Melalui
kaca jendela RM yang buram Sarini memandang ke pelataran parkir beraspal tempat
tetes gerimis memecah. Sepi. Malam ini tak satu pun ada mobil yang terparkir di
sana.
Namun
wajah yang tersaput kelabu itu dengan cepat jadi bercahaya. Sebuah sedan merah yang
sudah sangat dikenalnya berbelok masuk. Lalu berhenti tidak jauh dari pintu
masuk RM.
Pintu di samping kemudi terbuka. Seorang
laki-laki umur tiga puluhan keluar. Dengan satu - dua kali lompatan saja dia sudah
berada di depan pintu masuk RM.
Namanya
Gayusman. Nama yang sudah sedemikian akrab di telinga Sarini. Itu sebabnya ia
menyambut kedatangan laki-laki itu dengan senyuman manis dan sapaan hangat.
“Cepet
masuk, bang. Di luar dingin.” Tangannya melingkar ke pinggang lelaki itu.
Gayusman mencium rambut Sarini. Mereka
duduk bersisian di sofa yang panjang. Sarini sengaja merapatkan tubuhnya ke
badan Gayusman supaya pria itu tidak kedinginan.
“Ada
yang ingin abang sampaikan,” Kata Gayusman. Jemarinya meremas jemari Sarini.
“Apa, bang?” Suara Sarini manja.
“Abang sudah bulat dengan keputusan
abang. Insya Allah, abang akan mengeluarkanmu dari tempat ini. Kamu nggak
pantas berada di sini. Nanti abang akan memasukanmu ke pesantren. Perbanyaklah
tobat disana…”
Seperti umumnya pelayan RM yang selalu
berpakaian seronok, malam itu pun Sarini hanya mengenakan kaos putih tanpa
lengan. Roknya beberapa centi di atas lutut. Terpamer paha yang mulus. Polesan
lipstik warna merah menggurat di bibir yang tipis.
Dan bibir merah itu menyungging senyum
kecil yang entah apa maknanya manakala mendengar ucapan Gayusman. ***
Sebuah
kampung kecil di pinggiran kota kecamatan Banyusari yang asri. Bernama
Jungklang. Di situlah Saripah lahir. Sekolahnya hanya SD. Tamat sekolah,
kebingunganlah yang melanda karena sulit mencari pekerjaan.
Oleh seorang kawan Saripah kemudian di
ajak menyusuri serentang jalan yang amat populer dengan sebutan jalur pantura.
Antara Cikalong hingga Patok Beusi puluhan RM atau Rumah Makan bertebaran di
sepanjang jalan. Di tiap pintu masuknya terpasang reklame besar yang bertulisan
nama RM-nya.
Saripah membacai satu persatu. Ada
RM Nikki, RM Kalasan, RM Harjo. Sepertinya nama setiap RM itu mengacu kepada
nama pemiliknya, gumam Saripah. Mereka kemudian berhenti di depan sebuah
reklame besar bertulisan RM PANTAI UTARA.
“Saya punya kenalan di RM ini. Kalo
mau kamu bisa kerja di sini melayani orang makan. Gajinya besar dan nggak perlu
pake ijasah.” Kata si kawan.
Mendengar tawaran tak terduga itu yang
langsung terlintas dalam pikiran cupet Saripah adalah keadaan keluarganya yang
kere - terdiri atas seorang laki-laki tua kurus kering berikut pasangannya yang
sering sakit-sakitan.
“Saya mau, saya mau. Kapan
kerjanya?” Saripah begitu antusias.
Hari itu juga Saripah langsung
dibawa kesana.
Dan
diterima.
Memang benar tugas Saripah di RM
PANTAI UTARA itu adalah melayani orang ‘makan’. Tapi itu tidaklah sama seperti
gambaran dalam benaknya yang lugu. Di mana dia akan sangat sibuk mengantarkan
pesanan pengunjung dari satu meja ke meja lain. Tentu saja dalam balutan
seragam restoran yang resmi dan rapi.
Ternyata
bangunan yang disebut RM itu tidak selalu harus berupa tempat makan semacam
restoran atau cafe, melainkan sebutan itu disematkan pula kepada tempat karaoke
yang menjual aneka minuman alkoholnya.
Di
sanalah Saripah dipekerjakan. Tugasnya tidak sulit. Cukup setiap malam memajang
diri di depan menunggu tamu datang dengan pakaian seksi. Waktu kerjanya dari
mulai jam tujuh malam hingga jam dua belas.
Hari
pertama kerja. Saripah hampir menangis. Bukan seperti ini pekerjaan yang
diharapkannya. Saripah ingin yang memakai seragam sopan dan tiap bulan gajian. Bukan
baju serba ketat dan pendek seperti yang dikenakannya saat ini. Daripada sebagai
karyawan, Saripah lebih merasa sebagai perempuan nakal.
Kawan-kawan Saripah yang mengerti kondisi
kejiwaan Saripah berusaha menghibur.
“Udahlah,
Pah. Nanti juga kamu akan terbiasa. Nggak perlu malu. Apalagi wajah kamu cantik
begitu. Mubajir kalo disembunyiin terus. Siapa tau dengan kecantikanmu ini kamu
bisa menggaet pria ganteng dan kaya raya. Bukan hanya kamu, keluarga kamu juga
bisa ikutan senang. Iya nggak?”
Karena
otaknya terus-terusan dicekoki, Saripah akhirnya berusaha membiasakan diri.
Sedikit-sedikit ia tiru sikap genit kawan-kawannya. Sehingga lambat laun nama
Saripah mulai dikenal di kalangan pria hidung belang langganan RM. Apalagi
Saripah memiliki wajah yang rupawan.
Perawakan
Saripah tinggi langsing. Bentuk wajahnya bulat telur dengan rambut tebal dan
hitam sebatas punggung. Kulitnya kuning langsat dan halus. Sehalus pipinya yang
tanpa titik-titik jerawat.
Dengan
cepat ‘barang baru’ yang udik itu populer sebagai kembangnya RM PANTAI UTARA. Pribadinya
yang semula polos dan lugu nyalin rupa menjadi genit serta mata duitan. Saripah
hanya mau melayani pria yang berdompet tebal saja. Tak peduli apakah si laki-laki
sudah beristeri atau bujangan tulen. Nama Saripah pun diganti menjadi Sarini
supaya lebih ngota.
Biasanya setiap pelayan RM sudah
punya tamu langganan masing-masing. Tamu-tamu itulah yang ‘menggaji’ mereka
melalui tips yang diberikannya secara hitungan per-jam yang besarnya sekitar
lima puluh ribu perak. Sebab pelayan RM memang tidak digaji oleh majikannya.
Kalau ada pelanggan baru, akan dibiarkan si
tamu memilih ingin ditemani siapa. Di situlah awal perkenalan Sarini dengan
laki-laki yang bernama Gayusman itu.
Gayusman mengaku kalau dia seorang bujangan
dan punya perusahaan sendiri. Soal bujangan Sarini tak peduli beneren ataukah
cuma ngibul. Ia lebih tergugah saat mendengar kata Perusahaan sendiri. Duit
Gayusman pasti melimpah ruah.
Sarini
benar-benar morotin Gayusman. Tiap
kali ketemuan, Sarini sudah menyiapkan permintaan yang berderet-deret seperti
daftar kebutuhan sembako. Dari mulai baju, Perhiasan, make up, hingga sandal
jepit.
Sarini
tidak perduli kalau Gayusman menganggapnya sebagai cewek matre. Cap gadis RM
adalah gadis murahan sudah amat lekat. Di antara kawannya bahkan ada yang
merangkap jadi pelacur.
Tetapi
ada aturan main. Pemilik RM murni hanya menjadikan tempat usahanya sebagai
tempat karaoke dan minum saja. Diluar itu adalah tanggung jawab masing-masing
yang tidak ada hubungannya dengan RM dan harus dilakukan diluar RM.
Untungnya
Sarini tidak terlibat sampai sejauh itu. Dia tetap berprinsip keperawanannya
hanya akan dipersembahkan kepada pria yang diidam-idamkannya. Seperti Gayusman
ini. ***
Dan
rupanya malam inilah mimpi Sarini itu lebih dari sekedar tercapai.
“Kamu
nggak pantas berada di sini. Nanti abang akan memasukanmu ke pesantren.
Perbanyaklah tobat disana….atau kalau mau kamu jadi isteriku?” Gayusman
mengatakan itu dengan nada lembut.
Dan bibir merah itu menyungging
senyum kecil yang entah apa maknanya manakala mendengar ucapan Gayusman.
Hanya
perempuan tolol saja yang menolak dijadikan isteri oleh bujangan kaya raya.
Soal tobat atau masuk pesantren itu bisa diatur belakangan. ***
Sarini
sudah membayangkan dirinya menjadi nyonya Gayusman dalam sebuah rumah mewah, perabotan
serba modern, juga mobil sedan yang mentereng. Ia akan pamer kepada orang-orang
di kampungnya yang selama ini selalu meremehkannya.
Apalagi
yang akan dibelinya? O, iya. Perhiasan emas yang mahal-mahal tidak boleh
dilewatkannya. Dari mulai cincin, kalung, hingga anting. Kalau perlu kaki pun
akan ia pasangi gelang emas. Semua orang wajib tahu kalau Sarini sudah jadi
nyonya Gayusman yang bergelimang harta.
Namun
setelah mengungkapkan niatnya yang hendak memperisteri Sarini, entah kenapa berminggu-minggu
Gayusman tidak pernah datang lagi. Laki-laki itu hilang bagai ditelan bumi.
Tiada kabar, dan tiada berita.
Sarini
kalang kabut. Tingkahnya jadi seperti ayam yang mau bertelor. Pikirannya
berlompatan kesana kemari mereka-reka. Kenapa Gayusman menghilang? Bagaimana
dengan impiannya hidup senang? Padahal semuanya sudah di depan mata. Tinggal
raup saja.
Sarini
berdiri dalam penantian. Antara putus asa dan amarah. Ia menggumam dalam
hatinya.
Ternyata
Gayusman sama saja dengan para Buaya darat lain yang datang ke tempat ini
sekedar untuk mencari kesenangan. Lalu setelah puas pergi tanpa pamit.
Barangkali sebenarnya laki-laki itu sudah beristeri.
Brengsek
laki-laki itu !
Padahal
kalau pun benar sudah beristeri, Sarini rela di madu. Asalkan duitnya tetap
mengalir. Ia sudah bosan hidup miskin. Kalau
Tuhan mengembalikan laki-laki itu ke pelukannya, Sarini berjanji akan tobat.
Ternyata
Tuhan begitu baik hati. Dia mengabulkan ‘tembang’ si Kembang Pantai Utara itu. Pada
suatu siang Gayusman tiba-tiba nongol di depan hidung Sarini.
Sarini
menahan napasnya. Ia hampir memeluk laki-laki itu. Tapi berhasil ditahannya. Tidak,
ia tidak boleh memperlihatkan sikap ketergantungan. Laki-laki itu yang harus
terlebih dulu bersujud di kakinya. Dengan begitu akan ketahuan sampai batas
mana keseriusan Gayusman hendak menjadikannya isteri.
Dan
jurus Sarini membuahkan hasil. Mengetahui dirinya ngambek, Gayusman segera
mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ketika dibuka isinya berupa
kalung berlian yang mahal. Kilaunya menyilaukan mata Sarini.
Sarini
melotot. Sontak sikapnya berubah.
“Aduuh,
saya minta maap, bang kalo ngecewain abang. Maklum lagi mens. Abang nggak
ngambek kan dengan sikap Sarini tadi?”
“Nggak.
Tapi abang mau nanya sekali lagi. Mau nggak jadi isteriku?”
Dan
jawaban Sarini mantap.
“Mau.”
“Kalo
begitu aku akan mengenalkanmu sama orang tuaku. Sekarang kita ke bank dulu yuk.
Abang akan membuka rekening atas namamu sebagai tanda keseriusan abang dan juga
untuk bulan madu kita nanti. Dua em mungkin cukup”.
“Hah,
du… dua Em, bang?!?!”
“Iya.
Tapi sebelumnya kamu harus pamitan sama bos dan teman-teman kamu. Hari ini juga
kamu Resign dari tempat ini”.
Sarini
langsung mengecup pipi Gayusman.
Sarini
hampir gila. Hatinya berbunga-bunga. Selamat tinggal hidup miskin, bisiknya
dalam hati.
Ditemuinya
bosnya. Sarini mengemukakan niatnya yang hendak keluar dari RM ini. Kemudian ia
temui kawan-kawannya satu persatu untuk disalami dan sekaligus berpamitan.
Sarini
lambaikan tangan kepada mereka. Mobil yang membawanya perlahan bergerak. Dari
balik kaca, Sarini tatap bangunan RM itu. Ia tidak ingin kembali kesana.
Biarlah tempat itu menjadi kuburan bagi masa lalunya. Dimana keluguan seorang
perawan bau kencur yang diombang-ambingkan kemiskinan terkubur. ***
Membuat
rekening atas nama Sarini tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Setelah
segala tetek-bengek urusan administrasi beres, Gayusman bermaksud langsung
menuju rumah orang tuanya.
Namun
di depan bank beberapa orang berseragam khas tiba-tiba menghadang mereka.
“Saudara
Gayus, mohon anda ikut dengan kami ke kantor KPK.”
Wajah
Gayusman langsung pucat.
Sementara
Sarini bingung.
“Bapak-bapak
ini siapa dan calon suami saya mau diapakan?” Tanyanya.
“Ibu
calon isterinya? Kalau begitu ibu juga harus ikut bersama kami ke kantor KPK
untuk dimintai keterangan. Calon suami ibu ini adalah buronan KPK karena
terlibat tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Mari..”
Detik itu juga
Saripah merasakan langit di atas runtuh. *** Tamat. Cicinde Februari, 2016.