Minggu, 15 Januari 2017

TEMBANG KEMBANG PANTAI UTARA



Melalui kaca jendela RM yang buram Sarini memandang ke pelataran parkir beraspal tempat tetes gerimis memecah. Sepi. Malam ini tak satu pun ada mobil yang terparkir di sana.
Namun wajah yang tersaput kelabu itu dengan cepat jadi bercahaya. Sebuah sedan merah yang sudah sangat dikenalnya berbelok masuk. Lalu berhenti tidak jauh dari pintu masuk RM.
            Pintu di samping kemudi terbuka. Seorang laki-laki umur tiga puluhan keluar. Dengan satu - dua kali lompatan saja dia sudah berada di depan pintu masuk RM.
Namanya Gayusman. Nama yang sudah sedemikian akrab di telinga Sarini. Itu sebabnya ia menyambut kedatangan laki-laki itu dengan senyuman manis dan sapaan hangat.
“Cepet masuk, bang. Di luar dingin.” Tangannya melingkar ke pinggang lelaki itu.
            Gayusman mencium rambut Sarini. Mereka duduk bersisian di sofa yang panjang. Sarini sengaja merapatkan tubuhnya ke badan Gayusman supaya pria itu tidak kedinginan.
“Ada yang ingin abang sampaikan,” Kata Gayusman. Jemarinya meremas jemari Sarini.
            “Apa, bang?” Suara Sarini manja.
            “Abang sudah bulat dengan keputusan abang. Insya Allah, abang akan mengeluarkanmu dari tempat ini. Kamu nggak pantas berada di sini. Nanti abang akan memasukanmu ke pesantren. Perbanyaklah tobat disana…”
            Seperti umumnya pelayan RM yang selalu berpakaian seronok, malam itu pun Sarini hanya mengenakan kaos putih tanpa lengan. Roknya beberapa centi di atas lutut. Terpamer paha yang mulus. Polesan lipstik warna merah menggurat di bibir yang tipis.
            Dan bibir merah itu menyungging senyum kecil yang entah apa maknanya manakala mendengar ucapan Gayusman. ***
           
Sebuah kampung kecil di pinggiran kota kecamatan Banyusari yang asri. Bernama Jungklang. Di situlah Saripah lahir. Sekolahnya hanya SD. Tamat sekolah, kebingunganlah yang melanda karena sulit mencari pekerjaan.
            Oleh seorang kawan Saripah kemudian di ajak menyusuri serentang jalan yang amat populer dengan sebutan jalur pantura. Antara Cikalong hingga Patok Beusi puluhan RM atau Rumah Makan bertebaran di sepanjang jalan. Di tiap pintu masuknya terpasang reklame besar yang bertulisan nama RM-nya.
            Saripah membacai satu persatu. Ada RM Nikki, RM Kalasan, RM Harjo. Sepertinya nama setiap RM itu mengacu kepada nama pemiliknya, gumam Saripah. Mereka kemudian berhenti di depan sebuah reklame besar bertulisan RM PANTAI UTARA.
            “Saya punya kenalan di RM ini. Kalo mau kamu bisa kerja di sini melayani orang makan. Gajinya besar dan nggak perlu pake ijasah.” Kata si kawan.
            Mendengar tawaran tak terduga itu yang langsung terlintas dalam pikiran cupet Saripah adalah keadaan keluarganya yang kere - terdiri atas seorang laki-laki tua kurus kering berikut pasangannya yang sering sakit-sakitan.
            “Saya mau, saya mau. Kapan kerjanya?” Saripah begitu antusias.
            Hari itu juga Saripah langsung dibawa kesana.
Dan diterima.
            Memang benar tugas Saripah di RM PANTAI UTARA itu adalah melayani orang ‘makan’. Tapi itu tidaklah sama seperti gambaran dalam benaknya yang lugu. Di mana dia akan sangat sibuk mengantarkan pesanan pengunjung dari satu meja ke meja lain. Tentu saja dalam balutan seragam restoran yang resmi dan rapi.
Ternyata bangunan yang disebut RM itu tidak selalu harus berupa tempat makan semacam restoran atau cafe, melainkan sebutan itu disematkan pula kepada tempat karaoke yang menjual aneka minuman alkoholnya.
Di sanalah Saripah dipekerjakan. Tugasnya tidak sulit. Cukup setiap malam memajang diri di depan menunggu tamu datang dengan pakaian seksi. Waktu kerjanya dari mulai jam tujuh malam hingga jam dua belas.
Hari pertama kerja. Saripah hampir menangis. Bukan seperti ini pekerjaan yang diharapkannya. Saripah ingin yang memakai seragam sopan dan tiap bulan gajian. Bukan baju serba ketat dan pendek seperti yang dikenakannya saat ini. Daripada sebagai karyawan, Saripah lebih merasa sebagai perempuan nakal.
 Kawan-kawan Saripah yang mengerti kondisi kejiwaan Saripah berusaha menghibur.
“Udahlah, Pah. Nanti juga kamu akan terbiasa. Nggak perlu malu. Apalagi wajah kamu cantik begitu. Mubajir kalo disembunyiin terus. Siapa tau dengan kecantikanmu ini kamu bisa menggaet pria ganteng dan kaya raya. Bukan hanya kamu, keluarga kamu juga bisa ikutan senang. Iya  nggak?”
Karena otaknya terus-terusan dicekoki, Saripah akhirnya berusaha membiasakan diri. Sedikit-sedikit ia tiru sikap genit kawan-kawannya. Sehingga lambat laun nama Saripah mulai dikenal di kalangan pria hidung belang langganan RM. Apalagi Saripah memiliki wajah yang rupawan.
Perawakan Saripah tinggi langsing. Bentuk wajahnya bulat telur dengan rambut tebal dan hitam sebatas punggung. Kulitnya kuning langsat dan halus. Sehalus pipinya yang tanpa titik-titik jerawat.
Dengan cepat ‘barang baru’ yang udik itu populer sebagai kembangnya RM PANTAI UTARA. Pribadinya yang semula polos dan lugu nyalin rupa menjadi genit serta mata duitan. Saripah hanya mau melayani pria yang berdompet tebal saja. Tak peduli apakah si laki-laki sudah beristeri atau bujangan tulen. Nama Saripah pun diganti menjadi Sarini supaya lebih ngota.
            Biasanya setiap pelayan RM sudah punya tamu langganan masing-masing. Tamu-tamu itulah yang ‘menggaji’ mereka melalui tips yang diberikannya secara hitungan per-jam yang besarnya sekitar lima puluh ribu perak. Sebab pelayan RM memang tidak digaji oleh majikannya.
 Kalau ada pelanggan baru, akan dibiarkan si tamu memilih ingin ditemani siapa. Di situlah awal perkenalan Sarini dengan laki-laki yang bernama Gayusman itu.
             Gayusman mengaku kalau dia seorang bujangan dan punya perusahaan sendiri. Soal bujangan Sarini tak peduli beneren ataukah cuma ngibul. Ia lebih tergugah saat mendengar kata Perusahaan sendiri. Duit Gayusman pasti melimpah ruah.
Sarini benar-benar morotin Gayusman. Tiap kali ketemuan, Sarini sudah menyiapkan permintaan yang berderet-deret seperti daftar kebutuhan sembako. Dari mulai baju, Perhiasan, make up, hingga sandal jepit.
Sarini tidak perduli kalau Gayusman menganggapnya sebagai cewek matre. Cap gadis RM adalah gadis murahan sudah amat lekat. Di antara kawannya bahkan ada yang merangkap jadi pelacur.
Tetapi ada aturan main. Pemilik RM murni hanya menjadikan tempat usahanya sebagai tempat karaoke dan minum saja. Diluar itu adalah tanggung jawab masing-masing yang tidak ada hubungannya dengan RM dan harus dilakukan diluar RM.
Untungnya Sarini tidak terlibat sampai sejauh itu. Dia tetap berprinsip keperawanannya hanya akan dipersembahkan kepada pria yang diidam-idamkannya. Seperti Gayusman ini. ***
Dan rupanya malam inilah mimpi Sarini itu lebih dari sekedar tercapai.
 “Kamu nggak pantas berada di sini. Nanti abang akan memasukanmu ke pesantren. Perbanyaklah tobat disana….atau kalau mau kamu jadi isteriku?” Gayusman mengatakan itu dengan nada lembut.
Dan bibir merah itu menyungging senyum kecil yang entah apa maknanya manakala mendengar ucapan Gayusman.
Hanya perempuan tolol saja yang menolak dijadikan isteri oleh bujangan kaya raya. Soal tobat atau masuk pesantren itu bisa diatur belakangan.  ***

Sarini sudah membayangkan dirinya menjadi nyonya Gayusman dalam sebuah rumah mewah, perabotan serba modern, juga mobil sedan yang mentereng. Ia akan pamer kepada orang-orang di kampungnya yang selama ini selalu meremehkannya.
Apalagi yang akan dibelinya? O, iya. Perhiasan emas yang mahal-mahal tidak boleh dilewatkannya. Dari mulai cincin, kalung, hingga anting. Kalau perlu kaki pun akan ia pasangi gelang emas. Semua orang wajib tahu kalau Sarini sudah jadi nyonya Gayusman yang bergelimang harta.
Namun setelah mengungkapkan niatnya yang hendak memperisteri Sarini, entah kenapa berminggu-minggu Gayusman tidak pernah datang lagi. Laki-laki itu hilang bagai ditelan bumi. Tiada kabar, dan tiada berita.
Sarini kalang kabut. Tingkahnya jadi seperti ayam yang mau bertelor. Pikirannya berlompatan kesana kemari mereka-reka. Kenapa Gayusman menghilang? Bagaimana dengan impiannya hidup senang? Padahal semuanya sudah di depan mata. Tinggal raup saja.
Sarini berdiri dalam penantian. Antara putus asa dan amarah. Ia menggumam dalam hatinya.
Ternyata Gayusman sama saja dengan para Buaya darat lain yang datang ke tempat ini sekedar untuk mencari kesenangan. Lalu setelah puas pergi tanpa pamit. Barangkali sebenarnya laki-laki itu sudah beristeri.
Brengsek laki-laki itu !
Padahal kalau pun benar sudah beristeri, Sarini rela di madu. Asalkan duitnya tetap mengalir. Ia sudah bosan hidup miskin.  Kalau Tuhan mengembalikan laki-laki itu ke pelukannya, Sarini berjanji akan tobat.
Ternyata Tuhan begitu baik hati. Dia mengabulkan ‘tembang’ si Kembang Pantai Utara itu. Pada suatu siang Gayusman tiba-tiba nongol di depan hidung Sarini.
Sarini menahan napasnya. Ia hampir memeluk laki-laki itu. Tapi berhasil ditahannya. Tidak, ia tidak boleh memperlihatkan sikap ketergantungan. Laki-laki itu yang harus terlebih dulu bersujud di kakinya. Dengan begitu akan ketahuan sampai batas mana keseriusan Gayusman hendak menjadikannya isteri.
Dan jurus Sarini membuahkan hasil. Mengetahui dirinya ngambek, Gayusman segera mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ketika dibuka isinya berupa kalung berlian yang mahal. Kilaunya menyilaukan mata Sarini.
Sarini melotot. Sontak sikapnya berubah.
“Aduuh, saya minta maap, bang kalo ngecewain abang. Maklum lagi mens. Abang nggak ngambek kan dengan sikap Sarini tadi?”
“Nggak. Tapi abang mau nanya sekali lagi. Mau nggak jadi isteriku?”
Dan jawaban Sarini mantap.
“Mau.”
“Kalo begitu aku akan mengenalkanmu sama orang tuaku. Sekarang kita ke bank dulu yuk. Abang akan membuka rekening atas namamu sebagai tanda keseriusan abang dan juga untuk bulan madu kita nanti. Dua em mungkin cukup”.
“Hah, du… dua Em, bang?!?!”
“Iya. Tapi sebelumnya kamu harus pamitan sama bos dan teman-teman kamu. Hari ini juga kamu Resign dari tempat ini”.
Sarini langsung mengecup pipi Gayusman.
Sarini hampir gila. Hatinya berbunga-bunga. Selamat tinggal hidup miskin, bisiknya dalam hati.
Ditemuinya bosnya. Sarini mengemukakan niatnya yang hendak keluar dari RM ini. Kemudian ia temui kawan-kawannya satu persatu untuk disalami dan sekaligus berpamitan.
Sarini lambaikan tangan kepada mereka. Mobil yang membawanya perlahan bergerak. Dari balik kaca, Sarini tatap bangunan RM itu. Ia tidak ingin kembali kesana. Biarlah tempat itu menjadi kuburan bagi masa lalunya. Dimana keluguan seorang perawan bau kencur yang diombang-ambingkan kemiskinan terkubur. ***

Membuat rekening atas nama Sarini tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Setelah segala tetek-bengek urusan administrasi beres, Gayusman bermaksud langsung menuju rumah orang tuanya.
Namun di depan bank beberapa orang berseragam khas tiba-tiba menghadang mereka.
“Saudara Gayus, mohon anda ikut dengan kami ke kantor KPK.”
Wajah Gayusman langsung pucat.
Sementara Sarini bingung.
“Bapak-bapak ini siapa dan calon suami saya mau diapakan?” Tanyanya.
“Ibu calon isterinya? Kalau begitu ibu juga harus ikut bersama kami ke kantor KPK untuk dimintai keterangan. Calon suami ibu ini adalah buronan KPK karena terlibat tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Mari..”
Detik itu juga Saripah merasakan langit di atas runtuh. *** Tamat. Cicinde Februari, 2016.

Senin, 05 Desember 2016

Salindri



Satpam yang masih muda itu mempersilahkannya untuk duduk di bangku kayu yang licin di bawah sebatang pohon palem hias yang tinggi menjulang. Tengah hari saat itu. Sinar matahari pedas membakar kulit.

“Non Lindri sedang menerima tamu. Jadi ibu tunggu saja sebentar lagi.” Katanya.
Mak Surti mengiyakan.
Pak satpam lalu menyuguhkan segelas air dingin untuk tamunya.
“Silahkan diminum, bu. Maap cuma air aja.”
“Iya, pak satpam. Terima kasih. Emak habiskan, ya? Habis emak haus sekali.
“Iya, bu. Silahkan, nggak apa-apa.
Mak Surti benar-benar menghabiskan air minum itu dalam sekali teguk. Tubuh tuanya terasa segar dan bertenaga lagi. Ia lalu buka bekalnya yang berupa beberapa potong singkong rebus. Ditawarinya pak satpam,  yang ditolak secara halus.
            Mata pak satpam sempat jelalatan ke jalan. Siapa tau ada tukang gorengan sehingga ia bisa membelikan beberapa untuk tamunya. Harapannya nihil. Akhirnya pak satpam hanya bisa memperhatikan saja mak Surti yang tampak sangat menikmati makanannya.
            Selesai makan, mak Surti lalu tatap rumah megah di hadapannya dengan kekaguman yang meronta-ronta dari kedua bola matanya.
            Rumah itu bertingkat dua dan berwarna putih bersih. Halaman depannya berupa taman yang dihiasi aneka rupa kekembangan. Beberapa Cemara gunung berjajar di pojokannya.
            Rasanya mak Surti tak Percaya. Salindri yang dulu merantau hanya membawa duit beberapa puluh ribu sekarang sudah sekaya ini. Bapa pasti senang kalau melihatnya.
            “Maap, bu. Bukannya saya tidak percaya. Apa benar ibu ini ibunya non Lindri?” Suara pak satpam tiba-tiba memutus lamunan mak Surti.
            Mak Surti mengiyakan tanpa menunjukan perasaan tersinggung.
            “Sekali lagi maap, bu,” Kata pak satpam. Tetapi menurutnya siapa pun pasti tidak akan percaya kalau perempuan tua berpakaian lusuh ini adalah ibunya Salindri. Salindri yang selebritis terkenal. Masa anaknya sekaya ini tapi ibunya kere.
            Mak Surti tak ambil pusing. Ia memang tahu kalau anaknya itu sekarang sudah jadi penyanyi terkenal. Mak Surti pernah menontonnya sekali di tivi milik tetangganya. Rasanya tak percaya melihatnya kalau yang sedang jejingkrakan di dalam kotak kaca itu adalah anaknya.
            Ternyata sudah berubah jauh. Rambutnya yang hitam sepinggang sudah pendek sebahu. Sementara kerudungnya yang dulu tidak pernah lepas, sekarang entah sudah terbang kemana.
            Kata tetangganya artis memang begitu. Justru kalau tidak begitu tidak akan laku.
Mereka mempantaskan saja kalau Salindri jadi penyanyi. Karena dari sejak SD anak itu memang sudah pintar nyanyi. Tiap waktu samen-pesta kenaikan kelas- Salindri tidak pernah absen naik ke panggung.
Lagu Satu-Satu Aku Sayang Ibu atau Balonku Ada Lima seperti bergema lagi di telinga mak Surti.
            Baginya Salindri demikian istimewa. Si bungsu itu merupakan jawaban atas doa-doanya agar gusti Allah mengkaruniakan ke tengah-tengah keluarga mereka seorang anak perempuan setelah dua orang kakaknya semua laki-laki.
Apa saja keinginan Salindri dituruti. Padahal usaha mak Surti hanya jualan kue serabi keliling kampung.
“Emak ingin tau, pak satpam. Apa tiap yang mau ketemu Salindri harus nunggu seperti ini?” Tanya mak Surti. Dalam hati dia merasa aneh. Masa mau ketemu anak sendiri harus nunggu seperti orang yang mau berobat ke dokter?
“Benar, bu. Salindri itu kan artis terkenal. Banyak yang ingin menemuinya. Kalau nggak diatur seperti ini dia sendiri yang jadi repot.”
“Oh, gitu. Emang dia sibuk terus?”
Pak Satpam membenarkan. Apalagi, katanya, kalau sedang ada panggilan nyanyi di tivi. Sering pulang sampai pagi.
Padahal di kampung jam delapan malam saja anak perawan sudah tidak boleh keluyuran di luar rumah, gumam mak Surti masygul.
            “Tapi dia masih suka ngaji kan?”
            “Maksud ibu ngaji di langgar seperti di kampung-kampung begitu?”
            Mak Surti menganggukan kepalanya.
            Pak satpam tertawa lebar.
            “Artis itu sibuk, bu. Kerjaannya tiap hari nyanyi. Mana ada waktu buat ngaji. Artis itu paling ngajinya sama artis lagi. Itu juga buat keperluan acara tivi. Bukan ngaji betulan membaca al Qur’an atau belajar tajwid.”
            Mak Surti terdiam. Pantas saja dulu ia amat berat melepas kepergian Salindri. Rupanya akan seperti ini jadinya.
            Benar kata orang. Anak gadis jauh dari rumah kebanyakan jadi Bengal. Sulit diatur. Maunya bebas kelayapan.      
            Duh, bagaimana kalau misalnya Salindri jadi korban kejahatan? Seperti yang ada di tivi-tivi itu. Harusnya anak itu pulang saja. Di rumah tentu lebih aman. Soal nyari duit, itu bisa usaha apa saja. Dagang kue kecil-kecilan pun jadi.
            Mak Surti masih ingat. Salindri paling suka kue serabi yang dicampur telor.
            Dulu, hampir tiap hari mak Surti membuatkannya. Sekarang pun buntalan yang dibawanya berisi kue tersebut.
            Salindri pasti senang dibawakan kue kegemarannya.
            Sedang asik melamun, dari dalam rumah Salindri tiba-tiba keluar beberapa orang yang menyandang kamera.
            Kata pak satpam itu tamu-tamu Salindri. Wartawan yang habis mewawancarainya.
            “Sekarang ibu bisa menemui non Lindri. Ayo, bu.” Ajak pak satpam.
            Dada mak Surti terasa lega. Dengan tak sabar ia berdiri. Didekapnya buntalan berisi kue serabi telor oleh-oleh untuk anak bungsunya itu. Sudah tak sabar ia ingin segera melihat. Seperti apakah Salindri sekarang? Pasti cantik sekali karena sudah jadi artis.
            Pak satpam mengantarkan mak Surti hanya sampai pintu depan.
            “Ibu masuk saja. Non Lindri  menunggu di dalam.”
            Mak Surti mengangguk. Terlebih dulu ia copot sepasang sandal jepitnya yang sebelah talinya bahkan hampir putus. Lantai marmer yang dingin ia tapaki dengan perasaan takut. Takut tergelincir, takut juga kakinya yang dekil akan mengotori.
            Bagian dalam rumah Salindri terasa sejuk. Dindingnya berwarna hijau muda. Banyak poto-poto Salindri tergantung di sana. Ingin mak Surti menatapnya berlama-lama sebagai pertanda kekangenannya. Tapi hal itu tidak bisa dilakukannya.
            Karena begitu masuk juga, mata mak Surti langsung melihat sepasang muda-mudi duduk di sofa yang panjang.
            Yang satu seorang jejaka perlente mengenakan kemeja dan jas. Seperti orang kantoran. Sedang yang duduk di sisinya adalah seorang gadis berambut ikal sebahu. Kulitnya putih bersih. Matanya bulat. Sepasang anting-anting berbentuk lingkaran menggelantung di kupingnya yang mungil.
            Cantik sekali. Dan mak Surti langsung mengenalinya.
Itulah dia !
Salindrinya yang dia impikan siang malam !
Ingin rasanya mak Surti menghambur saat itu juga untuk memeluknya. Namun satu kalimat dari Salindri membuat sepasanng kaki mak Surti serasa dipakukan ke lantai.
“Silahkan duduk, bu.”
Ibu.
Anak itu memanggilnya dengan sebutan ibu. Bukan emak seperti kebiasaannya waktu masih di kampung. Dan Salindri pun tetap duduk di kursinya tanpa berdiri menyambut kedatangannya.
Ada sesuatu yang kosong di dalam dada Mak Surti. Semacam rasa kehilangan terhadap sesuatu yang selama ini menjadi kekuatan jiwanya.
Ia duduk dengan perasaan mengambang. Didengarnya lagi Salindri berkata kepada teman jejakanya.
“Kenalkan, mas. Ini ibu Surti dari kampung. Ibu angkat saya.”
Detik itu juga, mak Surti merasakan lantai dibawah kakinya seperti bergoyang. Hatinya terasa retak.
Benar.
Salindri memang hanya anak angkat. Tapi perlukah hal itu dikatakan mengingat ia sendiri tidak pernah membeda-bedakan. Bahkan kasih sayangnya kepada Salindri amatlah berlebihan.
Perlahan ada rasa hangat menjalar di kelopak mata mak Surti.
Sebuah kenangan pun melintas. Yaitu waktu Salindri keukeuh ingin mencari kerja di kota. Mak Surti melarangnya. Dan entah setan mana yang tiba-tiba membuka rahasia itu.
Ada yang memberitahukan kalau Salindri sebenarnya hanya anak angkat saja. Berita itu tidak lantas membuat Salindri berterima kasih karena sudah ada yang mengasuh serta merawatnya. Sebaliknya kemarahan Salindri meledak.
Ia merasa dibohongi. Mak Surti sudah merenggut dirinya dari keluarganya sendiri. Padahal berkali-kali mak Surti menjelaskan kalau kedua orang tua Salindri sudah meninggal waktu Salindri sendiri masih berupa bayi merah.
Salindri minggat. Menurutnya mak Surti tidak punya hak melarang-larang dirinya. Padahal mak Surti tidak bermaksud menyembunyikan. Ia hanya akan membuka jati diri Salindri kalau anak itu sudah cukup dewasa.
“Maap, ibu ada keperluan apa ya datang kemari?” Suara Salindri memutus lamunan mak Surti.
Mak Surti bingung. Perlukah ia katakan,
Emak hanya kangen ingin ketemu kamu, Lindri. Ini emak bawakan serabi telor kesukaanmu. Kapan kamu akan pulang?
“Ti.. tidak, Lindri. Emak, eh ibu hanya ingin nengok kamu. Takut kamu kenapa-kenapa.” Kaku sekali lidah mak Surti saat melapalkan kata ibu itu. Pudar segala gambaran yang sudah diangan-angankannya .
Bahwa kalau ketemu Salindri ia akan memeluk sepuasnya.
Akan menciuminya.
Sekarang anaknya itu duduk begitu dekat di sisinya. Tapi jangankan memeluk, untuk menyentuh pun mak Surti tidak memiliki keberanian.
Terasa ada jarak yang membentang di antara mereka.
“Saya baik-baik saja, bu. Maap, saya nggak bisa nemuin lama-lama. Habis sibuk, sih.”
“Iya, kalo kamu sibuk, Ibu lebih baik permisi saja.”
Mak Surti berdiri dengan perasaan ngenes. Ditujunya pintu dengan hati yang berkeping. Berusaha untuk tidak menangis. Betapa singkatnya pertemuan yang dia angan-angankan akan berlangsung penuh kehangatan itu.
Pak satpam sudah menunggunya di luar.
Beriringan mereka menuju ke pintu pagar.
Mak Surti tiba-tiba bergumam seperti bicara kepada dirinya sendiri.
“Anak itu sekarang sudah berubah. Untuk emaknya ini pun dia sekarang sudah tidak punya waktu. Mungkin dia malu, ya pak satpam, punya emak miskin seperti ini.”
Pak satpam melirik. Melihat mata mak Surti yangn berkaca-kaca, tahulah ia apa yang terjadi.
“Saya mengerti apa yang ibu rasakan. Tapi seperti apa pun sikap non Lindri, ibu jangan menangis. Karena satu tetes saja air mata ibu jatuh itu akan menghancurkan seluruh kebahagiaan non Lindri. Ibu tidak ingin itu terjadi kan? Ibu harus sabar. Doakan saja agar suatu saat non Lindri bisa menerima ibu apa adanya.”
Mak Surti seolah tersadar. Omongan pak satpam seperti air dingin yang mengguyur kepalanya.  
Cepat mak Surti susut kedua matanya. Lalu ia angsurkan kue serabi telor yang tadinya akan ia berikan untuk anaknya itu.
“Pak satpam benar. Bagi seorang ibu melihat anaknya bahagaia saja itu sudah cukup. Kue ini untuk pak satpam saja. Tadinya buat Salindri. Tapi barangkali anak itu sekarang sudah tidak suka kue kampung seperti ini.”
Pak satpam menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa ia menyelipkan selembar uang dua puluh ribuan ke tangan mak Surti.
“Untuk nambahin ongkos mobil, bu. Mudah-mudahan cukup.” *** Tamat.

Minggu, 02 Oktober 2016

MUSLIHAT TENDER DI GEDUNG RAKYAT




 Gusdur memang hebat. Dengan kondisi fisiknya yang ‘sederhana dan bersahaja’ itu dia akhirnya oleh kelompok politik Poros Tengah made in Amin Rais berhasil dinobatkan menjadi Presiden RI setelah melalui pertarungan sengit di DPR. Sepak terjang serta omongannya kerap menimbulkan kontroversi. Salah satunya adalah ketika dia mengatakan bahwa DPR itu seperti Play Group alias taman kanak-kanak karena ketidak dewasaannya dalam menyikap aspirasi rakyat.
            Maksudnya, mereka itu kalau sudah punya keinginan maunya di iyain aja. Kalau tidak, maka mereka akan ngambek. Nah, salah satunya adalah keinginan untuk punya gedung DPR yang baru yang memerlukan anggaran sekitar satu trilyun koma sekian.
            Rakyat tentu saja protes. Tapi seperti kata pepatah, Kafilah menggonggong, Anjing tetaplah berlalu. Maka, gedung baru DPR pun siap dibangun. Dibentuklah panitia tendernya.
            Lantas dengan penuh rasa bahagia dan suka cita diadakanlah tender dengan beberapa perusahaan nasional dan internasional.
            Tidak sebagaimana lajimnya tender, tender kali ini dilakukan dalam ruangan tertutup dan setiap perusahaan cukup mengirimkan wakilnya saja  untuk menjalani tes oleh panitia tender.
            “Perusahaan China !” Panitia tender berteriak.
            Seorang pria pendek dan bermata agak sipit, ditemani sekretarisnya, seorang wanita tinggi semampai yang tampak terpelajar tergopoh-gopoh memasuki ruangan.
            “Silahkan duduk. Kami akan segera memulai tes.” Kata panitia tender.
            “Terima kasih, pak.”
            Dari belakang mejanya panitia tender mengeluarkan beberapa lembar kertas. Selembar diantaranya diserahkan kepada pihak dari perusahaan China itu.
            “Tes ini sederhana saja. Anda tinggal memberikan jawaban yang benar untuk pertanyaan di atas kertas ini.”
            Orang China itu memeriksa lembar pertanyaan tes yang diserahkan ke hadapannya. Nah, keningnya langsung berlipat-lipat seperti hendak menggulung dengan sendirinya. Dia pantas untuk heran. Tadinya ia dan sekretarisnya sudah membayangkan akan diberi tes yang rumit yang berhubungan dengan perusahaan atau proyek yang akan menjadi garapannya. Ternyata yang tertera di atas kertas hanya..
            5+5 =……?
            Sesaat orang China dan sekretarisnya saling tengok-tengokan.
            “Apa ini nggak salah, pak?” Orang China itu meminta klarifikasi.
            “Oh, sama sekali tidak. Memang seperti inilah tesnya. Silahkan dijawab.”
            Tentu saja itu amat mudah. Anak balita pun tau jawabannya. Orang China itu langsung menuliskan angka 10 di kertas jawabannya kemudian diserahkan kepada panitia tender.
            “Sudah, pak. Ini silahkan diperiksa.”
            Panitia tender meliriknya sekilas dan bertanya,
            “Ada jawaban yang lain nggak?”
            “Ada, pak. Yaitu Sembilan, pak.”
            “Pikir sekali lagi.”
            “Delapan !”
            Panitia tender pun menuliskan beberapa catatan : Hemat, punya akal di tolak.
            Hari kedua tender kembali dilaksanakan. Kali ini yang dipanggil adalah perusahaan dari Timur Tengah.Yang datang mewakili perusahaannya hanya seorang saja. Pria arab yang tinggi besar dan berhidung mancung dan berkulit agak hitam.
            Seperti yang kemarin, panitia tender pun memberikan soal yang sama kepada orang dari perusahaan Timur Tengah itu.
            Si pria Arab tampak tertegun membaca soal yang tertera di kertas tesnya. Memang hanya soal 5+5 =…………? Tetapi menurutnya ini tidaklah sesederhana itu. Kalau tesnya hanya seperti ini untuk apa dilakukan tender.
            Ini pasti soal jebakan yang memerlukan intelegensi tinggi untuk menjawabnya. Sebelum mengikuti tender ini, ia sudah diperingatkan oleh rekan-rekan sejawatnya kalau pejabat Indonesia  itu rumit. Maunya satu macam, yaitu duit, tetapi caranya macam-macam yang kadang-kadang cara itu sulit untuk dimengerti oleh orang dusun atau orang yang pikirannya ndeso, lugu atau polos.
            Tetapi dia pun punya sistem sendiri dalam menjalankan bisnisnya dimana kunci yang terpentingnya adalah kejujuran.
            Jadi soal 5+5 itu oleh si orang Arab dengan tegas dijawab : Sepuluh.
            Panitia tender kembali memeriksanya.
            “Apakah ada jawaban lain?” Tanyanya.
            “Sepuluh.”
            “Pikir sekali lagi.”
            “Sepuluh.”
            Panitia tender pun menuliskan beberapa catatan : Jujur, punya pendirian, ditolak.
Dua kali melaksanakan proses tender hasilnya benar-benar selalu mengecewakan panitia tender. Tak ada yang sesuai kemauan mereka. Kalau hasilnya selalu seperti ini, dari mana mereka akan punya keuntungan. Dalam bisnis tidak dibutuhkan idealisme. Bisnis itu kalau ingin untung maka harus serakah, tegaan, menggunting dalam lipatan, dan mesti berani melakukan KKN.
Jadi mereka rehat dulu. Hari kelima barulah mereka lihat peserta tender berikutnya. Ternyata dari Indonesia.
“Kawan kita sendiri,” Kata mereka antara bersemangat dan pesimis. Sudah terkenal di kalangan bisnis, kalau pengusaha Indonesia itu selain punya prinsip tahu sama tahu, tapi mereka juga punya dua kepribadian ganda yang digabung menjadi satu, yaitu licik dan cerdik.
“Kita coba saja dulu,” Kata mereka memutuskan. Pengusaha Indonesia pun dipanggil. Karena dengan orang sendiri, jadi tes itu mereka lakukan secara lisan tanpa formalitas.
“Berapa lima tambah lima?”
“Sepuluh.”
“Yang lain?”
“Dua puluh.”
“Pikir sekali lagi.”
“Tiga puluh.”
Panitia tender tertawa senang mendengar jawaban itu dan menuliskan beberapa catatan : Ahli me-mark up, bisa diajak kerja sama, diterima.

“Ah, ini sih biasa,” Kata seorang koruptor saat mengetahui hasil tender tersebut.
“Bagi kami 5+5 itu bisa berapa saja hasilnya. Asal jangan sampai sepuluh.”
Nah, bingung kan?