bantu dulu,” kata abah Sarta menegar-negarkan hati. Ia lalu duduk di tepi galengan. Pegal-pegalnya yang tadi tidak terasa, sekarang begitu jelas mencucuk tulang-belulangnya. Seharusnya di usianya yang kian menginjak senja ini, sudah waktunya untuk pensiun. Bukan terus-terusan ‘asik’ menentang badai. Ya, kehidupan seorang petani adalah hidup yang dikelilingi badai.
Senja makin temaram.  Abah Sarta memutuskan malam ini ia tidak akan pulang, Ia ingin melihat kunang-kunang yang biasanya setiap menjelang musim kemarau bermunculan. Berkerlap-kerlip seperti intan di kegelapan malam. Entah apa yang dicarinya hingga harus selalu membawa-bawa pelita. Tapi abah Sarta merasa bahwa nasibnya tak jauh beda dengan kunang-kunang itu. Demikian kecil, demikian lemah.
 Abah Sarta pandangi hamparan ladang miliknya yang rata menguning. Bulir-bulirnya montok berisi. Ia bangga dan bahagia memilikinya. Rasanya tak sia-sia jerih dan payahnya memeras keringat. Tapi sekarang ia jadi bertanya-tanya, padi-padi ini sebenarnya untuk siapakah? *** Tamat. – Di muat di Annida.

Senin, 07 Maret 2016

sintren manik layungsari



   
            Dari kejauhan rumah berdinding setengah bilik di tepi pantai Layungsari Cirebon itu hanya terlihat serupa bayangan gelap. Cahaya bulan sabit yang menggantung di angkasa tak mampu menjejakan sinarnya. Hanya sanggup membentuk siluet dari sepasang muda-mudi yang tengah mengobrol di bawah cucuran atap.
“Jadilah isteriku, Manik. Kita sama-sama kerja di Jakarta. Dengan begitu hidup kita akan lebih baik.” Kata Sasmita sambil menatap dalam gadis belia di sisinya.
 Yang ditatap meremas jemarinya penuh kegelisahan. Otaknya yang hanya diisi oleh didikan sebatas SD dipaksa bertarung menentukan pilihan simalakama.
 Di sini dirinya adalah tulang punggung dari dua orang adiknya yang masih sekolah, kemudian emak dan bapaknya. Beban yang berat itu sepintas seperti tidak pantas dipikul seorang perempuan umur tujuh belasan seperti dirinya. Tetapi Manik senang melakoninya.
 Dia seorang Sintren. Dan di Layungsari ini siapa yang tidak mengenal kepopuleran nama Sintren Manik. Pengaruhnya jelas. Selain dirinya terkenal, profesi itu membuat uang gampang di dapat sehingga keluarganya terbebas dari kemelaratan. Hantu yang menelikung tanah airnya ini.
Namun di sisi lain menikah dengan Sasmita, pemuda  yang amat dicintainya, adalah impian hidupnya. Hanya saja ajakannya pergi ke Jakarta lalu meninggalkan segala ke-terkenal-an dan kemudahan materi yang sudah jelas-jelas didapatnya disini untuk sebuah ketidak pastian, seperti memaksa dirinya untuk bunuh diri.
Pelan kepala si gadis remaja berambut panjang sepinggang itu menggeleng.
“Aku bli bisa, kang. Kalo aku melu karo sampeyan hidupku durung pasti bisa enak kayak sekien. Lagian sapa sing mau ngurusi keluargaku? Pangampura, kang. Dudu aku bli demen karo sampeyan. Tapi sekien duit kanggo aku lebih penting.”
 Kalau orang mengatakan bahwa setiap niat baik maka buahnya adalah kebaikan pula, maka Sasmita tidak akan percaya. Sekarang inilah buktinya. Buah dari niat baiknya adalah sebentuk rasa nyeri. Pacarnya lebih memilih harta dan popularitas ketimbang norma kehormatan yang ditawarkannya. Hanya karena rahim kehormatan itu mandul dari nilai-nilai duniawi.
Keputusan yang diambil Manik itu tercetak jelas dalam benak Sasmita.
Minggu kedua di bulan Mei. Harusnya malam ini ia melaut. Ikan Teri sedang berlimpah ruah. Tapi sejak seminggu yang lalu Sasmita sudah bertekad bahwa malam inilah waktu yang tepat untuknya meninggalkan lautnya. Merantau ke Jakarta.
 Udara dingin berhembus dari arah laut ketika Sasmita menarik dirinya dari hadapan Manik. Meninggalkan kampungnya adalah hal kedua terberat yang menjadi keputusannya. 
***            
            Kepedihan hidup adalah sebuah jembatan didikan. Kalau lulus menitinya, maka rasa pedih itu akan membuat pribadi lebih bijak. Tetapi kalau terjatuh di tengah-tengah perjalanan, maka terjatuhlah ke jurang kehinaan.
 Sasmita ingat betul, pemikiran seperti itu timbul akibat kekecewaan oleh satu dan dua hal yang merubuhkan kebahagiaan hatinya. Pertama, cintanya yang direnggut paksa oleh sebuah budaya masyarakatnya yang bernama Sintren.
Kedua, lautnya yang puluhan tahun menjadi sumber mata pencahariannya ternyata tidak bisa mengangkat derajat kehidupan orang kampungnya. Termasuk juga dirinya di dalamnya. Akibatnya dua sisi kehidupan yang paling dicintainya itu harus rela ditinggalkannya.
 Semua butir kenangan itu akan tetap bertebaran di jalan kehidupan Sasmita. Berikut segurat rasa pesimis yang dulu sering mengiris perasaannya.
 Kampungnya di tahun 70-an seperti tidak akan pernah beranjak dari kemiskinan. Rumah-rumah bilik dengan pekarangan yang serba sempit dipagari pagar bambu yang hampir roboh berdesak-desakan memenuhi setiap jengkal tanah.  Anak-anak bertelanjang dada dengan perut membusung dan tulang belikat menonjol asyik bermain berkejaran.
Sekarang setelah hampir lima belas tahun meninggalkannya, Sasmita seakan tak percaya kalau keadaan tersebut tetap menghimpit kampungnya.
 “Kampungmu dari dulu tetep aja begini. Di sini nyari kerja susah. Ke laut kadang dapet, kadang nggak,” Cerita bapak.
Sasmita tidak tertarik mendengar cerita itu.
“Gimana kabarnya Manik sekarang, pak? Apa udah nikah?”
Bapak meletakan rokok yang sedang dihisapnya.
“Apa kamu masih ngarepin dia? Apa itu yang jadi sebab hingga sekarang kamu belum kawin-kawin juga?”
“Aku hanya ingin tau aja, pak.”
“Sampe sekarang bekas demenan sira itu masih tetep nyintren.”
 Jawaban itu lebih dari cukup. Berarti Manik belum menikah. Sebab semua juga tau kalau Sintren hanya bisa dibawakan oleh gadis yang masih perawan. Tapi apa yang membuat Manik tetap bertahan dengan profesinya itu mengingat usianya sekarang tentu sudah tidak muda lagi?
Sasmita menghubungkan dengan keadaan dirinya sekarang yang sudah punya usaha mapan. Tentu banyak yang bisa dilakukannya.
Seolah kebetulan, kepulangan Sasmita bertepatan dengan pesta laut yang akan diadakan kampungnya. Beberapa tetua kampung segera mendatanginya Mereka memohon bantuan Sasmita agar sudi menyumbang acara pesta laut tersebut. Lebih dari sekedar menyumbang, Sasmita bahkan bersedia menanggung semua biayanya. Tapi ia mengajukan syarat.
“Saya minta supaya Sintren di hapus dari acara pesta laut tersebut.”
***

Manik termangu. Dirinya tidak boleh Nyintren?
 “Begitulah, Nok. Kami nggak berdaya. Kalo menolak, barangkali pesta laut tahun ini akan batal diadakan. Biayanya dari mana? Sementara, eh, maap, bekas kekasihmu itu menjanjikan bahwa pesta laut sekarang akan lebih meriah. Dia akan ngundang artis-artis dari Jakarta. Bahkan katanya akan masuk tivi segala. Tapi ya itu tadi syaratnya…”
 “Aku ngerti, mang,” Manik memotong. “Bli apa-apa. Orang miskin kayak kita punya kuasa apa. Kalo gitu aku punya satu permohonan. Temenin aku nyintren malam ini, mang,” Ajak Manik tiba-tiba kepada tetua yang mengabari berita tadi.
“Malam-malam begini? Kenapa, Nok?”
“Pesta laut besok aku kan udah nggak boleh nyintren. Jadi aku ingin melakukannya malam ini. Ayolah. Paling cuma satu jam.”
Karena memaksa, permintaan Manik itu dituruti.
Sesungguhnya ini adalah salah satu adegan dari masa remajanya dulu. Bagi gadis-gadis pesisir, sesuatu yang lumrah menunggu kekasih mereka pulang melaut sambil belajar menari sintren di tepi pantai dibawah siraman sinar rembulan.
Dan melalui tarian itu Manik seakan ingin menghadirkan kembali sosok seorang Sasmita dalam dunia kecilnya yang sederhana. Dunia yang tidak pernah beranjak dari kampungnya, Layungsari, berikut lunggak-lenggok tariannya yang bernama Sintren.
Semua orang seperti mengerti perasaan Manik. Para nayaga yang sebelumnya setuju dengan permintaan Sasmita, tiba-tiba saja sudah bersiap dengan peralatannya masing-masing seperti gong, kendang dan waditra. Sebuah kurungan yang ditutupi kain hitam diletakan di tengah-tengah arena yang hanya berupa hamparan pasir pantai.
Setelah dirasa semua siap, Sang juru kawih memulai tembang pembukanya.
Turun-turun sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang ning ayun ayunan
Kembange siti Mahendra
Widodari temurunan naranjing ka awak sira
 Penonton hening. Mereka memperhatikan pawang Sintren yang mulai membakar kemenyan. Asap dan baunya disebar angin laut ke segala arah. Membuat suasana jadi  terasa agak menyeramkan.
Selanjutnya sang pawang menuntun Manik ke tengah-tengah arena. Sebagai tahap awal dari proses pembentukan Sintren, diikatnya sekujur tubuh Manik dari mulai bagian bahu hingga ujung kaki. Lalu dibungkus dengan sehelai kain berwarna putih. Diikatnya di bagian kepala dan kaki. Sehingga benak setiap yang melihat akan tertarik kepada satu hal menyeramkan. Pocong.
Selanjutnya tubuh Manik yang sudah berada dalam keadaan terbelenggu itu dimasukan kedalam kurungan tertutup berikut seperangkat baju khusus Sintrennya.
Maka dimulailah proses pembentukan Sintren yang berada diluar logika manusia tersebut. Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana caranya seorang calon Sintren yang terikat dan dimasukan kedalam kurungan, lalu ketika kurungan dibuka tiba-tiba saja semua tali yang mengikatnya itu sudah terlepas. Bukan itu saja, bajunya pun sudah bersalin rupa dengan baju khas Sintren.
Meski sudah menonton berkali-kali, namun orang-orang tak habis herannya tiap kali Manik keluar dari kurungan itu dalam keadaan sudah berubah segalanya.
Baju yang dikenakannya sudah berganti dengan baju Golek yang dihias rumbai-rumbai dengan beberapa manik gemerlapan di beberapa bagiannya. Berpadu dengan celana Cinde berwarna hitam sebatas lutut. Disamping pinggulnya kain Sampur berwarna kuning menjuntai simetris sebatas betis menambah manis sosok sang Sintren itu sendiri.
Bibir Manik memerah oleh polesan lipstick yang rapih, kepalanya dihiasi oleh mahkota dengan rangkaian bunga melati di kedua sisinya. Namun dari semua dandanan itu yang paling menonjol adalah mata Manik yang ditutupi oleh kacamata hitam.
Maka dimulailah tarian mistis itu.
“Aku ingin menarikan sintren dewi Lanjar, mang,” Pinta Manik sebelum pertunjukan dimulai.
Si Pawang mengangguk paham.
Sejarah Sintren adalah sejarah tragedy cinta antara Sulandono, putra nyai Rantamsari dengan Sulasih seorang gadis miskin dari desa Kalisalak. Sayang, Ki Bahurekso ayah Sulandono tidak merestui hubungan mereka.
Kalau Sulandono memilih pergi bertapa, maka di sisi lain jalan kehidupan menjadikan Sulasih sebagai penari Sintren. Namun pertemuan keduanya tetap berlanjut di alam gaib. Dimana setiap kali menari, Nyai Rantamsari selalu memanggil roh Sulasih untuk dipertemukan dengan roh putranya. Sementara kedalam badan Sulasih ia memasukan roh dari bidadari dewi Lanjar. Roh yang akan menambah kecantikan raga yang dirasukinya sekaligus menjadi pemikat bagi para lelaki terutama laki-laki yang dicintai oleh sang Sintren.
Yang paling menarik dari pertunjukan Sintren adalah ketika para penonton melemparkan saputangan atau kain yang biasanya telah diisi dengan uang. Ketika benda-benda itu mengenai tubuh si Penari, maka dia akan langsung hilang kesadaran. Tugas sang pawanglah untuk segera menyadarkannya kembali.
Namun pertunjukan Sintren yang baru berjalan beberapa menit itu tiba-tiba menjadi kacau.
“Berhenti ! berhenti!. Hentikan permainan Sintren ini!”
 Sasmita tiba-tiba menyeruak dari kerumunan penonton penuh kemarahan. Musik langsung senyap. Manik jatuh terkulai.
“Bukankah kita sudah sepakat bahwa pesta laut kali ini tidak boleh ada pertunjukan Sintren? Kenapa kalian masih melakukannya juga?” Sasmita menyebar tatapannya yang penuh kekesalan.
Semua nayaga bungkam. Takut Sasmita tersinggung lalu menarik kembali dananya. Sementara Manik yang tadi terkulai, pelan menggeliat bangun dan membuka matanya. Ia masih cukup jelas mendengar perkataan Sasmita tadi.
 “Ini bukan pesta laut, kang. Kamu nggak punya hak buat melarang kami. Apa kamu masih dendam sama aku kang, karena penolakanku dulu?” Pertanyaannya mencuat diantara sikap pengecut orang-orang kampungnya.
“Tidak ada hubungannya dengan masa lalu kita, Manik. Aku anggap itu sudah tuntas. Aku hanya ingin kampung kita maju dan dikenal oleh dunia luas. Pesta laut kali ini akan diliput oleh televisi. Bayangkan, apa jadinya kalau yang dilihat oleh masyarakat modern adalah dirimu yang kesurupan lalu berjoget seperti orang gila? Apa kamu tidak malu?”
Segurat perih menusuk dada Manik dirinya diserupakan dengan orang gila.
“Kamu menghina budayamu sendiri, Kang. Kamu sendiri tau, dari dulu Sintren emang seperti itu. Kamu berubah sekarang, kang Sasmita. Apa karena sudah jadi orang kaya?”
“Aku berubah untuk lebih baik, Manik. Tidak sepertimu yang sampe sekarang tetap saja jadi Sintren. Pikiranmu hanya duit, duit, dan duit. Daripada  menjadi isteriku, kamu lebih memilih jadi sundal yang tak punya harga diri!”
 Ucapan itu seperti pedang yang menebas persendian lutut Manik hingga perawan tua itu luruh bersimpuh di pasir pantai yang lembut. Pundaknya berguncang menahan tangis. Benarkah laki-laki itu yang berkata demikian? Ternyata semua ini muaranya adalah cinta mereka sendiri yang bertahun tidak terlampiaskan lalu berubah menjadi dendam. Namun ada yang tidak dipahami oleh Sasmita. Dan itulah yang ingin dijelaskan oleh Manik.
 “Kita sama-sama tau, kang kalau kampung kita dari dulu melarat dan bodoh. Tapi aku nggak ingin seperti itu. Aku ingin emak dan bapakku hidup senang. Aku ingin adikku bisa sekolah yang tinggi.”
“Dan aku menemukan jalannya melalui Sintren. Aku dipuja-puja. Duit buatku nggak masalah. Aku senang, kang. Tapi di sisi lain hatiku sebenarnya perih ketika semua itu harus kutebus dengan cara kehilangan dirimu. Aku sadar bahwa aku telah salah memilih. Tapi aku nggak punya jalan lain. Demi sekolah adikku, juga kehidupan orang tuaku aku kesampingkan perasaanku sendiri….”
Cuih ! Sasmita meludah.
“Lalu sekarang apa? Kalau sudah setua ini kamu masih juga nyintren, itu artinya kamu tetep nggak bisa lepas dari duniamu. Kamu emang penari matre!”
Hanya Manik yang tau akan kepedihan hatinya sendiri. Dihinakan seperti sampah justeru oleh orang yang dikasihinya, kemudian terpinggirkan bersama budaya yang kini sangat dicintainya.
Manik dewasa berkat pengalaman hidup yang dijalaninya. Bukan karena pendidikan. Ia membaca pertanda jaman. Ketika musik pop dan dangdut mulai merambah ke kampung-kampung, termasuk layungsari ini, perlahan Sintren mulai terlupakan. Hampir tak ada lagi yang mau menanggap.
Namun seiring dengan itu jiwa Manik bermetamorfosa. Bak seekor Kupu-kupu cantik yang berasal dari Ulat yang menjijikan. Kalau dulu ia menari untuk materi, Sekarang ia justeru ingin menjaga agar Sintren itu tetap lestari. Minimal di tanah kelahirannya ini. Walau untuk itu ia harus rela menjadi perawan tua. Karena Sintren sejatinya hanya bisa dibawakan oleh perempuan yang masih perawan.
Itu di satu sisi. Sementara di sisi lain, ia merasa betapa sulit dirinya bisa mencintai laki-laki lain setelah Sasmita. Pun ketika orang yang dicintainya itu kini ingin balas menghancurkannya. Ia rela. Karena dendam itu asalnya dari cinta juga.
“Semua itu sekarang kulakukan bukan karena aku matre, kang. Tapi aku nggak rela budaya kampung kita ini musnah dan dilupakan semua orang. Sintren bukan hanya kenangan kita berdua. Dia adalah sumber kehidupan itu sendiri yang membuat semua orang disini merasa bahagia dan memiliki kebanggaan kepada kampungnya sendiri yang seperti engkau tau dari dulu sampe sekarang tetap saja melarat.
“Aku mohon, kang, berilah kesempatan kepada budayamu ini untuk tumbuh dan berkembang mengikuti jamannya. Jangan engkau tindas dia karena kenangan kita dulu…” Sempurna sudah Manik menjelmakan dirinya di hadapan orang yang karena cinta kemudian menistakannya. Satu-satu air matanya jatuh di pasir pantai.
Manik sosok yang bodoh. Sasmita tau itu karena semasa di sekolah dasar dulu mereka satu kelas. Pelajaran berhitungnya payah. Membaca pun terbata-bata. Mungkin hal itu disebabkan juga oleh ‘kutukan’ kampungnya yang kurang begitu memperhatikan soal pendidikan.
Tetapi malam ini, setelah sekian tahun mereka berpisah, ia melihat sisi lain dari diri Manik yang terjungkirkan dari kebodohannya itu. Tidak bisa tidak, pengalaman hidupnya sebagai Sintrenlah yang mampu membuat pribadinya tampil sempurna. Menjadi penjaga dari sebuah nilai-nilai budaya yang tertatih-tatih mengiringi laju jamannya.
Sasmita sadar, Ia telah salah memaknai cinta yang ada dalam dirinya dan juga dalam diri Manik. Namun rasa keegoan membuatnya gengsi untuk mengakui semua itu. Yang kemudian terjadi justeru dialog yang terjadi antara mereka tadi telah menumbuhkan sebuah kesadaran baru.
Para tetua seolah baru menyadari kenapa Manik selama ini memilih untuk tetap jadi perawan. Rupanya karena di kampung mereka sudah tidak ada lagi gadis yang mau menjadi Sintren, maka Manik menjadikan dirinya sebagai benteng terakhir untuk menjaga budaya leluhur itu dari kepunahan.
“Manik benar, pak Sasmita. Kami tidak butuh uangmu kalau dengan itu kami harus mengorbankan budaya sendiri. Sebaliknya, kamu sudah mengecewakan kami semua. Seperti inikah balas budimu kepada tanah kelahiranmu sendiri?”
Sasmita tidak perlu melakukan pembelaan diri langsung. Sebelumnya para pemuda disini sudah berhasil ia kuasai dengan keberlimpahan materinya. Tanpa harus diperintah, para pemuda itu sekonyong-konyong berdatangan.
“Kamu yang salah, abah. Pak Sasmita yang benar. Jaman modern sekarang kita tidak butuh lagi Sintren kalau ingin maju. Sintren harus dihapus dari kampung kita. Kamu harus pergi dari Layungsari, Manik!”
Bukan hanya sebatas pengusiran terhadap Manik. Para pemuda itu bahkan mengacak-acak seluruh peralatan Sintren yang ada. Penonton berhamburan. Para tetua hendak melawan. Namun dengan kelembutan dan kesabarannya Manik berhasil menahan mereka.
“Sejak kapan, mang gara-gara Sintren kita jadi cerai berai? Mereka semua itu adalah anak-anak kita yang belum paham soal tradisi dan adat istiadat para leluhurnya sendiri. Biarkan saja. Suatu saat mereka akan menyadari kalau apa yang dilakukannya ini adalah sebuah kekeliruan. Saya bersedia meninggalkan Layungsari mang, kalau dengan kepergian saya, kehidupan disini akan kembali utuh”.
Sasmita yang mendegar ucapan Manik tersenyum puas penuh kemenangan. *** ( Di muat di majalah annida tahun 2014 )