Minggu, 15 Januari 2017

TEMBANG KEMBANG PANTAI UTARA



Melalui kaca jendela RM yang buram Sarini memandang ke pelataran parkir beraspal tempat tetes gerimis memecah. Sepi. Malam ini tak satu pun ada mobil yang terparkir di sana.
Namun wajah yang tersaput kelabu itu dengan cepat jadi bercahaya. Sebuah sedan merah yang sudah sangat dikenalnya berbelok masuk. Lalu berhenti tidak jauh dari pintu masuk RM.
            Pintu di samping kemudi terbuka. Seorang laki-laki umur tiga puluhan keluar. Dengan satu - dua kali lompatan saja dia sudah berada di depan pintu masuk RM.
Namanya Gayusman. Nama yang sudah sedemikian akrab di telinga Sarini. Itu sebabnya ia menyambut kedatangan laki-laki itu dengan senyuman manis dan sapaan hangat.
“Cepet masuk, bang. Di luar dingin.” Tangannya melingkar ke pinggang lelaki itu.
            Gayusman mencium rambut Sarini. Mereka duduk bersisian di sofa yang panjang. Sarini sengaja merapatkan tubuhnya ke badan Gayusman supaya pria itu tidak kedinginan.
“Ada yang ingin abang sampaikan,” Kata Gayusman. Jemarinya meremas jemari Sarini.
            “Apa, bang?” Suara Sarini manja.
            “Abang sudah bulat dengan keputusan abang. Insya Allah, abang akan mengeluarkanmu dari tempat ini. Kamu nggak pantas berada di sini. Nanti abang akan memasukanmu ke pesantren. Perbanyaklah tobat disana…”
            Seperti umumnya pelayan RM yang selalu berpakaian seronok, malam itu pun Sarini hanya mengenakan kaos putih tanpa lengan. Roknya beberapa centi di atas lutut. Terpamer paha yang mulus. Polesan lipstik warna merah menggurat di bibir yang tipis.
            Dan bibir merah itu menyungging senyum kecil yang entah apa maknanya manakala mendengar ucapan Gayusman. ***
           
Sebuah kampung kecil di pinggiran kota kecamatan Banyusari yang asri. Bernama Jungklang. Di situlah Saripah lahir. Sekolahnya hanya SD. Tamat sekolah, kebingunganlah yang melanda karena sulit mencari pekerjaan.
            Oleh seorang kawan Saripah kemudian di ajak menyusuri serentang jalan yang amat populer dengan sebutan jalur pantura. Antara Cikalong hingga Patok Beusi puluhan RM atau Rumah Makan bertebaran di sepanjang jalan. Di tiap pintu masuknya terpasang reklame besar yang bertulisan nama RM-nya.
            Saripah membacai satu persatu. Ada RM Nikki, RM Kalasan, RM Harjo. Sepertinya nama setiap RM itu mengacu kepada nama pemiliknya, gumam Saripah. Mereka kemudian berhenti di depan sebuah reklame besar bertulisan RM PANTAI UTARA.
            “Saya punya kenalan di RM ini. Kalo mau kamu bisa kerja di sini melayani orang makan. Gajinya besar dan nggak perlu pake ijasah.” Kata si kawan.
            Mendengar tawaran tak terduga itu yang langsung terlintas dalam pikiran cupet Saripah adalah keadaan keluarganya yang kere - terdiri atas seorang laki-laki tua kurus kering berikut pasangannya yang sering sakit-sakitan.
            “Saya mau, saya mau. Kapan kerjanya?” Saripah begitu antusias.
            Hari itu juga Saripah langsung dibawa kesana.
Dan diterima.
            Memang benar tugas Saripah di RM PANTAI UTARA itu adalah melayani orang ‘makan’. Tapi itu tidaklah sama seperti gambaran dalam benaknya yang lugu. Di mana dia akan sangat sibuk mengantarkan pesanan pengunjung dari satu meja ke meja lain. Tentu saja dalam balutan seragam restoran yang resmi dan rapi.
Ternyata bangunan yang disebut RM itu tidak selalu harus berupa tempat makan semacam restoran atau cafe, melainkan sebutan itu disematkan pula kepada tempat karaoke yang menjual aneka minuman alkoholnya.
Di sanalah Saripah dipekerjakan. Tugasnya tidak sulit. Cukup setiap malam memajang diri di depan menunggu tamu datang dengan pakaian seksi. Waktu kerjanya dari mulai jam tujuh malam hingga jam dua belas.
Hari pertama kerja. Saripah hampir menangis. Bukan seperti ini pekerjaan yang diharapkannya. Saripah ingin yang memakai seragam sopan dan tiap bulan gajian. Bukan baju serba ketat dan pendek seperti yang dikenakannya saat ini. Daripada sebagai karyawan, Saripah lebih merasa sebagai perempuan nakal.
 Kawan-kawan Saripah yang mengerti kondisi kejiwaan Saripah berusaha menghibur.
“Udahlah, Pah. Nanti juga kamu akan terbiasa. Nggak perlu malu. Apalagi wajah kamu cantik begitu. Mubajir kalo disembunyiin terus. Siapa tau dengan kecantikanmu ini kamu bisa menggaet pria ganteng dan kaya raya. Bukan hanya kamu, keluarga kamu juga bisa ikutan senang. Iya  nggak?”
Karena otaknya terus-terusan dicekoki, Saripah akhirnya berusaha membiasakan diri. Sedikit-sedikit ia tiru sikap genit kawan-kawannya. Sehingga lambat laun nama Saripah mulai dikenal di kalangan pria hidung belang langganan RM. Apalagi Saripah memiliki wajah yang rupawan.
Perawakan Saripah tinggi langsing. Bentuk wajahnya bulat telur dengan rambut tebal dan hitam sebatas punggung. Kulitnya kuning langsat dan halus. Sehalus pipinya yang tanpa titik-titik jerawat.
Dengan cepat ‘barang baru’ yang udik itu populer sebagai kembangnya RM PANTAI UTARA. Pribadinya yang semula polos dan lugu nyalin rupa menjadi genit serta mata duitan. Saripah hanya mau melayani pria yang berdompet tebal saja. Tak peduli apakah si laki-laki sudah beristeri atau bujangan tulen. Nama Saripah pun diganti menjadi Sarini supaya lebih ngota.
            Biasanya setiap pelayan RM sudah punya tamu langganan masing-masing. Tamu-tamu itulah yang ‘menggaji’ mereka melalui tips yang diberikannya secara hitungan per-jam yang besarnya sekitar lima puluh ribu perak. Sebab pelayan RM memang tidak digaji oleh majikannya.
 Kalau ada pelanggan baru, akan dibiarkan si tamu memilih ingin ditemani siapa. Di situlah awal perkenalan Sarini dengan laki-laki yang bernama Gayusman itu.
             Gayusman mengaku kalau dia seorang bujangan dan punya perusahaan sendiri. Soal bujangan Sarini tak peduli beneren ataukah cuma ngibul. Ia lebih tergugah saat mendengar kata Perusahaan sendiri. Duit Gayusman pasti melimpah ruah.
Sarini benar-benar morotin Gayusman. Tiap kali ketemuan, Sarini sudah menyiapkan permintaan yang berderet-deret seperti daftar kebutuhan sembako. Dari mulai baju, Perhiasan, make up, hingga sandal jepit.
Sarini tidak perduli kalau Gayusman menganggapnya sebagai cewek matre. Cap gadis RM adalah gadis murahan sudah amat lekat. Di antara kawannya bahkan ada yang merangkap jadi pelacur.
Tetapi ada aturan main. Pemilik RM murni hanya menjadikan tempat usahanya sebagai tempat karaoke dan minum saja. Diluar itu adalah tanggung jawab masing-masing yang tidak ada hubungannya dengan RM dan harus dilakukan diluar RM.
Untungnya Sarini tidak terlibat sampai sejauh itu. Dia tetap berprinsip keperawanannya hanya akan dipersembahkan kepada pria yang diidam-idamkannya. Seperti Gayusman ini. ***
Dan rupanya malam inilah mimpi Sarini itu lebih dari sekedar tercapai.
 “Kamu nggak pantas berada di sini. Nanti abang akan memasukanmu ke pesantren. Perbanyaklah tobat disana….atau kalau mau kamu jadi isteriku?” Gayusman mengatakan itu dengan nada lembut.
Dan bibir merah itu menyungging senyum kecil yang entah apa maknanya manakala mendengar ucapan Gayusman.
Hanya perempuan tolol saja yang menolak dijadikan isteri oleh bujangan kaya raya. Soal tobat atau masuk pesantren itu bisa diatur belakangan.  ***

Sarini sudah membayangkan dirinya menjadi nyonya Gayusman dalam sebuah rumah mewah, perabotan serba modern, juga mobil sedan yang mentereng. Ia akan pamer kepada orang-orang di kampungnya yang selama ini selalu meremehkannya.
Apalagi yang akan dibelinya? O, iya. Perhiasan emas yang mahal-mahal tidak boleh dilewatkannya. Dari mulai cincin, kalung, hingga anting. Kalau perlu kaki pun akan ia pasangi gelang emas. Semua orang wajib tahu kalau Sarini sudah jadi nyonya Gayusman yang bergelimang harta.
Namun setelah mengungkapkan niatnya yang hendak memperisteri Sarini, entah kenapa berminggu-minggu Gayusman tidak pernah datang lagi. Laki-laki itu hilang bagai ditelan bumi. Tiada kabar, dan tiada berita.
Sarini kalang kabut. Tingkahnya jadi seperti ayam yang mau bertelor. Pikirannya berlompatan kesana kemari mereka-reka. Kenapa Gayusman menghilang? Bagaimana dengan impiannya hidup senang? Padahal semuanya sudah di depan mata. Tinggal raup saja.
Sarini berdiri dalam penantian. Antara putus asa dan amarah. Ia menggumam dalam hatinya.
Ternyata Gayusman sama saja dengan para Buaya darat lain yang datang ke tempat ini sekedar untuk mencari kesenangan. Lalu setelah puas pergi tanpa pamit. Barangkali sebenarnya laki-laki itu sudah beristeri.
Brengsek laki-laki itu !
Padahal kalau pun benar sudah beristeri, Sarini rela di madu. Asalkan duitnya tetap mengalir. Ia sudah bosan hidup miskin.  Kalau Tuhan mengembalikan laki-laki itu ke pelukannya, Sarini berjanji akan tobat.
Ternyata Tuhan begitu baik hati. Dia mengabulkan ‘tembang’ si Kembang Pantai Utara itu. Pada suatu siang Gayusman tiba-tiba nongol di depan hidung Sarini.
Sarini menahan napasnya. Ia hampir memeluk laki-laki itu. Tapi berhasil ditahannya. Tidak, ia tidak boleh memperlihatkan sikap ketergantungan. Laki-laki itu yang harus terlebih dulu bersujud di kakinya. Dengan begitu akan ketahuan sampai batas mana keseriusan Gayusman hendak menjadikannya isteri.
Dan jurus Sarini membuahkan hasil. Mengetahui dirinya ngambek, Gayusman segera mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ketika dibuka isinya berupa kalung berlian yang mahal. Kilaunya menyilaukan mata Sarini.
Sarini melotot. Sontak sikapnya berubah.
“Aduuh, saya minta maap, bang kalo ngecewain abang. Maklum lagi mens. Abang nggak ngambek kan dengan sikap Sarini tadi?”
“Nggak. Tapi abang mau nanya sekali lagi. Mau nggak jadi isteriku?”
Dan jawaban Sarini mantap.
“Mau.”
“Kalo begitu aku akan mengenalkanmu sama orang tuaku. Sekarang kita ke bank dulu yuk. Abang akan membuka rekening atas namamu sebagai tanda keseriusan abang dan juga untuk bulan madu kita nanti. Dua em mungkin cukup”.
“Hah, du… dua Em, bang?!?!”
“Iya. Tapi sebelumnya kamu harus pamitan sama bos dan teman-teman kamu. Hari ini juga kamu Resign dari tempat ini”.
Sarini langsung mengecup pipi Gayusman.
Sarini hampir gila. Hatinya berbunga-bunga. Selamat tinggal hidup miskin, bisiknya dalam hati.
Ditemuinya bosnya. Sarini mengemukakan niatnya yang hendak keluar dari RM ini. Kemudian ia temui kawan-kawannya satu persatu untuk disalami dan sekaligus berpamitan.
Sarini lambaikan tangan kepada mereka. Mobil yang membawanya perlahan bergerak. Dari balik kaca, Sarini tatap bangunan RM itu. Ia tidak ingin kembali kesana. Biarlah tempat itu menjadi kuburan bagi masa lalunya. Dimana keluguan seorang perawan bau kencur yang diombang-ambingkan kemiskinan terkubur. ***

Membuat rekening atas nama Sarini tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Setelah segala tetek-bengek urusan administrasi beres, Gayusman bermaksud langsung menuju rumah orang tuanya.
Namun di depan bank beberapa orang berseragam khas tiba-tiba menghadang mereka.
“Saudara Gayus, mohon anda ikut dengan kami ke kantor KPK.”
Wajah Gayusman langsung pucat.
Sementara Sarini bingung.
“Bapak-bapak ini siapa dan calon suami saya mau diapakan?” Tanyanya.
“Ibu calon isterinya? Kalau begitu ibu juga harus ikut bersama kami ke kantor KPK untuk dimintai keterangan. Calon suami ibu ini adalah buronan KPK karena terlibat tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Mari..”
Detik itu juga Saripah merasakan langit di atas runtuh. *** Tamat. Cicinde Februari, 2016.